Secret Admirer FF Family presents
Fourmi rouge
.
.
Original Story
by Secretadmirer
.
.
Main Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Lee Gong Yoo, Wu Yifan.
.
Rate: M
.
Special thanks to Sasnithas
.
Disclaimer: This story is belongs to the author under the protection of Secretadmirer FF Family. Rewrite, repost, SIM are crimes. There will decisive action for it. Contain harsh word, unsual action scene and adult scene. Be a wise reader.
.
.
Enjoy
"Ini, tolong bagikan pada yang lain. Dan kau, jangan minum!" Sehun memukul bagian belakang kepala Vernon.
"Hey, mau kemana kau?!"
"Baekhyun!" si surai merah itu berteriak sebelum akhirnya kembali meninggalkan pria-pria tersebut. Vernon menggeleng, meletakkan minuman itu di tengah meja dan membiarkan para penjaga mengambilnya. Dia menatap ke arah sofa, mengerutkan dahinya dan menarik seorang penjaga yang baru akan menegak minumannya. "Di mana bos?"
"Istirahat di atas. Kelihatannya sangat kelelahanan, lagipula transaksinya masih lama." Dia membalasnya santai.
"Apa dia bersama dengan para guard?"
"Tentu saja."
Vernon mengangguk dan meneguk jus buatan Heechul di tangannya.
.
.
Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari lift saat layar menunjukkan lantai 4. Lorong itu dipenuhi oleh beberapa orang yang tengah berbincang dalam keadaan sadar dan beberapa di antara menikmati hidangan dengan tenang.
Lady memberikan lebih banyak penerangan di lorong penginapan sehingga langkah pria bermata madu itu menjadi lebih mudah. Segelas minuman berdiri tegak di atas nampan yang berada d sebelah telapak tangannya, berada dalam posisi tenang sementara Baekhyun terus melangkah lebih dalam. Kakinya yang hanya dibalut celana bahan abu-abu dan sepatu hitam menyusuri lorong dalam diam sambil sesekali matanya membaca nomer kamar yang terukir di pintu.
"437,438,439.." Ucapnya dalam hati.
Baekhyun melangkahkan kakinya lebih cepat di tengah lorong yang terlihat sepi itu.
"440,441,442- 446!"
Mata hazelnya menangkap nomer kamar itu ketika tubuhnya sedikit dimiringkan ke samping. Baekhyun baru akan mempercepat langkah kakinya ketika telinganya menangkap sebuah suara di sampingnya. Sebuah pintu terbuka, membuat si mata hazel tersentak kecil dan segera menoleh ke arah yang sana.
"Permisi- ah, tepat sekali."
Semuanya terjadi begitu cepat. Dia baru saja akan mencegah gelas itu berpindah tangan tepat setelah cairan beralkohol itu melesat masuk dalam tenggorokan pria tersebut. Baekhyun melebarkan maniknya dengan mulut terbuka lebar, sontak tangannya menampar gelas yang masih berada di genggaman pria itu.
'PRANG!'
"HEY!" Pria itu tersentak ke belakang. Wajahnya menatap marah ke arah gelas itu sebelum akhirnya menusuk Baekhyun degan tatapannya "Kenapa kau melakukannya?!"
Baekhyun menggeleng cepat sambil mencengkram nampannya. Sebelah tangannya buru-buru masuk ke dalam saku celana, mengeluarkan sebuah buku notes kecil dan berkutat dengan benda itu.
"Sialan, aku sedang bicara denganmu! Hey!" pria itu hendak memajukan tubuhnya namun terhenti saat Baekhyun menjulurkan notes tersebut.
"Tidak boleh, itu punya orang lain!"
Pria itu seketika memundurkan wajahnya, menatap bingung Baekhyun yang sekarang terlihat kesal karena pekerjaannya tergangu. Si mata madu mendesah sambil menepuk dahinya pelan. Baekhyun membungkukkan tubuhnya kecil sebelum berlalu dari sana, meninggalkan si surai abu yang menatapnya aneh. "Apa-apaan dia.."
"BOS!" Dia menoleh ke arah lorong, mendapati dua orang pria berlari ke arahnya. "Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Tidak, bukan apa-apa. Kembalilah, aku mau tidur lagi." Dia menunjukkan raut datarnya.
"Tapi-"
"Kembali dan datang hanya jika aku memangil. Paham?"
Kedua pria itu akhirnya mengangguk dan berbalik setelah pria itu masuk ke dalam ruangannya.
.
.
Baekhyun meletakkan nampan di tangannya dengan geram sambil menarik sebuah vacum cleaner besar dari gudang di lantai 4. Pria itu mendengus kasar, membuka pintu dan membantingnya sambil membawa alat tersebut keluar dari sana.
Pecahan kaca itu masih berserakan di sana. Baekhyun menyeret benda itu dengan tubuhnya yang kecil dan mulai membersihkan beling-beling tersebut sambil sesekali mencebik kesal karena punggungnya yang terasa sakit. Dia sudah cukup kelelahan untuk menambah jenis pekerjaannya, dan itu artinya dia harus kembali turun untuk mengambil minuman baru. Yang terburuk, gajinya akan dipotong untuk mengganti kerugian.
Dia menyedot sisa beling hingga bersih, memastikan tidak ada pengunjung yang terluka saat melintas lorong. Baekhyun mengulung kabel dengan peluh yang terus turun dari dahinya, mengaitkannya di gagang alat besar itu dan baru akan mendorongnya dari sana sebelum sebuah suara kembali mengganggunya.
Pintu itu terbuka lagi, menampakkan sosok yang baru saja mengganggu pekerjaannya. Baekhyun menatap pria itu datar, namun seketika tatapannya berubah saat melihat raut wajah pria itu.
Dahinya berkerut kuat hingga wajahnya memerah, matanya berkedip-kedip cepat dengan kepala yang menggeleng sesekali. Tangannya mencengkram pintu dengan kuat disertai peluh yang membasahi wajahnya.
Baekhyun tidak mengerti, tapi pengunjung itu terlihat kesakitan. Sontak dirinya meninggalkan vacum cleaner tersebut dan mendekat ke arah pria itu.
Hal pertama yang Baekhyun rasakan adalah tubuhnya yang basah, dengan kemeja biru tua yang sudah tidak berbentuk. Hawa tubuhnya panas dengan napas tersengal dan detak cepat dari dadanya yang bertabrakan dengan bahu Baekhyun. Si mata hazel melihatnya panik, berusaha menarik sesuatu dari pinggangnya namun lengannya dicengkram keras oleh pria itu.
"A-apa.." suara bassnya terdengar putus-putus. "Yang..hahh..h-hah..k-k-kau berik-k-kan..hhahhh.."
Dia panik, dia tidak tahu apapun yang menimpa pria itu. Namun matanya terlihat kesakitan. Baekhyun tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekalipun dia ingin membantunya.
"K-kau.."
Dan saat itu, ketika si surai abu menariknya dengan cepat untuk masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu dengan keras, sekilas wajah ibunya melintas dalam kepalanya. Sangat cantik.
"Hiduplah dengan bahagia, little Bee.."
.
.
"HEECHUL!" Rose melangkah dengan wajah keras menuju daerah bartender itu. Rambut karamel gelombangnya yang ditata dengan mahal bergoyang-goyang ketika kaki jenjang dalam balutan stilleto merah itu menghentak lantai dengan kuat. Wanita itu mengenakan dress hitam dengan potongan rendah dan ketat di bagian dada tanpa lengan yang hanya menutupi tubuhnya hingga di atas lutut. Lekuk tubuhnya begitu nampak, diperindah dengan liontin zamrud hijau terang di lehernya dan anting berlian hitam kecil.
Heechul tontak berbalik dan melempar sedikit senyumannya pada wanita itu, "My Lady.."
"Kamar 446 terus menggangguku karena minumannya tidak kunjung datang! Apa yang terjadi?"
"Tidak mungkin, Lady. Baekhyun sudah pergi melakukannya berjam-jam yang lalu, dia pasti mengantarkannya ke kamar yang benar."
"Baekhyun?" Rose melebarkan matanya. "Kenapa kau menyerahkan tugas itu padanya?!"
"Tapi Baekhyun sering melakukan pengantaran ke kamar VVIP, Lady. Kupikir dia tidak akan melakukan kesalahan."
"Tolong katakan padaku kalau kau tahu di mana Baekhyun berada sekarang." Napasnya terdengar berat, menahan getaran yang sedikit nampak pada bahu tereksposenya. Heechul mengerutkan dahi, menatap wanita itu dengan wajah bingung. "Baekhyun belum kembali?"
"Fuck.." Rose mengeram dengan bibirnya yang sewarna merah darah. "Di mana terakhir kali kau melihatnya?"
"Dia mengantar minum ke kamar 446. Kupikir dia sudah pergi dengan Seh-"
"Apa Baekhyun sudah kembali?" Sehun tiba-tiba muncul dari belakang wanita itu. Sang bartender tidak mampu melanjutkan apapun saat menatap kedua sosok di depannya. Dia segera menekan sebuah tombol yang ada di sampingnya, menunggu namun tidak ada satupun jawaban.
"Oh, yaampun.." Rose memijat dahinya. Dia berbalik sedikit memunggungi bartender, menarik sebanyak mungkin udara untuk menenangkan diri.
"Apa, apa yang terjadi, Lady? Ada apa dengan Baekhyun?" Sehun kembali bersuara.
"Lady, apa aku melakukan kesalahan?" Heechul akhirnya bersuara. Wanita itu mendengus cepat, memajukan tubuhnya ke meja bartender dan mengucapkan sesuatu yang membuat Heechul menahan napasnya.
"Kau baru saja memintanya mengantarkan minuman yang mengandung Viagra, Heechul. Menurutmu apa yang akan terjadi jika minuman itu berada di tangan yang salah?"
.
.
Baekhyun menatap lurus dalam diam. Dia tidak tahu apa yang mampu dilakukannya selain bernapas dan menatap tembok dalam diam. Udara dingin yang masuk entah dari mana membelai kulitnya, membuat bahunya bergetar namun tidak kunjung menyadarkannya dari apa yang sedang berkutat dalam pikirannya.
Setetes cairan bening lepas begitu saja dari pelupuk matanya, namun dengan cepat telapak tangan itu menghapusnya hingga tak bersisa. Baekhyun menggigit bibirnya kuat, menarik napas dalam sebelum kembali lagi menjadi hening. Dia menggunakan sebelah lengannya sebagai bantal, dan menggigit kuku jari telunjuknya yang lain dalam kegelapan.
Sesuatu yang dia pahami dengan baik, meskipun dia mengetahui bahwa dirinya tidak secerdas orang-orang di luar sana. Baekhyun ingat bahwa dia hanya menjalani pendidikan hingga sekolah menegah pertama sebelum akhirnya bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Tapi bukan berarti kepalanya tidak mampu mengerti apa yang baru saja terjadi padanya.
Memangnya apalagi yang bisa terjadi saat tubuhnya dihentak-hentak dengan keras di atas ranjang hingga rasanya hampir melubangi matras? Apalagi yang mungkin terjadi saat bagian bawah tubuhnya dihujam dengan sesuatu yang keras dan besar berkali-kali dengan kasar, terus-menerus hingga hampir merenggut kesadarannya?
Dia bukan bocah polos yang tidak tahu apa itu seks. Baekhyun setuju jika dirinya memang sulit memahami beberapa hal, namun bukan berarti dia tidak tahu bahwa dirinya baru saja bercinta.
Tidak. Dia baru saja disetubuhi.
Sesuatu telah direnggut darinya, diambil secara paksa. Membuat tubuhnya terasa kosong, ketika alat kelaminnya digenggam dengan kuat hingga menyemburkan sesuatu. Lagi, untuk kedua kalinya, harta berharga yang dimilikinya kembali direnggut darinya.
Baekhyun ingin menjerit, dia ingin mengutuk pria yang melakukan hal menjijikan pada tubuhnya yang sekarang ikut menjadi menjijikan. Mungkin dia bisa menghindar, mungkin dia bisa lepas sebelum pria itu menyentuhnya walaupun itu mustahil. Tapi apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah itu? Wanita itu sudah terlalu baik padanya, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia akan ditendang keluar oleh sang Lady karena telah menghina tamunya. Nasib baik jika wanita itu tidak mengambil nyawanya.
Dia akan berkeliaran di jalan karena kamar sewa Baemi terlalu berharga meskipun wanita itu pasti akan memberikannya secara gratis. Baekhyun juga tidak berpikir dia bisa melakukan hal lain di luar sana untuk menghasilkan uang.
Baekhyun yang tidak ditutupi apapun tersentak kecil saat sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, melingkar di pinggang telanjangnya. Pria itu menggerakkan bola matanya, sebelah tangannya terangkat untuk membungkam mulut gemetarnya yang hampir meloloskan isakan kehancuran. Dia menarik napas dalam, memejamkan mata sebentar untuk menguasai dirinya dan tetap diam sambil mendengarkan deru napas sosok di belakangnya.
Kulit si surai abu hangat, dan Baekhyun menyadarinya ketika lengan itu melingkar di tubuhnya. Bibirnya lembut ketika lehernya dikecup perlahan hingga terasa pegal, dan jemarinya yang kuat saat meremas dada miliknya. Meskipun dia menggigit keras di bagian leher dan puting susunya, Baekhyun merasa bahwa pria itu masih berusaha menahan keras dirinya. Tengkuknya meremang mengingat bagaimana sapuan bibir itu menyapa dada hingga punggung Baekhyun, mengusap perut miliknya setiap kali Baekhyun mendapat hentakan. Itu menyakitkan, tapi dia kecanduan.
Dia terkekeh pahit, berpikir mungkin dia benar-benar sudah gila sekarang.
"Aku tidak tahu apa lagi yang Kau inginkan dari hidupku. Aku sudah terlanjur menjadi manusia rendah sejak Kau mengambil ayah dan ibuku, maka menjadi hina bukanlah masalah untukku. Kau bisa melakukan apapun pada hidupku, silahkan saja. Aku memang sudah muak, kuharap Kau tidak keberatan jika bertemu denganku saat aku mati nanti. Mungkin sebentar lagi.."
Dia akan tetap diam, seperti apa yang biasa dilakukannya selama sepuluh tahun. Mengunci mulut, bersikap seolah tidak terjadi apapun dan kembali bekerja keesokan harinya. Dirinya sudah kotor, tapi itu tidak akan cukup kuat untuk membuat Baekhyun mengaku dan ditendang keluar ke jalanan oeh Lady-nya. Meskipun dia lebih senang jika tidak harus kembali bangun dan melanjutkan hidup.
Jadi ketika beban di kelopak matanya menjadi semakin berat, Baekhyun memutuskan untuk mengikuti rasa kantuknya yang menyihir si mata madu ke alam bawah sadar.
Dia tidak sadar bahwa dirinya tengah tertidur di dalam pelukan seseorang yang mereka sebut sebagai Bos.
Phoenix yang agung, Park Chanyeol.
.
.
.
To be continued
