You're so Beautiful Boy
By : Chan-ame
Deidara, seorang pemuda
berparas cantik yang sangat
menyesal karena dikaruniai wajah cantik yang melebihi gadis gadis itu. Karena kecantikannya itu
membuat para laki laki memujanya dan para wanita
membencinya.
Suatu hari, ia mendapat surat cinta dari penggemarnya, memang biasa ia mendapat bertumpuk tumpuk surat cinta dari para laki laki. Tapi kali ini ada yang berbeda karena yang mengiriminya surat adalah seorang wanita. Ini pertama kalinya bagi Deidara.
Apakah ini merupakan awal dari perjalanan panjang cinta Deidara yang sesungguhnya dimana ia disukai seorang wanita dan bukan laki laki lagi ?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Deidara, Sakura H, Rate T, Drama, friendship
WARNING : AU, OOC, GAJE
Horraaaay... Di chapter kali ini Sakuranya muncul loh, enjoyed enjoyed readers ^^
Balas review:
Chika kyuchan: yayaya xD aku emang suka banget sama pair ini makanya aku buat. Hoho
Phanie-chan: tungguin aja yaaaaa :p
Guest: temukan jawabannya di chapter 8 nanti yaaaa xD
Terima kasih udah nge-read & review: Ai Masahiro, Luca Marvell, Chika kyuchan, phanie-chan, , , Guest, Yuki Hattori. RnR lagi yaaa, kritik, saran & masukannya Ame tunggu :D
Chapter 3 : Gadis pink
Deidara menelusuri jalan setapak demi setapak. Dia tidak sendiri. Ada Tobi yang terus saja mengelilingi langkah Deidara.
Mengelilingi disini dibaca dalam arti sesungguhnya. Ia benar-benar berkeliling dan menjadikan Deidara pusatnya seperti bumi yang mengelilingi matahari.
Tak henti-hentinya Tobi mengoceh tentang segala hal pada Deidara. Hingga Deidara berpikir mungkin makhluk ini memakai tenaga baterai yang jika baterainya dilepas baru akan diam.
Tak satupun ucapan Tobi yang ditanggapi oleh Deidara. Tapi Tobi tetap mengoceh ria. Sambil sesekali bersenandung dengan suara melengkingnya.
"Senpai... Apa senpai lelah?"
"Apa senpai lapar?"
"Lalalalala ~"
"Pagi ini cerah ya senpai,"
"Senpai mau lolipop?"
"Apa senpai mau Tobi gendong?"
"Senpai.."
"Lalalala ~ yeah yeah ~ huwoouwoo ~"
"Senpai..."
"SenpaI.."
"SenpAI.."
"SenPAI.."
"SeNPAI.."
"SENPAI.."
"SEN...Hmpfh,"
"Cukup Tobi!" Deidara akhirnya tidak tahan juga dan membungkam Tobi.
"Maaf senpai... hiks.." Tobi menunduk dan menitikkan air mata.
"Sudahlah diam! Banyak yang melihat kita baka un," Deidara mulai panik saat tangisan Tobi mengeras.
Orang-orang yang melintas disana menengok semua ke arah Tobi dan Deidara. Dan sekarang mereka benar-benar menjadi pusat perhatian.
"To..Tobi... Tobi anak baik, jangan menangis ya un..." dengan lembut dan ramah Deidara berbisik pada Tobi. Namun Tobi tetap menangis.
"Padahal... PADAHAL TOBI SAYANG SAMA DEI-SENPAI! TAPI SENPAI SELALU MEMBUAT TOBI MENANGIS!" Tobi berteriak sambil menangis meraung-raung. Deidara sontak kaget lalu menengok ke kiri dan ke kanan.
Semua orang memandang sinis pada Deidara.
"Jahat ya..."
"Diputusin yaaa?"
"Sok cantik sekali wanita itu sampai membuat pacarnya menangis."
"Psst.. psst..."
"Bla bla bla bla."
Makin riuh saja omongan-omongan mereka tentang Deidara. Deidara hanya membungkuk sambil tersenyum tidak enak kepada mereka semua. Lalu akhirnya ia membekap mulut Tobi dan lari dari tempat itu.
"Wah.. wah... Pria cantik ini akhirnya tergoda juga ya pada Tobi sang pria imut."
Terdengar sebuah suara yang sangat Deidara kenal. Tiba-tiba ekspresi wajah Deidara langsung berubah 100 kali lipat lebih masam dibandingkan tadi.
Tanpa menoleh sedikitpun, Deidara mulai membuka suara. "Aku tidak berpacaran dengan makhluk autis ini gadis pink!"
Tobi yang masih dibekap Deidara berusaha melepaskan diri lalu berlari ke sumber suara dan langsung memeluknya.
"Sakura-chan," Tobi memeluknya erat. Dan gadis cantik berambut pink itu membalas pelukan Tobi. Ia menepuk-nepuk pundak Tobi dan menghapus sisa air mata Tobi.
"Ini untukmu Tobi, lain kali kalau 'pacarmu' itu menyakitimu, aku akan membelamu." Sakura menyeringai sambil memberikan lolipop jeruk kepada Tobi.
"Sudah kubilang AKU TIDAK BERPACARAN DENGAN LAKI-LAKI, PINK! un!" Kali ini Deidara menatap wajah Sakura yang masih tersenyum sinis kepadanya.
"Oh ya? Semua orang juga tau kau sangat mesra dengan Tobi, pirang cantik! Dan jangan panggil aku PINK!" gadis itu tersenyum sinis pada Deidara setelah itu ia membentak Deidara dengan tatapan kesal.
"Berhenti memanggilku seperti itu un! Dan kenapa aku tidak boleh memanggilmu pink? Toh memang di kepalamu ada setumpuk permen karet strawberry berbentuk rambut un! Berhentilah memancing emosiku un!"
"Apa kau bilang? Permen karet katamu! Heh! Pria setengah gadis, kau terpancing itu karena dirimu sendiri bodoh. Kau sungguh waria yang sensitif. Perasa dan mudah tersinggung. Apa kau sedang datang bulan nona?" goda Sakura yang setengah terkekeh kepada Deidara.
"AKU BUKAN PRIA SETENGAH GADIS ATAUPUN WARIA! Kau benar-benar menyebalkan pink!"
"Kenapa? Kau iri karena kau tidak secantik aku? Tenanglah manis, dengan sedikit polesan make up, kau akan menjadi ratu Konohagakuen." Senyum kemenangan menghiasi bibir merah Sakura.
"Sudah senpai, Sakura-chan,jangan berkelahi.. Lalalalalala ~" Tobi melerai sambil makan lolipop, menari hula-hula, dan bersenandung ria.
"DIAM KAU TOBI (un)!" bentak Deidara dan Sakura secara bersamaan.
"Sudahlah, tidak akan ada habisnya jika aku berbicara dengan gadis pink berkepala permen karet un!" sindir Deidara sambil tersenyum sinis dan melipat tangan di dada.
"Aku juga tidak mau buang-buang waktu berbicara dengan waria pirang yang sedang datang bulan... Ayo, Tobi. Kau jalan denganku saja ya," Sakura menggandeng tangan Tobi dan meninggalkan Deidara.
"Ayo ayo ayo ayo!" Tobi mau saja ikut Sakura karena sudah diberi lolipop jeruk.
"Gadis brengsek! Tapi biarlah. Yang penting Tobi jauh dariku!" Deidara menggerutu terus. Tiba-tiba ada yang merangkul Deidara dari belakang.
"Hey, Sayang... Kau sendirian saja?" seorang pria bernama Kiba merangkul pundak Deidara. Dia salah satu pria dari sekian banyak pria yang menyukai Deidara.
"Lepaskan aku bodoh! Menjijikan un!" Deidara melepas pelukannya lalu berjalan cepat menjauhi Kiba. Kiba menahan pergelangan tangan Deidara.
"Tunggu Dei-chan, kenapa kau selalu ketus padaku. Bukankah selama ini sikapku baik padamu?" ucap Kiba dengan sungguh sungguh. "Apa salahku? Aku mencintaimu," lanjut Kiba.
Deidara sudah tidak tahan. Dia melepas dengan kasar tangannya dari Kiba.
"Kesalahanmu cuma satu! Kau PRIA! Dan aku bukan GAY sepertimu un! Aku suka wanita kau mengerti?!" Deidara membentak Kiba lalu berlalu begitu saja. Wajah Kiba nampak murung namun Deidara tidak peduli.
"Hey cantik... Suitt... Suitt..."
"Dei-chan... Manis ..."
"Sendirian aja cantik..."
Sesampainya di sekolah malah dia makin banyak digoda oleh pria-pria itu. Walaupun sudah menjadi rutinitas, namun tetap Deidara merasa tidak nyaman. Ia mempercapat langkah kakinya karena tidak tahan dengan ucapan-ucapan pria itu.
Seorang pria bernama Suigetsu mendekati Deidara.
"Manis, sudah sarapan? Aku membuatkanmu sandwich," Suigetsu menyodorkan bento pada Deidara.
"Tidak! Aku mau sarapan di kantin saja un!" Deidara tetap melanjutkan langkahnya.
"Kalau begitu aku temani," Suigetsu menyamakan langkah kakinya dengan Deidara.
"Aku sudah ada janji dengan seseorang un!" Deidara berkilah.
"Siapa? Jangan-jangan dengan si Tobi autis itu! Sudah kuduga kau menolak kami karena kau sudah berpacaran dengan Tobi!"
Deidara menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Suigetsu.
"AKU BUKAN GAY SEPERTIMU! BODOH!"
Suigetsu merasa telinganya tertusuk oleh pedang tajam karena suara teriakan Deidara.
Kemudian ada seorang gadis berambut cokelat melintas di dekat mereka. Tiba-tiba Deidara menarik lengan gadis itu.
"Aku ada janji dengan dia! Dia pacarku un!" Deidara merangkul lengan gadis itu, gadis itu terkejut namun tidak berkata apapun.
Sementara Suigetsu dan pria lain yang melihat itu memasang ekspresi paling buruk yang mereka punya. Ada yang jatuh pingsan, kejang kejang, teriak histeris, menangis meraung-raung, bahkan sampai ada yang mulutnya berbusa setelah mendengar Deidara punya pacar.
"Apa cukup jelas?! Jangan mengikutiku lagi un! Ayo saying, kita ke kantin." Deidara tetap merangkul gadis itu menuju ke kantin.
"Apa apaan dia?!" gumam seorang gadis yang melihat keadaan dari atas pohon. Gadis cantik bermata emerald berkulit putih mulus, bibir yang merah dan berambut pendek terurai sebahu berwarna soft pink. Matanya memancarkan tatapan kurang senang pada Deidara dan gadis disampingnya.
To be Continued
