Hai Ryu update lagi ni,

Terima kasih banyak buat : Sherry 509, ichiro kenichi, ajunchai, kirei-neko, seta citara, Inoue Tsukatsa, Guest, Zian, , onpu azuka, lightning chrome, Ayzhar, Deshe Lusi, Kazuki Hanako, Faffahany, dan flowers lavender.

Guest : Makasih buat reviewnya dan fic ini mau ampe 6 chapter.

Zian : Ya Gaara udah ga dingin kaya sebelumnya, apalagi di chap ini Gaara dan Hinata makin deket. Makasih buat review dan semangatnya

Onpu azuka : Hehe Ryu mang kejam, di chap ini GaaHina udah makin deket. Untuk pertanyaan Gaara udah suka sama Hinata ga? Terkadang rasa suka itu udah muncul pada saat kita sendiri ga sadar. Sebenernya Gaara udah mulai suka sama Hinata mungkin, pada saat dia udah ga sedingin sebelumnya. Request SasuHina ya? Insya Allah nanti Ryu bikin dan publish antara besok atau lusa. Maaf ya kalau cuma oneshot. Makasih ya udah review.

Ayzhar : Ryu ngerasa lucu de ama kalimat "suami macam apaan kaya begitu?", Ryu juga bingung Gaara itu tipe suami macam apa. Ryu bikin Gaara itu awalnya yang ga suka ama Hinata, justru dia yang lebih pengen deket sama Hinata. Makasih buat reviewnya.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC Maybe, Typo Maybe, Irrasional Maybe

Rated : T semi M ( untuk bahasa, nanti bisa dilihat pada chapter ini mana yang T semi M)

.

.

.

Unexpected Lies

Chapter 3

Close

~Happy Reading and Hope You Like~

.

.

.

"A-ano, a-aku…" Hinata sungguh gugup menjawab pertanyaan dari Ibu Mertuanya itu.

"Kami kebetulan bertemu di jalan tadi. Semalam setelah pulang dari pesta, aku bertemu dengan Naruto di club dan aku mengantar Naruto yang mabuk ke apartemennya sekaligus aku menginap di sana." ucap Gaara panjang lebar dan tentunya berbohong.

"Oh, kalau Hinata?" tanya Karura.

Hinata bingung harus menjawab apa "Dia lembur dan menginap di kantor." ucap Gaara.

Memang dalam perjalanan ke sini, Gaara berkata pada Hinata kalau Gaara yang akan menjelaskan kenapa mereka pulang bersama, sekalipun berkata bohong pada Ibunya.

Dalam situasi seperti ini, lebih baik berbohong untuk menyelesaikan masalah. Entah kenapa Hinata percaya pada Gaara kalau Gaara akan mengatasi masalah ini dan tidak akan menyulitkan dirinya.

Gaara meminta Hinata tidak mengatakan apa pun, biar Gaara saja yang menjelaskan kepada Ibunya saat Ibunya bertanya.

Masalah pesta, tentu banyak yang hadir di pesta itu dan pastinya mengenal Gaara dan keluarga Sabaku. Gaara berpikir, mungkin suatu hari nanti salah satu tamu undangan itu akan mengatakan kepada keluarga Gaara kalau Gaara datang dengan seorang gadis.

Tapi hanya pemilik hotel dan para pekerjanya yang tahu kalau Gaara menginap di hotel tersebut. Maka dari itu setelah ini Gaara harus menelpon Tayuya-sekretrisnya, kalau Ibunya menanyakan gadis yang bersama Gaara akan berkata kalau itu adalah Tayuya dan juga Tayuya harus berbohong pada Ibu Gaara kalau Ibu Gaara memastikan itu kepadanya.

Gaara juga harus menelepon Naruto, sahabatnya kalau dia bertemu dengan Naruto dan menginap di apartemennya. Untuk berjaga-jaga kalau Ibunya memastikan hal ini kepadanya. Gaara juga tidak perlu repot mengatakan kepada Tayuya ataupun Naruto kenapa mereka harus berbohong,

Karena Naruto yang sudah bersahabat dengan Gaara semenjak SMA sudah tahu tabiat Gaara yang tidak mau cerita, maka Naruto tidak akan memaksa. Kemudian Tayuya, dia bekerja sebagai sekretaris Gaara, maka dia juga tidak boleh mengkhianati bosnya itu.

Gaara tahu, hal ini jadi melibatkan banyak orang. Tapi ini harus dilakukan.

Gaara dan Hinata berharap semoga Ibu dan anggota keluarga Sabaku yang lain mempercayai kebohongan Gaara.

"Jangan diulangi lagi! Kalau begitu sekarang kalian ganti baju dan sarapan!" ucap Karura, Gaara dan Hinata merasa lega.

.

.

.

.

Hinata saat ini sedang duduk bersama tim kerjanya, ada Kiba, Shino dan pemimpin tim mereka yaitu Kurenai. Tim mereka ada 8 orang tapi mereka datang sebagai perwakilan saja.

Mereka saat ini sedang duduk di sofa panjang di sebuah café bernama Fuyubi café. Mereka sedang menunggu klien mereka untuk membicarakan mengenai produk baru yang akan mereka iklankan.

Seorang pria muda, berdiri di hadapan mereka saat ini. pria itu memakai jas hitam dan orang itu adalah orang yang sedang ditunggu oleh tim Hinata. Mereka berempat berdiri untuk menyambut pria itu.

Hinata yang tadinya menunduk dan sekarang melihat wajah pria itu, dia membulatkan matanya. Dia sebelumnya tidak tahu kalau perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan tempat Hinata bekerja itu adalah Sabaku Corp. Karena Kurenai tidak memberitahukan nama perusahaan yang akan bekerjasama dengan mereka sebelumnya.

Gaara juga tidak tahu kalau ternyata yang akan menangani iklan produk terbarunya adalah perusahaan tempat Hinata bekerja dan itu adalah tim Hinata.

Gaara hanya diberitahu oleh sekretarisnya kalau dia ada pertemuan sore ini dengan pembuat iklan produk mereka. Yang menghubungi perusahaan iklan ini adalah managernya, Gaara hanya menyuruh manager itu untuk mengiklankan produk mereka.

Tapi Gaara sebagai direktur pemasaran, memang harus menemui mereka langsung.

Kurenai memang berpakaian cukup sexy di usianya yang sudah 35 tahun dan masih tetap cantik. Tapi Gaara lebih tertarik melihat Hinata yang pakaiannya tertutup, Gaara berpikir kalau dirinya terkejut akan Hinata yang menjadi partnernya.

"Hallo, Tuan Sabaku, saya tidak menyangka kalau direktur pemasaran Sabaku Corp masih sangat muda." ucap Kurenai setelah membungkukkan badannya dan semua orang juga berpikir begitu mengenai Gaara.

Gaara juga menundukkan kepalanya sedikit dan Kurenai memperkenalkan perwakilan dari timnya "Ini anggota tim saya, ini Aburame Shino…" Kurenai memperkenalkan dari urutan orang pertama di sebelahnya "ini Inuzuka Kiba dan ini Hyuuga Hinata."

Dalam hati Gaara ingin meralatnya, bukan Hyuuga tapi Sabaku sekarang. Gaara merasa tidak rela.

Hinata ingat kalau orang lain tidak boleh tahu mengenai pernikahan ini dan Hinata bersikap seolah dia baru bertemu dan mengenal Gaara saat ini. Gaara pun begitu.

Gaara sekarang duduk di samping Kurenai. Hinata dan Kiba mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan karena mereka akan menangani iklan produk terbaru Sabaku Corp. sudah ada minuman di meja di depan mereka yang sudah dipesan tadi.

"Jadi produk apa yang Anda akan luncurkan?" tanya Kurenai.

"Deodorant" ucap Gaara singkat. Gaara menyerahkan map berisi mengenai deodorant yang akan perusahaannya keluarkan, baik komposisinya maupun keunggulannya.

Kurenai menerima map itu dan membacanya "Ini menarik, jadi gabungan aroma antara lavender dan rose." ucap Kurenai.

Kurenai menyerahkan map itu kepada Shino dan Kiba juga Hinata agar mereka membacanya.

"Anda ingin konsep seperti apa untuk iklannya?" tanya Kurenai "Produk kami alami, tidak memakai bahan aluminium. Jadi tekankan itu pada iklannya dan juga pada aromanya!" ucap Gaara.

Gaara melihat Hinata yang sedang mencatat apa yang Gaara ucapkan barusan.

"Oh begitu, tentu kami akan melakukan yang terbaik. Anda sungguh luar biasa, Tuan." ucap Kurenai, dia sungguh kagum akan kemampuan Gaara.

Mereka telah selesai berbicara mengenai konsep untuk iklan produk deodorant tersebut. Gaara bangkit berdiri dan bersalaman dengan mereka semua. Saat Gaara dan Hinata bersalaman, mereka saling bertatapan kemudian melepaskan tangan mereka masing-masing.

Gaara pergi dari tempat itu, sebenarnya Gaara tidak pergi dari café, Gaara pergi ke kamar mandi café.

Kurenai berbicara kepada timnya untuk melakukan observasi dahulu di masyarakat. Kurenai pergi lebih dahulu karena harus menjemput putrinya yang berusia 5 tahun di rumah mertuanya.

Kiba menerima telepon dan setelah itu dia menutup ponselnya dengan wajah khawatir.

"Shino, aku pinjam motormu ya?" ucap Kiba "Kenapa?" tanya Shino.

"Akamaru sakit, aku harus segera pulang dan membawanya ke dokter hewan." Kiba sangat sayang pada anjingnya itu. Shino kemari dengan motornya, sedangkan Hinata dan Kiba tadi naik mobil Kurenai.

"Tidak, motorku baru diservice. Aku tidak percaya kalau kau yang bawa."

"A-ayolah, Shino-kun bantu Kiba-kun! Ka-kasihan Akamaru." ucap Hinata pada Shino.

"Yah? Yah? aku tahu kau sangat sayang pada ninja hitammu itu, tapi aku juga kan sahabatmu." ucap Kiba memohon. Dan Shino akhirnya luluh juga "Baik, tapi kau jadi penumpang saja, aku yang bawa motorku." ucap Shino.

"Ya, seperti itu juga tidak apa-apa." ucap Kiba senang. Tanpa ba bi bu lagi, mereka pergi setelah pamit pada Hinata dan meminta maaf kalau mereka pergi lebih dahulu.

Hinata sendiri keluar dari café. Gaara yang baru saja keluar dari café melihat Hinata di depan café.

Hinata terkejut karena ternyata Gaara belum meninggalkan café. "Kau belum pergi?" seharusnya Hinata juga bertanya seperti itu kepada Gaara dan Gaara melanjutkan pertanyaannya "Mereka meninggalkanmu?"

"A-aku akan pergi." Memang benar mereka meninggalkan Hinata tapi Hinata tahu, mereka juga punya alasan untuk itu. "Me-mereka ada urusan, jadi pergi du-duluan." Hinata melanjutkan.

"Kau akan pulang sekarang?" tanya Gaara. Ini sudah pukul setengah 5 sore, Gaara juga akan pulang. Tapi kalau orang rumah tahu mereka sering pulang bersama, orang rumah akan berpikir macam-macam.

"Ti-tidak." ucap Hinata. Seharusnya Gaara jangan peduli, tapi Gaara menanyakan kepada Hinata "Lalu ke mana? Apa ke kantor?" tanya Gaara.

"A-aku akan melakukan observasi produkmu se-sebentar di sekitar sini untuk mendapatkan ide." jawab Hinata.

.

.

.

.

Dia tidak bisa tidur karena memikirkan perempuan-istrinya, saat ini. Begitupula perempuan itu yang senyum-senyum sendiri mengingat pria itu-suaminya, saa ini.

Gaara sering insomnia, tapi tidak seperti malam ini. Malam ini dia tidak bisa tidur karena seorang perempuan yaitu istrinya, begitupun Hinata.

Gaara berkata "Aku sudah gila" dan mengambil bantal untuk menutupi wajahnya. Sementara itu di kamar yang berbeda, istrinya tersenyum memikirkan kejadian hari ini.

Gaara berjalan di samping Hinata saat itu, café pertemuan mereka tadi terletak di dekat taman kota Suna.

Taman kota pada sore hari cukup ramai, Hinata berniat menanyakan kepada orang-orang di taman mengenai deodorant. Gaara tadi di depan café berkata kepada Hinata kalau dia akan ikut HInata untuk bertanya kepada orang-orang di taman karena untuk mengetahui pendapat mereka, lagipula ini sangat penting untuk pemasaran produknya nanti. Gaara juga berkata pada Hinata, kalau hari ini pekerjaannya sudah selesai.

Hinata dan Gaara saat ini berjalan dalam diam, mereka dilarang dekat-dekat oleh Karura. Tapi saat ini mereka justru berjalan berdampingan di taman layaknya seperti pasangan. Tanpa sadar mereka sudah melanggar perintah Karura.

Hinata melihat pasangan pria dan wanita sedang duduk di bangku taman yang berwarna hijau. Hinata bertanya pada Gaara "Ba-bagaimana kalau tanya pada mereka dahulu?" dan Gaara berkata "Hm".

Hinata dan Gaara menghampiri pasangan itu, "Pe-permisi boleh kami bertanya?" ucap Hinata.

Si wanita yang sedang duduk justru terpesona melihat ketampanan Gaara dan dia berkata "Tentu". Setelah Hinata menanyakan nama mereka, yang diketahui bernama Suigetsu dan Karin.

"Bertanya soal apa?" tanya si pria yaitu Suigetsu. "Ka-kami sedang melakukan riset untuk produk ka-kami. I-itu deodorant."

Suigetsu menyikut pasangannya yang terlihat berbinar melihat Gaara, Suigetsu terlihat cemburu "Itu biasanya wanita yang pakai." ucap Suigetsu.

"Baiklah, ayo tanyakan apa saja!" kata Karin.

"A-apa Anda memakai deodorant?" dan Karin menjawab "Tentu".

"Aroma apa yang biasanya Anda pakai?" tanya Hinata tanpa gagap, "Ah, bunga matahari, itu bagus untuk memutihkan kulit ketiak yang hitam."

Hinata mencatat apa yang wanita itu katakan "Bagaimana menurutmu kalau aroma rose dan lavender digabung?" ucap Gaara kali ini.

"Itu menarik, wanita kebanyakan suka bunga mawar." Karin terlihat berbinar saat Gaara bertanya kepadanya dan kali ini Suigetsu yang menjawab "Lavender juga bagus, aroma yang menenangkan."

Gaara dan Hinata puas bertanya-tanya kepada mereka, walau didominasi oleh Hinata dalam bertanya.

Gaara dan Hinata juga bertanya kepada beberapa orang di sana, yaitu remaja dan ibu-ibu juga para laki-laki yang menghirup aroma deodorant itu.

Gaara dan Hinata melihat ada kerumunan orang-orang di taman, mereka menghampiri kerumunan itu. Ternyata ada sebuah lomba menghias cupcake untuk pasangan.

Hostnya yang bernama Akamichi Chouji sedang mencari satu pasangan lagi untuk jadi peserta lomba. Sudah ada empat pasangan.

Chouji melihat Hinata dan Gaara di kerumunan, menurut Chouji mereka pasangan yang cocok "Ah sepertinya kita sudah menemukan satu pasangan lagi nih." Chouji menghampiri Gaara dan Hinata dan menarik mereka, Hinata dan Gaara menolaknya tapi penonton justru berkata "Ikutlah…ikutlah!"

Mau tak mau Gaara dan Hinata jadi peserta lomba tersebut. Hinata tentu pandai menghias kue, tapi Gaara tidak tahu apapun tentang itu.

Lomba dimulai, mereka hanya diberi waktu 5 menit untuk menyelesaikan 5 cupcake yang dihias.

Hinata dan Gaara memakai afron berwana kuning. Gaara melihat beberapa cream yang berbentuk segitiga "Apa tidak ada warna merah?" ucap Gaara.

"Pa-pakai yang ada saja, Ga-Gaara-kun!" ucap Hinata. Gaara tidak berminat dengan warna apa pun di sana. Kenapa Gaara harus meributkan warna? pikir HInata. Kalau dia sangat suka warna merah, kenapa dia tidak membeli mobil berwarna merah saja? Mobilnya kan berwarna kuning kecoklatan.

Ya, kalau itu karena Gaara suka denga bentuknya, lagipula kalau mobil itu berwarna merah akan aneh kelihatannya.

Hinata menghias cupcake pertamanya dengan warna hijau, sedangkan Gaara masih diam saja tidak menghias. "I-itu ada warna merah muda ha-hampir sama dengan merah. Pa-pakai itu saja Ga-Gaara-kun!" Hinata mencari cara agar Gaara mau menghiasnya.

"Tidak, yang itu saja." Gaara mengambil cream berwarna ungu muda, seperti warna mata Hinata. Dalam hati Hinata berpikir kalau Gaara itu aneh sekali. Bukankah ungu muda dan merah itu beda jauh?

Gaara melihat Hinata menghias cupcake dengan memutarkan creamnya berulang-ulang di atas cupcake. Gaara mencoba mengikuti tapi hasilnya kacau, tidak sebagus Hinata.

Gaara memang pandai berbisnis, tapi untuk menghias kue, itu jangan dibandingkan.

Hinata sudah memberi cream pada tiga buah cupcake, dengan warna merah muda, hijau dan coklat. Sedangkan Gaara menghias dua buah cupcake dengan warna cream ungu muda dan ungu muda. Gaara memberi warna cream yang sama pada dua buah cupcake tersebut. Gaara itu keras kepala.

Hinata menaruh permen coklat warna-warni berbentuk bulat pada cupcakenya, Gaara juga mengikutinya. Jarak antara wajah Gaara dengan cupcake terlalu dekat. Karena Gaara mendekatkan wajahnya, padahal dia tidak minus. Hanya saja mungkin dia ingin memastikan permennya menempel dengan baik.

Cream ungu muda itu menempel pada hidung Gaara. Gaara yang sadar segera menjauhkan wajahnya dan dia bangkit berdiri tegak. Hinata yang melihat wajah Gaara, menjadi terkekeh, Gaara kesal karena Hinata menertawakan dirinya. Jadi Gaara mengambil cupcakenya dan menempelkan cream cupcake tersebut ke hidung Hinata. Hinata mengerucutkan sedikit bibirnya.

"Wow, pasangan ini romantis sekali ya?" ucap Chouji yang melihat tingkah Gaara dan Hinata. Para penonton justru bertepuk tangan, sementara Gaara dan Hinata menjadi canggung.

Hinata dan Gaara menjadi pasangan yang kalah dalam lomba ini, Gaara dan Hinata jadi urutan ke-empat karena hiasan cupcake Gaara yang kacau.

Hinata maupun Gaara memang tidak terlalu berminat menjadi juara. Tapi hari ini mereka bertambah saling mengenal satu sama lain.

Sebagai pemenang keempat, Hinata dan Gaara mendapat jam pasir dengan warna yang benar-benar seperti pasir. "Untukmu saja, aku sudah punya." ucap Gaara.

"Arigatou." ucap Hinata dan Gaara menjawab dengan gumaman saja.

Jam pasir itu kalau dibalik akan menghabiskan waktu satu bulan. Usia pernikahan Gaara dan Hinata saat ini sudah satu bulan.

Gaara akan mengantarkan Hinata sampai ke rumah Sabaku tapi Hinata minta diturunkan di halte bus saja, takut nanti jadi masalah lagi. Gaara awalnya menolak, tapi Hinata berkata kalau begitu dia jalan kaki saja ke halte bus. Mau tidak mau Gaara menyetujuinya dengan mengantarkan Hinata sampai ke halte bus dengan mobilnya.

.

.

.

.

Gaara sekarang sedang berada di ruang manager yang bernama Sai, sebenarnya Gaara tidak perlu repot-repot ke ruang manager tapi Gaara memang sedang ingin mencari suasana baru untuk membicarakan pekerjaan, jadi dia yang ke sini.

"Sudah waktunya makan siang." ucap Gaara.

"Iya, Pak." dengan senyum Sai menjawab. Dia mengambil kotak bento berwarna hitam yang sengaja dibuatkan oleh istrinya, Ino.

"Apa itu?" tanya Gaara pada Sai "Ah, ini bekal buatan istri saya. Apa Anda mau mecobanya, silakan!" Sai menyodorkan kotak bentonya.

Gaara teringat tadi pagi, saat dirinya tidak sengaja melihat Hinata di dapur yang memasukkan beberapa jenis makanan ke kotak bekal yang berwarna merah.

"Tidak, terima kasih." ucap Gaara.

Gaara pamit pergi dari ruangan itu dan menelepon Kurenai.

Bukan tanpa tujuan Gaara menelepon Kurenai, tujuannya saat ini sedang berada di hadapannya, Hinata.

Gaara tadi menelepon Kurenai untuk meminta anak buah Kurenai yang perempuan yang ditemui waktu itu untuk menyerahkan hasil observasinya kepada Gaara dan katakan untuk bertemu di taman.

Hinata dan Gaara saat ini sedang duduk di bangku taman, saat siang hari taman memang sedang sepi. Hinata menyerahkan hasil observasinya, padahal ini bisa dikirim melalui e-mail tapi Gaara beralasan kepada Kurenai kalau dia butuh penjelasan yang lebih rinci.

"Kau sudah makan?" tanya Gaara, karena ini adalah memang waktunya makan siang.

"Be-belum." jawab Hinata. "Kenapa?" tanya Gaara lagi. "Ti-tidak sempat." Ya, jangan bodoh Gaara! Ini karenamu.

"Mau ke café?" tanya Gaara dan Hinata menjawab "Ti-tidak, aku bawa bekal."

Ya sebenarya itu yang diharapkan Gaara, Hinata yang belum memakan bekalnya dan membawa bekalnya saat ini.

Pasangan suami istri lain, suaminya akan memakan masakan buatan istrinya. Gaara ingin memakan masakan buatan Hinata.

"Kalau begitu, makan di sini!" perintah Gaara. Hinata menjawab "Eh?"

Walau begitu, Hinata mengeluarkan kotak bento dari tasnya. Ada tempura dan sushi, isi kotak bento tersebut.

"Kau mau?" tawar Hinata. Tentu Gaara mau dan memang itu tujuannya. "Hm" Gaara mengiyakan.

Hinata menyunggingkan senyumnya. Tapi ada satu masalahnya "Ta-tapi su-sumpitnya hanya ada satu." ucap Hinata.

"Tak masalah, gunakan sumpit itu dan suapi aku!"

"Eh?"

Kenapa Gaara jadi semanja itu? Entah takut akan tatapan tajam Gaara atau apa, Hinata menuruti Gaara. Tapi mereka memakai sumpit yang sama, itu yang membuat Hinata merona.

Hinata mengambil tempura dan akan menyuapi Gaara dengan malu-malu "Kau duluan!" perintah Gaara dan dengan malu-malu Hinata menyuapkan tempura itu ke mulutnya lebih dahulu.

Kemudian Hinata mengambil tempura lagi untuk disuapkan ke mulut Gaara, Gaara menerimanya. Mereka makan dalam diam dan Hinata yang malu dan tidak terasa makanannya habis.

Hinata juga membawa botol air minum, seperti tadi Gaara menyuruh Hinata untuk lebih dahulu makan dan sekarang untuk meminum air itu.

Gaara melihat remah-remah tempura yang ada di salah satu sudut bibir Hinata dan Gaara terus memerhatikan bibir Hinata.

Gaara menunjukkan pada Hinata kalau ada sisa makanan di sudut bibir Hinata. Hinata malu sekali dan membersihkannya dengan jarinya.

Tapi arah jade Gaara tidak bisa lepas dari bibir Hinata, sekalipun Gaara sudah memalingkan wajahnya tapi tetap saja dia ingin kembali melihat bibir merah alami itu. Bukan karena Gaara menyukai warna merah, tapi ada hal lain semacam dorongan untuk merasakan bibir itu.

Hinata tidak mengerti dengan tingkah laku Gaara yang terus memerhatikannya, Gaara tanpa sadar semakin mendekatkan wajahnya kepada Hinata.

Hinata juga tidak menghindar, Gaara menempelkan bibirnya kepada Hinata. Gaara menutup jadenya dan Hinata membelalakkan lavendernya.

Ini salah, mereka tidak boleh dekat. Tapi sekarang mereka berciuman. Gaara juga seperti menelan ludahnya sendiri yang mengatakan kepada Kankuro mengenai memalukan berciuman di tempat terbuka, tapi saat ini yang dilakukannya juga sama seperti yang dilakukan Kankuro, bahkan tempat ini jauh lebih terbuka.

Gaara belum juga melepaskan bibirnya dari bibir Hinata, tanpa melumat hanya menekan. Hinata menahan dada Gaara tapi Hinata menutup matanya. Sedangkan Gaara memegang pipi Hinata.

Gaara perlahan mengecup bibir Hinata dan melakukan itu berulang-ulang. Hinata memabalasnya dengan kecupan juga.

.

.

.

.

Gaara baru saja sampai di rumah, ini hari Minggu dan sudah sore. Gaara baru saja menemui Naruto untuk sekedar berbicara masalah bisnis.

Karura yang sedang duduk di ruang tamu melihat Gaara yang baru saja datang "Gaara-kun kemari!" dengan riangnya Karura memanggil Gaara.

Gaara menghampiri Ibunya dan duduk di samping Ibunya itu. Ibunya sedang memilih-milih beberapa lembar foto gadis.

"Lihat, pilihlah Gaara-kun!" ucap Karura.

"Untuk apa?" tanya Gaara.

Sementara itu Hinata yang baru saja dari dapur melihat Gaara dan mertuanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.

"Untuk calon istrimu, kau kan nanti akan bercerai. Jadi cepat cari pengganti yang kausukai!"

Hinata yang mendengar itu menjadi terkejut dan lavendernya berkaca-kaca. Gaara menoleh dan tahu Hinata sedang berdiri dengan ekspresi wajah Hinata yang terlihat sedih.

Hinata takut air matanya jatuh di sini, maka dari itu Hinata mengucapkan "Permisi" kepada Ibu mertuanya dan juga Gaara. Hinata menaiki tangga dengan tergesa-gesa.

Gaara yang melihat itu juga merasa sedih, "Ayo pilih, Gaara-kun!" ucap Karura.

Gaara melihat tangga yang sudah tidak ada Hinata di sana dan mungkin sudah masuk ke kamarnya "Gaara-kun!" panggil Ibunya.

"Aku tidak mau, Kaa-san." ucap Gaara tegas.

"Kenapa?" tanya Karura dan Gaara tidak menjawab "Kaa-san benar-benar tidak mau kau dicap homo, Gaara." Karura melanjutkan.

Ya mungkin banyak orang yang menggosipkan Gaara adalah seorang homo.

"Baiklah, begini saja. Pilih satu dan temui sekali saja! Kalau kau tidak suka, Kaa-san tidak akan memaksa lagi." Karura pasrah.

"Ya sudah, yang itu." Gaara menunjuk asal, satu foto gadis yang akan ditemuinya dan permisi kepada Ibunya, Gaara buru-buru naik tangga.

Gaara mendengar teriakan Ibunya "Pilihan yang bagus."

.

.

.

.

Hinata menangis, Hinata tahu Hinata salah karena telah menyukai Gaara dan berharap pada Gaara padahal Hinata tahu kalau dia akan segera berpisah dengan Gaara nantinya.

Setelah ciuman itu, Gaara juga tidak mengatakan kalau Gaara menyukainya. Mereka hanya sama-sama canggung dan Gaara mengantarkan Hinata ke kantornya dalam diam tidak berani membahas ciuman mereka.

Ringtone ponsel Hinata berdering dan Hinata mengambil ponselnya. Panggilan itu dari Neji, Kakaknya.

Hinata segera menghapus air matanya dan menenangkan hatinya, Hinata tidak mau membuat Kakaknya khawatir.

Sekarang sudah pukul 5 sore, berarti di Amerika sekarang pukul 7 pagi. Beda waktunya 14 jam. "Hallo" ucap Hinata dan Neji menjawab "Hallo, apa kabar?" tanya Neji.

Hinata menjawab "Baik, Nii-san." padahal Hinata tidak baik-baik saja saat ini.

Sementara itu di balik pintu kamar Hinata, ada Gaara yang ingin mengetuk pintu namun ragu. Gaara mendengar Hinata yang sedang berbicara dengan Neji. Gaara mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu dan menemui Hinata.

"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Neji dan Hinata mengingat kerjasamanya dengan Gaara
"Lancar" Hinata sedih karena berbohong pada Kakaknya.

"Bagus, aku merindukanmu." Ya Neji pasti merindukan Hinata, sampai pagi-pagi begini di sana sudah menelepon Hinata.

"Aku juga merindukanmu, Nii-san."

Tapi Neji belum bisa pulang saat ini, sedang sibuk-sibuknya.

.

.

.

.

Gaara meminum vanilla lattenya, sekarang Gaara sedang bertemu dengan seorang wanita bernama Konan, berambut biru dan ada hiasan bunga di rambutnya.

Konan adalah wanita pilihan dirinya asal. Konan terkagum-kagum akan wajah tampan Gaara.

"Apa yang biasanya kaudengar tentang aku?" tanya Gaara.

"Seperti yang aku lihat, tampan, pintar dan berwibawa." jawab Konan.

"Kabar apa yang buruknya?" Gaara kembali bertanya. Sebenarnya Konan tahu kabar buruknya tapi dia ragu untuk mengatakannya. "tak apa, katakanlah!" perintah Gaara.

"Aku dengar kau…" Konan menggigit bibirnya "homo". Konan malu mengatakan itu dan takut menyinggung Gaara "Itu tidak benar kan?" tanya Konan memastikan.

"Memang, itu tidak benar." jawab Gaara. Konan bernapas lega. "Tapi, sebenarnya aku malu mengatakan ini tapi karena kita sudah bertemu dan mungkin akan berlanjut. Aku harus mengatakannya."

Konan penasaran akan apa yang akan katakan "Sebenarnya aku…" Gaara menggantungkna kalimatnya "impotent".

"APA?" Konan sangat terkejut sampai meninggikan suaranya. Konan mengendalikan dirinya karena dia menjadi pusat perhatian sekarang.

"Kau bercanda kan?" tanya Konan. Gaara tetap memasang wajah datarnya "Itu sebabnya aku jarang bersama wanita, karena aku minder."

Dalam hati Gaara berpikir amit-amit dia impotent. Gaara tahu pasti kalau dirinya normal. Buktinya alat vitalnya suka berdiri saat bangun pagi dan itu membuktikan kalau dia masih normal.

Konan sepertinya benar-benar percaya apa yang Gaara katakan dan dia berkata "Maaf, aku tidak bisa melanjutkan ini, permisi." Konan mengambil tasnya dan segera pergi meninggalkan Gaara.

Gaara menyeringai, Gaara tahu orang tua wanita itu pasti ingin segera punya cucu. Makanya Gaara mengatakan kebohongan itu. Gaara teringat akan Hinata.

.

.

.

.

Hinata terlihat murung di depan meja kantornya. "Hinata, ini ideku, aku ingin tahu bagaimana menurutmu?" Kiba menyerahkan urutan gambar-gambar iklan. Hinata menerimanya dan melihatnya.

Hinata masih murung "Hei, kalau kulihat-lihat, pipimu ini tembam ya. Aku jadi gemas." Kiba mencubit pipi Hinata. "Aww! Sa-sakit, Kiba-kun." Kiba melepaskan cubitannya dan menggembungkan pipinya "Mungkin pipiku ini sepertimu kalau digembungkan."

Hinata tertawa melihat pipi Kiba yang mengembung "Nah bagus, akhirnya tertawa, habis dari tadi kau murung."

Ternyata pemandangan itu semua ditangkap oleh Gaara. Gaara segera menghampiri Hinata dan menarik tangannya "Aku pinjam dia." ucap Gaara pada Kiba dan Kurenai.

Hinata tidak mengerti kenapa Gaara datang ke kantornya dan membawanya sampai ke taman kota.

"Ke-kenapa Ga-Gaara-kun membawaku ke sini? A-apa masalah pekerjaan?" tanya Hinata.

Gaara berkata "Apa kau sedekat itu dengannya sampai memakai suffiks kun?"

Bukan masalah pekerjaan ternyata, Hinata tahu maksud Gaara "Ki-kiba-kun itu teman kuliahku dan juga Shino-kun, ka-kami melamar pekerjaan di tempat yang sama dan diterima."

Gaara menutup matanya, menenangkan hatinya, sebenarnya bukan itu yang ingin Gaara katakan pada Hinata. "Apa kau baik-baik saja?" itu yang sebenarnya ingin Gaara tanyakan mengingat kejadian foto di ruang tamu itu.

"Ke-kenapa kau menanyakan 'a-apa aku baik-baik saja'? A-aku tidak sakit" tanya Hinata.

"Bukan itu maksudku, tapi tentang gadis yang dipilihkan Kaa-san." jelas Gaara.

Kenapa Gaara menanyakan itu? "I-itu kan hak Ga-Gaara-kun. Kenapa harus bertanya se-seperti itu kepadaku?"

Hinata tidak kunjung mendapat jawaban dari Gaara. "Ka-kalau ini bukan masalah pekerjaan. Aku a-akan kembali ke kantor. Permisi " Hinata membalikkan badannya dan baru satu langkah sudah ditahan oleh Gaara dengan Gaara memeluk bahu Hinata dari belakang.

"Ga-Gaara-kun" lirih Hinata.

"Tentu aku harus bertanya, kau istriku dan aku khawatir padamu." akhirnya Gaara menjelaskan.

"Gaara" hanya itu yang diucapkan Hinata.

"Tidak bolehkah aku menyukai istriku?" tanya Gaara. Hinata memegang tangan Gaara yang melingkari bahunya.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

a/n : Anggap aja deodorant dengan aroma gabungan rose dan lavender itu bagus. Hehe ngarang abis. Deodorant pada umunya mengandung aluminium, itu mengapa jangan memakai deodorant setelah mandi. Karena akan menyumbat lubang keringat. Sangat dianjurkan memakai deodorant pada saat ketiak kering. Boleh pake deodorant habis mandi asal dilap dulu ketiaknya dengan handuk.

.

Peran Konan, Suigetsu, Karin, Sai, dan Chouji itu adalah cameo yang hanya muncul sekilas dalam drama.

Mungkin ada yang nanya, sejak kapan Gaara suka sama Hinata?

Rasa cinta itu tumbuh bahkan saat kita belum menyadarinya. Ryu inget dalam drama Korea yang judulnya Nice Guy, sejak kapan pemeran utamanya jatuh cinta pada si wanita? Pemeran utamanya menjawab pada saat si pemeran utama datang ke rumahnya dengan tanpa alas kaki dan di saat hujan. Laki-laki mana yang tidak luluh.

Kalau di sini, Gaara mungkin sudah menyukai Hinata pada saat menerima kebaikan Hinata yang merawatnya di saat sakit. Ryu pernah baca kalau laki-laki cuek menyukai perempuan yang keibuan. Gaara baru pertama kali diperlakukan seperti itu oleh seorang perempuan. Juga faktor intensitas Gaara dan Hinata bertemu. Maka dari itu Gaara benar-benar tulus mengucapkan terima kasih kepada Hinata. Sekalipun saat itu dia belum sadar telah mulai menyukai Hinata.

Kalau Hinata, dia juga sudah mulai menyukai Gaara pada saat Hinata percaya pada Gaara kalau Gaara akan menjelaskan kepada Karura dan tidak akan menyudutkan dirinya. Tapi sebenernya untuk bagian Hinata ini bingung sejak kapan dia suka pada Gaara.

Gaara juga terinspirasi dari Hinata mengenai lavender untuk deodorant, dia teringat akan aroma Hinata saat pernikahan mereka.

.

Ryu bikin kesalahan kata pada chapter kemarin, kan harusnya sister complex, malah jadi brother comlex. Maklum lagi error. Makasih banyak buat seta citara yang udah ngasi tau Ryu *peluk, muach…muach…*

Oh ya, Ryu yang di 2 fic multichap lalu namatinnya ampe chapter 5. Sekarang mau ditamatin ampe 6 chapter.

Chapter 3 ini, Minna paling suka bagian mana?

Review ya…

Makasih