Chapter 3!

.

Junhong tak kuasa menahan desahannya saat lehernya terus menerus diserang dengan gigitan dan hisapan, juga ciuman. Junhong sadar bahwa pada setiap pembuatan tanda kepemilikan di lehernya ini, selalu ditutup dengan ciuman, yang lembut, berbeda dengan proses pembuatannya yang begitu brutal. Ini aneh. Tidak biasanya, Taehyung bersikap kasar dalam berhubungan intim. Taehyung selalu bisa mengendalikan nafsunya.

"Hh-hyungie, ahh jangan banyak-banyak." Sudah lama Junhong tidak memperingatkan Taehyung seperti ini. Kekasihnya seharusnya tahu kalau Junhong tidak suka punya banyak kiss mark di lehernya. Junhong benci tatapan orang-orang pada leher putihnya yang berhiaskan tanda cinta kekasihnya tersebut. Tatapan mesum, seolah dirinya adalah mangsa yang lezat.

Untunglah, Taehyung selalu berada di sisinya, melindunginya.

"Nghh~" Bibir tebal itu kini berpindah ke telinganya, menjilat daun telinganya, dan Junhong dapat merasakan tangan yang mulai menyelinap masuk ke dalam baju kaosnya. Junhong merasakan geli di sekujur tubuhnya, saat kedua tangan itu menyapu seluruh permukaan kulitnya. Junhong terkejut saat baju kaosnya dilepas dengan cepat. Terlalu cepat. Dan dalam sekejap, bibir itu pun langsung berpindah ke dada Junhong.

"Aahh!" Junhong meremas rambut dari sosok yang kini sedang memakan nipplenya dengan lapar.

Seakan tidak mau menghabiskan waktu, tubuh Junhong segera didorong untuk berbaring di ranjang. Dan dalam hitungan detik, celana pendek beserta boxernya terlempar di kegelapan kamar itu.

Junhong dapat merasakannya. Ada yang berbeda dengan kekasihnya malam ini. Taehyung tidak pernah terburu-buru dalam berhubungan intim. Kekasihnya akan rela menghabiskan waktu selama apapun hanya untuk memanjakan tubuh Junhong. Tapi sekarang ini, Junhong dapat melihat sosok kekasihnya di kegelapan sedang melumasi jarinya dengan pelumas yang dibawa Junhong.

"hmpf!" Junhong menahan nafasnya.

Satu jari yang telah menembus lubangnya itu, kini bergerak-gerak di dalam tubuhnya.

Tidak nyaman. Ini sangat tidak nyaman baginya.

"Ah!"

Dua jari di dalam lubangnya bergerak-gerak melonggarkan rektumnya. Junhong tahu ini belum seberapa dibandingkan dengan apa yang harus dihadapinya nanti. Tapi dia tidak boleh berhenti sekarang.

Tunggu dulu. Tidakkah ini terlalu cepat? Belum ada sepuluh menit sejak kedatangannya ke sini, tapi sekarang Taehyung sudah mempersiapkan lubangnya? Tidak. Biasanya tidak begini. Taehyung biasanya akan menyantap 'makanan' kesukaannya dulu, Junhong junior, dan menelan habis 'minuman' favoritnya -cairan yang dibenci Junhong. Tapi ini?

"Ahhh!" Junhong mendesah keras saat jari-jari itu menyentuh sweet spotnya. Ini sesuatu yang baru bagi Junhong. Rasa nikmat ini, baru pertama kali Junhong rasakan. "Taehyunghh!" desah Junhong tanpa henti. Ia menyukainya.

Tapi kenikmatan itu berhenti. Junhong cemberut kecewa saat jari-jari itu keluar dari lubangnya. Aku menyukaimu, jari-jari Taehyung. Tersenyum kala mengingat Taehyung yang marah pada jarinya sendiri.

Mata Junhong seketika sendu. Juga, pada saat itu, Taehyung marah padanya.

Taehyung.

Kenapa rasanya, kekasihnya begitu jauh? Padahal ia berada di atas ranjang yang sama dengan Junhong sekarang. Kenapa? Perasaannya tidak enak. Ada yang berbeda dengan Taehyung malam ini.

Junhong merasa ada yang aneh. Dan entah mengapa sejak tadi hatinya terus menerus tidak tenang. Bukan, ini bukan karena rangsangan. Junhong akui bahwa kali ini bibir dan lidah kekasihnya jauh lebih terampil dari biasanya, bahkan jarinya luar biasa. Namun, ada yang berbeda. Dan perasaannya tidak mungkin berbohong.

Junhong ingin melihat wajah Taehyung. Iya, pasti karena sejak tadi ia belum bisa melihat wajah kekasihnya, makanya perasaannya seaneh ini. Junhong rindu Taehyung, tentu saja. Dan meskipun tubuh mereka seintim ini, rasanya tetap berjauhan jika tidak saling menatap wajah.

Kedua kaki Junhong terangkat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tapi sepertinya sosok kekasihnya itu ingin agar ia membantu mempertahankan posisi kakinya agar tetap terangkat. Tapi kenapa tidak ia ucapkan langsung saja? Junhong bingung dan ia baru sadar bahwa Taehyung belum mengucapkan sepatah katapun sejak tadi.

Suara hujan di luar semakin terdengar keras, namun nafas memburu keduanya masih bisa terdengar.

Tanpa berkata apapun, sosok kekasihnya menempatkan kedua kaki jenjangnya pada bahu kokoh miliknya. Wajah Junhong semakin memanas kala melihat pemandangan di hadapannya. Sosok kekasihnya mulai memajukan tubuhnya, dan sesuatu yang tumpul, keras, dan basah menyentuh permukaan lubangnya. Tidak. Lubangku~ tapi…

"Hyungie! Tunggu!" Junhong menahan dada itu agar tidak maju lebih jauh. "Kita nyalakan lampunya, ya. Aku ingin melihat wajah Taehyungieku." Junhong lalu mengulurkan tangannya ke meja nakas di sampingnya untuk meraih lampu darurat di kamar Taehyung –lampu yang dimiliki oleh hampir seluruh siswa di asrama itu-. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol untuk menghidupkannya, lubangnya didesak begitu kuat oleh penis milik sosok kekasihnya.

"AAkh!"

Junhong merasa tubuhnya akan terbelah dua. Ia sudah tahu kalau Tae junior berukuran besar, tapi tidak sebesar ini. Bahkan ini baru kepala penisnya yang masuk.

"Sshhh~ Sempit!" geram sosok di atasnya.

Junhong membulatkan matanya. Ia yakin ia tidak salah dengar. Suara tadi bukan suara kekasihnya. Apa di saat seperti ini pun, Taehyung masih sempat menirukan suara orang lain?

"AKH! Taehyung sakit!"

Seakan tidak mendengar teriakan penderitaannya, penis besar itu terus mendesak lubang anusnya, memaksa untuk masuk.

Rasa sakit itu semakin tak tertahankan. Tangisan Junhong bahkan mengalahkan suara hujan di luar sana. Air matanya kini berjatuhan.

"Sakit Taehyungie~ sakit sekali hiks."

"Sstt, rileks."

Junhong sudah tidak peduli lagi dengan suara kekasihnya yang beda dari biasanya itu. Pikirannya telah diambil alih oleh rasa perih pada tubuh bagian bawahnya. Lubang anusnya seakan terbakar.

Ia mengeratkan cengkramannya pada seprai, matanya terpejam erat, menahan sakit. Ia ingin sekali mengeluarkan penis hangat itu dari lubangnya tapi ia tidak ingin mengecewakan kekasihnya, untuk yang kedua kali. Junhong sudah berjanji untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada ini. Ia tidak boleh mundur. Seperti kata Youngjae, ia harus pasrah.

Cup!

Bibirnya dicium, untuk yang pertama kalinya pada malam ini. Benar juga, sejak tadi, tidak sekalipun Taehyung menciumnya. Junhong tersenyum, walaupun masih merasa sakit. Matanya tetap terpejam. Ia mulai membalas ciuman lembut itu.

Ciuman itu kini semakin panas, semakin mendesak. Dan rasa sakit pada lubangnya perlahan mulai menghilang.

Junhong mulai bergerak tidak nyaman di bawah tubuh yang menindihnya. Ciuman itu begitu nikmat. Berbeda dari ciuman mereka biasanya. Dan Junhong dengan senang hati membuka mulutnya untuk menyambut lidah hangat itu.

"nghh." Desahnya saat lidah itu menggelitik goa mulutnya. Tangannya kini melingkar pada leher di atasnya, menekannya untuk memperdalam ciuman panas mereka. Dan Junhong bisa merasakan pergerakan pada penis yang sedang bersarang di lubangnya. Penis besar itu mulai maju mundur secara perlahan.

Junhong menarik bibirnya dari ciuman panas itu, dan mendesah "nghh lebih cepat hyuung~" kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang membengkak. Junhong tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

Penis itu kini semakin cepat dan semakin kuat menyodomi lubangnya. Tubuh Junhong terus menerus terdorong karena hentakan yang begitu keras.

"Shit! Sempit!"

Junhong tidak peduli dengan erangan nikmat itu. Pikirannya kini sudah melayang. Perasaan nikmat semakin dirasanya.

"Ahh! Ya! Di situ! Terus hyunghhh Ah!" racaunya tanpa sadar saat prostatnya ditekan oleh kepala penis itu. Junhong mengeratkan pelukannya pada tubuh di atasnya dan mulai memaju-mundurkan pinggulnya berlawanan arah dengan hentakan yang semakin cepat dan kuat pada lubangnya. "Ahh Taehyunghh ahh Tae." Junhong terus mendesahkan nama kekasihnya. Ini terlalu nikmat. "Tae- hmpf!" Desahannya berhenti karena kini bibir dan lidahnya kembali diajak bertarung. Ciuman mereka menjadi tak beraturan saat Junhong mendekati klimaks pertamanya.

"Taehyung!"

Sperma Junhong mengotori perut keduanya. Ia mulai kelelahan. Tapi sosok kekasihnya belum mencapai klimaks. Mereka berciuman lagi. Lebih panas. Dan membuat Junhong kembali terangsang. Kebutuhan akan oksigen menghentikan ciuman itu. Junhong menyampingkan kepalanya, meresapi perasaan nikmat pada tubuh bagian bawahnya yang terus disodomi. Ia bisa mendengar dengan jelas nafas memburu dan umpatan yang sesekali keluar dari sosok di atas tubuhnya, tepat di telinganya.

Ketika dirasanya, bahwa klimaks keduanya akan segera datang, Junhong menarik wajah di atasnya dan menciumi bibirnya penuh nafsu. "ahh ayo keluar bersama ahh." Dengan ajakan polosnya itu, ia bisa merasakan penis di dalam lubangnya semakin memanjang dan menegang.

"Taehyung!"

Punggungnya terangkat saat ia mengeluarkan cairan spermanya. Dan beberapa saat kemudian, lubangnya dipenuhi oleh cairan hangat kental, bersamaan dengan erangan berat dari sosok di atasnya. Penis itu kini keluar masuk lubangnya dengan malas, mengeluarkan semua cairannya dengan tuntas.

Junhong menggapai tubuh yang baru berbaring di sampingnya. Nafas keduanya masih belum normal. Ia memeluk tubuh itu, tidak peduli cairan lengket –yang dibencinya- yang menempel pada keduanya. Junhong bisa mendengarnya dengan jelas, detakan jantung yang begitu cepat pada tubuh di bawahnya. Ia tersenyum. "Taehyungie~"

Tidak ada jawaban. Taehyung benar-benar menjadi pendiam sekarang. "Kau tidak marah lagi kan? Kumohon Taehyungie, aku bisa gila kalau kau terus menjauhiku." Menghela nafas dan semakin mengeratkan pelukannya, Junhong ingin sekali menatap wajah Taehyung saat ini. "Kita nyalakan lampunya ya?" Ia berusaha untuk meraih lampu yang ada di meja nakas di samping tubuh yang berbaring itu, dengan mengangkat tubuhnya. Tapi tiba-tiba, tubuhnya ditahan dan malah dibalikkan menghadap jendela. "hhyungie?" tanyanya pelan.

Tubuh Junhong dipeluk dari belakang, dan ia bisa merasakan penis di belakangnya bersentuhan dengan bokongnya. Ia menghela nafas. "Aku ingin sekali melihat wajahmu, Taehyungie. nghh." Junhong mulai mendesah lembut saat merasakan punggung telanjangnya dicumbu. Youngjae bilang ia harus pasrah. "Baiklah terserah kau saja. Lagipula kau tahu sendiri kalau aku tidak punya masalah dengan gelap.", Junhong bisa merasakan penis di belakangnya mulai menegang dan bersiap untuk masuk lagi ke lubang hangatnya. Mengusap tangan yang kini mencengkram pinggangnya –bersiap untuk penetrasi yang kedua, Junhong berkata pelan. "Aku mencintaimu, Kim Taehyung."

Dan malam itu menjadi malam yang panjang bagi Junhong.

~000~

"enghh~" Junhong merengek sambil berusaha membuka matanya yang begitu berat. Dia masih sangat mengantuk. Tapi bunyi panggilan pada ponselnya benar-benar membuatnya kesal. Tanpa melihat siapa yang telah mengganggu tidurnya, Junhong segera mengangkat panggilan dari orang yang tidak tahu etika itu. Siapa yang berani meneleponnya pagi-pagi begini? "Apa?" tanyanya kesal.

"Yah! Choi Junhong! Dengar! Aku tidak peduli kalian melakukannya sampai jam berapa. Tapi yang pasti, kau harus beranjak dari ranjang penuh sperma itu sekarang! Dan segera ke kamar untuk bersiap ke sekolah! Kau lupa membawa seragammu ke sana tadi malam! Jadi cepat pakai bajumu dan segera kemari! Atau aku akan mengajak Himchan hyung untuk menyeretmu dari sana!"

Mata Junhong yang berat kini benar-benar terbuka. Ia tahu ancaman Youngjae tidak main-main. Mereka akan benar-benar melakukannya dan membuatnya malu di depan Taehyung.

"Aku sudah bangun hyung." Dengan cepat Junhong bangkit dari tidurnya, dan "AAkh! SAKIIIIT! Pantatku sakit sekali hyung~ hiks."

"Aku tidak peduli. Cepat kemari!" suara Youngjae terdengar dingin, dan sambungan pun terputus. "Youngjae hyung sama kejamnya dengan Himchan hyung." Gumamnya. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke samping. Taehyung tidak ada di sebelahnya. Junhong yang mulai merasa sakit hati karena kekasihnya tidak ada di sampingnya setelah semalaman mereka bercinta, mulai menyadari suara shower yang terdengar dari kamar mandi. Ia sedang mandi. Junhong tersenyum lega.

Setelah dengan susah payah membersihkan sisa sperma dari tubuhnya dan memakai baju, sambil menahan rasa sakit pada tubuh bagian bawahnya, Junhong berjalan ke arah pintu kamar mandi, mengetuknya. "Taehyungie!" Teriaknya –berusaha untuk lebih keras dari suara shower. "Aku ke kamarku sekarang ya! Youngjae hyung menyuruhku untuk segera ke kamar dan bersiap ke sekolah." Tidak ada jawaban. Sungguh, sepertinya ada yang salah dengan kekasihnya. Sakit gigi kah? Sariawan kah? Junhong menghela nafas. "Nanti aku datang lagi ke sini! Kita berangkat sekolah bersama ya! Sampai nanti! Aku mencintaimu!"

~000~

"Kalian melakukan tiga ronde sekaligus di malam pertamamu?"

"Ung! Makanya lubangku perih sekali. Dan badanku rasanya mau remuk." Jawab Junhong sambil menatap Youngjae yang duduk di ranjang, melalui cermin di hadapannya.

"Aku tidak tahu kalau Taehyung semesum itu."

"Aku juga! Sungguh aku akan membalas dendam pada orang yang telah mengotori otak Taehyung!" teriaknya kesal.

"Hmm. Ini malam pertamanya juga kan? Dia pasti masih amatir. Kalian hanya melakukannya dalam satu gaya kan?"

"Eoh? Gaya?" Junhong berhenti memasang dasinya. Wajahnya mulai bersemu merah. "Kami melakukannya dalam gaya yang berbeda-beda. Dan dia sama sekali tidak amatir. Bahkan bisa dibilang dia tahu betul apa yang harus dilakukan. Dia tidak sedikitpun menghabiskan waktu untuk berpikir. Sepertinya, dia benar-benar belajar dengan baik dari internet."

"Kau bercanda. Internet tidak akan banyak membantunya. Bagi pemula yang baru pertama kali melakukan itu, mentalnya masih belum stabil. Rasa gugup itu pasti ada."

"Tapi dia tidak gugup." Berbalik dan berjalan untuk meraih tas sekolahnya, Junhong melanjutkan. "Semuanya dilakukan dengan pasti."

"Kau mau tahu pendapatku? Itu tidak mungkin."

"Benar hyung~ Kau tidak percaya padaku?" meretsleting tasnya dan berjalan untuk mengambil sepatu sekolahnya, "Aneh kan hyung? Aku juga merasa aneh. Apalagi sebelum penetrasi pertama, dia sama sekali tidak menciumku, dan dia terlalu bernafsu." Ocehnya, lalu kemudian pipinya semakin merah. "Tapi sejak ronde kedua, dia menjadi begitu lembut." Tersenyum kala mengingat kembali apa yang terjadi semalam, Junhong melanjutkan ceritanya, "Dia mencium setiap sudut di tubuhku. Jika aku buka bajuku sekarang, kau pasti bisa melihat banyak kiss mark di sana." Junhong berdiri perlahan sambil meringis karena sakitnya belum pulih. "Ayo kita pergi hyung." Berhenti sebentar, "Oh iya! Bisa tolong ambilkan obat sakit gigi dan obat sariawan dari kotak obat hyung? Kumohon~ pantatku masih sakit."

~000~

"Sampai jumpa di sekolah Junhong!" Youngjae melambaikan tangan sekilas lalu berjalan pergi meninggalkan Junhong yang terdiam di depan pintu kamar kekasihnya.

"Ne. Sampai jumpa hyung!" balas Junhong sambil tersenyum bahagia. Ia begitu bahagia karena kini hubungannya dengan orang yang ia cintai sudah baik kembali. Sungguh, Junhong merindukan wajahnya.

Junhong hendak menyentuh gagang pintu, ketika pintu itu terbuka dari dalam. Ia menatap terkejut dan melangkah mundur saat menyadari siapa orang yang berdiri di hadapannya.

Junhong menunduk sekilas, "Pagi Daehyun sunbaenim." Melangkah menjauh dari pintu untuk mempersilahkan seniornya berjalan melewatinya.

"Pagi Daehyun hyung!"

"Pagi Daehyun sunbaenim!"

Junhong menoleh sekilas pada orang-orang yang berjalan melewati mereka. Mereka semua menyapa Jung Daehyun, sang ketua OSIS. Siswa nomor satu, yang disegani di sekolah itu. Semua orang mengenalnya. Tapi tidak semua orang dikenal olehnya.

Junhong sempat berpikir sebentar mengapa ketua OSIS ini keluar dari kamar kekasihnya. Tapi ia tidak mau ambil pusing. "Anyeong" Junhong menunduk sekali lagi, sebelum melangkah masuk ke kamar Taehyung. Tapi genggaman pada lengannya menghentikan langkahnya. Sebelum ia sempat bertanya 'ada apa?' pintu itu ditutup oleh Daehyun dengan cepat.

Junhong bingung. Terlebih dengan senyum aneh yang bisa dibilang seringaian pada wajah tampan seniornya itu.

"Choi Junhong." Daehyun membaca name tag pada seragam Junhong. "Andai aku tahu namamu lebih awal." Menaikkan pandangannya untuk menatap mata berkedip Junhong. "Aku pasti akan menyebutkannya setiap kali aku orgasme di lubangmu."

Deg!

Perkataan itu muncul dari seorang Jung Daehyun. Junhong tidak dapat mempercayainya. Seniornya ini bisa berkata perkataan seperti itu dengan wajah serius. Tunggu, bukan itu yang seharusnya dipikirkan olehnya. Tapi… APA! Junhong tidak salah dengar?

Sepertinya otak seniornya ini mengalami gangguan karena terlalu banyak mengurus seluruh aktivitas sekolah.

"Ne?" tanyanya polos.

"Pagi sunbaenim."

"Pagi Daehyun sunbaenim."

Tapi pemuda yang disapa itu tidak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Junhong. Bukankah seharusnya ia membalas sapaan itu? Junhong benci orang yang sombong. Ia mengalihkan wajahnya dari tatapan tak terbaca itu.

Ini memang aneh. Untuk apa seorang Jung Daehyun berada di kawasan asrama siswa kelas satu?

Tapi sekali lagi, Junhong tidak mau ambil pusing. Ia begitu ingin melihat wajah kekasihnya.

"Anyeong." Ia mengucapkan salam perpisahan itu lagi.

Namun sekali lagi langkahnya terhenti sebelum ia sempat membuka pintu kayu itu. Bukan karena tangan pada lengannya, melainkan perkataan yang Junhong yakin, keluar dari bibir siswa paling populer di sekolah itu.

"Aku tidak suka partner bercintaku menyebut nama namja lain saat orgasme. Sekalipun nama itu nama kekasihnya."

.

to be continued…