"Hidup hanya sekali. Jalani kehidupan dan matilah dengan jalan kehidupan yang kau inginkan. Tapi apapun jalan yangg kau pilih, jangan lupa untuk melindungi orang yang berharga dalam hidupmu."

Itulah pesan terakhir Minato sebelum keberangkatan Naruto, dan yang selalu terngiang di telinga dan benak Naruto selama perjalanannya.

-.

Sesosok pemuda berambut panjang dengan mata putihnya yang terus menatap tajam pada setiap orang yang ia lewati dan melewatinya.

Entah apa yang sedang ia cari di tengah kerumunan manusia yang memadati tempat itu. Namun pencariannya tidaklah sia-sia.

Mata pemuda berambut panjang dengan jaket putihnya itu berubah menjadi hangat dan seulas senyum terpancar dari bibir sexynya.

Hentakan kakinya terhenti sekejap hanya untuk melanjutkannya lagi dengan pelan.

Senyumannya semakin lebar seiring dengan alunan langkah kakinya yang kuat namun seolah tanpa beban itu.

Matanya tertuju pada sesosok lelaki sebayanya.

Lelaki itu berambut pirang yang sangat mencolok dan membawa koper besar yang terlihat tidak terlalu ringan.

"Yo… Neji, what's up," sapa lelaki pirang itu dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang terlihat kusut.

Neji meraih tangannya dan memeluknya dengan tangannya yang lain.

"Naruto,"

Lalu mereka pun melepaskan pelukan persahabatan mereka karena banyak orang yang melihat mereka dengan tatapan aneh.

Well… gimana ngga? Biasanya yang ganteng sih yang punya kelainan (!)

Tangan Neji meraih koper yang ada di samping Naruto, "Biar kubantu, kau pasti lelah,"

Naruto mencegahnya sembari berkata, "Aku tidak selemah itu,"

Lalu Naruto menunjukan cengirannya yang sangat terkenal itu, namun gagal.

Neji dapat melihat dengan jelas di matanya terpancar kesedihan yang teramat dalam dan hal itu membuat Neji ingin pergi ke Jepang hanya untuk mendaratkan pukulan mautnya pada Si Pemuda Uchiha.

"Naruto… kau—"

Sebelum Neji berhasil menyelesaikannya, Naruto memotongnya dengan sebuah senyuman kecil.

"Hey… aku lapar, kau tahu tempat ramen yang enak tidak?"

Lalu Naruto meninggalkan Neji yang terus memandangnya dengan tatapan penuh rasa iba dan sedih yang bercampur aduk.

Dan itu membuat Naruto sadar bahwa semua yang terjadi adalah suatu kenyataan. Kenyataan pahit yang harus dia hadapi walaupun hatinya terus berteriak, memohon untuk terbangun dari mimpi buruk ini.

Neji yang terus memandanginya hanya dapat mengikuti sahabatnya itu dari belakang, tak tahu apa yang harus dia lakukan.

Saat mereka keluar dari Airport, Naruto berkata sesuatu pada Neji dan membuatnya tertcengang entah untuk yang keberapa kalinya hari itu.

Sungguh banyak kejutan yang dibawa oleh sahabat berambut pirangnya itu.

"Neji, tolong… bersikaplah seperti biasa. Jika kau memandangku dengan tatapan itu, entah sampai kapan aku dapat bertahan—sungguh… aku—aku tak—tolonglah… kumohon," suara Naruto sangat lemah sampai-sampai Neji mengira kalau Naruto sedang menangis jika saja dia tidak mengenal sahabat masa kecilnya itu lebih baik.

"Maafkan aku Naruto,"

Kini Neji menepuk bahu Naruto dari belakang.

"Lalu apa lagi yang kita tunggu, bukankah kau lapar? Aku tahu tempat ramen yang terenak di sini. Walaupun memang tak seenak Ramen Ichiraku, tapi kurasa cukup untuk mengganjal rasa rindumu pada ramen dan Jepang."

Lalu Neji membawa Naruto dengan mobil sport kesayangannya menuju Icha Icha Bentou, restoran Jepang.

Di sana tersedia berbagai jenis makanan Jepang, termasuk ramen. Selain itu suasana di Icha Icha Bentou sama seperti Jepang: tenang, sunyi dan nyaman juga natural.

Naruto pun berhasil menampung dua mangkuk ramen sedangkan Neji hanya tersenyum lemah dan rasa sedih, kecewa, amarah bercampur aduk dalam batinnya.

Tangannya mengepal dan gigi-giginya dengan kuat saling beradu menahan rasa jengkel dan keinginannya untuk memukul seseorang yang bernama Uchiha Sasuke.

'Si Berengsek Uchiha harus membayar apa yang telah dia lakukan pada sahabatku, tunggulah pembalasanku Uchiha. Dan ini bukanlah ancaman namun janjiku padamu,' batin Neji kesal.

Selama Naruto memakan ramen-ramennya, hati dan pikirannya selalu terbayang saat dia memergoki kekasihnya bersama sahabat baiknya.

Seringkali Naruto menghentikan makannya saat terbayang kemesraannya dulu saat bersama Sakura yang hanya menaburkan garam di luka hatinya yang meradang.

Rasanya baru kemarin dia bersama dengan Gadis berambut pink itu. Saat-saat di mana mereka bersama penuh canda, tawa dan saat mereka bertengkar, semua itu terasa manis.

Namun kenangan manis yang telah mereka rajut semenjak awal mula SMA itu hilang dan ternoda begitu saja, hanya dalam sekejap mata.

Kini semua kenangan manis itu berubah menjadi racun yang perlahan membunuh Naruto dari dalam.

Saat itu Naruto tersadar ketika mendengar seseorang memanggil namanya berulang-ulang.

"Naruto… Naruto? Naruto…!" teriak Neji sambil menggerakan bahunya.

"—ah,"

"Ramemmu sudah habis, apa kau ingin tambah?" tanya Neji yang sedari tadi memandangi sahabatnya yang terus memasukan sumpit kosong ke mulutnya.

"Gomen…" jawab Naruto lalu menaruh sumpitnya di atas mangkuk ramen yang kosong.

Kepalanya tertunduk, entah karena malu atau… yang jelas Neji lebih mengerti apa yang harus dia lakukan saat sahabat masa kecilnya sedang merasakan dilema yang sehebat ini.

"Kau tidak perlu minta maaf Naruto,"

Sunyi.

Waktu pun berlalu.

Baru kali ini Neji merasakan waktu seolah melambat hingga hening yang kini menyelimuti kedua sahabat ini terasa begitu lama.

Neji pun mengambil inisiatif untuk mengawali percakapan.

"Na—" namun dia terpotong oleh Naruto.

"—Aku tidak menemukan mereka. Neji… aku sudah mencari mereka, namun sepertinya aku telah bertindak terlalu jauh hingga tak satu pun mau menemuiku. Aku—aku…"

"Kuyakin mereka hanya kecewa padamu, karena kau tidak mempercayai mereka. Tapi yakinlah, bahwa mereka akan memaafkanmu, karena walau bagaimanapun kita adalah sahabat, kau ingat?" sahut Neji pelan.

Neji yang sangat mahir mengontrol emosinya kini benar-benar kewalahan untuk menyembunyikan apa yang dirasakan hatinya.

Bagaimana tidak, sahabat terbaiknya kini sedang menghadapi dilema dan yang kini dia lihat bukanlah sahabatnya yang dulu melainkan sesosok manusia yang rapuh dan seolah tak bernyawa. Terkadang tatapan matanya pun kosong.

Dan semua itu membuat Neji meringis melihat sahabatnya hancur tanpa dapat ia tolong walau hanya untuk mengurangi sedikit derita yang dialami sahabatnya itu.

"Aku yang salah, aku sudah melangkah terlalu jauh tapi.., Sungguh… aku tak bermaksud untuk—untuk…"

"Untuk apa?" tiba-tiba seorang pemuda dengan jaket tebal berkaca mata hitam datang dan mengejutkan Naruto.

"Akhirnya kau datang juga," tutur Neji dengan wajah lega sambil mempersilahkannya duduk.

Sementara itu mata Naruto terus menatap pemuda itu seolah tak percaya.