A/N : OOC dan kesalahan teknis lainnya tolong kasih tau saya lewat review ^^ nggak sempet ngecek lagi, hehehe. Aniwey~ kayaknya selain kembaran saya (Kao'Ru'vi), nggak ada yang nyadar KESALAHAN FATAL di chapter sebelumnya ya? Soal Nethere yang luka 7 jahitan di punggung, dan Nesia yang maen asal cubit di punggungnya itu waktu dicium Nethere. Maaf… itu murni kesalahan penulis yang teledor, wakakakak. Udah saya edit nyubitnya jadi di pinggang XD makanya, kalo ini ada yang salah juga, maaf ya. Saya emang payah.
I love PEACE, Not You
-Chapter 3-
Hari besar negeri Barat jatuh pada hari ini. Sudah ratusan tahun sejak negeri ini berdiri, dan kini saatnya menyanyikan lagu kebangsaan negeri dengan penuh kebanggan. Berbagai makanan khas tersedia lengkap, dimana-mana rakyat melakukan persiapan perayaan. Ekspresi bahagia terpampang di wajah mereka, ulasan senyum tak henti-hentinya menghiasi pemandangan kota. Meski kebanyakan seperti itulah pemandangan yang terlihat, masih ada beberapa wajah yang menampakkan kecemasan di ujung-ujung jalan. Mereka takut dengan kejadian yang mungkin terjadi hari ini.
Perjanjian damai antara kedua negeri telah ditandatangani. Calon pemimpin kedua negeri telah bertunangan dan akan segera menggantikan orangtua mereka untuk memerintah kedua negeri itu. Dengan adanya perjanjian damai tersebut, maka sebagian orang negeri Timur akan datang kemari sebagai tanda persahabatan. Begitupula sebaliknya jika Negeri Timur mengadakan acara besar, mereka juga akan mengundang orang-orang dari Negeri Barat.
"Oh ayolah Nesia… seperti kataku tadi, itukan hanya ciuman?" Bujuk Nethere pada Nesia yang kini… "Bisa enggak kamu lupakan saja dan cepat turun dari pohon?" Berada di atas pohon rupanya.
Nesia menggeleng cepat, "Kamu kan harusnya tahu budaya negeriku, Nethere… kami tidak berci..ci...ci…uh, maksudku kami tidak melakukannya selama itu!"
Nethere melihat semburat pink di pipi Nesia meski tidak terlalu jelas, dan tersenyum usil. "Aku tidak keberatan kalau kau mau balas dendam kok."
"Ma..maksudmu?" tanya Nesia bingung. Aku boleh menendang dan menamparnya, begitu? Asik juga. Pikirnya kurang ajar.
"Tentu saja kau boleh balik menciumku lebih lama daripada waktu itu." Jawab Nethere dengan intonasi yang datar namun menggoda. Memberikan double twitch di dahi Nesia dan membuatnya ingin membanting Nethere saat itu juga. Demi terwujudnya impian itupun ia buru-buru menuruni pohon yang dipanjatnya, dan…
'BRAK!'
Sayang sekali pendaratannya tidak mulus. Ia jatuh terbalik dengan wajah mencium Bumi. Nesia buru-buru berdiri—tanpa melihat Nethere yang mati-matian menahan tawa disana—dan membersihkan tanah yang menempel di tubuhnya. Dengan rambut awut-awutan dan wajah yang masih berantakan, ia berusaha balas dendam—dalam arti sebenarnya—pada calon suami kurang ajar itu. Usahanya gagal seketika saat Nethere menangkap kedua tangannya dengan sigap.
"Udah dong Nes, enggak usah emosi gitu…"
"Siapa yang enggak emosi kalo ngomong sama orang kayak kamu?" jawabnya ketus.
"kan bercanda…" kata Nethere masih tersenyum. Lucu juga melihat Nesia marah-marah dengan tampang berantakan seperti itu. Nethere melepaskan salah satu genggamannya dan membersihkan tanah yang masih menempel di wajah kuning langsat milik Nesia. "Lihat, wajahmu beratakan seperti ini. Daripada memukulku, bukankah sebaiknya kau mandi saja?" perkataan dan tindakannya membuat Nesia menggembungkan pipi dan memajukan bibir, kesal karena usahanya gagal.
"Atau mau kumandikan sekalian?"
'BUGH!' pukulan telak pun bersarang di perut sixpack Nethere yang hanya ditutupi selembar kemeja. Pukulan Nesia dengan tangan kirinya yang bebas itu cukup menyakitkan jika kita memprediksi dari seberapa keras erangan yang ditimbulkan sang Pangeran.
"Nesia!"
"Kak Nesia!"
Dari kejauhan terlihat sosok 3 orang lelaki yang perlahan-lahan menghampiri mereka berdua. Ratcha Anachak Thai , Lelaki yang terlihat paling tinggi dan biasa dipanggil Thailand itu tersenyum. Ia berambut hitam, dan mengenakan kacamata. Bolamatanya yang hitam tak terlihat lagi karena kedua kelopak matanya tertutup saat senyuman itu tersungging tulus. Singapore, laki-laki lainnya yang juga memakai kacamata, tampak lebih dingin dan tak berekspresi. Dan satu lagi, Brunei Darussalam, bocah kecil yang memanggilnya dengan sebutan kakak itu, berlari-lari kearah Nesia disertai tawa riang.
"Singapore? Brunei? Kak Thailand juga… kok kalian…" jari telunjuk Nesia mengarah pada sosok itu satu-persatu, sampai Brunei menabrakkan diri dan memeluknya.
"Kak Nesiaaa~ aku kangeennn…." Nesia membiarkan Brunei terus memeluknya erat, meski sebenarnya ia mulai merasa sesak.
"Undangannya hari ini kan ana~? Apa aku salah, pangeran? " sepupu Nesia, Thailand, mengalihkan pandangannya pada Nethere yang masih memegangi perut korban hantam dengan kedua tangannya.
Nethere segera memperbaiki sikapnya saat merasa diperhatikan seperti itu, "Ah, ten…tenang saja, kau tidak salah hari, Thailand." Ia tersenyum paksa.
Singapore yang sedaritadi diam saja, mendekati Nesia dan melepaskannya dari pelukan maut Brunei. Ia memperhatikan kakaknya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Nesia merasa canggung dan menaikkan sebelah ujung bibirnya, berniat untuk tersenyum meski bisa dipastikan senyumnya gagal total.
"Kakak diapain sama Nethere?" tanyanya langsung. Penampilan Nesia yang berantakan serta bekas tanah yang masih melekat mengarahkannya pada kecurigaan.
Sebelum sempat menjawab, Nethere segera merangkul pundak Nesia dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. "Tadi Nesia jatuh karena ceroboh. Nesia dan aku akrab seperti biasa kok, ya kan?" Nethere meminta penguatan pada Nesia, dan gadis itu sekali lagi mengeluarkan senyuman gagalnya.
"pangeran, kau masih ingat alasan kami semua menyetujui pertunangan ini kan ana~?" tanya Thailand, masih tetap tersenyum tentunya.
"Err… demi kedamaian?" Nethere menggaruk-garuk kepalanya tak yakin.
"Aku tidak peduli soal itu ana~. Satu-satunya alasan kami adalah demi kebahagiaan saudara kami tercinta. Jika kau sengaja membuatnya menangis…hmm…" Nethere bergidik ngeri melihat wajah Thailand yang tetap bisa tersenyum sembari melontarkan kata-kata mengancam barusan.
"Loh, mana Brunei?" tanya Nesia sekaligus memecahkan suasana tegang diantara mereka.
"Pergi," Singapore membetukan letak kacamatanya, "nyari Malaysia mungkin…"
"Sepupumu seram juga ya, Nesia." Tukas Nethere pada Nesia saat akhirnya mereka kembali berdua saja. Gaya bicaranya juga aneh, tambahnya dalam hati.
Nesia memandang bingung pada Nethere seraya menaikkan sebelah alisnya, "Dia baik kok…"
Nethere memandang tak percaya pada Nesia. Apa dia benar-benar tidak bisa merasakan aura membunuh dari sepupunya sendiri? Padahal dirinya sudah merasa tercekik oleh hawa ancaman yang ditebarkan oleh Thailand. Baru saja ia akan protes dan menjelaskan pada Nesia, namun suara-suara ribut dari luar mengalihkan perhatian mereka.
Mereka berdua bergegas menghampiri sumber keributan dan melihat para pesuruh yang ribut. Dari pendengaran yang mereka tangkap, terjadi pertempuran di Lapangan besar dekat perbatasan tempat festival akan diadakan. Nethere segera berlari memanggil beberapa orang kepercayaannya untuk ikut ke Lapangan itu. Sebelumnya, ia menyuruh Nesia tetap tinggal, namun Nesia tidak bisa begitu saja membiarkan pertempuran antar negeri ini terjadi lagi. Oleh karena itu ia segera berlari menuju ke Lapangan ketika Nethere berbalik untuk memanggil orang-orangnya.
Saat tiba disana, Nesia sudah dihadapkan dengan baku hantam antara rakyatnya dan orang-orang Barat. Perang dalam skala kecil ini memang tidak separah sewaktu dirinya di medan perang. Namun tetap saja, melihat hal seperti ini, "BERHENTII!" teriaknya sekencang mungkin. Tapi itu sia-sia karena suaranya tertelan oleh keributan itu.
'DOR!'
Dari belakang, muncullah Nethere dan beberapa orang lainnya yang mengikuti. Sisa asap dari ujung pistolnya yang diarahkan keatas mulai tersapu oleh angin.
"Ada apa sebenarnya?" Nethere bertanya pada salah satu warga.
Yang ditanya menjawab dengan segera, "Orang-orang Timur ini ingin mengacaukan festival!"
"Tidak! Kami tidak berbuat apa-apa! Lagipula lapangan ini memang milik kami!"
"Apa katamu? ! Lapangan ini ada di wilayah Barat! Bodoh! "
"Sejak dulu lapangan ini milik kami! Jangan menentukan perbatasan seenaknya!"
"Sudahlah! Kita kan bisa membaginya secara adil!" Teriak Nethere menengahi pertengkaran.
"Untuk apa kita melakukannya? Dari awal, wilayah ini milik kami!"
Persilisihan mulai memanas kembali, Nethere menoleh kebelakang dan meminta saran pada orang-orangnya, United States of America, Reino de España dan… seekor Beruang. Sebelumnya Nethere sudah memerintahkan America untuk mencari Canada—saudara kembarnya—, namun karena tidak kunjung ditemukan akhirnya hanya Beruang kutub inilah yang ikut ke Lapangan.
"A..aku disini…." Jawab suara samar-samar yang entah berasal darimana.
"Bagaimana kalau begini? Pangeran dan aku akan bertarung satu lawan satu. Yang menang akan mendapatkan hak atas wilayah ini ana~." Thailand tiba-tiba muncul dan segera memberikan penawaran.
"Kak Thailand!" Seru Nesia kaget, sedangkan sepupunya itu hanya memandangnya dari balik kacamata sambil tetap tersenyum.
Nethere menyarungkan kembali pistolnya dan menghampiri Thailand. Ia memandang lurus kearah kedua bola mata hitam Thailand, "Kau serius?"
"Kenapa? Kalau kau takut, kau boleh minta digantikan bawahanmu kok ana~."
"KALAU BEGITU BIAR HERO INI YANG MAJU! MWAHAHAHAHA!" kata America yang langsung maju dan memunggungi Nederlanden. Tanpa basa-basi, Nethere langsung menjitaknya. "Jaga sikapmu, America…aku tidak mungkin mundur."
Para penduduk dari kedua wilayah mulai berbisik-bisik selagi menunggu keputusan mereka berdua. Keributan terhenti sementara karena rupanya mereka juga ingin melihat pertarungan antara lelaki yang sama-sama berpengaruh besar dari kedua pihak.
"Hentikan Nethere! Kau seperti anak kecil saja. Cari cara lain selain menyelesaikannya dengan kekerasan." Nesia menarik lengan Nethere untuk mundur.
"Kalau kau mau menyalahkan seseorang, salahkan saja sepupumu itu! Orang-orang terlanjur bersemangat, dan aku tidak mungkin mundur! Aku kan bukan pengecut, Nesia." Nethere menepis tangan Nesia yang menariknya kencang. Singapore membantu Nethere dengan menahan Nesia, "Sudahlah kak, kau lihat saja dari sini. Jangan mengganggu keputusan mereka berdua." Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari kantung celana dan menyerahkannya pada Nesia.
"Apa?" tanya Nesia bingung sambil mengangkat PSP pemberian Singapore.
"Pakailah, untuk mengisi waktu." Singapore lagi-lagi membenarkan letak kacamatanya. Nesia memandangnya dengan tatapan membunuh. 'Singapore bego! Di situasi seperti ini bisa-bisanya dia menyuruhku untuk main…PSP? !' pikirnya kesal. Tetapi ia tetap menggenggam erat PSP itu dan duduk dengan perasaan yang masih kacau balau.
"Kuterima tantanganmu." Jawab Nethere akhirnya. Ia menanggalkan pistolnya dan meminta pedangnya pada España.Thailand menanggapinya dengan tersenyum senang dan segera mempersiapkan pedangnya.
"Ah, sebelum kalian bertarung, biarkan aku memberi semangat pada pangeran Nederlanden." Tukas España saat menyerahkan pedang pada saudara jauh sekaligus pemimpinnya. Dengan wajah memelas, Nethere memandang España seolah berkata tolong-jangan-lakukan-itu. Tapi ia tidak sempat protes karena España segera melakukan gerakan aneh, dengan melebarkan dan kedua tangannya berkali-kali sambil membaca mantra, "Fusosososososo… Fusosososososo… Fusosososososo…"
'GAGH!'
America berhasil menghentikan keheningan aneh disekeliling dengan menjejalkan Hamburger favoritnya ke mulut España secara paksa. Iapun segera menyeret mundur España dan mengangkat Ibu jarinya mengarah pada Nethere.
"Sudah bisa dimulai?" Tanya Thailand dingin, ini pertama kalinya ia menanggalkan senyum sejak tiba di negeri Barat tadi pagi.
Bersambung
Adegan serius banyak yang hancur karna lawak nggak penting… maaf… m(_ _)m
salahkan saja karakter-karakter aneh itu yang bikin saya pengen nulis lawak #sigh #nyarikambinghitam
5 hari lagi… count to pengumpulan proposal skripsi #bah
Butek nulis gituan, jadi ngelanjutin ini dulu #gabener
Oiya, jadinya Si kembar America-Canada :D Setelah saya pikir2, duo italy itu terlalu pengec...err... terlalu gampang menyerah untuk ukuran 'orang kepercayaan' wahahahaha XD tolong jangan jejelin saya pake pasta.
Seperti biasa, review? *senyum ala Thailand* (yang yandere itu bukan Russia doang looh…XD) #ditusuk
reply for anon :
Putu Hijau : mendebarkan? wahahahaha~ bagus deh XD #apanya? oke ini lanjutannya :)
spring winter : America-Canada nya saya kabulkan~ wahahahaha #ngakaknista
