Walaupun kenangan tak bisa dihapusnya, setidaknya perasaan sepihaknya itu bisa dibunuhnya.

[Akashi S., Kagami T., Kuroko T.] | AkaKuro, KagaKuro inside!

Ours

Akashi Yukina

Akashi S., Kuroko T., Kagami Taiga.

The plot and the idea is originally mine, the characters is belong to Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujimaki-Sensei

Common rules applied, readers /RnR yooo

YAOI/BL, GAJE, OOC, DONT LIKE DONT READ!

OURS CHAPTER THREE

[Not the present.]

Kagami menatap pemandangan ke luar jendela. Langit terlihat lebih gelap, dan perlahan rintik air hujan turun membasahi bumi. Betapa ia merindukan hujan setelah beberapa bulan lamanya tak bertemu? Tapi seperti biasa, jalanan shibuya selalu ramai pengunjung. Selalu dipenuhi oleh lautan manusia seperti ini. Tak pernah sepi, seperti hidupnya akhir-akhir ini. Di mejanya, sebuah cup americano yang tinggal setengah, satu vanilla milkshake dan black tea dibiarkan dingin. Sudah dua bulan, dan ia mulai melupakan kejadian yang sudah berlalu.

Hari ini adalah hari libur kuliahnya. Ia memiliki waktu seharian untuk bersantai, menonton, ataupun menyicil tugas skripsinya yang akan datang sebentar lagi. Tapi tidak ketiganya, laki-laki itu justru sibuk merapikan diri.

Hari ini adalah hari spesial untuknya. Setidaknya laki-laki itu berpikir demikian. Ia akan melepaskan apa yang sempat dimilikinya itu, pada adiknya. Dengan begitu, ia tak memiliki hutang apapun lagi.

Kagami melenyapkan dirinya ke toilet untuk mempersiapkan mentalnya sebelum melakukan ritualnya: melepaskan apa yang seharusnya lepas, dan membuangnya pada tempatnya. Lelaki berambut merah tua itu melipat kerah kemejanya. Kemeja hitam yang menurut Kuroko sangat cocok dipakainya. Yeah, untuk kali ini saja. Laki-laki itu akan mulai terbiasa dengan apa yang sudah ditinggalkan pemuda baby blue itu.

Tapi sepertinya tidak, tidak pernah.

Kagami membuka keran air dan menyemprotkan yang bisa ditangkup tangannya, ke wajahnya. Ia lalu menatap pantulan bayangannya di depan cermin. Ia mulai berhalusinasi. Di cermin itu, bayangan Kuroko yang sedang memeluknya dari belakang–terlalu jelas. Tapi ia sadar kalau semua ini salah. Salah karena ia masih ingin memiliki Kuroko meski dirinya telah menetapkan keputusannya. Kagami menengadahkan tangannya lagi, berusaha meraup air yang masih keluar dari keran, kemudian membasuhkannya ke wajahnya lagi. Dan mengangkat tangan untuk kemudian mengacak rambutnya sendiri. Acak-acakan, seperti hidupnya akhir-akhir ini.

Ini bukan salah Kuroko. Bukan pula salahnya, atau salah Akashi. Ini hanyalah takdir yang memang seharusnya terjadi. Yeah, dia cukup dewasa untuk berpikir rasional. Ia tidak ingin menyalahkan siapapun. Ini takdir. Takdir yang tak bisa dicegahnya. Takdir yang sengaja Tuhan gariskan untuk mereka.

Apa kau rela Taiga?

Kagami memejamkan matanya. Bayangan Kuroko memenuhi kepalanya. Senyumnya, wajah datarnya, dan tawa yang jarang keluar. Lalu ada Akashi, sikap Akashi yang dingin padanya, Akashi yang selalu menuruti setiap perkataan ibunya dan Akashi yang sebentar lagi akan memimpin perusahaan ayahnya. Lalu ada mereka berdua, berpelukan, melakukan hal-hal yang belum pernah diketahuinya. Mereka yang bahagia sekaligus tersakiti. Sekarang ia mulai membayangkan dirinya tanpa Kuroko.

Your silky hair

Your white t-shirt and sneakers

Your coy walk

Kuroko Tetsuya yang selalu menarik seluruh perhatiannya.

I see you in my dreams but it doesn't make my heart rush anymore girl

Kagami sudah memikirkannya. Keputusan yang dipilihnya. Tentang apa yang seharusnya dilakukannya untuk mendukung hubungan mereka. Kuroko dan Akashi. Dan itu berarti harus membuatnya terluka sendirian.

Kuroko sangat berarti baginya. Tentu. Kuroko mengajarkan banyak hal padanya. Kuroko juga adalah alasan dari berbagai macam hal baik yang dilakukannya. Kuroko is the reason. Dia mampu merubah kehidupan Kagami Taiga yang hanya tahu kebebasan lebih memiliki penjagaan diri dan adat seperti kebanyakan orang Jepang. Kuroko juga yang mengubah persepsinya bahwa USA lebih baik dari Jepang, menjadi sebaliknya. Karena Kagami tahu, ada Kuroko yang hidup di sana.

Dan sekarang, Kuroko menjadi candu baginya. Sementara Kagami ingin sekali melepaskan candunya itu. Pasti akan menyakitkan.

Walaupun kenangan tak bisa dihapusnya, setidaknya perasaan sepihaknya itu bisa dibunuhnya.

Just like how the strong coffee aroma disappears

You have faded as well, I've become indifferent

Karena Kagami tahu, waktunya tidak banyak lagi.

Kagami menekan tombol satu pada layar handphonenya dan kemudian menempelkan ponselnya ke telinga bagian kiri. Kagami menunggu selama beberapa detika sebelum sebuah suara bass yang lucu menjawab teleponnya. Ah, Kagami merindukannya.

"Neh, Kuroko. Moshi-moshi."

I was perfectly fine as I walked into this coffee shop

Maafkan aku, aku telah lama menahan kalian pada keegoanku. Maaf.

I'm used to it, the caramel scent that came from your body, right?

.

.

[F l a s h b a c k]

"Tetsuya, dengarkan aku." Ujar Akashi lirih, cukup berbeda untuk Akashi yang biasanya selalu berada dalam posisi tinggi dengan nada absolut dan perkataan yang selalu telak ataupun berupa perintah. "Bagaimana perasaannya setelah kau meninggalkannya? Meski aku tidak menganggapnya, tapi dia tetap kakakku. Yang kutahu, dia lebih menyukaimu daripada aku."

Kuroko menatapnya dengan sinar kemarahan pada sepasang baby blue miliknya. "Apa yang sudah terjadi di antara kita bertiga, Akashi-kun? Aku tidak ingin bermain-main dengan dosa."

Akashi meraihnya ke dalam pelukan karena ia tahu kalau Kuroko akan kabur lagi. "Aku menyukaimu, Tetsuya." Bisiknya di samping telinga Kuroko, membuat pemuda itu menegang. "Sangat. Kau mendengarnya, dan kau mengetahuinya sendiri."Akashi menghembuskan nafasnya yang terasa berton-ton beratnya. Haruskah ia mengakui hal yang memalukan ini, lagi? Bagaimana kalau pengakuannya bisa mencoreng sikap absolutnya? Sekarang, Akashi tidak lagi peduli pada hal itu. "Tapi aku tidak bisa berbohong kalau cinta Taiga lebih besar kepadamu, di banding diriku."

Kuroko menunggu. Kenapa Akashi mengatakan hal pahit ini padanya?

"Kita harus hentikan cerita yang seharusnya sudah selesai ini. Cepat atau lambat kita harus menghadapi kenyataan, Tetsuya. Meski bukan sekarang, kenyataan akan memburumu di masa depan. Apa kau tidak lelah? Salah satu dari kita harus mengalah. Atau seluruhnya harus menyerah. Seluruhnya." Tegas Akashi

Kuroko hanya menghadirkan keheningan yang terlalu lama bagi Akashi. Beberapa menit, mulut itu tidak kunjung terbuka. Tapi setidaknya jawaban Kuroko membuat dirinya sedikit lebih lega. "Kalau Akashi-ku sudah memutuskannya, maka kita memang harus melakukannya. Bukankah begitu? Maka aku harus bisa." Kuroko melenggang pergi. Membawa semua luka yang menggerogoti tubuhnya, bersama ayunan kakinya.

Akashi memanggilnya sebelum pemuda berambut baby blue yang masih memakai tuxedo-nya menjauh, dan membuat Kuroko berhenti. "Tetsuya."

Kuroko hanya diam untuk menunggu Akashi melanjutkan apa yang seharusnya sudah dikatakan. Mungkin setetes obat yang membuat lukanya hampir tidak berarti.

"Maafkan aku."

Kuroko menoleh, menatapnya dengan senyum mengembang di wajahnya. "Hai, Akashi-kun."

Sayangnya, seseorang yang sempat menangkap pembicaraan mereka, sudah pergi sejak tadi. Ya, Kagami berada di sana saat pengakuan perasaan Akashi itu. Tapi laki-laki itu sudah pergi, tanpa mendengarkan seluruh percakapan mereka. Ia sudah cukup terluka untuk mendengarkan pengakuan Akashi, juga kesadaran bahwa dia juga telah melukai mereka. Sudah cukup, ia tidak bisa mendengar selebihnya, dan memutuskan untuk pergi,

membawa hatinya yang hancur berkeping-keping.

Kalau memang benar Kuroko bukan untuknya, maka sebaiknya menyerahkan pemuda ini kepada pemiliknya.

Ya, Akashi, kau beruntung sekali.

T b c

Akhirnya TBC juga /slap/ ini akan jadi ff chaptered yang panjang. Mungkin 4-5 Chapter. Jadi mohon kesabarannya untuk menunggu chapter selanjutnya lagi.

Yuki dapat ide ini setelah baca trans-nya si B.A.P – Coffee shop. Jadi terserah readers kalau mau menggolongkan ini ke dalam songfic, karena memang FF ini dibalut dengan lagu tersebut. -_-v

Yang maksudnya "Not the present" yaitu adegan ini /eaaa/ diambil (?) sebelum chapter sebelumnya bagian Kuroko yang mengemasi barang-barang. Jadi hati-hati ya kalau mengenali bagian Kagami sebagai lanjutan dari bagian Kuroko *yang ada di chapter sebelumnya.

Last, Review pleas ^_~

Salam gunting,

-Yuki