Horror

Cast: Byun Baekhyun x Park Chanyeol

Genre: Humor / Romace

Disclaimer :

Apa yang lebih horror dari film hantu?

Jawabannya adalah mantan.

Ya, Baekhyun bertemu mantannya lagi— setelah bertahun tidak bertemu. Parahnya lagi, mereka bertemu di ranjang.

.

.

.

[Boys love! Yaoi! Chanbaek!]

.

.

Why? [2]

.

.

.

.

.

Baekhyun memasuki kelas dengan wajah yang di tekuk– perkataan Chanyeol kemarin sangat mengganggu dirinya. Di tambah Kyungsoo menginap dirumah Jongin semalam.

"Hey, bro." sapa Kyungsoo.

"Tidak usah ngomong sama aku lagi." kata Baekhyun mengangkat tangannya.

Kyungsoo merangkul tubuh Baekhyun langsung. "Ayolah– jangan marah."

"Aku tidak marah– aku hanya angry." lalu ia menuju ke arah mejanya. Lalu Jongdae menyapanya dengan ramah. "Pagi, Baekhyun."

"Sama saja, sialan!" desis Kyungsoo kesal.

"Pagi." sahutnya singkat sambil tersenyum tipis.

Jongdae memberikan tatapan dia-kenapa? Kepada Kyungsoo.

Kyungsoo menggedikkan bahunya.

Jongdae lalu duduk dihadapan Baekhyun, dan memutar kursinya agar dapat berhadapan dengan Baekhyun. "Kau kenapa?" tanya Jongdae.

Baekhyun membuang nafasnya dengan kesal– lalu mendongakkan kepalanya sedikit. "Kenapa dia kembali lagi? Maksud ku– kenapa dia berkata seperti itu? Apakah dia lupa apa yang pernah dia lakukan kepada ku?"

Jongdae memutar matanya kesal. "Ngomong satu-satu dong."

"Aku tidak ngomong. Aku berbicara."

Jongdae mendadak kesal, lalu Kyungsoo menepuk punggung Jongdae memberikan dukungan untuk sabar. "Maklumin saja, abis bertemu mantan."

"Siapa? Daehyung?"

"Bukan! Tapi, Chanyeol cinta pertamanya." sahut Kyungsoo.

Baekhyun langsung memandang Kyungsoo dengan tatapan kesal. "Tidak, usah di perjelas! Fuck you." katanya dengan kesal.

Jongdae menepuk tangannya sekali dengan kuat, ia mengingat sesuatu. "Nah! Semalam kan kalian pulang bareng ya dengannya? Yang kau mabu–"

"–stop. Jangan mengingat hari kemarin. Rasanya, kepala ku makin pusing." potong Baekhyun dengan pelan. Dia kesal jika harus mengingat semalam.

"Coba cerita. Memangnya kalian itu kenapa?"

Dengan rasa kesal yang sudah sampai di ubun-ubun ia menceritakan apa yang Chanyeol lakukan semalam– dari menumpang mandi sampai perkataan terakhirnya.

"Baekhyun."

"Pergi dari hidup ku."

"Aku akan pergi–"

"Bagus."

"–asal kau bisa mampu melupakan aku."

Jongdae langsung ikutan kesal– hey awas saja dia berani mendekati Baekhyun lagi dan mempermainkan Baekhyun.

"Dia beneran bilang begitu!?" kata Kyungsoo tak percaya. "Sialan! Tidak tahu diri sekali!"

"Kalau dia mendekati mu– kau bilang saja pada kita."

Baekhyun mengangguk malas– namun, tiba-tiba ia teringat baju yang ia pijami kepada Chanyeol. "Baju Kris! Kyungsoo, tolong suruh Jongin minta baju itu. Jadi ia tidak perlu mengantarnya!"

"Hah?"

"Bilang saja begitu."


Jongin dari kelas Art and Design menuju ke kelas Chanyeol di jurusan Business. Walaupun cukup jauh– mereka akan tetap berkumpul jika waktunya break seperti sekarang.

Saat Jongin memasuki kelas Chanyeol, ternyata Chanyeol tengah bersama Namjoon dan Taehyung. Omong-omong Namjoon dari jurusan Journalism and Mass Communication sedangkan Taehyung Art and Design seperti Jongin– tapi di bawah tingkat Jongin.

"Hoi!"

Mereka bertiga menoleh ke arah suara. Dan kemudian mereka bertiga menuju ke arah Jongin– sekalian menuju ke kantin arah timur.

"Lama sekali menuju ke sini."

Jongin mengeluarkan ponselnya. "Biasa, habis telfonan dengan Kyungsoo." sambil menggoyang-goyangkan ponselnya.

Namjoon memutar matanya malas. "Good for you."

"Ayolah, bro. Jangan iri begitu!"

"Sorry. Tapi aku tidak iri." kata Namjoon dengan malas.

Taehyung tertawa, lalu merangkul tubhh Jongin. "Yang sudah taken mah beda ya." Jongin mengangguk lalu ber high five dengan Taehyung.

Jongin menepuk jidatnya pelan. "Ah, iya!" sepertinya ia mengingat sesuatu. "Baekhyun minta bajunya." kata Jongin kepada Chanyeol.

"Baju? Oh. Nanti akan ku kembalikan." kata Chanyeol, lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Bagaimana habis pulang kuliah ini, kita ke kampus mereka?" tanya Chanyeol.

"Tidak usah, Baekhyun meminta aku yang membawanya."

"Kita sama-sama saja lah."

"Chanyeol, harusnya kau tahu kenapa dia ingin Jongin yang membawanya. Karna, ia menghindari mu." kata Namjoon kepada Chanyeol– dan perkataan Namjoon membuat Chanyeol terdiam.

"Minta nomornya– biar nanti ku bilang padanya."

Jongin menggeleng keras. "Tidak," lalu kembali berkata. "Baekhyun pasti akan langsung mengganti nomor baru jika kau memiliki nomornya." kata Jongin dengan pasti– karna memang sudah sering terjadi Baekhyun mengganti nomornya karna di hubungin Chanyeol.

Chanyeol menghela nafas pelan. "Yasudah, kau telfon pakai nomormu dan aku yang berbicara." lalu ia meninggalkan mereka bertiga untuk menuju ke kantin dulu.

"Dia masih menyukai Baekhyun?" tanya Taehyung heran. "Sudah 7 tahun– dan sampai dia mau lulus sekarang, bro." kata Taehyung tak percaya.

"Dia terlambat sih," kata Namjoon. "Coba dia lebih berusaha meluluhkan, Baekhyun." timpal Namjoon sambil geleng-geleng kepala.

"Susah, jika dia ingin meluluhkan Baekhyun. Baekhyun– terlalu membencinya." kata Jongin lalu merangkul Namjoon dan Taehyung.

"Pasti bisa, bagaimana pun Chanyeol cinta pertama nya!" kata Taehyung dengan semangat.

"Karna cinta pertamanya itu, bodoh! Chanyeol kan selingkuh, jadi pasti Baekhyun membencinya." sahut Namjoon tak mau kalah.

Taehyung mengibas-ngibaskan tangannya di udara– tanda tak peduli perkataan Namjoon. "Terserah kau saja lah."


Kyungsoo melirik ponselnya yang berbunyi– Jongin menelfonnya. Lalu dengan cepat ia langsung mengangkat telfon dari Jongin. "Apa?"

"Hai!" sapa suara di sebrang.

"Ada apa, Taehyung?" tanya Kyungsoo– dia sudah hafal suara sohib Jongin. Jadi dia dengan mudah menebak siapa yang menelfon.

"Hehehehehe– tau saja."

"Kenapa?"

"Hai, sayang. Begini, Baekhyun ada? Chanyeol ingin berbicara." kata Jongin. Kali ini memang Jongin.

"Tidak," kata Kyungsoo cepat. "Tidak akan." putus Kyungsoo telak.

"Dari pada Chanyeol menelfon langsung ke ponsel Baekhyun?"

Terdiam– benar juga pikir Kyungsoo. Baekhyun akan langsung mengganti nomornya jika Chanyeol menghubunginya. "Oke." katanya singkat.

"Baek..."

"Baekhyun."

Baekhyun yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan Jongdae menoleh. "Kenapa?"

Kyungsoo menutup speaker ponselnya, lalu berkata. "Chanyeol ingin berbicara."

"Tidak." sahut Baekhyun cepat.

"Dari pada dia menelfon ke nomor mu langsung?"

Baekhyun terdiam– lalu mengangguk dengan malas. Dia tak mungkin mengganti nomornya lagi kan? "Sini." katanya meminta ponsel Kyungsoo.

"Ada apa?" tanya Baekhyun ketika ponsel itu sudah ia speaker kan.

"Hai, Baek~"

"Hai, Namjoon. Jadi ada apa?" tanya Baekhyun to the point.

"Chanyeol ingin berbicara." kata Jongin– kali ini memang suara Jongin.

Jongdae dan Kyungsoo menepuk-nepuk punggung Baekhyun. "Ya sudah, bicara saja." katanya dengan malas.

"Hai, Baekhyun?" Chanyeol– ya kali ini suara Chanyeol. Terdengar bersahabat– dan Baekhyun benci itu.


Jongin memberikan kode bahwa Baekhyun ingin berbicara. Lalu, Chanyeol melangkah ke arah Jongin, dan men speaker kan ponsel Jongin. "Hai, Baekhyun." mencoba memberikan kesan yang terbaik.

"Ya." sahut Baekhyun tak begitu antusias.

"Baju nya. Akan aku antar ke kampus mu." kata Chanyeol langsung.

"Tidak perlu. Titip saja pada Jongin."

"Aku akan tetap mengantarnya. Jika kau pergi, aku akan ke apartement mu." putus Chanyeol– lalu mematikan sambungan telfonnya.

Namjoon menggelengkan kepalanya. "Kau terlalu memaksa, bro. Cewe itu suka kelem–"

Plak

Satu tamparan mendarat di jidat Namjoon.

"–Baekhyun lelaki." sahut Taehyung dengan kesal penuh dengan penegasan. Memang sih Baekhyun itu–errr cantik. Ya, sudah lah. Kalau terus bahas Baekhyun, bisa khilaf kita.

Chanyeol terkekeh melihat mereka, lalu memadang Jongin. "Tenang, aku tidak akan main-main lagi dengan Baekhyun."

"Jangan dekati dia lagi–"

"Hei! kenapa tidak boleh?" protes Chanyeol.

"Aku rasa kau cukup tahu, bahwa Baekhyun mem–"

"Cinta dan benci itu beda tipis." potong Chanyeol cepat.

"Perkataan kuno." kata Taehyung dan Namjoon bersamaan. Jongin hanya menghela nafas berat– tidak mengerti jalan fikiran Chanyeol.

"Chanyeol– jangan dekati Baekhyun lagi! Hey– hey! Tunggu aku, sialan!" teriak Jongin, karna ia ditinggali oleh mereka bertiga.


"Baekhyun."

Baekhyun menolehkan kepalanya, dan terlihat Kris dan Sehun datang sambil membawa beberapa snack.

"Yo!" sapa Jongdae melihat Kris dan Sehun.

"Geser sedikit dong, Baek." kata Sehun sambil mendorong Baekhyun kesamping.

Baekhyun mengeram kesal. "Aku ini sudah paling pinggir, Sehun!" Baekhyun lantas bergeser lagi. "Kau, yang geser ayam sialan!"

"Kau PMS ya?"

"Iya! Kenapa!? Tidak pernah lihat cowok PMS?" sembur Baekhyun tak suka– bodo amat, tentu saja dia berbohong kalau dia pms. Dia sedang kesal, oke?

Kris mengacak rambut Baekhyun penuh sayang. "Walaupun kau cowok ber-PMS aku tetap cinta kok."

"Dasar tukang cari muka!" amuk Baekhyun kesal. "Dan aku bukan COWOK BER-PMS–"

Mulut Baekhyun di bekap seketika oleh Sehun. "Diam." katanya, lantas memiringkan kepalanya ke samping untuk melihat apa yang dilihat nya. "Lihat– Luhan, cantik kan?"

Seketika Baekhyun terdiam– ya, cantik. Menawan. Pintar. Sampai Chanyeol berselingkuh dengannya. Bajingan. Baekhyun melepas tangan Sehun yang membekap nya, dan mengelap bibirnya dengan kasar. "Ya, dia luar biasa sempurna." sahutnya dengan nada se sinis mungkin.

Kyungsoo mengerti tatapan dan ucapan Baekhyun. Dia tahu bahwa Luhan– dulu– dengan Chanyeol. Dipergoki oleh Baekhyun. Dia tahu semuanya.

"Kau kenapa sih, tidak suka sekali dengan Luhan? kalian ada masalah?" tanya Sehun penasaran. Selama Sehun menyukai Luhan– Baekhyun selalu terlihat tidak suka. Atau jangan-jangan dia suka pada ku? Pikir Sehun, lantas membuatnya terkikik sendiri.

Jongdae lantas mencetus. "Coba kau bayangin– kalau ia suka dengan Luhan. Yang jadi seme nya siapa? HAHAHAHAHAHAHAHA–"

"Tidak lucu."

"HAHAHAHAHAHAHAHA–"

Baekhyun bersedia– siap dan siaga untuk melempar kotak susunya yang kosong ke arah Jongdae atau Sehun. "TIDAK LUCU, BEDE–"

"Ups–"

Kotak susu kosong itu mendarat mulus di kepala seorang sunbae. Baekhyun terdiam seketika– mampus! Pikirnya. Aduh, sunbaenya di gerombolan anak populer lagi– astaga! Aku tidak mau terulang lagi, di bully karna berurusan dengan anak populer. Eh– tapi Kris dam Sehun kan anak populer ya? Kalau Baekhyun pikir-pikir lagi.

Tapi, Kris dan Sehun itu beda– walaupun populer. Tapi tolol. Dan, tidak laku di pasaran– karna mereka hanya berjuang untuk Yixing dan Luhan. Sialnya, Yixing itu sepupunya– jadi bocah tinggi tidak tahu diri bergigi tinggi itu selalu cari muka terhadapnya. Kalau Sehun– sungguh Baekhyun tak ingin membahasnya karna berurusan dengan Luhan.

Luhan. Lelaki yang dulu ia jumpai bersama Chanyeol. Mengingat namanya saja, membuat hati Baekhyun mendidih.

"Siapa tadi yang lempar?"

–buyar semua lamunan Baekhyun.

Kyungsoo, Jongdae, Sehun dan Kris lantas menunjuk Baekhyun dengan sigap dan cepat. –sahabat tidak tahu diri.

Baekhyun mendongak– dengan mata berkedip berkali-kali. Dan tersenyum gugup. "Ah– maaf ya. Tadi itu, aku. Nah, begini–"

Laki-laki itu terdiam, ketika Baekhyun mendongak dan menatapnya instens. "Tidak usah di jelaskan. Tidak apa-apa." sahut lelaki di hadapan Baekhyun tenang.

Baekhyun mengerjap matanya berkali-kali. Aman nih dirinya? Udah? Tidak di marahin? Lantas ia tersenyum senang, dan terkekeh sendiri. "Hehehehehe– Terima kasih ya, sunbae." kata Baekhyun dengan cengengesan.

Sunbae itu lantas tersenyum. "Sama-sama. Ah, ya. Nama ku Lee Junki." sambil menyodorkan tangannya.

Baekhyun terdiam ini kenapa kenalan lagi? Dia bodoh atau apa? Siapa yang tidak tahu namanya– dari jurusan teater dan drama. Baekhyun memandang tangan Junki dengan ragu ingin menyambut atau tidak. Tapi, Jongdae dengan tidak tahu dirinya mengangkat tangan Baekhyun dan meletakkan di tangan sunbae yang bernama Junki– tadi. Baekhyun lantas melirik ke arah Jongdae. Dan Jongdae hanya mengedikkan tahu.

Baekhyun kembali menatap ke arah Junki. "Byun Baekhyun. Baekhyun." sahutnya sambil tersenyum tipis.

"Senang ber–" belum sempat Junki menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba saja sorakan dari gerombolan teman-teman Junki.

"Wah! Ternyata Junki tidak menyukai orang!" sahut lelaki bernama Nam Jo Hyuk– kalau Baekhyun tidak salah. Baekhyun melirik lelaki itu dengan heran dan kesal– jadi dia ini apa kalau bukan orang? Setan? Iblis–"

"Dia menyukai seorang malaikat!" sambungnya lagi.

Uh-oh.

Baekhyun merona.

Lelaki di samping yang bernama Jisoo (omong-omong mereka satu jurusan) juga menyahuti. "Yoho, benar sekali bro! Baekhyun akan di dekati oleh Junki."

Baru saja seseorang ingin menimpali omongan Jisoo. Jun ki terlebih dulu memotong ucapannya. "Tutup mulut mu, Hong Jonghyun."

Lelaki yang dipanggil Jonghyun itu lantas terkekeh.

"Maafkan sahabat-sahabat ku yang sialan itu ya."

Baekhyun lantas terkekeh. "Tidak masalah, sahabat ku yang ini–" ia menunjuk dari Kyungsoo sampai Kris di pojok. Lalu kembali berkata. "–mereka tiga kali lipat lebih sialan dari sahabat mu."

"Pantat monyet, kau Baekhyun." desis Kyungsoo.

"Daki monyet, kau Baekhyun." lantas Sehun ikut menimpali ucapan Kyungsoo.

"Upil monyet, kau Baekhyun." Kris juga ikut-ikutan.

Jongdae melirik ke arah Kris sebentar, dan kemudian berkata. "Jigong Kris, kau Baekhyun." sontak membuat yang lain tertawa terbahak-bahak.

Kris menggeplak kepala Jongdae. "Sialan! Kenapa bawa-bawa jigong ku?"

Baekhyun lantas menoleh ke arah Junki seolah-olah berkata lihat-mereka-benar-kan-apa-yang-ku-katakan dan setelah itu Baekhyun tertawa lepas.

Entah kenapa– seketika Junki terpesona karna tawa lepas lelaki di hadapannya.

Byun Baekhyun.


"Woho–"

"Latihan yang serius! Aku ingin pulang nih." amuk Baekhyun kesal melihat tingkah Kris dan Sehun. Mereka akan tampil kurang lebih seminggu lagi– tapi mereka berdua terlihat biasa-biasa saja.

Jongdae lantas merebahkan badannya di sofa di studio musik di kampus. "Ayo, cepat. Semakin cepat latihan– semakin cepat kita makannya!

Sehun langsung mengambil ancang-ancang melepas bass nya. "Kita sudahi saja latihannya, dan ayo menuju ke apartemen Kyungsoo dan Baekhyun! Untuk makan yang lebih cerah!"

"Cerah– matamu!"

Kyungsoo mendelik matanya tak suka– kalau sesekali mereka main ke apartement dirinya dan Baekhyun. Kyungsoo mah santai saja. Tapi mereka ini sangat sering– bahkan dengan tidak tahu dirinya mereka selalu menginap disana. Numpang makan disana. Dan memberantakkan, rumah. Belum lagi, snack yang mereka habisi.

"Kalau apartement kami berantakan dan tidak kalian rapikan. Aku pecat jadi mahasiswa di sini." kata Kyungsoo dengan kejam.

Sehun lantas bertanya. "Memangnya kau siapa?"

"Aku? Aku mahasiswa di sini." sahut Kyungsoo santai.

Sehun menyesal bertanya. Sungguh.

.

.

.

Sehun membuka password apartement Kyungsoo dengan lancar– lalu ia masuk sambil mendumel tidak jelas. "Lain kali jangan biarkan Kyungsoo yang menyetir mobil."

"Setuju!" sahut Jongdae mengituki Sehun yang duluan masuk. "Kakinya tidak sampai menginjak pedal gas! Makanya kita lama sampai ke rumah kita. Aduh, bokong ku sungguh nyeri." katanya sambil memegang bokongnya.

Kyungsoo mempercepat langkah. Dan memukul kepala Jongdae dari belakang. "Setan! Kau fikir aku pendek sekali? Kita harus hati-hati dalam menyetir bodoh." lalu ia kembali berkata. "Tolong coret kata rumah kita. Karna– INI APARTEMENT KU DAN BAEKHYUN!"

"Siapa?" tanya Kris.

"Aku lah." sahut Kyungsoo.

"–yang nanya..." sambung Kris.

"Bajingan." kata Kyungsoo sambil mengelus dadanya. "Sabar Kyungsoo. Sabar karna dekat-dekat dengan kumpulan setan seperti mereka." lalu menutup pintu apartementnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Kyungsoo lantas mengangkatnya dengan cepat.

"Oh, kau ke kampus?"

"Kami sudah di apartement."

"Yasudah, datang saja."

.

.

.

.

"Kyungsoo– ayo pesan ayam goreng!"

"Kyungsoo– di mana remote tv?"

"Jangan sentuh bokong ku, sialan!"

"Hey Baekhyun, suruh Yixing ke sini dong."

Tok tok tok tok

Kyungsoo mencolek Sehun. "Itu ada yang ketuk pintu."

Sehun menoleh. "Tidak mau." lalu ia mencolek Baekhyun. "Ada yang ketuk pintu tuh, tolong buka."

"Oke." sahut Baekhyun santai. Lalu ia mencolek Kris yang sedang menyandar di bahu nya. "Ayo, buka pintu. Nanti ku suruh Yixing ke sini!"

"Tid– Oke! Baekhyun ayo buka pintu." ajak Kris.

Kris lantas berdiri dan menoleh ke arah Baekhyun yang tengah berdiri di atas sofa– seperti ingin minta di gendong belakang. "Pintu itu jaraknya dekat, setan. Kenapa harus mengajak ku?"

"Ingin di gendong belakang! WOHO~"

Hap

Baekhyun mendarat mulus di punggung Kris.

Dengan niat bertemu Yixing– Kris berusaha sabar membawa Baekhyun menuju ke pintu dengan menggendongnya di belakang. "Aku tidak berat kan?" tanyanya di dekat telinga Kris.

"Tidak, kau seringan bulu." sahut Kris penuh dengan kedustaan– jelas sekali. Dia menjawab dengan nafas yang terengah-engah.

"Stop– nah, sudah sampai! Silahkan buka pintunya, sayang~" kata Baekhyun memerintahkan Kris.

Kris mendengus lalu membuka pintu apartement sambil mendumel. "Coba kau manis terus, seperti ini. Kan jadi semakin cinta wahai ad–"

"Baek– eh?"

Baekhyun langsung menoleh kedepan. Dan tampak Jongin bersama Chanyeol, Namjoon dan Taehyung. Baekhyun melihat bahwa Chanyeol manatap Kris dengan tidak suka–mungkin perasaannya saja ya?

"Oh, ingin mengembalikan baju kan? Jadi mana baju ku?" tanya Baekhyun langsung.

Chanyeol menyerahkan sebuah kantong kertas berwarna coklat. Dan ketika Baekhyung ingin mengambilnya. Kris lebih dulu memgambil dan mengeceknya.

Kris menggerutkan dahi nya. "Ini kan baju ku?"

"Oh, dia meminjamnya. Baju ku kan tidak muat jika di pin–"

Ucapan Baekhyun terhenti ketika Kris mendekatkan kepalanya dan membisik kan sesuatu. "Bukan kah dia si bajingan itu? kenapa dia menemuimu lagi?"

Baekhyun diam tak menjawab– hanya mengulas sebuah senyuman. Dan, Kris dapat mengetahui apa maksudnya.

Kris lantas menoleh ke arah Chanyeol. "Kau dan kau, kau. bisa pulang sekarang. Kalau Jongin disini tak masalah– aku elergi dekat-dekat dengan bajingan yang menyakiti sahabat ku."

Oh, dia hanya sahabat Baekhyun? Pikir Chanyeol.

Taehyung ingin protes– kenapa ia di katai bajingan juga?– Namun, ditahan Namjoon. "Sudahlah, ayo. Chanyeol– ayo." ajak Namjoon.

Chanyeol tidak bergeming. Lalu ia berkata. "Aku masih tidak akan pergi. Seperti yang aku katakan kemarin." kata Chanyeol menyiratkan maksud yang lain– dan Baekhyun dapat mengerti apa yang di maksud bajingan itu.

Baekhyun lantas turun dari punggung Kris dan jalan mendekat ke arah Chanyeol. "Silahkan jika kau tak ingin pergi. Asal jangan pernah berharap lebih, bajingan. Apalagi berharap untuk aku memaafkan mu atau apapun itu."

.

.

Tbc

.

.

.

YOHO APA KABAR, GUYS?

SELAMAT MALAM JUMAT! WKWKWK

makin absurd banget suer. Ini ff nya paling ga lebih dari belasan(?) karna buat ff ini mah iseng doang ehehehehe~

Ah, iya! Btw, makasih yang udah review kemarin di chap 2 /peluk hangat/

kalau suka lagi— boleh kali review lagi HEHEHEHEHEHEHE~

SEE YOU SOON?

Jangan lupa review!