Chapter 3 : Wedding Proposal

Tittle :

Happy Ending

Author :

BabyXie

Main Cast :

Park Chanyeol , Byun Baekhyun

Genre :

Romance, Friendship

Rating :

T+

Length :

[ 3/4 ] Short Story

Summary :

Dulunya mereka dekat, karena sesuatu mereka menjauh. Hingga akhirnya perjodohan mempertemukan mereka. "Kau bisa merubah takdirmu"/ "Sayangnya aku tidak mau mengubah takdirku bersamu"/ "Ck"

Disclaimer :

Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan. Nama-nama yang ada dalam fanfic ini milik mereka sendiri.

.

.

Warning!

Typo bertebaran. BL (Boys Love).Bahasa campuran.

If you Don't Like Don't Read . Please! RnR!

[CHANBAEK AREA]

Happy Reading^^

Chanyeol dan Baekhyun sedang ada di kawasan Hongdae. Jika bukan karena orang tuanya dan Chanyeol yang terus mendesak agar keduanya mencari cincin untuk pernikahan mereka maka Baekhyun tidak akan sampai disini. Hari minggu yang manis harusnya dihabiskan dengan tidur cantiknya.

Semua sudah siap, dari gedung sampai tuxedo. Untuk undangan pernikahan, hanya keluarga besar yang diundang untuk teman Baekhyun maupun Chanyeol tidak ada yang mengetahui tentang ini.

"Ini bagus" Baekhyun menunjuk sebuah cincin mas putih dengan sebuah permata kecil ditengahnya. Chanyeol yang disampingnya menoleh. Alisnya bertautan, "Bukankah itu terlalu sederhana?" Tanya Chanyeol. "Tidak, aku tidak suka yang terlalu mewah. Mana pilihanmu?" Chanyeol menunjuk sebuah cincin putih tanpa permata tapi dibagian dalamnya dapat diukir tulisan.

"Bagaimana jika yang itu saja", Chanyeol menoleh,"Bukan kah kau suka yang itu?"

Baekhyun menggeleng, "Aku hanya suka dengan desainnya tapi memang cincin itu terlalu mewah. Jadi kita pakai cincin pilihanmu saja. Cincin itu sederhana dan juga tidak mencolok" Chanyeol mengangguk. Lalu mendongak,"Kami pesan yang seperti ini"

"Kalian bisa mengambilnya minggu depan"

.

Dua minggu kemudian..

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi kedua manusia berjenis kelamin sama itu masih asik dengan mimpinya. Sama sekali tak terganggu dengan cahaya matahari yang mulai bersinar di sela-sela ventilasi udara. Sampai sebuah getar ponsel mengganggu tidur lelaki tinggi yang tertidur itu.

Drt..drt..drt

"Hallo" suara serak khas bangun tidur terdengar dari sebrang.

"Chanyeol, jangan bilang kau dan Baekhyun masih tidur? Astaga" mata Chanyeol yang semula tertutup, terbuka sedikit. Menyipitkan matanya menoleh kesamping kanannya dan melihat Baekhyun masih menutup matanya.

"Seperti itu kenyataanya"

"Cepat bangun. Apa kau tidak ingat hari ini hari penting kalian. Kalian hampir terlambat"

"Baiklah"

Ibunya mengakhiri telpon dengan tawa khas . sedang Chanyeol disebrang telpon menghembuskan nafasnya. Kemarin Chanyeol biasa-biasa saja walaupun pernikahannya diadakan keesokan harinya. Tapi saat malam hari menjelang tidur, dirinya tidak bisa tidur dan memikirkan tentang pernikahan besok. Chanyeol baru bisa tidur pukul 2 pagi, jadi jangan salahkan dirinya jika dia telat bangun.

"Baek bangun" tangan kirinya mengguncang bahu Baekhyun yang membelakanginya.

"Ck, Byun Baekhyun bangunlah" Chanyeol berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, lalu kembali keranjang mengguncang lebih keras lagi.

"Kenapa kau hobi sekali membangunkanku pagi hari. Aku mengantuk. Pergi sana"

Dengan geram Chanyeol malah menarik pergelangan kaki Baekhyun. Sedang yang ditarik meronta dan juga berusah meraih apapun yang ada didepannya. Nyatanya sama sekali tak berguna.

"Lepaskan. Aku bisa bangun sendiri"

Chanyeol segera melepas tarikkan pada kaki Baekhyun yang membuat Baekhyun jatuh dengan lutut menyentuh lantai yang cukup keras.

"Aww"

Baekhyun segera bangkit dan tangannya bergerak keatas menjambak rambut Chanyeol dengan brutal. Sang empu berteriak kesakitan. Tangannya berupaya menjauhkan tangan Baekhyun dari rambutnya yang kemarin baru dicat menjadi coklat

"Hentikan. Sakit Baekhyun. Kau mau membunuh calon suamimu sendiri"

"Siapa peduli"

"Aw..aw.. akh"

Setelah menit ketiga barulah tangannya menjauh dari rambut Chanyeol. Rambut Chanyeol sudah berantakan. Beberapa helai rambut bertebaran dilantai. Tangan Chanyeol terus berada dikepalanya mencoba meredam rasa sakit yang dirasakan. Sedang yang sudah menjambakknaya tersenyum puas sambil memegangi kedua lututnya yang memerah.

"Rasakan itu, dasar" Baekhyun mendongak menatap Chanyeol puas.

"Kita hampir terlambat" tunjuk Chanyeol dengan dagunya kearah jam dinding.

"Terlambat-"

"Jangan bilang kau lupa dengan hari ini"

"Astaga aku benar-benar lupa" Baekhyun menepuk keningnya sendiri. bagaiman dirinya bisa lupa dengan pernikahannya sendiri begini. Baekhyun berdiri mengambil handuknya dan berjalan kekamar mandi yang ada Chanyeol yang malas berdebat lebih memilih kamar mandi dekat dapur.

.

.

.

Drt..drt..drt

Ponsel Chanyeol bergetar . 'Ibu' tertera di ID penelepon. Baekhyun dan Chanyeol saling bertatapan. Seolah berbicara lewat mata.

"Itu ibumu. Cepat angkat"

Baekhyun menunjuk ponsel Chanyeol yang sedari tadi terus bergetar.

"Kau saja"

"Kenapa harus aku, kau sa-"

"Hallo , Baekhyun? Kau disana? Cepatlah semua orang sudah menunggu kalian. ah ibu sudah mengirim mobil untuk menjemput kalian. Tunggu saja ya" lalu sambungan diakhiri.

Panggilan di akhiri tanpa sempat Baekhyun mengatakan apapun di telepon dari ibu mertuanya itu.

"Apa katanya?"

"Kita harus cepat semua sudah menunggu." Chanyeol mengangguk. Mengambil jaketnya dan juga ponselnya lalu berjalan keluar. Menunggu mobil yang menjemput mereka.

"Baekhyun, kau sangat cantik walaupun memakai tuxedo. Ibu menyesal kenapa tidak membelikanmu gaun saja ya. Pasti lebih cantik"

"Ibu , bukankah ibu keterlaluan. Ibu menjodohkanku dengan Chanyeol tanpa persetujuan dariku dan tiba-tiba memajukan tanggal pernikahan tanpa aku dan Chanyeol tahu, dan sekarang ibu ingin aku memakai gaun? Apa ibu membenciku?"

Nyonya Byun menunduk dengan bibirnya yang sedikit mengerucut. Lalu kembali menatap putranya itu.

"Ya ampun sayang. Ibu menyayangimu. Kami memajukan tanggal pernikahn, karena khawatir dengan kalian. Chanyeol sudah kelas dua belas dan sebentar lagi ujian. Kami tidak ingin mengganggu belajarnya saying. Maaf sayang"

Nyonya Byun memeluk putranya yang tengah berkaca-kaca itu. Mengelus punggungnya dengan halus.

"Ibu tidak menyangka kau akan menikah. Ibu sangat senang. Dan ibu harap kau juga senang dengan pernikahan ini. ibu tahu pernikahan bukan sesuatu untuk dipermainkan. Tapi kami menikahkan kalian untuk kebaikan kalian juga, juga untuk menghindari hal yang tidak kami inginkan terjadi sayang. Kami tidak punya maksud menyengsarakan kalian. kalian pasti akan saling mencintai satu sama lain nantinya. Ibu percaya dengan itu. Dan Chanyeol adalah lelaki yang baik, dia adalah orang yang cocok untuk anak ibu yang manja ini . jadi berbahagialah"

"Ibu.."

Baekhyun memeluk ibunya dengan erat. Air matanya sudah sedari tadi berlomba keluar. kata kata ibunya begitu menyentuh hatinya. Baekhyun tahu pernikahan ini bukanlah suatu permainan yang bisa dengan mudah dimainkan . pernikahan adalah janji suci antara dua orang yang saling mencintai satu sama lain, berbagi suka duka bersama. Tapi bagaimana dengan dirinya?.

"Aku akan berusaha yang terbaik", Baekhyun tidak yakin.

"Tentu itu yang harus kau lakukan" ibunya tersenyum dan kembali memeluk putranya itu.

Disisi lain…

"Kau sudah besar Chanyeol. Aigo bahkan sekarang kau akan menikah dengan pria manis itu. Kau beruntung Chanyeol"

"Beruntung apa? Mungkin hanya kesalahan aku bisa menikah dengannya"

"Apa yang kau bicarakan? Dia adalah suamimu yang mungil, kau harus menjaga. Juga itu bukanlah kesalahan. Itu adalah anugerah terindah Chanyeol. Harus syukuri itu juga berbahagialah."

"Iya ayah"

"Ingat kau harus menjaganya Chanyeol. Ini adalah pernikahan kalian, walaupun kalian dijodohkan, kalian harus saling menyayangi satu sama "

"Aku .. aku ti- aku berjanji akan menyayanginya"

Chanyeol menghela nafas keras. Entahlah apa dia bisa memegang janjinya pada sang ayah yang jelas jelas sangat menginginkan pernikahan ini . Juga entah kebahagian apa yang dijanjikannya itu. Otaknya berkata bahwa dia tidak bisa memenuhi janji itu tapi hati kecilnya bisa menjanjikannya itu semua.

.

"Apa kau Park Chanyeol bersedia menerima Byun Baekhyun sebagai suamimu dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit "

"Saya bersedia"

"Dan kau Byun Baekhyun apakah kau mau menerima Byun Baekhyun sebagai suamimu dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit"

"Saya bersedia"

Nyonya Byun dan juga nyonya Park menangis haru. Keduanya bahagia kedua putranya bisa menikah dan mereka jadi besan. Tapi harapan terbesar mereka adalah keduanya bahagia. Itu saja.

Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa tersenyum kikuk kearah tamu undangan yang melihat teman mereka ini. Ada juga wali kelas mereka berdua bersama suaminya. Ini memang pernikahan yang ditutupi, sebab mereka masih anak sekolah dan itu dilarang menikah. Tapi entah apa yang bisa membuat mereka diizinkan oleh sekolah untuk menikah.

"Pengantin pria Chanyeol silahkan memakaikan cincin kepada pengantin pria Baekhyun"

Chanyeol dan Baekhyun berhadapan. Baekhyun sedari tadi menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Chanyeol saat tiba di altar. Dan sekarangpun Baekhyun masih menunduk.

"Jangan menunduk terus, apakah lantai itu jauh lenih menarik dari pada wajah suami yang ada didepanmu ini?"

Baekhyun mendongak menatap Chanyeol yang tengah mengambil cincin dalam kotak beludru yang disodorkan kepadanya. Sebuah cincin emas putih dengan ukiran nama didalamnya. Mengambil cincin yang lebih kecil dengan ukiran beraksen inggris 'Chan&Baek'. Tak mungkin Chanyeol memakai yang lebih kecil bukan.

Tangan kiri Chanyeol meraih tangan kiri Baekhyun. Memandang lekat sebelum memasangkan cincin itu pada jadi manis Baekhyun. Sebuah senyum manis terukir dibibir Chanyeol. Bukan senyum mengejek seperti yang biasa Baekhyun lihat. Senyum itu lebih seperti menenangkan dan sangat tulus.

Setelahnya ganti Baekhyun yang memasangkan cincin untuk Chanyeol. Baekhyun dapat merasakan bagaimana besar dan hangatnya tangan Chanyeol . menyenangkan . itulah yang Baekhyun rasakan. Entah karena apa.

"Baiklah, sekarang kalian berdua sudah menjadi suami,, istri? Ah.. suami suami yang tepat walaupun sedikit aneh memang. Silahkan suami mencium suami"

Mata Baekhyun maupun Chanyeol membesar, keduanya berpandangan. tak menyangka jika ada acara ciuman. Mereka masih anak sekolah, juga terasa aneh. Noona Chanyeol sudah menyiapkan kamera untuk memotret mereka. Jangan lupakan senyum lebar , bahkan matanya berbinar.

"Haruskah pastur?" Tanya Chanyeol pada pastur yang tersenyum manis menunggu ciuman keduanya. Dan pertannyaan Chanyeol hanya dijawab anggukan oleh pastur itu. Baekhyun melotot mendengarnya. Kepalanya menggeleng kuat.

"Kalau kau berani menciumku, malam nanti kau tidur diluar"

"Tidak ada pilihan lain"

Bibir tebal Chanyeol menyentuh permukaan bibir Baekhyun. Tangan Chanyeol merengkuh erat pinggang lelaki yang tingginya 11 cm dibawahnya. Andai Chanyeol tidak merengkuhnya mungkin Baekhyun sudah jatuh atau lebih parah pingsan mungkin. Kaki Baekhyun mendadak lemas. Bibir keduanya menempel sejenak lalu dimulai dengan Chanyeol yang bergerak melumatnya perlahan. Detik kelima ciuman itu terlepas dan diruangan itupun dipenuhi dengan suara tepukan tangan yang menggema dan juga teriakan maupun siulan menggoda. Terdengar Yoora yang lebih mendominasi. Dan itu menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. Kedua pipinya memerah. Itu adalah ciuman pertama Baekhyun.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.40 malam. Semua orang sudah pulang menuju rumahnya masing-masing. Yang tersisa hanya Chanyeol dan Baekhyun di apartemen mereka. Setelah upacara pernikahan tadi, semua keluarga memutuskan untuk berpesta diapartement pengantin baru itu.

"Bukankah ini adalah hari mereka berdua? Jadi ayo berpesta"

"Merekakan pengantin baru, biarkan mereka menikmati malam indah mereka ibu"

"Aigo, mereka masih sekolah. Belum boleh melakukan hal yang legal bagi suami saja setelah lulus sekolah. Iyakan Chanyeol Baekhyun?"

"Tentu saja , mana boleh berbuat aneh"

"Baiklah ayo berpesta"

Keluarganya sudah pulang dan ini lah akhirnya. Tisu bertebaran dimana-mana. Botol soju juga tercecer. Setelah minum semuanya mabuk. Tak terkecuali Baekhyun. Lelaki itu bahkan tidak bisa minum tapi memaksakan beginilah akhirnya, tertidur disofa dengan terlentang. Bau soju tercium tajam. Chanyeol beruntung hanya minum sedikit saja. Jadi dirinya tak sampai mabuk parah.

"Kau menyusahkan saja Byun.. ah aku lupa kau sekarang Park. Astaga "

Chanyeol tertawa sendiri. Baekhyun yang tengah tertidur dan mabuk begini terlihat lucu. Apalagi dengan pipi yang bersemu merah itu. Menggemaskan berjalan menuju kearah sofa yang tengah ditiduri Baekhyun. Berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan kepala Baekhyun. Chanyeol tersenyum kecil. Bibir itu. Tadi pagi Chanyeol menciumnya. Bahkan masih terasa manisnya bibir itu. Rasanya sangat ingin Chanyeol merasakan bibir itu lagi, tapi egonya melarangnya. Itu tidaklah benar. Dan akhirnya Chanyeol lebih memilih menggendong Baekhyun kekamar mereka.

.

"Hoamm" Chanyeol bangun dan merenggangkan otot nya yang kaku. Orang disampingnya sudah tidak ada lagi. Masih pukul 6 pagi, terlalu pagi jika Baekhyun berangkat kesekolah. Lalu Chanyeol bangkit dan menggerakkan kakinya keluar kamar. Terlihat Baekhyun dengan penampilan yang masih berantakan khas bangun tidur tentunya dimeja makan.

Baekhyun menoleh sesaat dan melanjutkan mengoles selai pada roti yang ada dipiringnya.

"Kau tidak memasak sarapan?" Baekhyun menggeleng, "Kau tahu aku tidak bisa memasak" Baekhyun menatap Chanyeol datar.

Setelah selesai mengolesi selai, Baekhyun duduk dan memakan rotinya. Chanyeol hanya diam melihat Baekhyun makan. "Kenapa?" siapa yang akan nyaman jika ditatap intens saat sedang makan?..

"Kau tidak mengoleskan selai untukku?" Baekhyun berdecak, menatap Chanyeol malas, "Lalu apa gunanya tanganmu itu?"

Chanyeol meminum susu coklat yang telah disiapkan untuknya. Meneguk sekali dan kembali menatap Baekhyun "Kau kan istriku" .Baekhyun yang akan menelan makanannya tersedak mendengar ucapan Chanyeol. Setelah meminum air yang disodorkan oleh Chanyeol Baekhyun mendelik tajam. "Jangan mengungkit itu lagi".

"Kenapa? pernikahan kita bahkan baru kemarin. Kau tentu masih ingat bukan?" Chanyeol menjeda kalimatnya , tangannya mengambil roti dan juga selai nanas yang ada didepannya," Harusnya kau jadi istri yang baik" lanjutnya.

Helaan napas keras terdengar didepannya, "Baiklah aku akan menjadi ISTRI yang baik, kau dengar itu." Dengan sengaja Baekhyun menekankan kata istri pada ucapannya, dan lihatlah lelaki jangkung didepannya tengah menyeringai puas. Tangan Chanyeol bergerak kearah kepala Baekhyun dan menepuk kepalanya pelan, "Istri yang baik, jadi… ini" lalu Chanyeol menyodorkan piring dengan roti yang baru setengahnya diolesi selai itu. Dengan kesal Baekhyun meraihnya, menatap garang Chanyeol.

"Hhahahaha…" Baekhyun mendecih mendengar tawa Chanyeol yang menggelegar.

.

.

.

Baekhyun mengaitkan jemarinya dimeja. Jongin dan kris didepannya sedang bergurau. Walaupun baru mengenal dan berbeda tingkatan, mereka cepat akrab. Ditambah dengan Jongdae yang baru saja bergabung. Lengkap sudah kericuhan dimejanya. Sesekali Baekhyun juga menaggapinya.

"Baek, kemana kau kemari tidak masuk sekolah?"

"Ah.. aku ada acara keluarga" Baekhyun tersenyum menanggapi pertanyaan kris. Ia sudah menyiapkan alasan untuk itu.

"Kenapa bisa sama dengan Chanyeol ya, kemarin aku kekelasnya dan Chanyeol juga tidak masuk sekolah"

"Ah.. begitukah. Mungkin hanya kebetulan." ,Baekhyun tersenyum. Kris mengangguk.

"Acara apa Baek?" Tanya kai penasaran. "Ehm.. Sepupuku menikah kemarin"

"Baiklah, cepat habiskan makanmu sebentar lagi bel berbunyi" Baekhyun mengangguk, untung tidak curiga

"Tapi Baek, aku baru tahu kau memakai cincin" Jongdae menarik tangan kirinya dan mengamati cincin yang melingkari jari manisnya itu. Dengan cepat Baekhyun menariknya lalu tersenyum.

"Ibuku yang memberikannya"

"Jika ibumu yang memberikannya harusnya kau memasangkannya di jari tengah atau dimanapun bukan dijari manis , mungkin orang akan salah sangka nanti"

"Ah, benarkah. Aku lebih nyaman dijari manis Jongin"

Baekhyun berjalan santai menuju kelasnya, hari ini dirinya tidak berangkat bersama dengan Chanyeol. Lelaki itu mengaku demam, entah itu kebohongan atau kenyataan ia tak tahu. Hanya saja tadi sewaktu ia ingin memeriksa dahi lelaki jangkung itu, ia menolak dan menepis tangan Baekhyun, juga jika dilihat tidak ada tanda-tanda seorang pasien demam.

"Baekhyun?" Baekhyun membalikkan badannya melihat seseorang yang memanggilnya.

"Jongin." Dahinya berkerut melihat nada panggilan riang yang ditujukan padanya. Tak biasanya. Lalu tangan Jongin tak bergerak menuju bahu sempitnya. Merangkulnya erat. Dan melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.

"Kau terlihat senang." Jongin tersenyum lalu melepas rangkulannya dan tangannya bergerak kebelakang kepala, menggaruk pelan, "Ya, begitulah. Orang tua baru pulang dari New York".

Baekhyun mengangguk pelan, "Kau mau bertemu dengan mereka?" Tanya Jongin.

Kepalanya menoleh cepat kearah Jongin dan pipinya yang mendadak memanas, tangannya terangkat keudara. Bermaksud menolak, "Tidak , tidak terima kasih" penolakan itu membuat Jongin mengeryit heran,"Kenapa?" Baekhyun salah tingkah.

"Hanya saja mungkin mereka lelah, jika mereka sudah tidak lelah aku akan ikut kesana." Jongin menggeleng, " Mereka kemarin sore, jadi tidak mungkin masih lelah. Juga mereka ingin pergi kepantai katanya", mata Baekhyun mendelik.

"Kau berencana mengajakku kepantai?" Jongin menggeleng, "Mungkin minggu nanti , kau harus ikut bersama kami. Oh sudah sampai" Jongin mengangguk dan masuk mendahului Baekhyun kedalam kelas.

"Memang untuk apa aku ikut kepantai, aku bukan anggota keluarga mereka, kenal Jongin pun masih belum lama" batin Baekhyun.

"Baekhyun.." lambaian tangan kyungsoo membuat ia berjalan lebih cepat kearah bangkunya.

"Baek, nanti temani aku ketoko buku ya, aku akan membeli beberapa buku"

"Baiklah, lagipula au tidak sedang sibuk"

"Yeay. Kau yang terbaik"

Tak lama setelahnya bel masuk berbunyi. Dan siswa yang semula amat ramai mendadak diam. Guru Han telah datang.

.

Baekhyun memasukan kode apartementnya. Guru Han memberinya tugas yang amat banyak dan esok hari harus dikumpulkan. Padahal besok kelasnya ada ulangan Bahasa Inggris. Guru Han memang tidak pernah main-main dengan tugas yang diberikan. Jika siswanya menolak pasti akan dilipat gandakan jumlah soal itu. Benar-benar.

Baekhyun melepas sepatunya dan akan berganti menjadi sandal rumah. Tapi pandangannya teralih pada sepasang sepatu Nike perpaduan biru dan putih. Seingatnya ia tidak punya sepatu semacam itu, ataukah milik Chanyeol? Atau ..

"Baekhyun?" Baekhyun mendongak menatap seseorang yang memandangnya terkejut. Luhan hyung."Oh, Luhan hyung?" Baekhyun tersenyum tipis – terpaksa lebih tepatnya- memandang Luhan yang kelihatannya sedang berbincang dengan Chanyeol.

"Sedang apa disini?" Tanya Luhan penasaran saat Baekhyun sudah mengganti sepatunya dan duduk berhadapan dengan Luhan dan Chanyeol yang berdampingan.

"Aku.. aku-" matanya melirik kearah Chanyeol meminta bantuan, "Baekhyun mau meminjam buku hyung" sahut Chanyeol yang dibalas anggukan oleh Luhan. Chanyeol berdiri dan melangkah menjauh, member kode Baekhyun yang diam kikuk. "Ayo, bukunya didalam kamar" Baekhyun menoleh kearah Luhan sebelum berdiri mengikuti Chanyeol kekamar mereka.

"Yak, kenapa kau pulang bukankah kau ada ekstrakulikuler hari ini?" Chanyeol mendelik keara Baekhyun yang menatapnya kesal. "Hari ini libur, dan juga kenapa kau tidak bilang kalau ada Luhan hyung. Seharusnya kau menghubungi aku sebelumnya" decakan kesal keluar dari bibir Baekhyun lalu kembali menatap Chanyeol sengit.

"Pulsaku habis."

"Cih, ganteng-ganteng tidak punya pulsa." Lalu menghela napas panjang dank eras, "Jadi aku harus pura-pura meminjam buku lalu keluar begitu" Tanya Baekhyun satelah berhasil mengendalikan emosinya. Chanyeol mengangguk, "Lalu aku harus kemana? Aku sangat ingin tidur" wajahnya memelas, mungkin agar Chanyeol tidak jadi mengusirnya..

"Terserah kau saja, pokoknya jangan ganggu aku, jarang-jarang Luhan itu perhatian padaku" sungut Chanyeol.

"Baiklah, hanya kali ini aku akan berbaik hati. 3 jam, aku memberimu waktu 3 jam. Jadi nanti pukul 6 sore aku akan pulang. Aku tidak peduli jika Luhan sudah pulang atau belum" lalu setelahnya Baekhyun keluar dan menghampiri Luhan yang duduk sambil memegang ponsel. Mungkin sedang berkirim pesan.

"Oh, sudah ketemu bukunya?" Tanya Luhan yang dibalas anggukan oleh Baekhyun. Lalu Chanyeol keluar dari kamarnya dengan sebuah buku fisika tebal. Dan memberikan kepada Baekhyun.

"Ini" Baekhyun menerima dengan malas. Tentu saja, buku ini sangat tebal dan lagi Baekhyun benar-benar tidak membutuhkan buku super tebal itu. Melihatnya saja sudah malas apalagi harus membawanya. Oh no..

"Terima kasih Chanyeol hyung. Aku akan mengembalikannya lusa" Baekhyun tersenyum paksa ke Chanyeol yang memicingkan matanya. Entah karena apa.

"Luhan hyung, aku permisi pulang duluan" baru beberapa langkah ia berjalan, "Kenapa tidak makan disini sekalian. Aku akan memasak untuk Chanyeol" Baekhyun diam, dadanya berdebar keras yang tak ia ketahui penyebabya. Ia membalikkan badannya, "Tidak usah, ibuku sudah memasak dan sedang menungguku pulang" ia bohong. Tentu saja.

"Begitu, Sayang sekali kan Chanyeol" Chanyeol yang sedari tadi diam melamun terkejut saat Luhan memanggilnya, "Iya, Sayang sekali"

"Permisi" Dan Baekhyun hilang dibalik pintu.

.

Sehun memandang jalanan sekitarnya yang agak ramai. Banyak orang yang tertawa bersama, entah itu tua, muda ataupun anak-anak sekalipun. Tentu saja berhubung ini adalah sabtu malam. Iya malam bagi orang yang berpasangan. Andai kekasihnya ada disampingnya, pasti akan jadi malam yang indah. Makan bersama, bercerita banyak hal bersama. Hah. Menyebalkan. Sungguh saat mengingat orang yang membuat kekasihnya itu sibuk disabtu mala mini. Sebenarnya bukan salah orang itu juga, kekasihnya marah padanya karena ia terlalu sibuk.

Sehun memasuki kedai es krim yang berada disebrang jalan. Saat matanya menelusuri orang-orang yang ada disana, tampak seseorang yang dikenalnya. Yah walaupun tidak akrab, tapi yah menghabiskan waktu untuk ngobrol bersama tak apa kan.

"Hey." Sapa sehun menghampiri seseorang itu yang langsung menoleh kearahnya. Raut wajah bingung yang didapatnya.

"Hey, siapa ya?" Tanya orang itu hati-hati.

"Kau tidak ingat? Kita satu sekolah, walaupun kita berbeda tingkatan. Boleh aku duduk, Baekhyun?" yang dibalas anggukan oleh lelaki manis didepannya.

"Sunbae atau Hoobae?"

"Sunbae. Oh Sehun"

"Ah, sehun sunbae . jadi kau teman sekelas Chanyeol?" Baekhyun menatap Sehun dengan senyum, ia tak tahu jika Sehun menyeringai kearahnya, "Kau kenal dengan Chanyeol?" Baekhyun mengangguk, lalu menyendokkan es krim strawberry yang dipesannya.

"Jadi kenapa sunbae disini saat sabtu malam seperti ini?"

"Panggil Hyung saja. Dan kekasihku marah" Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan."Kau harusnya meminta maaf"

"Aku sudah, dia bilang sudah memaafkanku tapi dia masih merajuk padaku"

Dan obrolan mereka berlanjut hingga malam. Mengabaikan ada atau tidaknya seseorang yang mengkhawatirkannya.

Baekhyun meregangkan otatnya yang kaku, duduk lama membuat otonya keram. Tentu saja, apalagi sekarang sudah pukul 9 malam. Mungkin Luhan sudah pulang. Baekhyun tidak pernah berfikir sebelumnya untuk menikah diumur yang masih belasan tahun. Ayolah, ia masih kelas 2 SMA dan tiba-tiba dijodohkan lalu menikah. Dan sekarang tinggal bersama. Terlalu banyak kejutan yang diterimanya. Mengabaikan perasaannya dan memilih membahagiakan kedua orang tuanya. Sampai saat inipun ia masih ingat betul akan petuah yang ibunya berikan padanya saathari pernikah kemarin itu. Ya, Baekhyun merasa bersalah. Amat bersalah. Ia masih belum menerima bahwa ia sudah menikah. Menikah dengan seseorang yang dulunya menjadi sahabatnya.

"Dari mana saja baru pulang"

"Maaf. Aku pikir Luhan masih betah disini. Berlama-lama denganmu" entah kenapa Baekhyun mengucapkan itu. Dadanya sedikit sesak saat mengingat Chanyeol dan Luhan bersama disini tadi.

"Ya, dia baru pulang sekitar pukul 7 tadi. Astaga kau tahu, dia memasak untukku baek. Walaupun masakannya sederhana tapi dia rasanya sangat enak dan sangat istimewa untukku. Tapi menyebalkan sekali, tadi aku hampir saja menciumnya jika tidak ada telpon sialan yang mengganggu itu" mata Chanyeol berbinar saat mengatakannya dan terlihat kesal saat diakhir kalimat. Mengabaikan Baekhyun yang tersedak air yang baru saja diminumnya. Berciuman?

"Otak mesum." Ucap Baekhyun lalu membalikkan badannya menuju kamar mengacuhkan teriakan Chanyeol yang ditujukan untuknya. Badannya sangat lelah dan ia butuh tidur sekarang ini bukan ceramah dadakan seperti tadi.

"Kau mau kemana aku belum selesai" teriak Chanyeol . Baekhyun hanya mengangkat tangan kirinya dan melambai tanpa membalikkan badannya.

"Aish" Chanyeol berdecak kesal kearah Baekhyun yang menjauh memasuki kamar.

.

"Luhan ayolah, kau tahu aku sangat sibuk karena itulah aku jarang menghubungimu. Mengertilah ." Luhan menghela napas dan menutup matanya sebentar lalu membukanya sedetik kemudian.

"Harusnya kau memberitahukan aku jika kau sibuk sehun. kau tahu aku sengguh mengkhawatirkan mu tapi kau malah santai saja." Ia mengalihkan wajahnya dari sehun yang ada didepannya.

"Kau juga sibuk dengan Chanyeol, kau melupakan aku. Kau hanya menghubungiku jika malam hari saja" sehun mengatakan dengan keras berusaha mengalahkan suara angin diatap sekolah ini. Ia menghela napas lalu tangannya meraih tangah Luhan, menggenggamnya erat, "Kita sama-sama sibuk, kau dengan Chanyeol sedang aku dengan olimpiade matematika sialan itu. Kita sampai lupa berkomunikasi. Aku tidak mau hubungan kita berakhir dengan masalah seperti ini. Jadi maafkan kekasihmu yang sibuk ini, sayang." Luhan mengangkat kepalanya. Menatap sehun yang menatapnya intens. Lalu ia ikut mengeratkan genggaman tangannya.

"Aku juga minta maaf. Aku sedikit melupakanmu, jika bukan paksaan aku juga tidak mau melakukannya." Sehun tersenyum lalu tangannya mengacak rambut Luhan perlahan. Wajahnya mendekat turun mengecup pucuk hidung Luhan lalu tertawa setelahnya.

.

Baekhyun berjalan kekantin sendirian, entah kemana perginya kyungsoo. Dia menghilang begitu be istirahat berbunyi. Sebenarnya ia malas pergi kekantin sendirian seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Terpaksa. Mungkin ia akan menemukan kris atau Jongin atau mungkin sehun. entah.

"Baekhyun" teriak seseorang. Ia menoleh mendapati kris dengan Jongin yang sedang meminum jus yang sudah dipesannya. Ia menghampiri keduanya.

"Mana temanmu yang seperti burung hantu itu?" Tanya kris pada Baekhyun yang sudah duduk didepannya.

"Entah, dia menghilang begitu bel berbunyi tadi."

"Baek, kau tidak mau mengajak temanmu yang tinggi dengan mata panda itu bergabung . ia seperti kebingungan" tunjuk kris pada tao yang baru datang. Baekhyun menghela napas.

"Tao!" yang dipanggil menoleh kearah sumber suara. Lalu mulai berjalan kearah suara.

"Duduklah."

"Kenapa seperti kebingungan tadi?"

"Aku mencari Lay tapi tidak ada dimana-mana" tao mengerucutkan bibirnya. Tanpa mengetahui seseorang yang menatapnya gemas.

"Jangan mengerucutkan bibirmu seperti itu. Seseorang menatap lapar kearahnya" ucap Jongin yang sedari tadi diam.

"Eum" tao mengangguk lalu pandangannya bertemu dengan kris yang menatapnya. Tao membalas dengan senyum kecil yang mana menmbuat kris dalam hari berjingkrak kegirangan.

.

.

.

"Baek, ayo pulang bersama" ajak Jongin.

"Tidak usah, aku akan naik bus" dahi Jongin berkerut,"Bukankah biasanya kau diantar?" Baekhyun mendadak gelagapan. "Orang tuaku sedang pergi keluar kota"

"Kalau begitu aku antar kau pulang. sekalian makan aku sangat lapar. Aku tadi hanya membeli minuman dikantin" paksa Jongin.

Baekhyun bimbang, seandainya ia diantar Jongin pulang, pasti lelaki berkulit tan itu akan mengetahui apartementnya dan Chanyeol. Tapi jika menolak dia pasti curiga. Akhirnya dengan terpaksa..

"Baiklah" – Ia menyetujuinya.

"Baek, ayo pulang" ajak kyungsoo yang baru datang.

"Kau dari mana saja?"

"Aku ada sedikit urusan dengan Guru Joo , jadi ya begini" dilanjutkan dengan cengiran kyungsoo.

"Ayo"

"Bagaimana jika dengan kyungsoo sekalian?" usul Baekhyun.

Jongin menghela napas, "Baiklah" lalu ia berjalan dibelakang keduan lekaki manis yang tengah berbincang tentang majalah yang tak ia ketahui.

.

"Terima kasih atas teraktirannya Jongin, kau sangat baik" Jongin dan Baekhyun sudah sampai diapartement Baekhyun. hanya diluar tidak didalam apartement. Gawat bisa-bisa.

"Iya, terima kasih juga kau mau menemaniku makan dengan kyungsoo juga" Baekhyun tersenyum lalu berjalan masuk meninggalkan Jongin yang masih tetap pada tempatnya. Berdiri melihat kearahnya.

Baekhyun menjatuhkan tubuhnya disofa ruang tamu, memejamkan matanya barang sedetik.

"Kenapa baru pulang?" Tanya Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari televise.

"Kenapa kau selalu menanyakan aku saat aku pulang malam? Aku tidak pernah mengurusi urusanmu saat kau pulang jam berapapun." Jawab Baekhyun. lalu ia mendudukkan dirinya, menatap Chanyeol sebentar.

"Aku hanya ingin tahu saja. Kau tahu baek, Luhan adalah pacar sehun" Chanyeol menghela napas pendek, "Mereka sudah pacaran untuk waktu yang lama"

"Itu salahmu kalau kau sakit hati. Kau tidak mencari tahu lebih dahulu"

"Itu karena mereka tidak pernah dekat saat disekolah, aku jadi tidak tahu"

"Seseorang yang tidak dekat dengan orang lain, belum tentu ia tidak punya pacar. Ingat itu" Baekhyun berdiri mengambil air putih di dispenser, meneguknya pelan, "Kau menyuJonginnya?"

"Aku menyuJonginnya, tapi entah mengapa saat dia mengatakan dia punya pacar aku tidak merasa kesal atau cemburu menurutmu apa itu?"

"Mungkin kau hanya mengaguminya, jadi kau tidak cemburu saat dia bilang punya kekasih" Baekhyun datang dengan beberapa makanan dan minuman ringan, "Atau mungkin kau hanya menganggapnya sebagai saudaramu sendiri"

"Entahlah, oh. Juga kemana kau pergi dengan Jongin?" Tanya Chanyeol

Baekhyun menggeleng, "Hanya pergi makan, dia bilang dia lapar". Chanyeol mendengus, "Hanya karena dia lapar kau menemaninya"

"Tentu, karena makan sendiri saat tidak menyenangkan"

"Bilang saja, dia mau dekat denganmu"

"Maksudmu?"

Dengan sedikit tidak yakin Chanyeol mengatakannya, "Pendekatan?" lalu ia mengendikkan bahunya asal dan memakan snank yang ada digenggamannya.

"Haa?"

.

.

.

"Baek nanti ayo kita kerumahku, ibuku ingin bertemu dengan mu" Baekhyun menoleh

"Aku? Untuk apa?"

"Kau sudah bilang mau kemarin, lagipula aku sudah membicarakanmu kepada ibuku"

Wajah Baekhyun memerah, "Yakk, apa yang kau bicarakan tentangku? Awas kalau kau membicarakan yang jelek-jelek" Baekhyun mengangkat sendoknya menakuti Jongin dengan memukul kepalanya.

"Aku hanya bicara kenyataan, aku bilnag Baekhyun adalah temanku yang paling baik, dia juga cantik walaupun dia lelaki, badannya mungil dengan rambut hitam legam dan poni menutupi dahinya. Dia benar-benar cantik" Jongin tersenyum, mengabaikan Baekhyun yang wajahnya kian memerah, entah itu malu atau menahan amarah atau mungkin keduanya.

"Kau sungguh bicara seperti itu?" teriak Baekhyun yang membuat beberapa pasang mata menoleh kemejanya termasuk Chanyeol, sementara Jongin tersenyum paksa dan mengangguk mohon maklum.

Jongin mengangguk polos,"Itu faktanya", Baekhyun menggeram "Kau bodoh" lalu ia meninggalkan Jongin seorang diri yang sibuk tertawa pelan.

Chanyeol berdiri, membuat Luhan, Sehun dan Lay menatapnya bingung.

"Ada apa?" Tanya Lay

"Aku pergi sebentar" lalu Chanyeol berlari menuju pintu keluar kantin, menyusul seseorang .

"Lu, mungkin berhasil" sehun menatap Luhan disampignya dengan senyum yang jarang diperlihatkannya . "Aku akan sangat senang jika itu terjadi"

"Kalian semua sungguh aneh" Lay menggeleng dan melanjutkan makannya.

.

Chanyeol mengedarkan pandangannya mencari Baekhyun, ia sendiri tak tahu untuk apa mengejar Baekhyun. hanya saja ia mendadak kesal melihat Baekhyun dengan wajah yang memerah keluar kantin dengan Jongin yang teritawa pelan. Apakah Jongin melakukan sesuatu yang aneh?.

"Baek kau didalam?" Chanyeol mengetuk pintu sebuah kamar mandi yang ia yakini Baekhyun berada didalam sana.

"Kenapa?" Baekhyun keluar, seperti dugaannya.

"Kenapa tadi tiba-tiba pergi dari kantin? Apa yang Jongin lakukan padamu?" Tanya Chanyeol beruntun. Untung saja kamar mandi sedang sepi, jika ramai mau ditaruh dimana wajahnya.

"Kau kenapa? Jongin hanya bilang kalau ia menceritakan aku kepada ibunya sehingga ibunya ingin bertemu dengan ku. Itu saja. Ck." Lalu Baekhyun keluar meninggalkan Chanyeol yang diam merenungi tingkah lakunya. Tentu saja, memang untuk apa ia pergi mencari Baekhyun dan menanyakan pertanyaan yang tidak penting. Hanya saja ia sedikit kesal atau marah mungkin melihat kedekatan Baekhyun dan juga Jongin. Entah dengan alasan apa ia sendiri tidak tahu. Dan yang paling memalukan, ia bertingkah layaknya seorang kekasih yang cemburu kepada kekasihnya yang ketahuan berselingkuh. Konyol .

.

.

.

Baekhyun sedikit aneh dengan perilaku Chanyeol saat dikamar mandi tadi walaupun terselip rasa senang dalam hatinya. Mengingatkannya pada perlakuan mereka dulu saat JHS. Sebenarnya hanya ia yang berlaku demikian.

"Chanyeol , ayo satu kelompok dalam paduan suara. Saat ada suaramu pasti bagus."

Chanyeol yang saat itu tengah membaca buku komik, menoleh kearah Baekhyun yang tengah berjalan menuju bangkunya. Jarak bangku Baekhyun dan Chanyeol memang cukup jauh , Chanyeol berada dibaris ketiga dari depan sebelah pintu masuk sedang Baekhyun bariran kedua sebelah jendela.

"Maaf, baek tapi Yoo Eun sudah mengajakku, dan aku menerimanya"

"Apa? Kenapa begitu? Keluar dari kelompok Yoo Eun dan satu kelompok denganku"

"Tidak bisa baek, aku sudah berjanji satu kelompok dengan Yoo Eun. Kau harus mengerti dan aku tidak bisa mengingkarinya"

"Tapi kita sahabat"

"Sahabat tidak harus selalu bersama baek"

"Aku membencimu"

"Baekhyun.. Baekhyun.. aish"

Chanyeol berteriak memanggil Baekhyun yang sudah lari keluar kelas. Sebenarnya Chanyeol ingin satu kelompok dengan Baekhyun, tapi Yoo Eun memaksa, jika tidak maka Baekhyun akan dijaili oleh Yoo Eun. Si pembuat masalah dikelas. Dan Chanyeol tidak ingin itu terjadi.

Dan saat paduan suara, tim Chanyeol lah yang menang. Sedang Baekhyun hanya mendapat juara 2. Bukan masalah menang atau kalah yang membuat Baekhyun membenci Chanyeol, tapi karena pria itu tidak mau bersamanya. Hingga hubungan mereka yang perlahan-lahan menjauh.

Itu konyol. Menurut Baekhyun. saat itu ia hanya iri Yoo Eun bisa berkelompok bersama Chanyeol. Dan ia juga menginginkan hal yang sama. Sebenarnya Baekhyun ingin meminta maaf tapi egonya yang besar membuat ia tidak berani hingga saat ini. ia ingin Chanyeol lah yang meminta maaf padanya. Tentu karena ia yang keras kepala.

"Ibu" suara Jongin mengema. Lalu muncul seorang wanita yang Baekhyun perkirakan berumur 40-an tapi tidak tampak kerutan diwajahnya. Wanita itu tersenyum hangat saat emnyadari ia ada dibelakang Jongin. Lalu Jongin bergerak memeluk ibunya dan mencium pipinya. Anak kesayangan.

"Baek, ini ibuku. Ibu kenalkan ini Baekhyun . yang selalu kuceritakan itu" mata Jongin berbinar saat mengatakannya. Ibu Jongin melihat kearahnya lalu merangkul lengannya dan mengajak duduk disofa.

"Jadi kau yang bernama Baekhyun?" Baekhyun mengangguk, "Jongin ambilkan temanmu minuman"

"Jongin sering bercerita tentangmu", Baekhyun mengangguk lagi, "Iya, dia sudah menceritakannya padaku"

"Dia sangat jarang menceritakan temannya padaku. Dan aku pikir kau orang yang special bagi putraku" sebuah jus strawberry yang diambil Jongin didapur datang. "Minumlah"

"Baiklah, ibu pergi dulu, dan baek makan malam lah disini. Aku akan masak banyak"

"Ah, tidak-"

"Tidak apa-apa, sekalian bertemu ayah Jongin"

Ibu Jongin keluar, meninggalkan anaknya dengan Baekhyun berdua.

"Baek, ayo kekamar. Aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik" Jongin menarik Baekhyun ke lantai atas. Ada dua pintu yang Baekhyun lihat. Satu berwarna coklat dan yang satu putih. Lalu mereka masuk kepintu yang berwarna putih. Kamar Jongin lebih tepatnya. Saat masuk Baekhyun cukup terkejut dengan banyaknya miniatur yang ada , dari kendaraan sampai taman-taman. Ini menganggumkan batin Baekhyun. ia tidak menyangka jika ia dikelilingi para kolektor. Iya kolektor, Chanyeol yang mengoleksi berbagai macam komik hingga Jongin yang mengoleksi miniature.

"Wow" ucap Baekhyun setelah diam beberapa lama. Jongin tertawa kecil

"Aku mengoleksinya sejak aku JHS"

"Bukankah ini mahal-mahal" Tanya Baekhyun, Jongin mengangguk "Memang api kalau suka mau bagaimana lagi"

"Keren"

"Duduklah, akan mengambil camilan dulu" Jongin keluar. Baekhyun menghela napas. Tangannya mengelus cincin dijari manisnya.

"Maaf"

Jongin kembali dengan membawa beberapa snack dan soda. Menaruhnya dikarpet yang ada dibawah.

"Turunlah, ayo duduk disini" Baekhyun menurutinya,"Ceritakan tentangmu baek" dahinya berkerut

"Maksudmu?"

"Ceritakan tentang kehidupanmu, bagaimana kau dirumah apa hobimu atau apapun itu. Aku ingin mendengarnya"

"Tidak ada yang special, aku hidup seperti lainnya. Hobiku, entahlah. Aku tidak punya hanya saja biasanya aku akan pergi keluar sejenis traveling jika ada waktu. Itu saja"

"Kekasihmu?"

"Aku tidak punya kekasih" – tapi suami lanjutnya dalam hati.

"Mau jadi kekasihku?"

"Apa?"

"Mau jadi kekasihku? Aku tidak punya kekasih" Baekhyun diam , dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Jongin-" ucapannya terhenti saat lelaki dihadapannya ini menempelkan bibirnya. Matanya terbelalak kaget. Tentu saja. siapa yang tidak kaget saat seseorang menyatakan perasaan dan langsung menciumnya disatu waktu.

Jongin melumat bibirnya pelan, ia terlihat menikmatinya karena Jongin menutup matanya. Perlahan Baekhyun ikut menutup matanya membalas lumatan dibibirnya. Jongin tersenyum, tangannya semakin mendekatkan kepala Baekhyun memperdalam ciumannya.

Bayangan Chanyeol yang menciumnya membuat Baekhyun mendorong kai. Ia tak tahu mengapa saat ia berciuman dengan Jongin malah muncul wajah Chanyeol dalam benaknya, apa yang salah dengannya ? akhir-akhir ini dadanya berdegup kencang saat Chanyeol memelukknya kala tidur.

"Aku pulang dulu." Lalu Baekhyun keluar dari kamar Jongin meninggalkan pemiliknya yang menyesali perbuatannya.

.

.

.

To Be Continued

.

a/n :

Nothing ~ just I hope you enjoy with this story..

Review, fav, and foll. Silahkan..

.

( 23 September 2016)

BabyXie