Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
...
Thick Bundle
by daffodila
Three: Change of Heart
...
Sakura membuka pintu rumahnya dengan keras hingga suara benturan menggema. Ia melepas alas kakinya tanpa peduli letaknya rapi atau tidak. Telapak kaki yang menginjak lantai kayu menimbulkan suara derapan-derapan lantang yang jelas-jelas menandakan bahwa pemilik kaki itu sedang tenggelam di dalam emosi terburuknya.
"Aku benar-benar marah padamu!"
Sasuke mengejar langkah Sakura dan meraih lengannya dengan tarikan kencang. Ia belum pernah melihat Sakura semarah ini padanya. "Sakura."
"Jangan sentuh aku!" Sakura menarik kembali lengannya hingga lepas dari jangkauan Sasuke. Ketika suaminya hendak menariknya lagi, dengan sigap ia menepis tangan yang hendak mencengkeram kulitnya lagi.
Merasakan sebuah penolakan yang begitu telak, Sasuke mulai jengah. Ia kembali menarik tubuh Sakura tanpa aba-aba hingga secara terpaksa wanita itu menatap ke arahnya. Pergerakan Sakura dikunci, ia tak bisa memutar tubuhnya kembali. Namun, wanita itu malah memalingkan wajahnya.
"Seharusnya aku yang marah!"
Sakura menatap Sasuke dengan mata yang menyalak marah. "Apa? Kenapa? Karena Fujisaki-san—"
"Dia memeluk istriku di depan umum!" bentak Sasuke di depan wajah Sakura. Napasnya terengah-engah, akibat marah dan mengejar langkah Sakura sedari tadi.
Mata Sakura semakin menyipit. Darah yang mengalir di bawah kulitnya semakin mendidih dan terus naik ke kepala. "Kami-sama, Sasuke, dia hanya warga sipil! Pasienku! Itu caranya berterima kasih padaku karena sudah membantu menyembuhkan penyakitnya!"
Ia menyentakkan bahunya hingga cengkeraman tangan Sasuke terlepas. "Dan jangan berteriak ke arahku! Kau tidak berhak melakukan itu sekarang. Di sini aku yang marah!"
Gigi Sasuke menggertak. "Tch."
Sakura kembali membalikkan tubuhnya. Kali ini, Sasuke membiarkannya saja. Wanita itu tak berkata apa-apa lagi dalam beberapa detik. Bahunya bergetar, entah karena napas yang belum teratur atau diakibatkan hal lain. Tanpa Sasuke ketahui, Sakura tengah menggigit bibirnya lamat-lamat. Menahan sesuatu yang sudah pasti akan segera keluar dari bibirnya.
"Kau seharusnya percaya padaku." Suaranya serak. Mata Sakura mulai berkaca-kaca. Kedua tangannya terkepal di atas jahitan blusnya. "Pasien yang memelukku tak akan membuatku berpaling darimu. Kau tidak perlu hampir membunuhnya segala."
Sasuke tertegun mendengar suara istrinya. Ia mengembuskan napas panjang. "Aku tidak—"
"Kau memang begitu! Kaupikir aku tidak melihat bagaimana kau menarik kerah pakaiannya dan menatapnya dengan tatapan membunuh?!"
"..."
Tubuh Sasuke membeku. Sakura memang benar-benar marah padanya. Ia menatap punggung istrinya yang masih bergetar harmonis. Tangannya terulur, hendak menyentuh bahu sang istri namun ditahan ketika mendengar kata-kata Sakura selanjutnya.
"A-aku takut kalau melihat Sasuke-kun yang itu. Takut, takut sekali." Sakura menenggelamkan wajah ke dalam kedua telapak tangannya. "Kau seharusnya percaya padaku. Kalau sudah begitu, hal seperti tadi pasti tidak akan terjadi."
Sasuke terdiam. Sikapnya di rumah sakit tadi memang terlalu berlebihan dan lepas dari kendali logisnya. Sakura merasa takut padanya. Hal itu membuat setumpuk penyesalan membebani dadanya.
Mendengar satu dua isakan yang membumbung ke udara, Sasuke memutar tubuh Sakura dan mendekapnya ke dalam sebuah pelukan hangat dan menenangkan. Tangis Sakura belum berhenti. Ia membiarkan suaminya mengambil alih atas tubuhnya, meski ia tak merespons apa-apa.
"Itu tempat umum. Banyak warga desa yang tidak tahu apa-apa," kata Sakura. Kalimatnya terpotong beberapa isakan. "Namamu ..., namamu belum sebersih dulu di mata mereka, dan kau mengotorinya lagi."
"Aku tidak mau mereka semakin menilaimu buruk. Aku tidak akan suka jika mereka bilang lagi bahwa kau tak pantas untukku. Aku tidak mau jika mereka semakin membencimu. Aku takut, aku takut kalau-kalau mereka—"
Sasuke memotong kata-kata Sakura dengan sebuah ciuman lembut. Ia menunduk, lingkaran tangannya belum terlepas. Perisa asin dari jejak air mata Sakura di atas permukaan bibir wanita itu terkecap di bibirnya. Iris berbeda warnanya bersembunyi di balik kelopak mata, berbanding terbalik dengan Sakura yang melebarkan matanya. Tubuhnya kaku. Pandangannya terpusat pada betapa sungguh-sungguhnya wajah Sasuke sekarang, hingga ia lupa untuk mengisak lagi.
"Sudah cukup, Sakura," kata Sasuke parau di depan bibir istrinya. "Jangan pikirkan tentang aku sejauh itu lagi. Dan aku berjanji tak akan mengulanginya lagi."
Ia menempelkan dahinya dengan dahi Sakura. Dikecupnya bibir itu perlahan. "Aku minta maaf."
...
A/n:
Ea ea ea. Alay banget. Hahaha. Sorry for this kind of cliché drama.
Makasih udah baca sampai sini! Balasan review nyusul :)
Daffodila.
