Disclaimer : Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Warning : OOC. Typo. Boy's Love. AU. RussPruss (Mature Topic). Slight PrussHung. Teen!Prussia.

Writer's note : Seharusnya chapter ini update hari sabtu, tertunda karena aku harus update yang lain dulu. Hari minggu mau update, tapi karena ke-error-an ffn dan tugas kuliah jadinya baru bisa sekarang. 'awesome'-nya Gilbert kuganti 'hebat'. 'frying pan'-nya Hungary kuganti 'wajan penggorengan'. PrussHung-nya bukan pairing sih, tapi yah…gitu deh. Sebelumnya maaf karena chapter kemaren pendek (yah, kali ini juga pendek sih). Selamat membaca dan terima kasih sudah mau mengikuti fic ini X))


Capítulo 03

Frustración


Gilbert terkulai lemas dalam taksi.

Ia memandang malas ke jalanan yang dilewati menuju sekolahnya ini. Remaja Prussia ini tidak mengubah posisi duduknya sejak dia naik kendaraan ini. Dalam hatinya, ia sungguh-sungguh tak ingin pergi ke sekolah. Selain karena ia tidak ingin bertemu guru Rusia (yang menurutnya brengsek mem*piiip*nya), bagian belakangnya masih sangat sakit. Kalau bisa ia tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Tidak ingin bergerak dulu malah. Tapi, sehebat-hebatnya seorang Gilbert Beilschmid, ia tetaplah hanya seorang remaja biasa di hadapan ibunya.

"Aku tidak mau sekolah!"

Gilbert mati-matian menarik selimutnya. Dia memandang kesal pada wanita itu berusaha menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Gilbert. Pakaian yang dikenakan wanita itu sama dengan pakaian kerja kantoran pada umumnya. Atasan putih yang terbuat dari bahan silk. Rok ketat sependek lutut. Rambutnya yang berwana coklat bergelombang disanggul kecil dan terdapat sebuah bunga berwarna orange tersemat di rambutnya. Matanya yang hijau mendelik ke arah Gilbert. Sekejap, remaja itu merinding ketakutan ditatap seperti itu. Meskipun penampilan wanita di tengah umur 30-an itu telah rapi, cantik, malah tidak terlihat seperti seorang wanita yang sudah menikah, sebuah wajan penggorengan yang digenggamnya menjadi senjatan andalannya mengurus putranya yang nakal ini.

"Jangan main-main denganku, Gilbert, "seringai kesal menghiasi wajah cantik ber-make-up minimalis itu. "Aku sudah hampir terlambat kerja, jadi cepat kau bersiap ke sekolah!"

Sungguh, Gilbert ketakutan menghadapinya. Senjata andalan ibunya itu tampak mengkilap seolah belum pernah digunakan selain untuk memukul Gilbert. Tak heran, karena sebagai single mother dengan dua orang putra, ia harus bekerja mencari nafkah. Pekerjaannya sebagai editor senior di sebuah penerbitan ternama di kota itu mampu membiayai kehidupan mereka bertiga meski harus dikorbankan dengan minimnya waktu yang bisa ia lewatkan bersama keluarganya sebagai seorang ibu. Dia pergi ke kantor setelah kedua putranya ke sekolah dan pulang setelah keduanya tidur. Maka, satu-satunya kesempatannya untuk menunjukkan perhatiannya sebagai seorang ibu adalah menyiapkan sarapan. Meski biasanya sang adik yang telah duluan pergi ke sekolah, Ludwig yang memasak, tapi wajan penggorengan milik ibunya tak pernah dipakai.

Sempat terbersit dipikiran Gilbert untuk ke sekolah, tapi ternyata tubuhnya mengingatkan kembali alasannya.

"Aku tidak mau!"

Wanita itu semakin kesal sehingga ia memukul Gilbert dengan wajannya. "Kau ini! Aku sudah susah payah cari uang untuk menyekolahkanmu terus kau bilang tidak mau sekolah?"

Gilbert teriak kesakitan. "Tunggu! Tunggu!" ia bisa merasakan memar di badannya, "Aku yang hebat ini sakit. Jadi, tak bisa masuk sekolah hari ini!"

Ibunya berhenti memukul. Dia terdiam sesaat sebelum berkata dengan nada meremehkan, "Hoo…putraku yang merasa selalu hebat ini bisa sakit juga rupanya?"

Wajah Gilbert pucat. Tenggorokannya terasa sangat kering ketika mendengar ibunya berkata menakutkan seperti itu. Dia tahu dia memang tidak bohong kalau dia sakit. Tapi, tetap saja kata-kata ibunya terasa mengancam yang bisa membuatnya insomnia selama beberapa malam ke depan untuk menulis buku harian yang berisi keluhannya atas 'perlakuan' ibunya.

"Kau pikir aku percaya?" tambah ibunya dan hendak memukul lagi.

"Aku benar-benar sakit!" balas Gilbert menegaskan suaranya. Bagusnya, itu membuat gerakan tangan ibunya terhenti dan menurunkan tangan kanannya untuk membentak Gilbert, "BOHONG!"

"Aku yang HEBAT ini TIDAK BOHONG!" Gilbert balas dengan intonasi yang sama. Sang Ibu masih tidak percaya, "Kau tidak terlihat sakit!"

"AKU SAKIT!" ia masih berupaya sekuat tenaga meyakinkan ibunya.

"Bagian manamu yang sakit?" desak ibunya.

"Belakangku sakit!"

Wanita Hungaria itu terdiam kaget. Gilbert memberikan ekspresi kekagetan yang sama atas kebodohannya sudah menjawab jujur pertanyaan ibunya. Dia menutup mulutnya dengan tangannya. Menggali lubang kubur sendiri. Itulah kondisinya sekarang. Sebagai seorang wanita, terlebih lagi yang telah menikah, ibunya pastilah tahu apa yang dimaksud olehnya. Keheningan tercipta di antara mereka. Jika bisa, Gilbert ingin menghilang dari kamarnya ini sekarang juga!

"Be-belakangmu?" ibunya terdengar terbata sebelum hening lagi. Gilbert semakin takut melihat ibunya terdiam seperti itu. Jika orangtua biasa, pada normalnya, pastilah mereka kaget dan akan memarahi anaknya melakukan hal yang tidak sesuai umur seperti itu. Tapi, Gilbert tahu ibunya lain. Istimewa. Keringat dinginnya mengucur saat perlahan ibunya mendekati ranjangnya lalu duduk berhadapan dengannya. Selama mereka sepandangan, jantung Gilbert terasa berhenti berdetak.

"Kyaaaaaaaaa!" secara tiba-tiba ibunya berteriak. Dia melempar wajan penggorengannya ke sudut ruangan lalu memeluk erat Gilbert sambil masih terus berteriak kesenangan. "Putraku sudah besar! Putraku HEBAT! Mama senang!"

Pelukan yang erat itu terasa sangat mencekik Gilbert hingga ia tak mampu berkata apa-apa. Ibunya masih memeluk senang dirinya sambil terus berceloteh, "Terlebih lagi ternyata kau yang dibawah! Mama sudah menduganya dari dulu! Aaaaaaaahhhhhhh….Mama sangat senang sekali!"

"Siapa pacarmu? Seangkatanmu? Lebih tua? Atau lebih muda?" tanyanya antusias saat melepas pelukannya.

Gilbert hanya menghela nafas. Dia tahu ibunya akan bereaksi seperti ini dengan mengetahui bahwa ibunya termasuk golongan para kaum hawa yang menyukai percintaan sesama jenis laki-laki. Dia menjawab dengan kepala pusing, "Ini tidak hebat!"

Ibunya tersenyum ramah namun terasa aura memaksa seperti yang dirasakannya ketika dipaksa guru kesehatan itu. "Gil-bert, "katanya dengan perlahan. Menekan tiap kata yang diucapkannya, "Be-ri-ta-hu Ma-ma, Nak."

Meski disampaikan dengan senyuman dan nada ramah, naluri Gilbert tahu ada ancaman tersembunyi di sana. Tanpa basa-basi dia menjawab, "Di-dia bukan pacarku."

"Pacar orang lain? Kau jadi selingkuhan orang, Gil?"

"Tentu saja tidak! Itu tidak hebat!" Gilbert berharap ibunya puas dengan jawabannya. Namun, tentu saja itu hanya harapan kosong. Ibunya kembali bertanya, "Kau belum jadian dengannya?"

"Aku yang hebat ini mana mungkin menyukainya!"

Kini ibunya dilanda kebingungan. Dia tahu anaknya yang satu ini memang kasar, tapi dia bukanlah pembohong kelas atas. "Kau tidak menyukainya. Dia bukan pacarmu. Tapi kau membiarkannya merebut keperawananmu?"

Untuk pertama kalinya Gilbert kaget mendengar ibunya. Dia heran, darimana pula ibunya bisa tahu dia memang masih perjaka sebelum ini. Apa memang seorang ibu tahu segala hal mengenai anaknya? Pertanyaan ini masih merupakan misteri terbesar dalam hati seorang Gilbert Beilschmid.

"Ooh…Gil…malangnya dirimu nak," tiba-tiba ibunya membelai lembut kedua pipinya penuh sayang. Wajahnya menunjukkan keprihatinan pada putranya. Dia tahu kondisi putranya. Gilbert tidak menyukai orang yang melakukan ini kepadanya tapi dia masih membiarkan itu terjadi. Kemungkinan terbesar adalah putranya itu dipaksa diluar keinginan. Wanita Hungaria ini tahu kalau situasinya seperti itu, berarti itu adalah pengalaman mengerikan. Tidak hanya berlaku untuk perempuan. Bahkan laki-laki pun tentulah terpuruk jika mengalaminya. Dia mencium kening putranya setelah menyingkirkan rambut perak itu. Tanpa kata-kata, Gilbert tahu ibunya berusaha menenangkan perasaannya yang gelisah. Ia meyakini sepenuh hati bahwa ibunya itu memang paling hebat dari yang terhebat seperti dirinya.

Gilbert merangkul tubuh kecil ibunya ketika ia mendengar Sang Ibu bergumam, "Tapi…"

Mereka kini bertatapan, "Bukan berarti kau boleh bolos sekolah seenaknya, putraku yang malangnya hebat."

"Ha?"

Hanya dalam sekejap mata, piyama Gilbert telah ditukar dengan seragam sekolah oleh ibunya. Bukan itu saja. Dengan kecepatan cahaya, ibunya menyiapkan buku sekolahnya lalu menyeretnya keluar kamar sampai depan gerbang meski Gilbert masih dengan teguh berteriak tidak ingin ke sekolah. Di depan gerbang, ibunya melambaikan tangan memanggil taksi. Gilbert dilempar masuk ke taksi saat ibunya memberitahu supir arah sekolahnya. Di saat Gilbert menurunkan jendela untuk protes, ibunya mencium pipinya dan berkata, "Selamat belajar, Nak."

Terkesima sesaat, Gilbert tak sadar taksi sudah berjalan menuju sekolahnya.

Ibunya memang yang terhebat sedunia.

Gilbert meringis.

Remaja Prussia ini berjalan masuk ke gerbang sekolahnya dengan susah payah. Dia tergolong cukup tegar untuk anak seumurannya atas semua kejadian yang menimpanya. Di*piiiiiip* oleh gurunya sendiri diluar keinginannya. Tanpa memikirkan perasaannya. Dipaksa sekolah oleh ibunya sendiri diluar kemampuan jasmaninya. Tanpa memahami perasaannya. Mana ditambah analisis kuat Francis kalau dia tak akan bisa menang kali ini. Tanpa punya kekasih hati pula. Lengkap sudah deritanya sebagai seorang remaja berusia 17 tahun. Dia memandang langit cerah di atasnya. Hanya kelelahan yang dirasakannya. Ingin rasanya ia tidur di atas kasur seperti di ruang kesehatan. Tapi ia enggan bertemu guru Rusia itu.

"Kau tidak apa-apa, Gilbert?"

Suara lembut terdengar menyapa khawatir dari belakangnya. Gilbert menoleh. Mendapati seorang pria bertubuh tinggi menjulang yang selalu memakai syal warna pastel di lehernya. Rambut perak seleher yang jatuh lembut di wajah penuh senyum itu membuat bulu kuduk-nya berdiri seketika seolah hawa dingin mengerikan menghampirinya bersamaan datangnya pria dihadapannya ini. Guru kesehatan itu. Guru dari Rusia. Ivan Braginski. Baru saja dalam hati, Gilbert mengutuk kehadiran pria ini, sekarang sudah di depan mata. Gilbert yakin dia dipermainkan takdir.

"Kau tidak boleh memanggil aku yang hebat ini dengan akrab," jawabnya dingin.

"Bukankah kita sudah 'akrab', Gilbert?" Ivan tersenyum ramah yang selalu saja diikuti aura mengancam. Persis seperti ibunya.

"Cih! Itu tidak hebat!"

Ivan berdiri dekat Gilbert. Kali ini ia bertanya lembut, "Badanmu tidak apa-apa?". Betul-betul lembut. Membuat Gilbert yakin dia memang khawatir. Gilbert memalingkan wajahnya, "Apa pedulimu?"

Tak ada jawaban. Pria Rusia itu diam. Wajahnya serius. Dia telah dari tadi memperhatikan Gilbert berjalan dengan susah dan dia tahu itu semua karena dia terlalu memaksa kemarin. Ivan juga tahu belakang Gilbert pasti masih sakit dan juga lelah. Airmuka muridnya satu itu lebih pucat dari biasanya. Tanpa banyak kata, dia menyuruh Gilbert membawakan tas kerjanya.

"Hoi, kenapa aku yang heb-," Ivan langsung menaruh tangan kirinya di bawah kaki Gilbert mengangkat kedua kaki Gilbert sementara menopang bahu muridnya dengan tangan kanannya," waaaa!"

"Kalau kau tidak mau malu, pura-puralah pingsan," entah kenapa senyum guru kesehatan itu lain bagi Gilbert kali ini. Ini pertama kalinya ia digendong seperti ini. Tentu saja karena dia laki-laki, seharusnya perempuan yang digendong seperti ini.

Dia ingin berontak, namun kenyamanan yang diberikan membuatnya bungkam. Jujur, memang ia merasa sangat capek ditambah nyeri di bagian belakangnya membuatnya lelah secara fisik dan mental. Enggan mengakui, tapi tindakan gurunya menggendongnya ini membantunya merasa tenang. Gilbert memang tidak suka dirinya dipaksa kemarin oleh gurunya ini. Sungguh tidak berperikemanusiaan. Remaja Prussia yang digendong itu kini bisa menatap jelas gurunya itu. Ketika kemarin mereka melakukannya, mata Gilbert ditutup dengan dasi sehingga ia tak tahu bagaimana paras gurunya itu jika dilihat dari dekat. Ditambah, Gilbert langsung pergi keluar ruangan saat selesai.

Sekarang, ia memandang jelas.

Kulit gurunya itu begitu putih. Sangat putih. Lebih putih dari salju, mungkin. Rambutnya perak berkilauan di bawah sinar mentari. Mata dengan pupil berwarna ungu itu memandang mantap saat berjalan ke depan. Hidungnya mandung. Bibirnya. Wajah Gilbert memerah menyadari matanya berhenti di bibir itu. Bibir dengan warna pink pucat itu telah menciumnya. Bukan hanya di bibirnya. Tapi juga menikmati setiap inchi tubuh remajanya. Detik itu, dia bisa mendengar beberapa anak berbisik melihat dirinya digendong oleh guru kesehatan mereka. Maka, untuk menyembunyikan malu, dia menuruti perkataan Ivan. Gilbert menyandarkan kepalanya di pundak Ivan. Gilbert tahu pemandangan yang dilihat murid lain hanyalah seorang guru kesehatan menggendong muridnya yang sakit. Itu pemandangan yang wajar. Ia pun memejamkan matanya. Pura-pura pingsan meski jantungnya berdebar tidak karuan.

Gilbert berharap wajahnya tidak memerah.

.

TBC

.

.

.

.

.

Makasiiiihhh banyaaaaakkk sudah mau baca X))

Oh iya, untuk beberapa chapter ke depan, aku gak bahas SpaMano secara detail karena aku akan menceritakan dulu pairing lain. Mungkin aku hanya kasih 1 scene atau cuma deskripsi untuk ngasih tahu perkembangan mereka. SpaMano akan dibahas tuntas sebagai ending. Dan mohon maaf untuk fans GerIta, aku memasukkan GerIta hanya sebagai selingan. Jadi, mungkin tidak akan terlalu sering tampil. Mohon maaf *sujud*

Jika ada yang ingin disampaikan, apapun itu akan aku terima. Semoga pembaca sekalian masih mengikuti fic ini sampai ke depan. X))

Maaf Silan, jika chapter ini juga pendek X'(
*aku cepat bosan nulis yang panjang-panjang. gak sabaran**ngeles!*

Tambahan : Fujoshi Anonim : Makasih juga masih ngikutin dan uda mau review X) Haha...gak tahu ya uda jatcin apa belum si Gilbert-nya. Chapter depan dikasih lihat kok dibawa kemana^^ Makasih supportnya X) Heeemmm...apa RussPruss selangka itu ya? Masa'?

Icha desu : Makasih uda mau baca dan review. Diusahakan update cepet ^^