Blood
Rate: M karena adegan darah atau yang lainnya
Naruto dkk Milik Masashi Kishimoto
Warning : OOC, alur maju mundur
Chapter 3
Hinata POV
Aku takut Toneri-kun..
Seandainya aku tidak pergi menemuinya,
Seandainya aku sempat membalas perasaanmu padaku,
Mungkin rasa penyesalan ini akan berkurang meski sedikit,
"Aku mencintaimu Hinata, tidak peduli kapan kau akan mulai mencintaiku"
Seandainya..
"Hiksss..."Aku berusaha mengabaikan rasa sakit di bibirku yang entah sejak kapan terluka. Kaki telanjangku melangkah di atas karpet tosca ,terus melangkah sampai kaki dan seluruh tubuhku merasakan hawa dingin di balkon kamar ini, aku melihat ke bawah sana, terlihat jauh yang dapat dipastikan seseorang pasti meregang nyawa jika terjatuh dari atas sini, perlahan aku menapakan kakiku di pagar batu yang ada di balkon.
Kami-sama, maafkan aku...
Brakkk
Kulihat dengan jelas Sasuke yang baru saja membanting pintu kamar, membuatku sedikit terkejut dan..
Ssshuuu
Kupejamkan mataku dan sangat terasa gravitasi menarik tubuhku kebawah, mungkin inilah akhir hidupku..
greb
Perlahan kubuka pelupuk mataku, siapa laki-laki ini? Kenapa aku berada di pelukannya? yang lebih tidak masuk akal dia memiliki sepasang sayap putih besar , tanpa sadar tanganku meraihnya, terasa lembut seperti bulu kelinci,Ini bukan mimpi!
"Lepaskan dia!"
Aku segera tersadar dari fikiranku sendiri, aku melayang di udara bersama laki-laki bermata jade yang tengah menatap tajam ke arah Sasuke yang berada di balkon. Tidak berapa lama setelah saling tatap, betapa terkejutnya aku melihat Sasuke tiba-tiba saja memiliki sayap yang tidak kalah besar dan berwarna merah darah. Kepalaku terasa begitu berat-
XXX
Udara sejuk bercampur aroma hidangan menyapa indera penciumanku, setelah aku terbangun di kamar yang didominasi warna putih ini aku menapakan kakiku di atas matras dan berjalan ke arah pintu,
Krekk
"A-, dimana aku?"Aku tergagap setengah mati saat seorang laki-laki tampak bertelanjang dada membuka pintu dan berdiri satu meter saja dari hadapanku, matanya meraih lavenderku mengisyaratkan bahwa dia ingin menunjukkan sesuatu,
Aku mengekori langkah laki-laki berambut merah yang terhenti di ruang makan, terlihat dari semua makanan yang tertata rapi di atas meja, dia menarikan kursi yang berada di hadapanku dan mempersilahkan aku duduk. Akhirnya kami menyantap sarapan tanpa berbicara satu sama lain, setelah selesai pun hanya terdengar suara jam berdetik,
Aku segera berdiri hendak membersihkan peralatan makan , tetapi beberapa 'maid' segera datang setelah laki-laki itu menekan sebuah tombol di atas meja makan. Laki-laki itu berdiri den memberitahuku agar aku mengikutinya, kami berjalan menaiki anak tangga, setelah itu terlihat dua pintu di sebelah kanan dan kiri sedangkan di depan sana terdapat balkon.
"Kita pergi setelah ini"
Aku membalas kalimatnya dengan tersenyum kikuk, Kami memasuki ruangan yang ada di sisi kanan, ruangan ini sangat luas dengan ratusan bahkan ribuan buku yang tertata rapi, di tengah ruangan terdapat sebuah meja kerja dengan beberapa tumpukan buku di atasnya.
Normal POV
Saat laki-laki itu berjalan ke sudut ruangan, Hinata mendekati meja kerja dan membuat tangannya memperhatikan bentuk beberapa buku di atas meja. Sebuah gulungan merah membuat jemari Hinata bergerak perlahan membuka gulungan kertas yang terlihat lusuh itu.
Busss
Entah angin darimana saat dirinya membuka gulungan lukisan yang hanya setengah, memaparkan lukisan seorang gadis yang tengah memandang seseorang.
"...kau masih dirimu..."
Hinata mengerjapkan pelupuk matanya dan segera memangku kepalanya, wajah gadis dalam pikiran nya tadi tergambar jelas dalam lukisan itu. Dengan pakaian sederhana, riasan alami,
"Kenapa wajahnya mirip denganku? Siapa maksudnya "kau masih dirimu?" Ujar Hinata tetap memandang lekat lukisan itu.
Lagi-lagi Hinata merasakan kepalanya berat, bayangan sekilas tadi kembali berlanjut seakan-akan Hinatalah yang berada di posisi gadis berkimono itu. Menangis tersedu dalam dekapan laki-laki yang terlihat seperti kekasihnya, perlahan gadis itu mendongak hendak memandang wajah sang laki-laki-
"Kau baik-baik saja?"Ujar suara baritone menyadarkan Hinata.
"A, i, iya"
Hinata membalas singkat sembari menunduk setelah melepas lukisan yang akhirnya terjatuh di atas matras. Pria itu segera mengambil lukisan itu dan tersenyum ke arah Hinata,
"Sepertinya aku melupakan sesuatu, kau bisa memanggilku Gaara"
"Gaara?"cicit Hinata.
Gaara tersenyum manis sembari memandang lavender Hinata, sedangkan Hinata terlihat sedikit bingung,
"Gadis dalam lukisan ini yang memberikan nama itu padaku dan kau bisa mempercayaiku Hyuuga Hinata"
Hinata menelan kembali pertanyaan yang sudah di ujung lidahnya, seketika perasaan sudah lama mengenal laki-laki yang bernama Gaara itu menghinggapi perasaannya. Setelah menaruh lukisan itu Gaara segera menarik pergelangan tangan Hinata perlahan untuk mengimbangi langkahnya.
Berjalan menelusuri apartemen mewah , menuruni tangga, melewati beberapa ruangan, langkah mereka segera terhenti di garasi mobil. Gaara membuka pintu mobil sport-nya mempersilahkan Hinata lebih dulu,
Dalam perjalanan
"Em, Gaara-san, malam itu.."
Gaara mengarahkan pandangannya pada Hinata sembari menaikkan sebelah alisnya,
"Ti-dak perlu di jawab Gaara-san"
"Tidak masalah"Balas Gaara cepat segera memberikan sebuah buku catatan yang ada di laci mobil pada Hinata.
Hinata memandang buku usang dalam tangannya, saat membuka lembaran pertama buku, lagi-lagi gadis dalam lukisan itu tergambar disana.
Sreet
"Dia bilang akan ada reinkarnasi diriku"
"Hai reinkarnasi ku? , hanya kau dan aku yang bisa membuka lembaran buku ini"
"Aku memang sudah meminta siapapun membuka buku ini, tapi hasilnya nihil, ternyata hanya aku"
"Buku ini diberikan oleh malaikat bersayap putih, aku memberikannya nama"
"Namanya Gaara, semoga diriku bisa bertemu dengannya lagi"
"Dia menghilang setelah memberitahuku ramalan itu, kenapa?"
"Ramalan bahwa aku akan segera mati ".
Setelah kalimat itu, tidak ada lagi goresan di atas kertas usang itu, kepala Hinata semakin djpenuhi pertanyaan tentang siapa sebenarnya gadis itu, dan masih banyak lagi.
XXX
Gaara POV
Rsanya aku tidak pernah menyesal menyalahi takdirku karena sekarang aku kembali melihat wajahnya. Aku bahkan pernah dihukum ratusan tahun hanya karena menguak waktu kematiannya, kali ini tidak akan kubiarkan siapapun menyentuhnya.
Aku hanya berdiri sembari memandangi punggung gadis indigo yang tengah duduk di atas kursi batu sembari berduka di atas pemakaman laki-laki bernama Toneri. Aku mendengar suara air matanya jatuh di atas tanah, padahal tubuhnya tidak bergetar.
"Aku masih bersamamu"Ujarku sembari memeluknya dari belakang.
"Hiks..,a-ku..membuat kesalahan.."
"Aku menyia-nyiakanmu.."
"Maafkan aku.."Hinata mengepal erat tangannya sendiri sembari menangis terisak.
Aku hanya diam seribu bahasa , aku membantunya berdiri dan berjalan menuju mobil mengingat hari sudah mulai senja. Hinata terlihat sedikit tenang saat dirinya sudah duduk di kursi sebelah kemudi, Ferrari Enjo-ku melaju perlahan dengan jendela yang sedikit diturunkan membuat suasana lebih rileks. Aku memberhentikan mobilku di sebuah kedai kecil,
"Makanan disini sangat enak, ayo turun"Ujarku saat membukakan pintu sembari tersenyum ke arah Hinata.
Aku memperhatikan gadis indigo yang berjalan beberapa meter saja di depanku itu, surainya yang terurai bebas terlihat sangat indah diiringi angin sejuk Gunung Mihara. Seorang wanita paruh baya segera menyambut kedatang aku dan Hinata dan mempersilahkan kami duduk di bagian dalam pondok, setelah memesan beberapa makanan kami menunggu sembari duduk di atas tatama.
"Kau ingin lihat sesuatu yang indah, Hinata?"
"Em"Balasnya sembari menyambut tanganku.
Kami berjalan menuju teras pondok yang terbuat dari jati ini, Hinata tidak mengedipkan pelupuk lavendernya sedikit pun saat melihat panorama yang sangat indah di depan sana, Mihara Yama Onsen. Lavender Hinata sangat bebinar, rona merah menjalar di sekitar pipi chubby-nya,
"Disini sejuk, Tone-, maksudku Gaara-san"Hinata menunduk sembari mencubit ujung terusannya yang berwarna putih.
"Maukah kau hidup bersama Hinata?"Balas Gaara sembari memandang dan menangkup wajah Hinata.
"A-"
TBC
