A/N: Sebelumnya maaf kalo England dikasih terlalu banyak peran atau istilahnya 'screen time' di sini, soalnya dia chara fave Ruvi di Hetalia. Iggy~ ^^ Sebagai gantinya, Ruvi bakal banyakin peran side characters kayak Nordics, Trio Baltic, Asian Countries, Sealand, dan Canada (yang sedihnya sampai saat ini masih terlupakan).
Dan... ada yang request suspense-nya ditambahin. Permasalahannya, Ruvi nggak ngerti cara nambahinnya T^T #pundung.
Ruvi juga nggak bisa bikin adegan action, jadi kalo adegan ******y vs pembunuhnya abal banget, maafkan Ruvi... Nanti Ruvi janji bakal belajar bikin adegan action deh. Ngga ada bahan sih... Ada yang punya fic referensi?
Buat yang request daftar karakter, langsung aja: (padahal tadinya mau ditaruh di Chapter 1 trus kelupaan)
-Axis (Italy, Germany, Japan)
-Allies (America, England, France, Russia, China)
-Canada
-Romano
-Spain
-Belgium
-Netherlands (karena temen saya fans beratnya XD)
-Trio Baltic (Lithuania, Estonia, Latvia)
-Poland
-Nordics (Denmark, Norway, Iceland, Finland, Sweden)
-Hong Kong
-Taiwan
-Korea Selatan
-Greece
-Turkey
-Switzerland
-Liechtenstein
-Prussia
-Austria
-Hungary
-Belarus
-Ukraine
-Seychelles
-Sealand
Untuk kepentingan bersama, Ruvi udah nge-submit denah vila Helltalia di: ruvinahime . deviantart dot com /#/d51yn17 (ilangin spasinya)
Silakan dilihat~
Listening to: Katayoku no Tori by Akiko Shikata
Watching to: Hetalia - Katayoku no Tori (Full Version)
HELLTALIA
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Helltalia © Ruvina no Ookami Hime
Inspired by: Suspicious Sentiment © Owl7498
Warning: Character death every chapter, probably violence and bloody scenes.
Foul language, and a lot of foreign languages.
Don't like, Don't read!
~.~
CHAPTER 3
[Unheard Shots – Tembakan-tembakan Tak Terdengar]
~.~
Penyebab kematian Iceland kali ini juga cukup jelas, melihat beberapa lubang bekas tusukan pisau di pakaian Iceland. Pelakunya bahkan berbaik hati meninggalkan senjata pembunuhnya di samping jasad Iceland.
"Lagi-lagi, senjatanya ditinggalkan begitu saja." Kata England sambil mengeluarkan sapu tangan untuk mengangkat pisau yang berlumuran darah tersebut.
"Sepertinya aku pernah melihat pisau itu." Kata America sambil mengamati pisau yang dipegang England.
"Bukankah itu... pisau yang sering dibawa Belarus?" Tanya Japan.
Russia bergerak mendekat begitu mendengar nama adiknya dipanggil. Dia mengamati sebilah pisau berlumuran darah itu dari dekat, mengecek setiap incinya untuk membuktikan bahwa itu bukan milik adiknya.
"Ini memang punya adikku." Kata Russia pada akhirnya.
"Apa itu berarti pembunuhnya Belarus? Berarti yang membunuh Greece juga...?" Tanya France.
"Tapi ini belum terbukti, kan? Maksudku, bisa saja pembunuhnya mengambil pisau Belarus untuk menjatuhkannya, aru." Kata China berusaha menjaga atmosfir tetap tenang.
"Kalau begitu kenapa tidak kalian tanya saja pada orangnya?" Kata Norway tiba-tiba.
Semua orang menatap ke belakang mereka. Untuk seseorang yang baru kehilangan adiknya, Norway terlihat cukup tenang. Atau lebih tepatnya, dia terlihat menyimpan dendam yang begitu besar pada pembunuhnya, terlihat jelas dari matanya yang berkilat kesal.
Norway menunjuk ke pintu ruangan yang terletak di samping kamar mandi, "Sejak tadi dia ada di dalam situ, menunggu."
Semua orang lantas mengalihkan pandangan mereka pada pintu kayu berwarna coklat kemerahan yang dimaksud. Tak lama kemudian pintu itu pun perlahan terbuka, memperlihatkan Belarus yang berwajah kusut di ambang pintu. Semua orang terdiam, tak tahu mau berkata apa.
Pisau Belarus ditemukan berlumuran darah di kamar mandi, tepat di sebelah Iceland. Semua orang tahu bagaimana sifat Belarus yang begitu impulsif dan tak segan-segan mengancam kakaknya sendiri dengan sebilah pisau yang sama yang digunakan untuk membunuh Iceland. Ditambah lagi, tak ada alasan bagi Belarus untuk tidak membunuh Iceland.
Semua orang menatap ke arah Belarus, menunggu gadis berambut perak itu mengatakan sesuatu.
"Bukan aku yang membunuhnya." Katanya datar.
Kata-kata yang pasti diucapkan sang pembunuh ketika dia dituduh membunuh korbannya. Hal ini hanya membuat Belarus terlihat semakin mencurigakan. Posisinya benar-benar tak aman kali ini. Dia harus mencari cara keluar dari keadaan itu.
"Tunggu...!" Sosok Ukraine tiba-tiba muncul dari belakang Belarus. "Aku... sejak tadi aku bersama Bela-chan di kamar! Kami sama sekali tak keluar dari kamar setelah selesai rapat! Jangan menuduh Bela-chan sembarangan!" Kata Ukraine membantah pernyataan orang-orang.
"Kau diam saja, kak. Ini urusanku dan mereka." Kata Belarus tak acuh.
"Tapi—" Ukraine tak bisa membantah kata-kata Belarus. Dia memang tak pernah bisa menang berdebat dengan adiknya itu. Sebaliknya, dia lebih memilih untuk mundur perlahan dan membiarkan adiknya mengatasi situasi.
"Jadi kalian berkata bahwa sejak selesai rapat kalian terus berada di kamar?" Tanya France yang disambut dua anggukan dari saudara Russia.
"Dan apa yang kalian lakukan?" Tanya England. "Lebih tepatnya, apa yang pisaumu lakukan di kamar mandi, berlumuran darah dan mencabut nyawa seorang nation?"
Belarus terdiam.
"Sebenarnya justru karena itu kami kembali ke atas. Bela-chan kehilangan salah satu pisaunya dan kami sibuk mencari pisau itu di kamar. Tiba-tiba dia teringat bahwa tadi pagi dia mencuci pisau itu di kamar mandi, dan sepertinya meninggalkan salah satunya di atas wastafel. Kami berusaha mengambil pisau itu dari kamar mandi, tapi ada orang di dalam dan dia tidak membiarkan kami masuk." Jelas Ukraine.
"Iceland sialan itu... ternyata dia yang tidak membiarkanku mengambil pisau kesayanganku...! Aku pasti akan membunuhnya seandainya dia belum mati duluan. Anak itu...! Aku tak akan pernah memaafkannya...!" Kata Belarus sambil mengeluarkan aura-aura gelap mistis-nya.
Semua orang lantas mundur selangkah, menjauh dari Belarus yang sepertinya tak terkontrol. Ukraine langsung membawa Belarus kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya, menjauhkannya dari orang-orang yang mungkin dilukainya.
"Jadi? Apa Belarus masih menjadi tersangka?" Tanya Hungary tiba-tiba. Sepertinya hanya dia yang tak takut melihat Belarus.
"Kemungkinan itu masih ada. Kita harus mencurigai semua orang yang bisa kita curigai untuk saat ini. Sekarang sebaiknya kita mengadakan rapat untuk memberitahu orang-orang apa yang kita temukan." Jawab Austria.
Semua orang mengangguk setuju.
"Yah, sekarang pertanyaannya adalah mau kita apakan umm... Iceland?" Tanya England.
"Kita tinggalkan saja dia di sini, tapi kita kunci pintunya dari luar. Aku yakin tak akan ada orang yang mau memakai kamar mandi berlumuran darah begini." Kata Spain.
"Kau lupa bahwa Russia baru saja merusak pegangan pintu ruangan ini." Kata England sambil menunjuk lubang di tempat pegangan pintu seharusnya berada.
"Bagaimana kalau diganjal dengan keset, aru?" Usul China.
"Diganjal bagaimana, maksudmu?" Tanya France tak mengerti.
"Begini..."
China mengambil keset kamar mandi yang sedikit bernoda darah, lalu menyelipkannya ke bawah pintu kamar mandi. Dia menarik keset itu ke arah luar, menarik serta pintu kamar mandi hingga pintu tertutup dan kesetnya tersangkut di celah antara lantai dan pintu kamar mandi.
"Selesai!" Seru China sambil melihat hasil pekerjaannya.
Semua orang yang sedari tadi mengawasi terlihat terpukau dengan ide China. Bahkan tak pernah terbesit di pikiran mereka untuk melakukan hal semacam itu sebelumnya.
"Yah, sekarang pintunya sudah tertutup. Untuk kalian yang berada di sini, kucamkan baik-baik pada kalian; jangan pernah berjalan ke mana pun sendirian, termasuk ke toilet. Ketika kalian tidur, teman sekamar kalian harus tetap bangun untuk mengawasi. Mengerti?" Tanya Austria.
Semua orang mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita ke bawah, terus berada di sini tidak akan menghidupkan kembali Iceland." Kata Norway bersikap dewasa.
Tanpa disuruh pun semua yang berada di situ memang ingin segera turun ke bawah. Tak lama kemudian semua orang telah turun ke bawah, kecuali dua orang terdekat Iceland.
"Ayo, Anko. Seperti yang tadi kubilang, terus berada di sini tidak akan menghidupkan—"
"... Kenapa?" Terdengar gumaman samar.
Norway memiringkan kepalanya, tanda dia tak bisa mendengar perkataan Denmark dengan jelas.
"Kenapa harus dia?" Tanya Denmark dengan suara gemetar.
Norway tertegun sesaat. Dia baru menyadari bahwa nation yang biasanya ceria itu kini menunduk sambil membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Tak pernah Norway melihat Denmark seperti itu sebelumnya. Denmark yang biasanya tak bisa diam, kini meringkuk tak berdaya sambil bersandar pada dinding. Dia yang biasanya menyebarkan cahaya layaknya matahari pagi kini hanya bisa bersinar redup layaknya sinar matahari di tempat tinggal mereka.
"Kenapa harus dia, Norge...? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku saja? Dia terlalu muda untuk mati, dia masih—"
PLAK!
Sebuah tamparan dari Norway mendarat di wajah Denmark, meninggalkan bekas kemerahan di pipinya.
"Kau pikir aku tak sempat berpikiran sama?" Tanya Norway.
Denmark yang shock tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Dia masih tak bisa mempercayai kenyataan bahwa sahabat baiknya itu baru saja menampar wajah tampannya.
"... Tapi lalu aku berpikir, bahwa bukan ini yang diinginkan Ice. Kau pikir dia akan tenang melihatmu terus bersedih untuknya? Tidak, Anko! Mana sifatmu yang biasanya? Yang selalu optimis dan melihat ke depan, tak peduli apapun yang terjadi? Mana Denmark yang selama ini aku dan Ice kenal?" Bentak Norway sambil memukul dinding di sebelahnya dengan kepalan tangannya.
"Norge..."
Norway berhenti dan menatap Denmark dengan kedua mata biru gelapnya. Ekspresinya menampakkan kemarahan, tapi Denmark bisa melihat air mata yang mulai menggenangi bola matanya.
"Karena itu, kumohon... berhentilah bersedih, Anko. Berhentilah, karena kalau kau terus begitu... Maka aku... Aku tak akan bisa lagi menahan..."
Tes.
Setetes air mata jatuh dari mata sang pemuda Nordic ke karpet sewarna darah di bawahnya, disusul tetesan-tetesan lain yang semakin lama semakin deras. Norway tak perlu mengucapkan sepatah kata pun untuk membuat Denmark mengerti perasaannya, karena dia pun juga merasakan hal yang sama. Denmark sadar bahwa itu memang salahnya. Tentu Iceland tak akan bisa tenang jika ia terus seperti itu. Dia hanya harus tetap tersenyum seperti biasanya, seakan-akan tak terjadi apa-apa.
.
"Ya, kan, Ice...?"
.
.
.
"Kalau begitu sudah diputuskan, yang akan berpatroli malam ini adalah England, America, dan Swiss. England akan berjaga di lantai 2 bagian timur, America bagian barat, dan Swiss akan berjaga di lantai 1." Jelas Austria menggantikan tempat Germany.
Sebuah tangan terangkat di kejauhan. "Kenapa harus mereka, desuyo?" Tanya Sealand.
"Karena ketiga orang yang kusebutkan tadi kuanggap bisa menjaga diri mereka sendiri, dan juga kita. Walau begitu aku ingin setidaknya satu orang tetap bangun di masing-masing kamar, hanya untuk berjaga-jaga." Lanjut Austria lagi.
Semua orang mengangguk tanda mengerti.
"Menurutku berada di kamar terus juga tak bisa dibilang aman. Siapa yang tahu jika pembunuhnya adalah teman sekamarmu sendiri?" Tanya Swiss tiba-tiba, membuat ketegangan kembali memuncak.
"Lalu apa usulmu?" Tanya Austria yang terlihat sedikit terganggu dengan pertanyaan itu.
"Jika semuanya berkumpul di aula, akan lebih mudah mengawasi mereka. Termasuk pembunuhnya juga." Kata Swiss sambil mempersiapkan senapannya.
Semua orang di ruangan itu mendadak terdiam, berpikir. Apa yang dikatakan Swiss memang benar, tapi...
"Aku setuju." Kata England tiba-tiba.
"Aku juga. Asalkan kita bisa mengawasi masing-masing, pembunuhnya tidak akan menyerang, kan?" Tanya America.
"Seharusnya begitu." Kata Japan.
Pada akhirnya semua nation pun setuju berada di aula akan lebih aman daripada berkeliaran berdua atau bahkan sendiri. Rapat singkat tersebut pun berakhir dengan cepat, dan semua orang kembali ke kesibukan mereka masing-masing. Kali ini hampir tak seorang pun berani meninggalkan aula setelah melihat apa yang terjadi pada Iceland. Kewaspadaan bisa dirasakan meningkat di antara para penghuni sementara vila bertingkat tiga itu.
Tanpa terasa siang pun berjalan dengan panjang dan membosankan, tanpa ada hal menarik lain yang terjadi. Sambil mengawasi mangsa-mangsa kecilnya, sang serigala berdiri sambil bersandar pada dinding, bersiap menjalankan rencana ketiganya.
.
Sementara itu Russia malah memutuskan untuk mengabaikan perintah Austria dan pergi ke lantai 2 bersama China. Dia tak menemukan hal menarik lain untuk dilakukannya di bawah, dan Belarus—yang sudah kembali normal—akan terus mengejarnya jika ia tak segera mencari perlindungan. Jadi ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, yang ia bagi bersama sahabat komunisnya itu.
"Eh? Apa yang mereka lakukan di sini, aru?" Tanya China begitu melihat dua orang duduk di lantai di koridor.
"Oh, itu Denmark dan Norway, da. Mungkin mereka juga dibunuh oleh 'sang serigala', da?" Tanya Russia dengan wajah polosnya.
"Jangan berkata begitu, aru! Sepertinya mereka tertidur di sini... Haruskah kita membangunkan mereka, aru?" Tanya China.
"Boleh saja. Aku juga sudah siap, da." Kata Russia sambil mengeluarkan senjata andalannya; keran air.
"Tidak dengan kekerasan, aru! Kau hanya akan melukai mereka kalau begitu, aru!" Kata China.
"Tapi mereka terlihat begitu polos ketika tidur, da. Aku ingin melukai wajah polos mereka, da." Kata Russia sambil mulai mengeluarkan aura gelapnya.
"Tidak boleh, aru! Kau—"
Terganggu dengan kegaduhan yang diciptakan China dan Russia, perlahan Denmark membuka kedua matanya. Dia mengucek-ngucek matanya dengan sebelah tangan, berusaha menghilangkan kantuknya. Dia tidak terlalu ingat apa yang terjadi, tapi tadi... Norway menangis, dan—
Denmark berhenti bergerak ketika menyadari Norway tertidur sambil bersandar di bahunya. Wajahnya terlihat begitu damai ketika tidur, seakan-akan tak terjadi apapun pada keluarga kecil mereka. Seandainya Iceland masih ada, mungkin saat ini dia akan mulai menusuk-nusuk pipi Norway dengan jarinya.
"Kau sudah bangun, aru?" Pertanyaan China membuat Denmark terlonjak kaget.
"Kalian tertidur di koridor, aru. Kalau terus di sini kalian bisa masuk angin, aru. Kembalilah ke kamar kalian. Di sana juga lebih aman, aru." Usul China.
"Ah, b-baiklah." Kata Denmark sambil berusaha berdiri tanpa membangunkan Norway.
Setelah berhasil bangun dari posisinya, Denmark mengangkat Norway dengan posisi bridal style. Norway ternyata lebih berat dari yang diperkirakannya, tapi setidaknya dia masih cukup ringan untuk dibawa kembali ke kamar mereka.
"Maaf, tapi bisa kau ambilkan buku Norway? Bukunya ada di atas meja kecil di bawah. Aku tak akan bisa mengambilnya dengan keadaan begini." Tanya Denmark pada China.
"Tapi, kalau begitu Russia..." China memandang ke arah Russia dengan khawatir.
"Tidak apa-apa. Tinggalkan saja aku di sini, da. Aku sudah terbiasa sendiri, da..." Kata Russia sambil tersenyum.
"Lagipula pembunuhnya tak akan berani melawanku, da." Tambahnya sambil mengeluarkan aura mistisnya.
Bulu kuduk China langsung berdiri bergitu mendengar kata-kata terakhir Russia.
"Uhh... baiklah, aru. Jangan ke mana-mana, aku akan segera kembali, aru." Kata China sambil berjalan mengikuti Denmark menuruni tangga.
Begitu sesampainya di aula, China langsung berjalan mendekati sebuah meja kecil di sudut ruangan, tepat di sebelah sebuah sofa berwarna hijau gelap. Dia atas meja itu terdapat sebuah buku bersampul biru gelap dengan tulisan 'Big Foot' berwarna keemasan di depannya. Nampaknya Norway tengah menyelidiki keberadaan makhluk mitos tersebut sebelum kejadian buruk menimpa adiknya.
"Yang ini, aru?" Tanya China sambil memperlihatkan buku itu pada Denmark.
"Ya. Terima kasih, umm... China." Kata Denmark sambil mulai berjalan kembali.
"Kenapa, aru?" Tanya China menyadari perubahan sikap Denmark.
"Ah, tidak... Hanya saja, aku baru sadar bahwa selama ini aku jarang mengobrol dengan orang lain selain Norway, Iceland, Finland, dan Sweden. Aku tak pernah menyadari bahwa di dunia ini banyak negara-negara lain yang tak kukenal." Kata Denmark sambil mulai menaiki tangga ke lantai 2 bagian timur.
"Tentu saja, aru. Kau harus lebih banyak bersosialisasi, aru. Memiliki lebih banyak teman tak ada ruginya, kan, aru?" Tanya China.
"Err... Yah, kurasa kau ada benarnya juga..." Gumam Denmark sambil tersenyum pada dirinya sendiri.
Tanpa mereka kira, di koridor berdiri seseorang. Orang itu adalah Italy, yang tengah berdiri di depan kamar nomor dua di sebelah kiri. Sepertinya dia bimbang antara mau masuk ke kamar itu atau tidak, terlihat dari ekspresinya.
"Ada apa, Italy-aru?" Tanya China.
"China... Ve~ Aku mau mengecek keadaan Doitsu, tapi... Aku takut dia memarahiku... Bagaimana ini, ve~?" Tanya Italy khawatir.
"Hmm... dia memang terlihat sedikit bermasalah tadi, aru. Tapi kau kan teman baiknya, dia pasti mau mendengarkanmu, aru. Benar, kan, aru? Oh, aku duluan, ya-aru! Nanti aku bicara lagi denganmu, aru!" Kata China sambil menyusul Denmark yang tiba-tiba saja sudah sampai di ujung koridor.
Italy terdiam setelah mendengar kata-kata China. Kau kan teman baiknya, dia pasti mau mendengarkanmu. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Hal itu memang benar, Germany sendiri pernah berkata bahwa Italy adalah temannya. Dan bukankah teman itu seharusnya saling membantu ketika dibutuhkan? Italy harus ada di samping Germany ketika temannya itu membutuhkannya.
Setelah berpikir panjang-lebar, Italy pun memutuskan untuk mengetuk pintu kayu di depannya. Tak terdengar jawaban dari dalam, tapi Italy tahu Germany ada di sana. Dengan takut-takut, pemuda Italia itu membuka pintu di depannya. Benar saja, Germany sedang duduk di atas tempat tidur, kelihatan depresi berat.
Dengan perlahan Italy berjalan masuk ke ruangan berukuran sedang itu sambil menutup pintu di belakangnya. Cahaya dari lampu tidur di atas meja tak sanggup menerangi seluruh ruangan, membuat ruangan itu menjadi remang-remang. Walau begitu, sosok Germany masih bisa terlihat jelas oleh mata amber Italy.
"Ve~ Doitsu, kau kenapa?" Tanya Italy sambil berjalan mendekati Germany.
Germany mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat siapa yang datang. Begitu tahu bahwa itu hanya Italy, dia kembali menunduk dan menatap karpet merah di bawahnya.
"Aku tidak apa-apa, Italy. Aku hanya... sedikit pusing." Sahut pemuda blonde itu.
"Ve~ Kau terlihat tidak sehat, apa kau perlu sesuatu? Aku bisa membuatkanmu pasta—"
"Sudah kubilang, aku tidak apa-apa, Italy!" Kata Germany sedikit kesal.
Italy mundur selangkah, kata-kata Germany barusan membuatnya ketakutan. Menyadari kesalahan sikapnya, Germany berusaha menahan emosinya.
"Maaf, aku memang merasa kurang enak badan. Kalau kau berkenan... tolong ambilkan aku air." Kata Germany beberapa saat kemudian.
Italy masih tak bergerak bahkan setelah mendengar kata-kata itu. Dia tetap diam sambil menatap Germany. Otaknya menyuruhnya keluar untuk melakukan permintaan Germany, tapi hatinya merasa dia harus tetap ada di situ. Setelah perdebatan panjang antara dirinya sendiri, Italy pun berbalik keluar.
"Aku akan segera kembali. Ve~" Katanya sebelum menutup pintu kamarnya dan Germany.
Begitu Italy menghilang dari pandangannya, Germany langsung menghela napas panjang. Dia sendiri tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya tadi. Dia hanya... sudah lama ia tidak melihat mayat seperti itu. Bau darah yang telah lama tak dihirupnya membuatnya mendadak sakit kepala. Tiba-tiba saja ingatan-ingatannya ketika perang kembali, dan tak satu pun ingatan itu cukup menyenangkan untuk diingat kembali.
Dia ingin segera pulang. Dia ingin seseorang memberitahunya bahwa semua ini hanya merupakan salah satu mimpi buruknya. Dia tak ingin ada nation lain lagi yang mati...
Cklek.
Germany mendongak. Tak diduganya Italy akan secepat ini.
"Italy—"
Bukan. Bukan Italy yang berdiri di depannya. Dari senyuman ala psikopat yang ditunjukkan orang itu, Germany bisa menebak bahwa orang itu adalah pembunuhnya.
"Kau...!" Germany berdiri sambil menatap makhluk di depannya dengan mata penuh kebencian.
Orang itu menaikkan jari telunjuknya ke depan bibir, menyuruh Germany untuk diam. Sementara itu tangan kirinya mengacungkan sebuah handgun ke arah pemuda bermata biru itu. Tiba-tiba saja Germany sadar dirinya tersudut. Dia tak akan bisa kabur dengan jarak segini. Berteriak pun tak ada gunanya. Ketika orang-orang sudah sampai di tempatnya, mungkin sang pembunuh akan berakting seakan-akan dialah yang pertama kali menemukan jasadnya.
Kalau begitu tidak ada pilihan lain... selain bertarung dengannya.
Germany mengambil pistolnya di atas meja dan langsung mengacungkannya ke arah sang pembunuh.
"Hoo... Berniat melawan? Menarik juga." Kata orang itu sambil bersiap-siap menarik pelatuknya.
Tapi Germany bergerak lebih cepat. Dia berhasil menarik pelatuk pistolnya sebelum sang pembunuh sempat melakukan hal yang sama. Tembakannya berhasil mengenai bahu si pembunuh, membuat orang itu terpaksa melepaskan senjatanya sambil mengerang kesakitan.
Kesempatan. Menyadari sang pembunuh sedang lengah, Germany langsung menerjang ke arahnya. Sayang pembunuh berdarah dingin itu berhasil menangkap kakinya dan membanting pemuda Jerman itu ke lantai. Germany jatuh dengan suara berdebam keras, pistolnya terlempar ke bawah tempat tidur.
Germany bisa merasakan rasa nyeri yang berdenyut-denyut di bagian tubuhnya yang membentur lantai berlapis karpet, tapi rasa sakit ini tak sebanding dengan dulu ketika ia tengah berperang.
Germany menendang sang pembunuh ke samping, lalu bergegas berdiri dan menghampiri pintu keluar.
Ctek.
DOR!
Satu tembakan mendarat di punggung Germany, menghentikan langkahnya seketika. Keseimbangannya goyah dan dia perlahan ambruk ke lantai.
"Kau pikir bisa lari semudah itu?" Tanya sang pembunuh yang ternyata berhasil menggapai pistolnya.
Senjatanya telah dipasangi peredam. Suara tembakan yang dikeluarkannya tak akan mungkin terdengar hingga keluar. Habis sudah harapan Germany untuk keluar hidup-hidup dari kamar itu.
DOR!
Satu tembakan lagi mendarat di kaki Germany, membuatnya mengerang kesakitan. Sepertinya sang pembunuh ingin memastikan Germany tak bisa lari jauh darinya. Atau bahkan tak bisa berdiri sama sekali.
DOR!
Lagi-lagi peluru ditembakkan. Kali ini mengenai bagian dada Germany, tapi tak sampai ke jantungnya. Jelas bahwa sang pembunuh ingin bermain-main dulu dengannya. Melihat sifatnya, Germany sudah menduga akhirnya akan begini.
Padahal pintu keluar sudah di depan mata, tapi Germany tak mampu lagi berdiri. Seluruh tubuhnya sakit dan darah mulai meresap ke bajunya, menimbulkan perasaan lengket aneh khas darah. Germany berusaha bangkit, tapi tak bisa. Luka di kakinya langsung terasa menusuk ketika dia menumpukan berat ke kaki kirinya.
Kelelahan dan kesakitan, yang bisa dia lakukan kini hanya berbaring di lantai karpet yang telah ternodai oleh darahnya. Pandangannya mulai memudar dan napasnya terasa sesak. Darah memenuhi ruang pernapasannya, membuatnya membatukkan darah beberapa kali sebelum dia benar-benar tak bisa bergerak.
Yang dilakukan pembunuh berdarah dingin itu hanya duduk di lantai, menikmati pertunjukan di depannya. Begitu menyadari bahwa Germany tak bisa lagi 'menghiburnya', sang pembunuh lantas memutuskan untuk mengakhiri permainannya. Dia berdiri, lalu berjalan mendekati Germany selangkah demi selangkah, seakan mengejeknya yang kini tak berdaya.
"Kupikir kau lebih hebat dari ini... Ternyata kau payah, Germany." Katanya sambil berjongkok dan mengacungkan pistol itu tepat di pelipis sang pemuda yang kini tak lagi berdaya.
"Kata-kata terakhir?" Tanyanya sambil menyunggingkan senyum terakhir yang akan dilihat Germany.
"Hentikan... tindakan bodoh ini. Aku tahu... kau lebih baik dari ini." Kata Germany terengah-engah.
Sang pembunuh hanya mendengus pelan. "Kalau begitu, itu artinya kau tak tahu apa-apa tentangku."
.
DOR!
.
.
.
"Apa maksudmu 'kau ada di sini sejak tadi'?" Terdengar sebuah suara dari bawah tangga.
Russia memiringkan kepalanya, mencoba menebak suara siapa yang baru saja didengarnya. Dia merasa sering mendengar suara itu sebelumnya. Tapi yang pasti itu bukan suara China, tak ada tambahan 'aru' di belakang kalimatnya.
"Seperti yang kubilang, aku sejak awal mengikuti rapat ini, desuyo!" Seru suara lain yang lebih terdengar kekanak-kanakan.
"Tapi ini bukan tempat untukmu, Sealand!" Seru suara pertama sambil mengejar Sealand yang sudah sampai di lantai 2 bagian barat.
"Kata siapa kau boleh mengaturku, jerk-England!" Protes Sealand yang tanpa sadar hampir menabrak Russia.
"Здравствуй , da." Kata Russia sambil tersenyum ke arah Sealand.
"R-Russia..." Kata Sealand sambil mundur selangkah demi selangkah, ketakutan.
"Pembicaraan kita belum selesai, anak muda." Kata England sambil menarik tangan Sealand masuk ke kamarnya.
"Tapi aku tidak mau membicarakan apa-apa, desuyoooo...!" Kata Sealand yang diseret England menjauh dari Russia.
Pintu kamar England tertutup tak lama kemudian, menyembunyikan percakapan antar kakak-beradik itu dari pendengar-pendengar yang tak diharapkan.
"Mereka terlihat sangat akur, da." Kata Russia yang sepertinya tak mengerti situasi yang sebenarnya sambil tersenyum.
.
"Kau mengikutiku ke rapat?" Tanya England to the point.
"Siapa yang mengikutimu? Aku pergi ke sini sendiri, kok, desuyo!" Bantah Sealand.
"Kalau begitu darimana kau tahu kami akan bertemu di sini? Ini rapat rahasia, kau tahu." Kata England sambil menyilangkan lengannya di dada.
"Salahkan si America yang mengumumkan acara ini besar-besaran di internet. Aku hanya mencari tahu." Kata Sealand cuek.
'That bloody git... I gonna kill him for sure...!' Kutuk England dalam hati.
"Kalau bisa, aku ingin mengirimmu pulang sekarang juga... Tapi melihat situasi saat ini, sepertinya tak ada pilihan lain selain membiarkanmu di sini." Kata England pasrah.
"Haha! Memang seharusnya begitu, desuyo!" Seru Sealand senang.
England hanya bisa ber-facepalm ria melihat sifat adiknya itu. Salah apa dia hingga memiliki adik seperti itu...?
"Kau tetaplah di sini. Aku akan kembali ke bawah untuk mengambil sesuatu. Kalau kau berani keluar, aku tak akan mengirimimu apapun hingga tiga bulan ke depan." Ancam England.
"Kejam, desuyo!" Protes Sealand.
"Enam bulan." Kata England sama cueknya.
"R-Roger, desuyo! Aku tak akan pindah seinci pun dari tempat ini, desuyo!" Kata Sealand sambil memberi hormat pada England layaknya seorang awak kapal memberi hormat pada sang kapten kapal.
"Bagus." Kata England sambil menutup pintu kamarnya.
England tersenyum simpul begitu keluar dari kamarnya. Adiknya itu memang gampang sekali diancam. Yah, hal itu memang tak aneh, karena semua kebutuhan hidup Sealand didapat dari England. Mulai dari makanan, pakaian, hingga game dan mainan-mainan lain. Tapi kalau begini terus, bisa-bisa England bangkrut karena Sealand terus menghabiskan uangnya...
...
Italy berjalan memasuki dapur berlantai marmer yang terletak tepat di depan tangga. Dia mungkin tidak bisa membaca atmosfir dengan begitu baik, tapi dia tahu ada sesuatu yang salah dengan Germany. Bukan berarti dia tak pernah melihat Germany bersikap seperti itu sebelumnya, tapi entah sudah berapa puluh tahun berlalu sejak ia terakhir melihatnya seperti itu.
Dia tak suka melihat Germany yang terlihat depresi, karena itu dia tak menolak ketika disuruh mengambilkan air. Bukan berarti dia tak ingin mengambilkan air untuk Germany... Italy akan melakukan apapun yang bisa membuat Germany merasa lebih baik. Dan dia tahu tetap berada di kamar tak akan membuat Germany lebih baik.
Italy berjalan menghampiri lemari yang ada di sisi atas wastafel, lalu mengambil sebuah gelas transparan berukuran sedang yang dia rasa cukup untuk Germany.
Entah mengapa sejak tadi ada sesuatu yang membuat Italy tak tenang. Dia merasa... sesuatu yang buruk akan terjadi pada Germany. Dia terus berusaha mengesampingkan perasaan itu, tapi sekarang Italy malah semakin terganggu dengannya.
Lupakan, Italy... Itu hanya perasaanmu saja. Itulah yang Italy berusaha katakan pada dirinya sendiri sejak beberapa saat yang lalu.
Italy mengisi gelas yang dipegangnya dengan air bersih dari keran. Dia menggerakkan gelas itu perlahan, memutar air di dalamnya dalam diam. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana jika nanti Germany juga mati dibunuh? Pada siapa ia akan bergantung? Apa yang harus dia lakukan tanpa Germany? Apa dia bahkan masih bisa bertahan tanpa Germany di sampingnya?
Tanpa terasa air mata Italy menetes ke dalam gelas berisi air untuk Germany. Dia takut. Dia takut kehilangan Germany. Rasa takut terus menghantuinya sejak kematian Greece. Melihat kakaknya yang juga ketakutan seperti itu membuatnya sadar bahwa ini bukan khayalan. Ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan, dan dia tak bisa lari dari kenyataan.
Italy mengusap air matanya. Tiba-tiba saja dia merasa begitu kecil, begitu lemah. Dia yang tadinya berpikir bahwa nation tak bisa mati, baru saja menyaksikan 2 di antaranya pergi meninggalkan mereka. Dia tak mau mati. Dia takut. Dia benar-benar takut...
Perlu beberapa saat sebelum Italy menyadari teriakan yang dikeluarkan oleh Hong Kong. Suaranya berasal tepat dari belakang Italy, dari lantai 2 bagian timur. Tiba-tiba saja Italy mengerti apa yang telah terjadi.
Gelas yang sejak tadi digenggamnya erat jatuh perlahan ke lantai, menimbulkan bunyi kaca pecah bercampur dengan bunyi cipratan air. Tidak seperti Italy akan mempedulikan hal itu, karena dia tahu air di dalam gelas itu tak akan diperlukan lagi.
Germany.
Perasaannya benar.
.
.
.
~.~
Dan Nazi pun hancur dengan perlahan.
~.~
Itulah yang tertulis di selembar kertas putih yang ditempel di dinding kamar Germany. Sangat menggambarkan kematian Germany yang perlahan dan menyakitkan, tapi setidaknya sang pembunuh 'berbaik hati' mengakhirinya hidupnya lebih cepat.
Hong Kong mengaku hanya mendengar satu suara tembakan dari kamarnya yang terletak persis di sebelah kamar Germany, tapi dia memang mendengar suara pintu kamar Germany terbuka dan tertutup beberapa kali. Pada awalnya dia berpikir dia hanya salah mendengar suara tembakan itu, tapi karena penasaran Hong Kong pun berniat mengecek keadaan.
Tapi ketika dia baru mau mengetuk kamar Germany, dia melihat darah keluar dari celah di bawah pintu. Setelah itu sudah bisa ditebak; Hong Kong membuka pintu, menemukan Germany yang sudah tak bernyawa, lalu mengeluarkan teriakan yang berhasil mengumpulkan semua orang di tempat itu dalam waktu singkat.
Salah satu dari beberapa orang yang pertama sampai ke tempat itu adalah England. Entah mengapa England sepertinya berlari lebih cepat dari orang-orang, atau mungkin itu karena sesuatu yang lain?
"Empat tembakan; di punggung, kaki, dada, dan tepat di pelipis. Sepertinya pembunuhnya ingin bermain-main dulu dengannya sebelum memutuskan untuk..." France berhenti sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Handgun, ya? Kalau begini kita tinggal mencari senjatanya." Kata England sambil bangkit dari posisi berjongkoknya.
"Tidak perlu. Aku sudah menemukan senjatanya." Kata France sambil mengangkat sebuah handgun perak yang dibalut sapu tangan putih.
"Hee? Hebat juga kau, France. Yang perlu kita lakukan sekarang hanya mencari pemiliknya." Kata England sambil memperhatikan handgun yang sepertinya buatan tangan itu.
"Itu milik Iceland." Sebuah suara dari bagian belakang kerumunan orang itu membuat semua orang menoleh ke arah sang pemuda Nordic yang merupakan kakak biologis Iceland.
Norway berjalan memasuki kamar Germany, berusaha untuk tidak mengotori sepatunya dengan darah yang menggenang di lantai. Sepertinya dia sudah terbiasa melihat darah setelah kejadian yang menimpa Iceland.
"Aku yang memberikannya ketika dia ulang tahun. Tak salah lagi, ini pistol Iceland" Katanya sambil meneliti handgun yang kini tak berpeluru lagi itu.
"Dan bagaimana mungkin seseorang yang sudah mati bisa membunuh seseorang yang masih hidup?" Tanya England.
"Orang mati tak mungkin membunuh, England. Pasti pembunuhnya mengambil handgun itu ketika membunuh Iceland." Kata France sambil berbalik. "Haah~ Jalan buntu lagi." Keluh France pasrah.
England memutuskan untuk menyerahkan handgun itu kepada Norway, sebagai tanda... kenang-kenangan. Orang-orang lain pun mulai kembali ke aula, meninggalkan beberapa orang di tempat itu. Termasuk di antaranya Prussia yang terlihat pundung, Austria yang tak bisa berkata apa-apa, Italy yang terus terisak, Romano yang mengawasi dari jauh sambil mengutuk Germany, Spain yang berdiri di sebelah Romano, dan Japan yang sedang berusaha menenangkan Italy.
England berbalik ke arah France yang sedang duduk bersandar pada tempat tidur Germany. Di tangannya terlihat selembar kertas putih yang tadinya tertempel di dinding ruangan itu; kertas kutukan yang menyebabkan semua hal ini terjadi. England berjalan ke arah rivalnya itu dan duduk di sampingnya tanpa menimbulkan banyak suara.
"Walaupun aku kesal padanya, aku tak pernah berharap ini akan terjadi." Kata France tiba-tiba sambil memegangi lehernya yang masih sedikit sakit.
England mendesah pelan. "Tak ada yang mengharapkan satu pun dari ini untuk terjadi, France." Katanya sambil memandang ke bawah.
Tiba-tiba mata emerald England menangkap bayangan Hong Kong yang berdiri di sudut ruangan, mengawasi semua yang terjadi dalam diam. Merasa sedikit tak nyaman, England berdiri dan berjalan menghampiri mantan daerah jajahannya tersebut.
"Kau... kau yang pertama menemukan Germany, kan?" Tanya England.
Hong Kong mendongak begitu mendengar pertanyaan England. "Ya. Seperti, kau ada masalah dengan hal itu?" Tanyanya.
"... dan kau yang mengetahui lokasi Iceland berada." Lanjut England sambil menatap sepasang mata coklat itu lekat-lekat.
Hong Kong tiba-tiba mengerti maksud England menanyainya begitu.
"Bukan aku pelakunya, seperti, kalau itu maksudmu." Katanya sambil menatap lurus ke arah England.
England mendorong Hong Kong merapat ke dinding, mengabaikan France yang sejak tadi memperhatikannya.
"Kau menemukan 2 dari 3 nation yang MATI di tempat terkutuk ini, kalau aku tahu kau terlibat dalam cara apapun dengan hal ini dan kau tak memberitahuku, kau akan habis, worthless git." Desis England.
"Seperti, untuk apa aku memberitahumu? Tapi kusarankan jangan buang-buang waktu .mengawasiku. Ada orang-orang lain yang lebih patut kau curigai, seperti, Russia, atau America. Atau mungkin Belarus. Selain itu, seperti, siapa yang tahu kalau bukan kau yang membunuh semua orang-orang ini?" Tanya Hong Kong menyerang balik.
England hanya bisa menggertakkan gigi mendengar kata-kata Hong Kong. Insolent brat ini benar-benar menghilangkan kesabarannya. Ingin rasanya dia menghabisi anak itu saat ini juga. Seandainya tak ada France...
Drap, drap, drap.
Suara langkah seseorang berjalan—tidak, berlari mendekati ruangan itu terdengar menggema di koridor.
"England!" Seru America berhenti di ambang pintu.
England menoleh ke arah America yang terlihat seperti habis jogging pagi 10 kilometer. "Apa maumu, bloody git? Aku sedang sibuk." Tanya England kesal.
"Ini... aku... ada... di atas... meja..." Suara America terputus-putus.
England memberikan tatapan terakhir pada Hong Kong sebelum berjalan menghampiri America. France mengikutinya dari belakang.
"Tenanglah, America. Ada masalah apa?" Tanya France.
America melihat ke arah England dengan tatapan khawatir yang sudah lama tak dilihat . Dia merasa ada sesuatu yang salah...
"Sealand... "
.
"... sepertinya dia... mati."
.
To be continued...
A/N: Hiyaaa! Maaf kalo berantakan! _ Ruvi mendadak kena Writer's Block. Writer's Block pertama dalam hidup Ruvi! Yah, itu bukan hal untuk dirayakan, tapi... begitulah. Mohon dimaklumi... Ruvi janji bakal memperbaiki hal ini di chapter selanjutnya.
Entah karena Ruvi terlalu banyak mengonsumsi cerita horor atau terlalu banyak mendengarkan lagu horor untuk mencari inspirasi, pokoknya Ruvi mendadak kena WB. Gomen-nasai... Tapi Ruvi masih akan berusaha melanjutkan fic ini kok, setidaknya sampai selesai! (?)
Btw buat yang nggak tau insolent, itu tuh semacam impudent atau... ngeyel gitu deh intinya XD
Oya, buat yang request adegan pembunuhannya ditunjukkin, maksud Ruvi nggak ditunjukkin itu supaya readers bisa membayangkan sendiri kira-kira adegannya gimana. Jadi Ruvi memberikan kebebasan berimajinasi gitu. Tapi kalau kalian emang lebih suka ditunjukkin, Ruvi perlihatkan deh di chapter-chapter depan.
Untuk yang request bunuh si ini atau jangan bunuh si itu, atau bunuh si ini belakangan aja, sepertinya nggak bisa Ruvi kabulin untuk sementara waktu. Soalnya orang-orang yang dibunuh di sini bakal mempengaruhi storyline ke depannya. Singkat cerita, sang pembunuh nggak asal pilih korban. Ada maksud dan tujuan tertentu... Gitu deh kira-kira.
Review berisi kritik, saran, request, pertanyaan, atau tebakan pembunuhnya masih diterima dengan senang hati ^^
Saa, review please?
Balesan Anonymous Review:
Yazawa Kana:
Investigasi? Trus gimana hasilnya? #PLAK
XD Haduh, Ruvi selalu ketawa tiap kali baca bagian 'tapi semua berubah saat negara api menyerang' Duuh~ Ruvi sakit perut XD
Hee? Liechtenstein masih dicurigai nih? Sabar ya nak *tepok2 pundak Liech *ditembak Swiss.
Okee~ Ruvi tunggu review selanjutnya. Dan semua review Ruvi anggap berguna kok, jadi tenang aja ^^
nyonyon:
Terima kasih banyak :D
Daftar karakter ada di atas ^^
Untuk sementara pelakunya masih satu, dan Ruvi ingin menjaga supaya jumlah pelakunya tidak bertambah. Satu aja udah repot, apalagi dua? =_="
Ruvi menyelipkan hint-hint tentang pelakunya di mana-mana, sesuka hati Ruvi. Sebisa mungkin Ruvi ingin membuka kedok pelakunya secara perlahan-lahan.
Bener, kok. Soalnya Ruvi menilai dua chara itu yang paling terkenal. Nanti kalo Ruvi tag Canada/Latvia, siapa yang mau baca? O_O
Sama-sama~ Terima kasih juga sudah mau me-review :3
Ruvi ngga bakal comment soal Germancest (/_\) [udah keburu mati bahkan sebelum Ruvi baca review]
saya males login:
Ahh, klise itu apa ya? (maklum nilai bahasa Indo-nya anjlok banget)
Iya, fic ini pun sebenarnya ada karena Ruvi nggak puas, "Kenapa yang ngebunuh mereka di HetaOni harus alien? Kan lebih seru kalo salah satu dari mereka sendiri pelakunya." Nah, dari pikiran macam itulah fic ini bisa tiba-tiba lahir.
Hmm... kalo soal alasan mereka bisa mati, jujur, Ruvi tidak pernah memikirkannya sungguh2 sebelumnya. Tapi berkat login-san, Ruvi jadi berpikir keras dan akhirnya mulai mencari jawaban dari pertanyaan itu yang akhirnya membuat fic ini menjadi lebih logis dan masuk akal. Terima kasih banyak ya :D Alasannya nanti akan Ruvi sertakan di Chapter depan.
Daftar nation sudah Ruvi sertakan di atas.
Terima kasih~
Soal deskrip, mulai akan Ruvi tambahkan di Chapter selanjutnya atas permintaan login-san. Ruvi akan membatasi bagian gore-nya dan mungkin hanya akan menambah violence atau gore sedikiiiit saja. Sebisa mungkin Ruvi juga ingin fic ini tetap masuk kategori T dan bukan M.
Oke, bagian 'saya tau vilanya gede, ada dapurnya n bisa dipake masak dll' ini tidak pernah gagal membuat Ruvi tertawa XD
Jujur saja, login-san adalah orang pertama yang mempermasalahkan itu, dan Ruvi berjanji mulai Chapter depan deskripsi-nya akan diperbanyak dan diperjelas. Untuk sementara waktu, Ruvi sudah menyediakan denah (sementara) vila tersebut di account deviantart Ruvi yang alamatnya bisa dilihat di profile Ruvi. Semoga bisa cukup memperjelas selagi Ruvi menambahkan detail-detail lainnya.
Untuk basement hingga saat ini pun Ruvi juga tidak yakin isinya apa XD Soal bahan makanan... Nanti Ruvi perjelas di Chapter-chapter depan. WC untuk sementara ini duduk semua, kecuali jika ada request yang ingin menambahkan WC jongkok di vila tersebut #whatthe?
Karakterisasi... Oke, Ruvi akui itu kebalik XP Soalnya ketika itu Ruvi belum meneliti terlalu jauh soal Nordics, tapi menurut Ruvi perhatian Denmark terhadap Iceland juga tidak salah kok. Ketika Ice mengaku bahwa dia adik Norway, Denmark-lah yang ia beri kertas, bukan Norway. Dan Denmark ketika itu bilang bahwa kalau Norway terbukti sebagai kakak Iceland, maka dia juga terhitung sebagai kakak Iceland, menunjukkan hint-hint DenmarkxIce.
Lagipula Denmark adalah tipe orang yang jujur pada dirinya sendiri dan tak menyembunyikan perasaannya pada orang lain. Tentu dia shock melihat kematian Iceland, dan begitulah reaksinya menurut Ruvi. Sedangkan Norway adalah tipe orang yang stoic, atau lebih tepatnya; tsundere. Dia bersikap sok tegar padahal dalamnya juga hancur, seperti yang Ruvi perlihatkan ^di atas^.
Hmhm... Untuk masalah alasan mereka bisa tersasar di tengah gunung begitu akan Ruvi jelaskan di Chapter depan.
Satu-satunya hal yang Ruvi pikir akan dilakukan Poland dan Denmark di tempat seperti itu adalah bermain petak-umpet. Menurut Ruvi Denmark adalah tipe orang yang kekanak-kanakan dan enerjik, dia tak suka berdiam diri di suatu tempat, apalagi dengan suasana serba curiga-satu-sama-lain begitu. Tapi harus Ruvi akui bahwa sepertinya Ruvi memasukkan permainan petak-umpet tersebut untuk kepuasan tersendiri, walau ternyata hasilnya tak seburuk yang Ruvi duga =)
*cengir-cengir sendiri ngeliat login-san fangirling Spain* Hati-hati, loh... Jangan termakan hasutannya. Siapa tahu dibalik wajah ganteng nan imut itu tersembunyi hasrat balas dendam yang luar biasa... OwO
Ahh, tidak apa-apa~ Dulu Ruvi sempat mengalami yang lebih buruk dari ini kok #curhat. Ruvi tahu niat baik login-san, dan Ruvi juga berharap berkat kritik dan saran dari login-san, fic ini bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Ruvi mungkin awalnya (sedikit) tersinggung karena tak pernah dikritik seperti ini, tapi lama-kelamaan Ruvi sadar bahwa review login-san juga bisa digunakan sebagai feedback agar Ruvi bisa lebih maju. Dampaknya, Ruvi sekarang bisa membuat cerita ini jadi lebih kompleks, lebih natural, (mungkin) lebih menarik, dan (semoga saja) jadi lebih baik dari sebelumnya.
Terima kasih atas kritik, saran, dan review-nya. Ruvi akan selalu menunggu review selanjutnya dari login-san ^^ Entah kenapa Ruvi merasa bahwa kalo pelakunya udah ketauan, login-san bakal membuka identitas asli login-san. Jadi, sambil menunggu hal itu terjadi... Ruvi akan berjuang! \(^o^)/
zhao:
Eeh? Byakuran siapa? O.O Kenapa tiba-tiba bisa nyelip di fic Ruvi?
Hyaah, ada penyusup! XD
Shioda Ayane:
Kalau begitu sampaikan terima kasih Ruvi padanya ^^ dan terima kasih juga buat Ayane-chan yang udah mau review
Nanti akan Ruvi jelaskan soal itu di Chapter depan. Sabar aja ya :)
Untuk sementara sih statusnya masih non-AU.
Ah, nggak papa kok. Kalo mau curhat akan Ruvi dengarkan dengan senang hati. Tapi jangan di review, kesannya gimanaaa gitu
o.o E-Eto... terima kasih banyak!
Yaa~
