Untitled
Naruto Mashasi Kisimoto
Highschool DXD Ichiei Ishibumi
.
.
"Citt!"
Gosong, satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan tikus yang menjadi percobaan tesla coil buatanku. Aku langsung meneguk ludah dan berujar "Oh Tuhan, maafkan aku yang sudah membuat senjata pembunuh instan."
Aku langsung mematikan benda berbahaya tersebut, dan berharap tidak akan pernah menggunakannya lagi. 'Jadi pilihanku satu-satunya sekarang adalah belajar bela diri sampai bisa menemukan cara memakai benda ini ya,' batinku. Kulirik jam yang terpasang di dinding, menunjukkan jam 3 pagi. Sebenarnya aku sudah tidur, tetapi terbangun sampai sekarang, terlalu banyak pikiran ternyata menyakitkan, sampai membuat waktu tidurku terganggu.
Setelah selesai membereskan kekacauan tadi, saat ini aku sedang menonton TV ditemani semangkuk mi instan. Pikiranku tidak bisa fokus ke acara opera sabun yang sedang ditayangkan, hidupku seakan benar-benar rusak saat ini. Mengingat kejadian di mana aku harus mengemis agar bisa bertahan hidup, hingga dipekerjakan menjadi buruh pabrik dengan upah di bawah minimum seakan hal kecil jika dibandingkan dengan keadaan sekarang.
"Kenapa aku tidak mati saja ya? Rasanya aku sudah terlalu lelah untuk hidup, toh tidak ada orang yang akan bersedih jika aku mati 'kan?" Kepalaku langsung sakit setelah mengucapkan itu, mengerang panjang hingga akhirnya pingsan, dengan mi yang masih utuh.
.
.
"Biasanya kau tidak telat Uzumaki-kun." Sial, seharusnya aku tidak masuk saja tadi daripada harus berbicara dengan iblis yang sudah membunuhku dua kali ini, walaupun di waktu yang sekarang dia belum membunuhku sih, tapi suatu saat pasti.
"Maaf, aku agak sakit. Jika mau menghukumku silakan, pasti akan kulakukan," dengan datar aku menjawab, mencoba menyembunyikan bayangan ditusuk es dan dilempar ke udara. Ucapanku sedikit membuatnya terkejut, terbukti dari matanya yang terbuka lebar secara tiba-tiba, atau ini hanyalah permainan psikologi? Entah.
Dia menaikkan kacamatanya yang merosot, matanya tajam ke arahku, lalu menghela napas sebentar. "Untuk kali ini kubiarkan kau lolos, tapi selanjutnya jangan bermimpi," ujarnya kemudian. Oh ada apa ini? Salah satu pendekatan psikologi kah? Kau pikir aku akan tertipu dasar iblis sialan?! Oh tidak-tidak, aku masih akan menjadi manusia sampai aku mati.
Aku langsung mengangguk dan berlalu, meninggalkan dirinya yang sedang mengurus siswa telat lainnya. Entah kenapa kepalaku masih terasa agak sakit, hipotesis ku adalah saat ini terlalu banyak pikiran yang masuk sehingga mempengaruhi bagian lobus frontalku[1].
Tanpa sadar aku sudah sampai di depan kelas, menghirup napas sejenak sebelum masuk, menggeser pintu dan berucap dengan keras.
"Maaf sensei, aku telat!" Namun yang kudapatkan hanyalah tertawaan, langsung kulirikkan pandanganku, yang ada hanyalah murid. Oh sial aku lupa jika yang mengajar jam pertama adalah Kakashi-sensei, guru yang selalu masuk 15 menit sebelum pelajaran selesai. Aku langsung mendirikan tubuh dan berlari menuju meja, menyembunyikan muka di antara lipatan tangan, menahan rasa malu di antara gelak tawa mereka.
.
.
" ... nah jadi begitu Sensei." Lagi, saat ini aku sedang bercerita tentang masalah tesla coil ke Fuyutsuki-sensei , berharap dia mempunyai solusi untuk masalah yang menyangkut nyawaku ini. Sungguh, rasanya tidak bosan berbincang dengannya.
Tampak dia berpikir keras sambil memegang dagunya. Aku tersentuh, ternyata ada orang yang mau berpikir keras untukku, aku harus melindungi dia dari para iblis bajingan itu, harus!
"Naruto! Apa tadi kau tidak memperhatikan?" Lamunanku langsung buyar mendengarnya berteriak, dengan spontan tanganku menggaruk belakang kepala yang padahal tidak gatal, menyembunyikan rasa gugup.
"Ahaha, maaf-maaf tadi aku sedikit melamun. Jadi apa yang Sensei pikirkan?" ujarku dengan antusias.
"Jadi Sensei berpikir begini, listrik tidak bisa mengalir di benda yang bersifat isolator 'kan? Nah kamu tinggal membuat baju dengan bahan plastik, mudah 'kan?"
Aku membayangkan melawan iblis dengan tubuh yang ditutupi kantong keresek, bayangkan saat berlari tiba-tiba terpeleset karena licin. Ugh! Pasti sangat memalukan.
"Jangan pikir yang aneh-aneh, coba tiru kostum milik 'Deadpool'[2], pasti keren. Apalagi pakai pedang. Hahaha," ujarnya disertai tawa. Jika benar senyum seseorang yang spesial bagimu bisa membuatmu terkena diabetes, aku akan kehabisan banyak uang untuk pengobatan sekarang.
"Ide bagus sih, eh tapi pengganti ritsletingnya apa? Kan terbuat dari besi?"
"Tinggal pakai saja tali velcro, yang sering dipakai di kotak pensil kain itu loh!" dengan cepat dia menjawab pertanyaanku. Sungguh diriku terpesona akan dirinya saat ini. Rasanya ingin ku peluk dan cium dirinya dan, ugh kau terdengar mesum Naruto! Jika ini anime, kepalaku pasti sudah mengeluarkan asap.
"Sensei pintar ya."
"Jelas! Sensei 'gitu loh!" Sore ini begitu indah, keinginanku untuk bunuh diri hilang sedikit demi sedikit jika terus berada di dekatnya, sungguh.
.
.
Perjalanan pulang kali ini berbeda dari biasanya. Mengamati sekitar yang biasanya aku tidak lakukan, pengaruh Fuyutsuki-sensei kah? Apakah aku menyukai dia dalam artian romantis? Andainya aku beberapa tahun lebih tua, aku pasti meminta gereja mengabadikan momen pernikahanku dengannya.
Mentari mulai tenggelam, meninggalkan semburat senja indah yang membuat terpesona. Bunga mulai mengantup, dan hewan diurnal mulai mengantuk. Apakah kematian memang selalu seindah ini? Kenapa manusia bersuka-cita saat mentari mulai tenggelam di antara lautan? Dan tiba saatnya semburat merah menghilang, digantikan dengan biru tua. Bulan mulai muncul, suara teriakan wanita terdengar. Tunggu! Teriakan! 'Sepertinya aku akan terlambat bekerja,' batinku.
Aku langsung bergegas lari menuju pusat suara. Sesampainya di sana aku melihat seorang perempuan sedang berhadapan dengan monster, serius, ini monster berkepala manusia dengan badan kuda nil! Apakah jika aku membunuhnya aku akan terkena pasal pembunuhan terhadap satwa langka?
Mengenyahkan pikiran tersebut, aku langsung mengeluarkan tesla coil ku, memasangnya di tempat datar, menyalakannya dengan kekuatan maksimum, dan berteriak "Lari!" sambil mengikuti apa yang aku teriakkan. Entah apa perempuan itu sempat berlari atau tidak, yang penting aku berniat ingin menolongnya. Secara tiba-tiba terlihat percikan listrik berwarna biru, mirip sekali dengan jurus di salah satu serial anime. Aku menunggu energi listrik di dalam alat itu habis, dapat kudengar jeritan kesakitan dari sini. Seharusnya berdasarkan rumus daya, alat itu mengeluarkan 22 kWh[3], semoga saja wanita itu bisa bertahan. 10 detik, sial, aku langsung berlari mengetahui alat itu sudah berhenti 'semoga saja mereka tidak mati terkena listrik dengan kekuatan sebesar itu!'
"Hoeek!" Makanan yang beberapa waktu lalu aku makan langsung keluar dari mulutku, aku menyesal sudah mengaktifkan benda berbahaya ini, mereka berdua sudah tidak bisa diidentifikasi lagi, mereka seperti daging gosong yang sangat empuk, beberapa bagian kulit mereka mengelupas menampakkan tulang, kulit mereka gosong, bahkan bau anyir darah pun tidak tercium, ini seperti ter-oven dengan suhu yang tinggi terlalu lama.
"Bagaimana ini, aku takut." Aku sudah membunuh orang, aku sekarang seorang pembunuh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku takut polisi akan mengejarku, aku takut Tuhan akan marah padaku. Aku menangis, aku berlari melewati kerumunan orang, melupakan pekerjaan di kedai ramen[4] dan hanya berpikir ke satu tempat, apartemenku.
Bersambung
Keterangan :
1. Lobus frontal = Bagian otak besar yang berfungsi mengatur ingatan, emosi serta mental.
2. Deadpool = Karakter milik 'Marvel' dengan ciri khas baju berwarna merah.
3. kWh = Satuan daya per-jam.
4. Ramen = Makanan yang berasal dari jepang, berbentuk mi dengan kuah kental.
Pesan penulis :
Terjadi penurunan penulisan dan juga jumlah kata, saya menyadari itu karena saya pusing dengan adegan 'semi kelahi' yang bukan basis saya—saya akan belajar lagi, maaf. Naruto tidak mati di chapter ini, jadi kalian bisa bernafas lega. Sekedar pemberitahuan, chapter depan akan ada 'kejutan' di alur cerita, semoga saja tidak tertebak oleh kalian, tapi kalau ada yang bisa menebak silakan jawab di kolom review. Bagi pemilik akun guest, maaf saya tidak bisa membalasnya, tolong buat akun, gratis kok! Kalau sudah saya bisa membalasnya lewat PM, percayalah, kecepatan saya membalas pesan itu setara dengan penjual di online shop. Mungkin itu saja, saya menerima kritik, saran dan masukan, hinaan, atau bahkan cacian. Sekian dan terima kasih, Zanan log out.
