JADILAH EGOIS, KURA-KURA

BY: Cnara-chan Namiuzukage.

Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Genre: Romance, Family, Friendship.

Rated: T

Pairing: NaruSaku, NaruKarin, SasuKarin.

Warning: miss typo, gaje, ada oknum kejam didalam (ngelirik Karin).

Ok, happy reading.. minna-san.. ^_^

JADILAH EGOIS KURA-KURA

chapter 3

"Mana yang kau suka?" tnya Naruto didepan sebuah meja etalase yang memanjang.

"…"

"Bagaimana kalau yang ini?"

"…"

"Ini juga sepertinya bagus, sepertinya akan cocok untukmu," naruto mengangkat sebuah cincin berwarna perak ditangannya. Kilauan berlian terpantul terkena sinar lampu took.

"Cobalah," Naruto menyodorkan cincin berbahan emas putih itu pada Sakura. Gadis itu hanya diam memandangi lingkaran kecil yang disodorkan Naruto padanya. Sesaat Sakura terdiam, lalu menghela nafas berat.

"Aku tidak bias melakukannya."

Alis Naruto berkerut, "Kau hanya harus memasangnya dijarimu, sama sekali tidak sulit. Masukkan ujung jari manis kirimu pada lingkaran dalam cincin ini, dan tarik. Itu saja."

Sakura menatap Naruto datar. "Kau tahu bukan itu maksudku."

"Hm? Lalu?"

"Aku tidak bisa melakukan pernikahan ini." Ucap Sakura getir.

"Kenapa tidak?"

"Aku.." Sakura menundukkan kepalanya.

"Beranikan dirimu, seperti saat beberapa jam yang lalu." Ucap Naruto memandangi Sakura.

"Apa?" ucap Sakura terkejut dan mengangkat kepalanya memandang Naruto.

"Kau tahu.." Naruto mencondongkan tubuhnya mendekati Sakura, "Saat kau bilang kalau kita melakukannya atas dasar suka sama suka." Ucap Naruto sambil tersenyum menantang.

"Aku melakukannya untuk melindungi nee-chanku." Sakura balas menatap Naruto.

"Tidak juga," Naruto menegakkan tubuhnya, engan senyum yang masih terukir dibibirnya yang merah alami. Ia meletakkan cincin tadi di atas meja etalase dan memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.

""Kau melakukannya untuk melindungiku,"

"..."

"Kau bisa saja diam seperti yang kau lakukan sekarang, tapi kau tidak melakukannya. Aku benar'kan?" Sakura hanya diam sambil memalingkan wajahnya.

"Kenapa kau melakukannya?" alis Naruto terangkat. Sampai sekarang ia masih belum mengerti alasan dibalik semua yang dilakukan Sakura.

"Apa kau lebih suka kalau aku tidak melakukannya?" mata emerald Sakura menatap Naruto getir.

Naruto sedikit tersentak melihat tanggapan Sakura. Ia tidak menyangka Sakura malah balik bertanya seperti ini.

"Hmm, tidak juga." Naruto mengangkat bahunya santai, sambil tersenyum.

Sakura hanya diam melihat tanggapan Naruto, tentunya ia masih ingat saat Naruto mengatainya keparat siang tadi.

Keparat.. haha, rasanya Sakura ingin tertawa sekarang, hidup menyedihkan macam apa ini? Bahkan sekarang ia harusberpura menikah dengan orang laknat ini. Mengkhianati kepercayaan ibunya tentang betapa sucinya sebuah pernikahan.

"Pernikahan.."

Naruto mengalihkan pandangannya ke Sakura, mendengar gumaman kecil yang dilontarkan Sakura.

Sakura melanjutkan perkataanya.

"Aku percaya, pernikahan adalah suatu hal yang suci. Hal saklar yang menyatukan dua insane yang saling mencintai." Jeda sejenak, "setidaknya itulah yang dikatakan Kaa-san ku."

"Kaa-san mu?" Naruto tampak bingung, "tapi dia tidak tampak seperti orang yang berpikiran seperti itu saat aku melihatnya tadi siang." Naruto sedikit tertawa menghina saat mengatakan "bahkan matanya seperti berubah menjadi hijau saat Tou-san ku bilang kalau aku akan menikahimu, bukankah itu.."

"Tutup mulutmu."

Naruto terkejut mendengar suara dingin yang terlontar dari bibir gadis dihadapannya. Ia diam menunggu perkataan Sakura yang selanjutnya. Tapi tidak ada satupun kata yang terlontar lagi dari bibirpink gadis yanh sedang menunduk itu.

Kemudian ia melihatnya, sebuah tetesan air yang jatuh menetes kelantai . reflex Naruto memeluk Sakura,membawanya kedekapan hangat milik Naruto.

Tapi gadis itu sama sekali tidak meneteskan air matanya lagi. Sama sekali tidak.

Perlahan Sakura melepas pelukan reflex Naruto.

"Aku akan merlakukannya, seperti katamu… jika itu yang diinginkan Kaa-san ku." Ucap Sakura memandang Naruto dengan senyum yang terpasang laghi dibibirnya.

Naruto hanya diam dengan wajah dingin, dan pergi meninggalkan Sakura begitu saja, membeli sepasang cincin untuk pertunangan mereka, dan kembali membawa Sakura ke mobilnya.

Bahkan tidak ada satu pun kata yang terlontar dari bibir kedua pasangan itu, hingga akhirnya Sakura sampai didepan rumahnya.

Sakura melepas sabuk pengamannya dan menunduk pada Naruto, mengucapkan salam terima kasih lalu turun dari mobil Ferrari merah milik Naruto.

Dimobil Naruto hanya menggenggam keras stir mobilnya.

Setelah melihat gadis itu menutup pintu rumahnya, dengan segera Naruto melajukan mobilnya dengan kecepatan tertinggi yang bisa ditempuh mobil Ferrari keluaran terbaru itu.

'cklek', Sakura menutup pintu rumahnya.

"Dasar murahan," mendengarnya, Sakura membalikkan tubuhnya menghadap Karin.

"Sudah susah payah kau kubilang diperkosa, apa kau memang mengincarnya dari awal, hah?" ucap Karin sedikit berteriak.

"Mengincarnya?" ulang Sakura pelan.

"Kau dengar dengan jelas apa yang kukatakan, jalang." Karin mendengus sambil menyandarkan tubuhnya pada lengan sofa diruangan itu.

"…"

"sebenarnya apa maumu? Hartanya?"

"Karin nee-chan.."

"BERHENTILAH MEMANGGILKU SEPERTI ITU, SIALAN!", teriak Karin.

"Camkan ini baik-baik, kau bukan adikku." Mata Karin memandangi Sakura tajam.

"Sudahlah, yang harus kau lakukan sekarang hanyalah meninggalkan kekasihku. Putuskan hubungan rencana pernikahan laknat itu!" ucap Karin santai, seolah hanya meminta Sakura mengambilkan air untuknya.

"Apa maksumu, Karin? Tentu saja Sakura harus menikah dengan Naruto-kun."ucap Karura dengan senyum lebar diwajahnya.

Ia berjalan mendekati Sakura dan memeluknya. Sakura hanya diam, Ia tidak perlu memikirkan apa pun, merasakan apa pun. Seorang Sakura hanya perlumelakukan apa yang diinginkan oleh Karura, kaa-sannya.

Benarkan? Itulah yang seharusnya dilakukannya.

Melepakan pelukannya, Karura lalu berkata, "Iya'kan Sakura?" sambil tersenyum manis pada gadis manis itu.

Sakura hanya bisa tersenyum manis pada Kaa-sannya, kaa-san yang sudah merawatnya selama 10 tahu n hidupnya.

Sekarang Sakura sudah berada dikamarnya sendiri. Terdiam sambil terbaring di atas kasurnya yang berukuran king size itu. Matanya menatap langit-langit kamar yag gelap. Sakura memang tidak menyalakan lampukamar, membuatnya lebih leluasa menenangkan diri. Merenungkan kejadian-kejadian yang berlalu terlalu cepat hari ini, hingga membuat kepalanya terasa sakit.

Perlahan mulutnya menyandungkan sebuah lagu. Lagu yang selalu dinyanyikan Kaa-sannya dulu.

"If I should stay..

I would only be in your way..

So I'll go.. but I know

I'll think of you in every step of the way..

And i…. will always love you.

I will always love you.."

"Kaa-san tidak akan benci padaku karena melakukan ini'kan? Apa aku mempermalukan Kaa-san dan Tou-san disana?" Sakura memejamkan matanya sejenak, kemudian tersenyum, "Yahh, kalian akan selalu mencintaiku, seperti yang kalian katakana." Setetes air mata mulai jatuh dipipi Sakura, disusul oleh tetesan-tetesan bening lainnya yang juga jatuh kepipinya. Sepanjang malam, Sakura menangis dalam diam hingga akhirnya ia jatuh tertidur.

Naruto menjatuhkan dirinya dengan keras kekasur. Kedua tangannya menutupi matanya yang terasa berat.

"Ck, apa masalahnya memangnya?" Naruto teringat Sakura, "Dasar bodoh," gumam Naruto pelan.

Ia mengambil handphonenya dari saku dan mengirim sebuah pesan ke Sakura.

Ia diam sesaat memandangi layar handphone yang menunjukkan nama Sakura.

Naruto sudah mengetahui segala hal tentang Uzumaki Sakura, atau tepatnya Haruno Sakura.

Tidak habis fikir ada orang yang sebodoh itu untuk dimanfaatkan.

"Akh!" Naruto mengacak rambutnya geram. Ia teringat senyum aneh gadis itu, juga setitik air mata yang menetes miliknya.

"Menyebalkan." Gumamnya dengan suara nyaris hilang, dengan tubuh yang terbaring lemas. Sepertinya tenaganya sudah habis mengingat banyaknya hal yang terjadi hari ini.

Tiba-tiba Naruto teringat sesuatu dan menyeringai mengerikan,

"Uzumaki Karin.."