Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC, typo(s), AU, Fem!Dei
~Eternal Love~
Setelah menggumamkan kata 'terimakasih' kepada salah satu pembeli di toko rotinya, Deidara kembali duduk di sebuah kursi di balik rak kaca berisi berbagai macam roti dan kue. Ia tidak bisa fokus pada pekerjaannya, pikirannya melayang kepada Sasori yang masih sakit di rumahnya. Deidara tidak ingin meninggalkannya, tetapi ibunya mengatakan bahwa ia yang akan merawat Sasori.
Deidara tersentak dan segera menarik diri dari lamunannya saat melihat sebuah mobil mewah terparkir tepat di depan pintu kaca tokonya. Deidara awalnya tak yakin pemilik mobil mewah itu akan berkunjung ke tokonya, namun pikirannya itu segera sirna saat melihat seorang gadis berambut merah muda turun dari mobil tersebut dan melangkah ke arah tokonya. Deidara segera berdiri dan memasang senyum manisnya.
Gadis berambut merah muda itu berjalan mendekati Deidara seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
"Selamat siang," ujar Deidara lembut diiringi dengan senyuman.
Gadis itu membalas senyuman Deidara dengan tak kalah ramah. "Um selamat siang juga," ujarnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Deidara seraya memperhatikan gadis berambut merah muda tersebut. Deidara tidak mengenal gadis itu dan juga belum pernah melihatnya, namun entah mengapa ia merasa gadis di hadapannya itu tidaklah asing.
"Mm..." gadis bermata emerald itu bergumam seraya memperhatikan jenis-jenis kue di balik rak kaca. "Aku ingin memesan kue untuk acara pertunanganku minggu depan."
Raut wajah Deidara berubah saat mendengar kata 'pertunangan'. Tapi ia segera menepis pikiran buruknya kemudian menyerahkan daftar jenis-jenis kue yang ia jual di tokonya. "Silahkan dipilih, un."
Gadis berambut merah muda itu mengangguk dan tersenyum lalu mulai membaca daftar menu, mencoba menemukan jenis kue yang sesuai untuk acara pertunangannya. Disaat gadis itu sibuk membaca daftar menu, pintu toko kue tersebut terbuka menandakan seorang pembeli masuk ke dalam toko.
"Selamat siang." Spontan Deidara menyapa pembeli yang datang –diiringi dengan senyum manis di bibirnya, namun senyuman tersebut luntur saat melihat siapa yang kini melangkah ke arahnya.
"Jangan terkejut seperti itu. Aku sengaja datang untuk menemuimu," ucap laki-laki tersebut seraya tersenyum kepada Deidara.
Gadis yang tadi sibuk membaca daftar menu, kini menoleh saat mendengar suara seseorang yang tak asing baginya. Mata hijau emerald-nya melebar saat melihat siapa yang kini berdiri tepat di sebelahnya.
"Sasori-kun?" tanya gadis itu sedikit tidak percaya.
Laki-laki yang tadi fokus menatap Deidara, kini menoleh saat namanya terpanggil. Senyum di bibirnya luntur seketika saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Wajahnya yang masih pucat menunjukan ketidaksukaan.
"Sakura?"
Deidara tersentak saat mendengar nama tersebut. Sakura. Haruno Sakura. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi tunangan dari laki-laki yang sangat Deidara cintai. Tapi ada sesuatu yang aneh. Deidara ingat betul Itachi mengatakan bahawa perntunangan Sasori dan Sakura akan diselenggarakan bulan depan. Tetapi tadi Sakura mengatakan pertunangan mereka akan diselenggarakan minggu depan. Ia ingin menanyakan kebenarannya namun melihat situasi yang tidak mendukung, ia memilih untuk diam.
"Apa yang kau lakukan disini, Sasori-kun?" tanya Sakura seraya mencoba untuk tersenyum.
"Bukan urusanmu," sahut Sasori dingin.
Sakura menunduk, raut kecewa dan kesedihan tergambar jelas di wajah gadis bermarga Haruno tersebut. Sasori berdecih pelan. Sedangkan Deidara hanya bisa menatap sepasang kekasih yang hubungannya terlihat sama sekali tidak baik.
Haruno Sakura mengangkat kepalanya kemudian tersenyum kepada Deidara. "Aku ingin pesan kue yang ini," ujarnya seraya menunjuk salah satu jenis kue yang terdaftar di menu.
Deidara mengangguk. Ia mengambil sebuah pulpen dan selembar kertas untuk mencatat keperluan dalam pemesanan.
"Apa harus memesan kue disini?" tanya Sasori dengan nada dingin yang ia tujukan kepada Sakura, tanpa menatap gadis berambut merah muda tersebut, meliriknya pun sama sekali tidak.
"Kaa-san dan tou-san Sasori-kun yang memintaku untuk memesan di sini," sahut Sakura.
Sasori mengumpat dalam hati. Sudah ia duga ternyata kedua orang tuanya belum puas jika hanya memisahkan Sasori dan Deidara. Mereka juga menginginkan agar Deidara merasakan sakit di dalam hatinya karena sudah berani mengambil hati Sasori.
Deidara berpura-pura tidak mendengar apa yang Sasori dan Sakura bicarakan. Namun ia seketika berhenti menulis saat Sasori merampas pulpen dari tangannya.
"Pesanannya tidak jadi. Aku akan memesan di tempat lain," ujar Sasori.
"T-tapi–"
"Diam kau, Sakura!"
Sakura bungkam sedangkan Deidara membeku. Ia tak pernah mendengar Sasori bicara dengan nada yang begitu keras kepada siapapun apalagi terhadap seorang gadis. Mata Aquamarine-nya hanya bisa menatap iba ke Sakura yang hampir menangis karena sikap Sasori padanya.
"Maaf Deidara, kami akan memesan di tempat lain," ujar Sasori.
Deidara mengangguk. Ia tersenyum untuk menutupi rasa sakit yang menyerang jantungnya. Kata 'kami' yang Sasori ucapkan benar-benar meyakinkan Deidara bahwa pertunangan tersebut memang pertunangan Sasori dengan Sakura, bukan Sasori dengan dirinya.
"Deidara?" tanya Sakura terkejut.
Sasori dan Deidara sama-sama menoleh ke arahnya. Deidara menoleh karena namanya terpanggil. Sedangkan Sasori menoleh karena merasa ada sesuatu yang tidak beres dari nada Sakura.
"Kau Deidara? Seseorang yang belum bisa Sasori-kun lupakan?"
Deidara terdiam.
"Ya, dia adalah Deidara, satu-satunya gadis yang kucintai dan tak akan pernah kulupakan." Sasori menyahuti.
"Oh..." hanya itu yang bisa Sakura ucapkan. Sakura tertawa pelan untuk menutupi raut kesedihan di wajahnya. "Maaf kalau aku mengganggu. Aku pulang dulu," ujarnya kemudian meninggalkan Sasori yang sama sekali tidak menatap kepergiannya, dan Deidara yang menatapnya dengan iba.
"Danna menyakitinya, un," ujar Deidara seraya menghela napas.
Sasori mengerutkan dahinya mendengar apa yang Deidara katakan padanya. "Aku menyakitinya? Apa mereka tidak menyakitiku? Dan apa ini semua tidak menyakitimu, Deidara?"
Deidara mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan langsung dengan iris mata Hazel milik Sasori.
"Jawab aku, Deidara."
Nada tegas dari Sasori kontan membuat Deidara tersentak dan segera menatap mata Sasori, hanya untuk menemukan keserius di kedua bola matanya.
Deidara menghela napas kemudian berjalan mendekati Sasori. "Kita semua tersakiti disini, bukankah begitu, danna?" tanyanya. "Aku, kau, bahkan Sakura juga."
Saat Sasori ingin menjawab, Deidara segera berucap "Tapi kita tahu aku tidak selemah itu, un. Aku bisa menghadapinya. Kau juga, danna. Kau juga bisa menghadapi semua ini."
"Jadi kau memintaku untuk hidup bersama gadis yang tidak kucintai? Mudah saja kalian mengatakan itu. Kalian tidak pernah berada di posisiku!" nada Sasori meninggi, namun sesaat kemudian ia menghela napas sebelum menlajutkan kalimatnya. "Aku tidak bisa menyelesaikan ini sendirian. Aku perlu dukunganmu, Deidara. Aku perlu kau untuk meyakinkanku bahwa kita masih memiliki harapan untuk hidup bersama. Aku menaruh harapan besar padamu."
Deidara terdiam tak menjawab karena ia merasa apa yang Sasori katakan itu benar adanya. Dua hal yang paling Deidara inginkan adalah keselamatan Sasori dan kebahagiaan Sasori. Deidara awalnya berpikir untuk menyerah karena menurutnya Sasori bisa saja hidup bahagia dengan gadis lain, ia hanya perlu waktu untuk terbiasa. Tapi hati kecil Deidara mengatakan bahwa hal itu tidak akan terjadi.
Saat tidak mendapat jawaban sama sekali dari Deidara, Sasori menghela napas kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah ke pintu keluar.
"Aku mencintaimu selamanya, Deidara," ucap Sasori sebelum ia pergi meninggalkan toko tersebut.
Apa yang harus aku lakukan? Batin Deidara.
.
.
"Dari mana saja kau?"
"Kenapa kemarin kau tidak pulang, Sasori?"
Sasori tidak menjawab pertanyaan kedua orang tuanya yang menyambut kedatangannya dengan cara mereka sendiri.
"Sasori! Jawab pertanyaan kami!"
Sasori tetap tidak menjawab dan hanya melangkah ke kamarnya dalam diam. Pikirannya tidak bisa lepas dari sosok gadis yang begitu ia cintai. Bukan hanya Deidara, tetapi Sasori juga pernah berpikir bahwa waktu bisa memperbaiki keadaan. Tapi telah terbukti bahwa walaupun Sasori sudah tidak bertemu dengan Deidara selama beberapa bulan, tak sedetikpun ia bisa melupakan Deidara.
Sasori membuka pintu kamarnya, mendapati kamarnya yang dalam keadaan gelap. Ia segera menutup kamarnya kemudian melangkah menuju tempat tidur dan berbaring di sana tanpa ada sedikitpun keinginan untuk menyalakan lampu.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan enggan Sasori menjawab panggilan tersebut.
"Sasori!" sapa seseorang di seberang sana.
"Ada apa, Itachi?"
"Kudengar kau menghilang. Keluargamu mencarimu kemana-mana. Kemana saja kau?"
Sasori menghela napas, ia menggunakan lengan kanannya untuk menutup kedua matanya. "Di rumah Deidara."
Sesaat keadaan hening sebab Itachi sama sekali tak bersuara.
"Deidara?" tanya Itachi pada akhirnya dengan suara pelan.
"Hm."
"Sasori, bukankah sudah kukatakan bahwa tindakanmu yang seperti itu bisa membahayakan Deidara? bagaimana jika kedua orang tuamu tahu lalu mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu pada Deidara? Pernahkah kau berpikir tentang itu?"
Mata Sasori yang sedari tadi terpejam kini terbuka begitu saja. Kalau saja saat ini Itachi berada di hadapannya, Sasori pasti memberikan tatapan tajam padanya.
"Jangan bicara seolah-olah hanya kau yang ingin melindunginya!" geram Sasori. Setelah kalimatnya tersebut ia ucapkan, tiba-tiba Sasori menyadari sesuatu. "Jangan-jangan kau... menyukai Deidara?"
Sekitar dua menit berlalu tanpa jawaban dari Itachi.
"Ya."
"Sial!" umpat Sasori sebelum menekan tombol merah dan melempar ponselnya ke lantai yang tertutupi karpet.
Kenapa semuanya berubah menjadi semakin rumit? Kini ia mengetahui bahwa Itachi menyukai Deidara dan hal yang membuat Sasori takut adalah...bagaimana jika Itachi bisa menjadi seseorang yang lebih baik bagi Deidara?
Pikirannya tersebut segera membuat Sasori tersadar akan sesuatu.
Apa dirinya sanggup bersanding dengan gadis yang tidak ia cintai sekaligus melihat sahabatnya bersama dengan gadis yang ia cintai?
Satu hal yang kini Sasori sadari adalah ucapan Itachi benar. Deidara akan terancam bahaya jika berada di dekat Sasori.
.
.
.
"...ne, Sasori no danna? Ganbatte un~"
'klik'
"Sudah un?"
Itachi mengangguk. Deidara segera mendekatinya. Mereka berdua sama-sama menatap benda di tangan Itachi. Sebuah handycam. Wajah Deidara terpampang jelas di layar handycam tersebut.
Deidara menghela napas lega. "Yah setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk danna. Semoga dia bisa bersemangat karena ini, un."
Sudah empat hari lamanya Sasori dan Deidara sama sekali tidak bertemu dan sama sekali tidak bicara melalui apapun. Deidara menduga Sasori tidak diizinkan keluar rumah oleh kedua orang tuanya karena pertunangannya sudah di depan mata. Deidara bisa memaklumi hal ini. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menyampaikan hal-hal yang dianggapnya penting untuk Sasori dengarkan.
Syukurlah Itachi mau membantunya.
Itachi tersenyum kemudian mengacak rambut Deidara dengan pelan "Kuharap juga begitu."
"Ne, jadi aku minta tolong kepada Itachi-san untuk memberikannya kepada danna," ujar Deidara seraya tersenyum lebar.
"Tentu. Akan kuberikan padanya secepatnya."
"Arigatou Itachi-san. Kau ingin kopi atau kue? Tidak perlu membayar kok un," ujar Deidara bersemangat.
Itachi menggelengkan kepala. "Lain kali saja. Aku masih ada urusan lain."
"Oh? Baiklah un."
"Sampai jumpa besok, Deidara-chan," ujar Itachi seraya berdiri seraya menggenggam handycam tersebut dengan erat di tangannya. Deidara mengangguk, sekali lagi ia tersenyum saat Itachi melangkah ke pintu toko kuenya.
Itachi menunduk saat menatap handycam di tangannya.
Tidak hari ini. Sasori bisa menunggu, batinnya.
Ia yakin dirinya tak akan langsung memberikan rekaman tersebut kepada Sasori. Itachi juga ingin melihat wajah dan mendengar suara Deidara kapanpun ia mau.
Deidara sendiri lagi di dalam toko kue ibunya tersebut. Ia duduk di balik rak kaca seraya menatap layar ponselnya. Sasori sama sekali tidak menghubunginya, mengirim pesan pun tidak.
"Mungkin danna marah," bisiknya pelan pada diri sendiri.
Deidara tersentak dan segera berdiri saat menyadari pintu toko kuenya terbuka.
"Selamat siang," sapanya ramah kemudian meletakkan ponselnya yang masih menyala di atas rak kaca.
Seorang laki-laki berambut merah, berpostur tubuh tinggi, dan mengenakan kaca mata hitam melangkah mendekatinya. Deidara sedikit memiringkan kepalanya. Laki-laki di hadapannya ini mengingatkannya kepada Sasori.
"Ada yang bisa saya bantu, un?" tanya Deidara.
Laki-laki itu melepaskan kaca mata hitamnya untuk bisa menatap mata Deidara dengan lebih jelas. Kemudian matanya melirik ponsel Deidara di atas rak kaca. Sebuah seringaian tipis terukir di bibirnya saat melihat wallpaper ponsel gadis penjaga toko ini.
"Aku pesan kue terbaik disini," sahut laki-laki berambut merah tersebut.
"Makan di sini atau dibawa pulang, un?"
"Aku tidak punya waktu untuk berlama-lama."
Deidara mengangguk mengerti kemudian menyiapkan pesanan laki-laki tersebut.
Dengan cepat Deidara memasukan kue terbaik di tokonya –cheese cake khas buatan ibunya- ke dalam sebuah kotak kue berwarna putih kemudian memasukannya ke dalam sebuah tas belanja. Ia menyerahkan tas belanja –khas milik tokonya- tersebut kepada pembeli di hadapannya.
Laki-laki tersebut menerimanya dan menukarnya dengan selembar uang dengan nominal yang tinggi. Saat Deidara berniat mengambil kembalian, laki-laki tersebut mencegahnya.
"Simpan saja kembaliannya," ujarnya.
"Eh?" Deidara mengerjapkan matanya. "Tapi ini terlalu banyak un."
"Hm baiklah akan kutukar dengan sebuah pertanyaan."
Deidara memiringkan kepalanya, pertanda ia tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh laki-laki tersebut. "Ya?"
"Kau Deidara kan?"
Deidara tersentak.
"Dari mana anda tau?"
Laki-laki tersebut melirik ponsel Deidara seraya menyeringai tipis. Deidara mengikuti arah tatapan laki-laki berambut merah itu, namun ia masih tak mengerti.
"Perkenalkan, namaku Gaara." Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Deidara. "Sepupu dari Akasuna no Sasori, laki-laki yang bersamamu di foto yang kau jadikan wallpaper."
Deidara tercengang.
Sasori memiliki sepupu?
Dengan ragu Deidara menyambut uluran tangan Gaara. "Deidara," sahutnya.
"Jadi benar kau Deidara yang selalu Sasori ceritakan padaku," ujar Gaara.
Gadis berambut pirang dihadapannya menatapnya dengan tanda tanya besar terbayang di iris mata biru indahnya.
"Aku dan Sasori sejak kecil memang sangat dekat. Ia hanya menceritakan masalahnya padaku walaupun aku dan keluargaku tinggal jauh di Amerika. Dia menceritakan semua hal tentang hidupnya melalui E-mail. Termasuk perasaannya terhadap seorang gadis bernama Deidara."
"Sasori no danna menceritakan itu padamu, un?"
Gaara mengangguk. "Aku terkejut saat ia mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepada seseorang. Karena sebelumnya ia tak pernah jatuh cinta, tertarik pun sama sekali tidak."
Deidara mengangguk pelan, tidak tahu harus bicara apa.
"Aku dengar ia akan bertunangan, jadi aku kembali ke Tokyo untuk menghadirinya."
Deidara menunduk.
"Aku mengenal Sasori. Aku juga ingin yang terbaik baginya. Jadi...Deidara, jangan mematahkan harapannya."
Deidara mengangkat kepalanya begitu mendengar apa yang Gaara katakan. Pria berambut merah tersebut sudah melangkah menjauhinya. Namun saat Deidara ingin mengatakan sesuatu, Gaara menoleh ke belakang dan berucap "Hanya kau yang bisa membuat Sasori bahagia."
Mata Deidara melebar karenanya.
Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap kepergian Gaara dari tokonya.
Sasori no danna...
.
.
Gaara melangkah masuk ke rumah besar keluarga Akasuna. Tanpa mengetuk pintu atau mengatakan apapun, para pelayan rumah tersebut sudah membukakan pintu untuknya. Kedatangannya di sambut dengan ramah oleh kedua orang tua Sasori.
"Ah lama tidak berjumpa, Gaara. Bagaimana kabarmu?" tanya ibu Sasori saat menyambut Gaara.
"Baik," sahut Gaara singkat.
"Dimana orang tuamu?" tanya ayah Sasori.
"Mereka tidak datang untuk acara pertunangan tapi mereka akan datang saat acara pernikahan nanti."
"Ah begitu? Tidak apa-apa. Kami senang kau datang. Kau akan menginap di sini kan?"
Gaara mengangguk.
Tak lama kemudian seorang pelayan terlihat tengah menarik koper milik Gaara menuju sebuah kamar yang sudah sering Gaara tempati.
"Dimana Sasori?"
"Di kamarnya. Belakangan ini ia selalu mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Kami khawatir ia sakit saat acara pertunangan nanti. Bisa kau membujuknya?"
"Tentu," sahut Gaara yang langsung melangkah ke kamar Sasori yang berada di lantai dua. Tangan kanannya masih menggenggam tas belanja berisi sekotak kue yang tadi ia beli.
Saat ia tiba di depan kamar Sasori, ia mencoba membuka pintu kamar tersebut namun sayang pintunya terkunci.
"Sasori, ini aku. Buka pintunya."
Setelah menunggu sekitar dua menit, akhirnya terdengar bunyi 'klik' pelan dan pintu akhirnya terbuka. Setelah membuka pintu, Sasori kembali ke tempat tidurnya dan berbaring di sana.
"Kau sakit?" tanya Gaara seraya menutup pintu kamar dari dalam.
Sasori hanya menggelengkan kepala.
"Aku membawakan ini untukmu," ujar Gaara seraya duduk di tepi tempat tidur Sasori dan meletakkan tas belanja tersebut di sampingnya.
"Aku tidak lapar," sahut Sasori datar.
"Kau yakin? Tapi ini kue yang istimewa."
"Apa maksudmu?"
"Aku membelinya dari toko kue Deidara."
Sasori segera mengubah posisinya menjadi duduk. Melihat hal ini, senyum tipis terukir di bibir Gaara.
"Kau bertemu dengan Deidara? Bagaimana keadaannya?"
"Kau tidak perlu khawatir. Dia baik-baik saja."
Sasori mengangguk dan menghela napas lega. Perlahan ia mengambil kue tersebut dan meletakkannya di atas meja yang tak jauh dari tempat tidurnya. "Arigatou," ucapnya.
Gaara hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.
"Kurasa dia masih mencintaimu, Sasori."
"Dari mana kau tahu hal itu?"
Gaara mengangkat bahunya. "Ia masih menggunakan foto kalian berdua sebagai wallpaper."
Sasori tertawa pelan. Gaara memperhatikan hal ini sebagai sesuatu yang langka. Sasori jarang tertawa, tersenyum saja jarang. Lalu kini ia tertawa seolah bebannya sudah sirna begitu saja, hanya karena Gaara mengatakan hal yang menyangkut Deidara.
Saat itulah Gaara menyadari bahwa Sasori benar-benar mencintai Deidara.
"Apa Deidara sendirian di tokonya?"
"Ya. Tapi saat aku datang, aku melihat seorang laki-laki berambut hitam keluar dari toko itu. Mungkin dia Itachi, temanmu yang kau ceritakan padaku."
Sasori memejamkan matanya sesaat kemudian membukanya kembali "Dia mungkin bisa menjadi penggantiku untuk menjaga Deidara."
Sesaat Gaara menatap sepupunya dengan tatapan tidak percaya, namun ia hanya bisa mengangguk setelah mengerti apa yang Sasori maksud. "Jadi kau akan menyerah?"
Sasori terdiam.
Gaara memperhatikan raut wajah Sasori untuk beberapa saat sebelum ia mengangguk pelan, memaklumi sepupunya yang tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaannya. Ia tahu posisi Sasori tidaklah mudah. Sangat sulit bahkan. Gaara hanya bisa berharap Sasori bisa memutuskan sesuatu yang terbaik untuk dirinya. Dan juga Gaara berharap ia tak akan pernah berada di posisi Sasori.
"Kau masih punya waktu," ujar Gaara. "Kau masih bisa melalui pertunanganmu dengan Sakura. Karena ini hanyalah pertunangan, belum pernikahan. Kau masih bisa memutuskan hubunganmu dengan Sakura setelah kalian bertunangan nanti."
"Tidak semudah itu."
Gaara menoleh begitu ia menyadari perubahan di nada yang Sasori gunakan. Nada datar dengan suara yang berat dan tegas.
"Aku tidak ingin menyematkan cincin ke jari gadis lain, selain Deidara. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Pertunangan itu akan terlaksana tiga hari lagi. Kau tidak punya cukup waktu untuk menghindarinya. Terpaksa kau harus menjalaninya."
"Tch."
.
.
.
Deidara menatap layar ponselnya. Disana terlihat foto dirinya dan Sasori saat mereka berada di salah satu festival musim panas tahun lalu. Deidara mengenakan yukata berwarna merah muda dan Sasori mengenakan yukata berwarna biru tua. Di belakang mereka berdua terlihat sebuah kembang api yang tengah memancarkan keindahannya. Di foto tersebut Sasori tersenyum. Senyum yang selalu membuat Deidara merasa nyaman. Hanya senyuman Sasori yang membuat Deidara seolah bisa melupakan segala permasalahan di dalam hidupnya. Tapi senyuman setulus itu sudah lama tak Deidara lihat dari Sasori yang hidupnya tertekan.
Ia berharap dirinya bisa membuat Sasori tersenyum seperti dulu, tertawa lepas seperti dulu, dan merasakan kebahagiaan yang tak terlupakan, seperti dulu.
Deidara tiba di depan toko kuenya. Udara dingin yang sedari tadi menemaninya tak ia hiraukan sama sekali. Ia menggunakan tangan kanannya untuk mengambil kunci di dalam saku celananya jeans panjangnya, sedangkan tangan kiri masih menggenggam erat ponselnya.
Samar-samar Deidara mendengar derap langkah mendekat.
Belum sempat menyadari apapun, sesuatu yang terasa seperti kain basah sudah menutup hidung dan mulutnya.
"Hmmph!"
Deidara mencoba memberontak tetapi ia tak bisa bergerak terlalu banyak karena seseorang memeganginya dengan erat dari belakang. Deidara merasa pandangannya mengabur dan tubuhnya melemas.
Hingga akhirnya ia menutup matanya perlahan dan semuanya berubah menjadi gelap.
_TBC_
Wah gomen karena lama banget update-nya. Semoga masih ada yang mau baca fanfic ini. Deidara kenapa? Tunggu chapter depan ya minna, itupun mungkin balakan lama /slapped.
Yosh, review? :3
