A/N: Haloooo~ apa kabar semuanya? Sudah cuci gigi sikat muka belom? Gut gut. Pertama-tama author mau ngucapin terima kasih ke siapa aja yang baca fic ini. Apalagi yang nge-review. Hati selalu berdegup kencang setiap kali liat review baru, hihi. Serasa liat pengumuman UN. Yak, ayuk kita capcus ke chapter 3~~~ Hari ini chapter spesial lhooo, ada kemunculan seorang tokoh yang cukup familiar diantara kita semua.
Kalau ada Shanin yang baca, inilah yang kau tunggu :D
SAYA TIDAK BERMAKSUD MENJELEK-JELEKKAN JAKARTA. FIC INI JAS POR PAN! DAN SAYA JUGA TIDAK BERMAKSUD MENJELEK-JELEKKAN BINTANG TAMU KALI INI.
.
.
.
.
.
Me and JKT
STORY © Teo Izayoi
EYESHIELD 21 © Richiro Inagaki – Yusuke Murata
.
.
.
.
.
24 June 20xx, 15.15
Sambil menguap bosan, Hiruma mendengarkan dosen killer ngomong di kelasnya. Ia melirik ke mahasiswa lainnya. Ada yang sembunyi-sembunyi mainin HP. Merasa ada yang bisa disalahkan, akhirnya Hiruma menelpon Mizumachi—alias Mizubabu-nya.
"Mizubabu! Lagi dimana lo?" tanya Hiruma. Mahasiswa di dekatnya melirik dengan cemas. Kalau sampai ketahuan dosen, mereka bisa mampus karena hari ini tugasnya berkelompok. Mana Hiruma nelponnya pake suara keras lagi. Aduh. Tapi siapa yang berani negor Hiruma?
"Nhaaa~~ sekarang aku sudah di apartemen, kok. Tidak ada tugas pula. Hirucchi pulang jam berapa? Plesir yuk!" suara Mizumachi terdengar di seberang telpon.
"Ya, ya, ya, tapi aku belum tahu hari ini mau kemana," kata Hiruma. Hari sedang sangat panas dan Hiruma malas ke tempat-tempat yang diusulkan Suzuna.
"…Apa? Kalian lupa list dari cheer sialan? Dasar pikun!" komentar Hiruma sambil menatap readers.
UNDERLINED: Sudah dikunjungi
TEMPAT-TEMPAT YANG WAJIB DIKUNJUNGI DI JAKARTA
By: Suzuna Taki
Monas
TMII
Ancol
Dufan
Ragunan
P.S Kalo mall/pasar, kayaknya gak usah ditulis ya :P nanti You-nii malah pulang 1 hari lebih telat gara-gara sibuk belanja daster…hehehe…
Authornya lagi alim, jadi nggak komentar.
"Tuh kan, hari ini panas. Dan TMII pasti lagi rame. Dufan apalagi. Uhm… ke Ragunan aja?"
"Ragunan itu apa? Tempat togel? Aku enggak mau ikut ah…"
"Bukan, bukan… Ragunan itu kebun b-i-n-a-t-a-n-g…"
"Wah! Kebun bintang! Enaknya ke sana malem-malem dong!"
"Perasaan lu sering ngorek-ngorek kuping deh, tetep aja budek…"
.
.
.
.
.
Sampai di apartemen—setelah menjemput Mizumachi terlebih dahulu—Hiruma langsung ganti baju dan browsing internet bentar. Ha? Browsing apaan? Bokep yah?
"Gue nyari info tentang ragunan, author sialan!" bentak Hiruma.
Setelah menyusuri satu demi masa website, akhirnya Hiruma merasa siap untuk pergi ke Ragunan.
"Mizubabu! Ayo berangkat!" kata Hiruma. Mizumachi nyengir, keteknya diangkat tinggi-tinggi. "AYOOOO!"
Dengan semangat 45 x 2 = 90—
Author: Eh…bener gak ya? *itung dulu* Oh iya, bener, lanjut!
Dengan semangat 45 x 2 = 90, Hiruma dan Mizumachi berangkat menuju…Ragunan! TENONONETONEEET! Kali ini masalah transportasi dihiraukan, karena ada taksi yang kurang beruntung.
Setelah bayar—ehm, ngancem—Hiruma dan Mizubabu pun sampai di Ragunan.
"Kita ke mana dulu, nih?" tanya Mizumachi sambil membolak-balikkan peta.
"Smutzher," kata Hiruma. "Disana ada kaca gede dan kamu bisa ngaca. Kan kamu ganteng tuh."
Mizumachi menyeringai. "He he he."
.
.
.
.
"HIRUMA! INI SIH BUKAN KACA, WOIIIII!"
"Ke ke ke, bukankah kaca memantulkan bayanganmu sendiri?"
"TAPI KENAPA GUE DIKURUNG DI KANDANG GORILAAAAA"
"Eh awas, tuh gorilla lagi hamil loh, biasanya jadi sensitif, jangan teriak-teriak gitu lu"
"HUWEEEEE!"
"KE KE KE KE KE KE!"
.
.
.
.
"NHUAAAA~ HIRUMA! Nakutin tau gak? Mendingan gue mati membusuk di rumah daripada dikurung di kandang Urashima—eh, Gorila. Gile lu!" semprot Mizumachi. Hiruma hanya menyeringai mendengar kata-kata Mizumachi.
Tiba-tiba mata Mizumachi tertuju pada seorang wanita.
"Hiruma, wanita itu menuju ke sini…"
Dan memang benar. Wanita itu tersenyum dan menghampiri Hiruma. Dilihatnya AK-47 milik Hiruma, anting-anting Hiruma, gigi Hiruma, jari-jari panjang Hiruma bahkan celana Hiruma juga dia liatin.
"…Mau apa kau?" tanya Hiruma, sambil menodongkan bambu runcing—maaf, AK-47—miliknya. Mizumachi lantas panik. Yaiyalah, ini ibu-ibu gak bersalah malah disodorin senjata. Masa' ngeliatin doang dibunuh? KAN ITU TIDAK BAIK~
Si ibu anehnya tidak tampak terkejut. Si ibu lalu membuka mulut.
"Anak muda," katanya, "Mengapa kau berjalan di jalan yang salah? Kau terlahir—"
"Saya lahir di kandang kuda, Bu," jawab Hiruma.
"Ehm. Begini, kau—bukan, setiap manusia—terlahir sebagai orang baik. Hanya saja itu bisa berubah kalau mereka mengikuti jalan yang salah…"
"Cukup ceramahnya Bu. Saya tadi pagi nonton M*mah dan Aa'." kata Hiruma ngaco.
"Ini kartu nama saya," si ibu tersenyum lalu memberikan kartu nama. Lalu ia melengos pergi.
Nama yang tertera di kartu nama tersebut…
Mamah Dedeh?
.
.
.
.
.
"Hiruma?"
Sepanjang perjalanan, semenjak bertemu Mamah Dedeh, Hiruma diam saja. Paling nengok kalau ada anak kecil yang bilang sambil nunjuk Hiruma, "Ma, liat tuh, makanya mama nonton Dunia L*in dong."
Mizumachi jadi cemas.
"Hiru—"
"Sudah kuputuskan. Aku insyaf."
5 detik.
10 detik.
15 detik.
"BOHONGGG?"
"Serius. Aku sudah sadar," jawab Hiruma kalem.
"T-tapi kalau kau insyaf, kau bukan Hiruma yang kami kenal lagi—"
"Kau menghalangiku untuk berbuat baik?"
"Nhaa, bukan gitu juga, lah. Cuma yah…umm…aku—bukan, kami semua—belum rela melepas Hiruma yang devilish."
Hiruma diam saja. Entah memikirkan tamatnya Cinta F*tri atau ucapan Mizumachi.
"Lagipula, siapa lagi yang mau mengurus buku ancaman-mu selain kau? Dan…kau mau membuang Cerberus? Mau melepas predikat 'Malaikat dan Setan' alias 'Mamori' dan 'Hiruma'? Kau mau? Hanya di 3"
Hiruma terpaku.
Dan membisul.
"Aku—"
"UOO, HIRUMA BICARA!" teriak Mizumachi. Persis sama dengan adegan Tetsuma ngomong.
"TENTU SAJA AKU BICARA, PERENANG-MERANGKAP BABU SIALAN!"
Mata Mizumachi tiba-tiba berbinar-binar, layaknya melihat laba-laba manjat monas (udahlah, pasti tau maksudnya).
"Nhaa~ gak jadi insyaf?"
"Hn. Begitulah. Kau benar. Aku belum rela melepas buku hitam-ku ini," jawab Hiruma. Udah butut gitu masih disayang-sayang.
Mizumachi tersenyum riang. Tak masalah ia dikatain babu sialan.
.
.
.
.
.
"Nhaa! Walaupun gak terlalu menyenangkan, aku deg-degan banget waktu lewat jembatan gantung!"
"Ngakunya tinggi, naik begituan aja takut."
"Nggak takut kok. Cuma deg-degan…"
"Lo mikirin Kakei ya?"
"Oo tidak bisa~ kasian Akaba!"
Mereka tertawa bersama dibawah sunset Jakarta.
Eh? Sunset? Author yang tinggal di Jakarta aja kagak pernah liat sunset di Jakarta.
"AUTHOR KICEP, HAAHHAHAHAHAAHHA!" tawa Hiruma. Teo segera menulis ulang kalimat tersebut.
Mereka tertawa bersama dibawah sunsilk Jakarta.
"Author bego, ini mah tambah ancur," pikir Mizumachi dan Hiruma.
"Ganti aja, jangan Sunsilk, Dove gitu kek, kalo nggak ya Clear, kalo gak itu Zwitsal…" komentar Mizumachi.
"Rejoice aja," usul Hiruma.
Oke, kembali ke tanktop…
"Perenang babu sialan. Jujur saja, apa kau senang tinggal di Jakarta?" tanya Hiruma tiba-tiba.
"Senang banget! Tapi aku suka deg-degan kalau ada demo. Apalagi macetnya."
Hiruma mengangguk setuju. "Tumben pinter."
Mizumachi nyengir, memperlihatkan cabe nyelip diantara giginya. "Mizu gitu loh. Anak jurusan kedokteran gitu loh."
Hiruma terperanjat. "KAU? JURUSAN KEDOKTERAN? Insyaflah wahai manusia…"
"Nhaa, kalau gitu tadi harusnya kau insyaf."
"Heh, aku kan setan, bukan manusia."
"…"
.
.
.
.
.
.
TBC! (Tolong Bunuh Cerberus)
*dipelototi Hiruma*
Ahm, saatnya POJOK OBROLAN AUTHOR!
[BGM: SINTA DAN JOJO SUKA MAKAN SOSIS S*NICE~~~~]
Author: Buset. Kenapa jadi ada HiruMizu gini…
Hiruma: KENAPA GUE BISA-BISANYA MIKIRIN BUAT INSYAF?
Author: Ah, dasar kamu tidak indah!
Kisaragi: Anu, Onishi, eh permisi
Author: Lah, tante-tante ngapain ikutan?
Kisaragi: Aku kan muncul di chapter depan. Waktu Hiruma ke *piiip* aku ada disana terus Hiruma kaget.
Hiruma: Hush! Jangan keras-keras ntar gue denger!
Author: Ini harusnya pojok obrolan author, kenapa ada tante-tante ama setan metal gini?
Hiruma: Kayak ada yang mo ngomong ama lu aja.
Kisaragi: Hi-Himuro, EH MAKSUDKU HIRUMA, jangan berkata seperti itu…tidak indah…SUNGGUH TER-LA-LU!
Hiruma: Duh, mendingan gue nonton Luthfie BigBro daripada nonton elu berdua. Dasar dua tante-tante kembar siam.
Author: Cuih pret! Dua tante-tante kembar siam?
Kisaragi: Menurut teman-teman sekelasmu, kau memang mirip denganku…
Author: INALLILAHI…
Hiruma dan Kisaragi: JAMA'AH~~~ OOO JAMA'AH~~
Author: Gile, jadi ngaco gini… Okelah kalau begitu. Sampai jumpa di chapter 4.
[BGM: Ji-Ji-Jumonji! Nari bareng Musashi! Pake daster Mamori! Hiruma jarang mandi SATU DUA TIGA EMPAT LIMA ENAM TUJUH DELAPAN!]
