Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 © ATLUS
Kebebasan tak ubahnya udara yang selalu di sekitar kita, begitu nikmat, namun tak sungguh kita hargai.
Hitomi no Kotae
Suara besar dari hantaman suatu benda pada dinding lantai enam penjara 'Shoru', telah mengambil perannya sebagai alarm pagi pada hari Sabtu musim semi tersebut. Para penjaga yang baru akan memulai pergantian jam jaga segera menuju lokasi alarm besar yang baru saja berdering itu, dan melaporkan apa yang mereka tangkap pada pimpinan mereka.
Dinding dari salah satu sel lantai enam penjara tersebut kini tak lagi utuh dan kokoh sepenuhnya. Sebuah lubang telah menganga lebar di dinding sel tersebut, bak sebuah jendela besar tanpa kaca dengan bingkai tumpukan batu bata hancur yang kini menampilkan panorama hutan lebat di pagi buta. Angin dingin dapat leluasa masuk melalui lubang tersebut, dan seolah telah diberi perintah, masing-masing mulut dari sebagian besar penjaga yang telah tiba di sel tersebut hanya bisa ikut menganga seperti lubang di dinding itu, sementara tubuh mereka hanya terpaku diam di ambang pintu sel.
Seorang pria berusia enam puluh tahun-an menyeruak masuk di tengah kerumunan penjaga yang menghalangi pintu sel, dan kini pria itu dapat dengan jelas menonton sendiri lubang tersebut−sesaat sebelumnya terhalangi oleh penonton lain. Reaksi yang ditimbulkan tak jauh berbeda dengan penjaga lainnya, tetapi pria tua berseragam rapi tersebut dapat secara langsung mengendalikan dirinya untuk menghadap penjaga lain di belakang tubuhnya, yang tak lain adalah bawahannya.
"Bodoh! Apa yang kalian lakukan, HA?! Cepat tangkap tahanan itu!" Teriak kepala penjara lantai enam. Bawahannya tampak kaget ketika ia berteriak dengan suara berat sambil menghempaskan tangan kanannya ke samping. Jelas rautnya menunjukan amarah, dan dengan patuh seluruh penjaga yang berada di hadapannya menjawab, "b-baik!" lalu berlalu meninggalkan atasan mereka di dalam sel hancur yang telah kosong tersebut.
Langkahnya terhentak keras ke lantai, ketika ia memutuskan meninggalkan sel penjara yang hampir membuat kepalanya terlepas dari tubuhnya, serta membuat wajah bulatnya merah padam seperti terbakar. Dipastikan ia telah kehilangan selera makannya untuk satu hari penuh−atau mungkin dapat membengkak hingga beberapa minggu−sehingga pria dengan perut besar itu tidak memperhatikan lagi nomor '786' yang tercetak jelas pada lempeng besi di samping pintu sel.
-2-
Freely for Living with Full of Pain
Langkah sepatu hitam yang dikenakan Naoto tergerak perlahan dengan suara kecil pada lantai koridor asrama, sembari punggungnya tertutupi tas coklat sederhana yang agaknya lumayan besar−jika berbanding dengan tubuh kecil berseragam siswa itu−dan cukup berisi. Sinar hangat surya di awal hari menembus tenang pada setiap jendela koridor, dan bayang-bayang jendela pun tercetak di lantai kayu yang sedang ditapakinya, sebelum akhirnya ia sampai pada ruangan utama asrama; ruang tamu.
Sofa ruang tamu tampak dipenuhi oleh Nanako seorang. Agaknya Naoto mulai mengerti beberapa karateristik yang dimiliki oleh beberapa orang yang sering ditemuinya, salah satunya Nanako yang selalu menikmati saat-saat berdiam dirinya dengan sofa empuk dan program televisi.
Naoto membiarkan dirinya ikut terlibat dalam aktivitas Nanako, dengan duduk pada sofa yang berhadapan dengan sofa Nanako. "...em, pagi." Sapa Nanako agak canggung. Naoto membalas dengan anggukan kecil dan meniru tindakan Nanako tanpa banyak bicara. Memang terasa kaku bagi Nanako untuk berhadapan langsung dengan orang yang belum benar-benar lama ia kenali, terutama tipe seperti Naoto yang tak mengambil banyak waktu untuk bicara. Keduanya mencoba bersikap tenang dengan memberi perhatian pada program animasi yang selalu tayang di pagi hari, dan tak mencoba mengeluarkan suara apapun.
Sejujurnya Naoto tak benar-benar tertarik pada apa yang sedang dilakukan oleh sang tokoh animasi. Pertanyaan mengapa Alice dan Pharos yang tak kunjung datang dan berkumpul bersama mereka berdua di ruangan ini justru tampak memenuhi perhatiannya. Jam dinding yang berdentang dengan pelan−bahkan hampir tak terdengar akibat teredam oleh suara musik dari animasi di televisi−hampir menunjukan pukul enam kurang seperempat menit. Hal itu seakan menandakan jika sang penanda waktu sedang bicara, bahwa tak akan memakan waktu lama bagi Chie dan Yukari untuk sampai di tempat mereka. Apa Pharos dan Alice masih berada di ruangan pribadi mereka masing-masing? Naoto tak dapat menjawabnya, karena tak akan menyenangkan untuk menyeruak masuk pada kamar mereka. Selain itu, Naoto juga tak memiliki niat besar untuk berkunjung pada kamar mereka.
Kini siaran sejenak berganti dengan program breaking news. Naoto dapat memperhatikan lebih baik dari pada program sebelumnya kali ini. Seorang pria berumur kurang lebih empat puluh tahun yang berperan sebagai pembawa acara tampak dengan beribawa membawakan berita singkatnya. Acara dimulai dengan sang pembawa acara yang mengucapkan salam bagi pemirsa dan berita pun dimulai.
"Pagi ini, baru saja terjadi ledakan pada salah satu sel dari penjara Shoru, di daerah Tsunoku. Tahanan dari penghuni sel yang hancur tersebut berhasil melarikan diri, dan sampai sekarang identitasnya tetap disembunyikan. Masih dilakukan pengejaran, dan sebab dari peristiwa yang terjadi pada penjara kelas kakap ini." Kedua bola mata biru milik Naoto memperhatikan siaran berita dengan seksama, terutama ketika ditunjukan bagaimana keadaan sel tersebut. Dinding dari sel yang hancur tersebut memang tampak benar-benar telah di-bom.
Penglihatan gadis berambut biru itu tak sengaja mengarah pada gadis berusia enam tahun di hadapannya. Segala pemikirannya meleleh begitu ia menangkap air wajah dari Nanako. Dari wajahnya, Naoto seperti merasa ada sesuatu yang menggangu gadis kecil itu. Mata coklat susunya memandang dengan pandangan seolah ia dapat menembus segala sesuatu yang diterawangnya−
"Pagi," suara yang tanpa diperkirakan siapa pun terlontar, sontak membuat kelopak mata milik Nanako berkedip beberapa kali dengan cepat, seolah itu adalah cara agar gadis kecil itu dapat kembali sadar dari lamunannya. Naoto yang juga merasa sedikit kaget, memalingkan wajahnya pada sumber suara dan sedikit membuka mulutnya sebagai tindakan responnya.
Perhatian kedua gadis itu kini mengarah pada Pharos yang mulai berjalan ke arah mereka. Seragamnya ia kenakan dengan rapi, dan tangan kanannya menggandeng tas sekolahnya. Dengan sewajarnya, Pharos duduk pada sofa dimana Naoto berada di sampingnya.
Siaran berita telah diakhiri dengan salam penutup dari sang pembawa acara. Tanpa menuggu lama, siaran animasi segera kembali ditayangkan dan musik yang mengiringi acara tersebut telah sepenuhnya memenuhi ruangan. Nyanyian riang dari para tokoh animasi seakan berusaha mengisisi kesunyian yang dibuat oleh ketiga anak tersebut.
"Ini semua akibat kelalaian anak buah saya. Mohon maafkan saya Mochizuki-sama." Untuk kesekian kalinya, kepala penjaga penjara Shoru itu membungkukkan tubuhnya di hadapan Mochizuki Ryoji yang sedang terduduk di kursi ruangannya. Di belakang kepala penjaga penjara tersebut, seorang pria gendut yang merupakan kepala penjaga penjara lantai enam juga menundukkan tubuhnya dengan rasa bersalah.
Berbanding terbalik dengan kedua pria tersebut, Ryoji justru terlihat tenang seakan tidak pernah terjadi suatu kejadian besar−yang hingga diberitakan di setiap saluran televisi (dan mungkin saja dapat membuatnya mendapatkan sebuah 'salam' peringatan keras dari negara-negara besar)−pada tempat yang menjadi daerah penjagaannya tersebut. Perlahan, Ryoji mengangkat tubuhnya dan berjalan membelakangi kedua pria yang merupakan bawahannya itu. Cukup beberapa langkah, dan kemudian Ryoji berhenti di hadapan jendela besar yang membelakangi meja kerjanya. Bola matanya menatap lurus pada pemandangan hutan lebat di balik jendela kaca tersebut, lalu berucap, "pasukan pencari sedang mengajar tahanan tersebut bukan?"
"Be-benar! Seluruh pasukan pencari telah diperintahkan untuk menemukan tahanan sel 768 tersebut bagaimanapun caranya." Kepala penjaga penjara tersebut bicara setegas mungkin pada atasannya dengan maksud mendapat sebuah kepercayaan darinya−walau ia sedikit terbata pada awalnya, dikarenakan atasannya yang sedari sebelumnya hanya merapatkan suaranya, tiba-tiba saja secara spontan melontarkan pertanyaan.
"Kalian boleh keluar sekarang," perintah Ryoji datar pada kedua bawahannya tanpa membalikan tubuh atau menengok sedikit pun. Kedua bawahannya tersebut segera menuruti apa yang baru saja Ryoji perintahkan setelah memberikan salam hormat baginya−yang juga tidak Ryoji gubris.
Pandangannya tetap ia fokuskan pada apa yang ditampilkan di balik jendela besar tersebut. Dalam benaknya, ia mengulang kembali nomor sel tahanan tersebut dengan memahat ekspresi tak terjelaskan di wajahnya.
Di bawah rindangnya pohon, Koromaru kini sedang menikmati istirahat siang harinya ditemani segala keindahan musim semi di Okuruitsu. Cahaya mentari menyelinap dari sela-sela rimbunnya pohon dan menghangatkannya, sedangkan angin kecil membelai lembut helaian bulu putih dari anjing shiba tersebut, dan menerbangkan beberapa kelopak sakura ke arahnya. Sesekali hidung hitamnya yang basah mengendus-endus kecil untuk merasakan harum dari parfum bunga-bunga yang bermekaran, bau tanah musim semi, serta rumput liar di padang rumput yang menari-nari bersama angin. Bola mata beririskan merah terang kini terbiarkan bersembunyi di balik kelopak matanya, begitu juga dirinya yang dibiarkan terbuai di dalam dunia mimpi yang fana.
Tak jauh berbeda dari segi tindakan dan jarak, seorang Hanamura Yosuke kini juga tengah menikmati segala keindahan musim semi sembari membuat nyaman dirinya di salah satu dahan dari pohon besar yang dengan sukarela menaunginya dan Koromaru. Headphone jingga kesayangannya dibiarkan tergantung bebas di sekitar lehernya. Entah sedang tidak berselera, atau mungkin hanya ingin menikmati bagaimana senandung burung gereja saling bersahutan, bersamaan dengan melodi dari ranting pohon yang bergesekan satu sama lain berkat angin sepoi-sepoi yang sedari tadi juga ikut bermain dengan rambut coklat susunya.
Begitu nyamannya hingga pemuda yang selalu merayakan ulang tahunnya pada tanggal 22 Juni tersebut hampir tenggelam pada dunia alam bawah sadarnya, dan tidak menyadari kehadiran seseorang yang berjalan dengan perlahan mendekatinya, berbeda dengan Koromaru yang segera menyadari keberadaan orang tersebut yang tak lain adalah Yukiko. Memang insting seorang anjing lebih tajam dibandingkan seorang manusia.
Koromaru segera membuka kelopak matanya dan mengerak-gerakkan ekornya dengan riang begitu Yukiko telah sampai di bawah pohon yang tengah ditumpangi oleh Yosuke dan anjing putih tersebut. Pandangan Koromaru yang semula terarah pada Yukiko kini beralih pada keranjang rotan yang berada pada genggaman tangan kanan Yukiko. Pandangan mata Koromaru semakin cemerlang di saat Yukiko memutuskan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Koromaru, dan tanpa menunggu apapun, Koromaru segera memasukan moncong hidungnya ke dalam anyaman rotan berbentuk tas tersebut. Yukiko menyadarinya dan sangat mengerti maksud Koromaru, maka sebelum annjing tersebut menghabiskan segala makanan yang telah dibelinya di desa, tangan kanannya segera menyeruak masuk ke dalam keranjang dan mengeluarkan dua potong kue kering gandum yang segera di sambut riang oleh Koromaru.
Yukiko memamarkan senyum di paras cantiknya, dan kemudian beralih pada seseorang yang berada tepat di atasnya. "Kurasa kita harus sedikit berhati-hati. Beberapa orang di desa telah membicarakan tahanan yang baru saja melarikan diri itu." Ucap Yukiko dengan menambahkan sedikit nada serius di kalimatnya.
Yosuke yang segera menyadari keberadaan Yukiko beberapa saat sebelumnya, memutuskan untuk sedikit memperlihatkan salah satu bola mata coklatnya pada gadis yang berada tak jauh di bawahnya, kemudian mulai mendudukkan tubuhnya pada ranting pohon yang sedang ditumpanginya tersebut dengan hati-hati, sambil meregangkan tubuhnya dengan merentangkan kedua lengannya, "berita tadi pagi itu?−hwam... setidaknya jarak antara daerah Tsunoku dengan Okuruitsu cukup jauh bukan? Manusia biasa tidak akan menempuh jarak sejauh itu, terkecuali kalau tahanan itu robot tempur berkekuatan turbo." Mulut Yosuke membentuk huruf 'O' besar ketika menguap dan dari nada bicaranya jelas sekali bahwa ia tidak menghawatirkan apapun mengenai peristiwa besar tersebut.
"Hm... itu benar..." Yukiko berusaha menyetujui ucapan Yosuke walau rasa ganjil masih sedikit menyelimuti dirinya, sehingga ia melayangkan pandangannya ke arah lain tanpa maksud untuk memperhatikan pemandangan yang sedang matanya arahkan, ataupun menghindari tatapan memohon Koromaru yang meminta potongan biskuit kering gandum lainnya.
"Hei! Souji!" Teriakan Junpei jelas terserap oleh kedua pendengaran sang pemuda berambut abu-abu yang memiliki nama Seta Souji. Seta muda tersebut hanya memalingkan wajahnya sedikit ke belakang, tanpa mengubah posisi kakinya berpijak. Iori Junpei sedikit mempercepat langkahnya pada pemuda yang dipanggilnya, sebelum akhirnya berhenti tepat saat Souji juga memutar tubuhnya ke hadapan Junpei.
"Sweet.., hehe.. lihat pakaianmu−aku hampir tidak mengenalimu." Ucap Junpei sambil memasang seringai lebar di wajahnya. Kedua bola mata Junpei tak hentinya memperhatikan diri Souji yang berpakaian kemeja putih dengan dasi hijau lumut yang tergantung pada bagian kerahnya, disertai pula jas abu-abu dengan kancing yang sengaja tak dikaitkan olehnya, serta celana panjang abu-abu yang senada dengan jas tersebut dan sepatu coklatnya.
Junpei kembali mefokuskan pandangannya pada wajah Souji yang memberikan ekspresi datar pada dirinya. "Well, sejujurnya aku masih tidak mengerti apa yang ada di otakmu sekarang. Kau tahu..−jika kau mau−kau bisa saja memperoleh salah satu posisi tertinggi di militer−atau mungkin bisa saja sederajat dengan Akihiko-san." Junpei mendesah kesal sambil memegangi lehernya seolah ia benar-benar merasa pegal, lalu kembali berucap, "tapi kau malah menolak tawaran 'emas' itu, dan tetap pada posisi prajurit pertahanan. Dan sekarang..., kau mulai mengambil kerja sambilan sebagai penjaga perpustakaan kota." Tampaknya Junpei telah kehabisan akal untuk mengerti jalan pikiran Souji.
"Benarkah? Kupikir pustakawan adalah pekerjaan yang menarik." Souji melontarkan pendapatnya dengan sederhana dan datar−yang tersesuaikan dengan ekspresi wajahnya di hadapan Junpei−hingga membuat orang yang ia ajak bicara tak tahu cara menanggapi kalimatnya.
Setelah terdiam untuk sekian detik, Junpei akhirnya dapat bereaksi, "ma-maksudku, perkerjaan seperti itu memang tidak buruk. Tapi coba kau pikirkan, dihormati…, selalu diandalkan…, gaji yang tinggi. Ayolah… orang mana yang tidak ingin?" Jelas Junpei kembali sambil sedikit berdecak kesal. "Sudahlah, jurusan kereta kita sama bukan? Ayo, aku tidak ingin mendengar ocehan Yuka-tan terus di militer−hanya karena datang lewat dari waktunya."
Percakapan Junpei lanjutkan dengan hal-hal ringan, sembari kedua pemuda yang berlainan usia sekitar dua tahun tersebut menunggu barisan gerbong kereta untuk mereka tumpangi.
'Tampaknya pekerjaan ini sebagai pelampiasan hobimu,' Ujar Junpei dalam batinnya, saat menyadari buku tipis yang tampak sudah tua dengan sampul bergambar seekor itik abu-abu yang sedang menatap permukaan air sungai, di tangan kiri Souji−yang mana tangan kanan Souji sendiri sedang menggenggam tas kantor berwarna coklat. 'Kau memang tak berbeda jauh dari Minato.' Lanjut Junpei tanpa bersuara.
Alunan musik mengalun pada gendang telinga pemuda berambut biru itu. Dengan sangat tenang, ia menginjakan kakinya pada permukaan lantai marmer di koridor barat lantai empat, kantor pusat pemerintahan Shinkaeku. Tangan kanannya menggenggam sejumlah map berisi kertas-kertas dan dokumen penting, sedang tangan kirinya ia sembunyikan di balik saku celananya. Bola mata biru yang tenang menjadi indra penglihatan yang dapat membantu pemuda itu untuk memperhatikan arah langkah sepatu hitam polosnya.
"Arisato," sebuah panggilan singkat dengan nada tenang yang beribawa menyeruak masuk pada indra pendengaran Minato di balik alunan musik yang masih mengisi pendengaran sang pemuda, sebelum ia menarik earphones yang selalu menyertainya itu menjauh dari salah satu telinganya.
Seorang gadis kini telah berdiri di hadapannya begitu ia membalikan tubuhnya 180˚. Tiap helaian indah rambut merah gadis tersebut menjadi mahkota bagi kepala sang gadis. Perawakannya yang anggun tersesuaikan dengan penampilannya, baik dari bagaimana tatanan rambutnya, serta pita merah yang tertata sedikit ke kanan pada kerah blouse putih di balik jas hitam sepinggangnya. Ikat pinggang abu-abu yang ia kenakan ikut melingkari jas hitamnya tersebut, dan celana hitam yang panjangnya setara dengan mata kakinya dapat memperlihatkan ujung dari sepatu boots panjang dengan high heels yang berwarna hitam kelam miliknya.
"Aku berterima kasih kau mau ikut berpatisipasi dalam rapat ujian penerimaan siswa baru akademi militer unit khusus, sebelumnya." Senyum kecil terulas pada bibir Mitsuru, ketika ia mengucapkan kalimat tersebut sambil menyembunyikan bola mata merah gelapnya dengan kelopak matanya. Minato tak bereaksi apapun dan hanya menunggu sang pemimpin Shinkaeku kambali berucap.
Perlahan Mitsuru menampilkan mata merah gelapnya pada Minato, dan ulasan senyumnya telah pudar tergantikan ekpresi tenang di wajahnya. "...kelihatannya kau tau bukan ini yang ingin aku bahas," ucapan Mitsuru menunjukan sikap tenang dan serius yang dimilikinya.
Tangan kanan Minato meraih earphones yang masih melekat pada telinganya, lalu beralih pada mp3 player yang selalu tergantung pada lehernya dan menekan tombol stop untuk menghentikan lagu yang sedari tadi mengaluni melodi baginya. Mitsuru kembali melanjutkan ucapannya, "ku harap kau mempertimbangkan kembali ucapanku beberapa hari lalu. Shinkaeku lebih membutuhkan pemimpin seperti mu. Aku ingin mempercayakan tanggung jawab ini kepada mu, dan kurasa ini yang Arisato-sama−pemimpin terdahulu Shinkaeku−inginkan."
"Maaf Mitsuru-sama." Minato berucap kecil sambil menatap lurus gadis di hadapannya, "saya rasa tanggung jawab seperti ini terlalu besar. Shinkaeku dapat tumbuh sampai sekarang berkat anda. Saya harap, anda tetap mempertahankan posisi ini." Mitsuru tak dapat berkata lain selain terus menatap Minato tanpa mengubah ekspresi.
Pandangan Minato tetap terarah pada Mitsuru, namun−secara tak sengaja−penglihatannya terarah pada jendela besar yang berjejer di sepanjang koridor dan dapat terlihat sesosok gadis tengah berdiri di koridor penghubung lantai lima, yang mana koridor tersebut menghubungkan dua bangunan, yaitu kantor pusat pemerintahan dan kantor pusat penelitian.
Minato segera angkat suara, "jika anda mengizinkan, saya permisi dulu. Selamat siang Mitsuru-sama." Belum sempat Mitsuru kembali mengutarakan kalimatnya, Minato segera menundukan sedikit tubuhnya sebagai salam hormat, dan yang dapat Mitsuru lakukan hanya membalas dengan anggukan kepala. Segera Minato berjalan melewatinya, dan untuk terakhir kalinya, Mitsuru hanya dapat membalikan tubuhnya sedikit dan memperhatikan punggung pemuda berambut biru tersebut mulai menjauh.
Mitsuru segera melangkahkan sepatu boots miliknya pada permukaan lantai, tetapi dengan cepatnya bola mata merahnya menangkap seorang gadis berambut biru dari balik jendela koridor. Gadis itu hanya berdiam diri, dan memejamkan matanya.
Naoto terus memejamkan matanya sedari tadi, dan berusaha menikmati semilir angin yang menyapu wajahnya dari ketinggian tiga puluh kaki. Kini ia sedang berusaha menenangkan dirinya dari segala kegiatan hariannya yang selalu dipenuhi tugas-tugas. Kedua lengan bawah tangannya ia letakkan pada besi pembatas, sembari sesekali ia kembali membuka kelopak matanya dan membiarkan bola mata birunya memperhatikan para awan mengarak di langit dengan tenang.
Bagaimanapun pemandangan indah yang terlukis, seluruhnya tetap terasa seperti percuma. Yang dapat ia lihat hanyalah segala pemandangan di Shinkaeku, baik bangunannya, rumah-rumah penduduk, taman, hutan, dan segala tempat lainnya, tanpa dapat ia bayangkan dan ingat kembali bayang-bayang tempat yang berada di luar kanoie ini.
Jendela kaca besar yang melingkupi Shinkaeku baginya terasa seperti jeruji besi penjara. Walau seperti tak terlihat dan tak ada, namun ia tahu bahwa kanoie ini, Shinkaeku, seluruhnya terselubungi dari dunia luar. Gedung-gedung dan segala hal lainnya telah menutupi dunia luar yang mungkin saja−menurut Naoto−dapat lebih indah.
Angin yang kini ia rasakan pun hanya bagian dari teknologi, walau memang berasal dari dunia luar, tetapi bukan berarti terdapat fentilasi pada jendela kaca ini. Naoto tahu terdapat sebuah lubang udara yang letaknya tersembunyi di salah satu sudut Shinkaeku, dan sisanya tetap merupakan suatu proses teknologi. Tak jauh berbeda, jika langit mulai terlihat mendung dan hujan mulai turun, segala teknologi mulai berkerja dan terjadilah hujan di Shinkaeku, itu pulalah yang terjadi jika salju mulai melayang jatuh ke bumi.
Shinkaeku dapat dikatakan seperti labirin, segala bangunannya telah ditata, dan seluruh penduduk kota seperti sedang bermain dalam taman istana indah yang berebentuk labirin tanpa ada jalan keluar. Atau memang ada jalan keluar, namun hanya segelintir orang yang mengetahuinya? Apapun jawabannya, hanya beberapa pejabat penting, dan orang-orang penting yang mengetahui rahasia pahit ini. Mereka yang hanya penduduk biasa dapat diseimbangkan dengan boneka mainan dalam kotak mainan. Heh… orang-orang itu memang bodoh, akan tetapi… sesungguhnya ia sendiri−Shirogane Naoto−merupakan salah satu dari mereka−orang-orang bodoh. Atau bahkan lebih bodoh karena mengetahui hal ini, akan tetapi tak dapat melakukan apa-apa. Seperti capung dalam botol kaca. Dapat terbang, tetapi tak dapat bebas.
Naoto ingin bertanya, apakah di luar sana terdapat kanoie lain yang seperti ini? Bagaimana tentang legenda sebuah kanoie yang bernama 'Okuruitsu'? Apa kanoie yang diceritakan merupakan kembaran dari Shinkaeku itu benar-benar ada? Naoto hanya dapat merapatkan mulutnya dan tak menyuarakan apa pun, lagi pula siapalah yang dapat ia tanyakan? Kalaupun ada, orang itu dapat dipresentasikan 95% tak akan bicara, karena pertanyaan seperti itu memang pertanyaan tabu, yang tak boleh dibicarakan oleh sebab tertentu. Jadi hanya ada 5% kemungkinan bahwa ada orang yang ingin membahas hal ini dengan orang lain secara terbuka dan berani.
Legenda hanya mengatakan bahwa Okuruitsu pernah mencoba menghancurkan Shinkaeku dengan sebuah kabut racun, sehingga secara perlahan penduduk Shinkaeku dapat sakit dengan menderita, dan pergi meninggalkan dunia ini karena rasa sakit itu. Tapi itu hanya legenda lama, dan untuk beberapa alasan tertentu, Naoto tak ingin mempercayainya.
Naoto memutuskan untuk memejamkan kembali matanya dan tak memikirkan kenyataan pahit itu. Walau sering kali ia berpikir seperti apa dunia luar dan bagaimana rasanya dapat bebas, Naoto tak dapat mengingat kembali perasaan itu, atau mungkin memang ia tak pernah mendapatkannya…
"Sungguh tidak adil bukan? Orang lain bekerja keras dan ingin memiliki kemampuan khusus seperti para pasukan militer unit khusus. Tapi 'seseorang' secara tidak adil mendapat perlakuan istimewa dari Mitsuru-sama, dan dengan terbukanya dapat menjadi pasukan elit itu, walau hanya dapat mengunakan setengah kemampuan khusus itu!"
Naoto dapat mendengar langkah sepatu seseorang dan bagaimana orang yang kini berjalan tepat di belakangnya tersebut bicara dengan suara yang sengaja dibuat lantang agar orang yang dimaksudkan, yaitu ia sendiri, dapat mendengarnya. Ya…, ia sudah terbiasa dengan sebutan 'seseorang yang mendapat perlakuan khusus' karena statusnya sebagai pasukan militer unit khusus walau hanya dapat melakukan setengah dari kekuatan khusus tersebut. Persona.
"Eiko-chan…−" Terdengar kembali suara dari orang yang b
erbeda dari sebelumnya di belakang Naoto. Suara tersebut terdengar agak tertahan dan bervolume kecil agar orang lain tak dapat mendengarnya, kecuali lawan bicaranya−tapi tetap saja Naoto dapat mendengarnya. Naoto memtuskan untuk tetap diam dan menutup kedua matanya, berusaha tak peduli sama sekali tentang perkataan orang−yang bernama 'Eiko'−itu mengenai dirinya.
"Apa?! Memang begitu 'kan? Lihat saja, bahkan sekarang 'orang itu' dapat dengan santainya beristirahat. Tidak seperti kita yang harus berlarian kesana kemari dan bekerja keras terus menerus." Suara itu kembali terdengar, dan kini lebih lantang dan terasa penuh emosi. Naoto tetap membisu.
...Naoto sadar, ia tak pernah mendapatkan sesuatu yang disebut 'kebebasan', salah satunya dalam bidang dipercayai dan diterima oleh orang lain, baik sebagai salah satu anggota dari pasukan militer unit khusus ataupun sebagai Shirogane Naoto−
"Hei," Naoto tersentak kaget begitu mendengar seulas suara menghampiri pendengarannya. Segera ia membuka kelopak matanya dan secara refleks pandangannya mengarah pada sumber suara. Seorang pemuda dengan tinggi kira-kira 170 cm, tengah berdiri di sebelahnya kini. Naoto sungguh tak menyadari hawa keberadaannya, dan tampaknya dua orang yang sebelumnya membicarakannya pun telah pergi.
"Sedang beristirahat?" ucap Minato dengan suara tenang yang entah mengapa, hal itu membuat Naoto ikut merasa tenang. Naoto mengangkat kedua lengannya dari besi pembatas dan menghadapkan tubuhnya di hahadapan Minato.
"Aku kemari hanya untuk mengantarkan beberapa dokumen penelitian ke kantor pusat penelitian. Kalau begitu, aku harus segera kembali ke laboratorium penelitian, permisi." Naoto segera membalikan tubuhnya dan mengangkat kakinya untuk melangkah, namun kalimat Minato telah menghalangi niatnya untuk terus melangkah, "bagaimana kalau ke atap sebentar?"
Wajah Naoto kini kembali menatap ke arah Minato tanpa membalikan tubuhnya. Tangan kanannya menarik sedikit ujung topinya ke bawah dan sebuah senyum kecil terulas di bibirnya, "kurasa tak masalah jika aku sedikit terlambat," ucap Naoto.
Minato segera berjalan mendahului Naoto yang segera mengikutinya. Sebelum mereka melangkah lebih jauh untuk meninggalkan koridor penghubung lantai lima,−tanpa menggerakan wajahnya sedikit pun−dari ujung ekor matanya, bola mata Naoto memperhatikan Mitsuru yang kini sedang mengawasinya dari balik jendela koridor barat lantai empat kantor pusat pemerintahan.
Terik matahari melingkupi setiap sudut Shinkaeku, tak terkecuali jalan yang kini tengah dilalui oleh Naoto kecil. Angka hitam besar yang terbentuk pada jam tangannya menunjukan pukul '12.52' yang dapat diartikan bahwa jam sekolah telah usai sekitar tiga puluh tiga menit yang lalu.
Sebenarnya, Naoto agak berpikir mengapa Alice tidak nampak sekalipun selama seharian ini−baik sarapan pagi hari, hingga saat pengajaran sekolah telah dimulai, bangkunya yang berada pada jarak dua bangku di belakang Naoto tetap tak terisi hingga pelajaran berakhir. Pagi itu, hanya Chie yang tiba untuk menyiapkan sarapan pada mereka−Pharos, Nanako, dan Naoto−walau tiba sedikit terlambat dari waktunya.
Gadis kecil yang tampak seperti seorang pemuda berusia sepuluh tahun itu kini hanya dapat kembali ke asramanya tanpa ada kegiatan lain. Nanako telah menginformasikannya bahwa ia akan pulang terlambat dikarenakan latihan paduan suara bersama teman-temannya yang lain. Sedangkan Pharos…, entahlah, bocah berambut hitam tersebut juga tiba-tiba menghilang begitu bel pulang sekolah berdentang−selain itu, Naoto tampak tak terlalu mengurusinya.
Perhatiannya mulai teralihkan pada jejeran toko di sepanjang terotoan yang kini ditelusurinya untuk menuju asrama. Kedai ramen tradisional, toko alat perkakas, toko alat tulis, toko mainan, butik kecil, dan beragam toko lainnya terhidangkan di sepanjang jalan. Langkah kakinya kini hampir melewati jembatan penyebrangan−yang mana jalur menuju asrama mengarah lurus tanpa melewati jembatan tersebut−dan secara kebetulan gadis tersebut menemukan sebuah gedung sederhana yang terlihat kuno, ikut berbaris di antara pertokoan lain pada sudut jalan yang berlainan dengan jalan yang sedang dilewatinya.
Papan pamflet tua yang menghiasi tembok di atas pintu masuknya bertuliskan 'MAMOZU LIBRARY'. Jendela-jendela besar menghiasi kanan dan kiri pintu masuknya, sedangkan pada bagian atap gedung terdapat sebuah menara kecil yang tingginya kira-kira seperempat dari tinggi gedung tersebut. Naoto tak dapat melihat jelas apa yang terselubung dibalik jendela kecil menara tersebut, dikarenakan jarak dan ketinggiannya.
Gadis kecil itu masih terdiam sejenak sembari memperhatikan sang gedung dari pingir terotoan yang mendekati jembatan penyeberangan, sampai beberapa saat kemudian−untuk berbagai alasan−maka Naoto memutuskan untuk mengubah rute perjalanannya dari jalan lurus menuju asrama, berganti menjadi melewati jembatan penyeberangan tersebut.
Ia melangkahkan kaki kecilnya secara hati-hati di setiap anak tangga, dan mulai menyelusuri jembatan penyeberangan hingga sampai pada terotoan di ujung lain jembatan penyeberangan tersebut. Kembali ia berjalan menyelusuri beberapa toko, kemudian berbelok ke kanan dan kembali menyelusuri beberapa toko lagi sebelum berhenti tepat di seberang jalan dari perpustakaan tersebut.
Tak cukup lama bagi gadis kecil tersebut untuk menunggu sampai lampu penyeberangan memberi warna hijau dengan simbol orang yang sedang berjalan. Beberapa remaja dan orang dewasa mengikutinya untuk menyeberangi jalan raya yang cukup sepi tersebut, sedangkan beberapa kendaraan, seperti bus, mobil, dan kendaraan bermotor berjejer di sisi kanan mereka untuk menunggu hingga gerombolan kecil manusia itu menyingkir dari jalan mereka.
Lampu penyeberangan kembali berubah dengan warna merah terang dan simbol orang sedang berhenti menghiasi rambu tersebut. Naoto telah sampai di pintu perpustkaan tersebut dan tanpa ragu, tangan kanannya meraih gagang kayu dari pintu jati berukir sulur dengan bunga-bunga kecil di hadapannya. Indra pendengarannya masih dapat mendengar suara mesin-mesin kendaraan dan klakson yang bergema di belakangnya, di samping suara derit kecil dari pintu yang tengah didorongnya.
Kedua matanya dapat berpendapat bahwa bagian dalam gedung dengan sampul luarnya memang tak jauh berbeda−bahkan dapat dikatakan sesuai. Gedung tersebut memang cukup besar dan memiliki dua lantai−dengan lantai kedua yang berupa balkon dengan rak-rak buku tinggi di sepanjang dindingnya. Segalanya memang tampak telah mencangkup umur yang panjang, baik dari segi rak buku, meja, kursi, serta beberapa buku yang terpajang. Walau termakan usia yang bahkan melebihi umurnya, tampak segala benda-benda yang tersusun di sana tertata dengan rapi dan bersih. Tak banyak pengunjung yang dapat ia lihat−atau memang yang terlihat hanya ada seorang kakek tua yang entah sedang membaca atau tertidur di salah satu kursi pembaca−selain dirinya, ia juga tidak menemukan pustakawan yang seharusnya berjaga di belakang meja pendaftaran pengunjung.
Naoto memperhatikan sekeliling sembari berjalan untuk mencari deretan rak tinggi yang menyimpan beberapa buku novel misteri−agaknya ia mulai menyukai jenis novel tersebut, setelah kemarin mencoba membaca sedikit novel dengan jenis tersebut dari perpustakaan sekolahnya. Gadis itu sedikit mengetahui beberapa pengarang novel misteri terkenal seperti 'Sir Arthur Conan Doyle', 'Agatha May Christie Mallowan' yang sering kali dijuluki 'Queen of Mystery', 'Enid Blyton', dan yang lainnya dari beberapa buku yang dibacanya kemarin.
Tetapi hasil yang didapatnya nihil, alias percuma. Di sepanjang rak yang telah dilalui Naoto pada lantai satu perpustakaan ini, tak ia tangkap satu pun kumpulan buku misteri. Naoto menatap pada kumpulan rak yang tersisa di lantai dua dan mengharapkan akan adanya beberapa novel misteri yang mungkin dapat ia pinjam untuk diajak pulang bersama ke asrama. Sepatu hitamnya melangkah cepat pada barisan anak tangga berputar yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua, dan segera memeriksa satu persatu dengan cermat rak-rak yang menjulang tinggi di sampingnya.
Pada rak pertama yang tepat berhadapan dengan tangga, berisi sejumlah ensiklopedia dan biografi sejumlah tokoh terkenal seperti Albert Einstein, Bill Gates, Adolf Hitler, dan banyak yang lainnya. Sedangkan rak yang mendampinginya di sebelah kanan terisi oleh beberapa kamus bahasa asing, buku-buku sejarah, serta beberapa buku sastra.
Derap langkahnya dapat ia dengarkan dengan lumayan jelas dikarenakan perpustakaan tersebut yang terasa begitu sunyi, dan benar-benar menjadi sepi ketika ia menghentikan langkahnya. Di sebelah rak berisi kamus, buku sejarah, sastra tersebut tidak terdapat rak buku lagi seperti yang terdapat pada rak di sebelah kirinya, melainkan posisi tersebut tergantikan oleh sebuah pintu kayu polos. Naoto tak berniat untuk menyelinap masuk ke dalam ruangan di balik pintu tersebut, dan segera kembali memperhatikan rak buku selanjutnya.
Rak buku selanjutnya berisi...– Naoto kembali melirik pintu tersebut. Ya..., ia tau rak selanjutnya berisi sejumlah buku fisiologi, namun entah ada angin apa yang baru saja merasukinya, niat mencari bukunya tiba-tiba saja menguap menjadi atom-atom kecil dan menghilang. Naoto tidak ingin dianggap sebagai penyelinap atau apapun namanya itu, akan tetapi rasa keingin tahuannya yang terlalu besar dengan mudahnya mendorong tubuh pendek tersebut untuk mendekati kembali pintu tersebut. Sebuah teori singkat tiba-tiba saja merasuki pemikirannya dan berkata 'hanya melirik ke dalam sedikit bukan masalah besar,' di dalam batinnya, dan hebatnya ia melakoninya.
Salah satu bola berwarna biru laut yang terpasang di rongga matanya 'mengunjungi' sedikit pemandangan yang ada di belakan pintu tersebut. Berbeda dengan bayangan imajinasinya yang mengira di balik pintu tersebut terdapat sebuah ruangan kerja, kenyataanya, yang terdapat di balik pintu tersebut bukanlah ruangan kerja atau apapun seperti gudang, tetapi merupakan sebuah lorong tangga yang memutar. Maka dengan ini, ia memutuskan rasa penasarannya telah sedikit terjawab−ia tak ingin mengakui bahwa sejujurnya ia berusaha membuang jauh-jauh fakta bahwa rasa penasaran yang bersemayam dalam tubunya telah tumbuh semakin besar−dan dengan segala spekulasi, ia memutuskan bahwa mungkin lorong tersebut menuju menara dari perpustakaan tersebut.
Dengan langkah cepat ia segera kembali pada rak yang sebelumnya sedang ia perhatikan, dan mulai mencari kembali novel misteri yang diinginkannya. Rak yang selanjutnya itu berisi kumpulan buku fisiologi, buku−
Dhenggg...
Dentang lonceng bergema dalam jiwanya. Tanpa memikirkan apapun lagi, kedua kakinya melangkah menuju pintu polos di belakangnya, dan setahap demi setahap kakinya mulai menanjaki deretan tangga batu yang tak terhitung jumlahnya.
Ketika Minato sampai pada anak tangga terakhir, tangan kanannya meraih gagang pintu atap gedung yang tampak sedikit berkarat di beberapa sudutnya. Tangan kanannya berusaha membuka pintu tua tersebut, namun walau berulang kali gagang pintu tersebut ia putar, pintu tersebut tetap bertahan pada posisinya dan tak terbuka sedikit pun.
"Sulit untuk dibuka. Pintu ini sudah terlalu tua dan sekarang dikunci. Selain itu, sepertinya engselnya mulai aus." Ucap Minato menjelaskan bagaimana kondisi pintu yang ada di hadapannya sembari mengetuk sedikit papan kayu dari pintu tersebut. "Akan kucoba mendobraknya," Minato melanjutkan ucapannya.
Naoto segera melangkah maju dan mengahalangi Minato untuk melakukan sesuatu pada pintu tersebut. "Tidak perlu," ucap Naoto singkat. Naoto meraih revolver yang terkait pada rantai kecil di celana biru dengan motif kotaknya.
"Kau tidak bermaksud untuk melakukan 'itu' bukan?" Minato bereaksi ketika melihat revolver yang sedang digenggam oleh tangan kanan Naoto.
"Bisa saja, revolver ini dilengkapi peredam suara, selain itu aku dapat menggunakan sapu tangan untuk menghilangkan bau dari bubuk mesiunya," Naoto berhenti melanjutkan kalimatnya untuk sementara, dan meraih sesusatu yang tergantung pada ujung rantai di celananya, "tapi aku lebih memilih menggunakan ini," Naoto menunjukan kunci yang baru saja berhasil ia raih.
"Kau masih menyimpan kunci curian itu." Ucap Minato sambil membentuk simpul senyum kecil di wajahnya. Naoto tak menanggapinya dan mulai memasukan kunci berwarna perak itu ke lubang kunci lalu memutarnya.
"Kurasa sekarang akan lebih mudah untuk dibuka−tapi tetap kau harus sedikit mendorongnya." Naoto memberikan jalan dan membiarkan Minato membukanya.
Terdengar sedikit bunyi berderit ketika pintu tersebut dibuka, dan dapat terasakan sinar matahari menembus jendela kaca yang menyelubungi Shinkaeku, di wajah mereka.
Sebelum pintu tersebut terbuka, lorong kecil bertangga yang merupakan satu-satunya jalan menuju atap kantor pusat penelitian hampir tak diterangi satu cahaya pun−kecuali fentilasi kecil di atas pintu atap tersebut. Lampu yang berada tepat di depan pintu atap tersebut tidak berfungsi ketika Naoto mencoba menyalakannya. Hal ini membuat kedua orang itu secara refleks menyipitkan kedua alat penglihatan mereka akibat sinar terang tersebut. Minato mengangkat tangan kanannya ke dahinya agar sedikit menghalangi sinar tersebut menerangi bola mata birunya, sedangkan Naoto menarik ke bawah ujung topi biru yang hampir selalu melekat di kepalanya itu untuk tujuan yang sama dengan Minato.
Perlahan, pasangan kaki itu menapaki satu persatu lantai pada atap kantor pusat penelitian. Minato berjalan memunggungi Naoto dan langsung menempati salah satu lantai yang kira-kira berjarak lima lantai jauhnya dari pagar pembatas yang cukup tinggi. Kaki panjang berbalut celana hitam miliknya dibiarkan terjulur pada lantai atap yang terhiasi warna biru langit, sembari tubuhnya terduduk dan wajah tenangnya bertatapan dengan langit cerah.
Berbanding terbalik, Naoto tak memutuskan dirinya untuk mengikuti tindakan Minato, dan memilih untuk semakin dekat pada pagar pembatas. Tepat di hadapan pagar pembatas, sepatu Naoto berhenti bergerak, jari tangannya ia kaitkan pada jaring-jaring pagar dan wajahnya menatap lurus pemandangan yang di suguhkan dari ketinggian tersebut.
"Lama tidak melihat pemandangan seperti ini," ekspresi datar tetap menjadi topeng bagi wajah Naoto. Semilir angin menyapu wajahnya dan menyerbu helaian rambut biru tuanya, begitu pula yang dialami pemuda di belakangnya.
"Kau mengingat tempat ini?" Tiba-tiba saja Minato mengajukan pertanyaan, sementara kedua kelopak matanya tertutup dan kedua tangannya menyentuh permukaan lantai untuk menopang tubuhnya.
"Entahlah, aku tidak tau." Kesunyian mengisi semilir angin yang menerpa mereka sebelum Naoto kembali menggerakan bibirnya. "...terasa menyenangkan saja." Seuntai kalimat yang bagaikan sihir dan secara otomatis dapat membuat remaja berusia enam belas tahun tersebut tersenyum kecil.
Mianto tak memberi respon apapun untuk beberapa saat sebelum pernyataan terlontar melalui pita suaranya, "kelihatannya ingatanmu belum sepenuhnya kembali." Naoto telah melepaskan senyumannya sebelum pernyataan tersebut terlontar, dan mengganti dengan kedua kelopak mata sang gadis yang tertutup. "…maaf."
"Bukan kesalahanmu mendapat kecelakaan itu−setidaknya merasa pernah mengingat sesuatu langkah yang baik." Minato berusaha menghibur walau menggunakan nada datar, dan Naoto menikmati sikap pedulinya yang bagai seorang… "kakak."
Kelopak mata Minato terbuka cepat dan dengan refleks mengarah pada punggung gadis di hadapannya. Minato baru saja ingin mengucapkan sesuatu, namun Naoto segera membuat klarifikasi atas perkataannya, "m-maksudku, kau pernah bilang bahwa aku sering memanggilmu dengan panggilan itu. Jadi…, ku pikir baik jika aku mulai membiasakan hal-hal yang sering kulakukan dulu." Naoto membuka kedua matanya sedikit dan masih tak bertatapan langsung dengan pemuda yang baru saja ia panggil dengan kata 'kakak'.
"Jangan dipaksakan." Minato hanya berpendapat singkat.
Naoto menundukkan sedikit wajahnya. Pikirannya terbang kemana saja dan semakin tersesat. Gadis itu merasa hanya menemukan jalan kekecewaan, tanpa mengerti dimana kedua kakinya dapat berpijak sebagai dirinya sendiri.
"Aaghk…−!" Teriak Naoto kecil.
Lututnya tertekuk jatuh di antara untaian tangga batu yang panjang. Tubuhnya terasa kacau dan ia tahu tak mungkin untuk melanjutkan perjalanannya. Rasa sakit mendadak menyambarnya tanpa sebab, hingga membuat tubuh kecilnya rubuh tak berkekuatan. Tangan kanannya ikut tertekuk sambil menahan tubuhnya yang jatuh berlutut untuk tak semakin jatuh, sedangakan tangan kirinya tengah sibuk menahan rasa sakit pada mata kirinya.
Panas dan perih menyerang tubuhnya dengan ganas hingga terasa pada organ jantungnya. Begitu sakit hingga Naoto yang berusia sepuluh tahun tersebut tak dapat menopang lebih panjang lagi beban dari tubuh dan rasa sakitnya. Ia hanya dapat pasrah sambil menekan jantungnya untuk mengurangi rasa sakit pada organ tersebut dengan tangan kanan, dan masih terus menekan mata kirinya.
Dhenggg...
Nyanyian lonceng masih terus bergema−bahkan semakin kencang dan ribut−,sampai tubuhnya telah jatuh tertidur walau samar-samar kesadarannya masih terus ia pegang. Dengan rasa sakitnya, Naoto masih dapat mendengar derap langkah kecil yang berubah menjadi cepat, serta suara seseorang di dekatnya. Seseorang menyentuh pundaknya dan terus menggoyangkan tubuhnya.
Semuanya terasa memusingkan dan tak ada cahaya yang dapat menerangi dirinya ataupun hal-hal di sekitarnya. Sedikit kesadarannya merasakan seseorang telah mengangkut tubuhnya dan kemudian segalanya benar-benar menjadi gelap total.
Saya tau betapa lamanya up-date cerita ini, jadi… saya minta maaf. Sebenarnya chapter ini sudah selasai dari sekitar bulan lalu, tapi karena satu fanfic yang saya publish bersamaan chapter ini, makanya baru saya up-date sekarang.
Saya harap chapter ini cukup mendapat penjelasan−atau malah makin ga jelas? Ya…, setidaknya karena sekarang ujian telah enyah –plak-, jadi saya bisa menghabiskan waktu ini dengan menulis atau hal-hal lainnya, tapi itu jika saya tidak sedang malas…-.- (tidak bertanggung jawab)
Terima kasih telah membaca, dan jika ada pendapat, saran, kritik, koreksi atau apapun, silahkan mengisi di kotak review yang tersedia dengan senang hati (karena kenyataannya, saya merasa cerita ini membingungkan, jadi saya mohon bantuannya bedasarkan pendapat anda, terima kasih :) ).
Nb: saya menyadari ada beberapa kesalahan dari chapter satu, dikarenakan itu saya melakukan beberapa pembetulan dan perubahan judul pada chapter satu. Tapi tidak ada perubahan apapun mengenai jalan cerita dan kejadian-kejadian yang terdapat di chapter satu.
