Disclaimer 4 this chapter:

Harry, Ron, Hermione, ama Mr. Snape yang punya J.K. Rowling. Sedangkan Rachel, Tobias, Jake, ama Mr. Chapman yang punya K.A. Applegate.

Chapter 3 : What does she want?

HARRY'S POV

"Hei Harry, apa kau yakin hari ini tidak ada PR?", Ron bertanya padaku.

"Emmb... Ron? Ini hari pertama kita di kelas 2 yang artinya ini adalah pelajaran pertama kita di tahun ajaran baru. Bagaimana mungkin bisa ada PR?", kataku.

"Oh yeah... Kau benar...", jawab Ron lega. Kelihatan sekali ia sangat gelisah menghadapi pelajaran pertama ini. Yeah, pelajaran pertama yang tidak bisa dibilang menyenangkan bahkan hanya untuk dipikirkan. Aku dan Ron sama-sama merasa kecewa saat mendapati guru kimia kami di kelas 2 sama dengan guru kimia kami di kelas 1, Mr. Snape. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Mr. Snape adalah guru ter-killer di sekolah. Hampir semua murid termasuk aku sendiri merasa takut jika berhadapan dengannya. Dia jauh lebih menakutkan dari hantu manapun yang pernah kulihat. Tak ada satupun murid yang berani mencari gara-gara dengannya. Tapi sayangnya, sepertinya hari ini adalah hari sialku.

Saat Mr. Snape memasuki kelas, aku merasa jantungku hampir copot saat melihat roh Rachel berada persis di belakang Mr. Snape, mengikuti Mr. Snape memasuki ruang kelas. Apa yang dilakukan roh Rachel disini? Bukankah dia selalu mengikuti Tobias? Kenapa dia malah kemari? Dan... tatapannya... Astaga! Tatapan tajamnya terarah lurus padaku! Apakah dia sudah tahu kalau aku bisa melihatnya? Tidak, ia tidak boleh tahu. Aku harus bersikap biasa...

Astaga! Bagaimana mungkin aku bisa bersikap biasa kalau ada seorang hantu –yang meskipun cantik tapi tetap saja hantu- menatap tajam ke arahmu dan tak jauh darinya ada seorang manusia yang bahkan lebih menyeramkan dari hantu mengawasimu dengan galak. Sungguh pelajaran pertama yang sangat berkesan untuk memulai ajaran baru.

Mau tak mau hal ini membuatku merinding tak karuan. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri dan keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Tak tahu harus bagaimana menyembunyikan ketakutanku, aku memutuskan untuk mengambil buku kimia tebal dari dalam tasku dan kemudian menenggelamkan kepalaku ke dalam buku tebal itu, berharap dua makhluk di depan sana tak dapat melihat ketakutanku.

"Hei, Harry! Ada apa denganmu? Kau tak apa-apa, mate? Maksudku, kelas Mr. Snape memang menakutkan, tapi tak biasanya kau sampai gemetaran begini. Biasanya kan kau yang menenangkan aku?", Ron berbisik di sampingku. Nada suaranya terdengar sangat khawatir dan gugup. Akupun menoleh ke arahnya dan tersenyum lemah. "Aku tak apa-apa, mate. Tenang saja", kataku untuk menenangkan Ron yag mulai tertular ketakutanku.

"Baguslah kalau begitu. Tapi kalau memang ada masalah bilang saja padaku. Oke?", kata Ron.

"Oke", jawabku singkat. Sedikit merasa senang juga karena sikap Ron yang pengertian. Akupun menoleh padanya dan tersenyum berterima kasih. Tapi, saat aku menoleh ke depan lagi, jantungku seperti hampir copot untuk yang kedua kalinya. Kali ini lebih parah.

"AAAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHH!", aku berteriak kaget saat melihat roh Rachel berada di depanku persis, hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahku. Refleks buku kimia yang kupegang terlempar jauh saat tubuhku terjungkal jatuh ke belakang beserta kursi dan tasku.

BBRUAAAK!

Dengan pose yang sangat tidak elit aku terbaring di lantai kelas. Punggungku terasa amat sangat nyeri. Untung saja kepalaku tidak menghantam lantai atau apapun.

"Mr. Potter...", tiba-tiba saja Mr. Snape sudah berdiri tegak di sampingku yang masih terbaring. Mata hitam galaknya menatapku dengan tatapan membunuh dan bibir tipisnya menyebutkan namaku dengan nada yang semakin membutku bergidik ngeri. Segera saja aku bangkit dan memebereskan kekacauan yang kulakukan. Dapat kurasakan semua pasang mata di kelas menatapku dengan kaget. Tak sedikit pula yang melongo berkepanjangan karena lupa menutup mulutnya saking kagetnya.

"Apa maksud ulahmu ini, Potter?", Mr. Snape berkata lagi dengan nada yang sama.

"Ma-maaf Mister. A-aku hanya..."

"Hanya mengacau, Potter?", sela Mr. Snape.

"Ti-tidak Mister. Saya hanya kaget..."

"Dan apa tepatnya yang membuatmu kaget?", tanyanya lagi.

"Ke-kecoak Mister", jawabku sekenanya tanpa bisa menyembunyikan nada gugup dari suaraku. Aku benar-benar merinding mendengar kata-kata sedingin es itu. Sebisa mungkin aku tak menatap mata galak itu juga. Tapi yang kulihat malah sosok roh Rachel yang melenggang keluar dari kelas sambil tertawa-tawa. Astaga... Berurusan dengan hantu iseng adalah hal yang terakhir kuinginkan.

"Jadi kau mau bilang kalau kelasku ini tidak higienis sampai-sampai ada serangga kotor seperti kecoak bisa masuk dan menggangu salah satu muridku yang pemalas? Kau mau bilang kelasku ini tidak kondusif, begitu?", jeezzzz... Tamat sudah riwayatku.

"Eeee... Mister, ke-kecoak itu mi-milik saya", Ron berkata dengan gugup di sebelahku. Mata galak Mr. Snape beralih memandang Ron. Yang dipandang hanya bisa menunduk ketakutan. "Sa-saya hanya iseng Mister..."

"Ooh... Jadi kalian pikir kalian bisa main-main di kelasku?". Hening...

"Potter dan Weasley...", Mr Snape berujar dingin. Aku dan Ron hanya bisa membeku di tempat kami duduk, bagaikan menunggu vonis di pengadilan...

END OF HARRY'S POV

~000~

NORMAL POV

Seusai jam pelajaran pertama, Harry dan Ron berjalan dengan langkah gontai menuju kantin. Di salah satu meja yang terletak di sudut kantin, seorang gadis berambut cokelat ikal melambai dengan semangat pada Ron dan Harry. Gadis itu adalah Hermione Granger, sahabat Ron dan Harry.

"Apa yang terjadi? Kenapa kalian lesu sekali?", Hermione berkomentar saat melihat kedua sahabatnya menghampirinya dengan langkah yang sangat lesu.

"Terlalu memalukan untuk diceritakan...", jawab Ron sambil duduk dan kemudian menyandarkan kepalanya di atas meja kantin.

"Maafkan aku, Ron. Ini semua salahku...", kata Harry menyesal.

"Oh mate... Tak usah dipikirkan. Paling tidak kita bisa mengambil sisi positifnya. Satu jam pelajaran tanpa melihat muka horror si Snape. Bisa dibilang anugerah kan?"

"Yeah, kau benar", Harry nyengir.

"Apakah kalian berniat untuk bercerita padaku? Kalau tidak akan ke perpus saja. Aku sudah selesai makan", Hermione berkata sambil manyun.

"Jangan ngambek, Mione. Iya kami akan cerita. Tapi... jangan ketawa, oke?", sahut Ron.

Dan kedua cowok itupun menceritakan apa yang terjadi barusan kepada satu-satunya sahabat perempuan mereka.

"Dan akhirnya... Mr. Snape menghukum kami berdiri di depan kelas...", kata Harry.

"Dengan dua tangan di telinga...", sambung Ron.

"Dan kaki diangkat satu...", Harry mengakhiri cerita mereka dengan tampang memelas. Seketika itu juga Hermione tertawa keras di depan Ron dan Harry, membuat kedua cowok itu semakin terpuruk. "Kejam kau Mione...", sahut Ron manyun.

"Hhahaha... Ha... Ha... Maaf... Maafkan aku...", Hermione berkata sambil berusaha menghentikan tawanya. "Aku tidak bermaksud menertawakan kalian. Hanya saja... Itu... Itu kan hukuman untuk anak SD! Aku pikir dia akan memberi kalian tugas essay atau apa... Tapi ternyata... Astaga! Hukuman itu sudah tidak jaman lagi untuk kita! Aku sama sekali tak bisa membayangkan kalian dengan pose seperti itu. Hhahhahahaha..."

"Hermione!", Ron dan Harry berteriak bersama.

"Oke-oke. Aku akan berhenti tertawa...", Hermione berkata sambil mengelap sudut matanya yang tergenang air mata saking hebohnya tertawa. "Oke sekarang serius. Aku ulangi ceritanya... Jadi tadi, Harry tiba-tiba jatuh terjengkang di kelas...", Harry memelototi Hermione saat sahabatnya itu akan tertawa lagi.

"Apa? Oh c'mon... Itu pasti lucu sekali. Andai saja ada yang memotretnya. Fans-fansmu pasti rela membelinya dengan harga mahal. Iya kan, Ron?", sahut Hermione.

"Yeah benar. Itu juga yang kusayangkan. Andai saja si Snape itu tidak sedang di dekat kami, pasti sudah kupotret", Ron menyetujui.

"Aku tidak mau membahas ini!", Harry berseru sambil manyun. Hermione dan Ron nyengir.

"Okeoke... sekarang benar-benar serius. Duarius deh kalau perlu!", ucap Hermione sambil memandang tajam ke arah Harry. Kemudian, dengan perlahan ia menanyakan hal yang mengganggunya sedari tadi. "Sebenarnya apa yang membuatmu kaget, Harry? Kalian bilang kecoak itu hanya bualan Ron untuk membantumu. Jadi... pasti ini melibatkan sesuatu yang hanya kau yang bisa melihatnya kan?", katanya mantap.

Harry menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ya, Hermione. Kau benar."

"Apa?", Ron berseru kaget. "Ja-jadi... di kelas kita tadi ada... Ha... Hantu?", wajah Ron menjadi pucat saat mengatakannya. Ron memang yang paling paranoid masalah hantu di antara mereka bertiga.

"Hanya sampai aku jatuh. Setelah Mr. Snape datang hantu itu langsung pergi. Sambil ketawa...", Harry mengucapkan kalimat terakhir dengan tampang memelas, membuat Hermione dan Ron –yang sudah tidak pucat- geli sendiri.

"Syukurlah... Maksudku, aku memang tahu hantu itu ada dimana-mana. Tapi, aku lebih nyaman kalau tidak tahu apa-apa. Karena itu aku tidak pernah mau membahas ini denganmu. Karena aku tahu kalau kau tahu dimana saja hantu itu berada. Untung saja kau bukan tipe orang yang jail...", Ron berkata panjang lebar.

"Iya aku mengerti. Hanya saja..."

"Hanya saja apa, Harry?", tanya Hermione.

"Sebelum hantu itu pergi ia berkata padaku..."

"Apa yang dia bilang?", tanya Hermione lagi dengan tidak sabar.

"Dia bilang dia akan menemuiku lagi... Dia bilang dia butuh bantuanku..."

Hening...

"Lalu apa yang akan kau lakukan?", tanya Ron akhirnya.

"Entahlah, aku tak tahu. Aku sudah bilang kan kalau aku tidak mau berurusan dengan hal-hal seperti ini? Apalagi dengan hantu yang jail seperti itu..."

"Ngomong-ngomong, hantunya seperti apa sih? Menyeramkan tidak?", tanya Hermione penasaran. Hermione memang termasuk anak yang genius di sekolah, tapi ia juga bukan tipe orang yang mengagung-agungkan ilmu pengetahuan sampai tidak mempercayai hal-hal abstrak seperti hantu atau bahkan Tuhan. Justru, Hermione memiliki ketertarikan yang aneh dengan hal-hal semacam ini.

"Hantu itu adalah roh kakak kelas kita yang baru saja meninggal. Kau ingat apa yang diceritakan Jake tadi pagi, Ron?"

"Apa? Soal sepupunya yang baru saja meninggal dan soal Tobias yang mengalami depresi?", ujar Ron.

"Tepat sekali."

"Jadi...", Ron tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Tunggu! Sepupu Jake? Jake kapten tim basket kalian? Jadi maksudmu, hantu itu adalah roh sepupu Jake? Rachel Berenson, murid kelas XII anggota ekskul gymnastic yang baru saja meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan saat mendaki gunung?", tanya Hermione.

Harry dan Ron melongo mendengarnya. "Darimana kau tahu?", tanya Harry. "Kami bahkan baru tahu tentang sepupu Jake pagi ini", katanya jujur.

"Kalian tidak tahu Rachel Berenson? Dia kan cewek paling populer di sekolah kita. Heran deh. Aku tiak menyangka kalian secupu ini", Hermione berkata sambil geleng-geleng kepala.

"Aku juga tak menyangka kau peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan kata 'populer'. Kupikir kau hanya peduli pada bukumu...", sahut Ron.

"Aku memang tidak peduli", kata Hermione tegas. "Tapi bukan berarti aku tidak tahu. Aku kan juga punya telinga dan mata. Dan sekedar mengingatkan, siapa tahu kalian lupa, aku ini cewek. Dan cewek-cewek biasanya jauh lebih suka menggosip daripada cowok. Bukan berarti aku juga ikut-ikutan menggosip, hanya saja aku sering mendengar cewek-cewek di sekolah kita menggosip di toilet cewek. Percaya deh, itu tempat paling up to date jika kalian ingin tahu gosip-gosip terbaru. Kembali ke masalah, dari sanalah aku tahu banyak hal tentang fenomena-fenomena di sekolah kita, termasuk fakta bahwa Harry punya banyak fans. Fakta yang sulit dipercaya menurutku", Hermione berkata panjang lebar dalam satu tarikan napas. Sekali lagi Harry dan Ron melongo.

"Okeoke Mione... Jadi intinya... Harry dimintai tolong oleh cewek paling populer di sekolah yang sudah meninggal? Hey! Kau memang populer, Harry! Pesonamu tidak hanya untuk yang masih hidup ternyata...", kata Ron sambil nyengir.

Harry memandang sebal ke arah Ron. "Ron...", kata Harry tajam. "Hati-hati. Di belakangmu ada seorang laki-laki setengah baya dengan tali di lehernya. Mungkin itu hantu Mr. Chapman. Kata orang, mantan wakil kepala sekolah kita itu meninggal karena gantung diri kan?"

Tanpa berkata apa-apa lagi Harry segera bangkit dari kursinya dan berjalan pergi untuk membeli makanan. Meninggalkan Ron di belakangnya dengan muka pucat pasi dan tubuh kaku. Tak berani bergerak. Hermione geli sendiri melihat tampang Ron.

"Harry bohong, Ron. Mr. Chapman, mantan wakil kepala sekolah kita... belum meninggal bodoh! Dia dipindahtugaskan ke London pusat. Kau lupa?", Hermione menjelaskan.

"Benarkah? Aaah! Iya kau benar! Kurangajar Harry! Seenaknya saja menakut-nakutiku!", Ron yang sudah menyadari kebodohannya segera menyusul Harry yang segera menyingkir saat melihat Ron menghampirinya. Hermione masih duduk di bangkunya sambil tertawa-tawa melihat kedua sahabatnya malah kejar-kejaran di kantin padahal waktu istirahat tinggal beberapa menit dan mereka belum makan apa-apa.

TBC

Yippieeeee! Update kilat! Hehe... Gimana-gimana? Menarik? Boring? Geje? Aneh? Seru? Enak? Manis? Pedes? Asin? Aaah, maap saya mulai geje...

Chapter ini sedikit lebih panjang dari yang laen yang artinya sudah mulai masuk ke masalah. Baru mulai lho... Konflik baru keluar di chapter depan... Doain ya biar bisa lanjut... Tapi, untuk chapter selanjutnya paling cepet 2 mingguan lagi soalnya tanggal 16 ntar udah UAS. Doakan saya ya teman-teman... Biar UAS pertama saya lancaaarrr... Hasilnya memuaskan... Dan lolos dari teror DO. Ammiiiinnnnnn...

Oke sekian dulu, RnR pleeeaaassseee (~^_^) ~