Title: Thorn Year (gashiyeon) - The First Part - Reduced Horizon

Original Author: Maio

Translated By: honeyiceblend

Genre: Romance + Smut

Rating: M

Pairing/s: Yunjae

Length: 3/12 Chapters

.

.

.

Don't Like

Don't Read

.

.

.

I told you before

.

.

.

Happy reading ^^

Yunho POV

"Hyung, aku pulang"

Tentu saja, hyung tidak ada disini. Tetapi mungkin dihari-hari mendatang, aku tidak bisa memanggilnya hyung lagi. Apartemen ini kusewa berdua bersama Eunho hyung. Apartement ini dekat dari sekolah. Selama hyung berada dirumah sakit sekarang, hanya aku yang tinggal di apartemen ini seorang diri, itu sangat sepi saat aku pergi kekamar hyung seperti biasa. Kamar hyung terlihat gelap dengan lampu jalanan yang menyorot kamar tersebut. Barang-barang berharga hyung diletakan dalam box, barang-barang tersebut seperti memanggil tuannya. Diapartement ini, setengah adalah milik barang hyung, apakah ia tidak akan kembali, apa gunanya untuk menjaga barang-barang ini?

.

.

.

Koridor rumah sakit sangat tenang. Suster mengatakan bahwa hyung ku sedang tidur, aku hanya bisa melihat wajahnya tenang dan pergi pulang setelah itu. Tapi aku memutuskan untuk masuk keruangan itu saja.

Hyung masih terlihat mengandalkan mesin untuk pasien yang berada ditubuhnya, wajahnya terlihat tenang dengan mata terpejam seperti orang mati.

Satu minggu telah berlalu semenjak ia pingsan, tapi ia masih saja belum sadar sampai sekarang. Tentunya ia tidak mungkin tidur selamanya bukan?

Bahkan jika dia bangun, ia akan sering mendapat serangan jantung dan tidak lama kemudian meninggal, itulah yang dikatakan dokter.

Meskipun senyum hyung seringkali lemah dan suaranya yang halus, semangatnya tetap besar. Dibandingkan dengan Jeonghu hyung yang tegas dan Jinho hyung yang menakutkan, Eunho hyung sangatlah lembut. Itu karena hyungku yang menyedihkan ini punya penyakit yang sama seperti appa dan hanya tinggal menghitung waktu untuk hari-hari terakhirnya.

Menatap wajah hyung semakin hari semakin terlihat kurus, aku mengenggam tangannya dan menaruh tangan itu diwajahku, itu sangat hangat. Itu tanda-tanda ia masih hidup.

"Hyung— ada seseorang yang aku suka."

Sama seperti hari biasa, aku memberitahu hyung dengan semangat. "Okey— seberapa cantik kali ini?" Aku menatap hyung yang berada didepanku sambil tersenyum. Tapi hyung tidak menjawab.

"Aku gila, benar— aku sangat menyukai dia. Apa karna dia selalu muncul dipikaranku? Aku bahkan tidak sempat memikirkan appa, tapi aku merindukannya. Meskipun aku hanya mengetahui namanya saja?"

Adik laki-laki satu-satunya sedang mabuk cinta, ia malah terus menerus terpejam tanpa menjawab setiap perkataanku.

"Hyung… hyung… Eunho hyung—"

"…"

"Apakah kau ingin tidur seperti ini?"

"…"

"Dengarkan aku—"

.

.

.

Beberapa hari yang lalu, Umma mengunjungi sekolah. Rambut ku yang diwarnai itu lah penyebabnya.

Sejak pertama aku masuk SMP, umma selalu bolak-balik datang ke sekolah hanya karena masalah sepele seperti ini. Apakah ia membuat masalah besar? Umma tiba disekolah dengan cepat. Aku tidak suka dengan sikap guru-guru dan kepala sekolah yang memanggil umma tanpa memberitahuku terlebih dahulu.

Aku harus mendengarkan nasehat, tapi meskipun aku terlihat menyesal, aku tidak akan mewarnai rambutku menjadi hitam kembali.

Mewarnai rambut dari abu-abu ke hitam tidak akan merubah segalanya, tidak akan membuat kematian menjauhi hyung yang terbaring di rumah sakit.

.

.

.

Hari dimana hyung keluar dari rumah sakit, aku menyuruhnya tidur di tempat tidurku karena kamarnya sangat berantakan. Aku berbaring di lantai dan membicarakan tentang Kim Jaejoong.

Walaupun aku dan hyung saling membicarakan segala hal dan hyung tahu semuanya tentangku—siapa yang aku temui, siapa yang berhubungan denganku. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengatakan padanya;. Namun, aku tidak bilang "Aku menyukai namja, dia sangat cantik"

Meskipun hyung terlihat sangat lelah, dia mengatakan itu tidak masalah dan mengatakan kepadaku untuk mengatakannya dengan nada pelan. Aku mengumpulkan semua keberanianku untuk mengatakannya. Hyung tidak merespon apa-apa selama beberapa waktu setelah ia mendengarkanku bicara. Terlalu mengejutkankah untuk jantungnya hingga ia berhenti bernafas? Aku buru-buru berdiri dan menatap wajah hyung. Tetapi sepertinya ia sedang mempermainkanku karena ia tersenyum padaku dengan wajah gembira.

"Sangat cantik?"

"Ah—apaan sih hyung. Aku hampir mati ketakutan."

"Aku mengingat kata-kata mu, sepertinya dia benar-benar cantik. "

"Yeah, dia benar-benar sangat cantik"

Setelah menyelesaikan kalimat ku, aku merasa sedikit malu, dan menghabiskan waktu untuk melihat langit-langit diatas langit. Aku menggaruk kepalaku dan menyentuh hidungku hanya untuk menunggu untuk tidur, tapi aku tidak bisa tertidur.

"Aku ingin cepat pergi sekolah"

"Benarkah?"

"Mungkin itu akan menjadi hari terakhir kalinya aku pergi ke sekolah ..."

Hening. Tidak ada yang bersuara. Berapa hari lagi kami bisa berbaring bersama seperti ini? Rasanya aku ingin menyebut nama hyung, tetapi airmata di mataku menahan suaraku, membuatku tidak bisa bersuara. Kami berdua hanya diam.

Karena setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir bersama hyung, dan untuk menjaga hyung yang tidak bisa bergantung pada dirinya sendiri, aku jadi tidak bisa tidur.

.

.

.

Pagi itu, Jeongho hyung datang ke apartemen kami. Ia memberikanku kunci motor baru. Sebenarnya, ia ingin bertemu Eunho hyung, tetapi aku bilang hyung sedang tidur, jadi ia pergi. Melalui tahun-tahun pertumbuhan membuatku menjadi seorang pria dewasa karena memberinya kebahagiaan.

.

.

.

Musim dingin yang lalu, Musim dingin lalu, aku tumbuh sebanyak 3 cm dan sekarang tinggiku sudah lebih dari 1.8 m. Umma bilang kalau aku terus tumbuh, aku akan seperti appa. Aku mulai berlatih tinju, makan banyak nasi dan melakukan aktivitas sehari-hari. Berkelahi juga seperti olahraga.

Perkelahian kemarin tidak cukup untuk pemanasan. Teman-temanku juga merasakan yang sama, dan inilah alasan kenapa kami selalu bersama. Sejak SMP hingga sekarang, kami berenam selalu sekelas. Tak bisa dibayangkan kami tidak pernah berselisih sampai sekarang.

Jika aku masuk melalui gerbang sekolah sekarang, kemungkinan besar aku akan ditangkap orang kesiswaan dan akan diberi ceramah selama satu jam. Jadi kuputuskan aku akan memanjat tembok saja.

Setelah umma datang ke sekolah hari itu, tentu saja orang kesiswaan tidak akan memukulku dengan tongkat, tetapi pasti akan ada ceramah yang sangat membosankan. Selama ia tidak menangkapku memanjat tembok sekolah, aku bisa berlari ke kelas dengan leluasa.

Aku memarkir motorku di luar gerbang sekolah dan mengatur tas sekolahku. Aku menggosok tanganku bersiap memanjat tembok. Lalu, di sebelah tembok muncul sosok tidak asing dengan rambut hitam tebal.

Kim Jaejoong. Ia meletakkan tasnya di depannya dan membongkar isinya. Lalu tangannya masuk ke sakunya dan mengeluarkan isinya. Barang yang sedang dicarinya pastilah kartu nama yang harus kau tunjukkan sebelum masuk ke gerbang sekolah.

Hyung bilang sebenarnya awalnya nama mereka dijahit di jas mereka. Tetapi para murid pikir cara ini terlalu kuno jadi sekolah menerima saran para murid untuk menggantinya menjadi kartu nama. Selain itu, kartu namanya harus digantung di tempat yang bisa dilihat para guru. Sekolah kami masih memegang tradisi memakai seragam dan kartu nama di jas kami.

Dengan naif, aku berjalan ke belakang Kim Jaejoong. Aku melihat melalui bahu yang lebih pendek dariku, ia masih mencari kartu namanya dengan teliti, tanpa peduli tangannya mulai kebas. Lalu, sikunya mengenai dadaku. Kasar sekali—uh ah uh ah.

"Kau—!"

"Uh uh—sakit tahu!"

"Siapa suruh kau berdiri di situ?"

Beginikah kau membayar penyelamat hidupmu? Dia menatapku dengan mata doe-nya yang tajam. Bukan salahku kalau kartu namamu hilang, kenapa malah menatapku seperti itu. Tiba-tiba aku merasa menderita dari ketidak adilan. Kemudian, aku mulai membayangkan kesiswaan menangkap basah si 'kupu-kupu'. Tongkat milik kesiswaan tidak tipis, bagaimanapun, kalau ia dipukul oleh kesiswaan, ia mungkin saja akan menangis. Ah, aku sedang tidak mood. Bagaimanapun juga aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di sini. Aku menggenggam tangannya tanpa berpikir dua kali.

"Apa yang kau lakukan?"

"Bukannya kau bilang kau tidak punya kartu nama?"

"Kapan aku—"

"Ayo kesini."

Aku mempercepat langkahku dan berjalan ke pojok tembok. Dia yang sejak tadi kutarik benar-benar manis. Meski kami hanya berjalan beberapa meter, tetapi bagiku aku sudah berlari dengan bocah ini sejauh bermil-mil. Ah, aku senang sekali.

Angin bertiup kearahku, menghindari bocah yang berada dibelakangku. Bisa kah tubuhku seperti kertas ini dapat bertahan cuaca dingin?

Melihat dari atas pagar, kami bisa melihat gedung sekolah bagian timur. Aku berhenti, meskipun aku benci berpisah dengan namja cantik ini, aku harus melepaskan tangannya. Akankah perasaan ini menghilang? Aku mengepalkan tanganku. Tangan tidak seindah yang kubayangkan, namun sangat aneh aku tidak merasa jijik atau kecewa.

Kenapa ia tidak merasa gembira? Aku melompat ke pagar dan meninggalkan Kim Jaejoong yang tampak tidak senang di bawah, mengecek keadaan di balik sana.

Bocah itu harus memanjat tembok setinggi itu. Aku melemparkah tasku melewati tembok tersebut. TUK—terdengar suara yang sangat tidak enak. Tasku pasti mendarat ditempat yang aman. Aku menunjuk dinding, bocah itu mengigit bibir seksinya dengan cemas. Bagiku mungkin memanjat tembok seperti ini hanya sekecil kue. Dia nampak tidak ingin memanjat dinding itu. Namun, kami harus memanjat dulu sampai atas sebelum loncat ke bawah. Dengan tidak sabar aku menarik bocah itu keatas, dia tidak punya pilihan lain selain mengangkat tangannya ke tembok. Aku memegang pingganya dan mendorongnya ke atas. Ah—tubuh yang sedang kupegang ini—

"Yah, apa yang kau makan, kenapa kau seringan ini?"

"Itu bukan urusanmu"

"Gunakan tenaga lenganmu dan panjat."

Bagaimana mungkin pinggang namja itu sangat ramping? Karena pinggang rampingnya, seragamnya nampak sedikit berkerut. Selain itu, berat tubuhnya sama dengan berat tubuh yeoja biasa. Dia benar-benar aneh. Ahh—jantung ku tidak kuat lagi, aku akan gila. Ditambah, bau harum yang terasa manis dari tubuhnya. Kenapa dia selalu merayuku?

Ia memanjat tembok dengan susah payah dan setelah sampai di atas, dengan ragu-ragu memanggulkan tasnya dan melompat ke bawah. Tidak ada suara aneh di seberang sana. Jadi ia pasti tidak terluka. Akhirnya aku memanjat tembok menyusulnya.

Tiba-tiba saja, kilatan hitam muncul di hadapanku, ia berbalik kembali, matanya memandangku sekilas.

Dalam sekejap, benar-benar, aku berpikir jantung ku akan berheti berdetak. Ini pertama kalinya aku begitu dekat dengannya. Aku tidak siap dan ditambah lagi aku malah gemetar.

Dia terlihat seperti anak kucing putih, sangat cantik sampai-sampai orang ingin menerobos dinding diatara kami dan memeluknya dengan erat.

Ah—aku bahkan bisa melihat pembuluh darahnya meski ia tidak sedang cemberut. Tidak ada kerutan disekitar bibir cherry-nya, bibirnya terlihat lembut dan kenyal seperti pudding merah lezat. Aku pikir aku akan menyentuh bibir cherry itu, hanya sekali saja.

Aku tidak tahu apa alasannya, tapi aku merasa tengah menunjukan sisi yang paling tampan dari ku. Aku meletakkan tanganku di tembok dan meraih ujung atas hanya dengan sekali loncatan. Apakah dia kagum?

Dia menatapku sekarang. Matahari musim semi seperti debu emas, menyinari kulit putih bocah itu dengan jelas. Wajah cantik itu kini menatapku sekarang.

Sekali lagi, jantung ku berdebar kencang di dadaku. Aku ingin sekali memeluknya dengan erat setelah melompat dari dinding, Jantungku tidak bisa melawan dekatnya lagi. Aku telah jatuh ke dalam lubang, pada hari pertama aku melihat dirinya. Syal putih dan bibir indahnya telah memikatku, aku menyukai dirinya yang sangat cantik, karena aku menyukainya. Aku bahkan menemukan dia yang lebih indah dari siapa pun. Perasaan ini aku tumbuh lebih dalam seiringnya waktu, jika saja kami mempunyai perasaan yang sama. Tampaknya perasaanku padanya tidak akan mudah luntur, aku berharap kau mengerti, aku berharap kau sama sepertiku, aku harap.

"Jung Yunho! Kau anak bodoh kurang ajar! Baru saja kau dihukum! Sekarang kau sudah memanjat tembok lagi!"

Ah, aku bahkan lupa kalau situasi ini sedang gawat, semuanya karena dia. Karena dia menatapku dengan wajah polosnya, aku merasa seolah-olah waktu berhenti, hanya kami berdua didalam ruangan ini.

Fuck, wajah bocah ini terlihat seperti susu.

Aku terlihat seperti orang cacat, berdiri diatas tembok, aku tidak tau apa yang harus kulakukan.

Di sisi lain tembok, guru kesiswaan berlari ke arahku sambil mengacung-ngacungkan tongkatnya. Di satu lagi berdiri Kim Jaejoong yang menatapku dengan kepala melongok. Aku bergantian melihat mereka berdua sambil mengerucutkan bibirku. Akhirnya aku memilih mengurus Kim Jaejoong terlebh dahulu.

"Yah, lari, cepat."

"Eh?"

"Kubilang lari! Kalau kau ditangkap kesiswaan, kakimu bisa habis!"

Bocah itu mengerjapkan matanya, dan mengerutkan alisnya. Setelah mendengar langkah kaki, dia berbalik dan berlari menuju gedung timur.

Pu-di pu-di, seperti kupu-kupu, ia menggoyangkan pantatnya dan terbang pergi.

Melihat punggungnya dengan tatapan kosong, guru kesiswaan menjewer kupingku dan menarikku turun. Aku sudah melakukan hal yang sangat memalukan, begitulah kata kesiswaan, dan mereka membiarkanku mendengarkan ceramah satu jam mereka.

"Kau memakai telingamu untuk mendengar saya tidak?!"

"Urg—ah ah ah!"

Aku terus-terusan menjerit kesakitan.

Bocah tidak berperasaan, aku bilang kepadanya untuk melarikan diri dan dia benar-benar melakukannya? Aku mulai menyeret kaki ku yang terluka ke atas atap dan mulai merokok. Aku mendapat kunci cadangan dari hyung ku. "Jangan membuat mu tertangkap merokok ditoilet" ucapnya, dan memberiku kunci. Pikiranku mulai melayang ke hyung yang tinggal di apartemen sendirian, hatiku jadi merasa tidak nyaman. Sebaiknya aku menghisap pertama, aku duduk dan bersandar dipegangan, tangaku kumasukan dalam saku, bagian belakang kaki ku sangat sakit. Tehnik memukul guru-guru kesiswaan hebat sekali. Teman-temanku juga membicarakan tentang tehnik memukul mereka. Tetapi, kenapa aku selalu merasa tulang-tulangku sakit juga?

Rokok menggantung dibibirku, pintu masuk atap terbuka. Apakah itu guru? Dengan sigap aku melepaskan rokok di bibirku, dan aku menatap sepatu olahraga yang sepertinya aku mengenali sepatu itu, sudah pasti bocah itu. Kalau bukan dia, siapa lagi? Bocah itu memasang wajah galaknya sambil memegang tas milikku dan menutup pintu besi itu. Setelah itu, ia menarik tas milikku dan berjalan kearahku. Haruskah aku mengatakan sesuatu? Setelah melihat wajah bocah itu, aku memilih tidak mengatakan sesuatu. Masih marah? Dan bibir cherry-nya terlihat cemberut. Tidak kah dia terlihat menyesal? Jangan bermimpi aku akan memaafkanmu bahkan jika kau berwajah cantik sekalipun. Tapi ini hanya membuat waktu ku saja. Ia melempar tasku dan menatapku dengan tatapan kosong, aku tidak bisa berpikir yang lain. Wajahnya membuat amarahku hilang begitu saja, semakin aku melihatnya, aku makin merasa wajahnya itu seperti sihir.

"Terima kasih aku sudah dipukuli."

"Bukankah kau menyuruhku untuk lari?"

Aku sengaja memakai kata-kata yang menusuk, tetapi Kim Jaejoong malah membuatku terjebak. Bukan seperti itu yang aku mau, menyebalkan. Cara apa yang harus aku pakai untuk menangani anak ini yang terus menerus tidak bias berdiam diri seperti bola ping pong? Ia begitu lembut kepada teman-temannya dan juga kodok itu, dan memperlakukan ku sangat dingin. Tiba-tiba, aku merasa sedih, jadi kugigit ujung rokok.

Aku berpikir ia akan pergi setelah melempar tasku, dia malah berjongkok disampingku.

Ia menatapku seolah membujuk anak yang tengah marah, otakku berhenti berfungsi. Aku tidak tahu kemana asap rokok ditiupkan dan reaksiku terhadap setiap sensasi mulai berjalan lambat.

Kim Jaejoong melambaikan tangannya tepat diwajahku, seperti melakukan sihir. Ketika aku tersadar akan lamunanku, rokok milikku sudah dirampas olehnya, dan bertengger di bibir cherrynya. Ahh—jika aku tau ini sebelumnya, aku tidak akan merokok.

"Jadi cantik kau tau bagaimana cara merokok"

"Memangnya menjadi cantik tidak boleh merokok?"

Dia merokok diatas jari-jarinya dan wajahnya terlihat sombong, dalam detik, aku ingin menjadi punting rokok itu. Aku benar-benar iri dengan rokok kecil itu. Ia nampak terlihat lebih sombong saat mengerutkan kening. Whoo—dia tersenyum. Aku akan pingsan. Ekspresi itu memenuhi hatiku.

"Siapa yang bisa aku salahkan karena aku secantik ini?"

Aku tersenyum. Dia sendiri tau bahwa ia sangat cantik, Lee Soo Hun pasti sudah memberitahunya sebelumnya. Aku ingin memilik dirinya. Melihat bocah itu, aku menjadi berpikiran yang tidak-tidak, pikiranki sudah dipenuhi nafsu.

Pertama-tama, kita harus lebih akrab. Kalau kami mau membuat hubungan yang aku inginkan itu, aku harus menyemplungnya ke dalam susu seperti anak kucing yang sakit.

"Meow, cobalah mengeong."

"Apa? Memangnya aku kucing? "

"Coba saja."

Dia mematikan rokoknya dengan sepatunya. Sepertinya kata-kataku terlalu menginanya. "Memangnya tidak ada kata-kata yang lebih pantas?" Aku memaki-maki diriku sendiri.

Dia berdiri, aku takut ia akan pergi begitu saja. Aku melihatnya dengan wajah datar.

"Biarkan aku duduk di atas motor untuk beberapa saat."

Dia tersenyum lagi. Senyum lebarnya adalah ekspresi terindah milik Kim Jaejoong yang pernah aku lihat.

.

.

.

"Yah, yah, si cantik dari kelas 8 dijemput sebuah mobil mewah sepulang sekolah tadi!"

"Kudengar dia anak dari salah satu anggota parlemen."

"Wah, dia bahkan tidak hanya cantik tapi memiliki semuanya."

"Jung Yunho. Kau tidak tahu tentang dia?"

Selama beberapa waktu, aku selalu medengar teman-teman berkata seperti itu. Hanya perkataan-perkataan bodoh. Aku hanya mendengarkan, tidak memahami.

.

.

.

Dia juga suka mengendarai motor. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, melaju kencang dengan senang, menghirup udara segara awal musim semi. Nafas yang keluar dari mulutnya menjadi penyegarku. Moodku sedang baik, tapi, wajahnya menjadi kering. Mungkin karena angin dingin hingga membuat pipinya memerah.

Bisakah kita menjadi lebih akrab? Dia tiba-tiba mengeluarkan kalimat itu.

"Aku ada kelas di jam ketiga."

Dia tampak kecewa. Aku menyukainya tetapi tidak kutunjukkan. Aku memelankan kecepatan untuk mengundur-undurkan waktu. Aku merasa waktu itu sangat singkat. Beberapa menit kemudian, motorku sampai di depan gerbang sekolah, ia langsung melompat turun dan berjalan masuk ke gerbang tanpa menoleh. Aku memanggilnya dengan kesal.

"Yah!"

"Apa?"

"Tidak mau belajar mengendarainya?"

"Apa?"

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan semangat, berarti ia benar-benar lupa total.

"Aku kan sudah memperbolehkanmu mengendarai motor?"

"Oh, oh."

Ia menganggukan kepala.

"Kapan aku bilang aku ingin belajar?"

Memangnya susah belajar meng-'meow'? Dasar arogan!

Dia meninggalkanku yang telah dipermainkan, menghilang dibalik gerbang sekolah dengan sok dan sombong. Aku memukul tembok di sebelahku. Orang-orang cantik memang berkepala besar. Aku seharusnya menonjok hidungnya. Huh, aku jadi menyesal setengah mati.

.

.

.

Aku menggaruk kepalaku dengan tidak senang sambil mendorong motor. Aku sedang memikirkan perkataan teman-temanku, si cantik dari kelas 8? Siapa gadis itu aku tidak peduli. Aku menstarter motorku.

"Siapa si cantik dari kelas 8? Jangan bicara yang omong kosong. Aku pergi."

"Eunho hyung sudah keluar dari rumah sakit, apa kami perlu menjenguknya?"

"Kalian menyeramkan."

"Kau terlalu kasar."

Aku meninggalkan teman-temanku yang masih terus mengejek di belakang dan pergi pulang. Aku masih memikirkannya sepanjang jalan ke rumah. Walaupun dia mengganggu, tapi aku sudah terlanjur sangat menyukainya. Anak itu dari kelas berapa ya? Aku belum sempat tanya padanya dan tidak mendengar dari orang-orang lain. Aku jadi tidak peduli pada hal lain dalam dirinya selain nama dan wajahnya.

Bagaimanapun, di hari kedua, aku tahu sesuatu tentangnya meski bukan hal yang ingin aku ketahui.

Tugas piket sudah berakhir? Jadi aku tidak bisa bertemu dengannya lagi? Saat pulang sekolah, aku kembali ke tempat pembakaran sampah, gedung belakang memang salah satu tempat yang selalu sepi. Apa telah terjadi sesuatu? Aku menahan nafasku dan berbalik. Aku melihat sesuatu yang penuh kepalsuan. Tubuhku menjadi kaku. Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.

.

.

.

TBC

Balasan riviewnya dichapter depan nde~

Soalnya lagi buru-buru ^^

Call Me Baby/Joong aja nde~ gak usah panggil Author atau apalah ^^

Follow my Twitter : JoongBaby

Twitter yang kemaren ke blokir -_-