Diamond no Ace by Terajima Yuuji

Anemone

By Yuki'NF Miharu

Warning! : BL, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Happy Reading!

.

Chapter 3

Latihan sore telah usai. Seluruh anggota baseball mulai merapikan seluruh peralatan dan lapangan yang telah mereka gunakan. Miyuki berjalan ke arah dugout setelah menyelesaikan tugasnya, tanpa sadar sebuah seringaian terukir saat mengangkap sosok Sawamura yang tengah beristirahat di sana. Hobi jailnya untuk mengerjai juniornya itu mendadak menguar.

"Hei, bagaimana bisa kau santai-santai seperti ini?" ujar Miyuki seraya mendudukkan diri tepat di samping Sawamura.

Sawamura melirik Miyuki. "Memangnya kenapa? Tugasku sudah selesai, kok."

"Sebagai senpai yang baik, seharusnya kau membantu para kouhai yang belum selesai."

Sawamura mendecih pelan sebelum melempar atensinya ke arah lain. "Kenapa bukan kau saja, Miyuki Kazuya? Daripada kau terus mengejekku di sini."

Miyuki tertawa. Lucu sekali melihat reaksi marah adik kelasnya yang satu ini.

"Miyuki-senpai,"

"Hm?" respon Miyuki. Iris cokelat yang berada di balik kacamata menatap sang pitcher kidal yang masih enggan menoleh ke arahnya.

"Aku punya permintaan," kata Sawamura dan menoleh ke arah Miyuki. Ia menatap mata Miyuki dalam-dalam. "Kumohon, sering-seringlah berlatih denganku, setidaknya sampai final turnamen musim panas nanti."

Miyuki menautkan kedua alisnya, tak mengerti dengan kalimat yang baru saja Sawamura lontarkan padanya. Bukan benar-benar tak mengerti, ia hanya merasa aneh mendengar permintaan seperti itu. "Kenapa kau memintanya? Bukannya biasanya kau terus memaksaku untuk menangkap lemparanmu?"

Untuk kedua kalinya, Sawamura mengalihkan pandangan. "Memangnya kenapa? Yah, permintaanku tak banyak. Aku hanya ingin lebih sering latihan dan bermain bersamamu saat pertandingan."

"Hei, hei, apa-apaan kata-katamu itu? Itu terdengar seperti permintaan terakhir sebelum aku pensiun dari tim ini," ujar Miyuki, ia merasa tak nyaman mendengarnya. "Tentu saja aku akan berlatih denganmu, tapi kau juga harus ingat, bukan cuma kau pitcher di sini."

"Aku tahu," balas Sawamura, lalu melirik ke arah Miyuki. "Bagaimana kalau hari ini kita latihan? Sudah lama aku tidak melempar." Sawamura tersenyum antusias.

Miyuki terdiam sesaat dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku—"

"Miyuki-senpai, malam ini kita jadi latihan, kan?"

Tiba-tiba seorang Furuya Satoru berdiri di hadapan mereka dengan wajah kalem khasnya. Miyuki kembali melirik Sawamura di sebelahnya. "Aku sudah janji duluan dengannya."

"Lagi-lagi kau." Sawamura melirik Furuya dengan tatapan yang dibuat tak suka, sedangkan yang ditatap hanya melirik ke arah lain, tidak mengacuhkan rivalnya. "Yah, kalau begitu besok saja." Sawamura bangkit dengan tas di pundak dan berlalu pergi meninggalkan lapangan.

.

Sawamura membuka pintu kamar asramanya. Masih kosong. Mungkin Kuramochi-senpai dan Asada masih ada di lapangan. Sawamura meletakkan tasnya di samping meja belajar miliknya dan mendudukkan diri di kursi. Tangan kanannya terulur, mengambil sebuah kalender dan spidol merah.

Untuk beberapa saat Sawamura terdiam. Lalu membalik lembaran dari bulan April hingga terhenti di bulan Juli. Sawamura membuka tutup spidol dan melingkari tanggal 14 Juli.

Seketika kenangannya selama di Seidou berkelebat—bagaikan kaset yang kembali diputar—di dalam kepalanya. Saat pertama kali ia membentuk battery dengan Miyuki, terlambat di hari pertama dan berakhir dikerjai habis-habisan oleh Miyuki, dilarang menjadi pitcher oleh pelatih, bertemu Chris-senpai, pertandingan resmi yang ia ikuti, trauma yang pernah ia alami, hingga keberhasilan mereka lolos di koshien.

Tanpa sadar Sawamura mengepalkan kedua tangannya. Ia harus jadi ace di turnamen musim panas nanti. Ia tidak ingin Furuya memakai nomor ace untuk kedua kalinya. Musim panas tahun ini adalah turnamen terakhirnya. Dan ia ingin angka satu terpasang di punggung seragamnya nanti.

Duak!

"Ittai!" ringis Sawamura saat merasakan jitakan di kepalanya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Asada yang tersenyum simpul dan Kuramochi yang masih mengepalkan tangannya. "Apa yang kaulakukan, Kuramochi-senpai? Kau mau membuat kepalaku berdarah lagi?"

"Justru aku yang harus tanya apa yang kaupikirkan sampai-sampai tidak mendengar Asada yang dari tadi memanggilmu, hah?"

"Tidak apa-apa, Kuramochi-senpai," ujar Asada sambil meringis.

Sawamura melirik juniornya, ia tak menyangka lamunan panjangnya membuat dirinya sama sekali tak sadar kalau Asada memanggilnya. Bahkan ia sama sekali tidak mendengar suara pintu yang dibuka.

"Jangan melamun lagi, bakamura! Dengar tidak?!" sembur Kuramochi.

"Iya, iya aku mengerti!" balas Sawamura dengan suara yang tak kalah keras.

Kuramochi terdiam beberapa detik, kemudian langsung melancarkan tendangan hingga Sawamura terjatuh dari kursinya. "Tendangan kouhai kurang ajar!" serunya menyebutkan jurus tendangannya. "Kemana sopan santunmu, hah?"

Kamar yang selama beberapa minggu sepi itu kembali hidup. Asada meringis melihat dua senpainya yang saling bergulat di lantai. Nyatanya sekamar bersama senior yang super berisik tidak terlalu buruk juga. Karena melihat mereka cukup membuatnya terhibur.

xxx

Seperti biasa, makan malam selalu dilakukan bersama-sama, dan ocehan Sawamura yang nyaris terdengar di seluruh penjuru ruang makan membuat beberapa orang tersenyum. Akhirnya makan malam mereka tidak lagi membosankan. Setidaknya ada mainan bagi beberapa anak kelas tiga yang hobi sekali menjaili Sawamura, contohnya saja si Miyuki.

Sawamura sudah menganggapnya hal biasa. Ia sudah diperlakukan seperti ini sejak kelas satu oleh senior-seniornya, bahkan teman seangkatannya sendiri seperti Kanemaru. Mendadak Sawamura merindukan Chris. Hanya dia satu-satunya senpai yang penuh pengertian.

"Kominato, apa kau sudah selesai?"

Haruichi yang duduk di sebelah Sawamura bangkit dari posisinya. "Ah, iya, Maezono-senpai." Lelaki bermata merah muda itu menoleh ke arah Sawamura. "Saa, Eijun-kun, aku pergi berlatih dulu dengan Maezono-senpai."

Sawamura mengangguk dan melanjutkan menghabiskan makanannya hingga tandas. Beberapa menit berlalu, ruang makan semakin sepi, menyisihkan beberapa orang termasuk Sawamura yang masih enggan untuk beranjak dari sana.

"Kalau begitu, aku duluan, Koushuu." Seto Takuma beranjak pergi setelah Okumura mengangguk.

Sawamura menoleh ke belakang, memerhatikan Okumura dan Asada yang masih berusaha menghabiskan makanannya. "Bahkan hingga aku kembali, kalian masih jadi orang terakhir, ya?" Sawamura tertawa. "Ayo! Habiskan dalam dua suap, Asada!"

Detik itu Okumura melayangkan tatapan tajamnya ke arah Sawamura.

"Hei, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, bocah serigala!" seru Sawamura keras seraya menunjuk Okumura dengan telunjuk kirinya.

Setelah itu Okumura-lah yang langsung menghabiskan nasinya dalam dua suap. Kelakuannya itu sukses membuat Sawamura melongo. "Ne, Sawamura-senpai."

Sawamura terdiam beberapa saat, mengerjap beberapa kali, lalu tersadar. "Hah? Ada apa?"

"Apa malam ini kau tidak ingin latihan melempar?" tanya Okumura sebelum meminum airnya.

Sawamura menelengkan kepalanya. "Sebenarnya aku mau, tapi malam ini Miyuki-senpai menemani Furuya latihan."

"Kalau kau mau, aku bersedia jadi catchernya."

"Ka-kau serius?" tanya Sawamura tak percaya.

"Kau mau atau tidak?"

Kening Sawamura berkerut dalam. Lagi-lagi perkataan juniornya ini kembali membuatnya tersulut. "Apa kau tidak bisa menghormati senpai-mu ini?" geramnya tanpa menyadari bahwa dirinya juga tipe kouhai yang kurang ajar pada senpai, khususnya untuk Miyuki Kazuya. "Baiklah, setelah ini kita ke indoor," lanjut Sawamura sambil menghela napas, lalu melirik Asada yang baru saja menelan suapan terakhirnya. "Asada, kau mau ikut?"

Wajah culun lelaki berkacamata itu mengeluarkan ekspresi menyesal. "Maaf, senpai. Hari ini aku ingin istirahat lebih awal. Mungkin besok?"

"Mau bagaimana lagi? Yosh! Ayo pergi sekarang, Okumura."

.

Seperti biasa, hampir setiap hari indoor selalu dipenuhi beberapa anggota reguler hingga tengah malam. Walaupun latihan selesai saat sore hari, nyatanya masih banyak orang yang ingin lebih banyak berlatih. Bahkan orang seperti Maezono, Haruichi dan Sawamura pernah berlatih hingga jam dua dini hari.

Okumura mengangkat mittnya, lalu bola yang dilempar Sawamura berhasil ditangkapnya dengan mulus. "Nice ball," ujarnya seraya melempar bola itu pada Sawamura.

Sawamura tersenyum senang. Setelah sekian lama tidak memegang bola, akhirnya ia bisa melakukan pitching. "Saa, berikutnya cutter!"

Okumura mengangguk dan mempersiapkan mittnya untuk menangkap lemparan itu.

Baru saja hendak mengangkat kakinya, suara berat bola yang beradu dengan mitt membuat Sawamura bergidik. Ia menolehkan kepala, menatap Furuya yang sedang latihan pitching bersama Miyuki di sebelahnya.

"Furuya-teme! Lemparanmu itu mengganggu konsentrasiku! Pergi latihan di luar sana!" seru Sawamura sambil menunjuk Furuya dengan glove hitam yang terpasang di tangan kanan.

Miyuki yang mendengarnya hanya tertawa kecil dan seperti biasa Furuya mengalihkan perhatian ke arah lain, mengabaikan Sawamura yang mulai berkoar-koar sedangkan Okumura menunggu dengan kesal karena merasa diabaikan.

Setelah hampir lima menit berteriak marah pada Furuya, Sawamura kembali konsentrasi dengan latihannya. Ia mulai memosisikan tubuhnya, mengangkat kaki, lalu memasang kuda-kuda khasnya. Baru saja hendak melepaskan bola dari tangan, lagi-lagi rasa sakit nan menusuk kembali menghampiri kepalanya.

Bola terlepas begitu saja dari genggaman, Sawamura sedikit membungkuk sambil menarik surai cokelatnya tanpa sadar. Matanya terpejam dan kedua giginya mulai saling beradu, berusaha menahan rasa sakit.

"Senpai, kau baik-baik saja?"

Suara Okumura kembali menyadarkan Sawamura akan posisinya saat ini. Sial, ia tidak boleh menunjukkan rasa sakit ini di depan semua orang. Ketika Sawamura mengangkat kepala, beberapa pasang mata mulai menatapnya. Seulas senyum lebar terlukis di wajah Sawamura, tak lama ia tertawa keras, seperti Sawamura yang biasa. "Hah? Memangnya aku kenapa? Sepertinya aku kurang minum air. A-aku pergi beli minum sebentar."

Lalu Sawamura beranjak pergi dari indoor. Langkah kakinya bergerak cepat menuju salah satu mesin minuman. Ia membeli sekaleng jus dan mendudukkan diri di kursi panjang yang tak jauh dari sana.

Sawamura menyandarkan punggungnya setelah meminum beberapa teguk jus yang baru saja dibelinya. Kepalanya menengadah, menatap langit yang bermandikan cahaya bintang. Apa ia tidak bisa melihat pemandangan seperti ini lagi setelah ia mati nanti? Sawamura tersenyum perih, kasihan sekali dirinya ini.

Angin bertiup lembut, menggelitik kulit Sawamura. Ia menyukainya, karena itu ia langsung menutup mata, menikmati sensasi angin malam yang menyejukkan dirinya. Rasa sakit di kepalanya sudah hilang beberapa detik lalu. Dan Sawamura yakin, ketika waktu kematiannya hampir tiba, rasa sakit ini pasti akan berlangsung lebih lama menyiksanya, tidak seperti saat ini yang rasa sakitnya hanya beberapa detik.

Sawamura menghela napas. "Mau bagaimana lagi? Ini sudah pilihanku."

"Apa pilihanmu itu, hm?"

Suara familiar memasuki indra pendengar Sawamura. Suara yang sering kali terdengar menyebalkan, namun ia tetap menyukainya. Sawamura membuka kelopak mata, saat itulah sosok Miyuki yang tengah membeli minuman dari vending machine menyambutnya.

"Kau tidak perlu tahu, Miyuki Kazuya."

Miyuki tersenyum simpul. "Pelit sekali!" ujarnya sambil membuka minumannya dan mendudukkan diri tepat di sebelah Sawamura. "Aku kan kapten. Harusnya aku berhak tahu," lanjutnya sebelum menenggak minumannya.

"Boleh kukatakan sebuah permintaan?"

Miyuki meletakkan kalengnya yang masih tersisa setengah di sampingnya. "Kau mau permintaan apa lagi?" tanyanya sambil melirik juniornya.

"Bisakah kau membantuku jadi ace di turnamen musim panas nanti?"

Sebelah alis Miyuki terangkat. "Kenapa kau memintaku? Yang menentukan itu pelatih, tahu."

"Pokoknya aku akan berlatih keras sampai turnamen musim panas nanti."

Miyuki beranjak dari posisinya, mengambil kaleng minumannya dan meminum sisanya hingga tandas. "Sebelum itu, pulihkan dulu dirimu," balas Miyuki seraya mengacak-acak rambut cokelat milik Sawamura.

Untuk beberapa saat Sawamura terdiam. Siapa sosok di depannya saat ini? Kenapa Miyuki bisa bersikap selembut itu? Apa ini sisi Miyuki yang lain? Sejak kapan? Sawamura tak percaya perlakuan Miyuki ini nyaris membuat jantungnya berhenti berdetak.

"Kalau kau tidak sepenuhnya pulih, aku khawatir kau tambah bodoh nantinya." Miyuki menyeringai lebar sebelum meninggalkan Sawamura menuju indoor.

"SIALAN KAU, MIYUKI KAZUYA!"

Saat itu juga Sawamura memaki dirinya sendiri karena telah salah menilai Miyuki Kazuya terlalu tinggi. Sial. Meskipun menyebalkan, Sawamura tak bisa menyangkal bahwa dirinya tertarik pada catcher utama Seidou itu. Ia masih tak menyangka kekagumannya saat pertama kali mereka bertemu berbuah lebih dari sekedar rasa kagum semata.

Bagi Sawamura, Miyuki itu spesial untuknya.

xxx

Jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh. Kebanyakan dari anggota tim bisbol Seidou masih enggan menyudahi latihannya. Sama seperti Furuya yang masih ingin melempar lebih lama bersama Miyuki. Ia harus lebih baik dari sebelumnya karena itu ia akan lebih banyak berlatih.

"Furuya, kita sudahi saja," kata Miyuki ketika berhasil menangkap lemparan Furuya.

"Eh? Sudah? Apa tidak bisa lebih lama lagi, senpai?"

"Tidak! Kau ini masih payah di stamina dan kontrol, lebih baik kau istirahat sekarang," jawabnya dengan tegas. "Bahkan Sawamura yang biasanya berlatih sampai larut sudah kembali ke kamarnya," lanjutnya seraya melirik pintu indoor yang dilewati Sawamura dan Okumura sepuluh menit yang lalu.

"Bagaimana kalau sepuluh kali lagi?" pinta Furuya, masih belum menyerah.

Miyuki berdiri dari posisinya dan menghela napas. "Kau ini keras kepala sekali. Besok ada latihan pagi, tahu. Akhir-akhir kau jadi lebih semangat. Ketularan Sawamura, ya?" Miyuki menyeringai tipis.

"Aku tidak sama dengannya." Lalu aura panas nan membara menguar dari tubuh Furuya.

Miyuki tertawa kecil. "Yah, bedanya kau itu semangat dari dalam, sedangkan Sawamura semangatnya di luar dengan mulutnya yang tidak bisa diam."

Furuya melangkah ke arah Miyuki. Rasanya percuma saja memaksa kalau sang catcher tidak mau menangkap lemparannya lagi, dan Furuya hanya suka jika Miyuki yang menangkap bolanya. "Aku ingin jadi ace."

"Hah?"

"Di turnamen musim panas nanti, aku mau jadi ace di tim ini!" ujar Furuya kalem—namun penuh emosi—sebelum melangkah pergi meninggalkan indoor.

Kedua iris cokelat Miyuki menatap punggung pria bertubuh jangkung itu, lalu tersenyum tipis. Apa-apaan ini? Hari ini dua pitcher penting Seidou mengatakan padanya ingin jadi ace. Miyuki penasaran, siapa yang akan jadi ace untuk pertandingan musim panas nanti.

"Sepertinya menarik," gumamnya sambil memikirkan beberapa kemungkinan di dalam kepalanya.

xxx

Sawamura melangkah menuju meja belajarnya, mengambil kalender dan pena. Ia lalu mencoret angka 26. Hari ini akan segera berakhir lagi. Semakin cepat waktu berlalu, semakin cepat pula waktunya memendek. Sawamura berharap hari-harinya berlalu lama. Namun waktu tetaplah waktu. Ia tak bisa mengembalikan waktu walau sedetik yang lalu. Ia tak bisa.

Diletakkannya kembali kalender itu di atas mejanya, lalu Sawamura mengganti kaosnya yang agak basah akibat keringat dengan kaos yang masih baru dicuci. Sawamura beranjak menuju kasurnya setelah melirik Asada yang sudah terlelap. Sepertinya kouhainya itu masih belum terbiasa dengan latihan klub baseball Seidou yang keras ini.

Sawamura membaringkan tubuhnya, ia memejamkan mata, tak butuh waktu lama, dunia mimpi langsung menarik kesadarannya.

.

To be continued

.

A/n: Haiiii minna! #lambailambaigaje. Kali ini saya membawa chapter 3-nya. Ada yang nungguin? #nggak #seketikapundungdipojokan. Lama update karena... well, lagi sibuk. Maklum... anak kelas 12 yang sebentar lagi menghadapi national exam X'D dan kemarin jadwal ujian dan bimbelnya menggila sekalehhh #plok. Biasanya sampai di rumah jam 14.30, tapi kali ini baru pulang pas jam 16.30 #malahcurhat.

Jadi, kalo chapter depan updatenya lebih lama, mohon maklum ya :")) meskipun sebenernya saya udah bikin chapter 4nya setengah jalan.

Makasih banget lho untuk Reihika, FFstalker, 27aquarrow72, dan Ayana Lee untuk review kalian. Dan juga bagi kalian yang sudah fav dan fol fic ini. Semoga gak bosen ngikutin sampai titik penghabisan /?

See you next chapter!

So, mind to review?