IGNORANT ANGEL

©RedMoonby&Kwonelia

COLLAB FF

.

MinYoon (Jimin-Yoongi)

SoonHoon (Soonyeong-Jihoon)

BTS-SVT Fic

Rated : T

Genre : School Life, Romance, little bit Humor

Disclaimer : ff ini hasil dari otak gaje-ku dan temenku. Hasil karya un-faedah yang muncul saat pelajaran matematika. Tertarik buat baca?

Warning! AU! GS! Gaje! Humor garing!

Jimin(17)|Soonyeong(17)|Yoongi(18)|Jihoon(17)

.

Enjoy!

.

.

.

Ting tong!

Terdengar suara bel berbunyi, Yoongi tak perlu repot-repot membuka karena dia sudah cukup tau siapa yang datang.

"Masuklah! Tidak dikunci."

Bunyi cukup bising menyertai pintu apartemen Yoongi yang dibuka dengan bersemangat oleh dua pemuda berambut kontras. Si jeruk langsung berlari kedalam dan tersenyum cerah saat melihat gadis dihadapannya dengan dress selutut berwarna krem yang manis-

"Selamat pagi, Yoongi Noona! Apa kabar? Ngomong-ngomong aku sangat baik hari ini." Tanya Jimin –si surai jeruk kelewat semangat

-meninggalkan si surai hijau Soonyeong yang agak terhuyung karena sahabat bantetnya yang kelewat bersemangat itu mendorongnya kedepan cukup keras. 'Katanya kakinya masih sakit! Dasar!'

"Ya! Park, dasar! Kenapa kau mengambil start duluan? Kau curang!" seru Soonyeong tak terima.

"Kau kan tadi yang menyuruh untuk cepat" Jimin hanya tersenyum konyol.

Yoongi yang sudah cukup jengah menghadapi keduanya hanya menghela napas pasrah.

"Cepat kalian duduklah! Aku masih banyak urusan untuk hari ini."

"Noona akan kemana? Kutemani saja. Ke toko buku? Perpus kota? Atau ke arena bermain?" ucap Jimin lagi-lagi mendahului sang rival.

"Tidak, tidak. Denganku saja Noona, aku akan ajak ke tempat yang indah dan menyenangkan" balas Soonyeong cepat.

"Sudahlah! Bisakah kalian diam dan hanya kerjakan apa yang kalian ingin kerjakan saja." Yoongi memijit kepalanya yang mendadak pening menghadapi dua pemuda ini.

"Baiklah. Ajari kami ya Noona~" kata Soonyeong mendayu.

Keduanya menempatkan diri di sebelah kanan-kiri Yoongi, membuat gadis 18 tahun itu agak risih juga. Bagaimana tidak? Dua adik kelasnya ini membuatnya tak leluasa bergerak. Mereka sekarang sedang duduk di lantai ruang tamu Yoongi dengan alas karpet lembut berwarna coklat. Ditemani dengan dua gelas jus jeruk di meja –Yoongi tidak sejahat itu untuk menelantarkan dua pemuda itu dengan tenggorokan kering, ia masih punya sopan santun, oke. Buku matematika yang terbuka disertai dengan celotehan Yoongi yang senantiasa diperhatikan oleh Jimin dan Soonyeong –ralat, mungkin bukan ke penjelasannya tapi lebih kepada Yoongi yang memang terlihat manis dan aktif dalam menjelaskan materi.

Acara belajar-dengan-tutor-manis menurut Jimin dan Soonyeong itu berjalan dengan tenang, walau sekali-kali Yoongi harus sedikit berteriak frustasi karena entah dia yang tak bisa menjelaskan atau memang dua orang ini meninggalkan otak mereka di jalan tadi. Karena Demi Tuhan, Jimin dan Soonyeong terus saja memintanya mengulangi apa yang telah diucapkannya dengan sangat jelas.

"Noona..." Yoongi menoleh malas ke arah Soonyeong yang baru saja memanggilnya.

"Wae?"

"Apa aku boleh meminjam kamar mandimu? Aku ingin buang air." Soonyeong dan hasrat alamiahnya membuat Jimin terkikik lucu dan Yoongi yang mengernyit heran.

"Makanya jangan terlalu bersemangat saat minum" Jimin meledeknya dengan melirik gelas jus Soonyeong yang sudah habis dalam sekali teguk tadi.

"Diam kau, Park."

"Pergilah ke dapur, didalamnya ada pintu berwarna biru dan masuklah. Itu kamar mandiku."

Soonyeong hanya mengangguk patuh dan segera menuju kamar mandi yang dimaksud Yoongi. Sebenarnya Soonyeong tak rela juga membiarkan Jimin dan Yoongi berduaan walau hanya sebentar, si pemuda Park itu pintar memanfaatkan keadaan soalnya.

.

Terhitung sudah lima menit dan semenjak Soonyeong pergi ke kamar mandi dan Jimin masih mengerjakan contoh soal yang diberikan Yoongi. Jimin nampak sedikit kesulitan dan membuat Yoongi tergerak untuk mengambil bukunya agar Jimin lebih mudah mempelajarinya.

"Aku ke kamar dulu mengambil buku catatanku."

Jimin hanya mengangguk singkat, perhatiannya tersita karena mengerjakan soal polinomial yang susahnya minta ampun. Dia butuh kalkulator untuk menghitung soal ini, maka Jimin merogoh kantongnya dan tidak menemukan ponsel-nya. Tanpa pikir panjang dia langsung mengambil ponsel Yoongi yang tergeletak di sebelahnya, ia akan bilang nanti, batin Jimin sederhana.

Saat membuka layar kunci ponsel Yoongi, Jimin tertegun melihat foto dua gadis yang sangat mirip. Dua-duanya mungil dan cantik. Yang satu adalah Yoongi dengan rambut hitam panjangnya dan yang satunya berambut pink –entahlah Jimin tak tau, tapi sepertinya adik Yoongi karena wajahnya sangat mirip dengan Yoongi bahkan perawakannya juga.

"Ada apa, Jim?"

Jimin sampai tak menyadari jika Yoongi sudah keluar dari kamarnya dan duduk disampingya.

"E-eh ti-tidak, Noona aku hanya meminjam ponselmu untuk kalkulator. ponselku –entahlah mungkin aku lupa membawanya."

"Oh..." jawab Yoongi singkat.

"Ini, Noona. Terima kasih. Tapi siapa gadis yang ada di wallpapermu itu?" ujar Jimin sambil meyerahkan hp Yoongi.

"Oh, ini. Adikku, wae?"

"Tak apa. Hanya dia sangat mirip denganmu."

.

Soonyeong keluar dari kamar mandi dengan tarikan napas lega. Saat ia keluar dari dapur dan menuju ruang tamu lagi, ia menyadari bahwa ada satu ruangan di samping dapur dengan pintu kayu yang sedikit terbuka. Soonyeong sempat tak meyadari tadi mungkin karena hasrat buang airnya yang tak bisa ditahan. Ia jadi penasaran, kira-kira ruangan apa itu? Soonyeong melihat ada kasur bersprei soft pink didalamnya.

Setaunya tadi, kamar Yoongi ada di sebelah sana, jadi ini kamar siapa? Soonyeong makin penasaran, dan dengan tak sadar kakinya sudah melangkah ke bibir pintu itu. Dilihatnya ada seorang gadis bersurai pink yang sedang asyik membaca buku dengan badan tengkurap dan kakinya yang menekuk keatas. Tubuhnya yang ramping dan mungil dibalut dengan pakaian yang sederhana dan manis.

'Ya Tuhan, ada bidadari' batin Soonyeong masih dengan mata yang berbinar.

Beberapa waktu pemuda Kwon itu masih tertegun dengan pandangannya, kepalanya sampai rasanya berputar 360 derajat karena tak siap menghadapi terjangan sosok manis di hadapannya. Soonyeong benar-benar rela melepaskan Yoongi jika untuk sosok indah yang satu ini. Sementara dia yang disebut sebagai 'bidadarinya' Soonyeong itu menyadari bahwa ada sebuah makhluk yang mengawasinya, perlahan dia menoleh ke belakang. Soonyeong yang menyadari hal itu kemudian meninggalkan bibir pintu kamar 'bidadarinya' dan bergabung dengan sahabat astralnya melanjutkan belajar. Dia menceritakan pada Jimin tentang bidadarinya setelah pulang dari rumah Yoongi dan sepertinya Jimin tidak mepedulikannya dan terus berjalan.

.

.

.

Senin adalah salah satu hari di dalam satu minggu yang benar-benar penuh dengan sumpah serapah dari para siswa yang harus rela melepas hari Minggu tenang mereka dan kembali bergelut dengan sekolah –pr dan tugas yang memuakkan, belum lagi guru killer dan pelajaran yang super membosankan.

Tak terkecuali dengan salah satu sekolah elit di Seoul ini, tepatnya di kelas 11 B, lebih detail lagi pada Jimin dan Soonyeong yang duduk di meja pojok belakang mengutuk habis-habisan hari Minggu mereka yang berjalan dengan sangat cepat dan diganti dengan hari Senin plus pelajaran matematika dari Kang Saem. Tuhan, kuatkan Jimin dan Soonyeong yang tampan ini, pikir mereka narsis.

"Kenapa harus sudah hari Senin? Hah." Soonyeong berucap jengah dengan kepalanya yang tergeletak pada mejanya.

"Sama. Demi Tuhan, aku masih ingin dirumah Yoongi Noona dan menghabiskan waktu dengan memandang wajah manisnya itu." Jimin menanggapi dengan lesu juga.

"Aku lebih ingin bertemu bidadariku itu, bahkan kalau bisa aku ingin berkenalan dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya selamanya..." kata Soonyeong tiba-tiba mengangkat kepalanya membayangkan bidadarinya.

"Aku sebenarnya penasaran dengan bidadari-mu itu, siapa sih? Kenapa dari kemarin kau terus saja menyebutnya bidadarimu."

Pertanyaan Jimin hanya diacuhkan saja oleh Soonyeong yang masih berangan-angan tentang bidadarinya, sambil senyum-senyum. Jimin jadi bergidik ngeri membayangkan jangan-jangan si Kwon ini kemarin kerasukan. Masa iya ada bidadari di rumah Yoongi Noona? Aneh.

"Haish–" umpatan Jimin hampir saja terucap kalau saja guru matematikanya tak masuk dengan segala aura ke-killer-annya. Jimin langsung beringsut dan duduk dengan rapi meninggalkan Soonyeong yang disebelahnya yang masih tersenyum-senyum tak jelas.

Seketika keadaan kelas 11 B yang tadi bising berubah hening dan senyap karena sang guru telah berada di depan kelas dengan seorang gadis berambut pink yang mungil, bermata sipit, berkulit putih dan –tunggu, Gadis?

"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kalian mendapat teman baru. Ayo, silahkan perkenalkan dirimu."

Gadis manis bersurai pink itu langsung memperkenalkan dirinya.

"Annyeong haseyo, Min Jihoon-imnida, mohon bantuannya teman-teman." Ucap si anak baru disertai senyum simpulnya.

Anak baru itu membuat Jimin terkaget, hampir saja ia tersedak oleh ludahnya sendiri. Mungil, putih, manis, sedikit dingin dan bersurai pink. Min Jihoon pastilah adik dari Min Yoongi.

Tiba-tiba saja, entah kapan tersadar dari lamunannya, Soonyeong dengan bodohnya langsung berdiri dan memandang si anak baru dengan berbinar.

"BIDADARIKU!" teriak Soonyeong cukup nyaring sambil memandang kearah si anak baru dengan tangan yang terjulur kedepan dan membuat Jimin harus rela menahan malu ditempatnya. Demi celana bokser berwarna kuningnya, Soonyeong dan segala tingkah absurdnya benar-benar membuat Jimin ingin membuang Soonyeong ke lapangan sekarang juga. Apa-apaan bocah itu memanggil si anak baru dengan sebutan bidadari?

"Ada apa Tuan Kwon? Siapa yang kau sebut bidadari? Kalau ingin bertemu bidadari silahkan pergi ke khayangan dan keluar dari kelasku!" bentak Kang Saem dengan tegas. Ia sudah cukup jengah dengan satu muridnya ini yang selalu tak memperhatikan saat pelajarannya ditambah satu lagi yang tak pernah absen dalam kelas remidiasinya.

Soonyeong tersadar karena bentakan itu tertuju padanya dan membuatnya kikuk setengah mati. Ia langsung duduk dan memandang teman sebangkunya. Gadis manis di depan kelas itu adalah bidadarinya. Yap. BIDADARI KWON SOONYEONG.

"Jimin..." Soonyeong berbisik pada Jimin, ia tentu tak mau dimarahi Kang Saem lagi.

"Hm"

"Itu bidadariku"

"What?!"

"Itu gadis yang kusebut bidadari"

"Itukan adiknya Yoongi Noona"

"Oh... –what? Adik Yoongi Noona?" Soonyeong tak sengaja memekik dan membuat perhatian seluruh kelas tertuju padanya.

"Masih berkutat dengan bidadarimu Kwon Soonyeong? Dan sekarang Park Jimin?"

Jimin hanya mengumpat tertahan.

"Baiklah, untuk Min Jihoon silahkan duduk di sebelah Boo Seungkwan. Dan untuk kedua pemuda di belakang sana, saya mohon diam atau kalian akan saya hukum!" Ancaman Kang Saem yang membuat Jimin dan Soonyeong terbungkam. Bidadari –maksudnya Min Jihoon memang penting untuk dibahas tetapi sekarang yang lebih penting adalah mereka harus memperhatikan pelajaran matematika agar tak lagi-lagi remidi saat ulangan nanti.

Pelajaran dilalui dengan tenang seperti biasa, semua siswa memperhatikan penjelasan Kang Saem dengan cermat –atau sebenarnya mereka hanya takut saja jika dihukum. Sampai bel istirahat berbunyi dan guru matematika killer itu segera berpamitan dengan pekerjaan rumah yang menumpuk. Astaga...

"Kau ingin ikut aku ke kantin?" tanya seorang gadis berambut coklat sebahu pada teman sebangkunya yang baru.

Si teman sebangku, si gadis berambut pink itu hanya menggeleng dengan disertai senyum manisnya.

"Tidak. Terimakasih sudah menawari." Jawab Jihoon singkat, ia memang terkesan dingin dan jutek tapi ia masih tau sopan santun kepada orang yang dengan baik hati menawarinya. Boo Seungkwan langsung saja mengangguk dan berlalu menuju kantin.

Jihoon memang tak suka dengan keadaan kantin yang terlalu ramai, karena baginya, buku dan ketenangan adalah hal yang paling disukainya. Saat ia masih membaca buku dengan serius, suara berisik terdengar dari meja paling belakang tapi ia tetap acuhkan saja.

"Lihat saja, Park. Apa yang akan kulakukan" suara si surai hijau dengan bersemangat.

"Hah? Apa maksudmu?" si surai orange hanya terheran oleh tingkah laku temannya.

"Aku benar-benar rela melepaskan Yoongi Noona, ambilah! Aku akan berjuang untuk bidadariku"

"Aku masih tak paham, kau apa...?"

Belum sempat Jimin menyelesaikan pertanyaannya, sahabat bodohnya itu telah menghampiri meja tepat Jihoon berada. Jihoon? Untuk apa Soonyeong menghampirinya? Jangan bilang...

Tanpa disangka bangku Seungkwan bergerak dan menimbulkan suara yang cukup berisik tanda ada orang yang baru saja mendudukinya. Jihoon masih setia pada bukunya sampai-

"BIDADA –maksudku, Jihoon-ah~ maukah kau menjadi pacarku?"

-seorang pemuda berambut hijau dengan mata sipitnya yang tadi menyebutnya bidadari menghampirinya dengan pandangan memuja memintanya untuk menjadi pacarnya. What?! Pacar?! Apa Jihoon tak salah dengar?

"APA?!" Jihoon langsung memukulkan novel setebal 500 halaman itu ke kepala Soonyeong yang tentu tak siap menerimanya. Soonyeong masih mengaduh karena kelakuan bar-bar adik mantan gebetannya ini. 'Hah... sepertinya perjuanganku akan dimulai lagi'

"Dasar gila..." desis Jimin sambil meringis kasihan melihat sahabatnya sedang disiksa –em, mungkin bisa dibilang menghadapi ujian cintanya.

Ia yang cukup malu melihat kelakuan sahabatnya itu mengalihkan pandangan seolah tak mengenal Soonyeong. Tetapi, alihan pandangannya itu membuatnya melihat Yoongi dari jendela yang sedang melewati kelasnya kemudian berfikir untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sahabatnya itu. 'Kalau Soonyeong gila, aku mungkin bisa lebih gila lagi' batin si pemuda Park konyol.

Ia berlari keluar kelas dan tiba-tiba berteriak dengan lantangnya, "JADILAH PACARKU YOONGI NOONA!" memastikan bahwa Yoongi Noona-nya mendengar pernyataan tiba-tibanya itu. Yoongi yang biasanya tidak pedulian tanpa disadari berbalik menuju arah Jimin.

Jimin terlanjur senang yang mengira dengan berbaliknya Yoongi mengartikan Yoongi menerima cintanya. Namun, ternyata Yoongi melewati Jimin dan memasuki kelasnya Jimin, tepatnya untuk mengampiri Jihoon.

"Jihoonie, apa kau membawa buku yang kau baca satu bulan ini yang sampai sekarang belum selesai itu? Bisa aku meminjamnya?" tanya Yoongi pada Jihoon.

"Aku membawanya. Tapi untuk apa?" Jihoon lalu memberikan buku yang dimaksud Yoongi yang berisi hampir 800 halaman.

"Untuk mengusir hama." Kemudian dia meninggalkan Jihoon dan berdiri di depan Jimin. Seketika itu buku yang dipegang Yoongi dengan 'lembutnya' melayang dipipi Jimin. Setelah itu Yoongi pergi dengan meninggalkan Jimin yang berjongkok sambil mengelus pipinya yang kesakitan. Soonyeong yang melihat kejadian itu kemudian menghampiri sahabatnya. Ia ikut berjongkok dan menepuk pundak sahabatnya itu kemudian berkata, "Belum takdir kita untuk mendapatkan bidadari kita, kawan. Kita harus berjuang lagi. Hah."

.

.

.

END dengan tidak elitnya

.

Otteyo?

p.s : Tolong bantu review ya... Buat yg udah review, fav dan follow muah-muah pokoknya, mayan kan amal baik di bulan puasa.

p.s 2 : Buat seluruh umat muslim SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA. Moga lancar dan berkah yay...

p.s 3 : Klo kalian pengen baca ceritanya di WP juga bisa, di akunnya patner-in-crime-ku KWONELIA.

.

Love, Moonby