Somewhere Out There [어딘가에거기]
Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun and other EXO member
Pairing: ChanBaek. Slight!HunBaek
Length: Chaptered
Genre: BL/yaoi/boyxboy, sci-fi, au
Warning: typos, bahasa non baku
BAGIAN 3
.
.
Baekhyun masih membiasakan matanya melihat pemandangan-pemandangan baru di depannya. Gedung-gedung usang, dataran gersang dan kendaraan yang Baekhyun lihat di buku-buku sejarah saat Chanyeol menarik lengannya menuju suatu tempat yang ia sebut sebagai 'tempat tinggal'.
Chanyeol membawanya menuju ke sebuah bangunan dengan empat lantai, ia bilang bahwa bangunan tersebut dulunya adalah perkantoran yang kini sudah ditinggalkan pemiliknya. Bisa dilihat dari betapa tidak terurusnya bangunan tersebut; tembok usang, daun pintu lepas hingga jendela yang ditambal sana-sini. Kemudian Chanyeol membuka pintu besi yang berada di lantai dua, Baekhyun pikir mungkin itu adalah kamar Chanyeol dan benar. Chanyeol mempersilahakannya masuk dan pemandangan yang di dapat oleh penglihatakan Baekhyun pertama kali adalah sinar lampu orange dan perabotan tua yang tertata rapi, seperti dalam film-film klasik.
"Beristirahatlah, aku akan keluar sebentar." Titah Chanyeol sebelum menutup kembali pintu besi miliknya.
Baekhyun dengan senang hati menurut dan mulai menjelajah seisi ruangan tersebut. Ruangan itu tidak begitu besar, tak ada ruang tamu ataupun ruang keluarga. Yang ada hanya ruangan berisikan satu tempat tidur, satu lemari pakaian, dan satu meja besar dengan berbagai jenis senjata di atasnya. Kemudian di sebelah kanan ruangan terdapat lorong yang menghubungkan dengan kamar mandi dan sebuah ruangan lain yang Baekhyun tidak berani untuk mencari tahu lebih lanjut. Pintu ruangan itu tertutup, Baekhyun tidak mau disebut lancang karena sembarangan mengobrak-abrik rumah orang. Tapi rasa penasarannya jauh lebih besar, siapa tahu Chanyeol menyimpan mayat di dalam sana bukan?
Dengan keberanian yang ia miliki, Baekhyun membuka pintu yang ternyata tidak terkunci itu. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat rak-rak buku yang menjulang tinggi tertata rapi di dalam sana, lengkap dengan koleksi buku yang menakjubkan. Di tengah ruangan terdapat sebuah sofa dan meja, sangat nyaman jika menghabiskan waktu seharian di tempat ini, batin Baekhyun.
"Ah!"
Baekhyun terlonjak kaget ketika seekor tupai bertengger di kakinya. Ia tersenyum.
"Hai, beretemu denganmu lagi." Ia mengangkat perlahan tupai tersebut dengan kedua tangannya, kemudian duduk di atas sofa.
"Kau, bisa bicara kan?" Baekhyun bermonolog dan berharap tupai tersebut bisa berbicara sesuai yang ada di dalam ingatannya.
Alih-alih untuk berbicara, tupai tersebut malah mencicit seperti tikus dan lompat dari tangan Baekhyun menuju meja di hadapannya.
"Kau ingin aku membacakannya untukmu?" Ya, tupai tersebut berdiri di atas buku yang terbuka di atas meja, sepertinya Chanyeol baru saja membacanya.
Baekhyun mengambil buku tersebut, dan mulai membaca kalimat demi kalimat dengan suara lantang bagai pendongen yang handal.
"Masih tercium bau darah. Bahkan jika semua wewangian Arab dituangkan disini, tak akan merubah aroma dari tangan kecilku." Baekhyun terus membaca, tak lupa dengan ekspresi-ekspresi aneh yang ia buat.
"Ah-ah.." Baekhyun mendesah seperti orang kesakitan, persis seperti yang tertera pada buku tersebut. "Entah keluhan apa ini,beban hatiku keluar─"
"Cara membacamu payah sekali ternyata." Dan tiba-tiba saja Chanyeol sudah berdiri dehadapannya, bersandar pada salah satu rak sambil memperlihatkan senyuman miring andalannya. "Machbeth pasti menangis mendengarnya."
"Jadi namamu Machbeth?" Baekhyun membelai kepala tupai yang sedari tadi bertengger di atas meja.
"Itu judul bukunya, bodoh. Kau tidak tahu tentang Shakespeare?"
Baekhyun memajukan bibirnya kesal. Tentu saja dia tahu Shakespeare, dia hanya tidak pernah membaca bukunya secara langsung karena di Valstis tidak menyediakan buku semacam itu. Ditambah lagi, ini kali pertama seseorang menyebutnya bodoh.
"Kau tahu kan kalau disana tidak ada kesempatan untuk belajar seni?'
Chanyeol terkekeh renyah melihat ekspresi Baekhyun yang dianggap sangat lucu. Dan kekekhan itu, entah kenapa sanggup membuat bulu-bulu halus di tubuh Baekhyun meremang.
"Tapi waktu aku kecil, ibuku pernah membacakan buku seperti itu, dengan gambar patung raja yang berdiri tegak di balai kota, ada burung waletnya juga. Judulnya─" Baekhyun berhenti meneruskan kalimatnya untuk mengingat judul buku yang pernah dibacakan ibunya, diam-diam ia juga mengutuk ingatannya yang tiba-tiba melemah.
"The Happy Prince? Milik Oscar Wilde, benar bukan?"
"Ah iya! Serius Chanyeol, bagaimana kau bisa tahu?" Wajar Baekhyun terkejut, tidak semua orang di Valstis mengetahui buku jenis itu. Dan secara ajaib Chanyeol mengetahui semuanya, atau jangan-jangan ia juga mengoleksinya di dalam perpustakaan ini?
"Kau bercanda? Disini kau bisa dengan mudah mendapatkan buku itu. Buku tentang kisah kemunafikan dan kepuasan diri dari manusia yang sama sekali tidak tahu apa-apa dengan penderitaan yang sesungguhnya." Chanyeol kemudian berjalan mendekati Baekhyun dan meraih dagu anak itu. "Sangat sesuai untukmu."
Baekhyun menampik tangan Chanyeol yang berada di dagunya, orang ini benar-benar menyebalkan; batin Baekhyun.
"Aku ingin mandi." Katanya sambil menatap tajam sosok Chanyeol yang sedari tadi menertawakan dirinya.
"Silahkan, aku yakin kau sudah tahu dimana letak kamar mandinya."
Baekhyun bergegas ke kamar mandi kemudian membasuh dirinya yang berbau seperti selokan. Ia terkejut ketika Chanyeol ternyata sudah menyiapkan beberapa helai baju ganti di dalam sana, seukuran dengannya. Mungkin orang itu keluar untuk membeli baju-baju tersebut.
Sekeluarnya ia dari kamar mandi, Baekhyun berencana untuk langsung tidur karena tiba-tiba saja kepalanya pening bukan main. Ditambah lagi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit, mungkin ia lapar, dan ia tidak sejahat itu untuk seenak hati menodong makanan pada Chanyeol yang menyelamatkan hidupnya.
"Kau ingin apa?" Chanyeol mengangkat sebelah alisnya karena mendengar pertanyaan Baekhyun yang sangat memberatkan. Anak laki-laki itu baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung memberinya pertanyaan aneh yang memusingkan
"Aku ingin menghubungi ibuku." Ulang Baekhyun untuk yang kedua kalinya.
Kini keduanya duduk saling berhadapan di satu-satunya tempat tidur yang ada di ruangan itu. Baekhyun ingin sekali berkata pada Chanyeol jika tubuhnya sakit bukan main, tapi melihat Chanyeol yang sedang bersantai di atas kasurnya sendiri membuat ia mengurungkan niatannya barusan dan memilih untuk meminta Chanyeol agar ia bisa menghubungi ibunya.
"Dia pasti mengkhawatirkanku." Ucap baekhyun kembali.
"Kau itu bodoh atau apa? Kau pasti akan hancur jika melakukannya."
Baekhyun tersentak, sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Chanyeol barusan.
"Buang semua yang berhubungan dengan Valstis, termasuk ibu dan keksaih priamu."
Chanyeol berkata dengan santai dan itu malah makin membuat aliran darah Baekhyun dengan cepat sampai ke ubun-ubun. "Kenapa aku harus melakukannya? Dan siapa yang kau sebut kekasih priaku?"
"Karena kau telah membuang id mu dan itu artinya kau harus membuang semua yang berhubungan dengan itu. Kau ingin selamat bukan?"
Barulah Baekhyun sadar bahwa saat itu ia tak lagi memkai id dipergelangan tangan kirinya.
"Ba-bagaimana bisa?" Baekhyun bahkan sampai tergagap karena tidak percaya. Bagaimana bisa lepas? Kapan dia melepasnya?
"Oh Sehun? Bukankah dia kekasih priamu?"
Bahkan lidah Baekhyun sampai kelu dan tak sanggup menanyakan dari mana Chanyeol tahu tentang Oh Sehun.
"Da-dan bagaimana denganmu Chanyeol? Bukankah kau juga ikut melawan bahaya untuk menyelamatkanku? Kau kembali kesana dan menyelamatkanku. Tindakan dan perkataanmu berbeda."
Chanyeol bangkit dari duduknya kemudian mengangkat kerah pakaian Baekhyun tinggi-tinggi, ia bahkan tak peduli jika nantinya Baekhyun akan mati karena tercekik.
"Sikapmu itu─" Chanyeol sedikit menggantung kalimatnya, berusaha mencari kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan Baekhyun. "─sangat menjijikkan. Kau juga pernah menyelamatkanku. Aku sudah bayar hutangku! Hanya itu."
Dan yang membuat Chanyeol makin jengah adalah Baekhyun yang membalasa semua bentakannya dengun senyum yang selalu sulit dia artikan. "Dasar─" Chanyeol melepaskan genggamannya pada kerah kemeja Baekhyun, "─lakukan sesuatu dengan sifat otak udangmu itu."
Kemudian Chanyeol berjalan kembali ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya disana.
"Ngomong-ngomong, perkenalkan dia sahabat terbaikku." Chanyeol mengangkat tupai ke atas dadanya. "Dia yang memantau keadaanmu selama di Valstis, dan juga sudah dilengkapi dengan sensor tersembunyi. Ia bisa bergerak bebeas tanpa diketahui di kota"
"Seperti robot?"
Chanyeol mengangguk, "Aku sering menggunakannya untuk menyelidiki Valstis."
"Chanyeol, jika kau sering menyelidiki Valstis apakah kau─"
"Baekhyun!" Chanyeol tiba-tiba berteriak dan menghampiri anak itu. "Apa yang terjadi padamu?" Chanyeol menunjukkan tangan Baekhyun yang mengekerut dan rambutnya yang memutih.
"Oh tidak." Baekhyun mulai panik, "Jangan, jangan terjadi padaku. AH!"
Baekhyun merasakan seluruh kulit dan persendiannya memanas, seperti terbakar. Kerongkongannya mulai sakit karena berteriak terlalu keras dan ia juga merasa bersalah kepada Chanyeol karena telah memporak porandakan seisi ruangan. Baekhyun bergulir kesana kemari, menabrak benda satu dan yang lain agar rasa sakit yang ia rasakan sedikit berkurang, tapi nyatanya tak ada hasil.
Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun ke atas ranjang, mengikat kedua lengan dan kaki anak itu pada sisi ranjang menggunakan kain.
"Bagian mana yang sakit, Baek?" khawatir, itulah kesan pertama yang terdengan dari suara Chanyeol yang bergetar.
"Perut. Ah tidak, dadaku, ada sesuatu di dadaku."
Chanyeol mebelalak, segera ia lepas baju yang dikenakan Baekhyun dan benar saja, ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuh anak itu.
Chanyeol mulai berkeringat, jika terus seperti ini Baekhyun akan mati. "Apa, apa yang harus kulakukan?"
"ARGH!"
"Baekhyun.." sadar atau tidak, kini lengan besar Chanyeol merengkuh tubuh Baekhyun yang kulit-kulitnya mulai mengkerut.
"Biarkan Chanyeol, mungkin sudah saatnya."
"Kau bercanda? Aku sudah susah payah menyelamatkanmu dan kau ingin mati dengan penyakit konyol ini? Tidak akan kubiarkan!"
Chanyeol bangkit dari ranjang menuju ke ruang bacanya. Ia mengambil seperangkat kotak P3K dan sebuah wadah berisi air dan handuk basah.
"Aku akan mengambilnya, sesuatu yang ada di dalam tubuhmu." Katanya lagi.
Chanyeol sedikit menarik paksa lengan Baekhyun ketika anak itu terus saja meronta kemudian mengikatnya ke kepala ranjang. Kaki Baekhyun yang bebas menendang-nendang di udara. Chanyeol dengan seluruh keberanian yang ada dalam dirinya mulai membedah dada Baekhyun. Ini menakjubkan bagaimana tak ada sedikitpun darah yang keluar ketika pembedahan jika mengingat fakta bahwa ini adalah oprasi pertama yang pernah Chanyeol lakukan.
Baekhyun tak lagi peduli apa yang sedang di lakukan Chanyeol, ia membiarkan laki-laki itu mengobrak-abrik bagian tubuhnya. Sakit memang, tapi ada yang lebih sakit. Baekhyun merasa seolah seluruh otot dan pembuluh darahnya terbakar, panas dan menyakitkan. Baekhyun berteriak kencang sekali sebelm akhirnya ia tak sadarkan diri.
.
.
Haus adalah hal pertama yang dirasakan oleh Baekhyun ketika ia membuka mata. Kepalanya masih pusing, mungkin karena ia terlalu lama tidur. Baekhyun mulai melihat ke sekeliling kamar. Keadaan begitu remang karena pencahayaan hanya dihasilkan oleh sebuah lilin di meja nakas.
Baekhyun mulai menjelajah seisi ruangan untuk mencari keberadaan Chanyeol namun tak kunjung ia temui. Pada akhirnya Baekhyun menuju ke salah satu meja untuk menuangkan air dari dalam teko. Baekhyun meletakkan lilin yang sedari tadi ia bawa di atas meja kemudian beralih untuk memegang teko aluminuim tersebut. Dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati sesuatu yang berbeda dari pantulan dirinya dalam teko.
Baekhyun menjerit. Teko yang tadi ia genggam sudah jatuh ke lantai. Ia segera mencari cermin, melihat pantulan dirinya yang sangat berbeda. Rambut hitamnya berubah menjadi putih seutuhnya, bola matanya berwarna biru dengan perpaduan hijau di bagian tengah, tak sampai disitu wajah dan tubuhnya sudah berubah menjadi sepucat mayat dengan garis abu-abu melingkar dari bagian bawah perut hingga lehernya, seperti dililit ular.
Baekhyun tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Ia tak mampu menangis. Tangannya sedari tadi terus mengepal dan menghantam cermin yang terpasang di dinding kamar Chanyeol. Itu bukan dirinya, seseorang dalam cermin itu sama sekali bukan Baekhyun.
"Chanyeol." Baekhyun berbisik berharap seseorang yang ia sebut segera hadir di sampingnya.
"Chanyeol!" Ia berteriak frustasi, tangan kanannya mengepal kemudian meninju cermin dihadapannya hingga hancur.
Baekhyun tidak merasakan sakit sama sekali, kemudian ia melihat tangan kanannya yang keriput sudah dilumuri oleh darahnya sendiri.
Baekhyun tersenyum miring menyadari bahwa warna darahnya tak semerah dulu lagi, kali ini lebih tua hingga mendekati coklat.
Baekhyun masih meringkuk di lantai sembari menatap tangannya, hingga suara pintu besi terbuka dan kini Chanyeol sudah berdiri di hadapannya.
"Kau baru sadar selama hampir satu minggu, dan ini adalah hal pertama yang kau lakukan?" tanyanya angkuh.
"Aku tidak mau seperti ini, Chanyeol. Ini menjijikkan." Baekhyun masih menatap tangannya kemudian meremas bagian tangannya yang terluka keras-keras, tapi tetap saja tak ada rasa sakit yang ia harapkan.
"Bagian mana yang kau anggap menjijikkan? Matamu? Oh ayolah, itu indah Baekhyun, seperti berkilauan. Rambutmu? Anggap saja kau sedang mewarnainya. Dan corak di tubuhmu itu hanya bekas permanen dari penyakit kulitmu dan tidak ada hubungannya dengan pembuluh darah. Bersyukurlah, anggap saja sebagai medali karena kau sudah berhasil bertahan hidup."
"Kenapa kau tidak bunuh saja aku." Baekhyun berbisik sangat lirih.
"Apa?"
"Kubulang, kenapa tidak kau bunuh saja aku ini dasar sialan!" Baekhyun berteriak, kerongkongannya sedikit sakit dan akhirnya ia bisa merasakan bahwa matanya juga sedikit basah.
Chanyeol mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Baekhyun. Mengangkat dagu anak itu agar mampu menatap matanya.
Baekhyun bisa melihat tatapan dan ekspresi Chanyeol yang mengeras, begitu menakutkan.
"Apa kau menyesal?" suaranya begitu rendah dan mengintimidasi.
"Apanya?"
"Tentang hidupmu."
Baekhyun ingin mengangguk tapi ada sesuatu yang menahannya, ia tidak tahu.
"Apa kau lebih memilih mati dari pada seperti ini?"
Baekhyun tidak menjawab. Ia bingung dan juga takut. Takut jika jawaban yang ia berikan akan membuat Chanyeol terluka.
"Jawab aku, Baek!" Chanyeol membentaknya seiring dengan cengkraman tangannya yang semakin mengeras di dagu Baekhyun.
Baekhyun dengan kasar menampik tangan Chanyel, membuat lelaki yang lebih tinggi terperangah untuk beberapa detik sebelum akhirnya Baekhyun berhambur memeluknya. Mencengkeram bagian luar jaket kulitnya seperti anak kecil yang ketakutan.
"Tolong, selamatkan aku. Aku ingin hidup." Katanya frustasi.
.
.
Baekhyun sudah menstabilkan emosinya. Kini ia duduk di samping Chanyeol dan memeperhatikan laki-laki itu sedang mengaduk sup yang dipanaskan di atas tungku portabel.
"Sup apa itu?" tanyanya penasaran.
"Sup Macbeth." Katanya sambil tersenyum.
Baekhyun diam sejenak, ia seperti merasa pernah mendengar kata itu sebelumnya dan kemudian ia sadar bahwa itu adalah judul buku yang beberapa hari lalu ia baca.
"Sup ini sangat enak dan menakjubkan. Berisi mata kadal, hati katak, dan sayap kelelawar yang sebelumnya dimasak di atas ketel panas."
Baekhyun mengangkat sebelah tangannya di hadapan muka Chanyeol dan sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk menutup mulutnya, pura-pura ingin muntah.
"Maaf sekali, tapi sup yang seperti iti aku benar-benar tidak ingin memakannya."
Chanyeol tertawa renyah, "Aku hanya bercanda." Kemudian menuangkannya ke dalam mangkuk dan memberikannya kepada Baekhyun.
"Habiskanlah, setelah ini kita akan pergi ke suatu tempat."
Baekhyun tidak begitu mempedulikan apa yang di lakukan Chanyeol ketika lidahnya merasakan sensasi hangat dan menenangkan dari sup buatan Chanyeol. Itu sangat enak. Baekhyun berhenti makan ketika mangkuk keduanya sudah kosong tak bersisa. Kemudian Chanyeol kembali duduk di sampingnya dengan membawa botol berisi hewan seperti ular.
Baekhyun terkejut, matanya membola. Ia ingat betul benda apa itu. Itu adalah sesuatu yang sama yang keluar dari tubuh Namjoon atau bahkan dari tubuhnya juga.
Chanyeol menyadari perubahan ekspresi Baekhyun dan berusaha menenangkan laki-laki itu.
"Tenang saja, itu sudah mati. Kurasa makhluk ini tidak bisa bertahan lama di luar tubuh inangnya."
Baekhyun memberanikan diri untuk memegang botol tersebut dan memperhatikan makhluk di dalamnya lebih teliti. Sedangkan Chanyeol, ia mengamati segala gerak-gerik Baekhyun dengan senyum mengerikan yang terpasang di wajahnya.
"Kau kenapa?" Baekhyun akhirnya menjadi risih karena sikap Chanyeol tersebut.
"Tidak apa, hanya saja, makhluk itu berasal dari Valstis bukan? Berarti sebentar lagi tempat itu akan hancur."
Chanyeol menutup kalimatnya dengan tawa mengejek yang kencang dan itu membuat Baekhyun jengkel.
"Hal seperti itu tidak pantas untuk kau tertawakan."
"Apa yang salah dengan menertawakan sesuatu yang laucu? Kota sok suci itu akhirnya akan hancur. Kau adalah korban, dan seharusnya senang sepertiku."
Baekhyun kembali tidak tahu harus bereaksi seperti apa di hadapan Chanyeol. Satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah orang tuanya dan Sehun. Bagaimana jika Valstis benar-benar hancur? Memikirkan Sehun dan orangtuanya menjadi inang dari makhluk parasit itu saja membuat dada Baekhyun sesak.
"Kita harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Vlastis." Katanya lirih dan mendapat tatapan tidak suka dari Chanyeol.
"Tsk, berhenti membual!"
"Aku tidak membual dan kali ini dengarkan aku!"
Chanyeol memperhatikan dengan tatapan enggan.
"Aku masih hidup, itu artinya tubuhku menghasilkan antibodi dari zat yang dihasilkan oleh makhluk itu. Dengan itu kita bisa membuat penangkalnya dari darahku."
"Kau bodoh atau apa? Sekali pun kau bisa membuatnya, tak ada seorang pun yang akan percaya, termasuk kekasih priamu."
Baekhyun semakin sebal dengan sikap Chanyeol yang arogan, "Kalau begitu, apa kau punya ide yang lebih bagus?"
Chanyeol menatapnya, menampilkan senyuman miring yang selalu berhasil membuat bulu-bulu halus di tubuh Baekhyun meremang. "Kita pesan saja kursi utama untuk melihat kehancuran tempat itu."
Secara refleks Baekhyun menyiram wajah Chanyeol dengan segelas air yang berada di meja. Kemudian ia menuju ke ruang baca dan meninggalkan laki-laki tinggi itu tertawa keras karena melihat sikap temannya yang begitu menggemaskan.
.
.
Chanyeol tidak main-main ketika mengatakan akan pergi ke suatu tempat ketika ia selesai makan. Laki-laki itu mengajak Baekhyun ke sebuah bangunan besar yang dulunya bekas hotel berbintang. Hari sudah larut sehingga tak begitu banyak orang yang melintas, atau memang tidak ada orang?
"Kita akan menemui siapa?"
"Kim Jongin." Katanya sambil terus berjalan mendahului Baekhyun.
Baekhyun sangat penasaran dengan seseorang bernama Kim Jongin itu. Bagaimana ia bisa tinggal sendirian di tempat menyeramkan seperti ini? Tapi kemudian ia sadar bahwa Chanyeol juga tinggal sendirian di tempat yang tidak kalah menyeramkannya.
Mereka di sambut oleh lolongan anjing ketika pertama kali memasuki bangun tersebut. Lolongan tersebut tidak hanya berasal dari satu anjing, melainkan banyak anjing dan mereka semua mulai mengelilingi Baekhyun dan Chanyeol.
Chanyeol sudah mengelarkan pisau lipatnya, sedangkan Baekhyun hanya memandangi salah seekor anjing yang berdiri paling dekat darinya.
Anjing itu mulai berlari seakan ingin menerkam Baekhyun. Chanyeol sudah siap menancapkan pisaunya jika saja anjing itu tidak menjilati pipi Baekhyun seperti anjing peliharaan pada umumnya.
"Eh?"
"Jauhkan benda berbahaya itu, bodoh. Kau akan menyakiti temanku." Kata seorang laki-laki dari lantai dua.
Baekhyun yakin itu adalah Kim Jongin yang dimaksud oleh Chanyeol. Tampilannya tak jauh berbeda dari Chanyeol, mengerikan. Matanya begitu mengintimidasi ditambah dengan rambut coklat dan beberapa tattoo yang menghiasi kulit tannya.
Jongin membawa mereka ke suatu tempat. Dalam perjalanan ia mendengar Chanyeol dan Jongin berbicara tentang informasi yang diinginkan oleh Chanyeol dan Jongin yang menginginkan uang muka. Baekhyun tidak ingin bertanya atau ikut campur urusan orang lain, oleh karena itu ia hanya berjalan dan mengamati daerah sekitarnya.
Tempat itu benar-benar bekas hotel dengan banyak ruangan dan karpet sebagai alas pijakan.
"Eh?" Baekhyun terkejut ketika mendapati beberapa kamar tidak kosong, ada seseorang yang tidur di sana dengan di temani para anjing. Baekhyun bisa melihatnya karena memang sebagian besar ruangan tidak memiliki pintu.
"Siapa mereka? Orang-orang yang berada di kamar itu." Baekhyun akhirnya bertanya karena penasaran.
"Mereka adalah tamuku. Aku menyediakan tempat murah bagi mereka yang tidak memiliki tempat untuk tidur."
"Dan anjingnya?"
"Aku menyewakan mereka sebagai penghangat. Untuk mencegah gelandangan itu mati kedinginan."
Mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan pribadi milik Jongin. Ruangan yang memiliki dekorasi paling bagus dari semua ruangan yang ada di bangunan itu.
"Chanyeol, permintaanmu kali ini benar-benar membuatku mengalami banyak kesulitan ketika mengerjakannya." Jongin berkata sembari duduk di sebuah kursi besar, kemudian mengeluarkan secarik kertas berukuran 2x5 senti dari sakunya. "Oleh karena itu, sediakan aku biaya tambahan."
Baekhyun dengan cepat merampas kertas itu ketika menyadari tulisan yang tertera disana.
"Sialan! Apa-apaan yang kau lakukan tadi?!" teriak Jongin tidak terima.
"Ini.." Baekhyun sedikit menjeda kalimatnya karena tidak percaya, "Ini adalah tulisan ibuku."
"Eh?"
"Chanyeol, apa kau yang menghubungi ibuku?" Baekhyun sama sekali tidak bisa mnyembunyikan raut bahagia di wajahnya.
Chanyeol tidak menjawab, hanya menghela nafas.
"Tunggu dulu, jika pesan ini bisa sampai di tangan ibuku, berarti ada kemungkinan juga bisa menjangkau tempat lain."
"Apa yang kau katakan, Baekhyun?" Chanyeol kembali memandangnya tidak suka.
"Kita bisa memperingatkan pemerintah tentang makhluk parasit ini, menyampaikan pada Sehun dan membuat penangkalnya."
Jongin sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Baekhyun tentang makhluk parasit, Sehun, dan penangkalnya.
Sedangkan Chanyeol, jelas sekali jika laki-laki itu sedang marah.
"Baekhyun." Suara Chanyeol yang berat berhasil meredakan euforia Baekhyun yang berlebihan.
"Setelah apa yang Valstis lakukan padamu, dan kau masih berniat untuk menyelamatkannya. Saat itulah kamu menjadi, musuhku."
Kata-kata Chanyeol itu berhasil menusuk Baekhyun hingga ke pangkal hatinya.
Tidak, Baekhyun tidak mau menjadi musuh Chanyeol, seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya. Tapi ia juga tidak bisa diam saja ketika Sehun dan keluarganya dalam keadaan terancam. Baekhyun benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
.
.
.
TBC
a/n:
terima kasih buat yang sudah review dan masih nungguin ff ini, maaf kali ini gak bisa nyebutin reviewernya satu-satu, tapi lain kali pasti akan saya sebutin hehe thanks a lot pokoknya.
kemudian, selamat buat yang berhasil nebak ff ini adaptasi dari anime apa, hanya ada dua orang yang berhasil. ff ini bukan adaptasi dari Shingeki hehe -_- ada anime lain dan memang nggak terlalu booming tapi saya tetep suka :D dan kira-kira ada yang tau nggak nama 'Valstis' di ambil dari bahasa apa? XD
last but not least, terima kasih lagi buat yg udah nyempatin baca terus fav, follow, and review. sedikit apresiasi kalian sangat membantu saya :))
