Illuminat

#That Flowers [2]

"Kenapa kita lama sekali berada disini."

Nara Shikamaru, selaku asisten perusahan, juga seorang konsultan yang terlalu sering ikut campur dalam hidup bosnya. Bahkan pria disampingnya― atau bosnya― tak membuat Shikamaru mau berbicara sopan ataupun Normal. Ia tidak peduli dengan jabatan. Lagipula, Bosnya dalam sistem ketergantungan akut terhadapnya.

"Baiklah Ayo kita pergi."

Uzumaki Naruto― lelaki disebelahnya ini adalah pria kaya yang aneh. Begitu Shikamaru menyebutnya. Setelah membeli bunga dengan transaksi yang hanya berdurasi tigapuluh menit, Naruto malah hampir satu jam duduk memandangi toko bunga itu lewat kaca mobil. Walau sebenarnya ia tidak yakin yang Naruto tatap itu adalah bunga-bunga yang mereka miliki, tapi seorang gadis bersurai ungu yang entahlah siapa namanya.

"Apa kau tertarik pada gadis tadi?" Shikamaru mulai melajukan mobil sedan miliknya, meninggalkan distrik yang terkenal damai. Terkadang ia heran dengan pekerjaanya yang sering rangkap menjadi sopir dan tukang masak.

"Dia punya sesuatu yang kubutuhkan," mata biru Naruto beralih menatap langit setelah pandangannya tak menangkap gadis yang menarik atensinya.

"Bagaimana dengan Sakura."

"Aku akan memutuskannya."

Ucapan enteng Naruto membuat Shikamaru meliriknya, tidak semudah yang Naruto katakan. Sebenarnya saja dia masih membutuhkan gadis dokter ganda itu.

"Kau tidak harus melakukannya. Lagipula, kau masih membutuhkan Sakura untuk berobat."

"Aku bisa pergi ke Kabuto."

"Meski begitu Sakura yang paling meng―"

"Berhenti berdebat denganku," matanya menyalak menatap Shikamaru, lalu berpaling lagi pada jalanan. Naruto tidak menyukai perdebatan, ia benci itu.

Shikamaru mendesah pasrah. Ia tau jika sahabatnya itu mulai tidak stabil akan emosinya, dan ia akan berhenti menyinggung Sakura. Hingga matanya yang kelam, terjatuh pada buket bunga yang ada di tangan Naruto.

"Untuk apa bunga itu? kau tidak akan memberikannya pada klien kan?"

"Ini untuk Sakura."

"Cih, sok romantis."

Bagi Shikamaru, temannya memiliki cara tersendiri untuk menyatakan keangkuhannya. Misalnya, merendahkan orang yang membuatnya marah. Menyiksa mereka, jika tidak bisa secara fisik. Ia akan menghukum orang itu secara batin dan tak kasat mata.

"Kita perlu membuatnya merasa bersalah. Lagipula arti bunga ini tidak terlalu bagus."

Dan Shikamaru bisa menebak arti bunga yang Naruto bawa, sesuatu yang jelek dan buruk. Tapi ia tidak peduli, setelahnya pikirannya kembali fokus pada jalanan yang kini mulai padat lancar.

Naruto benci segala sesuatu tentang hidupnya. Banyak orang yang mendambakan hidup kaya sepertinya, tapi tidak tau seberapa kotor dunia yang ia selami bersama keluarganya. Keluarga keras yang selalu mendektenya menjadi penguasa.

Dia menjadi seorang yang kejam karena ajaran ayahnya. Semua ini karena pria tua bangka itu, ia menjadi orang yang sangat tidak peduli dengan perasaan orang lain, haus untuk menyiksa, haus akan memeras, haus akan kuasa, haus akan segala yang ia mau. Yang ayahnya tanamkan padanya selalu racun yang membuat otaknya semakin tercemar. Tercemar menjadi sisi lain yang ia sendiri benci. Seorang psikopat yang benar-benar merasa berkuasa.

Ketika Naruto berumur sepuluh tahun, sehabis dipukuli ayahnya karena nilainya merosot. Naruto kecil berlari keluar rumah menuju halaman rumahnya yang besar. Disana ia bertemu anjing lucu milik tukang kebunnya. Anjing lucu itu bagi Naruto adalah sebuah kelemahan yang pantas mendapatkan hadiah. Naruto kecil mencekik anjing itu, hingga hampir mati kalau tidak ibunya yang memergokinya dan menyuruhnya melepas anjing itu.

Itulah pengalam pertamanya menjadi seorang psikopat. Sejak itu, ia suka menyiksa hewan-hewan manis nan lucu. Hingga hewan-hewan itu penuh luka dan trauma. Saat itulah ia merasa bahagia dan puas akan tindakannya. Hingga ia dewasa, hewan itu berganti menjadi gadis lacur yang masih perawan. Membeli mereka, dan menyiksa mereka sampai trauma. Naruto suka sesuatu yang murni dan polos, dan baginya itulah perawan.

Sekarang, banyak makelar yang mengetahui perlakuan buruk Naruto pada lacur mereka yang baru,membuat banyak pihak tidak mau lai bekerjasama memberikan lacur yang masih perawan. Beberapa saat Naruto tidak melakukan penyiksaan lagi. Ia bosan dan―

Ia butuh sembuh.

Berbicara tentang kesembuhan mentalnya, ia bertemu kembali pada teman masa kecilnya yang sempat hilang kontak selama dua tahun kebelakang. Sahabatnya yang cantik dan pintar. Naruto mengakuinya, ia juga menyukai Haruno Sakura.

Tentang begitu cerianya dia dalam melakukan berbagai hal, tentang kepeduliannya pada keseembuhanya. Naruto bahkan semakin menyukai gadis bersurai pink itu, ketika gadis itu mengatakan akan selalu berada dipihaknya untuk sembuh. Alasan itu juga yang membuat Naruto tidak menyiksa gadis itu, lagipula Sakura juga jago bela diri.

Tapi semua itu bullshit sekaligussebuah kepalsuan.

Sakura melakukan itu, menjadi pacarnya selama dua tahun. Naruto yakin, Sakura hanya menganggapnya seorang pasien. Dan Naruto tau, alasan Sakura mau dijadikan kekasih. Agar dirinya benar-benar bisa sembuh. Gadis itu hanya mempermainkan perasaanya demi kewarasan mentalnya. Naruto yakin, Sakura tidak benar-benar mecintainya.

Lalu jika memang Sakura mencintainya, kenapa kemarin malam ia melihat Sakura bercumbu dengan sahabat masa kecilnya juga? Naruto akhirnya benar-benar sadar. Yang dicintai Sakura sedari mereka kecil hanyalah Uchiha Sasuke seorang. Bukan dirinya atau siapapun.

Ketenangan Sakura menyembunyikan kenyataan itu membuat Naruto muak. Jujur saja, ia ingin menembakkan pistol pada Sasuke, tapi dia ingat Sakura. Lebih baik ia mengakhiri drama picisan yang memuakkan ini. Sebelum ia benar-benar melakukan itu.

Jadi Naruto sudah menyiapkannya. Sebuket bunga, makan malam dengan steak dan anggur buatan tahun 1892. Bahkan Sakura sudah hampi habis menyantap steak kesukaanya. Naruto yang sama sekali tidak menyantap makananya menatap gadis itu lama. Toh, sebentar lagi ia tidak akan mengurusi gadis itu lagi.

Sakura terseyum manis, saat potongan steak terakhirnya habis tertelan. Gadis itu anggun menggunakan dress merah menyala tanpa lengan. Begitu elegan. Gadis itu sebisa mungkin tidak goyah akan tatapan Naruto yang meremehkan, tidak goyah untuk menyumpahi sahabat kecilnya itu. Naruto sakit, dan dirinya harus menyembuhkanya. Apapun caranya, walau itu harus mendekat dan menjadi orang yang harus selalu ada untuknya. Menjadi kekasih gadungan tak masalah.

"Kenapa menatapku begitu," senyum Sakura masih sama, ia juga memangku dagunya menatap lembut pada Naruto.

"Bukan apa-apa. Hanya menikmati tiap ukir wajah sempurna dihadapanku."

"Gombalanmu cukup bagus Naruto-kun. Tapi itu basi."

Sakura melipat kain lap dan meletakanya diatas meja. Baginya Naruto tak sepenuhnya seorang psikopat. Ia masih punya sisi manis dan baik yang benar-benar tulus. Jauh didalam hatinya. Tertimbun, dan dirinya sedang berusaha membuka tumpukan rasa sakitnya.

"But, Aku punya sesuatu yang pasti akan kau sukai Sakura-chan."

Naruto terseyum miring sembari menjentikkan jarinya. Beberap saat kemudian seorang pelayan menghampiri meja keduanya dengan membawa sebuket bunga. Melihat pelayan yang membawa buket bunga dari kejauhan, Sakura terseyum.

Pelayan itu menyerahkan buket bunga pada Naruto. Sedetik, pria itu menatap bunga itu dalam, lekas menyerahkannya pada Sakura.

"Wow, ini Cantik sekali. Ngomong-ngomong Aku tidak tau kedua nama bunga ini."

Sakura tidak bisa berhenti terseyum. Bunga itu baginya bermakna dari seorang sahabat, bukan lebih. Bunga unik berwarna levender dan amethyst. Juga bunga-bunga mungil berwarna putih yang harum. Ia tidak tau nama dari bunga yang ia genggam, tapi ia menyukainya. Bahkan ia terus menatap bunga itu.

"Sweet pea dan Meadow sweet, kuharap kau juga menyukai artinya."

"Arigatou Naruto-ku," Sakura terseyum sekali lagi.

Senyum Sakura adalah yang terakhir bagi Naruto, sebelum meninggalkan segalanya. Naruto menahan rahangnya untuk tidak berteriak marah layaknya seorang psikopat, walau sebenarnya ia sendiri tak tahan. Sesaat amarah itu hilang, membuat Naruto terseyum picik. Yang bagi sakura, adalah sebuah senyum tulus. Naruto beranjak dari tempatnya duduk.

"Aku harus pergi."

Naruto melangkah mendekati gadis bersurai pink tersebut, "Don't miss me, Sakura," bisiknya tepat ditelinga Sakura. Membuat gadis itu sedikit merinding.

Sakura menoleh, namun Naruto sudah melangkah agak jauh dari tempatnya. Hati sakura medadak khawatir. Naruto, mengatakan kalimat sakral yang bagi Sakura adalah sisi psikopat dari dirinya.

Ya. Naruto dengan rasa percaya dirinya yang tinggi sebagai psikopat. Akan senang mengatakan kalimat 'Jangan merindukanku.'

Sakura benar-benar menganggap Naruto tulus, sekalipun pria itu berbohong. Sebagai dokter psikiater ia salah, tapi ia juga menyayanginya sebagai sahabat. Haruskah ia benar-benar bertindak sebagai dokter?

Naruto terus melangkah menjauhi Sakura. Sudah cukup drama menjijikan yang sempat membuatnya terjebak. Ia sudah menemukan sesuatu yang lebih menarik untuk dinikmati.

Lebih Enak di wattpad ada gambarnya, follow ya sixmagnitude di wattpad