A/N : Mina-san! makasih banget udah mau baca dan me-review X3 Makasih udah mau baca chapter yang panjang ini. Ahahaha... yang kali ini juga panjang loh! Jadi bersiap-siaplah! XD Happy Reading!
Desc. : Semua Chara n' story yang akan datang milik para pemiliknya! ;) Tapi fict ini akan selalu menjadi milik saya untuk anda baca…
Fun at RolePlay World
Part 2 : Mario Bross World
Gelegar tawa dan kemarahan membuat rumah sang Kazekage, yang kebetulan ada di pusat kota itu menjadi ribut, sampai-sampai orang-orang yang ada di ujung desa saja berbondong-bondong datang, menambahkan keributan di rumah Kazekage dengan menggedor2 pintu. Nyuruh diem mereka. –buat apa mereka dateng kalo nambahin ribut coba?-
"Jadi begitu. Wah, coba kalo ada rekamannya," ujar Naruto sambil menyeka air matanya yang keluar karena kebanyakan ketawa.
"Wah! Ada kok!" ujar Kankurou.
"GLEK…" Sai udah ilfil duluan.
"Kyaa! Aku mau nonton!" seru Sakura, "Kan ada bagian romantisnya Sai dan Ino," ujar Sakura sambil nyengir lebar.
Sai dan Ino blushing, yang lain hanya tertawa atau senyam-senyum sendiri.
"Hehe… aku jadi pangeran boleh, tapi kamu jadi kurcaci yang marah-marah, cocok bangeeeet," sindir Ino.
"U… a… Grrr… Udah dipuji malah mbales yang enggak-enggak!!" seru Sakura marah.
"Jadi itu PUJIAN?!" seru Ino pura-pura kaget tapi marah.
"YAIYALAH! Dasar Piggy bodoh!" seru Sakura dengan suara keras.
"Jidat lo lebar tapi ga bisa mikir!!" balas Ino ga kalah kerasnya.
Akhirnya, semua Cuma geleng-geleng ngelihat 2 orang itu tempur.
"Tapi bener-bener deh, aku pingin banget lihat dia ini pake baju seperti itu," ujar Sasuke nyengir.
"Jadi kau iri ya?" ujar Sai sambil tersenyum, seperti biasanya.
JEDERR!! (SFX kilat)
"Ngajak perang ya kamu?" ujar Sasuke sambil tersenyum simpul, tapi urat kemarahannya muncul.
"Hohoho… siapa bilang aku takut sama ayam sepertimu," balas Sai tidak kalah senyumnya.
Lalu terjadilah pertempurang senyum-senyuman. Yang lain merinding. Kalo Sai senyum biasa. Kalo Sasuke Uchiha yang terkenal dengan sifatnya yang Cool itu?
"Oke, oke… ayo tidur semua! Kalian butuh tenaga kalian untuk besok!" seru Temari menyudahi acara Makrab di rumah sang Kazekage.
Temari geleng-geleng, "Kalo 1 hari aja sudah kaya gini, besok jadi kaya apa nih?" batin Temari sambil menghela nafas, "Masa aku perlu manggil tukang cleaning service yang harganya selangit itu untuk mbersihin rumah??"
- RP WORLD TIME -
"Aku penasaran hari ini perannya akan seperti apa," ujar Kankurou sambil menyiapkan alat-alat yang mereka perlukan.
"Kuharap ayam yang kemarin berlagak dapet peran yang jelek," gumam Sai sambil mengutuk-ngutuk si ayam yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Huh…"
"Uuh…"
"Kenapa Hinata-chan?" tanya Naruto pada gadis di sampingnya itu.
Hinata blushing, "Ehm… ti… tidak apa-apa kok Naruto-kun," ujarnya sambil tersenyum.
"Kenapa aku merasa tidak enak, ya?" batin Hinata khawatir.
Naruto lirik-lirik khawatir ke Hinata saat Temari mengumumkan kalau dia akan menyalakan alatnya sebentar lagi.
"Oke semua! Selamat menikmati petualangan kalian!" seru Temari.
Tombol dinyalakan dan para pejuang Konoha kita pun kehilangan kesadaran mereka di dunia nyata.
"Wah, sudah mulai," ujar Kankurou.
Lalu sebuah tulisan muncul di layar yang mereka pantau.
"Apa…? Mario Bros?" ujar Gaara tanpa ekspresi.
-x-x-x-x-x-x-
"Au… Itai… Eh… ah?? Lho? Ini di… mana?" ujar si gadis berambut ungu itu sambil memegangi kepalanya. Lalu ia mencoba berdiri dan melihat ia berpakaian serba merah.
TING!! Selembar perkamen muncul di depannya.
"Eh? Apa ini…? Aku harus mengambilnya, ya?" ujar Hinata bingung.
Ia mengambil dan membuka perkamen itu.
Quest 1
Ikutilah Jamur yang akan mendatangimu nanti
"Ja… Jamur?" batin Hinata bingung, "Tapi… aku bisa merasakan diriku sendiri… jadi… artinya…… AKU PERAN UTAMANYA?!"
"Ah! Mario-sama!! TOLONG!! TOLONGG!!"
"Ma… Mario-sama?" ujarnya bingung.
BRAK!! Pintu kamar itu terbuka dan sebuah… jamur memasuki ruangan itu.
"Eih…!! Kyaaaaaa!!" Hinata berteriak kaget.
"HE?! GYAA!!" jamur itu ikut-ikutan teriak gara-gara kaget, lalu setelah sadar, jamur itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mario-sama! Kita tidak punya waktu untuk saling berteriak!" seru Jamur itu.
"Er… yah… mungkin… tapi…"
"Kiba-kun?" batin Hinata agak kaget meilhat Kiba yang biasanya dengan Akamaru itu sekarang memakai topi berbentuk kepala jamur dengan bintik-bintik berwarna coklat.
"Kiba-kun… jadi imut sih… tapi… dunia macam apa ini?! Naruto-kun…" batin Hinata khawatir.
"Putri Peach telah diculik oleh Bowser jelek itu!" seru Kiba.
"Um… Putri Peach? Bowser…? Bisakah kau… um… jelaskan sedikit… Kiba-kun…"
"Mushi, itu namaku, kau lupa?"
"I… iya, Mushi. Bisa kau jelaskan sedikit?" tanya Hinata agak takut.
"Aku lupa kalau Kiba-kun bukan Kiba-kun di sini," batin Hinata.
"Akan kujelaskan sambil berjalan! Saat ini kita harus cepat ke istana!" seru Kiba yang berperan sebagai Mushi.
-x-x-x-x-x-x-
- interuption
A/N : ehm… bagi yang belum pernah main atau lihad Mario Bros, ikutin aja alur cerita dengan imajinasi temen2 ya! hehe…
- Back to Story
-x-x-x-x-x-x-
"Jadi… putri Peach… putri di istana ini… dan Bowser itu… bentuknya seperti kura-kura dan mungkin menurut cerita adalah musuh…ku," batin Hinata mengambil kesimpulan. "dan… tadi itu…"
- Flash Back -
Hinata berlari mengikuti Kiba ke arah istana saat ia tiba-tiba melihat tulisan di udara.
Quest 1 Complete!!
Setelah itu ia melihat gulungan perkamen lain dan segera mengambil dan membacanya sambil berlari. Untung saja ninja memang dilatih untuk hal seperti ini, hehe…
Quest 2
Temukan petunjuk untuk menemukan putri Peach dengan bertemu Luigi
"Lu… Luigi?"
- Flash Back opp -
"Mario-sama! Lihat! Tuan Luigi sudah datang!" seru Mushi.
Hinata kembali dari lamunannya, "Eh?"
"Ap… NEJI-niisan?!" batin Hinata kaget plus shock.
"Yo, Mario. Lihatlah surat yang ditinggalkan kura-kura gila itu," ujar Neji yang berperan sebagai Luigi. Ia berpakaian serba hijau.
Ia mengambil surat yang diberikan oleh Neji.
"Terima kasih, Ne… er… Luigi-san," ujar Hinata.
Lalu ia membacanya. Tulisannya sangat jelek sampai-sampai hampir tidak bisa dibaca.
"Eh… Aku… menculik… Peach. Jangan… datang… ke istanaku… karena… kamu tidak akan…. Emm… mungkin mendapatkannya… kembali!… Bow… ser…" batin Hinata membaca terbata-bata karena tulisannya tidak jelas.
"Aku menculik Peach. Jangan datang ke istanaku karena kamu tidak akan mungkin mendapatkannya kembali. Bowser. Bah! Surat bodoh macam apa ini," ujar Luigi.
"Hmph…" Hinata tertawa kecil.
"Hm? Apa yang lucu Mario?" tanya Luigi.
"Tidak…" ujar Hinata.
"Aku sangat beruntung. Neji nii-san tidak pernah bersikap seperti itu. Lucu sekali," batin Hinata senang.
"Yah, eniweey… Ayo Mario! Kita harus cepat!" seru Luigi.
"Eh, i… iya," jawab Hinata.
"Mario-sama! Luigi-sama! Hati-hati di jalan ya!" seru Mushi.
"Ya!"
"Ah! Mario-sama! Tolong ambil ini!" ujar Mushi.
"…?"
"Ini adalah…"
Mushi membisikkan sesuatu pada Hinata. Hinata agak blushing karena wajahnya sangat dekat dengan Kiba yang berperan menjadi Mushi.
"Ayo, Mario!" panggil Luigi.
Sebelum mereka sempat berjalan pergi, tiba-tiba mereka didatangi jamur-jamur lain.
"Wah… Shino-kun… Sakura-san dan Shikamaru-kun," batin Hinata.
Tiba-tiba saja ketiga jamur itu bersujud.
"Mario-sama! Maafkan kelalaian kami karena tidak bisa menjaga putri dengan baik," ujar Shikamaru meminta maaf. Ia memakai kepala jamur dengan bintik-bintik berwarna hijau.
"Em… eh… err… tidak apa kok, berdiri saja," ujar Hinata. Ia tidak biasa disembah sujudi (?) orang lain.
"Tapi! Kami tetao saja gagal!" seru Sakura. Sakura memakai kepala jamur dengan bintik-bintik berwarna merah.
"Kami… bersiap menerima resikonya," ujar Shino. Shino memakai kepala jamur dengan bintik-bintik berwarna jingga.
"Sudah cukup… tidak apa-apa kok," ujar Hinata agak panik.
"Hei, sudah. Kalian boleh berdiri," ujar Luigi, "Lagipula ini bukan salah kalian."
"… terima kasih Luigi-sama, Mario-sama," ujar Shikamaru.
"Bawalah ini," ujar Sakura.
"He?" Hinata kebingungan, "Jamur? Warnanya hijau…" batinnya.
"Terima kasih…" ujar Hinata.
TING!!
1 up! – LIFE x 4
"Eh? Apa…?" Hinata kebingungan melihat border yang tiba-tiba saja muncul di bawah kakinya.
"Ayo pergi Mario! Jangan buang waktu lagi!" seru Luigi.
"Ah… ya!"
TRING! Quest 2 Complete!
-x-x-x-x-x-x-
Dunia nyata, di mana ketiga warga Suna kita sedang bersantai ria menonton aksi Hinata.
"Wow, ternyata anak itu yang menjadi peran utamanya," ujar Temari.
"Bagus juga sih. Tapi…" Gaara melirik ke layar, "Hmph… ini patut dikenang, Hyuuga memakai baju seperti itu," ujar Gaara sambil tersenyum kecil.
"Maksudmu yang mana? Dua duanya Hyuuga sih," ujar Kankurou.
"Tentu saja, Neji Hyuuga."
"Ooo…" Kankurou melanjutkan fitnessnya… err… maksud saya, memoles kugutsunya.
"Yah… lanjut saja," ujar Temari sambil meneguk teh nya.
"Tapi bosan juga kalau hanya menonton ya…" batin Temari.
-x-x-x-x-x-x-
"Ja… jadi ini Lembah Mistik itu?" tanya Hinata.
"Betul skali Mario!" ujar Luigi.
"Um… berarti ini yang disebutkan di Quest 3 tadi… pergi ke Lembah Mistik dan Hajar bawahannya… jadi… musuhnya ada di sini?" batin Hinata, "Tapi… apa maksudnya, 'P.S. : jangan sampai mati!'?"
"Mario! Mario!"
Hinata sedang melamun memikirkan musuhnya nanti.
"MARIO!!" Luigi berteriak di telinga Hinata alias Mario.
Hinata terperanjat, "Eh! Y… ya?!"
"Haduhh… kamu itu… jangan melamun terus, bisa mati nanti," ujar Luigi khawatir.
"Um… ya… maaf," ujar Hinata.
"Sudahlah, ayo kita berangkaat!!" seru Luigi.
Hinata terkikik lagi. Ingat, yang memerankan Luigi itu Neji! Sifat Luigi serampangan, padahal Neji alim gitu, hehe…
"Ketawa-ketawa lagi… huh…"
Tiba-tiba saja suara menggema di lembah itu, "HAYO!! BERHENTI DI TEMPAT!!"
Hinata, selaku Mario, dan Luigi celingukan mencari-cari asal suara itu.
"BERHENTI DI TEMPAT ATAU KALIAN MATI, KEKEKEKE……"
Sekarang suara yang lain muncul.
"Siapa!!" seru Luigi.
WUSH!!
Tempurung kura-kura tiba-tiba saja beterbangan ke arah Hinata dan Neji, ehm… Mario dan Luigi.
"AWAS!! Mario! Lompat dan hindari serangan itu!" seru Luigi memberi arah.
"Ah! I… iya!"
Lalu Hinata mencoba untuk melompat. Betapa kagetnya dia karena dia bisa melompat lebih tinggi dari biasanya.
"Huh! Menyerang kami yang bisa melompat dengan baik adalah kesalahan!" ujar Luigi bangga.
Sekarang Hinata tahu kenapa dia bisa melompat seperti itu. Lalu mereka berdua menghindari serangan tempurung-tempurung itu.Tapi tiba-tiba secara tidak sengaja Hinata mengenai salah satu serangan tempurung itu dan ia merasa lemas.
Life x 3
Ia kembali melihat border yang bertuliskan tulisan, 'life'.
"Hati-hati Mario! Kamu tidak ingin mati hanya dengan serangan seperti itu!" ujar Luigi.
"Jadi… kalau aku… mengenai serangan artinya… um… 'life'ku akan habis?" batinnya khawatir.
"Haha! Puas kalian?" ujar Luigi.
Para kura-kura yang melempari mereka dengan tempurung-tempurung itu menunjukkan diri mereka. Mereka berada di atas batu besar yang tinggi di depan Mario dan Luigi.
"Ten-ten-san?! Dan… Sai-kun?!" batin Hinata kaget.
Ya. yang memerankan musuhnya adalah Ten Ten dan Sai. Mereka berdua memiliki tempurung berwarna hijau di punggung mereka dan mereka juga memiliki sarung tangan dengan cakar yang tajam.
"Hohoho… kalian berhasil menghindari serangan kami ya?" ujar Ten Ten dengan nada agak menyebalkan.
"Kurasa itu hanya kebetulan," ujar Sai sambil tersenyum kaku.
"Hmph, kalian hanyalah kura-kura bodoh, siapa yang lebih bodoh untuk mengenai serangan kalian?" ujar Luigi mantap.
JLEB!!
"……… tadi… aku kan kena…… huwa……… aku bodoooh!!" batin Hinata menangis.
"Oke! 2 lawan 2! Cukup adil bukan?" ujar Ten Ten.
Lalu Ten Ten dan Sai segera melompat turun.
"Mario, bersiap-siap untuk bertarung!" seru Luigi.
"Um… I… iya! Ta… tapi… bagaimana caranya?" tanya Hinata agak kebingungan campur panik.
"Haduuuh! Mario! Masa kau segitu pikunnya untuk melupakan caranya bertarung?" ujar Luigi tepat sasaran, "Begini, kau lompati saja kepala mereka!" ujar Luigi.
"EH?!" Hinata kaget untuk kesekian kalinya.
"Nih, lihat!" ujar Luigi, "Woi! Kura-kura jelek! Maju sini!" ujar Luigi mengintimidasi lawannya.
"Grrr…"
Cerita berlanjut dan mereka memang terintimidasi, dan yang maju pertama adalah Ten Ten. Ia berusaha menyerang dengan cakarnya saat, Neji selaku Luigi melompat dan menginjak kepalanya.
"Au!!"
"Euh…" Hinata sweatdropped karena panik.
"Begitu!" ujar Luigi sambil thumbs up.
Kali ini Sai meju mendatangi Hinata.
"Kyaa… maafkan aku Sai-kun!! Tapi aku tidak boleh mati dalam game ini!" batin Hinata.
Lalu Hinata pun melompat dan berhasil menginjak kepala Sai dengan tepat.
( A/N : Bayangin aja chibi Hinata melompat n' air matanya keluar kaya air mancur, hehe… )
"Agh!! Gila… mereka memang kuat!" ujar Sai mengernyit kesakitan.
"Kita harus melaporkannya ke bos!" ujar Ten Ten.
"Hei! Mau kabur, ya!" seru Luigi kesal.
"Huh, kami harus undur diri dulu! Kalau ini berlanjut, kami pasti menang!" ujar Ten Ten yakin.
"Kalian beruntung, sucker!" ujar Sai.
Lalu Ten Ten dan Sai menghilang dari pandangan mereka.
"Bah… banyak membual mereka," ujar Luigi kesal.
"Um… ya…" ujar Hinata setuju.
TRING!! Quest 3 complete!!
Lalu seperti biasa, sebuah perkamen muncul lagi.
Quest 4
Cari istana Bowser di Lembah Mistik dalam waktu 2 jam!
"EEEEH!?"
-x-x-x-x-x-x-
"Huuhuuhuu…… bocah emotionless itu tampangnya hancur banget!" ujar Kankurou sambil tertawa.
"Hn…"
"Dan anak cepol itu tidak kalah hancurnya," ujar Temari setuju.
"Tapi, kali ini si Hyuuga itu harus mencari istananya dalam 2 jam," ujar Kankurou.
CRING! (SFX : sinar di samping Gaara)
"Hyuuga yang mana?" tanya Gaara. Dia membalas pertanyaan Kankurou tadi.
"Jelas Hinata Hyuuga laah!"
"Bukannya Neji Hyuuga juga menemani Hinata Hyuuga?" tanya Gaara balik.
"Oke! Oke! Hinata Hyuuga dan Neji Hyuuga! Puas!!"
Gaara tersenyum penuh kemenangan.
Temari sweatdropped melihat perlakuan adik-adiknya, "Kurasa lembahnya sangat besar. Apa 2 jam cukup, ya?" ujar Temari.
"Lihat saja nanti," ujar Kankurou sambil menahan uapnya. –maksudnya mau meng'uap'. Wkwkwk… -
"Hm… memang g seru ya Cuma nungguin?" tanya Temari.
"sebenernya nonton juga seru sih," ujar Kankurou.
"Hmm…" Temari kembali berpikir.
-x-x-x-x-x-x-
Setelah 1 jam 38 menit 1 detik, sampai juga mereka di istana.
"Gile kau Mario! Tumben-tumbennya kamu mau cepet-cepet sampai? Padahal harusnya dari tempat tadi ke sini itu… hem… sekitar 4 jam baru sampai," ujar Luigi.
"Itulah intinya," ujar Hinata sambil ngos-ngosan.
"??"
Quest 4 Compelete!
Quest 5
Masuk ke dalam istana, nanti akan muncul musuh lagi. Kalahkanlah!
"Eeeeehh………?! Musuh lagi?!" batin Hinata kaget.
"Mario! Mario!"
Hinata kembali melamun.
"MARIO!!"
"Kyaaa!!"
"Ya olooh… Mario. Kamu bener-bener ga apa-apa?" tanya Luigi khawatir.
"E… e… iya…," ujar Hinata agak terbata. Jantungnya masih berdebar gara-gara dikagetkan tadi.
"Ckckck… ayo masuk," ajak Luigi.
Hinata mengangguk. Mereka melewati sebuah jembatan kayu yang sangat besar ke dalam istana yang terbuat dari batu. Eits… walau dari luar jelek, setelah masuk mereka kaget karena di dalamnya begitu mewah. Lantai berkarpet. Lampu dinding menerangi di mana-mana di tambah lampu ballroom tergantung di atas. Selain itu, barang antik di mana-mana. Kiri kanan mereka. Semua penuh dengan barang-barang indah dan aneh. –nah loh?- Bahkan banyak perabotan yang dipajang berasal dari emas.
"Wow… coba aku bisa memiliki barang-barang ini…" ujar Luigi sampe ngiler.
"…"
Hinata kembali cekikikan. Belum pernah ia melihat Neji yang amat sangat cool itu ngiler. Itu telah menghancurkan imagenya.
"Ehm…" Luigi akhirnya sadar kalau ia diperhatikan oleh Hinata, "EHEM… maksudku, ini adalah barang-barang rongsokan! Pasti dia curi semua ini," ujarnya menyangkal sambil menyeka liurnya.
"Hihihi… mungkin," ujar Hinata sambil terkikik.
"Kalian sudah datang, yah…"
"Siapa?!"
Hinata dan Luigi kaget, tapi yah… kaget biasa sih.
"Aniki, mereka itu hanya semut-semut kecil! Kasihan! Kenapa yang mulia menugaskan kita? Dia terlalu kejam," ujar suara yang lainnya.
"Bodoh! Itu artinya yang mulia percaya pada kita!" seru suara pertama.
"Eh! I… iya! Maafkan saya! Sungguh!" suara kedua tadi memohon maaf.
"Ayolah kalian. Sebaiknya kita selesaikan sekarang dan… dan… dan…"
"Seselesainya," suara dua melengkapi.
"Ya… ya… ya…" ujar suara tiga dengan malas.
"Apa-apaan?" batin Hinata.
Lalu akhirnya ketiga suara itu menunjukkan diri mereka masing-masing.
"Wow… Chouji-kun, Lee-kun, dan… Ino-san…" batin Hinata.
Ketiganya, tentu saja, memiliki tempurung di punggung mereka, tapi berduri. Lalu mereka juga memakai sebuah topi berbentuk topi prajurit yang ada bulu-bulunya. Dan yang menjadi pembedanya adalah warna glove mereka. Ino biru, Chouji merah dan Lee hijau. –typical :))-
"Hmh… Mario dan Luigi. Kami terhormat bisa menjadi lawan kalian," ujar Ino sopan. Ia lah suara pertama tadi.
"Ha… ha-i…" jawab Hinata. Sopan juga.
"Woi! Mario! Ngapain dijawab?!" seru Luigi agak kesal.
"Aa… maaf…"
"Kekekeke… ternyata mereka memang semut-semut lemah," ujar Lee yang tadi adalah suara kedua.
"Hei, Lee! Lebih sopan sedikit!" bentak Ino.
"Ma… maaf aniki!"
"Aniki? Ma… masa… Ino-san berperan jadi laki-laki?!" batin Hinata agak kaget.
"Sudah kalian berdua… less talk and more action," ujar suara ketiga, yaitu Chouji. Tampaknya ia yang paling bijaksana dari yang lain.
"Wow… lawan kita ini selalu unik ya," ujar Luigi terang-terangan, "Banci, alis tebal, gendut."
"Eh… ah… Ne… um… Luigi-san…" Hinata agak panik. Bagaimana kalau Chouji bener-bener mirip yang asli. Hinata pernah melihatnya mengamuk sekali dan ia takut hal itu terjadi lagi.
"Ge… gendut?"
"Iya, kau kan memang gendut," ujar Luigi menjelaskan.
"Glek…"
"Ooh!!"
"A… aniki?!"
"…"
"Benar aku gendut?!" tanya Chouji.
"Yep," Luigi menjawab dengan nada tegas.
"Hahaha! Bagus! Aku menyukaimu! Silahkan lewat…" ujar Chouji dengan sukarela.
"WOT?!" Luigi bingung. Padahal dia bermaksud untuk menyindir.
Begitu juga Hinata. Akhirnya mereka diam di tempat dan sweatdropped.
"A… aniki?!" seru Lee kaget.
"… kalau itu niat Aniki, aku tidak akan melawan," ujar Ino.
"Grrr… Aniki! Sejak kapan aniki jadi lembek begitu?!" seru Lee.
"Diam kau. Kalau kau mau melawan mereka silahkan," ujar Chouji sambil mengambil snack yang ia simpan di tempurungnya.
"… khas Chouji-kun," batin Hinata.
"Oke! Aku tidak butuh bantuan aniki!" seru Lee kesal, "padahal ini adalah semangat masa muda!"
"… oke… oke… intinya hanya kau musunya, ya, Alis tebal?" ujar Luigi.
"Hmph! Alis tebal! Aku punya nama tauk! Namaku Kuraya!"
"Bahkan namamu sama anehnya," ujar Luigi geleng-geleng.
"Grrr!! KAU AKAN MEMBAYARNYA!"
"Oh, iya. Kenalannya telat. Aku Kurashi," ujar Chouji.
"Dan saya Ku…"
"ARGH! Ganggu mood aja!" seru Kuraya.
"Kuraya! Berani ya kamu menghina kakakmu!" seru Ino marah.
"Cih! Kurapi nii-san selalu saja seperti itu!" seru Kuraya.
"Hmph! Oke, karena kalian sudah tahu nama kami, kupikir aku akan menonton saja. semoga kalah adik kecil," ujar Ino sambil mendengus kesal.
"Hmph! Tidak akan!"
Lee, selaku Kuraya, menyembunyikan tubuhnya di bawah tempurung berdurinya dan ia berputar seperti gasing dan menyerang Luigi. Luigi melompat untuk menghindarinya, tapi sayangnya kakinya tergores duri-duri yang ada di tempurung itu.
"Cis!"
Luigi terjatuh dan kakinya berdarah.
"Ne… Luigi-san!" seru Hinata panik.
"Sial! Aku lupa kalau tempurungnya berduri!" ujar Luigi sambil mengernyit kesakitan.
"Lalu bagaimana ini?" tanya Hinata.
"Kau ingat… ugh… bunga yang tadi kita petik?" tanya Luigi.
"Um…"
x- Flash Back -x
"Hei, Mario!" panggil Luigi.
"Ap... apa? Kita harus cepat Luigi-san!" seru Hinata. Saat ini ia sedang mengejar waktu.
"Lihat bunga itu?" tanyanya pada Mario.
Sekuntum bunga berwarna jingga kemerahan ada di atas batu tinggi di depan mereka.
"Um, ya?"
"Bunga itu sangat jarang. Kita bisa menggunakannya untuk melawan kura-kura jelek itu nanti," ujar Luigi menjelaskan.
"Tapi… bagaimana cara mengambilnya? Tinggi sekali…" ujar Hinata.
"Hei! Jangan lupa! Kita berdua!" ujar Luigi.
"um…"
"Naiklah ke pundakku dan lompatlah sekuat tenagamu!" ujar Luigi memberi petunjuk.
"Baik… ganbaruso…" –aku akan berjuang- (A/N : Bener ga, ya? :p)
Lalu dengan perlahan Hinata menaiki pundak sepupunya yang kebetulan berperan sebagai Luigi. Lalu ia memejamkan matanya sebentar dan menarik nafas dalam-dalam.
"Oooyy… cepetan…"
Lalu akhirnya Hinata melompat sekuat tenaganya. Tangannya terasa mati rasa tapi ia terus menggengam sesuatu yang ia dapatkan tadi dan terjatuh ke bawah. Pantat duluan. Ouch… :))
"Duh… duh… duh… akh! Neji… eh… Luigi-san! Maaf!!" seru Hinata yang tampak menindihi badan Luigi.
"Ahahaha…"
-x Flashback opp x-
"Iya!" Hinata mencari benda itu di sakunya, "Ini dia!" serunya.
"Makan!"
"Ma… makan?!"
Tiba-tiba saja Kuraya berputar arah ke arah mereka.
"AWAS!!" seru Luigi mendorong Hinata menjauh.
"Kyaa!!"
"ARGH!!"
Serangan Kuraya mengenai Luigi.
"Neji nii-san!!" batin Hinata, "Aku harus kuat!"
Lalu Hinata tanpa ragu lagi, langsung memakan bunga itu daan…
CLING!! DHUARRR!!
Penampilannya berubah. Baju dan topinya menjadi putih dan ia merasa kekuatan mengumpul di tangannya.
"Uuh… arahkan tanganmu dan… teriak Bang! Pada kura-kura… brengsek itu! Ugh…" seru Luigi.
"Bang!!"
Kekuatan mengumpul di tangan Hinata dan sebuah sinar berbentuk bola api muncul dari tangannya dan menghancurkan tempurung Kuraya.
"GLEK!! Ap… apa?!"
Walau tempurungnya hancur, ia masih melaju ke arah Hinata.
"Fokus… Hinata… fokus…….. SEKARANG!"
Hinata melompat dan menginjak Kuraya. Dan Kuraya langsung jatuh, K.O. Lihatlah, bahkan Hinata akan melupakan sopan santunnya pada orang lain kalau itu menyangkut orang yang penting baginya. ;)
"Fyuu… nice jump, bro!" ujar Luigi sambil thumbs up.
Hinata tersenyum pada Luigi dan segera berlari ke arah Luigi.
"Ini," ujar Hinata memberi Luigi sebuah bintang.
"I… ini!!"
Plok!
"YEAH! Aku kembali segar!" seru Luigi. Luka-lukanya lagsung sembuh seketika, "tapi darimana kau dapatkan bintang itu?" tanya Luigi.
"Dari Mushi-san!" ujarnya sambil tersenyum, "Ia memberiku ini di istana tadi. Dia bilang ini dapat menyembuhkan separah apa pun luka itu," jelasnya sambil tersenyum lembut. Ia belum pernah merasa sedekat ini dengan sepupunya itu.
"Ooo…"
Plok… plok… plok…
"Ternyata kalian hebat juga bisa mengalahkan adik kami," ujar Ino sambil bertepuk tangan.
"Glek… aku lupa mereka masih ada," ujar Luigi.
"Tenang… aku tidak akan menyerang kalau aniki juga tidak," ujar Kurapi.
"Hn… sudah, cepet pergi," ujar Kurashi.
"Arigatou Kurashi-san!" ujar Hinata.
Hinata tidak buang waktu dan langsung menarik tangan Luigi yang agak kebingungan.
"Hei, aniki, apa aniki membelot?" tanya Kurapi.
"Tidak sih, Cuma jarang saja melihat orang sepertinya," ujar Kurashi.
"Hmm…"
Mario dan Luigi – para Hyuuga – berlari menuju ruangan utama yang tampaknya berada di lantai paling atas yaitu lantai 3.
TRING! Quest 5 Complete!!
Sebuah perkamen muncul dan disambarnya.
Quest 6 – FINAL -
Kalahkan Bowser dan selamatkan Putri Peach!
"Glek…"
Setelah melewati rintangan-rintangan, mereka sampai juga di ruang utama di mana Bowser berada dan juga Peach. Tapi, betapa kagetnya Hinata saat melihat siapa yang memerankan Bowser dan Peach.
Yep! Sasuke dan Naruto! Siapa yang siapa??
"Glek…" Hinata blushing melihat Naruto dalam baju…. Baju… baju…………………
"Princess Peach! Kami akan menyelamatkanmu!" seru Luigi.
"Mario! Luigi!" seru sang putri.
Putri Peach aslinya manis, dan kali ini, dia juga manis! Yep, yang memerankannya adalah Naruto!! XD Rambutnya yang pirang sama dengan Putri Peach yang asli dan rambutnya di sini juga panjang –pake wig dia- Dan yang paling manis dari yang paling manis! Dia memakai gaun pesta warna pink dengan tiara tersemat di rambutnya! Kawaiii!!
Karena Naruto adalah Peach, maka tidak diragukan lagi, sekali lagi Sasuke jadi peran antagonisnya!! –dibandem Sasuke- Di punggungnya ada tempurung berduri dan cakarnya tajam. Pokoknya wow… Saat ini, ia menyekap Peach di sebuah ruang kaca yang bolong bagian atasnya. Mati ntar kalo g bernafas? Hehe…
"Grrr… ngapain kalian di sini lagi?" ujar Sasuke selaku Bowser.
"Tentu saja untuk mengalahkanmu dan merebut kembali Putri!" seru Luigi.
"Ya!" ujar Hinata mantap.
"Huh! Bisa apa kalian?" uajr Bowser galak.
"Uuh… iya ya, bunga ajaibnya sudah habis," ujar Luigi berpikir.
"Euh…" Hinata ikut bingung.
"Muahahahaha!! Lihat kan! Kalian tidak akan mungkin bisa mengalahkanku!" ujar Bowser sambil tertawa sinis.
"Urgh…"
"Mario! Ambil ini!" seru Peach sambil melempar sebuah benda kepada Mario.
Hinata kaget pada awalnya, tapi ia segera menangkapnya, for Naruto's sake, "I… ini?"
"Cepat gunakan itu untuk mengalahkannya, Mario!"
"Baik!"
Lalu ia menggenggam benda itu. Apa itu? Ternyata itu adalah sebuah jamur berwarna emas! Ia makan, untungnya tidak sekeras emas, dan…
BLAARRR!!
SUPER MARIO!! Sekarang penampilannya sudah benar-benar berbeda. Ia memakai sebuah mahkota emas di kepalanya, menggantikan topinya. Ia memakai sebuah jubah berwarna merah dan bajunya berwarna putih dihiasi warna emas dan merah. Sepatunya terasa ringan di kakinya dan ia merasa tenaganya begitu besar.
"Aku… merasa sangat kuat! Tunggulah Naruto-kun, aku akan menyelamatkanmu," batin Hinata yakin.
"Hrrr?! Apa-apaan ini!!"
"Hiiaaah!!"
BLAARR!! Sebuah bola api dari tangan Hinata keluar dan menghantam Bowser tepat di mukanya. Dan Bowser langsung jatuh begitu saja dan ia mengibarkan bendera putih. Weleeh…
"Hiah!"
Lalu Hinata menghancurkan ruangan kaca itu dengan hati-hati, supaya Peach, a.k.a. Naruto tidak terluka.
"Ayo, pulang, Na… ehm… putri Peach," ujar Hinata sambil tersenyum plus mukanya bersemu merah.
"Aw… aku dilupain deh," ujar Luigi dengan lugunya.
"Terima kasih, Mario," ujar Peach.
Lalu ia mengecup pipi Hinata. JEDHUAR!! ( SFX : Gunung merapi mledak ) BRUK! Hinata fainted dengan wajah merah tomat. Kebahagiaannya memancar. Luigi dan Peach hanya tertawa.
"Naruto-kun…………"
Quest 6 Complete! CONGRATULATION!!- Part 2 END -
-x-x-x-x-x-x-
A/N : Makasih banyak bagi yang sudah review XD Maap kelamaan ng-updatenya ehehe…
Btw, yang kemarin mau jadi OC biasa, a.k.a ga tetap, kalau bisa kasih ciri2 dong, ntar kalo nggak aku buat random aja yah? Ahahaha…
List yang pasti masuk OC biasa :
- Sabaku no Kaoru
- X - Tee
- kagurafuuko
Pendaftaran jadi OC tidak tetap masih dibuka loh! Ayo! Ayo!
Yang mau!! :D
Untuk OC tetap! Telah terpilih! Cherrie Fukaya , runaway-dobe dan Uchiha Yuki-chan ! Milihnya nih pake undian juga. Jadi bener-bener adil loh!! X3 Kepada yang lain yang udah daftar, maap dan makasih yah! Kalian masih bisa jadi OC biasa kok X3
Para OC tetap mungkin akan muncul di chapter berikutnya :3 Untuk OC ga tetap, di mungkin chapter 5 yep! Ciao!! XD
