Way to the Heaven
Author: Chocolite
Genre: Romance, Supernatural, Angst
Rated: T
Cast:
Lee Taemin
Choi Minho
Other
Pairing: 2Min
Summary: Chapter 3 Update~ "Siapakah Minho itu?"/ "Hyung, apa kau mengenal Minho?"/ "Lalu mengapa kau menolaknya?" tanya Taemin pada Jinki. Akhirnya Taemin tahu siapa Minho sebenarnya dan mengapa Minho menjadi seperti itu.
Warning: Typo, gaje, BL (Boys Love), Yaoi, chapter kepanjangan, alur gak jelas, dll.
a/n: Annyeong~ Chapter 3 update ^^ Mian postnya kelamaan. Aku lagi fokus US. :D Sebenernya chapter ini banyaknya flashback. Biarin yaa? Tapi sekarang banyak nyeritain masa lalu Jinki ^^ Dan dichapter ini aku nyeritain Minho juga. Makasih buat yang udah Review ^^ Dan untuk chapter ini aku ngarep kalian yang baca, suka sama ceritanya *kagak ada yang baca -"* Yaudahlah :)) Happy Reading~
.
Chapter 2
.
Taemin masih duduk di depan jendela kamarnya. Ia menutup matanya, dan bayangan-bayangan muncul di dalam fikirannya. Ia melihat Minho sedang berkelahi dengan memukuli Jinki dengan raut wajah kesal. Minho menangis dan tangan kanan Jinki berdarah.
Akhirnya Taemin tersadar ketika pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Taemin menoleh. Orang itu tak lain adalah Jinki, hyungnya. Taemin hanya tinggal berdua dengan Jinki sejak eommanya menghilang.
"Taemin-ah~ Belum tidur? Cepatlah tidur~" ucap Jinki, mendekati Taemin dan mengelus rambut putih adiknya yang sedang menatapnya. "Waeyo, Taemin-ah?" tanya Jinki lagi, bingung.
"Apa boleh kutanya sesuatu padamu, hyung?" tanya Taemin.
"Tentu. Tanyakan apapun sesuka hatimu." jawab Jinki lembut, masih mengelus rambut putih Taemin.
"Hyung, apa kau mengenal Minho?" tanya Taemin.
Jinki terdiam mendengarnya. Elusannya terhenti dan tangannya ia tarik kembali. Matanya menatap mata ungu Taemin yang terlihat mencari jawaban.
"Sudah lama sekali kau tak bertanya padaku tentang seseorang. Kapan terakhir kau bertanya tentang seseorang ya? Ah. Aku ingat. Terakhir kau menanyakan temanku saat 8 tahun lalu, sebelum eomma menghilang~" ucap Jinki lembut, lembut sekali.
"Ya~ Hyung~~ Memangnya tak boleh ya?" tanya Taemin sambil sedikit mengeucutkan bibirnya, namun ia terlihat seperti sedang menahan tawa.
"Bahkan kau tak pernah melihatkanku wajah ceriamu lagi setelah eomma hilang~ Baiklah~ Berhubung Taemin yang dulu telah kembali, maka akan aku ceritakan." Ucap Jinki, membuat Taemin membetulkan posisi duduknya –serius untuk mendengarkan penjelasan hyungnya-. "Tapi, setelah aku bercerita, kau harus tidur, ne?" tawar Jinki.
"Baiklah~~" ucap Taemin sambil menampakkan senyuman manisnya yang sudah 8 tahun menghilang.
Jinki mulai menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menatap Taemin, lalu fikirannya menerawang ke masa lalunya, yang cukup kelam baginya.
"Apa kau ingat? 2 tahun yang lalu saat aku masih kelas 3 SMA, aku jatuh cinta pada seseorang. Namun aku pernah mengatakan bahwa cintaku ini terlarang." Ucap Jinki, dijawab oleh anggukan Taemin. "Itulah awalnya." Ucap Jinki, kembali menerawang masa lalunya.
Flashback.
2 Years Ago.
Jinki berjalan menuju kantin dan bertemu dengan sahabatnya. Donghyun, Doojoon, dan Hyunseung sudah menunggunya. Jinki tersenyum pada sahabatnya, lalu ikut duduk di sebelah Hyunseung yang kini sedang meminum jus pir kesukaannya.
"Jinki-ya~~ Kau telat. Kami baru saja bicarakan sesuatu. Begini, jika diantara kita ada yang telat, maka akan diberi hukuman. Ada 2 pilihan. Tapi tepatnya ini adalah permainan. Kau tau permainan ToD?" tanya Doojoon pada Jinki yang kini sedang menggelengkan kepalanya. "Itu permainan Truth or Dare. Kau bisa pilih, kau akan jujur tentang sesuatu atau berani melakukan tantangan dari kami." Jelas Doojoon.
Jinki hanya ber-oh ria. Sesaat setelahnya, Donghyun menatapnya bingung.
"Jadi kau pilih mana?" tanya Donghyun pada Jinki.
"Hah? Pilih? Loh. Ini kan baru dibicarakan dan aku belum menyetujuinya. Tak bisa begitu!" tolak Jinki.
"Tapi kami sudah menyetujuinya~ Itu artinya kau juga sudah setuju. Jadi, kau pilih mana?" tanya Hyunseung yang baru saja menghabiskan jus pirnya.
"Mana bisa begitu~~ Hahh~~ Bagaimanapun aku menolak, pada akhirnya akulah yang kena. Kalau aku pilih Truth, apa yang harus kujawab? Kalian kan tahu sendiri kalau kita tak punya rahasia satu sama lain. Bahkan warna celana dalam pun kalian sudah tahu~" ucap Jinki polos.
"Yaah, jadi artinya kau harus memilih Dare~" jawab Hyunseung dengan wajah polosnya.
Kepala Hyunseung pun jadi sasaran empuk jitakan Jinki. Jinki menatap sahabatnya yang cantik ini.
"Kalau aku harus memilih Dare, artinya ini bukan permainan Truth or Dare, babo~" ucap Jinki, dan dijawab oleh cengiran yang lain. "Jadi, aku harus apa sekarang?" tanya Jinki pada sahabat-sahabatnya.
"Hmm, apa ya? Donghyun~ Apa kau punya ide?" tanya Doojoon pada Donghyun yang sedang memerhatikan keadaan sekeliling.
"Ah! Ada! Bagaimana kalau kau nyatakan cinta pada anak kelas 1?" usul Donghyun yang dijawab oleh anggukan Doojoon dan Hyunseung.
"Baiklah~ Aku tak takut. Semua yeoja di sekolah ini pasti akan senang jika aku menyatakan cinta pada mereka~ Aku kan tampan." ujar Jinki sombong.
"Ya! Dubu! Pede amat! Wajah kayak tahu aja bangga!" ejek Hyunseung, dan alhasil Hyunseung mendapat death glare dari Jinki.
"Aku memang tampan! Awas kau! Malam ini kau tak akan selamat!" ancam Jinki.
"Ya! Sejak kapan kau berubah jadi pervert?" tanya Hyunseung sambil menggeser duduknya, menjauh.
"Sudahlah~ Kalau tantangan tadi tak membuatmu takut, begini saja. Kau nyatakan cintamu pada anak kelas 1, tapi pada namja." Tantang Donghyun
Jinki menatap horror Donghyun yang mulai memerhatikan sekeliling lagi. Dan Donghyun hampir meloncat kegirangan saat mendapatkan mangsa di bangku kantin paling belakang.
"Dubu~ Kau pernah tanya padaku kan, kenapa anak manis itu sering memperhatikanmu? Dan mangsamu adalah dia!" ungkap Donghyun, dan Jinki terdiam.
"Wae? Mengapa kau berubah drastis jadi diam? Biasanya kau suka melawan kalau diberi tantangan. Dan~~ Mukamu memerah! Jangan bilang kalau kau memang benar-benar menyukainya!" ucap Doojoon, membuat muka Jinki yang sudah merah makin merah lagi.
"A-anniyo~" ucap Jinki gugup.
"Ya! Kalau begitu, buktikan!" ucap Hyunseung pada Jinki.
Jinki menarik nafasnya perlahan, berusaha menormalkan degup jantungnya yang tak beraturan. Dengan ragu ia berjalan menuju anak manis yang sedang bergurau dengan seorang sahabatnya. Ia menoleh pada sahabat-sahabatnya yang kini sedang memberinya semangat. Donghyun mengatakan sesuatu.
"Namanya Kim Kibum!" ucap Donghyun tanpa suara.
Jinki kembali menarik nafasnya dan akhirnya ia sampai di depan meja anak manis itu. Namja bernama Kibum itu menoleh saat merasa ada seseorang. Mata mereka bertemu. Akhirnya wajah mereka berdua memerah karena malu. Jinki terlihat salah tingkah.
"A-annyeong, hoobae~" ucap Jinki mencoba ramah, namun yang terdengar hanyalah suaranya yang sedang salting.
"Annyeong sunbae~ Ada perlu apa?" tanya sahabat Kibum yang ber-nametag Minho.
"A-anu~ Ini~ Eumm~ Kibum~ Eh~ Aduh~ Aku mau bilang~ Ehm~~" ucap Jinki tanpa menatap Kibum yang kini sedang menunduk karena tak mau menatap Jinki –karena ia yakin wajahnya merah-.
"TAK TERDENGAR!" teriak Doojoon, Donghyun, dan Hyunseung yang membuat Jinki kembali menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kim Kibum. Aku memintamu menatapku." Ucap Jinki lembut, dan Kibum pun menatapnya. Mata mereka kembali bertemu. "Baiklah, akan kuucapkan. Kim Kibum! Aku menyukaimu. Anni. Bukan menyukaimu, tapi aku mencintaimu! Saranghae~" ucap Jinki, dan ia merasa oksigen di sekitarnya menipis, namun ia juga merasa banyak bunga yang turun dari atap untuk merayakan apa yang telah ia ucapkan *lebay*. "A-ah~ Aku~ Kembali~ Gamsahamnida atas waktumu." Ucap Jinki yang langsung berlari meninggalkan 2 anak kelas 1 itu. Tapi Jinki tak berlari untuk menemui sahabatnya, melainkan untuk kembali ke kelasnya dan merutuki dirinya sendiri.
Flashback off
Taemin menatap wajah hyungnya yang kini bersemu merah. "Oh, jadi maksud cinta terlarang itu~ Karena kalian sesama namja?" tanya Taemin, dan Jinki mengangguk dengan senyumnya.
"Ne. Aku menyukai namja itu. Aku benar-benar menyukainya~" ucap Jinki.
"Lalu, apa hubungannya kisah cintamu dengan Minho?" tanya Taemin, membuat senyum di bibir Jinki menipis hingga akhirnya tak ada senyum lagi. "Apa Minho itu namjachingu Kibum?" tanya Taemin. Sebenarnya Taemin merasa dadanya sesak saat bertanya seperti itu.
"Anni. Dia itu sahabatnya. Tapi ia sudah menganggap Kibum sebagai saudaranya sendiri." Jawab Jinki, membuat dada Taemin dapat bernafas dengan normal kembali.
"Lalu, apa hubungannya?" tanya Taemin, dan Jinki pun kembali bercerita.
Flashback
Masih di hari yang sama dengan pernyataan cinta itu, Jinki bertemu dengan Minho yang sedang berjalan sendiri sambil mendengarkan lagu dari headphonenya.
"Minho~" panggil Jinki.
"Ne, Wae Jinki sunbae?" jawab Minho.
"Panggil hyung saja. Aku ingin bertanya sesuatu padamu~" ucap Jinki dan wajahnya kembali memerah.
"Menanyakan apa?" tanya Minho.
"Jangan di sini~ Eumm~ Ikut aku~" ucap Jinki dan berjalan mendahului Minho.
Akhirnya mereka sampai di atap sekolah. Jinki dan Minho duduk di kursi. Jinki terlihat menggigit bibir bawahnya.
"Tentang Kibum. Hmm, apa kau sahabatnya?" tanya Jinki.
"Ne. Aku sahabatnya. Tapi aku sudah menganggapnya saudaraku sendiri." Jawab Minho dan dijawab dengan tatapan apa-maksudmu-saudara-? dari Jinki. "Begini. Aku sudah tak memiliki orang tua sejak lahir. Mereka meninggal. Sementara Kibum, saat kecil ia ditemukan oleh panti asuhan. Ia diculik dan orang tuanya sudah berada di Amerika. 2 tahun lalu, panti asuhan yang kami tempati kebakaran. Semua orang meninggal. Kecuali aku dan Key~" jelas Minho dengan senyum di bibirnya.
"Key?" tanya Jinki, dan senyum kembali terukir di bibir Minho.
"Ne. Key, karena ia ingin menjadi kunci untuk segala masalah. Apa kau juga perlu nama keren? Aku sudah punya nama keren untukmu. Bagaimana kalau Onew?" tanya Minho
"Mengapa Onew?" tanya Jinki.
"Karena, aku merasa bicara dengan kepribadian yang baru. Kau sangat berbeda dengan kau yang tadi bicara dengan Key~" jelas Minho, dan Jinki pun tersenyum.
"Baiklah. Terserah kau saja. Aku ingin tanya, bagaimana sifat Key itu?" tanya Jinki.
"Ah. Key itu baik sekali. Jika ditanya, impiannya apa, ia pasti menjawab, kalau ia ingin bertemu dengan orang tuanya. Dia senang sekali memasak. Masakannya enak sekali. Kau harus mencobanya, hyung. Key itu selalu marah kalau dapurnya dirusak. Ah. Aku tak tahu bagaimana aku hidup jika tanpa Key. Dia itu baik sekali. Aku tak ingin kehilangan sahabat sepertinya. Eh, hyung menanyakan Key, apa karena hyung menyukainya?" tanya Minho.
"A-anniya~ Tadi itu hanya permainan~" ucap Jinki salting.
"Padahal kau terlihat serius. Dia senang sekali mendengarnya. Bahkan ia sampai mengubah wallpaper handphonenya menjadi gambar love bertebaran dan berwarna pink. Ia terus mengirimiku pesan. Isinya Lee Jinki sunbae tampan, Lee Jinki sunbae imut sekali, Lee Jinki sunbae membuatku gila, dan terakhir, ia terus mengirimiku pesan bertuliskan, 'jika Lee Jinki memintaku menjawab pernyataannya, maka aku akan katakan bahwa aku juga benar-benar mencintainya'. Dan itu membuatku pusing." Jelas Minho.
"Ah~ Benarkah?" tanya Jinki lagi.
"Tentu. Dia menggilaimu, hyung. Bahkan saat pelajaran olah raga, dia selalu semangat jika menyebutkan namamu~" ucap Minho sambil tersenyum.
Jinki tersipu mendengarnya. Senyuman pun tak lepas dari bibirnya. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi ia ingat, eommanya melarangnya menjadi seorang 'gay'. Senyumnya memudar seketika saat mengingat eommanya.
Mulai saat itu, Jinki mulai mencoba melupakan Key. Namun ia tak mendapatkan hasil. Ia akan selalu mencintai Key, sampai kapanpun.
Flashback off
Taemin tersenyum miris mendengar penuturan hyungnya. Lalu ia teringat sesuatu. Sikap Minho yang ia dengar dari D.O. Sikapnya yang terkesan berandalan.
"Lalu mengapa sekarang Minho bersikap berandalan? Dan bagaimana hubunganmu dengan Key? Oh ya. Key kemana? Aku tak pernah melihatnya. Setampan apa dia sampai hyung benar-benar menyukainya?" tanya Taemin.
Jinki menarik nafasnya dalam. Ia tersenyum miris pada adiknya.
"Key sudah meninggal." Ucap Jinki, membuat Taemin tercengang. "Apa kau ingat? Dulu saat aku pulang hiking ke gunung untuk merayakan kelulusanku, tangan kananku nyaris patah. Apa kau ingat? Itu berkat Key. Seharusnya tanganku patah. Bukan nyawanya yang melayang." Ucap Jinki sambil menggigit bibir bawahnya, menahan tangis.
Flashback
Hari itu, hari terakhir bagi Jinki dan teman seangkatannya berada di lingkungan sekolah. Mereka akan berpisah. Namun, sebelum mereka benar-benar berpisah, mereka semua merencanakan sebuah acara tanpa sepengetahuan para guru. Siapapun diijinkan ikut. Bukan hanya angkatan mereka. Anak kelas 1 atau kelas 2 pun boleh ikut. Ada beberapa anak yang ikut. Key dan Minho juga ikut atas kemauan Key –untuk melihat Jinki-. Mereka akan hiking ke sebuah gunung yang jalannya sangat terjal.
Saat sampai, hampir seluruh siswa beristirahat. Doojoon yang sedaritadi menghilang, datang dengan wajah cerianya.
"Dubu! Di sana ada tempat yang indah sekali!" Ucap Doojoon, membuat wajah Jinki terlihat senang. "Tapi kau harus berhati-hati. Ada jurang di sana. Kelihatannya sangat dalam. Dasar jurangnya pun tak bisa kulihat." Ucap Doojoon lagi, membuat Jinki terlihat berpikir.
"Apa kalian mau ikut aku ke sana?" tanya Jinki pada Hyunseung dan Donghyun.
"Aku lelah. Dengan Donghyun saja!" ucap Hyunseung.
"Aku juga lelah!" ucap Donghyun.
"Ya sudah. Aku berdua dengan Doojoon." Ucap Jinki.
"Heh Dubu! Gak ngerasain ya? Daritadi aku belum istirahat!" ucap Doojoon, dan Jinki hanya merengut kesal.
"Geure. Aku sendiri." Ucapnya, lalu berjalan ke tempat yang diberitahu Doojoon.
Tanpa ia sadari, ada seseorang yang mengikutinya setelah mendengar percakapannya dengan Doojoon. Jinki pun sampai di tempat itu. Tempatnya memang sangat indah. Jinki tersenyum menatap tempat itu. Ia ingin sekali menikmati tempat ini dengan Key.
"Sunbae~" ucap seseorang, dan Jinki pun berbalik.
Matanya terbelalak kaget. Sosok yang baru saja ia pikirkan tiba-tiba muncul di belakangnya. Sosok itu Key. Ia tampak lucu. Sebuah topi berwarna merah, sweater pink dan celana hitam ketat membuatnya terlihat begitu lucu di mata Jinki.
"Ah, Key~ Ada apa?" tanya Jinki, berpura-pura tenang padahal jantungnya kini terasa mau copot.
"Ini hari terakhirmu melihatku. Aku ingin membuat kesan baik di hari ini." Ucap Key sambil memainkan kedua telunjuknya. "Aku ingin mengatakan bahwa aku juga menyukaimu, sunbae~" ucap Key, menundukkan kepalanya karena malu.
Jinki terdiam. Ia tak ingin menyebut dirinya gay. Ia tak mau mengecewakan eommanya.
"Siapa bilang aku menyukaimu?" tanya Jinki sambil menatap Key, yang kini menengadahkan kepalanya agar dapat menatap Jinki dengan tatapan kaget. "Yang waktu itu? Aku tak bersungguh-sungguh. Apa kau berfikir bahwa aku benar-benar menyukaimu? Apa kau tak melihat teman-temanku? Aku hanya sedang bermain. Dan satu lagi. Aku bukan seorang gay. Aku tak sepertimu. Gay." Ucap Jinki sembari berbalik dan meninggalkan Key yang kini mulai meneteskan air mata.
"Tapi kau tampak serius." Ucap Key.
"Apa begitu? Aku tak pernah berniat menyukaimu. Lagipula, aku normal. Aku bukan seorang gay sepertimu. Gay sepertimu tak pantas mendekatiku. Aku masih normal dan sampai kapanpun aku akan selalu begini. Aku normal. Tak sehina dirimu." Ucap Jinki, membuat air mata di pipi Key makin deras mengalir.
Sakit. Itulah yang dirasakan Key. Bayangkan kau disebut hina oleh orang yang kau cintai. Apa yang kau rasakan? Perih. Itu juga yang dirasakan Key. Ia selalu bersemangat jika menyebut nama namja bernama Jinki ini. Tapi apa? Itu semua tak membuahkan hasil.
Key menatap Jinki yang mulai berjalan menjauh. Ia berlari mengejarnya, namun saat ia hendak memeluk Jinki, kakinya terpeleset dan hasilnya ia terjatuh ke dalam jurang. Ia sempat menggenggam tanah yang berada di atas. Dan tanah itu mulai berjatuhan hingga ia jatuh. Tidak, Key tidak terjatuh. Jinki menangkap pergelangan tangannya.
"Key! Tahanlah! Aku akan memanggil bantuan." teriak Jinki.
"Tak apa. Kau tak usah menyelamatkanku. Kini aku tak punya arah tujuan hidup lagi. Biarkan aku mati. Lepaskan aku, sunbae~" ucap Key dengan air mata yang mulai menetes.
"Apa yang kau katakan? Ulurkan tangan kirimu, aku akan mengangkatmu."
"Anniya. Jika kuulurkan tanganku, maka kau juga akan ikut jatuh." Ucap Key sambil menatap tangan Jinki yang berdarah karena tergesek akar pohon. Darah itu menetes ke dahi Key. "Lepaskan aku. Aku tak ingin tanganmu patah. Akar pohon itu akan menggesek tanganmu hingga patah." Ujar Key.
"Anni! Jika aku harus jatuh, maka aku akan jatuh denganmu. Jika tanganku harus patah, asalkan kau selamat, aku rela kehilangan tanganku." Ucap Jinki dan air matanya menetes.
"Maksudmu?" tanya Key.
"Ne. Aku menyukaimu, Key. Tetaplah bertahan hidup demi aku. Aku mohon. Ulurkan tanganmu." Ucap Jinki, membuat air mata Key jatuh.
"Sunbae~ Apa kau benar-benar menyukaiku?" tanya Key tak percaya.
"Ne, Key. Aku menyukaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Saranghae. Jeongmal saranghaeyo~ Kau harus bertahan demi aku. Aku mohon ulurkan tanganmu." Ucap Jinki tanpa memedulikan rasa sakit dibagian tangannya yang tergesek akar pohon.
"Sunbae~ Hiks~ Apa benar? Hiks~ Gomawo~ Aku juga menyukai sunbae~ Sunbae harus tetap hidup. Aku tak ingin sunbae ikut jatuh denganku. Biar aku yang mati." Ujar Key.
"Anni! Kau harus mewujudkan impianmu untuk mencari orang tuamu~ Bukankah itu kebahagiaanmu?" ucap Jinki, dan keringat membasahi lengannya. Membuat genggamannya melonggar dan kini ia hanya menggenggam telapak tangan Key.
"Bagiku, mendengar penuturanmu sudah membuatku benar-benar bahagia. Saranghae. Dan kumohon lepaskan aku. Ini permintaan pertama dan terakhirku~" ucap Key, membuat Jinki mengeratkan genggamannya. Namun, semakin erat ia menggenggam tangan Key, akar pohon itu semakin menusuk lengannya. Keringat membasahi telapak tangannya, dan itu membuat Key terlepas dari genggamannya.
"KEY!" teriak Jinki, sebelum akhirnya Key benar-benar hilang dari pandangannya.
Jinki menangis sekeras-kerasnya. Ia menatap topi merah Key yang tidak ikut terjatuh. Ia merutuki dirinya sendiri, mengingat ialah yang membunuh Key secara tak langsung. Tiba-tiba, seseorang menarik kerah baju Jinki dan langsung meninju pipinya dengan keras.
"BAJINGAN KAU!" bentak orang itu dan terus meninju Jinki hingga tersungkur di tanah.
Jinki menengadah menatap orang itu yang ternyata adalah Minho. Jinki menahan sakit di seluruh tubuhnya.
"Kau menghancurkan impiannya! Apa yang kau mau, huh?! Kau membunuhnya!" bentak Minho dan meninju perut Jinki hingga Jinki mengeluarkan darah dari mulutnya.
Jinki hanya diam, tak membalas apapun yang Minho lakukan hingga akhirnya Minho berhenti dan menengadah menatap langit.
"Kenapa berhenti? Pembunuh sepertiku pantas mendapatkannya. Pukul aku. Bahkan kau boleh membunuhku! Aku tak peduli dengan nyawaku. Bunuh aku, Choi Minho!" bentak Jinki.
Minho terdiam dan menatap luka di tangan Jinki. Minho tahu, Jinki telah berjuang untuk menyelamatkan Key. Ia tak seharusnya memukul Jinki. Namun tiba-tiba~~
Brak!
Seseorang meninju Minho hingga Minho mengeluarkan bercak darah di sudut bibirnya. Ia menatap orang itu yang ternyata Doojoon.
"Apa yang kau lakukan terhadap temanku?! Apa kau mencoba membunuhnya?! Bunuh aku sebelum kau membunuhnya!" bentak Doojoon, dan kembali meninju Minho.
"Hentikan, Doojoon-ah! Dia tak salah! Dia begitu karena aku!" ucapan Jinki membuat Doojoon berhenti.
Donghyun dan Hyunseung yang baru datang langsung mendekati Jinki. Hyunseung meneliti luka Jinki pada tubuh Jinki.
"Ini parah. Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit! Kalau tidak, ada kemungkinan lengannya patah." Ucap Hyunseung serius.
Doojoon masih menatap Minho dengan tatapan amarah. Donghyun pun menarik lengan Doojoon.
"Sudah, Doojoon-ah! Kau tak mendengar Jinki tadi? Biarkanlah. Kau malah akan memperburuk keadaan. Ayo Hoobae~ Kita pulang. Mian atas pukulan temanku tadi~" ucap Donghyun ramah pada Minho.
Donghyun mencoba mendekati Minho. Namun, Minho malah meninggalkannya dengan wajah penuh amarah.
Flashback off
Kini Taemin mengerti mengapa Minho seperti itu. Taemin memeluk hyungnya yang kini sedang menangis mengingat masa lalunya.
"Mianhae, hyung~ Aku tak tahu masa lalumu begitu menyakitkan." Ucap Taemin lembut sambil mengelus pipi hyungnya.
"Gwenchana, Taemin-ah~ Sekarang tidurlah, ne?" ucap Jinki dan bergegas meninggalkan Taemin.
.
"Key, apa kau masih hidup?" tanya Jinki dalam hati lalu mengusap air matanya sendiri.
.
TBC
Ah~ Selesai~~~ Mian chapter ini aku gak bisa bales review -v Aku aja ngetiknya sembunyi-sembunyi :D Terus mian juga, ngupdatenya kelamaan. Aku lagi fokus US. Buat yang nanya sikap Jinki, Jinki itu baik banget sama Taemin. Terus kalau chapter ini horror, aku gak bakal post yang horror dulu buat kedepannya. Paling juga kekuatan tersembunyinya Taemin. Oya. Iblis-iblisnya keluarnya ntaran aja, ne? hehe. Ini chapter paling panjang yang aku post :D Lebih dari 3000 kata :D Biarin lah yaa :D
Sekali lagi, mian banyak typo, gak bisa bales review, kepanjangan, dan yang lainnya :D
Ada yang mau Review? *kagaaaaaaaaaaak*
