Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto

Naruto selalu milik Masashi Kishimoto dan semua karakter yang ada dalam cerita juga murni milik Masashi Kishimoto, dan cerita ini hanyalah fiksi belaka buatan saya tanpa maksud komersial atau apapun itu

I Hate Monday! ©DarkBlueWinter

Rating : T

Genre : Mysteri; Horror

Warning : OOC ; Jalan cerita gak nyambung ; Miss-typo ; d.l.l

.

.

RnR please?

.

.

I Hate Monday!

Chapter 3: Is this the end?

"Apa sih yang sebenarnya terjadi? Jika semua ini kutukan karena membenci hari senin, maka aku akan belajar mencintai hari ini. Aku ingin pulang! Aku tidak biasa begini, aku ingin pulang! Hiks aku—"

Benar saja, air mataku menerobos keluar mengartikan gemetar yang kurasa. Terjebak dalam keadaan seperti ini adalah yang pertama bagiku. Anak yang begitu dimanja oleh ayahnya sepertiku jelas merasakan ketakutan yang luar biasa.

"Tidak perlu menangis, jika matahari terbit esok aku janji akan mencari jalan keluar dari gedung brengsek ini."

Demi apa Uchiha Sasuke yang terlanjur menancapkan kesan buruk di kepalaku tiba-tiba berkata yang sedikit mengurangi kekhawatiranku. Pria ini benar-benar penuh misteri.

Aku mengusap air mataku dan mencoba menatapnya.

"Aku tidak akan macam-macam" katanya seperti menebak isi kepalaku.

"T-tapi kau tidak akan berbuat mesum kepadaku bukan?"

Bisa kulihat dia mengernyitkan alisnya. Memang, pertanyaanku barusan tidak seharusnya kulontarkan tapi menurutku wajar saja. Bagaimana pun aku harus memastikan aku akan baik-baik saja.

"Kau pikir aku tertarik dengan gadis cengeng sepertimu?"

"Cih, siapa yang kau bilang cengeng hah?!"

"Tentu saja kau, kecuali ada satu orang lagi di ruangan ini."

"Ck! Terserahlah awas saja jika kau macam-macam, tuan Uchiha absurd!"

"Sudahlah, cepat tidur sana!" dia melempar tas sekolahnya ke arahku, "Aku capek mendengar kau berceloteh."

Sekali lagi bibirku mengerucut karena perkataannya. Ingin kubalas tapi lelah mendominasiku. Aku mengambil tasnya dan menjadikan alas untuk kepalaku bersandar. Perlahan, kupejamkan mataku.

Jujur, aku tidak bisa menikmati tidurku. Ada gelisah yang terus berkecamuk di kepala juga di hati. Sesekali aku terbangun, terduduk, bersandar, kemudian tidur lagi.

Gruu~ Gruu~

Oh sial! Itu bunyi perutku. 'Sekarang bagaimana bisa aku tidur dalam keadaan lapar? Cobaan apa lagi ini?!' Aku menggerutu dalam hati.

Aku berdiri tegap, mengambil ancang-ancang untuk memutar gagang pintu. Persetan dengan si bungsu Uchiha. Persetan dengan hantu sekolah ini. Aku lapar dan aku mengantuk. Aku ingin pulang, hanya itu yang kupikirkan saat ini.

"Hei, hei, jangan coba-coba keluar!" perintah Sasuke namun tak kugubris.

Dia bersih keras menghalangiku tapi entah angin apa sampai aku tega mendorongnya menjauhiku. Cepat-cepat aku membuka pintu lalu lari menyusuri hitamnya koridor. Tidak kupedulikan keadaan Uchiha setelah kudorong karena menghalangiku tadi.

Sekolah benar-benar sunyi senyap sampai aku melihat kilau cahaya dari arah lapangan. Aku berjalan pelan mendekati sumber cahaya.

"Astagaaa!" buru-buru aku menutup mulutku yang terlanjur menganga.

Sekujur tubuhku gemetar menyaksikan pemandangan di bawah lampu sorot yang notabene adalah cahaya yang kulihat barusan. Mataku terbelalak sementara tangan kiriku mati-matian meremas perutku, maksud agar isinya tidak keluar karena rasa mual tidak tertahankan.

Aku mengutuk mataku yang tidak mampu berkedip menyaksikan tragedi di hadapanku. Melihat betapa haus darahnya teman-temanku saling membunuh, saling mencongkel bagian tubuh masing-masing. Usus bertebaran, ginjal, hati, bola mata dan organ tubuh yang tidak pada tempatnya memenuhi lapangan Konoha Senior High School. Teriakan kebengisian mereka membuatku tak lagi bisa menopang tubuhku sendiri. Aku jatuh tersungkur.

"A-apa yang sebenarnya terjadi sih?!" aku terisak sambil menjambak rambutku frustasi.

Reka ulang cara teman-temanku saling membunuh tak mau hilang dari kepalaku. Ekspresi mereka membuatku yakin bahwa mereka tak sepenuhnya sadar. Otakku tak henti-hentinya bertanya siapa dalang di balik semua ini. Siapa yang telah mengambil alih sekolah dan menjadikannya tempat mencetak pembunuh keji dari murid tidak berdosa.

Aku sadar tidak bisa keluar dari tempat ini. Layaknya puzzle, aku harus menyelesaikannya agar bisa keluar. Aku menelan ludah berkali-kali, menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan.

"Aku harus kembali ke gudang. Aku harus mencari Sasuke!"

Aku merangkak menyusuri koridor yang kulewati tadi. Sebisa mungkin tak kuhasilkan suara dan tak menampakkan diri. Satu kesalahan saja dan aku akan mati ditebas kawan sendiri.

Kreekk

Tiba-tiba lampu koridor menyala. Aku yang semula tertunduk refleks menengadah. Kulihat sahabatku, Haruno Sakura berdiri dan tersenyum ke arahku.

"Hai, Ino-chan, apa kabar?" sapanya.

Cepat-cepat aku berdiri dan memeluknya. Di belakangnya ada Hinata, Tenten, Temari, dan Matsuri. Mereka semua tersenyum ke arahku.

Aku membalas senyum mereka.

"Ino-chan, kau harus ikut dengan kami!" kata Hinata.

Aku jelas terheran-heran, "Kemana?" tanyaku penasaran.

"Ke tempat kau akan menemukan impianmu." jawab mereka kompak.

"I-impan?"

Mereka mengangguk, lagi-lagi bersamaan. Detik berikutnya mereka maju bersamaan. Aku mundur satu langkah. Ekor mataku menangkap jarum suntik yang dipegang Sakura. Ada cairan aneh berwarna merah di dalamnya.

'Ada yang tidak beres dengan mereka' batinku.

"Ada apa Ino-chan?" Tenten bersuara.

"T-tidak apa-apa" bantahku.

Mereka terus mendekat ke arahku. Lama-kelamaan wajah mereka menampakkan senyum sinis. Aku berbalik bersiap-siap untuk lari. Tapi yang kulihat sekumpulan murid dengan senjata di tangan mereka menutup jalanku untuk kabur. Sial! Aku terkepung. Keringat dingin mengucur deras tatkala jarakku dari mereka hanya terhitung sentimeter. Aku panik pastinya. Temanku sendiri ingin membunuhku? Yang benar saja!

"Inooo!" Teriak Sakura siap menancapkan suntiknya di kepalaku.

"Kyaaa—" Teriakku, pasrah dengan nasibku.

'Inikah akhir bagiku?' air mataku menetes, 'Otou-san, gomenne~"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N: Akhirnya setelah sekian lama bisa update juga chapter 3 nya hehehe. Saya mohon maaf atas semua typo-typo yang mungkin masih banyak. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Happy reading minna!