[A Secret Splendor ― Sandra Brown]

DON'T LIKE! DON'T READ!

pichaa794 present

remake novel HunHan ver

A Secret Splendor

Chapter 3

.

.

"Cocktail, Sir," tanya si pelayan.

"Luhan?"

"Virgin Mary."

"Perrier dengan limau," ujar Sehun kepada si pelayan, yang setelah mengangguk berlalu.

Sehun meraih sepotong roti, yang ia belah menjadi dua dan separonya ia berikan kepada Luhan.

"Kau pesan itu karena aku?" tanyanya dalam nada sedikit tersinggung.

"A-apa?" Luhan merasa kurang enak mendengar nadanya. "Minumannya?"

"Yang kau pesan itu kan bukan 'minuman'. Kalau kau ingin sesuatu yang lain, pesan saja." Tampangnya persis seperti sebuah per yang tegang. "Aku berjanji tidak akan menyerobotnya dari tanganmu. Aku sudah melewati fase traumaku."

Seakan untuk membuktikan Luhan meletakkan potongan rotinya ke atas piring, lalu melipat tangannya ke atas pangkuannya.

"Aku memesan apa yang ingin kuminum, tuan Oh." Ucapannya yang tegas itu membuat Sehun mengangkat kepalanya.

"...Semua yang tahu namamu, tahu bahwa kau punya masalah soal minuman. Tapi itu bukan alasan untuk berbicara padaku seakan aku seorang petugas sosial yang mempunyai misi untuk menyelamatkan dirimu. Kalau aku tidak menganggap kau sudah melewati fase traumamu, aku tidak akan duduk bersamamu di sini sekarang ini."

"Kau marah."

"Ya, betul. Dan aku akan menghargai kalau kau berhenti mencoba mengendalikan pikiranku."

Si pelayan mengantarkan minuman dan meninggalkan buku menu di meja mereka. Luhan menatap Sehun dengan tajam. Ia merasa kesal dan tidak berusaha untuk menyembunyikannya.

"Maaf," ujar Sehun setelah si pelayan berlalu.

"Aku tidak tahan kritikan, meskipun belakangan ini aku layak menerimanya. Aku mulai menjadi paranoid, mencari-cari yang sebetulnya tidak ada."

Luhan memperhatikan ukiran peralatan makan perak itu sambil mengumpati dirinya karena sikapnya yang ketus. Apa sebetulnya yang ia inginkan? Menjalin persahabatan dengannya atau justru mengusirnya.

Sambil tertawa Sehun mengangkat gelasnya untuk bersulang dengan gelas Luhan

"Untuk wanita yang paling menawan di pulau ini. Mulai sekarang aku akan menanggapi apa yang kau katakan atau lakukan."

Luhan berharap Sehun bersulang untuk hal lain, yang tak ada hubungannya dengan keterbukaan sikap. Namun Luhan toh membalas senyumnya.

"Kau mau makan apa?" Sehun membuka buku menunya.

"Apa usulmu?"

"Hati."

Secara spontan tawa Luhan meledak. "Itu satu-satunya yang tidak mau kumakan, diolah dalam bentuk masakan apa pun."

Sehun tersenyum simpatik. "Bagus. Aku juga tidak suka hati. Rupanya kita memang jodoh."

Saat menelusuri buku menunya, terpintas dalam diri Luhan bahwa Minguk juga mungkin tidak akan pernah suka makan hati.

Luhan memesan salad udang yang disajikan di dalam buah nenas dan dihias dengan alpukat dan anggrek. Terlalu cantik untuk dimakan. Sehun meminta se porsi steak ukuran kecil dan salad hijau.

Mereka menjadi akrab selama makan. Ketika ditanya, Luhan mengungkapkan bahwa kedua orangtuanya sudah meninggal. Ibunya meninggal ketika ia belajar penulisan kreatif di UCLA, dan beberapa tahun setelah itu ayahnya yang dokter meninggal karena stroke. Ia tidak mau bercerita lebih detail lagi, khususnya tentang klinik bersalin ayahnya.

Sehun tumbuh dewasa di Oregon. Ibunya masih tinggal di sana. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sehun sudah bermain tenis sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Waktu itu kebanyakan sekolah negeri belum memiliki tim tenis. Ketika si pelatih melihat bahwa aku punya bakat, ia memintaku untuk bergabung di dalam tim yang baru saja dibentuknya. Kemudian obsesi membuatku ingin bermain dengan lebih baik. Sewaktu di SMU, aku mulai menang dalam turnamen-turnamen lokal.

"Tapi kau terus ke perguruan tinggi."

"Ya. Manajerku, Kim Junmyeon, tentu saja kecewa sekali. Selalu saja ada ujian yang menghalangi waktu latihan atau pertandinganku. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan mungkin dapat bermain tenis seumur hidupku, setidaknya tidak sebagai seorang pro, karena itu kupikir ada baiknya juga aku menyiapkan diriku untuk hari-hari di mana aku tidak bisa bermain lagi."

"Tapi akhirnya kau terperangkap, bukan? Begitu kau mulai mengikuti pertandingan-pertandingan itu, kau langsung menang."

Luhan menghabiskan potongan buah papayanya yang terakhir. Mereka telah memesan sepiring buah-buahan segar sebagai penutup, bersama kopi.

"Aku memang beruntung selama beberapa tahun." Ia mengangkat bahunya.

"...Selain itu aku matang lebih dahulu, sehingga aku tidak merasa perlu untuk keluar malam dan menjelajah seperti yang dilakukan oleh beberapa pemain yang ikut tur untuk pertama kali." Ia menghirup kopinya.

"...Sistemnya memang aneh. Di saat kau baru mulai, biayanya bisa tinggi sekali. Untuk transpor, penginapan, makan. Kemudian, kalau kau berhasil, begitu kau mendapatkan hadiahnya berupa uang dan mendapat kontrak, segalanya ada yang membayar."

Ia menggeleng sambil tertawa. "Aku mempertaruhkan beberapa kontrak berharga di saat bahkan sepatu tenis yang terbaik toh masih bisa membuat aku sempoyongan di lapangan tenis sehabis minum-minum."

"Kau akan memenangkannya kembali."

Sehun menatap Luhan di matanya. "Itu yang dikatakan si Junmyeon. Kau yakin akan begitu?"

Apakah pendapatnya yang ia anggap penting, atau ia cuma butuh sekadar dibesarkan hatinya?

"Ya. Begitu mereka melihat kau bermain seperti tadi lagi, begitu kau mulai memenangkan satu atau dua turnamen, kau akan berada di atas kembali."

"Banyak pemain muda yang sudah siap menggantikanku."

"Mereka bukan tandinganmu," ujar Luhan sambil menepiskan tangannya.

Sehun tersenyum pahit. "Andai kata aku juga begitu yakin."

"Ehm, tuan Oh Sehun, maafkan kami, tapi..."

Wajah Sehun berubah menjadi gelap saat ia mengangkat alisnya yang tebal dan berpaling ke arah pasangan suami-istri yang berdiri dengan canggung di belakang kursinya. Mereka mengenakan kemeja Hawaii bercorak bunga-bunga yang serasi dan penampilan mereka menegaskan bahwa mereka turis.

"Ya?" Biar bagaimanapun, reaksi Sehun toh berkesan dingin.

"K-kami... ehm..." Si wanita tampak ragu. "Kami ingin tahu apakah Anda bersedia untuk memberikan tanda tangan Anda untuk anak kami. Kami datang dari Albuquerque, dan ia baru mulai main tenis. Ia kagum sekali pada Anda."

"Ia memasang poster Anda di kamarnya," ujar suaminya. "Ia... ia..."

"Aku tidak punya apa-apa untuk ditandatangani," ujar Sehun, kemudian dengan begitu saja memunggungi mereka kembali.

"Aku punya,"

Potong Luhan, melihat ekspresi kecewa dan serba salah di wajah terbakar matahari pasangan itu. Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan bola tenis yang tadi dilempar Sehun ke arahnya.

"Bagaimana kalau kau tandatangani ini untuk mereka, Sehun?" usulnya dalam nada hati-hati sambil menyodorkan bola itu.

Pada awalnya, sinar matanya gelap dan kesal, dan Luhan mengira bahwa ia akan mengatakan padanya untuk jangan ikut campur. Namun begitu Sehun melihat kelembutan yang terpancar dari dalam mata Luhan, ia tersenyum dan menerima bola itu. Setelah meraih pena yang ditemukan si wanita di dalam tas-nya, ia membubuhkan tanda tangannya ke atas permukaan berbulu bola tenis itu.

"Terima kasih banyak, tuan Oh. Aku tidak bisa mengungkapkan pada Anda betapa berartinya cenderamata ini untuk putra kami. Ia..."

"Ayo, Lois, kita biarkan ia menikmati kembali makan siangnya. Kami tidak mau mengganggu Anda, tapi kami ingin menyampaikan bahwa kami betul-betul sudah tidak sabar lagi menunggu Anda bermain lagi."

Sehun berdiri untuk berjabatan tangan dengan laki-laki itu dan mengecup tangan si wanita, yang nyaris jatuh pingsan gara-gara itu.

"Salam pada putra Anda dan selamat menikmati liburan ini."

Mereka berlalu sambil mengamati suvenir mereka yang berharga itu dan bergumam betapa simpatiknya Sehun dan betapa kelirunya para reporter mengatakan bahwa ia arogan.

Sehun menatap Luhan, yang mempersiapkan diri untuk kena damprat. Namun suaranya malah terdengar parau saat ia bertanya pada Luhan,

"Sudah selesai?"

Ketika Luhan mengangguk, ia memegang bawah siku Luhan untuk membantunya berdiri dari kursinya. Mereka meninggalkan restoran itu dan sama-sama tidak mengatakan apa-apa sampai mereka mulai menelusuri jalan setapak yang menghubungkan bangunan-bangunan resort itu.

"Terima kasih," ujar Sehun pendek.

Luhan berhenti melangkah, kemudian menoleh ke arahnya. "Untuk apa?"

"Untuk mengingatkanku dengan cara halus bahwa sikapku kurang simpatik."

Luhan mendapatkan bahwa tatapan mata Sehun terlalu dalam untuk disambut, karena itu ia mengalihkan pandangannya ke kancing nomor tiga kemejanya.

"Tidak seharusnya aku ikut campur."

"Aku justru berterima kasih padamu untuk itu. Itu adalah salah satu alasan mengapa aku menjadi begitu sensitif. Berbulan-bulan setelah YoonA meninggal, aku dikejar oleh para reporter begitu aku keluar rumah. Lama-lama aku menjadi kesal begitu ada yang mengenaliku di tempat umum."

"Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau kau terus-menerus disorot."

Akan bagaimana rasanya rambutnya itu kalau disentuh?

"Dalam keadaan normal saja sudah cukup melelahkan. Apalagi dalam keadaan sebaliknya. Di saat aku baru kehilangan ada yang menyorakiku dari podium penonton, melempari aku dengan entah apa karena permainanku yang mengecewakan. Sampai sekarang aku masih merasa resah kalau ada yang menghampiriku, siapa tahu mereka akan memaki aku."

"Yang baru kusaksikan tadi justru sebaliknya." Luhan memaksa dirinya untuk mengangkat wajahnya.

"...Kau masih memiliki ribuan penggemar yang sedang menantikan saat kau kembali ke lapangan."

Sehun menatap ke dalam wajah Luhan yang tulus selama beberapa saat, dan nyaris hanyut dalam cokelat matanya yang memesona. Tubuhnya menebarkan aroma bunga. Ia tampak begitu tenang dan penuh percaya diri namun juga hangat dan murah hati.

Sehun menaikkan tangannya, bermaksud menyentuh rambut kecokelatannya yang secara lembut mengusap pipi Luhan, namun pikirannya berubah, dan tangan itu turun kembali. Dan akhirnya ia berkata,

"Berkenalan denganmu merupakan salah satu di antara hal-hal menyenangkan yang terjadi padaku setelah sekian lama, Luhan."

"Aku senang mendengar itu," sahut Luhan, tulus.

"Kuantar kau ke kamarmu."

l..l

l..l

l..l

Mereka melintasi lobi bangunan utama. Di dekat lift, Sehun berkata, "Tunggu sebentar di sini. Aku akan segera kembali."

Sebelum Luhan sempat bertanya ke mana Sehun pergi, ia sudah menghilang. Luhan menekan tombol naik, tapi terpaksa membiarkan dua lift kosong lewat sebelum Sehun muncul dengan langkah-langkah cepat membawa sesuatu yang dibungkus dalam kertas putih.

"Maaf" ujarnya dengan napas terengah-engah. "Lantai berapa?"

Mereka naik lift ke atas, sementara rasa ingin tahunya sebagai seorang wanita, membuat Luhan betul- betul penasaran akan isi bungkusan itu. Mata Sehun tampak berbinar-binar. Kalau ini akan merupakan kejutan baginya, ia bertekad untuk tidak mengacaukannya.

Di muka pintu kamarnya, Luhan mengulurkan tangannya "Terima kasih untuk acara makan siang yang menyenangkan."

Sehun tidak menyambut tangannya. Ia membuka bungkusannya dan mengeluarkan seuntai lei yang terdiri atas rangkaian bunga plumeria dan anggrek. Ia menjatuhkan kertas pembungkusnya dengan begitu saja di lantai lorong, kemudian menaikkan rangkaian lei itu ke atas.

"Tentunya sudah puluhan yang dikalungkan di lehermu sejak kau di sini, tapi aku ingin kau menerima sebuah dariku."

Aroma bunganya yang harum dan keberadaannya yang dekat membuat Luhan merasa sulit untuk bernapas. Seluruh inderanya bergetar. Emosinya membuat tenggorokannya seperti tersumbat, namun ia berhasil mengatakan,

"Belum. Aku belum menerima satu pun. Terima kasih. Bunga-bunganya indah sekali."

"Kau memperindahnya."

Ia menyampirkan untaian kuntum yang sempurna itu melalui kepala Luhan ke atas pundaknya yang terbuka. Kelopak-kelopaknya yang halus terasa lembap dan sejuk di atas kulitnya. Sehun tidak menarik kembali tangannya, melainkan meletakkannya dengan lembut di atas pundak Luhan. Luhan jadi bingung dan salah tingkah. Ia menundukkan kepalanya.

Laki-laki ini, dan segala hal yang berhubungan dengan dirinya, menghanyutkan akal sehat dan perasaannya. Ia memperlakukan dirinya dengan cara yang sama sekali asing baginya, namun toh nikmat sekali. Ingin rasanya ia membiarkan dirinya terbawa dan larut di dalamnya. Kuntum-kuntum bunga di dadanya bergetar mengikuti irama denyut jantungnya. Dengan hati-hati ia mengusapkan jari-jarinya ke atas dadanya.

Melalui sudut matanya ia melihat jari laki-laki itu meraih jari-jarinya. Jari-jari mereka bertemu, bergesek, kemudian saling bertaut. Rasanya hangat, meyakinkan, dan kuat. Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Sehun dengan mata yang tampak selembap bunga-bunga itu.

Ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup Luhan, mula-mula di satu pipi, kemudian di pipi yang lain. Ia mendekatkan bibirnya ke sudut bibir Luhan. Ia mendesahkan namanya,

"Luhan."

Ibu jarinya menelusuri pundak Luhan, sementara napasnya terasa di pelipis dan menggelitik telinganya.

"Setelah acara makan siang itu berlalu..."

Oh, jangan! erang Luhan di dalam hatinya. Di situ kelemahanku. Sehun menarik diri sambil melepaskan cengkeramannya di pundak Luhan.

"Bagaimana kalau kita makan malam sama-sama?"

l..l

l..l

l..l

Bahkan di saat berpakaian untuk malam itu, Luhan tahu bahwa seharusnya ia menolak saat Sehun mengundangnya untuk berkencan. Rasanya cukup masuk akal kalau tadi ia mengatakan,

"Idemu menyenangkan sekali, tapi aku tidak bisa keluar malam ini karena harus menyelesaikan artikelku."

Tapi ia malah mendengar dirinya berkata, "Aku akan senang sekali, Sehun."

Sehun menanggapi ucapannya dengan senyum kemudian ia kembali ke lift. Luhan masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan seakan berada di langit ketujuh. Namun setelah itu ia ingat alasan sebetulnya bertemu dengan Sehun.

Selama beberapa saat, sementara tangan laki-laki itu menyentuh tubuhnya dan embusan napasnya menyilir rambutnya, ia telah melupakan pikiran tentang anaknya. Baginya saat itu Sehun bukanlah ayah anaknya, tapi melainkan seorang laki-laki. Seorang laki- laki yang ia sadari memiliki daya tarik yang luar biasa.

Akan lebih ideal andai kata Sehun tidak begitu menarik baginya... Dan statusnya bukan seorang duda... yang kesepian. Akan lebih mudah baginya kalau orangtua anaknya—keduanya—masih dalam keadaan sehat. Si ayah tipe periang, lembut, pendek dan gemuk, dan rambutnya mulai botak?

Pada awalnya, penampilan dan pembawaan pasangan itu bukan hal yang penting baginya. Ia hanya ingin tahu tentang anaknya yang pernah dilahirkannya tapi belum pernah ia lihat itu. Situasinya ternyata tidak sesederhana itu.

Selama beberapa bulan setelah kematian Yuji, Luhan begitu tenggelam di dalam kesedihannya sampai ia tidak dapat membedakan waktu lagi. Ia hidup dalam kehampaan. Hanya di atas kertas ia dapat menumpahkan perasaannya, menjajaki perasaannya.

Anaknya yang satu lagi.

Pikiran itu muncul begitu saja pada suatu hari. Sebetulnya ia toh memiliki alasan untuk hidup. Di suatu tempat di muka bumi ini ia masih memiliki seorang anak lagi.

Pada saat itulah ia memutuskan untuk menemukan anak itu. Namun ia sama sekali tak berniat mengganggu kehidupan anak itu. Ia juga tidak akan melakukan hal-hal yang mengganggu pasangan itu, yang telah berusaha keras untuk memperoleh keturunan. Ia hanya ingin melihat anak itu saja. Untuk tahu siapa namanya, apa jenis kelaminnya.

flashback on...

"Apa maksud Anda bahwa tidak ada catatan medisnya?"

Desaknya dalam nada frustrasi ketika pertama kali ia berusaha mendapatkan informasi tentang anaknya.

Wajah petugas tata usaha itu tetap tenang. "Maksudku, Ny. Hong, catatan medis Anda mungkin terselip di antara arsip yang lain, dan aku masih harus mencarinya. Di rumah sakit sebesar ini, hal-hal begini bisa terjadi."

"Terutama jika seorang dokter yang berpengaruh meminta Anda atau membayar Anda untuk 'menyelipkannya' di antara arsip yang lain. Dan namaku adalah Xi Luhan."

Ceritanya kemudian persis sama di mana-mana. Catatan kelahiran bayi Luhan baik di kantor catatan sipil maupun di rumah sakit raib secara misterius. Namun baginya, siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan administrasi surat-suratnya sama sekali bukan suatu misteri.

Luhan tidak tahu siapa pengacara yang telah menarik dokumen-dokumen resmi itu. Tapi ia pasti disewa oleh Jonghyun, yang tentu saja tidak akan bersedia mengungkapkan apa pun padanya kalaupun ditemui.

Jonghyun sudah memperhitungkan bahwa Luhan akan berusaha mencari anaknya yang kedua setelah Yuji meninggal, karena itu ia mendahuluinya dengan mempersiapkan semua yang terlibat agar tidak mengungkapkan apa- apa padanya.

Perawat yang mendampinginya selama proses persalinannya merupakan sumbernya yang terakhir. Ia menemui si perawat di tempat kerjanya di sebuah klinik aborsi milik sebuah yayasan sosial.

Luhan dapat mengetahui ketakutan wanita itu begitu melihat dirinya saat ia akan meninggalkan klinik itu di suatu sore.

"Anda masih ingat siapa aku?" tanya Luhan tanpa basa-basi.

Dengan panik si perawat melirik ke sana kemari seakan mencoba menemukan cara untuk lolos. "Ya," bisiknya dalam nada bergetar.

"Anda tahu apa yang terjadi dengan bayiku," tebak Luhan. Instingnya mengatakan bahwa ia tidak keliru.

"Tidak!"

Meskipun nadanya cukup meyakinkan, namun Luhan tahu bahwa ia bohong.

"Miss Hancock," rayu Luhan, "tolong ungkapkan kepadaku apa yang Anda tahu. Sebuah nama. Tolonglah, hanya itu yang kuminta. Sebuah nama."

"Aku tidak bisa," jerit si wanita dalam nada tertahan, sambil menutup wajahnya dengan tangannya. "Aku tidak bisa. I-ia... ia mengawasiku. Ia mengancamku kalau aku mengatakan sesuatu kepada Anda, ia akan mengadukanku kepada mereka."

"Siapa yang mengawasi Anda? Mantan suamiku?" Perawat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa yang ia pakai sebagai alasan untuk memeras Anda? Jangan takut padanya. Aku bisa menolong Anda. Kita bisa menyerahkannya kepada polisi..."

"J-jangan! Ya Tuhan, jangan. A-anda tidak..." Ia mengisak. "Anda tidak mengerti. A-aku punya masalah... sedikit masalah dengan Percodan. Aku tertangkap basah. Ia memecatku dari rumah sakit itu, tapi ia memberikan pekerjaan kepadaku di sini. D-dan..." Pundaknya naik-turun.

"...Dan ia mengancam kalau aku mengungkapkan sesuatu kepada Anda, ia akan menyerahkanku kepada polisi."

"Tapi kalau kau sudah tidak di bawah pengaruh obat itu lagi. Kalau kau..." Suara Luhan menghilang begitu ia melihat ekspresi bersalah di wajah wanita itu.

"M-masalahnya bukan hanya aku saja. Ayahku akan meninggal tanpa... obatnya. Aku harus mendapat kan obat itu baginya."

Percuma melewati jalur yang itu. Luhan tenggelam kembali dalam keputusasaannya.

o..o

Hari demi hari dilewatinya tanpa semangat. Karena itulah ia duduk diatas sofa sambil melamun melihat televisi pada suatu Sabtu sore. Sudah berapa lama ia di sana, ia tidak tahu. Apa yang ia tonton ketika itu, ia juga tidak tahu.

Namun tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah wajah. Sebuah wajah yang rasanya pernah ia lihat, disorot oleh kamera.

Pada saat itu juga, otak Luhan mulai bekerja. Sejenak ia melupakan bebannya dengan memperbesar volume suara tv. Sebuah program olahraga rupanya, yang meliput sebuah turnamen tenis.

Di Atlanta? Entah di mana. Kejuaraan tunggal putra.

Ia mengenal wajah itu! Tampan. Pirang. Senyuman lebar. Di mana? Kapan? Di rumah sakit? Ya, ya!

Pada hari ia keluar dari rumah sakit itu tanpa apa-apa kecuali sebuah dompet yang berisi uang tunai sebesar lima puluh ribu dolar. Ada sedikit kegemparan di serambi luar. Sejumlah reporter lengkap dengan peralatan mereka. Anggota kru televisi memenuhi tangga marmer untuk memperoleh sudut pandang yang lebih baik.

Mereka semua berkumpul untuk meliput pasangan tampan dan cantik itu meninggalkan rumah sakit bersama bayi mereka yang baru lahir. Si lelaki pirang berpostur tubuh tinggi dengan senyumnya yang memesona merangkul istrinya yang mungil, yang menggendong buntalan flanel.

Luhan masih ingat bagaimana kebahagiaan terpancar dari wajah mereka dan bagaimana terenyuhnya ia melihat cara laki-laki itu tersenyum kepada istri dan anaknya dengan pandangan sayang. Dengan mata berkaca- kaca ia menerobos kerumunan orang menuju ke sebuah taksi yang memang sudah dipesan lebih dahulu untuk dirinya. Ia telah menolak tawaran Jonghyun untuk mengantarkannya pulang.

Ia tidak pernah memikirkan lagi peristiwa itu. Tapi ini dia, si lelaki itu. Luhan mendengarkan komentar reporter sementara tubuh laki-laki itu bersiap untuk melambungkan bola pertamanya.

"Oh Sehun tampaknya akan berjuang mati-matian hari ini untuk menebus kekalahannya di Memphis minggu lalu. Kita telah menyaksikan kemerosotan yang drastis dalam permainannya selama beberapa bulan terakhir ini."

"Semua itu besar kaitannya dengan sebuah tragedi yang menimpa kehidupan pribadinya di tahun ini," ujar sebuah suara lain dalam nada yang penuh simpati.

"Itu jelas."

Sehun kehilangan bolanya, dan Luhan dapat membaca dari gerakan bibirnya sebuah umpatan yang tidak pantas didengar oleh para pemirsa televisi. Rupanya si penanggung jawab siaran itu juga berpendapat begitu.

Sebuah kamera lain menyorot Sehun di garis belakang. Ia sedang berkonsentrasi pada bola yang sedang dilambung-lambungkannya ke bawah. Pukulan pertama itu melesat dengan bagus, namun si wasit garis menyatakan bolanya keluar.

Sehun menghujamkan raket aluminiumnya ke atas pelataran beton kemudian mengacungkan tangannya ke arah wasit di kursinya yang tinggi sambil memaki-maki.

Luhan menyimak setiap patah kata yang diucapkan reporter, yang secara simpatik mengomentari bahwa ulah Sehun merupakan pelampiasan rasa frustrasinya atas kematian istrinya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang fatal di Honolulu, tempat pasangan itu tinggal bersama dengan putra mereka yang masih bayi. Sehun terus bermain dengan penuh emosi dan nekat, dan akhirnya kalah.

Luhan naik ke atas tempat tidurnya malam itu sambil memikirkan si petenis profesional dan bertanya dalam hati mengapa ia merasa begitu tertarik padanya, padahal baru sekali itu ia memperhatikannya.

Namun di tengah malam itu tiba-tiba terpintas di dalam dirinya bahwa ia sudah pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Ia langsung duduk tegak. Jantungnya berdebar-debar, kepalanya terasa berputar-putar. Ia merasa sulit untuk berkonsentrasi.

Setelah melemparkan selimutnya, ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, sambil memukul- mukul pelipisnya dengan tinjunya.

"Ayo, Luhan," ujarnya pada dirinya. "Konsentrasi." Entah kenapa, ia merasa harus bisa mengingatnya.

Perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit, potongan-potongan peristiwa itu menyatu. Ia sedang kesakitan. Lampu, lampu-lampu yang bergerak.

Itu dia!

Ia sedang dibawa melalui lorong-lorong rumah sakit, dan lampu-lampu berkilasan di atasnya. Ia sedang berada di dalam perjalanannya menuju ke kamar bersalin. Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Yang harus ia lakukan adalah melahirkan bayi itu dan setelah itu akan bebas dari Jonghyun untuk selamanya.

Ia melihat pasangan itu melalui sudut matanya saat ia didorong melewati sebuah lorong yang agak remang-remang. Cahaya lampu membiaskan ke atas rambut mereka yang pirang. Ia menoleh ke arah mereka. Mereka tidak memperhatikan dirinya. Mereka sedang tersenyum, saling merangkul sambil berbisik dan berbagi rahasia dengan bahagia. Namun ada sesuatu yang tidak beres di sana.

Sesuatu. Tapi apa?Apa?

"Konsentrasi, Luhan,"

Desahnya sambil mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur dan memegangi kepalanya dengan kedua belah tangannya.

"Mereka sama bahagianya seperti pasangan mana pun yang mengharapkan kehadiran seorang bayi. Mereka..."

Tiba-tiba segalanya berhenti untuk sesaat. Napasnya. Detak jantungnya. Pusaran di dalam kepalanya. Kemudian segalanya mulai bergerak lagi, perlahan-lahan menemukan momentumnya kembali, sementara titik sinar di ujung lorong yang gelap itu semakin membesar, sehingga akhirnya menerangi seluruh ingatannya.

Wanita itu dalam keadaan tidak hamil!

Wanita itu dalam keadaan tidak akan melahirkan. Ia sedang berdiri di lorong itu bersama-sama dengan suaminya, sambil saling berbisik dengan penuh antusias. Polah mereka misterius, seperti dua orang bocah yang sedang berkomplot untuk melakukan sesuatu yang amat menyenangkan.

Pasangan Oh cukup kaya. Mereka sangat terkenal. Ia tampan sekali, ungkap Jonghyun padanya tentang ayah bayinya. Mereka meninggalkan rumah sakit itu dengan seorang bayi yang baru lahir pada hari yang sama dengan hari ia pulang.

Ia telah melahirkan bayi mereka.

Luhan melipat lengannya di muka dadanya, kemudian mengayun-ayunkan tubuhnya untuk merayakan kemenangannya. Ia merasa yakin bahwa ia benar.

Tidak bisa lain. Semua data yang dimilikinya ternyata cocok.

Namun kegembiraannya mereda begitu ia teringat akan sebuah fakta lain yang ia peroleh hari itu. Ny. Oh sudah meninggal. Putranya—reporter mengatakan bahwa Sehun memiliki seorang anak yang masih bayi—dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ibu dan oleh seorang ayah yang secara mental maupun fisik tidak dalam keadaan stabil.

Sehun mulai menjadi obsesi Luhan. Berbulan-bulan ia membaca apa saja mengenai laki- laki itu. Baik tentang masa lalunya maupun saat ini. Berjam-jam ia habiskan di perpustakaan umum untuk menelusuri semua mikrofilm yang meliput peristiwa-peristiwa olahraga yang berhubungan dengan masa jayanya. Dari hari ke hari ia mengikuti kemundurannya.

Kemudian, pada suatu hari, ia membaca bahwa Sehun mulai setengah menarik dirinya dari aktifitasnya di dunia tenis. Seperti yang dikutip dari ucapan manajernya,

"Sehun menyadari mutu permainannya mulai turun. Ia ingin berkonsentrasi untuk memulihkan kembali dirinya dan meluangkan waktunya bersama putranya di rumah kediaman mereka yang baru di Maui."

Ketika itulah Luhan mulai menyusun rencananya untuk pergi ke Hawaii dan mencari cara untuk bertemu dengan Oh Sehun.

flashback off...

"Dan sekarang, setelah kau bertemu dengannya, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya pada bayangannya di cermin.

Ia sama sekali tidak memperhitungkan bahwa ia akan menganggap laki-laki ini begitu simpatik dan tampan.

"Ingat apa alasanmu datang ke sini, Luhan. Jangan sampai terbawa," ujarnya pada dirinya.

Namun bayangan di cermin itu tampak seakan mengejek dirinya. Tampangnya sama sekali tidak seperti seorang wanita yang beniat untuk tidak membiarkan dirinya sampai terbawa.

Gaun sutranya yang bernuansa hijau batu jade dengan bahu terbuka sama sekali tidak menyembunyikan lekuk-lekuk tubuhnya. Ikat pinggangnya yang berwarna bunga foksia melingkar di pinggangnya yang ramping. membuat orang memperhatikan kesintalan di bagian atas dan bawahnya. Blazernya yang berwarna pastel hanya membuat orang membayangkan pundak telanjang yang ditutupi nya. Ia mengenakan untaian lei sebagai pengganti perhiasan. Ia telah menata rambutnya ke belakang dalam sebuah sanggul yang apik, namun untuk menghilangkan kesan kaku ada ikal-ikal lembut yang jatuh menjuntai di lehernya dan di atas dahinya.

Penampilan wanita yang membalas tatapannya dengan mata sayu bernuansa hijau itu lebih mengingatkan akan seseorang yang sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi suatu malam yang romantis.

"Ya Tuhan," desahnya sambil menyentuh dahinya dengan jari-jarinya yang bergetar.

"...Aku harus menghentikan ini. Aku akan mengacaukan segalanya. Dan aku harus membuat ia berhenti memikirkan diriku sebagai seorang...seorang wanita."

Jangan berikan peluang padanya. Instingnya sebagai seorang wanita membuatnya menyadari itu.

Laki-laki itu mencintai almarhum istrinya ketika ia masih hidup. Dan sekarang pun mungkin masih. Namun segala hal mengenai dirinya begitu maskulin. Ia bukan tipe laki-laki yang dapat hidup tanpa seorang wanita.

Getaran magnetik di antara mereka berdua—dan itu bagi Luhan merupakan fakta yang sulit disangkal akan merusak rencananya. Ia berencana berkenalan dengan laki-laki itu, kemudian memenangkan hatinya sebagai seorang teman. Setelah ia dapat membuktikan bahwa ia tidak bermaksud untuk mengacaukan hubungan laki-laki itu dengan putranya, ia akan mengungkapkan padanya siapa dirinya dan mengajukan keinginannya.

"Aku akan sangat terterima kasih kalau kau mengizinkanku untuk melihat putraku sekali-sekali."

Camkan itu di dalam pikiranmu, ujarnya pada dirinya saat ia mendengar ketukan di pintunya. Jangan sampai terbawa, batinnya, sambil memutuskan untuk menyingkirkan pikirannya yang lain.

Namun ternyata tidak semudah itu untuk tetap mengingat tekadnya. Sehun tampak begitu tampan dalam celana panjang biru lautnya yang rapi, dan jas santai cokelat mudanya yang warnanya sesuai dengan rambutnya yang nyaris menyentuh kerahnya, serta kemeja biru muda yang serasi dengan nuansa warna matanya.

Rupanya Sehun juga melakukan hal yang sama. Dengan matanya yang tajam ia mengagumi penampilan Luhan. Mulai dari ujung rambut sampai ke tumit sepatu tali kulit buayanya, kemudian ke atas lagi. Untuk sesaat pandangannya berhenti pada untaian lei di atas buah dada Luhan.

"Kau betul-betul memperindah kuntum-kuntum bunga itu," ujarnya dalam nada parau.

"Terima kasih."

"Sama-sama." Baru setelah itulah pandangan mereka bertemu dan Sehun tersenyum.

"Kau sudah siap?"

l..l

l..l

l..l

To be continue

l..l

l..l

l..l

10 Desember 2017

kalau liat riview di chapter2 sebelumnya, keknya pembaca hunhan udah mulai sedikit yaaa, jadi sediih. jujur aja aku jadi ga semangat update, tadinya mau berbagi tapi responnya sedikit. apa mungkin aku updatenya kecepetan, entahlah hehe

tapi tenang aja, aku bakall namatin remakean nya kok, cuman update nya keknya gak akan seperti dulu.

makasih buat temen2 yg udah fav follow, apa lagi yg review, makasiiih bangett. kalau gak ada kalian keknya aku beneran gak akan lanjut lagi, hikss.

oiya 1 lagi, ucapin selamat ulang tahun doong *ehem* hahaha karena aku baik, jd aku update hari ini, eaaa

yauda dee segitu aja.

byebyee...