Disclaimer: Kubo Tite-sensei.

Character: IchiRuki.

Author: Rukii Nightray.

Fantasie Improptu

~Nocturnes Op. 3~

Debur laut terdengar lembut.

Angin sepoi-sepoi menghantarkan gugusan awan.

Di pinggir laut, tanpa seorang pun... di hamparan waktu yang terbentang.

Berdiri terdiam... akankah kau dapat mengerti apa yang kurasakan?

...

Air mataku telah lama menghilang.

Jika aku dapat menangis.

Itu akan menjadi air mata kebenaranku.

Dari hatiku...

...

"Apakah... aku harus mengatakan pada mereka bahwa... aku bisa melihat kematian seseorang?"

"Apa... maksudmu...?" ujar Ichigo akhirnya setelah mereka lama terdiam. Otak Ichigo berputar-putar. Ia tidak mengerti akan apa yang Rukia katakan. Apakah Rukia berbicara menggunakan bahasa lain? Tidak... tidak... itu jelas-jelas bahasa jepang. Mereka masih dalam satu bahasa.

Lalu apa? sel di otak Ichigo sudah terputus? Sehingga ia tidak dapat mengirimkan impuls dari pendengarannya ke otak untuk ia cerna? pikir Ichigo skeptis.

Rukia terdiam. Ada rasa penyesalan di wajahnya karena ia telah terlalu mengharapkan Ichigo untuk dapat memahaminya.

"Hufff..."

Rukia menghela napas panjang. Memperbaiki posisi duduknya. Ia menegakkan tubuhnya, melemaskan jari-jarinya. Dan kemudian mulai memainkan jari-jarinya itu di atas tuts-tuts piano. Rukia memejamkan matanya. Ia sudah tidak membutuhkan partitur itu lagi. Ia sudah hapal. Nada-nada 'Waltz in a Minor' kembali mengalun dengan indahnya...

"Dulu... Ibuku pernah mengatakan padaku bahwa aku adalah anak yang istimewa. Aku telah mewarisi darahnya yang berbakat musik. Dapat memainkan piano. Aku sangat bahagia saat ia berkata seperti itu padaku. Aku sangat bersemangat dan latihan setiap hari bersamanya. Apalagi saat ia berkata bahwa ia akan selalu menyayangi dan mempercayaiku" ucap Rukia dengan nada yang datar setelah ia selesai memainkan lagu 'Waltz in a Minor'. Ia memutar posisi tubuhnya lagi menghadap Ichigo.

Ichigo pun mengambil kursi di dekat pintu dan membawanya ke hadapan Rukia. Sekarang mereka telah duduk berhadap-hadapan dan Ichigo... telah siap mendengarkan semua uraian panjang dari Rukia yang bahkan mungkin hanya di dengarnya sekali seumur hidup. Ichigo memasang wajah serius dan memfungsikan pendengarannya sebaik mungkin.

"Tanpa kusadari, ternyata aku mempunyai naluri titi nada mutlak. Yaitu kemampuan untuk mengingat dan mengetahui segala macam bentuk nada. Sehingga aku dapat begitu mudahnya mempelajari semua partitur-partitur musik. Dan itu semua... hanyalah cerita pembuka dari sebuah opera kematian yang selalu mengusikku."

Rukia diam sejenak dan menundukkan kepalanya. Wajahnya yang bagai bunga lilac, tertutupi sebagian oleh rambut sebahunya yang berwarna hitam legam. Bagaimanakah ekspresi Rukia saat ini? Itulah yang sekarang ini sedang dipikirkan oleh Ichigo.

"Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Kenapa... saat itu aku tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini?"

"Hubungan ayah dan Ibu tidak begitu baik. Mereka saling berlawanan. Ayah dengan perusahaannya dan Ibu dengan musiknya. Mereka selalu bertentangan. Dan... entah sejak kapan aku bisa membaca pikiran kedua orang itu setiap mereka sedang bertengkar"

Ichigo tertegun. Rukia bisa membaca pikiran orang lain? Jadi apa yang selama ini ia analisis tenyata benar? Rukia seorang ahli intuisi? Jangan-jangan Ichigo juga bisa membaca pikiran orang lain? Yang ini jelas tidak mungkin. Apakah sekarang Rukia sedang membaca pikirannya?

"Tenang saja. Aku tidak akan melakukannya. Aku takut. Lebih baik kita tidak mengetahui apa yang memang seharusnya tidak kita ketahui." ujar Rukia masih dengan kepala yang tertunduk. Ichigo tekejut. Benarkah ia tidak membaca pikiran Ichigo?

"Aku bersuara. Dan mengatakan apa yang terbaca di dalam pikiranku. Hal itu tentu saja membuat mereka tidak senang. Dan mereka terus mendesakku dengan ego mereka masing-masing. Ayah memaksaku untuk belajar dengan keras dan Ibu memaksaku untuk terus bermain musik."

"Suatu hari aku mendengarkan Ibu memainkan 'Fantasie Improptu karya Frederic Chopin. Begitu indah. Dan aku sangat menyukai suaranya. Membuatku ingin memainkannya. Aku ingin mencobanya. Saat itu, hanya hal ini yang memenuhi kepalaku."

"Ayah dan Ibu sedang tidak ada di rumah. Dan itu adalah kesempatanku untuk mencobanya. Aku pun memainkannya. Tanpa partitur, aku hanya mengandalkan ingatanku dan bayangan pendengaranku. Inilah salah satu kemampuan seseorang yang mempunyai naluri titi nada mutlak. Saat aku memainkannya, aku seperti terhipnotis. Pandanganku kabur. Dan saat kusadari aku sudah berada di sebuah ruang hampa yang begitu gelap. Disana... aku melihatnya. Aku bisa membacanya. Aku bisa mendengarnya. Dan aku bisa merasakannya. Semua ketakutan dan kronologis kejadian menjelang kematian Onee-chan."

"Eh? Kau punya kakak perempuan?" tanya Ichigo. Rukia mengangguk pelan.

"Aku berusaha memberitahukannya pada mereka. Tapi yang percaya padaku hanya nii-sama. Mereka berdua memarahiku dengan menuduhku bahwa aku menginginkan Onee-chan meninggal. Padahal, aku hanya berusaha mengatakan apa yang kulihat, apa yang akan terjadi. Karena... aku sangat takut kehilangan Onee-chan."

"Aku benar-benar takut dan tidak tahu harus bercerita pada siapa. Nii-sama, satu-satunya orang yang mempercayaiku, tunduk pada kuasa ayah dan lebih memilih menghindariku. Akhirnya aku pun mencurahkannya pada permainan pianoku."

"Saat aku memainkannya. Memainkan 'Fantasie Improptu'. Satu-satunya lagu yang bisa kumainkan saat itu. Bayangan akan kematian Onee-chan semakin jelas dan terus menyelimutiku. Dan semakin nyata, ketika mendekati waktu kematian Onee-chan."

Rukia diam lagi. Ia menelan ludah, begitu pun Ichigo. Mendengarkan masa lalu Rukia terdengar aneh bagi Ichigo. Bagaimana bisa kemampuan bermusik yang begitu hebat akan menjadi sebuah opera kematian yang akan selalu mengusiknya?

"Onee-chan pun meninggal sambil tersenyum padaku. Aku menangis di sisinya dan meminta maaf atas ketidakberdayaan diriku. Tapi ia tidak bereaksi. Padahal aku tahu, Onee-chan tidak menyalahkanku. Sesaat sebelum ia menghembuskan napasnya yang terakhir, ia menatapku dan tatapannya itu mengatakan 'aku bangga padamu, kau benar, aku tahu bahwa kau tidak mungkin berbohong'. Aku bersyukur mendengarkan kata-kata terakhirnya yang hanya bisa dibaca olehku itu."

"Setelah itu, Ibu berencana pergi ke Perancis karena seorang konduktor terkenal mengajaknya untuk bermain di orkestranya sebagai pemain piano tunggal. Sehari sebelum keberangkatan Ibu ke Perancis, tiba-tiba saja aku melihat bayangan Ibu di mataku semakin menjadi tipis. Kukira saat itu aku memang sedang sakit, sehingga kubawa saja diriku untuk tidur lebih cepat. Tapi ternyata, malamnya aku bermimpi tentang kematian Ibu. Pesawat yang dinaikinya meledak dan seluruh penumpangnya tewas."

"Tiba-tiba saja aku terbangun dan tubuhku bergerak sendiri. Bergerak untuk memainkan 'Fantasie Improptu' di tengah malam. Aku tidak tahu. Segalanya terjadi tanpa keinginanku. Dan penglihatan itu pun semakin jelas. Penglihatan tentang kematian Ibu. Sama seperti saat aku mengetahui kematian Onee-chan."

"Paginya, dengan sekuat tenaga aku membujuk Ibu untuk membatalkan kepergiannya ke Perancis. Aku takut. Tubuhku gemetar saat mengatakan semua yang kualami malam itu. Aku benar-benar takut. Tapi Ibu... mengacuhkannya, ia hanya menganggapku bermimpi. Semua kenyataan itu."

"Tubuhku lemas. Aku tidak bisa meyakinkannya. Sekeras apapun aku memanggil namanya agar ia menoleh dan berhenti untuk melangkah, tapi hal itu tidak terjadi. Dia hanya tersenyum. Aku tidak bisa mencegahnya. Mencegah kematian itu. Sementara itu, aku bisa melihat shinigami di sebelahku tertawa menyeringai. Seolah-olah mengatakan bahwa aku tidak akan menang dari takdir."

Tubuh Ichigo merinding. Ia seperti tersengat sebuah kenyataan yang begitu menyesakkan dadanya. Darahnya mengalir semakin cepat. Dan degup jantungnya berdetak kencang tak bisa dihentikan.

"Rukia..."

"Setelah itu... aku tidak bisa mencegah sistem penglihatanku untuk mengetahui apa yang seharusnya tidak boleh diketahui. Terus-menerus. Mata ini terus-menerus memperlihatkan bayangan orang-orang yang semakin tipis. Orang-orang di sekitarku. Dan aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak mungkin bisa mengatakan pada mereka secara langsung, bahwa mereka akan segera mati. Karena... shinigami itu selalu mengawasiku. Mereka melarangku untuk mengatakannya. Mereka selalu dapat mengunci kata-kataku. Sehingga... aku tidak bisa mencegah kematian teman-temanku sendiri."

Pasti yang dimaksud Rukia saat ini adalah Soifon. Begitu besar rasa bersalahnya karena kemampuannya itu. Sebuah kemampuan misterius yang direalisasikan dari sebuah bakat bermusik yang kemudian bertranslasi menjadi sebuah kemampuan berinstitusi yang sangat tajam. Sebuah kemampuan mengerikan. Dapat mengetahui kematian orang lain. Siapapun pasti tidak akan mampu berlama-lama dengan kemampuan yang mengirimkan mimpi buruk tentang kematian seseorang setiap malam. Benar-benar sebuah opera kematian...

"Rukia... aku... sama sepertimu. Tidak bisa melakukan apapun walaupun kau sudah menceritakan semua itu padaku. Aku bukan seorang ahli psikologi ataupun seorang esper. Tapi setidaknya... sekarang kau bisa membagi semua penderitaan yang telah membelenggumu selama ini. Padaku. Dan aku percaya. Karena aku tahu lebih dari siapapun bahwa... suara alunan nada yang kau mainkan itu bukanlah sebuah kebohongan." ucap Ichigo sambil menatap sendu Rukia yang masih menundukkan kepalanya. Merasa diperhatikan. Rukia pun mengangkat kepalanya, menatap lurus ke mata Ichigo. Tiba-tiba saja Ichigo tersadar dan merasa malu dengan apa yang baru saja diucapkannya.

"Bu... bukannya aku... itu bagaimana ya... anu..." ujar Ichigo tidak jelas sambil mengalihkan pandangannya ke segala arah. Penyakit gugupnya saat ditatap oleh Rukia dengan mata violetnya itu kambuh lagi. Wajah Ichigo sedikit memerah. Ia menggaruk-garukkan kepalanya, bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

Rukia tercengang. Belum ada yang berkata seperti itu padanya. Selama ini Rukia selalu takut untuk mengatakan tentang kenyataan yang ada pada dirinya. Ia takut diacuhkan dan tidak dipedulikan. Tapi kali ini, dengan mudahnya Ichigo menerimanya. Percaya padanya.

"Terima kasih, Ichigo..." ucap Rukia akhirnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya menggenggam rok yang dikenakannya kuat-kuat. Tubuhnya gemetar. Jelas terlihat bahwa Rukia sedang menahan tangisnya. Tangis yang selama ini telah menghilang dan terkubur oleh ketakutan yang amat sangat.

'Puk, Puk!'

"Sama-sama." balas Ichigo sambil menepuk-nepuk kepala Rukia yang hangat. Pikirannya pasti sangat kacau sehingga kepalanya terasa begitu hangat. Panas karena telah diintruksikan untuk beroperasi dalam rangka berpikir begitu keras. Ichigo pun mengalihkan pandangannya.

Ia tidak sanggup... melihat wajah Rukia yang tersapu cahaya matahari senja itu sedang tersenyum sambil menatap dirinya...

...

Rumah kediaman Kuchiki begitu sepi. Hanya memperlihatkan sebuah sosok kesepian yang disinari cahaya bulan dalam sebuah belenggu masa lalu. Baik itu Rukia maupun Byakuya. Padahal rumah itu begitu besar. Rumah dengan gaya jepang kuno seperti di film-film 'shinsengumi', tapi dengan penambahan sedikit unsur modern.

Dan sekarang, di rumah itu, Rukia dan Byakuya hanya tinggal berdua dengan beberapa orang pelayan. Ayah mereka adalah seorang direktur perusahaan yang sangat sibuk dan jarang sekali pulang ke rumah. Jadi, sejak kecil mereka berdua sudah terbiasa dengan suasana rumah seperti ini.

Jika di rumah, Rukia dengan sekuat perasaannya menahan keinginannya untuk bermain musik. Mungkin karena pengaruh naluri titi nada mutlak itu, Rukia jadi ingin selalu untuk memainkan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano. Entah itu hanya sekedar memainkan 'Neko Funjatta' atau 'Fur Elise'. Maka dari itu, Rukia lebih senang bersekolah, dengan begitu ia bisa bermain piano sepuasnya di ruang musik.

"Rukia... besok kita harus kembali ke rumah sakit." ucap Byakuya tiba-tiba dengan suara yang tegas dari balik pintu kamar Rukia. Byakuya tidak mau masuk ke kamar adiknya itu karena ia adalah orang yang sangat menghargai privasi siapapun.

"Aku mengerti nii-sama." jawab Rukia dari dalam dengan suara yang pelan. Ia sedang duduk di atas kasurnya. Bermain-main dengan kelinci putih peliharaannya yang ia temukan di taman dekat sekolah. Suara lonceng yang mengikat di leher kelinci putih itu terdengar bergemerincing karena si kelinci bergerak-gerak tidak bisa diam di atas pangkuan Rukia.

"Rukia... kau masih mengingat kata-kataku kan? Kau tahu apa akibatnya jika kau tidak mematuhinya?" kata Byakuya lagi dengan nada suara yang agak menekan. Rukia tahu, itu artinya, ia harus mematuhi perkataan kakaknya dan tidak boleh melanggarnya.

"Aku tidak boleh bermain piano dan terlalu sering menggunakan kekuatanku karena itu akan semakin mempengaruhi kesehatanku." jawab Rukia datar seperti seorang murid teladan yang sedang menjawab pertanyaan dari gurunya.

Setelah itu suara Byakuya tidak terdengar lagi. Yang terdengar hanya suara langkah kaki yang mulai menjauh.

Rukia bangkit dan melepaskan kelincinya di atas tempat tidur. Kelinci putih itu diam dan hanya menggerak-gerakkan telinganya seolah ia sedang mengaktifkan sinyal untuk berusaha mengerti apa yang akan dilakukan oleh tuannya.

Rukia berjalan. Berhenti dan berdiri di hadapan sebuah cermin besar yang ditutupi sehelai kain putih. Ia takut pada cermin. Dan segala yang dapat memperlihatkan sosok dirinya sendiri. Tubuhnya gemetar di hadapan cermin yang tertutup itu. Akankah suatu saat... ia melihat bayangan dirinya sendiri semakin menipis?

...

Pembicaraan dengan Rukia kemarin, bagi Ichigo masih terasa bagaikan sebuah mimpi. Mimpi yang begitu aneh, tetapi tidak membuat Ichigo gentar untuk kembali mengingatnya. Sore itu, adalah sore yang harus dicatat di dalam buku sejarah perjalanan hidup seorang Kuchiki Rukia. Untuk pertama kalinya, Ichigo mendengar Rukia berkata begitu banyak, bahkan menguraikannya secara rinci. Seperti seorang mahasiswi yang sedang presentasi untuk ujian akhir di depan dosennya. Saat itu, Ichigo telah mengetahui salah satu sisi lain dari Rukia.

Selama ini, Ichigo hanya menganggap Rukia sebagai seorang gadis pendiam dan eksentrik dengan raut wajah yang selalu datar. Tanpa ekspresi sedikit pun. Tapi kemarin, Ichigo mendapat sebuah kejutan. Hadiah dari langit. Senyum Rukia yang begitu lembut bagaikan sebuah sengatan listrik berjuta-juta volt untuknya. Padahal senyumnya tidak begitu terlihat karena hanya sebuah senyuman tipis.

Bagi teman-teman Ichigo sendiri, terutama teman dekat Ichigo -karena mereka memang selalu mendekati Ichigo- Asano dan Ishida, Ichigo telah sedikit berubah. Terutama karena sikapnya yang begitu berbeda pada saat pelajaran musik. Biasanya, saat pelajaran musik, Ichigo selalu malas dan merasa tidak tertarik. Tapi kali ini, Ichigo sangat bersemangat. Mempelajari setiap nada. Menghafal nama-nama dinamika dan tempo yang sangat sulit diucapkan. Dan mendengarkan baik-baik sejarah musik ketika Juushirou Ukitake-sensei sedang menjelaskannya.

Ishida beranggapan bahwa neurotransmitter di otak Ichigo telah kembali berfungsi dengan baik.

Asano beranggapan bahwa Ichigo telah terkena feromon mengerikan yang dikeluarkan oleh sang adik ketua osis yang misterius itu, Kuchiki Rukia. Dari cerita Ichigo sendiri, ia tahu bahwa Kuchiki sangat berpengetahuan luas tentang musik. Dan hal itu telah cukup membuktikan teorinya yaitu 'Ichigo yang sekarang telah bertransformasi menjadi Wolgang Amadeus Mozart'.

Sedangkan Orihime, yang sudah sejak kelas 2 SMP sekelas dengan Ichigo. Merasa bahwa Ichigo telah berubah jauh dari imagenya selama ini. Cuek dan tidak begitu peduli pada sekitar. Ichigo yang sekarang telah bereinkarnasi menjadi seorang pemuda yang lebih sering tersenyum dan sedikit terbuka. Apakah begitu besar pengaruh Kuchiki Rukia dalam hidup Ichigo?

Orihime penasaran. Ia ingin tahu langsung dari Kuchiki. Apakah Kuchiki penyebab Ichigo menolaknya? Mengapa? Padahal Orihime sudah begitu percaya diri. Hatinya begitu sakit saat itu.

Tapi ia juga tidak begitu yakin akan bisa mendekatinya. Kuchiki Rukia terkenal sebagai gadis pendiam dan eksentrik yang punya selubung tidak terlihat. Di selubung itu, terdapat segel yang bertuliskan 'jangan mendekat!'. Mungkin begitu jika ingin dideskripsikan.

Orihime teringat akan sesuatu dan ia pun kembali percaya dan yakin. Ia mengambil udara luar sekuat-kuatnya dan kemudian menghembuskannya perlahan. Ia lupa bahwa ia telah punya kartu As yang dapat memaksa Kuchiki untuk berbicara dengannya. Mau ataupun tidak mau. Suka ataupun tidak suka.

Tapi... apa yang harus ia katakan pertama-tama?

...

Rukia lagi-lagi tidak masuk sekolah. Padahal Ichigo ingin meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas pelajaran musik bersama-sama. Ichigo masih tidak bisa membedakan antara nada 'Fa' dengan 'Si' bahkan 'Do' dengan 'La'. Maklum saja, Ichigo tidak diberkahi naluri titi nada mutlak seperti Rukia.

Ichigo pun pulang ke rumah lebih cepat. Karena memang tidak ada yang harus ditunggunya.

Langkah Ichigo terhenti di depan lampu hijau. Persimpangan berdarah. Dada Ichigo menjadi sesak jika kembali mengingat kejadian mengerikan itu. Adakah jalan pintas lain menuju rumahnya? pikir Ichigo sambil mengingat-ngingat.

Ichigo melamun sambil menunggu lampu berubah warna menjadi hijau. Tiba-tiba saja, Ichigo melihat sosok perempuan di seberang trotoar tempatnya berpijak, mata Ichigo terbelalak melihatnya. Rambut sebahu itu... mengingatkannya pada seseorang. Tidak salah lagi! itu pasti Rukia!. Tapi... ia mengenakan pakaian bebas, bukan seragam sekolah Karakura High School. Pakaian terusan itu polos dengan sedikit corak dan warna hitam yang dominan. Bagian bawahnya berkibar-kibar ditiup angin. Rambutnya khasnya bergerak-gerak dihembus angin, ia melangkah di bahu jalan meninggalkan trotoar sambil menunduk. Ichigo pun segera memanggil namanya "Rukia!" ia tak menoleh. "Rukiaa!!!" teriak Ichigo sekali lagi. Tapi Rukia masih tidak berpaling. Hal itu pun membuat Ichigo berlari mengejarnya segera setelah lampu berubah warna.

Langkah Ichigo tertahan karena tiba-tiba saja seekor kelinci putih berlonceng menghalangi jalannya. Kelinci itu duduk diam di depan kaki Ichigo. Dan mata bening kelinci itu menatap matanya. Seperti sedang mengajak Ichigo untuk berkomunikasi.

Bukankah ini kelinci peliharaannya Rukia? batin Ichigo sambil menatap ke bawah, menatap kelinci itu dengan pandangan yang aneh. Kenapa bisa ada seekor kelinci disini?

Ichigo pun segera teringat pada Rukia dan kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Begitu terkejutnya dia...

Sosok Rukia telah menghilang. Yang sekarang ada di hadapannya adalah sebuah ruang hampa berwarna hitam. Bukan persimpangan berdarah itu. Ichigo memutar pandangannya, tapi yang terlihat hanyalah warna hitam. Ada dimana dia? kemana perginya semua orang yang berlalu lalang tadi? Dan kemanakah Rukia?

Tiba-tiba saja Ichigo merasa ada seseorang yang menyentuh bahunya dari belakang. Dengan spontan, Ichigo pun membalikkan badannya. Rukia. Kini ia berdiri di hadapannya.

Rukia menatap kosong pada Ichigo. Tidak lama setelah itu, bibirnya bergerak-gerak perlahan. Seperti mengucapkan sesuatu.

"Apa?" tanya Ichigo tidak mengerti. Ia tidak mendengar apapun. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir Rukia. Apa yang ia ucapkan?

"Aku tidak bisa mendengarnya Rukia." ujar Ichigo pada Rukia. Tapi Rukia tidak menanggapinya. Bibirnya terus bergerak-gerak. Semakin lama, kata-katanya mulai tersendat-sendat. Rukia memegang lehernya. Seolah-olah kerongkongannya seperti tercekat. Raut wajah Rukia kini pun mengisyaratkan sebuah rasa sakit. Ia seperti menahan sesuatu. Entah apa itu.

"Ichi... go."

Ichigo hanya bisa mengerti satu penggal kata itu. Satu penggal kata yang mengartikan identitas dirinya, yang diucapkan Rukia dengan usaha yang begitu keras sementara sosoknya perlahan semakin menghilang bersama angin dan sekarang sudah lenyap dari hadapan Ichigo.

"Rukiaaa!!!!"

"Hei! Kau tidak apa-apa Ichigo?" tanya Asano sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ichigo. Tubuh Ichigo berkeringat dan jantungnya berdegup sangat cepat. Asano pun memegang erat bahu Ichigo. Ishida yang berdiri di sebelahnya menatapnya khawatir.

"Apa yang terjadi padamu Ichigo?" tanya Ishida padanya, tapi Ichigo tidak menanggapinya. Ichigo melihat keadaan di sekelilingnya. Ia berada di pertokoan Karakura. Ichigo bisa melihat... banyak orang yang berlalu lalang dan mereka semua... menatap heran pada mereka bertiga.

'Mimpi...?' batin Ichigo terkesiap.

"Kenapa... kita ada disini?" tanya Ichigo akhirnya setelah bisa mengatur napasnya. Kedua temannya itu saling pandang dan kemudian mengedikkan bahu.

"Kau lupa? Kita bertiga akan pergi ke toko kue, Ishida akan mentraktir kita. Tapi tiba-tiba saja kau berteriak dan pingsan di depan toko musik ini." jawab Asano akhirnya sambil menatap temannya itu khawatir.

"Oh ya... aku ingat." gumam Ichigo dengan nada skeptis. Apa benar begitu? Atau ini juga adalah mimpi yang lain?

"Anak muda! Kalian bertiga tidak apa-apa? temanmu itu sepertinya sedang tidak sehat?" tanya seorang bapak-bapak berusia sekitar 50 tahunan yang keluar dari toko musik di depan mereka. Toko musik itu bergaya Inggris kuno dan terlihat sangat antik. Ishida pun menghampiri bapak-bapak itu untuk menjelaskan keadaannya.

Sayup-sayup... Ichigo seperti mendengar sebuah alunan permainan piano. Entah mengapa, dirinya tiba-tiba menjadi merinding. Ia teringat, musik inilah yang sedari tadi telah di dengarnya. Dan... suara musik itu berasal dari toko bergaya Inggris kuno di depannya ini...

Dengan tergesa-gesa Ichigo pun menghampiri si bapak-bapak itu. Membuat Ishida yang sedang bicara dengan bapak-bapak itu terkejut atas kehadiran Ichigo yang tiba-tiba.

"Pak, musik itu! Siapa yang sedang memainkannya?!"

Si bapak pun terdiam sejenak. Kaget karena pertanyaan Ichigo yang diucapkannya dengan volume yang begitu keras. Bahkan, Ishida yang berdiri di sebelah bapak itu pun sampai menutup telinganya. Dan orang-orang di sekitarnya menoleh padanya.

Tapi dengan suara yang begitu lembut si bapak menjawab...

"Oh... itu suara dari piringan hitam nak... 'Fantasie Improptu karya Frederic Chopin' kau tahu itu nak?"

...

-tsuzuku-

Huaaaaaa!!! Nocturne Op. 3 seeelesaaai!!! Gomenasai~ karena keterlambatan update. Maklum, author masih pelajar SMA... jadi banyak tugas menumpuk dan waktu untuk mengerjakan lanjutan fic pun sedikit^^ tapi... pasti di update kok...

Ada yang tahu tidak Onee-channya Rukia disini siapa? Yup, benar! Hisana-san. Tadinya sempat ragu juga mau memasukkan Hisana ke cerita karena di sini ia harus bersaudara dengan Byakuya *padahal di skenario asli milik Kubo Tite-sensei mereka suami-istri loooh...* hahaha XP dasar Author aneh! Tapi kalau kalian senang, apapun akan author lakukan! Bahkan menjadikan Yumichika sebagai ayahnya Rukia khu khu khu ;p *tapi author nggak berani, takut dihajar ama kubo-sensei sekaligus penggemar Rukia*

Nah, bagaimana cerita kali ini? Apa kalian suka? Atau makin aneh? Tetap ditunggu reviewnya yaaa... untuk yang sudah mereview dan sampai sekarang masih mengikuti cerita ini... author ucapkan 'Hontou ni arigatou...' pujian, dukungan bahkan kritikan kalian sangat berguna bagi author *terharu mode: on* huhuhuhu T.T

Jaa mata nee... (/--o--)/