Disclaimer : Again with I don't own Naruto that is obvious and Naruto only belongs to Masashi
Kishimoto.
First of all, thanks to my readers who left reviews and give me big support. Then I need to apologize for my late update due to my work load.
Oh...oh...oh... one more thing... di awal ini memang ceritanya terasa lambat, mohon dimaklumi karena author belum bisa mempercepat alurnya. Kedepannya author akan semakin perbaiki dengan alur yang lebih baik dan imbang...
Happy Reading and enjoy the Story
Chapter 3 : Interogation
Keesokan paginya, 06:00 am
Naruto P.O.V.
Aku membuka mata mendengar debur ombak dan suara burung camar dari luar sana. Kukerjapkan mataku perlahan untuk membiasakannya dengan keadaan di sekitar ruangan yang tampak asing bagiku. 'Di mana aku?' tanyaku dalam hati. Kuperhatikan kamar ini dengan lebih seksama. "Ah! Aku ingat! Ini adalah kamar di villa si pantat ayam busuk itu" seruku, mengingat kejadian malam sebelumnya...
Kriuuuuukkk...kriuuuuukkkkk...
Kudengar bunyi perutku yang lantang. Bagaimana tidak, aku belum makan dari kemarin sore. Aku bergegas keluar dari kamar yang aku tempati dan menuju ruangan yang dimasuki si pantat ayam setelah memberiku wewangian yang aneh kemarin. "Aha!" seruku gembira. Tempat yang tepat seperti yang kuharapkan, sebuah dapur.
Aku berjalan menuju kulkas yang terletak di pojok dapur yang cukup luas itu. Kubuka kulkas itu dan kulihat apa saja yang ada didalamnya. "Hmmm... tomat yang cukup banyak, jamur, kentang, bawang bombay, daging ayam, roti tawar, telur, butter, dan susu..." aku menaikkan alisku melihat persediaan bahan makanan dalam kulkas itu. Kututup pintu kulkas untuk sementara dan kudekati counter dapur untuk melihat bumbu yang tersedia. "Hmm... bumbunya cukup lengkap kukira"
Aku persiapkan bahan masakan yang akan kugunakan untuk membuat makanan yang cukup untukku dan si pantat ayam. Aku berpikir, paling tidak aku harus membalas kebaikannya dengan memasakkan sesuatu untuknya.
Saat aku sedang asyik memasak aku tidak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikanku.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
End of Naru P.O.V.
Sasuke P.O.V.
Aku membuka mataku dan melihat sinar matahari mulai menembus celah jendelaku. Tapi aku merasa enggan untuk bangun terlalu cepat. Tidak biasanya aku terbangun sepagi ini di hari liburku, tapi instingku mengatakan bahwa hari ini bukan hari libur yang mudah. Jika mengingat kejadian semalam, maka aku harus segera bergegas sebelum si bodoh itu melarikan diri.
Aku gerakkan badanku yang malas untuk bangun dari tempat tidur dan menggerakkan bagian atas tubuhku dengan memutarnya ke kanan dan kiri untuk pemanasan. Selanjutnya aku bergegas keluar kamar untuk melihat keadaan. 'sepertinya masih sepi' batinku sambil melihat – lihat keadaan sekitar rumahku.
Tiba-tiba kudengar suara yang janggal berasal dari arah dapur. Kuarahkan langkah kakiku menuju dapur dan di sana kulihat seorang gadis dengan surai kuning keemasan sedang melakukan aktivitas yang kuyakini adalah memasak.
Aku memperhatikannya dengan seksama, bergerak lincah dari kompor ke counter untuk sekedar memotong sayur dan memasukkanya dalam panci atau membumbui masakannya itu. 'pemandangan yang menarik' batinku sambil menyeringai kecil.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
End Of Sasuke P.O.V.
Normal P.O.V.
Naru sedikit tersentak dengan suara yang datang tiba-tiba dari arah belakang. Dia memutar badannya untuk melihat siapa yang berbicara dengannya.
"Kau sudah bangun rupanya. Duduklah di meja, sebentar lagi sarapannya akan matang" jawab Naru seraya berbalik untuk melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda.
Sasuke menurut dan duduk di meja makan di tengah ruangan tersebut sambil memperhatikan Naru memasak dengan lincah menambahkan bahan ini itu ke dalam masakannya.
Tak lama kemudian Naru menyodorkan semangkok sup berwarna merah kental yang masih mengepul ke hadapan Sasuke dan juga roti yang telah dipanggang dengan butter sebagai pelengkap.
Sasuke melihat ke dalam mangkok itu dengan tatapan curiga dan kemudian mengalihkan pandangannya terhadap gadis asing didepannya. "Kau tidak sedang berusaha menyuapku untuk melepaskanmu dengan mudah kan?" tanyanya pada Naru.
Naru melihatnya pasrah. "Tidak" jawabnya tegas. "Aku hanya berusaha membalas kebaikanmu yang mengijinkanku untuk tinggal di sini, meminjamiku baju serta telah menyelamatkanku semalam dan juga aku lapar" tambahnya panjang dan lebar. "Oh! dan aku berusaha membuat sarapan dari bahan-bahan yang kutemukan dikulkasmu. Semoga kau suka sup tomat, karena tomat mendominasi isi kulkasmu" kata Naru menambahi.
"Hn... Ini cukup kurasa..." kata Sasuke ambigu, padahal matanya tampak berbinar mendengar kata tomat. Tapi itu tak berlangsung lama sehingga Naru tak menyadari kalau Sasuke sebenarnya sangat tergila-gila pada tomat.
Mereka makan bersama dengan khidmat. Menikmati setiap suapan sarapan mereka yang cukup mewah mengingat bahan yang ada sangat minim.
"Aku tidak melihat adanya pelayan di rumah ini. Apa keluargamu tidak menyewa pelayan untuk mengurus rumah sebesar ini?" Tiba-tiba Naru bertanya. Dia rupanya tidak tahan untuk menyuarakan rasa penasaran yang semalam mengganggu pikirannya.
"Kami tidak menyewa pelayan di rumah ini saat kami sedang berlibur" jawab Sasuke singkat dan padat, namun kurang jelas itu.
Naru melihatnya dengan rasa tidak percaya terpancar di matanya. "Lalu, bagaimana menjaga rumah ini tetap bersih dan terawat selama kau dan keluargamu tidak di sini?" tanya Naru semakin penasaran.
"Hn. Bukankah seharusnya kita tak membahas tentang itu sekarang?" jawab Sasuke dengan tatapan menyelidik ke arah Naru. "Sekarang jawab aku" Lanjutnya "bagaimana kau bisa berada di kawasan milik pribadi ini?"
"Hmph" Naru mengerucutkan bibirnya hingga terlihat lucu dan menggemaskan "Kau tadi belum menjawab pertanyaanku" tuntutnya kesal.
"Apa kau sedang tawar-menawar denganku?" kata Sasuke dengan nada mengancam.
Naru yang mendengar perubahan pada nada suara Sasuke menjadi sedikit takut "Haaahhh... baiklah tuan pantat ayam..."
"Kau panggil apa aku tadi?!" potong Sasuke tiba-tiba.
Naru sedikit kaget dengan cara Sasuke menegurnya "Aku tak tahu siapa namamu, jadi aku bingung bagaimana harus memanggilmu. Dan rambutmu yang mencuat ke atas itu mirip sekali dengan pantat ayam, jadi..."
"Jadi kau berpikir untuk memanggilku dengan sebutan itu.." lanjut Sasuke dan dijawaban anggukan oleh Naru.
"Hn. Bukan alasan yang masuk akal. Tapi sebaiknya kita awali interogasi kita dengan kau beritahukan siapa namamu" kata Sasuke lagi.
Naru tampak berpikir sejenak setelah Sasuke mengajukan pertanyaan itu. "Namaku... ah bukan... Hm..."
"Apa kau melupakan namamu sendiri? Kau memang pantas disebut dobe kalau begitu" kata Sasuke mengejek.
"Bukan!"Seru Naru sambil melotot ke arah Sasuke, tidak terima dengan ejekan lelaki pantat ayam didepannya. "Dan jangan memanggilku dengan sebutan konyol itu lagi"
"Hn"
Wajah Naru tampak memerah mendengar dua huruf andalan manusia didepannya ini. "haaahhhh... teman dan keluargaku biasa memanggilku dengan sebutan Kitsune" jawan Naru akhirnya menyerah.
"Itu bukan nama dobe"
"Sudah kubilang hentikan menyebutku dobe, Teme!" Seru Naru lagi.
"Kau pantas mendapatkannya" kata Sasuke dengan senyum kecil di bibirnya.
"Aku tidak ingin kau tahu namaku saat ini, karena aku yakin kau akan mencari identitasku dan akan menemukannya dengan cepat. Saat ini aku tidak ingin ditemukan oleh siapapun" kata Naru menegaskan.
"Ada alasan kenapa begitu? Dan jelaskan padaku tentang pertanyaanku yang tadi" tuntut Sasuke pada gadis yang semakin membuatnya penasaran itu.
"Pertanyaan yang mana Teme?" Kata Naru membangkang, tidak rela dipanggil dobe oleh Sasuke.
"Selain Dobe, otakmu juga berkapasitas kecil" Goda Sasuke. Sepertinya dia ingin menambah kemarahan gadis didepannya itu.
"Aaargh! Kau membuatku gila! Dasar Teme pantat ayam dingin tidak punya perasaan!" seru Naru tanpa jeda sedetik pun.
Mendengar itu Sasuke hanya tertawa kecil, tidak merasa tersinggung sama sekali. "Kalau kau tidak ingin kupanggil seperti itu lagi, sebaiknya kau mulai menjelaskan dirimu Usuratokanchi" Kata Sasuke dengan nada lebih serius.
Naru mendelik dengan sebutan baru yang dialamatkan Sasuke padanya. Namun dia tak punya pilihan, dia tak tahan dengan tatapan Sasuke yang sehitam malam dan terlihat dingin saat ini. "Aku tidak ingin bertemu dengan orang yang ku kenal saat ini, karena aku tidak bisa mempercayai mereka lagi" jelas Naru. "Detail masalahnya biar ku simpan sendiri.."kata Naru menambahi saat melihat Sasuke ingin bertanya lagi. "Dan masalah bagaimana aku bisa sampai di sini, aku sendiri pun kurang mengerti. Yang ku tahu aku sedang mengendarai mobilku dengan tak tentu arah sampai mobil itu kehabisan bensin dan aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kemanapun ku inginkan. Lalu entah berapa lama aku melihat laut dan mendekat ke arahnya" Jelas Naru dengan detail.
"Hn" respon Sasuke dan itu membuat Naru kehabisan kesabaran.
"Kau tidak percaya padaku!" teriaknya. "Baiklah kalau begitu aku akan segera pergi dari sini! Aku tidak ingin semakin dihina dan diinjak-injak olehmu manusia berambut pantat ayam!" serunya untuk menghilangkan rasa kesalnya. Dan bersiap-siap untuk segera keluar dari tempat itu. Saat dia sampai dia akan keluar dapur tiba-tiba...
"Tinggallah!" kata Sasuke tiba-tiba yang membuat Naru terkaget-kaget.
Naru memutar tubuhnya memastikan bahwa dia tidak salah mendengar. Dan mendapat tatapan yang sulit diartikan dari Sasuke.
"Tinggallah dan panggil aku Sasuke, Kitsune – Chan ..."
End of Normal P.O.V.
Naru P.O.V.
Tinggallah dan panggil aku Sasuke, Kitsune – Chan ..." Itu kata-katanya barusan dan sukses menuai tatapan curiga dan penuh selidik dariku.
Kupicingkan mataku sampai terlihat seperti garis lurus. "Apa kau merasa menemukan mainan baru Sasuke – san?" kataku sarkatis melihat senyum miring dibibirnya saat ini.
"Oh, wow! Ternyata kau tak sebodoh yang kukira!" Katanya dengan senyum yang semakin mengembang.
Ctak...ctak...
Kurasakan urat kesabaranku telah putus dan aku merasakan kemarahan menjalar dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan cepat. Kupelototi lelaki tidak sopan bernama Sasuke itu dengan tatapan membunuh, tapi sepertinya itu tidak mempengaruhinya semili pun. Bahkan aku sempat melihat tatapan terhibur dari matanya. 'Sial! Laki-laki ini sangat menyebalkan. Bagaimana dia bisa membuatku marah hanya dengan satu kalimat saja!' batinku semakin kesal, tapi tidak mengalihkan tatapan membunuhku dari lelaki raven itu.
"Kau marah Kitsune – Chan?" kudengar nada terhibur dari pertanyaannya.
"Sial! Dasar kau pantat ayam busuk tak sopan tak berperikemanusiaan ,Teme!" teriakku kasar dan penuh amarah "Aku pergi dari sini dan akan kuingat untuk tidak kembali lagi ke sini!" lanjutku dan mulai berjalan ke arah pintu keluar.
Tiba-tiba aku merasakan ada tangan mencengkeram pergelangan tanganku tepat sebelum aku meraih gagang pintu dan menarikku dengan kuat ke arah berlawanan dengan arah yang kutuju dan membalik badanku dengan cepat.
"Ap... Hmph!" kubelalakkan mataku karena aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku dan mata yang sehitam malam menatapku dengan tegas. 'Apa yang dia lakukan! Kenapa dia menciumku?!' Batinku kacau saat aku menyadari sepenuhnya keadaanku sekarang.
Ku arahkan tanganku yang bebas ke dadanya untuk menjauhkannya dariku, tapi tenagaku tidak sebanding dengan tenaganya. Bibirnya semakin berani menjelajahi bibirku dan matanya masih terus menatapku, membuatku terbawa dalam kelamnya malam yang terpancar dari matanya. Seperti laut di malam hari, matanya membuatku merasa tenang dan damai.
Kurasakan lidahnya mulai menjelajah, menuntut untuk memasuki mulutku dan aku memberikannya dengan segera. Dia menjelajahi rongga mulutku dengan hati-hati dan lembut, memeriksa deretan gigiku dan mengelus lidahku dengan gerakan pelan yang menggoda.
Perlahan dia menarik tanganku yang ada di dadanya dan mengalungkannya dilehernya mempertemukan dengan tangan yang satunya yang semenjak tadi dipegangnya. Dia seperti memintaku untuk berpegang kencang padanya dan aku mematuhinya. Kemudian dia memegang tengkukku dan mendongakkannya agar dapat mengakses lebih dalam ke dalam rongga mulutku. Kututup mataku agar aku dapat merasakan lidahnya lebih lagi di dalam mulutku.
"Nggh..." Kudengar diriku sendiri mengeluarkan suara yang tidak semestinya saat dia menghisap dan mengelus lidahku dengan lidahnya perlahan. Hal ini sangat memabukkan, membuatku lupa akan apa yang terjadi barusan. Kepalaku terasa ringan dan tubuhku seperti melayang dan tiba-tiba sensasi itu berhenti.
"Apakah sekarang kau bisa berpikir jernih Kitsune – Chan?"
End of Naru P.O.V.
Sasuke P.O.V.
Dia menatapku seperti akan menelanku hidup-hidup. Matanya sekarang menjadi sangat tipis seperti tokoh kartun tidak bermata. Hal itu membuatku ingin tertawa, dia terlihat sangat lucu. Tapi seorang Uchiha tidak tertawa karena hal-hal kecil seperti ini, sehingga aku menahan rasa geliku dengan sangat keras.
"Apa kau merasa menemukan mainan baru Sasuke – san?" kudengar dia mengatakan kecurigannya.
"Oh, wow! Ternyata kau tak sebodoh yang kukira!" Kataku dengan gemas karena ingin lebih melihat emosinya yang dapat menghiburku tanpa bosan.
Setelah kukatakan itu, aku melihat urat di dahinya menonjol keluar dan kulitnya berubah merah, matanya juga tampak melotot tajam ke arahku dan dari sekujur tubuhnya mengeluarkan aura membunuh menandakan kalau dia sudah kehabisan kesabaran 'ups! Sepertinya aku sudah memicu sesuatu ke arah yang salah' batinku merasa bersalah.
"Kau marah Kitsune – Chan?" Kataku semakin menggodanya. 'Sepertinya aku tidak bisa menahan diri untuk selalu menggodanya' batinku dan tanpa sadar aku tersenyum cukup lebar. Gadis dihadapanku sepertinya melihat hal itu dan dia tampak siap meledak.
"Sial! Dasar kau pantat ayam busuk tak sopan tak berperikemanusiaan ,Teme!" teriaknya penuh amarah "Aku pergi dari sini dan akan kuingat untuk tidak kembali lagi ke sini!" lanjutnya lagi dan berjalan ke arah pintu keluar.
Dengan reflek aku mengejarnya dan meraih tangannya tepat sebelum dia membuka pintu itu. Kemudian kutarik gadis berkulit kecoklatan itu ke arahku dengan sekali hentak, membalik tubuhnya dan mencium bibirnya. Perbuatanku memang sedikit impulsif, tapi aku perlu melakukannya untuk mengalihkan perhatian gadis itu dari amarahnya. Berharap dia akan bisa berpikir lebih jernih. Lebih penting lagi, aku belum mau kehilangan gadis yang mampu menghiburku hanya dengan bercakap-cakap tanpa melakukan hubungan fisik seperti dengan gadis bersurai kuning keemasan ini.
Aku menatap mata gadis itu dengan intens, melihat apakah amarahnya sudah hilang. Dia sepertinya sangat terkejut dan berusaha menjauhkanku darinya, tapi aku tak bergeming dan melanjutkan administrasiku pada bibirnya. Kujilat bibirnya perlahan, meminta akses untuk memasuki mulutnya dan gadis manis itu memberikan ijin dengan segera 'Hm... ini diluar dugaanku' batinku sedikit terkejut. Dengan hati – hati aku mulai menjelajahi rongga mulutnya 'sial! Gadis ini nikmat sekali' pikirku. Ku belai jajaran giginya memeriksanya dengan teliti dan kemudian aku berpindah pada lidahnya yang kenyal dan basah.
Perlahan kurasakan dia mulai menyerah, tubuhnya mulai rileks sehingga dengan mudah aku mengalihkan tangannya ke tengkukku, memintanya untuk berpegang padaku. 'Aku ingin merasakan mulutnya lebih lagi, lebih dalam dan intens' dengan pikiran itu aku mendongakkan tengkuknya dan memasuki mulutnya lebih dalam lagi.
"Nggh..." Kudengar gadis itu melenguh merasakan kenikmatan yang juga aku rasakan saat aku menghisap dan menarik lidahnya dengan sensual. 'Aku bisa melakukan hal ini selamanya, tapi aku harus kembali ke niat awalku' batinku frustasi karena aku masih belum ingin ini berakhir, tapi aku harus bisa menahan diriku. Dengan berat hati aku mengakhiri ciuman itu.
"Apakah sekarang kau bisa berpikir jernih Kitsune – Chan?"
End Of Sasuke P.O.V.
Normal P.O.V.
Gadis yang ditanya hanya bisa menerawang, masih bisa merasakan panasnya sensasi berciuman dengan Sasuke.
Sasuke yang melihatnya menjadi tidak sabar karena Naru terlihat sangat bodoh sekaligus mempesona saat bengong seperti ini. Tiba-tiba Sasuke tersenyum miring, sepertinya dia punya ide lain untuk mengerjai si gadis manis yang sedang bengong didepannya itu. Sasuke membukukkan badannya sedikit, menyesuaikan tingginya dengan Naru, mendekatkan bibirnya di telinga Naru dan dengan sangat perlahan dan sensual dia membisikkan "Kau terlihat sangat menggoda saat ini. Apa kau ingin menggodaku Ki-tsu-ne – chan ".
Dan taktik Sasuke berhasil. Naru terkesiap dan langsung melompat ke belakang seraya menutup kuping yang tadinya dibisiki oleh suara seksi uchiha bungsu itu, sialnya Naru lupa kalau tadi dia dekat sekali dengan pintu keluar sehingga tubuhnya di sambut oleh kerasnya pintu rumah.
"Ow!" jeritnya serta merta saat pinggangnya terkena gagang pintu.
"Hamph..!" Sasuke menahan ketawanya. "Kau tidak apa – apa Dobe?" lanjutnya setelah bisa menguasai rasa gelinya.
Naru memelotokan matanya lagi kepada pemilik suara bariton rendah yang seksi itu dan membuang mukanya seraya menahan sakit.
"Ah! Maafkan aku ..." kata Sasuke meminta maaf karena kelakuannya tadi.
Kali ini Naru melihat Sasuke dengan tatapan bingung. Bingung karena lelaki ini dapat berubah dari kejam, sensual, dan lembut dalam waktu yang sangat cepat. Tidak seperti Naru yang berdarah panas yang cepat tersulut emosinya.
"Lebih baik kau tinggal di sini..." Saran Sasuke pada Naru
"Ta..." Naruto ingin membantah.
Dengan cepat Sasuke memotong bantahan Naru "Aku tidak bisa berjanji tidak akan menggodamu lagi, tapi mengingat keadaanmu sekarang bukankah kau membutuhkan tempat untuk tinggal karena kau bahkan tidak membawa apapun saat berada di sini".
Gadis manis bersurai kuning keemasan itu menundukkan kepalanya tanda kalau dia sudah menyerah.
"Bagus kalau begitu. Kau bisa menggunakan kamar yang kau gunakan semalam. Dan kau bisa menggunakannya selama yang kau butuhkan"
Bersambung...
Jangan lupa beri review ya
Review reader adalah pengingat agar aku selalu update dan tidak meninggalkan alur ceritaku
With love and regard
author
