Desclaimer : All characters is belong to J.K. Rowling.

\(Happy Reading)/

Chapter 3 : Astoria, Good or Evil?

Scorpius Malfoy berjalan dengan tergesa-gesa di sepanjang jalan Diagon Alley. Matanya menelusuri setiap orang yang dilihatnya. Ia mencari seseorang yang akan di temuinya. Sampai akhirnya ia menemukan seorang anak berambut gelap yang duduk dengan santainya di depan toko Flourish and Blotts. Scorpius mendengus melihatnya, dan kemudian menghampirinya. Anak itu, Albus Potter, tersenyum lebar setelah ia menyadari kehadiran Scorpius.

"Bagaimana kau bisa terlambat Scorp? Tidak biasanya." Albus bertanya dengan menyeringai.

"Kau juga Al, bagaimana bisa kau bersantai sementara aku dari tadi berkeliling mencarimu di Leaky Couldron?" Scorpius membalas dengan wajah cemberut.

"Maaf mate. Aku tak jadi menunggu di sana karena kata mum disini ada buku Quidditch bagus, jadi aku tertarik untuk datang ke sini." Jawab Albus dengan nyengir. Scorpius mendengus lagi.

"Jadi, apa kita tak jadi berangkat ke rumah Rose sekarang?" Tanya Sorpius masih kesal. Albus menepuk jidatnya.

"Oh ya aku hampir lupa tujuan kita. Baiklah ayo berangkat." Ajak Albus.

Mereka berjalan ke area Apparate Diagon Alley. Ya, mereka akan pergi ke rumah Rose dengan ber Apparate. Meskipun usia mereka belum genap tujuh belas tahun, tapi mereka sudah menguasai teknik Apparate maupun Disapparate. Itu karena mereka sudah dilatih oleh orang tua mereka masing-masing.

"Kau siap Scorp?" Tanya Albus.

"Menurutmu?" Scorpius kembali bertanya dengan menyeringai.

Dan beberapa detik kemudian mereka berdua menghilang diiringi dengan bunyi 'poof' pelan.

.

.

Scorpius dan Albus mendarat dengan tidak elitnya di halaman The Burrow. Scorpius jatuh tersungkur, sementara Albus berada di atasnya.

"Ouch Albus, cepat turun dari tubuhku! kau tahu kau berat." Scorpius berkata. Sementara Albus yang masih linglung tak menjawab pertanyaan Scorpius.

"Hei! Apa kau terkena Splinching sehingga otakmu tertinggal?" Scorpius berteriak kepada Albus sembari melambaikan tangannya di depan wajah Albus.

Albus yang tersadar langsung melompat dari tubuh Scorpius.

"Oh aku minta maaf mate. Aku tak sadar tadi." Kata Albus dan langsung menolong Scorpius untuk berdiri.

Mereka berjalan menuju pintu The Burrow bersama-sama. Setelah sampai di depan pintu, Albus mulai mengetuknya. Dan tak lama kemudian pintu itu dibuka oleh seorang wanita yang ternyata adalah Ibu Rose, Luna.

"Oh teryata kalian boys, Apa kalian mencari Rose?" Luna bertanya kepada Albus dan Scorpius dengan tersenyum.

"Oh tentu aunty. Aku heran mengapa kau selalu tahu tujuan kami saat datang ke sini." Albus membalas dengan tersenyum juga.

"Tentu saja aku tau kalau kalian akan menemui Rose, memang siapa lagi yang akan kalian temui selain dia? Ron?" Luna berkata yang membuat mereka semua tertawa.

"Oke boys, sekarang aku akan memanggil Rose. Kalian tunggulah disini." Luna berkata lagi.

"Tentu aunty." Scorpius dan Albus menjawab bersamaan.

Setelah itu Luna berjalan ke ruang tamu. Tepatnya di bawah tangga yang menuju kamar Rose. Kemudian, ia memanggil Rose dengan sedikit berteriak.

"Rossie, turunlah! Ada seseorang yang mencarimu."

Tak perlu menunggu lama Rose akhirnya muncul dari dalam kamarnya.

"Mom, Siapa yang mencariku?" Rose bertanya.

Luna lalu menunjuk Scorpius dan Albus yang saat ini berada di depan pintu masuk The Burrow.

Scorpius POV

Setelah Aunty Luna menunjuk padaku dan Albus, Rose akhirnya melihat kami. Aku bisa melihat matanya yang melebar kaget saat melihatku dan Albus. Aku hanya terus memperhatikannya. Bukan, lebih tepatnya aku memperhatikan matanya. Mata itu, sudah lama aku tertarik karena mata itu. Itu karena mata Rose yang berwarna coklat hazel, mirip seperti orang yang selalu ingin kutemui. Dan orang itu adalah ibu kandungku, Hermione. Lalu, tanpa aku sadari, Rose sudah memelukku dan juga Albus.

"Oh Albus, Scorp, aku sangat merindukan kalian." Rose berkata sambil memeluk kami.

"Rose please, kau bisa mmbunuh kami kalau kau terus seperti ini." Albus mengeluh kepada Rose. Aku hanya nyengir. Albus selalu melebih-lebihkan sesuatu yang menurutku mirip seperti paman Ron.

"Oh maafkan aku teman-teman aku terlalu rindu pada kalian." Kekeh Rose yang membuatku nyengir untuk yang kedua kalinya.

"Kids, apa kalian akan berdiri disana sampai rumput tumbuh? ayo masuklah!" Dan entah kenapa aku tertawa mendengar perkataan aunty Luna.

.

.

Normal POV

Draco membelalak melihat nama 'Rose Malfoy' tercetak jelas di perkamen itu. Ia tak pernah tahu bahwa Scorpius mempunyai kembaran. Hermione juga tak pernah memberi tahunya. Draco tak percaya bahwa Hermione menyembunyikan anaknya yang lain darinya. Ia tak tahu kenapa Hermione melakukan ini semua. Pertama, Hermione meninggalkannya tanpa alasan yang jelas dan sekarang wanitanya itu menghilang. Meskipun Draco sudah mencarinya, tetap saja ia tak menemukan wanitanya itu. Dan juga Hermione menyembunyikan fakta bahwa Scorpius mempunyai seorang kembaran yang bernama Rose. Draco menghela nafas. Draco yakin Hermione pasti mempunyai alasan untuk melakukannya. Draco menghela nafas lagi. Kali ini ia hanya memikirkan satu hal. Siapa Rose yang dimaksud di perkamen silsilah keluarga Malfoy itu. Dan yang Draco tahu, ia hanya tahu satu penyihir yang mempunyai nama Rose. Dan ia adalah anak dari keluarga Weasley, yaitu Rose Weasley.

"Aku harus mencari tahu tentang siapa sebenarnya Rose Weasley ini." Draco berkata dan kemudian ia menuju ke perapian untuk pergi ke Kementrian Sihir dengan menggunakan bubuk floo.

Dan tanpa disadari, sedari tadi ada seseorang yang mengawasinya.

.

.

Astoria Greengrass atau yang sekarang telah menjadi Astoria Malfoy, memarahi seorang peri rumah yang malang. Itu karena peri rumah itu tak sengaja memasukkan terlalu banyak gula pada tehnya. Peri rumah itu meringkuk pada tembok karena takut pada Astoria. Dan karena terlalu kesal Astoria akhirnya memukulnya lalu menyuruhnya pergi. Astoria akhirnya memutuskan untuk menemui suaminya, Draco. Setelah berkeliling mencari, akhirnya ia menemukan Draco yang berada di ruang kerjanya.

Astoria POV

Akhirnya aku menemukan Draco yang ternyata berada di ruang kerjanya. Bagaimana aku bisa begitu bodoh mencarinya berkeliling di Malfoy Manor sedangkan aku tahu bahwa ruang kerja adalah ruang favorit Draco. Dasar bodoh. Sudahlah aku tak peduli. Aku masuk saja. Oh tunggu, kenapa ekspresi Draco seperti itu? Perkamen apa yang dipegangnya itu? Dan apa yang dilihatnya? Uh, aku benci merasa penasaran.

"Aku harus mencari tahu tentang siapa Rose Weasley ini."

Aku mendengar Draco berbicara dengan dirinya sendiri. Tapi kenapa Draco menyebut nama Rose Weasley? Bukankah itu adalah anak si rambut merah menyebalkan itu? Tapi apa hubungannya dengan Draco?

Aku melihat Draco berjalan menuju ke perapian lalu menghilang. Mau kemana dia? Sudahlah aku tak peduli. Aku akan melihat perkamen itu.

Aku mengambil perkamen itu yang sekarang berada di atas meja kerja Draco. Untung saja tadi Draco tak membawanya. Dan apa ini? Bukankah ini silsilah keluarga Malfoy? Alisku mengerut. Aku tak mengerti apa yang membuat Draco menampakkan ekspresi bingung saat melihat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk meneliti setiap nama dalam perkamen silsilah itu. Tapi, kupikir lebih baik memulainya dari nama Draco Malfoy. Aku melihat nama Draco yang tepat berada di bawah nama Lucius dan Narcissa Malfoy. Dan di samping nama Draco, tentu saja ada namaku yang terletak di sebelah kiri dan juga nama wanita sialan itu di sebelah kanan Draco, Hermione Granger tentu saja. Aku ingin tahu kemana si Granger itu pergi. Kurasa ancamanku dulu bekerja. Aku menyeringai mengingatnya menangis di depanku. Sudahlah aku tak peduli.

Normal POV

Astoria kembali memfokuskan dirinya pada perkamen yang tengah dilihatnya. Ia melihat sisi kiri yang ada di sebelah nama Draco Malfoy. Dan yang dilihatnya hanya ada namanya. Dan dibawah namanya tak ada satupun nama yang tercetak. Ya, itu karena Astoria tak memiliki satupun keturunan bersama Draco. Tentu saja, alasan sebenarnya Astoria menikah dengan Draco adalah untuk berperan menjadi Ibu Scorpius dan menggantikan Hermione. Karena sebenarnya pernikahan Draco dan Hermione tak diketahui oleh publik, dan yang mengetahuinya hanyalah teman-teman terdekat Draco dan Hermione. Dan juga karena saat itu hubungan mereka tak direstui oleh Lucius Malfoy yang saat itu masih mempertahankan klan darah murni dalam keluarga Malfoy. Setelah Lucius meninggal, Draco berencana untuk meresmikan pernikahannya dengan Hermione, tapi saat itu juga Hermione menghilang tanpa alasan yang jelas. Draco bingung dibuatnya, karena saat itu Scorpius Malfoy kecil ada padanya. Dan pada saat itu juga Narcissa menyarankan Draco menikahi Astoria untuk menutupi identitas Scorpius yang sebenarnya. Dan karena itulah rambut Scorpius yang aslinya berwarna coklat harus diubah pirang agar tak membuat publik curiga.

Astoria melihat nama Scorpius Malfoy tercetak jelas dibawah nama Draco dan Hermione. Ia tersenyum pahit jika mengingat dirinya hanyalah penutup identitas Scorpius Malfoy. Ia menghela nafas. Baru saja ia akan menutup perkamen tersebut ketika tanpa sengaja dirinya melihat nama lain di samping nama Scorpius. Nama itu adalah 'Rose Malfoy'. Matanya membelalak.

'Sial! Wanita sialan itu membohongiku' Astoria memaki dalam hati.

TBC

Halooooo~ maaf update lama, keyboard habis rusak (u,u)

Oke untuk chapter ini aku rada bingung nyampeinnya gimana jadi mungkin rada aneh. Aku juga gak pinter buat POV atau sudut pandang, jadi maklumin aja deh yaa :'):') misterinya di chapter ini juga lumayan keungkap kok. Dan untuk misteri yang lain juga bakal diungkap di chap-chap selanjutnya.
Dan untuk chap selanjutnya aku bakal munculin Mione dan juga isi Diary.

Buat yang review makasih banyak yaaa. . kalian bikin aku semangat!;)
Review lagi boleh?;););)