Chapter 3

NARUTO MILIK MASHASI KSIMOTO

SEMUA LAGU DAN TOKOH MILIK PENGARANG ASLI,BILA ADA KESALAHAN MOHON MAAF

Ide mungkin pasaran dan alur pasti cepat.

Pagi bersama dengan terbitnya sangsurnya telah datang namun hangatnya sinar matahari pagi terhalang dengan,kumpulan awan abu-abu menghiasi langit pagi ini sedangkan dibawah sebuah rumah masih setia seperti saat pertama Tidur dua insan manusia itu mulai menunjukan tanda akan terbangun.

"hangat"

Desah sang perempuan namun sedikit demisedikit dia mulai sadar saat merasa ada sesuatu yang bergerak seperti, rasa yang mulai akrab seperti rasa saat diremas mata indahnya terbuka dia melihat kebawah dan benarsaja sepasang tangan tengah memegang dadanya dia melihat siapa pemilik tangan dan.

"Kyaa"

Dia lalu menghentakan tangan yang semalaman memegang dadanya,sang pemilik tangan otomatis terkejut dia melihat sekeliling ruangan dan pada ahkirnya dia melihat Hinata yang menutupi dadanya dengan kedua tangan mungilnya.

"ada apa?"

Tanya Naruto pada perempuan ini bagai mana tidak dia ditatap dengan tatapan yang sulit diartikan mulai dari malu,bingung,kesal dan entah masih ada banyak,mencoba memahami malah kini dia berubah garang.

"dasar Baka,ero apa kau mengambil kesempatan saat aku tidur" tuduhnya.

Dan kini aku hanya bengong bukanya dia yang mulai kenapa aku yang disalahkan,aku menghela nafas tanpa sengaja aku melihat jam yang sudah menunjukan jam 06.00 aku lalu bangkit dari tempat tidur sedikit meregangkan otot tubuh,tak lupa tangan yang kini terasa teramat sangat pegal.

"lebihbaik,sekarang kau mandi lihat sudah jam berapa aku pulang dulu nanti kita pakai mobil milikku saja"

"kenapa kau tidak membangunkanku lebih pagi"

Dari pintu aku memandang Hinata lucu itu yang ada dipikiranku,sedikit terkekeh saat melihat dua bukit miliknya bergoyang karena gerak tubuhnya kurasa cukup aku benar-benar pergi kerumahku aku sengaja meninggalkan Mobilku diteras Hinata taklupa sambil kunyalakan mesinya,aku tak terlalu memikirkanya karena di area tinggalku cukup aman.

"sial,kenapa lamasekali"

Aku memang tipikal orang yang tidak bisa menunggu terlalu lama, contohnya sekarang kulirik jam sudah 15 menit mungkin wanita butuh waktu sedikit lebih lama dibanding pria mungkin mendengar lagu bisa mengusur rasa bosan menunggu ONE OK ROCK - Cry out lagu ini menjadi temanku dalam menunggu prempuan berambut Indigo itu.

"atauh"ringisku sebab cubitan di pipi,kulihat pelakunya yaitu orang memakai kemejan dan jas kantoran.

"permintaan maaf yang bagus Hinata" kataku sambil meliriknya.

"makanya,kau jangan terlarut dalam lagu"

Aku menjalankan mobil menjauh dari rumah Hinata menuju tempat kerja,mungkin dia tidak sadar aku tambah kecepatan atau dia terlarut dalam alunan lagu dari perangkat audio mobil ini Kalafina Believe itu lagu yang diputar.

"Naruto-kun"katanya.

"Hm"

"kau menaruh gelas dengan air sebanyak itu,apa kau tak takut tumpah?"

"kalo tumpah,tinggal dibersihkan"kataku tidak nyambung dan dia kesal.

Mungkin bila dari luar Hinata akan terperangah melihat mobil bukan,cara mengemudi Naruto bagaimana tidak ia melewati tikungan jalan gunung dengan mulus jangan lupa kecepatan tinggi tanpa ada tanda rem walaupun di bawah 100km/jam tapi masih bahaya kalo tidak ahli kini mereka masuk jalan lurus terpanjang menuju kota,Disini dia mulai merasa laju mobil yang dia tumpangi melirik sepedometer yang menunjukan angka 135 km/jam dan terus naik.

"Naruto-kun,apa ini tidak terlalu cepat?"kuatir sedikit terdengar dari nada bicaranya.

"maaf terlalu cepat,aku turunkan kecepatanya"

Kini dia mengemudi Cuma 97 Km/jam walaupun begitu,kuping terasa panas karena ocehan Hinata tentang bahaya mengemudi seperti itu ocehanya berlanjut mungkin dia tidak sadar mereka sudah berhenti di parkiran kantor,ide jahil hinggab di kepala kuning itu dia lalu melumat Hinata supaya diam.

"kita sudah sampai,kau bisa berhenti mengoceh"

"iya"

Naruto keluar duluan sedangkan Hinata keluar dengan muka memerah seperti udang goreng,dia menggandeng Hinata keluar dari parkiran dipintu masuk seolah Naruto berubah aura kepemimpinan dia keluarkan membuat orang yang berada di sekitarnya segan namun bukan intimiidasi seolah ini lebih hangat namun masih tegas berwibawa.

"selamat pagi Naruto-sama".

"selamat pagi Naruto-sama".

Seperti itulah sambutan yang dia terima setiap harinya Sambutan yang tulus dari bawahanya bukan karena semenamena dia bos mereka, sebab pola pemimpinan Naruto yang menganggab mereka semua teman tapi walau begitu masih jelas dimana bosnya.

"Hinata-chan".

"cie yang bareng Bos" kata mereka.

Panggil teman Hinata siapa lagi kalo bukan duo berisik Ino dan Sakura,mereka adalah teman Hinata sedari Sma sampai sekarang bisa dibilang sudah seperti saudara saking akrabnya mereka setelah obrolan pagi mereka kini sudah berkutat dengan dokumen dimeja mereka masing-masing,perusahaan milik Naruto tidak mempekerjakan banyak karyawan mungkin satu gedung ini ada seratus karyawam dan 10 keamanan yang di pekerjakan,bukan karena perusahaan ini kecil malah sebaliknya sejah dari dulu sudah terkenal perusahaan dengan seleksi dan kualitas karyawan yang ketat.

"hey,Hinata kau mau ikut kekantin" tawar temari.

"tidak,terimakasih tawaranmu temari"

Namun kini aku terganggu lagi karena suara teriakan girang dan sayangnya aku kenal pasti siapa yang berteriak, bos mereka kini seperti orang gila teriak tak jelas namun raut bahagia terpasang diwajah tampanya aku juga ikut senang melihatnya,namun apa yang membuatnya seperti itu masih mengganjal.

"SEMUA DENGAR" teriaknya,kami menghentikan kegiatan sejenak.

"kalian tau sendiri kita mengerjakan 4 megaproyek sekaligus dan" suasana sedikit tegang.

"semua beres,ditambah kita dapat mega bonus setara setengah dari pendapatan tahun lalu"

Kami semua bersorak gembira bagai mana tidak itu keuntungan yang sangat besar,sebesar kalo di ibaratkan bisa cukup untuk membeli pulau pribadi sorakan kami berhenti karena bos kita nampak akan melanjutkan.

"sebagai perayaan,aku punya pilihan Liburan , "

Setelah diskusi singkat kami semua memilih gunung dan disepakati akan berkemah disana,kami melanjutkan kegiatan kami yang tertunda entah kenapa kantor ini terasa lebih membara dari hari biasa aku tak memikirkanya terlalu keras mungkin semua mengerjakan kerja mereka agar saat kembali dari libur tidak terlalu menumpuk.

"hey"

Aku terkejut saat merasakan tepukan pada pundak kutoleh kepalaku dan kutemui mata sebiru laut ini memandangku lembut,aku balas dengan senyum tulusku yah Naruto orang yang mengganggu kerjaku.

"ada apa?"

"ayo kuajak keluar,ini sudah waktunya makan" ucabnya sambil melihat jam.

"tapi aku belum selesai" balasku,dia mendekat dan membiisikan sesuatu.

"terima, Atau kubuat kau izin karena tidak bisa berjalan normal dalam beberapa hari".

Sontak aku meinyakan bukan tanpa sebab melihat seringai yang membuat wajahnya seperti Rubah peliharaanya itu pasti perkataanya akan dia lakukan,dia lalu menarik diriku keluar tanpa mereka sadari sudah menjadi bisik-bisik di antara rekan kerjanya seperti entah biarkan menjadi topik mereka,tangan mungil ini terasa lembut dan hangat terasa tercipta melengkapi dari tanganku pikir Naruto.

"kita akan kemana?"

"makan di tempat itu".

Naruto menunjuk resto kecil di samping kantor tempat yang sederhana Cuma bangunan cukub lebar bertulis Ichiraku,Hinata lalu ditarik lagi menuju tempat itu sampai didalam mereka disambut oleh seorang wanita.

"kak Ayame,tolong ramen pedas jumbo satu"

"aku miso tolong" kata Hinata.

"hihi,pesanan akan datang untuk pasangan pengantin baru"

Seenak jidat dia pergi tidak melihat Naruto dan Hinata sudah seperti tomat,tanpa disengaja mereka saling lirik dan kembali tersipu sang koki sekaligus pemilik tempat makan itu tersenyum pria tua yang bernama teuchi itu senang pelanggan tetapnya bisa kembali tersenyum.

"pesanan telang datang"

"teriakasih"

Melirik jam ternyata sebentarlagi sedah masuk jam kerja lagi,setelah membayar mereka lalu pergi sedangkan Ayame membersihkan sisa mangkuk mereka dia ditepuk sang ayah saat menoleh dia melihat ayahnya tersenyum.

"ada apa,ada yang salah?"

"tidak,aku senang bocah itu telah Move on"

"BAKA,kenapa aku tidak tanya siapa nama wanita itu" kata Ayame,sang ayah tertawa menghina.

"sudah dari dulu kau baka" katanya sambil berlalu ke dalam.

Waktu telah berlalu kini dikantor tinggal Hinata dan Naruto tentu diruang yang beda tengah berkutat dengan tumpukan kertas kerja,prempuan itu lalu meregangkan tubuhnya dan dia merasa ada tangan yang melingkar di bawah lingkar dadanya.

"jangan Nakal Naru"kata Hinata sambil mencubit-cubit pelan lengan Naruto.

"siapa yang nakal"Hinata lalu mengenadah memandang saphir Naruto.

"kau,apa semalam kau tak puas hah?.Ada apa?" kata Hinata.

"tidak,ayo kita pulang "

Dengan anggukan mereka berjalan mengarah keparkiran dengan bergandeng tangan,tanpa Hinata ketahui dalam diri orang yang menggandengnya tengah menghapus rasa pada seorang bekas yang pernah bersarang dihatinya,seorang yang nilainya sama rendahnya atau bahkan lebih rendah dari seorang pelacur.

"Naruto-kun,ada apa kenapa melamun?".

"ah,tidak silahkan masuk".

"baik,awas kau jangan mengemudi seperti pagi tadi,atau!"

"apa?"

"jangan harab,kau bisa 'menyentuhku'!"

"baik,tuan putri"

Tak banyak yang terjaadi dalam mobil mengemudi seperti ini sungguh untuk ukuran ras sejenis Naruto teramat SANGAT bosan dan buat ngantuk,bagaimana tidak ia biasa mengemudi minimal 90 km/jam kini dia mengemudi Cuma mak 60 km/jam.

"ahkaddhbufw"guman Naruto tak jelas saat dia memarkirkan mobilnya kedalam garasi rumahnya

"ada apa?"

"tidak"

"ayolah,kau kenapa"kata Hinata.

"aku tau kau kesal karena tidak bisa ngebutkan".

"nah,you know"

Hinata Cuma cekikikan tak dia sangka ternyata,Seorang Uzumaki Naruto sang bos bisa seperti seorang anak yang merajuk tidak dibelikan mainan dia lalu mendekat dan mencium sekilas bibir Naruto.

"sudahlah,jangan seperti anak kecil aku pulang dulu aku buatkan kau makan malam nanti"

"terimakasih,sampai nanti malam".

Memandang kepergian Hinata senyum di bibirku sedikit turun sumbernya karena ingatan pait 3 tahun yang lalu,Ingatan pada seorang gadis berambut jeruk yang sempat masuk dalam hidupku seorang yang membuatku sakit setengah mati bila melihatnya.

"kenapa aku ingat pada pelacur itu,ah sudahlah sampah itu tak penting"

Malam telah tiba sesuai dengan ucapan Hinata soretadi dia datang kerumah Naruto dan kini ia sudah berkutat didalam dapur yang lumayan ini,memotong beberapa sayur senyum terukir dalam bibirnya saat masakanya sebentarlagi matang senyum kembali terukir saat dia merasa kehangatan ini.

"wah,nampaknya enak tidak kau kasih racunkan" goda naruto.

"wah,aku lupa bisa kau belikan untuku satu liter racun tikus" balas Hinata.

"haha,boleh juga namun rasakan ini"

Naruto langsung meremas pelan dada hinata sangkan sang korban hanya mendesah,dia lalu memasukan tanganya kedalam kaus lalu melepas kait bra dan menyingkirkan benda tersebut dia bebas menjelajah dua bukit itu,Hinata yang diperlakukan seperti itu mencoba tetap fokus pada masakan yang dia buat saat merasakan cubitan di putingnya seolah tenaga untuk berdiri hilang kala itu.

"jangan nakal,aku sedang memasak tau".

"salahmu sendiri mau meracunku,rasakan Hukumanmu".

"alasanmu akutau,sebenarnya kau kya"

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya dua putingnya di cubitlagi oleh Naruto,ia tersenyum mengerikan menurut Hinata namun remasan ganas Naruto berhenti diganti menjadi belaian lembut pada dada sintal Hinata.

"baik,aku tunggu diluar".

"Naruto no hantai" teriak Hinata.

Terdengar tawa dari Naruto Hinata lalu mengambil brayang tergeletak dilantai dan memakainya,tak lama masakan telah matang dia menyajikanya di meja makan mengingat kejadian beberapa menit taadi membuat wajahnya memerah apa lagi ditambah sang pelaku tengah duduk didepanya sambil makan dengan tenang,menyebalkan sekali namun sebuah rasa penasaran hinggab di kepalanya ini sudah lama memang tapi dia baru ingat sekarang.

"Naru,boleh aku bertanya?"

"silahkan"

"aku dulu dengar kabar kalo kau punya kekasih,apa tidak apa-apa kalau kita terus melkukan hal Itu"

Naruto menghentian sendokan dan kegiatn makanya sorot mata biru itu berubah,aku yakin sorot itu adalah sorot dari rasa sakit apa aku bertanya hal yang salah saat aku akan mengucap kata maaf dia sudah menyela omongnku.

"aku tidak punya,kabar yang kau dengar itu benar dulu aku memang punya namun kandas saat aku tau dia lebih rendah dari pelacur" kata Naruto.

"maksutmu?" aku mulai tertarik.

"saat itu aku buta dengan pesonanya,namun saat itu penilaianku salah hari-hari biasa dia bersikap lemah lembut,bisa di simpulkan perempuan baik-baik sampai suatu saat mungkin tuhan menyadarkanku dengan mengirim rasa curiga,berawal saat aku melihat sedikit tanda merah di lehernya aku lalu menyelidikinya karena tanda itu bukan satu kali kutemukan namun berkali kali".

"lalu apa yang terjadi?".

"yang kutemui aadalah tamparan realitas,dia sedang bersetubuh dengan mungkin 10 orang ada bukan di perkosa dia yang meminta mereka,bedanya kupu-kupu malam adalah mereka menjual tubuhnya untuk mencari sesuab nasi untuk menyambung hidup dia kalo ekonomi aku ragu karena ortunya adalah orang tergolng sukses". Kata Naruto sambil memandang langitlangit rumahnya.

"maaf membuat dirimu mengingat luka itu" kata Hinata menyesal.

"tidak apa,itu membuatku lebih tegas dan tegar jangan kuatir rasa untuknya sudah jauh aku buang ,nah sebagai balasan ayo kuajak kesesuatu tempat lagi mumpung langit cerah"

"baik"

Hinata kenal dengan tempat ini ini danau dimana ia dibawa kemari aku lalu memandang Naruto dia tersenyum padaku,tempat ini seperti dalam dunia mimpi semakin indah kala malam hari dimana air memantulkan cahaya bintang dan bulan serta ratusan kunang-kunang yang terbang dengan cahaya mereka sungguh pesona yang sulit untuk ditolak.

"tempat ini semakin indah Naruto-kun".

"syukurlah kau suka,sejujurnya aku baru kesini saat malam hari hihi"

Hinata lalu menarik lengan kanan Naruto dia membimbingnya menuju ujung dermaga danau itu untuk duduk dia melingkarkan tangan itu kepinggang rampingnya,Naruto yang melihat ini hanya tersenyum tangan yang bebas mulai membelai surai indigo Hinata membelai setiab lukuk wajah ayu hinata.