Not Just Babysitter
Chapter 3
Main Casts : Oh Sehun, Xi Luhan (GS), Oh Haowen (OC)
Support Casts : Find it by yourself
Genre : AU, Family, Romance
Length : Multichapter
2016©Summerlight92
Kebanyakan dalam film atau drama, tokoh perempuan yang menjadi korban penculikan biasanya disekap dalam sebuah rumah tua atau gudang tak terawat yang kumuh dan kotor. Tangan dan kakinya terikat supaya tidak bisa melarikan diri, juga mulut yang disumpal kain atau ditutup rapat dengan lakban hitam agar perempuan itu tidak berteriak meminta pertolongan.
Entah bisa disebut keberuntungan atau tidak, yang pasti situasi dalam film maupun drama itu berbanding terbalik dengan apa yang dialami Luhan.
Awalnya Luhan mengira bahwa ia akan berakhir tragis di tangan ketiga pria 'sialan' yang semalam menculiknya. Ternyata perkiraan Luhan meleset.
Sewaktu Luhan membuka mata untuk keesokan harinya, semua pikiran buruk itu sirna.
Luhan tidak berakhir dalam kondisi tangan dan terikat, mulut yang disumpal kain, atau sebuah tempat yang tak terawat, kotor, dan kumuh seperti yang biasanya ada di dalam film maupun drama yang pernah ia tonton.
Nyatanya, Luhan justru berada di tempat yang bisa dikatakan jauh dari kata buruk, alias tempat yang sangat layak.
Untuk ukuran sebuah kamar, ruangan yang sekarang ditempati Luhan sangat luas. Ranjang berukuran king size yang begitu nyaman, beberapa perabotan mewah yang tersusun apik sesuai tempat dan fungsinya, kamar mandi dalam dengan bathtub, dan jangan lupakan balkon kamar yang langsung menghadap sebuah kolam renang.
Di mana aku?
Itu pertanyaan pertama yang terlintas dalam pikiran Luhan. Tidak pernah mengira bahwa dirinya akan berada di sebuah tempat layaknya surga duniawi bagi mereka yang memiliki kekayaan berlimpah.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Luhan masih ingat kalau salah satu dari mereka, sempat mengatakan bahwa mereka menginginkan tubuhnya. Asumsi Luhan mengatakan bahwa dia akan kehilangan sesuatu yang berharga bagi seorang wanita.
Kenyataan yang sangat melegakan bagi Luhan karena perkiraannya kembali meleset.
Pakaian yang ia kenakan semalam masih utuh. Tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja menjamah tubuhnya dengan brutal, layaknya pria hidung belang yang memperkosa perempuan incarannya. Ia juga memastikan bahwa dirinya baik-baik saja, hanya sedikit pusing karena efek dari perbuatan mereka yang dengan sengaja membuat kesadarannya menghilang setelah membekap mulutnya dengan saputangan yang sudah diberi cairan khusus.
Bisakah seseorang menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?
CKLEK!
Perasaan was-was sempat menggelayuti Luhan ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Beruntung ia bisa sedikit bernapas lega melihat kemunculan seorang perempuan dengan seragam khas pelayan.
"Oh, maafkan saya." Perempuan itu membungkuk sopan ke arah Luhan. "Saya tidak tahu kalau Anda sudah bangun."
Masih dengan ekspresi kebingungan, Luhan membiarkan perempuan itu menghampirinya dengan satu setel pakaian di tangan. Luhan menaikkan sebelah alisnya, bermaksud meminta kejelasan pada pelayan itu.
"Ini pakaian ganti untuk Anda, Nona," katanya sambil meletakkan satu setel pakaian di samping Luhan, "Saya akan menyiapkan air mandi untuk Anda."
"Tunggu!"
Perempuan itu berbalik dan memandangi Luhan dengan sorot mata teduh, "Apa Anda membutuhkan sesuatu, Nona?"
Luhan menggeleng cepat. Ia sudah tidak tahan dengan gelagat pelayan itu yang terkesan tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. "Bisakah kau memberitahuku, siapa yang membawaku ke sini?" tanyanya dengan nada memohon. Wajahnya terlihat gelisah, seiring binar matanya yang kini meredup.
"Tentu saja, Nona. Tuan kami yang membawa Anda ke sini."
"Tuan?" Dahi Luhan berkerut, "Pemilik rumah ini?"
Perempuan berkacamata itu mengangguk lagi.
"Siapa dia?! Mau apa dia membawaku ke sini?!" cecar Luhan tak sabar. Ia bahkan tak sadar sampai menaikkan volume suaranya karena terpancing emosi. Aku ingin pulaaaang!—batinnya berteriak frustasi.
"Ma-maafkan saya, Nona. Saya tidak bisa memberitahu Anda," perempuan itu membungkuk dengan wajah bersalahnya. "Saya hanya disuruh beliau untuk memastikan Anda sudah membersihkan diri, dan juga menghabiskan sarapan yang kami siapkan. Lalu kami juga harus memastikan bahwa Anda tidak meninggalkan kamar ini sampai beliau pulang."
"MWO?!"
Pelayan itu menunduk takut. Di matanya, Luhan terlihat menakutkan dengan kilat kemarahan pada sepasang mata rusanya.
"Dia menyekapku di sini, lalu memberi pakaian ganti dan juga makanan untukku. Sungguh cara menculik yang elegan sekali," sindir Luhan. Dewi batinnya mengumpat pria yang sudah menculiknya semalam dan membawanya ke sini. Terlepas dari pelayanan terbaik yang Luhan peroleh, tetap saja ia menjadi korban penculikan.
Mata Luhan mengawasi gerak-gerik si pelayan yang kini sedang berjalan mendekati kamar mandi.
"Aku harus keluar dari sini," gumamnya setelah memastikan perempuan itu mulai menjalankan tugasnya. Menyiapkan air mandi untuk Luhan.
Namun ketika Luhan memegang knop pintu, teriakan dari kamar mandi membuatnya terkesiap.
"Jangan, Nona!"
Luhan tidak peduli. Ia membuka pintu kamar dengan kasar, menghempaskannya begitu saja sampai menimbulkan suara keras. Ia baru saja akan menghirup aroma kebebasan, jika saja dua orang pria berbadan besar nan tegap tidak muncul untuk menghadang langkahnya.
Tanpa bertanya pun Luhan sudah tahu kalau mereka adalah orang suruhan si penculik itu yang bertugas mengawasinya. Ia sempat melihat mereka berdiri bersebelahan di depan pintu kamar.
"Mau apa kalian?" Luhan geram dan menatap nyalang pada keduanya. "Minggir!"
"Anda tidak diperbolehkan keluar dari kamar ini, Nona," ucap salah satu dari mereka.
"Aku tidak peduli!" Luhan tetap pada pendiriannya. Ia mencoba menerobos dari hadangan dua pria itu, namun tubuhnya yang lebih mungil membuatnya sedikit terpental ke belakang. Belum lagi saat salah satu dari mereka dengan mudahnya mengangkat tubuh Luhan layaknya karung beras.
Luhan kalah telak.
Pria itu membawanya kembali ke ranjang kamar seperti semula.
"YA! LEPASKAN AKU!" amuk Luhan sambil meronta dan memukuli punggung pria yang menggendongnya itu.
"Beritahu kami jika Nona sudah selesai mandi. Kami akan membawakan sarapan untuknya. Setelah itu, kau harus tetap di sini sampai Nona Luhan menghabiskan makanannya," salah satu rekannya berpesan pada pelayan yang berdiri di dekat kamar mandi dengan raut wajah takut.
"Ba-baik."
Luhan bergidik karena mendapati tatapan tajam dari kedua pria itu.
"Jika Anda tidak ingin mendapat masalah, sebaiknya Anda tidak melakukan perlawanan, Nona." Kali ini salah satu dari mereka tersenyum tulus pada Luhan. "Kami berani menjamin jika Tuan kami tidak akan melakukan hal buruk pada Anda, asalkan Anda bersedia menunggu di kamar ini sampai beliau pulang."
Tak ada balasan yang terlontar dari mulut Luhan. Wanita ini terlalu kaget dengan perlakuan kedua pengawal itu, namun lebih terkejut lagi saat mendengar mereka menyebut namanya. Bukankah itu berarti pemilik rumah ini mengenalnya?
Lalu siapa?
Siapa pemilik rumah ini yang sudah menculiknya dan terjebak dalam situasi tak menyenangkan seperti ini?
..
..
..
"Sayang, apa Luhan menghubungimu?"
Kerutan samar di dahi Baekhyun terlihat. Wanita itu menggeleng pelan, lalu mengamati perubahan ekspresi Chanyeol yang begitu kentara. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja sampai di apartemen Chanyeol. Keduanya sudah sepakat untuk meluangkan waktu kosong mereka—selagi tidak ada jadwal mengajar—di apartemen pria bermarga Park itu.
"Memangnya kenapa?" Baekhyun mendapati wajah gelisah sang kekasih, dan itu mengundang rasa penasaran dalam benaknya.
Chanyeol terdiam sejenak sambil bertopang dagu. "Sooyoung-noona menyuruhku untuk menggantikan tugas Luhan hari ini."
Baekhyun menoleh kaget. "Menggantikan tugas Luhan? Kenapa?"
"Kata Sooyoung-noona, tadi ada seseorang yang menghubunginya dan mengatakan kalau hari ini Luhan tidak bisa bekerja karena ada keperluan," jelas Chanyeol dengan tenang, meski kekhawatiran sangat terlihat jelas di wajahnya. "Apa semalam Luhan menghubungimu? Tadi pagi aku sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif."
"Tidak, Yeol. Semalam dia sama sekali tidak menghubungiku," Baekhyun terlihat gelisah dan Chanyeol menyadari ini bukan pertanda baik. Mengingat mereka paham betul bagaimana kebiasaan Luhan yang selalu memberi kabar jika harus meninggalkan pekerjaan karena ada kepentingan lain.
Apalagi menurut pengakuan Sooyoung, bukan Luhan yang memberinya kabar melainkan orang lain.
"Siapa yang memberitahu Sooyoung-eonni, Yeol?"
"Katanya seorang pria," jawab Chanyeol seadanya. Sesuai dengan pengakuan Sooyoung sesaat yang lalu.
"Pria? Siapa?"
"Mana aku tahu." Chanyeol mengangkat bahunya. "Sempat terpikir kalau itu Yifan-hyung."
"Itu tidak mungkin," Baekhyun menyangkal dengan tegas. "Yifan-oppa sedang berada di China, baru akan pulang ke sini sekitar 1 bulan lagi. Kalau kita berpikir Luhan mendadak harus pergi ke sana, itu juga mustahil. Dan kalaupun urusan Luhan memang ada kaitan dengannya, sudah pasti Yifan-oppa akan menghubungi kita lebih dulu."
"Kau benar," mau tak mau Chanyeol sependapat dengan Baekhyun. Mengenal Luhan sejak duduk di bangku kuliah, otomatis membuat keduanya juga mengenal baik sosok kakak sahabatnya itu. Seperti yang disampaikan Baekhyun, jika Luhan mempunyai urusan dengan Yifan dan dia tidak bisa memberi kabar pada mereka, sudah pasti Yifan yang akan menghubungi mereka.
"Yeol, entah kenapa firasatku tidak enak," Baekhyun berujar lirih. "Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Luhan?"
Chanyeol menggeleng cepat, lalu menggenggam kedua tangan Baekhyun.
"Percayalah, dia pasti baik-baik saja," ujar Chanyeol menenangkan Baekhyun. "Kita tunggu sampai nanti sore dan terus mencoba menghubunginya. Kalau tetap tidak ada kabar, baru kita pergi ke apartemennya. Bagaimana?"
Baekhyun tampak berpikir, namun setelah melihat wajah Chanyeol yang terlihat meyakinkan, wanita ini pun mengangguk setuju.
"Ya, semoga saja Luhan baik-baik saja," lirih Baekhyun dengan senyum tipisnya.
..
..
..
Bosan dan frustasi.
Berada dalam kamar dengan fasilitas mewah, namun tak ada yang bisa Luhan lakukan, selain berbaring di atas ranjang, duduk pada sofa yang tersedia, atau menikmati angin semilir di balkon kamar. Kegiatan itu sudah ia lakukan berulang kali dan lama-kelamaan membuatnya bosan setengah mati.
Bibir wanita ini tak ada hentinya mengeluarkan sumpah serapah untuk sang pemilik rumah yang sudah menyekapnya dalam kamar seperti sekarang.
"Hhhh ... membosankan!" umpatnya frustasi.
"Apa Nona sudah makan siang?"
Luhan langsung siaga begitu mendengar suara berisik yang berasal dari luar kamar. Dengan langkah mengendap-endap, ia mendekati pintu agar bisa menguping pembicaraan yang terjadi di luar sana.
"Sudah. Aku baru saja keluar sambil membawa trolley makanan yang sudah kosong. Nona menghabiskan makan siangnya."
Wajah Luhan sedikit merona mendengar pengakuan dari perempuan yang ia yakini adalah pelayan yang diperintahkan untuk melayaninya sejak pagi tadi. Bisa dibilang, Luhan ini tipe orang yang tidak mau rugi. Dalam situasi apapun, Luhan tidak akan menyia-nyiakan begitu saja jika ada seseorang yang menyuguhi hidangan super mewah nan lezat.
Sudah pasti Luhan menghabiskannya, tak peduli dengan statusnya sekarang yang merupakan sandera di rumah ini.
"Buka pintunya. Tuan sebentar lagi akan pulang dan waktunya Nona Luhan menemui beliau."
"Baik."
Jantung Luhan berdetak lebih cepat dari biasanya. Meskipun sejak beberapa jam lalu ia terus mengumpat karena sudah kehilangan kesabaran menunggu sang pemilik rumah, entah mengapa sekarang ia mendadak berubah gugup.
CKLEK!
Luhan nyaris terjatuh karena berjalan mundur dengan panik. Tangannya meremas ujung rok yang ia kenakan, seiring rasa gugup yang semakin membuncah dalam dirinya. Kini pandangan Luhan tertuju pada salah satu pengawal yang menjaga kamar tempatnya berada. Wanita ini hanya bisa menghela napas panjang ketika pria itu tersenyum padanya.
"Tuan sebentar lagi akan pulang, Nona. Waktunya Anda bersiap untuk menemui beliau," ucap pria itu. "Saya akan mengantar Anda ke ruang kerjanya."
"Ruang kerja?"
"Benar, Nona. Tuan sudah menyuruh saya untuk membawa Anda ke sana," pria itu tersenyum lagi.
Luhan menautkan kedua tangannya yang kini berkeringat. Ia masih terdiam dengan pandangan kosong pada pria itu, sampai akhirnya sebuah pemikiran muncul dalam benaknya.
"Maaf, bolehkah aku menghubungi seseorang sebelum aku bertemu tuanmu?"
Tepat dugaan Luhan, wajah pria itu berubah drastis.
"Aku harus menghubungi temanku. Mereka pasti khawatir karena aku tidak memberi kabar," Luhan menunduk dalam. "Bisakah kau menanyakannya pada tuanmu? Aku benar-benar harus menghubungi temanku."
Pria itu masih terdiam.
"Aku janji, setelah menghubungi temanku aku akan patuh dan menuruti apa kata tuanmu."
Seringaian muncul di bibir pria itu dan sesaat membuat Luhan ragu apakah ucapannya barusan sudah benar atau justru sebaliknya.
"Tunggu sebentar. Saya akan menghubungi beliau terlebih dahulu," pria itu berbalik dan keluar dari kamar. Luhan menantinya dengan cemas, berharap jika ia mendapat izin untuk menghubungi Baekhyun ataupun Chanyeol.
Dibandingkan kekhawatiran Luhan terhadap dua sahabatnya itu, dia jauh lebih khawatir akan nasib anak didiknya yang kini mempunyai jadwal belajar dengannya. Ah, Luhan pikir ia juga harus menghubungi Sooyoung—salah satu pengurus di tempatnya bekerja sebagai pengajar les privat.
"Ini, Nona," tanpa Luhan sadari pengawal tadi sudah kembali menemuinya sambil menyodorkan ponsel. "Anda hanya diperbolehkan menggunakan ponsel ini untuk menghubungi teman Anda."
Luhan terdiam. Sejujurnya ia ingin menggunakan ponselnya sendiri, tapi Luhan tahu itu tidak mungkin, karena sejak terbangun di kamar ini, Luhan sama sekali tidak menemukan tas miliknya.
"Tuan berjanji akan mengembalikan tas milik Anda jika urusan sudah selesai," lanjut pria itu lagi seolah bisa membaca pikiran Luhan.
"Aku mengerti," Luhan menghembuskan napas panjang, kemudian jemari tangannya dengan cepat menekan nomor pada layar ponsel. Ia putuskan untuk menghubungi Sooyoung terlebih dahulu, sebelum beralih pada Baekhyun atau Chanyeol.
"Yeoboseyo?"
"Eonni, ini aku, Luhan. Maaf aku tidak bisa mengajar untuk hari ini karena—" Luhan baru saja ingin mengatakan alasannya menelepon Sooyoung, namun kalimat yang terdengar dari seberang sana membuat wanita ini mendadak bungkam.
"Ada yang sudah memberitahumu kalau aku izin?" Luhan terperangah, "Ah, tidak. Aku hanya ingin mengonfirmasi padamu saja, Eonni. Berarti temanku memang sudah menghubungimu."
Lagi, Luhan hanya terdiam dan mendengar penjelasan Sooyoung soal Chanyeol yang menggantikan tugasnya.
"Baik, aku mengerti." Luhan menghela napas, "Terima kasih atas izinnya, Eonni."
PIP!
Sorot mata Luhan tampak sayu dengan kepalanya yang tertunduk. Ia tidak yakin, tapi firasatnya mengatakan bahwa seseorang yang menghubungi Sooyoung pasti pria yang menculiknya. Ya, itu sudah pasti. Artinya, tak diragukan lagi bahwa pria itu pun mengetahui apa dan di mana Luhan bekerja. Aish, sebenarnya siapa pria itu?
"Nona?"
Luhan tersentak dari lamunannya dan hanya menatap datar pada pengawal itu.
"Ah, tunggu sebentar. Masih ada yang harus kuhubungi," dengan terburu-buru Luhan kembali menekan tombol pada ponsel. Binar matanya tak lagi terang seperti sebelumnya, karena Luhan terlanjur kecewa dengan sikap si penculik itu. Seenaknya menghubungi tempatnya bekerja dan mengatakan seolah mereka saling mengenal.
Ini benar-benar membuat Luhan frustasi.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Maaf, ini siapa?"
"..."
"Kalau kau tidak mau bicara, akan kututup."
Luhan menghela napas lagi, "Ini aku."
"..."
"Baekhyun?"
"LUHAN?!"
..
..
..
Chanyeol membereskan buku dan alat tulisnya. Ketika ia memasukkan barang-barang tersebut ke dalam tasnya, atensi Chanyeol teralih sejenak pada ekspresi masam gadis kecil di depannya.
"Ada apa, Jiyoon?" tanya Chanyeol pada gadis yang tak lain adalah anak didik Luhan. Ingat, hari ini Chanyeol hanya bertugas menggantikan jadwal Luhan, dan Jiyoon termasuk salah satu di antaranya.
Jiyoon menggeleng singkat, "Hanya merindukan Luhan-ssaem. Tidak biasanya Luhan-ssaem izin tidak bisa mengajar," katanya dengan nada sedih.
Chanyeol tersenyum maklum. Rupanya bukan hanya ia dan Baekhyun sebagai sahabat yang tahu persis bagaimana cara bekerja Luhan yang terkenal disiplin dan penuh tanggung jawab. Selain Jiyoon, anak didik sebelumnya yang juga diajar oleh Chanyeol untuk hari ini turut mengeluhkan hal yang sama.
"Luhan-ssaem terpaksa izin karena ada keperluan," Chanyeol mengusap lembut kepala Jiyoon. "Apa kau tidak senang diajar olehku?"
Sebenarnya Chanyeol hanya bermaksud menggoda Jiyoon saja sebagai pengalih topik pembicaraan. Tapi untungnya niat itu tidak sia-sia.
Sebab sekarang Jiyoon tengah memandangnya dengan ekspresi lucu.
"Aniya, aku senang diajar Chanyeol-ssaem. Hanya saja kalau aku diajari Chanyeol-ssaem, aku tidak bisa konsentrasi," jawab Jiyoon dengan mata berkedip polos.
"Kenapa? Apa karena ssaem sangat tampan sehingga Jiyoon tidak bisa konsentrasi?"
Tampaknya tingkat narsis seorang Park Chanyeol sudah berada di level tertinggi. Well, pria yang satu ini memang suka memuji ketampanannya sendiri, tidak peduli di manapun dia berada atau dengan siapa dia berinteraksi.
"Aniya," Jiyoon terdiam sejenak, lalu terkikik geli. "Telinga lebar Chanyeol-ssaem lucu. Seperti karakter Yoda dalam film Star Wars."
"Pffffttt ..."
Itu bukan suara Jiyoon, melainkan Baekhyun.
Chanyeol menoleh tajam ke arah wanita itu. Ia jadi menyesal sudah mengajak Baekhyun menemaninya mengajar.
Tunggu, sebenarnya bukan Chanyeol yang mengajak, tapi Baekhyun yang memaksa ikut lantaran kesal waktu kosong Chanyeol harus diisi untuk mengganti tugas Luhan. Rencana mereka untuk menghabiskan waktu bersama di apartemen pria itu terpaksa batal.
"Maaf, Yeol." Baekhyun mengusap sudut matanya yang berair. "Jiyoon terlalu jujur."
"Apa maksudmu?!"
Final, tawa Baekhyun dan Jiyoon meledak bersamaan. Sedangkan Chanyeol bersedekap dengan wajah super kusut, layaknya pakaian yang belum disetrika.
"Ada apa dengan wajahmu, Yeol?"
Chanyeol menoleh ke arah Minjung yang datang sambil membawa nampan berisi strawberry shortcake untuk mereka.
"Yuhuuu ... strawberry shortcake kesukaanku!" teriak Baekhyun riang layaknya anak kecil. Jiyoon yang melihatnya kembali tertawa. Lain dengan Chanyeol yang hanya menggelengkan kepala dengan tatapan memelas pada Minjung.
"Wae?" Minjung menaikkan sebelah alisnya. "Kau tidak suka strawberry shortcake seperti Baekhyun?"
"Bukan itu, Noona," desah Chanyeol kesal. "Mereka baru saja mengejek telingaku yang lebar seperti karakter Yoda dalam film Star Wars."
Minjung tercengang melihat bagaimana bibir Chanyeol bersungut-sungut. Setelahnya ia tergelak sambil memegangi perutnya.
"Sayangnya aku setuju dengan pendapat mereka, Yeol."
"Noona!"
Ketiga perempuan itu tertawa lagi. Puas melihat satu-satunya pria di antara mereka yang kini menjadi bahan ejekan. Poor Chanyeol.
"Tenang saja, Ssaem," Jiyoon mengusap lengan Chanyeol. "Walaupun telinga lebar Ssaem mirip seperti karakter Yoda dalam film Star Wars, Chanyeol-ssaem tetap terlihat tampan."
Meski pujian itu terlontar dari anak kecil, siapa yang tidak senang dipuji tampan? Bisa dilihat dari perubahan ekspresi Chanyeol yang semula kusut kini tampak cerah dengan senyum idiotnya.
"Aigo, Jiyoon memang anak yang jujur!"
Baekhyun hanya memutar bola matanya malas sambil menatap jengah ke arah Chanyeol. "Hentikan kebiasaan narsismu itu. Menggelikan."
"Wae? Jiyoon berkata jujur, Baek. Aku ini tampan," Chanyeol mengerling nakal ke arah Baekhyun, lalu dengan sengaja menyentil ujung dagu kekasihnya itu.
"Ish, kau ini!"
"Jangan bermesraan di depan putriku!" teriakan menggelegar dari Minjung membuat sepasang kekasih itu kompak tertawa geli. Mereka bahkan sengaja melakukan high five sambil melirik jahil ke arah Minjung. Sementara Jiyoon hanya memandang bingung pada pasangan kekasih itu yang tak ubahnya seperti pasangan idiot.
DRRT! DRRT!
"Sebentar." Baekhyun buru-buru mengambil ponselnya yang berdering. Ia mengernyit heran saat melihat private number muncul di layar ponsel.
"Yeoboseyo?"
"..."
Baekhyun bingung karena tak ada tanggapan dari si penelepon. "Maaf, ini siapa?" tanyanya lagi dan sukses mengundang rasa penasaran Chanyeol.
"..."
"Kalau kau tidak mau bicara, akan kututup," ancam Baekhyun sambil melirik Chanyeol yang sedari tadi berbisik, menanyakan siapa si penelepon itu. Baekhyun hanya bisa menjawabnya dengan gelengan singkat.
"Ini aku."
Kali ini Baekhyun yang terdiam setelah mendengar suara familiar di telinganya.
"Baekhyun?"
"LUHAN?!" Baekhyun berteriak histeris. "Astaga! Ini benar-benar kau, Lu? Kau di mana sekarang? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?! Apa yang sebenarnya kau lakukan sampai tak memberi kami kabar, Lu?!"
"Baek," Chanyeol tersenyum miris melihat kepanikan Baekhyun yang berlebihan. "Tanyakan pelan-pelan. Kau akan membuat Luhan pusing."
"Maaf," Baekhyun meringis dengan wajah bersalahnya. "Lu, kau masih mendengarku?"
"Menurutmu? Kau baru saja membuat telingaku sakit, Baek."
Tawa Baekhyun berderai. Sesaat ia melupakan kepanikannya terhadap Luhan. Dalam hati ia mengucap syukur karena Luhan akhirnya menelepon.
"Lalu, di mana kau sekarang? Apa kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun lebih tenang, tidak lagi terburu-buru seperti awal menerima telepon dari Luhan.
"Aku baik-baik saja. Sekarang aku sedang di rumah temanku karena ada keperluan yang harus kukerjakan."
"Teman?" Alis Baekhyun bertaut, "Siapa, Lu?"
"Nanti saja aku ceritakan. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama meneleponmu. Sampaikan salamku untuk Chanyeol. Terima kasih sudah menggantikan tugasku."
"Tunggu sebentar, Lu! Aku masih—Luhan? Luhan, kau mendengarku?" Baekhyun memeriksa layar ponselnya. "Aish, diputus!"
"Coba kau telepon balik," usul Chanyeol. Wajahnya tak kalah gelisah seperti Baekhyun.
"Tidak bisa, Yeol. Dia menggunakan private number," jawab Baekhyun. Wajahnya kembali terlihat murung.
"Yang penting Luhan sudah memberi kabar pada kalian. Itu artinya, dia baik-baik saja," sahut Minjung. Ia memang sudah mendengar situasi yang terjadi dari Baekhyun dan Chanyeol, saat dua juniornya di kampus dulu (selain Luhan) ini datang ke rumah. Tepat saat Jiyoon pulang sekolah yang kebetulan lebih awal dari biasanya.
"Apa yang dikatakan Minjung-noona benar," Chanyeol mengusap lembut punggung Baekhyun. "Setidaknya Luhan sudah memberi kabar dan aku percaya dia pasti baik-baik saja."
Baekhyun sebenarnya belum yakin, mengingat ia sempat mendengar suara Luhan yang bergetar sewaktu meneleponnya. Tapi, tidak ada salahnya untuk berpikir positif bukan?
"Semoga dia memang baik-baik saja, Yeol," Baekhyun membelitkan tangannya di sekitar pinggang Chanyeol, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kanan pria itu.
"Sudah kubilang jangan bermesraan di depan Jiyoon!"
"Noona!/Eonni!"
..
..
..
"Terima kasih." Luhan menyodorkan ponsel yang ia pinjam kepada pemiliknya.
Pria itu mengangguk sopan, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. "Mari, Nona. Saya akan mengantar Anda ke ruang kerja beliau," ujarnya.
Luhan memijat pelipisnya sejenak, lalu menghela napas panjang. Setelah menghubungi Baekhyun, suasana hatinya bukan menjadi lebih baik malah sebaliknya. Luhan benar-benar gugup luar biasa untuk menemui pemilik rumah ini—sekaligus pria yang sudah menculiknya.
Ketika Luhan keluar dari kamar, ia hanya bisa memandang takjub pada seisi rumah dengan desain interior yang elegan dan berkelas. Decak kagum terus keluar dari bibir mungilnya, sampai-sampai matanya nyaris tak berkedip setiap kali mereka melewati sudut rumah yang dihiasi dengan beberapa perabotan mewah.
"Silakan, Nona."
Suara itu membuyarkan lamunan Luhan. Wanita ini mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kerutan samar di dahinya muncul setelah menyadari mereka sudah berhenti di depan pintu berbahan kayu jati.
"Beliau sedang dalam perjalanan pulang dan sebentar lagi akan sampai. Anda bisa menunggunya di dalam," ucap pria itu sambil membukakan pintu ruangan itu untuk Luhan.
Tak ada suara yang keluar dari bibir Luhan, hanya anggukan kecil sebagai respon wanita itu. Langkah Luhan terasa berat saat memasuki ruang kerja yang terbilang cukup luas, didominasi warna cokelat untuk furnitur, juga warna maroon untuk sofa dan karpet yang menghiasi lantai.
"Selamat datang, Tuan."
Tubuh Luhan berjengkit saat mendengar sayup-sayup dari luar ruangan. Dia sudah datang?
Dan Luhan hanya bisa berdiri mematung dengan kepala tertunduk lesu bercampur gugup.
"Bagaimana kondisinya? Apa dia melakukan perlawanan?"
"Ya, Nona memang sempat melakukannya, Tuan. Namun Anda jangan khawatir, kami berhasil menanganinya."
"Kerja bagus. Aku akan menemuinya dan tidak menerima gangguan dari siapapun. Kecuali jika putraku nanti sudah pulang, bawa dia ke ruanganku."
"Baik."
Luhan tidak bisa berpikir dengan jernih. Pembicaraan singkat yang terdengar membuat isi kepalanya mulai dipenuhi berbagai pemikiran buruk. Dia sudah mempunyai anak? Apakah pria yang menculikku adalah seorang pria tua bangka seperti dalam film atau drama yang diceritakan Chanyeol? Oh, tidak! Aku tidak mau berakhir tragis di tangan pria yang sudah bau tanah!
CKLEK!
Mata Luhan terpejam. Ia sudah tidak peduli jika tubuhnya kentara sekali gemetaran. Ketukan sepatu pantofel dari belakang bagai lagu kematian untuknya. Oke, ini mungkin terkesan berlebihan, tapi Luhan tidak bohong kalau ia sekarang didera rasa ketakutan luar biasa.
Salahkan kebiasaan Chanyeol dan Baekhyun yang kerap berbagi cerita soal film atau drama yang baru saja mereka tonton. Bahkan pernah menyeretnya untuk ikut menonton. Maka tidak heran jika pemikiran konyol itu terus berlalu-lalang dalam kepala Luhan.
"Kenapa kau terus menunduk?"
Tunggu—rasanya aku kenal suara ini.
"Angkat kepalamu dan perlihatkan wajahmu padaku."
Benar! Aku mengenal suara ini.
"Aku sedang berbicara denganmu, apa kau tidak mendengarkanku?"
Tidak mungkin kalau pria ini ...
"Lu?"
Luhan mendongakkan kepalanya. Detik itu juga, bola mata Luhan membulat sempurna setelah melihat sosok pria yang duduk di hadapannya.
Pria dengan wajah tampan dan rahang yang tegas, kulitnya yang putih, dan tubuhnya yang tinggi seperti model.
Pria yang selama 5 hari belakangan sudah mengacaukan pikiran seorang Xi Luhan.
"Sehun?"
..
..
..
Seorang pria berkulit tan tampak turun dari mobil SUV berwarna silver. Sekilas wajahnya terlihat lelah, namun ia tetap bersemangat melangkah menuju pintu rumahnya, dengan tangan kanan menenteng sebuah paper bag, sedangkan tangan kirinya menggenggam jas semi formal miliknya.
Kim Jongin, seorang pengusaha kafe dengan 3 cabang yang tersebar di kota Seoul. Kesibukannya dalam menjalankan bisnis kafe cukup menyita waktunya bersama keluarga kecilnya. Terlebih dengan segala persiapannya sekarang yang sebentar lagi akan membuka cabang baru di kota Incheon.
Beruntung sesibuk apapun Jongin, pria ini tetap menomorsatukan kepentingan anak dan istrinya.
"Aku pulaaang ..." Jongin berteriak sambil melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Sebelum akhirnya berjalan ke ruang tengah.
"Appaaaaa!" Teriakan yang tak kalah nyaring itu menyambut kepulangan Jongin. Ia sedikit berjongkok dan membiarkan bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah putranya—Kim Taeoh—menghambur dalam pelukannya.
Jongin mengecup pipi Taeoh yang kini terkikik geli.
"Selamat datang, Appa," ucap si kecil Taeoh dengan pipi gembilnya yang terlihat lucu dan menggemaskan.
"Bagaimana sekolah Taeoh? Apakah menyenangkan?" seperti biasa, Jongin kerap menanyakan kabar sekolah Taeoh yang kini baru memasuki kelas 1 tingkat sekolah dasar.
"Eum. Tadi Taeyeon-ssaem dan teman-teman memuji kemampuan menari Taeoh, Appa," Taeoh tersenyum lebar.
"Taeoh menari?"
Taeoh mengangguk dengan mimik lucu. "Saat jam pelajaran seni, Taeyeon-ssaem menyuruh siswa untuk menyanyi atau menari. Appa tahu 'kan kalau Taeoh tidak pandai menyanyi seperti eomma? Jadinya Taeoh memilih untuk menari saja," katanya dengan mata berkedip polos.
"Wohoo ... kau memang anak appa!"
Jongin merasa bangga karena bakatnya dalam bidang dance menurun pada sang putra. Sedikit informasi, dulu semasa SMA hingga kuliah, Jongin memang aktif mengikuti klub dance dan beberapa kali memenangkan berbagai ajang lomba dance. Sampai akhirnya ia memiliki passion menjadi pengusaha sukses dengan menjalankan bisnis kafe.
"Ya, dia memang menuruni bakatmu, Sayang ..."
Suara lembut yang mengalun itu membuat Jongin sontak berdiri dari posisinya. Dari arah dapur, muncul sosok wanita bermata bulat dengan bibir kissable yang sangat menggoda. Hanya dalam hitungan detik, Jongin sudah mengikis jarak di antar mereka, lalu menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya.
"Tumben kau pulang lebih cepat?" tanya wanita itu—Kyungsoo—yang sudah resmi menyandang status Nyonya Kim setelah menikah dengan Jongin.
"Hari ini aku hanya menemui salah satu investor untuk kafe cabang di Incheon. Sisanya aku memeriksa kafe di Gangnam," jawab Jongin sambil melirik Taeoh yang diketahui sedang memandangi paper bag yang dibawanya.
"Ini apa, Appa?" tanya Taeoh penasaran.
Jongin tersenyum geli, "Menurut Taeoh apa?"
Taeoh menggeleng, lalu beralih menatap sang ibu yang juga ikut tersenyum ke arahnya.
"Eomma, kira-kira isinya apa?"
"Coba Taeoh buka," kata Kyungsoo lembut.
Dengan wajah yang didominasi raut penasaran, Taeoh pun mulai membuka paper bag yang dibawa Jongin. Kepalanya sedikit menunduk untuk melihat isi di dalam paper bag tersebut, bersamaan dengan tangannya yang mulai merogoh benda apa saja yang ada di dalamnya.
"Iron Man!" Taeoh berteriak senang ketika tangannya mengeluarkan miniatur salah satu tokoh favoritnya dari karakter film The Avengers.
"Taeoh suka?"
"Eum, Taeoh suka!" bocah itu melompat kegirangan, lalu memeluk Jongin sambil menghadiahi kecupan sayang di pipi sang ayah. "Terima kasih, Appa!"
"Sama-sama, Sayang." Jongin mengusap kepala Taeoh dengan gemas. Kemudian terkekeh pelan melihat wajah cemberut sang istri. "Wae?"
"Kau ini, sudah berapa banyak mainan Iron Man yang kau belikan untuknya?" Kyungsoo berdecak-decak. "Tidak lihat lemarinya itu sudah hampir penuh karena koleksi mainannya?"
"Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi," Jongin meringis dengan wajah tak berdosa. "Aku sudah berjanji pada Taeoh untuk membelikan mainan ini kalau dia mendapat nilai 100 untuk ulangan matematikanya kemarin."
Kyungsoo tertawa kecil, "Lain kali jangan selalu menjadikan mainan sebagai hadiah untuk Taeoh setelah mendapat nilai sempurna dalam pelajaran. Itu memang memotivasi, tapi terkadang juga tidak baik karena dikhawatirkan anak hanya akan mengejar nilai untuk mendapat hadiah."
Jongin mengangguk, kemudian tangannya membelai lembut wajah Kyungsoo.
"Iya, Sayang. Aku masih tahu batasannya kok," jawab Jongin dengan senyum khasnya. "Oh iya, bagaimana les privat matematika Taeoh tadi?"
"Dia sedikit tidak bersemangat," Kyungsoo tersenyum kecil tiap kali mengingat bagaimana ekspresi wajah Taeoh ketika mengikuti les privat matematika.
"Kenapa?"
"Karena yang mengajar bukan Luhan-eonni, melainkan temannya. Kalau tidak salah namanya Park Chanyeol," jawab Kyungsoo.
Jongin mengernyit, "Tidak biasanya Luhan-noona izin?"
"Entahlah. Tapi kata temannya, Luhan-eonni sedang ada keperluan. Makanya dia izin tidak mengajar untuk hari ini," lanjut Kyungsoo menjelaskan. Jongin hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan istrinya itu.
"Ngomong-ngomong, apa kakakmu sudah berhasil mendapat pengasuh untuk Haowen?"
"Aku tidak tahu," Kyungsoo terdiam sejenak, "Tapi kata Minseok-eonni, Sehun-oppa sudah mendapatkannya dan orang ini juga atas persetujuan Haowen sendiri."
"Benarkah?"
"Aku juga tidak yakin," Kyungsoo terkekeh pelan. "Nanti saja, kalau ada waktu kita ke sana mengunjungi mereka. Siapa tahu kita bisa mendengar dari Haowen seperti apa pengasuh barunya."
"Kau benar." Jongin mengangguk setuju, "Tapi, memangnya Sehun-hyung sudah mendapat izin dari eomma? Bukankah eomma menolak keras kalau kita menggunakan jasa pengasuh dalam mengurus anak?"
"Molla," Kyungsoo mengedikkan bahunya, sambil membelai kepala Taeoh yang kini sudah duduk di antara mereka. Keluarga kecil itu terlihat di sofa ruang tengah. "Yang aku dengar dari Minseok-eonni, orang yang dipilih Sehun-oppa untuk menjadi pengasuh Haowen bukan orang sembarangan. Maksudnya, dia memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan oppa sendiri sudah melihat bagaimana interaksinya dengan Haowen. Mereka sangat cocok. Itu yang kudengar dari Minseok-eonni, tentu saja yang mendengarnya sendiri dari Sehun-oppa."
"Aku jadi penasaran seperti apa pilihan kakakmu itu," sahut Jongin yang dibalas anggukan setuju oleh sang istri.
"Nado," kata Kyungsoo singkat.
"Kyung, aku heran dengan Sehun-hyung. Menurutku seharusnya dia mencari ibu baru untuk Haowen, bukannya pengasuh baru. Memangnya mau sampai kapan dia berstatus duda dan menjadi single parent?"
Tawa Kyungsoo berderai.
"Bahkan Yunho-oppa saja juga belum menikah, Jongin," ucapan Kyungsoo yang satu ini sukses membuat pria berkulit tan itu tertawa lepas.
"Well, aku hanya tidak habis pikir dengan kedua oppamu itu," Jongin terkikik geli. "Sama-sama berwajah tampan tapi kenapa tidak mulus dalam urusan percintaan. Yang satu bujangan tua, yang satunya lagi duda beranak satu."
"Kau ini," Kyungsoo memukul lengan Jongin dengan gemas.
"Hanya bergurau, Sayang."
..
..
..
Tak ada satupun di antara dua orang berbeda gender itu yang memulai berbicara. Baik Luhan maupun Sehun, keduanya kompak terdiam tanpa mengatakan apapun.
"Bisa kau jelaskan padaku?" setelah lama bungkam, Luhan akhirnya bersuara. Memecah keheningan di antara mereka.
Wanita itu menatap nyalang ke arah Sehun yang dilihatnya justru tampak santai menanggapi reaksi kemarahan wanita ini. Seolah sudah tahu reaksi yang diberikan Luhan padanya.
"Sebelum aku menjelaskannya, aku ingin memperkenalkanmu pada mereka," perhatian Sehun beralih pada pintu ruangan. "Kalian masuklah!"
Dengan gerakan cepat, Luhan menoleh ke belakang. Apa-apaan ini?—batinnya menjerit kala melihat kedatangan tiga pria yang sangat dikenalnya. Hanya saja untuk kali ini penampilan mereka berubah 180 derajat dari kemarin.
Ya, ketiga pria itu adalah mereka yang sebelumnya menyasar Haowen dan Sehun sebagai korban aksi kejahatan mereka, juga Luhan sebagai korban penculikan hingga membuatnya berakhir di rumah ini. Mereka tidak lagi berpenampilan layaknya preman dengan jaket atau celana lusuh, melainkan tampil rapi dengan setelan jas formal.
Oh, jangan lupakan wajah mereka yang kini terlihat bersih. Luhan bahkan tidak menemukan bekas luka di pipi pada salah satu pria seperti yang ia lihat sebelumnya.
"Kau sudah mengenal mereka bukan?" sungguh Luhan ingin sekali menggetok kepala Sehun dengan palu besar saat mendengar pertanyaan pria itu.
"Apa-apaan ini?" nada bicara Luhan meninggi seiring bola matanya yang menatap tajam pada ketiga pria tersebut.
"Mereka yang membawamu ke sini dan," Sehun menggantungkan kalimatnya sejenak, "orang-orangku, tentu saja."
Luhan melotot. "Orang-orangmu?!"
"Yep," Sehun menyandarkan punggungnya dengan santai. "Ada yang ingin kau tanyakan padaku?"
Banyak! Oke, Luhan sedang dikuasai emosi sekarang, namun wanita ini mencoba untuk tetap bersikap tenang. Walau pada kenyataan ia terlanjur marah sekaligus kecewa, karena ia sadar bahwa dirinya baru saja DIPERMAINKAN!
"Jadi," Luhan memejamkan matanya sebentar lalu menarik napas panjang, "yang terjadi kemarin adalah skenario?"
Sehun hendak membuka mulutnya namun seruan Luhan menghentikan semuanya.
"Tahan dulu!" tampaknya emosi Luhan tidak bisa ditahan lebih lama lagi. Sehun hanya mengangguk dan memberi gesture pada Luhan untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kalian bekerja sama dengan membuat skenario konyol di mana kau dan Haowen menjadi korban kejahatan mereka." Luhan menatap geram pada ketiga pria itu yang kini menunduk. Sedikit takut melihat ekspresi Luhan yang jauh lebih menakutkan dari pada atasan mereka sendiri.
"Dan aku adalah orang asing yang tidak beruntung karena harus terlibat dalam skenario konyol kalian?!" Luhan memekik histeris sambil menunjuk dirinya sendiri. "Ya Tuhan, aku tidak percaya ini. Oh, mimpi apa aku semalam?!"
"Sebaliknya, kau orang yang beruntung karena kau adalah orang terpilih."
"Orang terpilih?!" Luhan berteriak sinis. "Kau pikir kita sedang melakoni sebuah acara di TV dengan kamera tersembunyi? Lalu aku akan mendapat hadiah karena sudah menolong kalian. Begitu?!"
Sehun sebenarnya ingin sekali tertawa melihat ekspresi Luhan yang sedang marah namun justru tampak menggemaskan di matanya. Tapi ia sadar diri dan tidak mau memperburuk keadaan.
"Bukan begitu," Sehun berdeham pelan, "Skenario kemarin itu hanya untuk mengujimu saja."
Luhan menautkan kedua alisnya. "Menguji?" tanyanya dengan nada lebih tenang.
Sehun mengangguk singkat, "Aku sedang mencari seorang pengasuh untuk Haowen dan kau adalah orang yang kami pilih. Lalu skenario kemarin sengaja kami buat untuk menguji kemampuanmu."
Kepala Luhan terasa berat karena terlalu banyak yang ia pikirkan. Namun satu kata yang keluar dari bibir Sehun membuat ekspresi wajahnya seketika berubah horor.
"Tunggu—kau bilang kau sedang mencari pengasuh untuk Haowen?"
"Yep."
Hening sejenak. Alis Luhan menyatu sempurna.
"Maksudmu," wanita ini kembali berpikir, namun kemudian mulutnya menganga lebar, "kau ingin aku menjadi pengasuh Haowen?"
Untuk sesaat Luhan merutuki kinerja otaknya yang lamban.
"Benar," Sehun mengangguk-angguk. "Jadi, bagaimana? Kau mau 'kan menjadi pengasuh Haowen?"
"AKU MENOLAK!"
"Wae?" Sehun sengaja memasang wajah memelasnya.
"Kau masih bertanya kenapa?" Luhan menatap kesal. "Sudah jelas karena aku harus mengajar, bodoh!"
Ketiga pria yang masih berada di dalam ruangan Sehun terbelalak. Tidak menyangka ada orang yang begitu berani mengatai tuan mereka dengan sebutan 'bodoh'. Dan lagi, mereka dibuat heran atas reaksi Sehun yang kini justru tertawa. Seolah tidak keberatan jika rusa betina ini mengamuk dengan mengeluarkan sumpah serapahnya.
"Kau bisa berhenti dari pekerjaanmu sebelumnya."
"Tidak semudah itu!"
"Wae? Aku bisa menggajimu dua kali lipat dari gajimu sebelumnya."
"MWO?!"
Cukup, kesabaran Luhan sudah habis. Semula ia masih bisa bersabar menanggapi sikap Sehun yang—demi Tuhan sangat kontras dengan pertemuan pertama mereka. Ah, sudah pasti waktu itu sikapnya yang terkesan kalem dan tenang hanyalah acting. Ya, hanya acting!
Oh Sehun yang berada di hadapannya sekarang adalah seorang pria menyebalkan yang senang mengambil keputusan seenaknya sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Salah satunya Luhan.
Bukan masalah gaji, melainkan loyalitas Luhan terhadap tempatnya bekerja sebagai pengajar les privat. Selain itu, Luhan juga memikirkan bagaimana nasib anak didiknya yang harus ia tinggalkan begitu saja jika Luhan memilih bekerja sebagai pengasuh Haowen.
"Aku tidak bisa, Oh Sehun." Luhan berusaha keras menahan emosinya. "Kembalikan tasku."
Sehun tidak menjawab, namun ia cukup jeli untuk melihat perubahan ekspresi wajah Luhan yang sangat kentara.
"Kembalikan tasku. Aku mau pulang."
"Tidak. Kau tidak akan pulang sebelum setuju untuk menjadi pengasuh Haowen." Sehun membuang mukanya sambil bersedekap. "Bukankah kau sudah berjanji akan menuruti apapun yang aku katakan, setelah aku memberimu izin untuk menghubungi temanmu?"
Tangan Luhan mengepal kuat, "Kau benar-benar ..."
CKLEK!
"APPAAAAAA!"
Oh tidak! Suara ini ...
"Haowen, kau sudah pulang?" Sehun tersenyum lebar dengan kemunculan putranya, lalu menyeringai ke arah Luhan yang diketahui terlihat gelisah. Sehun tahu, kalau berhadapan dengan Haowen, Luhan pasti tak akan bisa menolak. Kau datang di waktu yang tepat, Nak!
"Eum." Haowen terus melangkah menuju Sehun, melewati ketiga pria yang sedari tadi masih berdiri di belakang Luhan. "Eh?"
Luhan menundukkan kepalanya sambil mendesah pelan. Tamatlah riwayatku!
"Luhan-ssaem?!"
"Eh?" Kali ini Luhan yang menoleh kaget. Terkejut dengan panggilan baru yang disematkan Haowen untuknya. "Ssaem?"
"Appa menepati janji!" Haowen berseru senang, "Luhan-ssaem pasti datang untuk menjadi pengasuh Haowen. Benar 'kan, Appa?"
"Ne, itu benar," Sehun tersenyum penuh kemenangan.
Haowen meraih tangan Luhan, sedikit menariknya agar wanita itu menatap ke arahnya.
"Haowen senang sekali bertemu lagi denganmu, Luhan-ssaem." Haowen tersenyum lebar dengan wajah sumringah. "Ayo, Haowen ingin mengajak Luhan-ssaem jalan-jalan ke taman."
Luhan tidak menjawab, bahkan terus berdiri tanpa mengindahkan tarikan tangan Haowen yang begitu kuat.
"Luhan-ssaem?"
"Hhhhh ..." Luhan sedikit berjongkok agar menyamakan tinggi badannya dengan Haowen. "Haowen, dengarkan apa yang aku katakan."
Mata Haowen berkedip-kedip.
"Luhan-ssaem tidak bisa menjadi pengasuh Haowen."
"Wae?" Kali ini mata Haowen berkaca-kaca. Luhan bersumpah keteguhan hatinya sedang diuji sekarang. Inginnya ia mengiyakan permintaan si kecil nan menggemaskan ini, tapi Luhan tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pengajar les privat.
Selain itu, Luhan terlanjur kecewa dengan sikap Sehun. Mungkin benar jika Sehun juga bekerja sama dengan Haowen dalam skenario itu, tapi—ayolah, Haowen masih anak-anak. Dia pasti hanya menuruti saja kemauan ayahnya.
"Apa Luhan-ssaem marah karena Haowen dan appa sudah berbohong?"
Oh tidak! Jangan merasa bersalah, Haowen. Yang seharusnya merasa bersalah itu ayahmu!
Luhan menggeleng, "Bukan, tapi karena Luhan-ssaem sudah bekerja sebagai pengajar. Ssaem tidak bisa meninggalkan pekerjaan itu."
Bibir Haowen melengkung ke bawah.
"Ssaem benar-benar minta maaf," itu adalah kalimat terakhir yang keluar dari bibir Luhan, sebelum ia berdiri dan mengusap lembut kepala Haowen.
Sehun spontan berdiri begitu melihat ketiga bawahannya tampak menghalangi Luhan yang berniat keluar dari ruangan. Sehun bersumpah ia melihat bahu Luhan bergetar hebat.
"Kembalikan tasnya," entah mengapa Sehun akhirnya menuruti ucapan Luhan. "Biarkan dia pergi."
Salah satu bawahannya membungkuk sopan, kemudian mengambil tas milik Luhan yang sebelumnya memang disimpan di ruang kerja Sehun. Ia menyodorkan tas itu kepada Luhan, dan tanpa membuang waktu Luhan segera keluar dari ruang kerja Sehun.
"Hiks, Appa ..."
Sehun memeluk Haowen yang terisak. Melihat kondisi putranya ini, ia merasa bersalah karena gagal menepati janji. Namun lebih dari itu, Sehun sebenarnya jauh lebih merasa bersalah pada Luhan.
"Haowen tunggu di sini sebentar," setelah mengucapkannya, Sehun buru-buru keluar dari ruangannya. Dengan langkah kaki seribu, Sehun mengejar Luhan yang diketahuinya sudah sampai di halaman depan.
"LUHAN!"
Luhan menulikan pendengarannya. Ia tidak menoleh sedikit pun dan memilih mempercepat langkah kakinya agar bisa melarikan diri dari Sehun.
Sayang langkah kaki Sehun lebih unggul dan pria itu berhasil menyusulnya.
Luhan nyaris terjatuh ketika Sehun menarik tangannya. Ia segera menepis tangan pria itu sambil menghadiahi tatapan tajam padanya.
"Lu ..." Bukan tatapan tajam dari Luhan yang membuat Sehun terdiam, melainkan aliran sungai yang sudah terbentuk di pipi wanita itu.
Luhan menangis.
"Apa lagi?" desis Luhan dengan nada dingin.
Sehun menghela napas panjang. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Aku hanya—"
"Hanya apa?" Luhan memotong kalimat Sehun. "Mau dipikir berapa kalipun, kenyataannya kau sudah mempermainkanku, Oh Sehun."
Mendadak Sehun kehabisan kata-kata. Bibirnya mengatup rapat.
"Apa kau pikir bantuanku waktu itu adalah sesuatu yang bisa kau permainkan begitu saja?" Luhan menatap nyalang ke arahnya. "Aku benar-benar tulus menolong kalian."
Sehun merasa dirinya benar-benar brengsek mendengar pengakuan Luhan. Terlebih saat mendapati Luhan kembali meneteskan air matanya.
"Aku sangat menyayangi Haowen. Dia anak yang menyenangkan," Luhan terdiam sejenak dan melirik sekilas ke arah Sehun. Dan kemunculanmu setelah Haowen membuat semuanya menjadi lebih menyenangkan. Tapi sekarang, kau menghancurkan semuanya. Kau menghancurkan kesan pertamaku padamu, Oh Sehun.
"Maafkan aku," lirih Sehun.
"Kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi, Oh Sehun."
Sehun mendongak. Terlalu kaget dengan kalimat terakhir yang diucapkan Luhan. Wanita itu sudah berbalik dan melangkah cepat meninggalkannya yang kini berdiri mematung di depan rumah.
Seperti ada paku yang menancap di kakinya, Sehun sama sekali tidak bergerak dari posisi semula. Ia hanya menatap kosong pada punggung Luhan yang semakin menjauh.
"Appa ..."
Pria itu menengok ke belakang, mendapati putranya datang bersama salah satu bawahannya. Si kecil Howen langsung berlari menghambur ke dalam pelukannya.
"Appa, kenapa Luhan-ssaem tidak mau menjadi pengasuh Haowen?" mata Haowen kembali berkaca-kaca. "Apa Luhan-ssaem marah karena Haowen sudah berbohong?"
Sehun menggeleng, lalu mengusap air mata yang turun membasahi pipi sang putra.
"Luhan-ssaem tidak marah sama Haowen,"—tapi dia marah padaku, bahkan sepertinya juga membenciku—"Lagi pula, Luhan-ssaem sudah bekerja sebagai pengajar. Jadi tidak bisa menjadi pengasuh Haowen."
"Hiks ... tapi ... Appa sudah janji sama Haowen ... hiks ..."
"Appa tahu," Sehun memeluk Haowen dengan erat. "Maafkan appa ..."
Tangis Haowen pecah. Sehun merasa menjadi ayah yang buruk untuk Haowen, menjanjikan sesuatu yang tidak pasti pada anaknya sendiri, dan di sisi lain baru saja melukai perasaan wanita yang begitu tulus menolongnya.
Sehun pikir skenario itu bisa berjalan dengan baik, seperti apa yang ia sudah perkirakan sebelumnya. Kenyataan justru berkata lain karena semuanya menjadi hancur berantakan dengan reaksi Luhan yang di luar dugaan Sehun.
Ini adalah skenario terburuk yang pernah Sehun lakoni semasa hidupnya.
TO BE CONTINUED
17 Februari 2016
A/N : Selamat datang untuk KaiSoo yang akhirnya nongol ke permukaan #nyengir
Sebagian tebakannya udah pada bener dan kemungkinan nanti bakal saya kasih Sehun's side-nya. Biar lebih jelas, oke? See you next time (^_^)
Special Thanks to :
pudding rendah lemak, Aura626, Angel Deer, JYHYunho, BaebyRaerae98, Lisasa Luhan, Lovesehunluhanforever, Nurul999, luhanzone, Light-B, Baekkiechuu, Kim YeHyun, nisarama, luw, Seravin509, Juna Oh, DinkyAA, ByunBaekh614, Guest, Guest, Husnul28, BiEl025, Selenia Oh, laabaikands, RealCY, luluhunhun, Skymoebius, lulu-shi, hunnaxxx, OhXiSeLu, Arifahohse, hunhips, Okta HunHan, JungHunHan, kenlee1412, chloedailelf, misslah, yousee, ChanHunBaek, park kkuma, yohannaemerald, fitry . sukma . 39, HUNHANyue, SyiSehun, hnana, Wiwiet, Guest, Hyomilulu, krisna . park ziwu, nina . parkhuang, Annisawinds, xiuxiumin, Choco Cheonsa, chenma, Evil L, Ale Genoveva, kiney
I love you all *muach*
