Disclaimer : Mamashi Kishimoto

By : wf

Pairing : naruto x?

Warning : smart!naru, cool!naru, OOC, maaf kalau cerita ini masih abal, gaje, dan banyak sekali typo, karena saya masih penulis baru dan masih amatir dan juga kalau ada kesamaan cerita dengan author lain, saya sungguh minta maaf, tapi sungguh ini murni dari pikiran saya sendiri, I hope you can enjoy reading this story, guys...

Chapter 3

"apa yang sekarang akan kau lakukan, naruto-kun, setelah kau mendengar semua kejadian yang sebenarnya terjadi" tanya paman Toneri padaku. Aku menatap bingung kearahnya tanda aku tidak mengerti maksud perkataannya, "ck, sekali bocah tetap saja masih bocah, yang ku maksud adalah apa yang akan kau lakukan setelah ini, apa kau akan diam saja dan tidak akan melakukan rencana apapun haah" ejek paman toneri padaku. Aku mengembungkan kedua pipuku sebagai responku terhadap ejekannya.

"aku—" perkataanku terpotong oleh suara tousan.

"pertama yang akan kita lakukan adalah mengenalkannya pada keluarga besar otsutsuki, toneri, aku akan memastikan itu. Kedua kita akan pindah dari Konoha, tinggal di Konoha hanya akan membuka lembaran buruk yang terjadi dimasa lalu, sudah cukup aku merasakan sakit yang amat dalam disini. Aku ingin kita semua bahagia, aku ingin kita melupakan kenangan jelek selama disini. Jadi, naruto-kun, persiapkan dirimu, kita akan pergi dari sini tiga hari dari sekarang" jelas tousan pada kami. "hm, jika itu sudah menjadi keputusan niisan aku hanya bisa ikut, lagipula aku rindu pada kaa-san dan tou-san, bagaimana kabar mereka disana ya" kata paman toneri menerawang, aku yakin sekali ia sangat merindukan kedua orang tuanya itu, mungkin sekarang aku sudah dapat menyebut mereka sebagai kakek dan nenekku.

"hm, baiklah karena sudah diputuskan, iruka" ujar tousan. "ya, tuan" seorang pria memasuki kamar ini, ia berambut coklat juga bermata coklat dengan luka yang melintang disekitar hidungnya. "iruka, tugasmu sekarang adalah carikan kami bertiga tiket ke London untuk penerbangan tiga hari lagi, juga persiapkan semua barang-barang yang dibutuhkan oleh naruto. Tolong belikan ia semua keperluannya ya" perintah tousan pada orang yang bernama iruka ini. Iruka hanya mengangguk, "baiklah kau boleh pergi iruka" "ha'i" ujarnya sambil kembali meninggalkan kamar tousan.

"nah, sekarang naruto, kau harus ikut dengan tousan, tousan akan menjelaskan semua hal tentang keluarga ini" ajak tousan padaku "ha'i" balasku, ia hanya tersenyum kearahku dan mengisyaratkan untuk mengikutinya.

Aku mengikuti langkahnya, wah sungguh rumah ini sangatlah besar, aku cukup heran dengan rumah ini, rumah sebesar ini isinya hanya dua orang. Itu sungguh sangat membosankan jika kau membayangkan hanya tinggal berdua dirumah sebesar ini, aku saja tidak ingin membayangkan jika hal itu terjadi padaku.

Sudahlah daripada aku membayangkan hal yang konyol, lebih baik aku fokus pada hal yang akan di tunjukan tousan padaku, aku tidak tahu hal itu, namun aku yakin itu adalah hal yang penting. "ayo masuk kedalam naruto-kun" suara tousan membuyarkan lamunanku.

"ha'i" balasku singkat. Kami memasuki sebuah ruangan yang dapat aku katakan seperti ruangan kerja. Aku terus mengikutinya dari belakang, ia berhenti tepat didepan sebuah meja yang dapat aku yakini adalah sebuah meja kerja, selain terdapat meja itu, di dalam ruangan ini terdapat banyak sekali buku-buku, sungguh aku akan merasa betah sekali berlama-lama diruangan ini.

"tousan akan menjelaskan semua hal tentang keluarga ini, agar besok kau tidak terkejut bertemu dengan orang yang tousan maksud tadi, kau mengerti naruto-kun?" suara tousan membuyarkan semua lamunanku, sehinggah aku kembali ke dunia nyata.

"hn" anggukku tanda mengerti. "baiklah mendekatlah, pertama tousan ingin bertanya padamu. Kau pernah tidak membaca sejarah pembentukan negara kita" tanyanya padaku. Aku menganggukkan kepala tanda aku menjawab pertanyaannya, namun aku heran dan bingung apa hubungan negara ini dengan keluarga ini, "karena, keluarga kita adalah pendiri pertama dalam menguasa negara ini, namun tidaklah lama karena setelah raja ke 15 berkuasa, mulai banyak pemberontakan, salah satu kasus pentingnya adalah klan senju membantai klan kita, kemudian mereka yang menguasai negara ini, namun tidak lama setelah itu klan Uchiha, mengalahkan kekuasaan klan senju, sisa dari kelompok klan kita melarikan diri ke benua eropa dan beberapa tempat di benua Amerika, maupun di benua lain. Klan kita baru dapat berkumpul kembali sekitar pada pertengahan abad ke 19, namun hanya dapat aktif pada benua eropa saja yang menjadi pusat perkembangannya, yang harus kau tekankan sekali adalah klan kita tidak membutuhkan kekuasaan terhadap konoha lagi, karena kita sudah menguasai hampir seluruh bagian benua yang ada di dunia dalam bidang bisnis, sehingga klan kita sangat berpengaruh bagi perekonomian dunia dan juga karena sebab itu kita di juluki sebagai king's of bissnesses, jadi kau tidak perlu merebut kekuasaan yang sekarang masih dipegang oleh klan uchiha." Jelas tousan padaku, aku menganggukkan kepalaku tanda paham dengan yang ia maksudkan.

"baiklah yang ini namanya Otsutsuki Minshiki, ia merupakan pendiri dari clan kita, ini istrinya bernama Otsutsuki Aumy" kata tousan menunjukkan padaku lukisan tua kedua orang itu, tousan kembali mengambil lukisan berikutnya, "ini Otsutsuki Armaya, ia anak perempuan pertama keluarga itu, namun karena ia perempuan ia tidak dapat di masukkan kedalam pewaris tahta, yang ini adiknya namanya Otsutsuki Akira, yang melanjutkan tahta mengantikan ayahnya, aah, tousan akan mempersingkatnya, ini adalah Otsutsuki Akio, ia merupakan anak dari keturunan ke 15 dari darah keluarga kerajaan, dan merupakan raja terakhir dari klan kita sebelum di hancurkan oleh klan senju, ia juga merupakan kakek dari kakekmu, pada masa itu ayah dari kakekmu di kirimkan ke benua eropa bersama dengan anggota klan yang masih selamat untuk melarikan diri, dan dimulai dari situlah perusahaan kita mulai muncul, ayah dari kakekmu merupakan pendirinya, singkatnya ketika kakekmu memenggang penuh perusahaan itu mulai berkembang sangat cepat, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di tempat kelahiran ayahnya, dan membangun perusahaan baru disini, jadi itu sebabnya tousan lahir dan tumbuh di konoha" jelasnya lagi sambil menunjukanku lukisan dan beralih kepada foto silsilah, untuk wajah kakek dan nenekku sangatlah mirip dengan tousan dan juga paman.

"nah, setelah kau mengetahui sejarahnya, sekarang tousan akan menjelaskan tentang keadaan klan kita sekarang. Kau tahu bukan jikalau pemerintahan konoha bukan lagi tanggung jawab kita, jadi tousan akan tekankan padamu, jika nanti ada yang memintamu untuk masuk dalam kubu mereka, siapapun itu tousan harap kau jangan menerimanya, kau hanya perlu melihat dan mengawasinya dari jauh" jelasnya lagi, aku mengangguk mengerti.

Kami terdiam cukup lama sampai pada akhirnya suara 'kriuuut' perutku berbunyi, menghilangkan suasana diam antara kami. Ck sial aku lupa aku belum makan dari tadi. Dapat aku lihat senyum geli dari tousan, sungguh aku malu sekali sekarang. "kau lapar naruto-kun" tanyanya padaku, aku menganggukkan kepalaku.

"hm.."gumamnya sambil melihat jam, "sepertinya, waktu makan malam sudah tiba, ayo kita turun untuk makan" ajaknya padaku. Aku menganggukkan kepala dan kemudian mengikutinya menuju ruang makan.

Skip Time

Wah, banyak sekali makanan yang terdapat di sini, dan aku sungguh yakin semua makanan ini memiliki rasa yang enak. Aku menjadi tidak sabar untuk mencipipinya. "ayo duduk naruto-kun" suara tousan membuyarkan pemikiranku tentang rasa makanan-makanan itu. "hn" jawabku padanya.

"hm, kau tahu bocah wajahmu sekarang terlihat seperti orang yang tidak pernah makan makanan yang enak" ejek paman Toneri padaku. Aku menatap tajam kearahnya sembari mendengus kesal mendengar ejekannya itu. Apa salahnya sih aku terkagum melihat semua makanan ini? "hn" balasku padanya. Ia mendengus pelan, aku tahu ia pasti kesal karena aku tidak membalas ejekannya.

"apa tidak ada kata lain yang dapat kau ucapkan, bocah" dengusnya padaku.

"hn" gumamku lagi

"dasar, pelit kata, eeh nii-san apa anakmu ini kekurangan kosakata" ujarnya lagi sambil tersenyum mengejek kearahku. Aku mengabaikannya karena pandanganku terfokus kepada makanan-makanan ini, terkhususnya yakiniku. Yang terbuat dari daging yang dipanggang berbentuk persegi. Aku sungguh menyukainya, selain yakiniku, di meja itu, terdapat mie soba, sushi, teriyaki dan yang lainnya, wah aku sudah tidak sabar ingin memakannya.

"wah, sepertinya kau sudah sangat lapar naruto-kun" suara tousan mengalihkan perhatianku dari makanan-makanan tersebut, aku tersenyum malu karena ketahuan terlalu fokus.

"cha, baiklah mari kita makan" sahut tousan, aku dan paman mengangguk kepala kami sebagai tanda setuju. Aku mulai memenggang sumpitku, aku mengarahkannya kepada yakiniku itu, dan mulai memakannya, dua kata yang sangat tepat mengambarkan rasanya ialah sangat lezat, tanpa aku sadari aku memakan mereka seperti orang yang belum makan selama ia hidup.

Sungguh, aku ingin merasakannya setiap hari. "kau menyukai makanannya, naruto-kun?" tanya tousan padaku, aku dapat menangkap nada geli menahan tawa darinya. apalagi paman dengan senang hati mengejekku, "kau ini, lapar atau kelaparan, bocah, kau makan seperti orang gila" aku mengabaikan ejekannya dengan melanjutkan acara makan malamku.

"hn, makanannya sangat lezat" jawabku pada pertanyaan tousan yang sebelumnya belum sempat aku jawab, karena kesenangan memakan semuanya.

"baguslah kau menyukainya." Ujarnya padaku.

Skip Time

Setelah makan malam, kami melanjutkan obrolan kami di ruang keluarga. Aku sangat senang dapat belajar dunia bisnis dari mereka, banyak hal yang ternyata baru aku sadari wawasanku sangat sempit.

"hm, baiklah sekarang, ayo kita bicarakan hal pribadi, diluar dari dunia bisnis, ayo naruto-kun ceritakan kehidupanmu sebelum bertemu dengan tousan, karena tousan belum mengetahui apapun tentang dirimu" perkataan tousan tersebut cukup membuatku merasa terkejut, aku menyadari cepat atau lambat ia akan menanyakan hal itu.

Aku menghela nafas sejenak, "baiklah, aku akan menceritakan betapa menyedihkannya kehidupanku sebelum bertemu dengan kalian" ujarku dengan nada lirih. Aku dapat merasakan seseorang memelukku, pelukannya terasa sangat hangat bagiku. Ya, tousan sedang memelukku sekarang, pelukannya memberikanku rasa nyaman dan aman serta memberikannku keberanian untuk membagi kesedihanku dengan orang lain.

"semuanya bermula ketika aku mulai memasuki usia lima tahun" aku menghentikan sejenak ceritaku, aku ingin melihat raut wajah mereka. Aku dapat merasakan penyesalan yang sangat besar dalam kedua bola mata mereka.

Flashback

Seorang wanita paruh baya tengah menarik seorang, lebih tepatnya menarik seorang anak laki-laki yang bahkan usianya baru menginjak lima tahun, dengan kasar. Ia terus menariknya hingga memasuki sebuah gudang. "mulai sekarang kau akan tinggal di tempat ini bocah, jangan pernah kau melangkahkan kedua kakimu keluar dari sini, jika kau belum dapat menyadari kesalahan yang telah kau perbuat bocah," bentak wanita itu pada anak laki-laki itu sembari memukulnya dengan keras.

Sang anak hanya menangis sembari terus memohon agar wanita itu berhenti memukulnya.

" , mo..mohon, ja..ngan pu..kul na..ru, naru janji tidak akan berbuat nakal lagi" ucapnya lirih dan terus mengulangi kalimat itu. Namun, wanita itu menghiraukan tangisan pilu dan lirihan sendu sang bocah itu.

Wanita itu, menarik helaian putih anak itu, sembari melayangkan tatapan mengancam dan kebencian yang mendalam padanya. "dengar, jika kau membuat kesalahan dan membuat cucuku kembali menangis, kau akan mendapatkan hukuman yang lebih parah dari ini, kau dengar bocah sialan" sahutnya yang kemudian mendorong anak itu kearah dinding gudang tersebut.

"satu lagi, mulai sekarang kau akan menjadi pelayan, untuk keluargaku, kau akan mengerjakan tugas mencuci dan membersihkan perkarangan, tidak akan ada yang membelamu, termasuk kushina, kau mengerti bocah" bentak wanita itu kembali dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari gudang tersebut.

Anak laki-laki yang bahkan baru menginjak usia lima tahun itu, hanya terduduk lemas walau ia mengerti apa yang dikatakan wanita itu, ia tetaplah seorang anak kecil. Yang pemikirannya masih dangkal dan masih sangat membutuhkan kasih sayang yang besar dari orang terdekatnya dan hanya mengetahui satu hal yaitu bermain. Ia tidak paham, mengapa wanita yang seharusnya menjadi nenek yang mengasihinya dengan kasih sayang, malah ia memberiikan luka pada anak itu.

Anak itu mulai menerka-nerka penyebabnya, apa karena ia berbeda, ia memeliki garis dan warna rambut yang tidak sama. Ia juga tidak paham ia mendapatkan pukulan untuk sesuatu yang bahkan ia tidak pernah lakukan.

Ia hanya ingin meminjam mainan yang dimiliki sepupunya, yang bernama lengkap Namikaze Menma, namun, ia tidak mendapatkannya bahkan ia mendapat tuduhan yang tidak benar, Menma menuduhnya mencuri mainannya, dan mengadu kepada Senju Tsunade, atau yang sekarang bernama Namikaze Tsunade. Ia mendapatkan pukulan setelah pengaduan tidak benar dari menma.

End of Flashback

"sejak itulah Menma, selalu mengadukanku atas perbuatan yang tidak berdasar padaku, puncaknya hari itu, hanya karena aku tidak ingin memberikan buku tugasku, ia memukulku, dengan setengah sadar aku menyelamatkan diri, ia mengejarku, sampai pada akhirnya ia mengalami kecelakaan itu. Aku tidak munafik aku berharap ia akan mati, atas apa yang sudah ia perbuat padaku, namun di sisi lain aku merasa kasihan padanya, dan sisa dari kisahku pastinya kalian telah mengetahui lanjutannya" jelasku dengan suara yang berusaha aku tenangkan agar tidak membuat mereka sedih dan muculnya penyesalan dalam diri mereka.

Namun, yang aku dapatkan mereka hanya diam tanpa mengatakan apapun. Tapi dapat aku lihat kepalan tangan mereka, aku sangat yakin mereka juga tengah berusaha menahan emosinya.

"dasar Senju dan Namikaze keparat" geraman dari paman menghilangkan keheningan yang sempat menyinggapi kami. "tenanglah, toneri" bujuk tousan pada paman. Aku juga membantu tousan menenangkan paman. "bagaimana aku bisa tenang niisan, keluarga kita kembali diinjak dan bahkan dianggap sampah oleh mereka, sudah cukup dulu senju membantai klan kita, memisahkanmu dari shion-nee, memperlakukan anakmu dengan keji, kita harus membayar setiap penderitaan yang telah kita alami, niisan" ujar paman dengan penuh penekanan.

"aku tahu hal itu, namun bukan dengan cara seperti balas dendam itu, aku tidak ingin kita kembali mengalami sesuatu yang buruk hanya karena keegoisan kita" jelas tousan dengan bijaksana, jujur aku menyukai sikap tousan, namun aku tidak munafik aku memiliki dendam yang dalam pada mereka semua.

"na..naru, maafkan tousan, ini semua terjadi karena kesalahan tousan, maaf, maafkan tousan" lirihnya sambil menangis dalam pelukanku. "sudahlah tousan, ini bukanlah kesalahanmu, jadi jangan menyesali apa yang terjadi" ucapku sambil menenangkannya, setelah beberapa saat, tousan kembali tenang.

"tousan, sepertinya aku tidak dapat mengikuti perkataanmu untuk tidak membalaskan dendam, aku akan tetap membalaskannya, suatu saat nanti, aku akan membuat namikaze maupun senju itu bertekuk lutut padaku" kataku padanya.

Tousan menghela nafas sejenak, "baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu, tousan akan selaku ayahmu, akan selalu mendukung apapun yang menurutmu adalah yang terbaik"

Aku mengalihkan pandanganku pada paman, "paman, paman maukan membantuku balas dendam pada mereka" tanyaku pada paman.

Ia tidak menjawab pertanyaanku, namun ia memberikan serigaian yang menurutku sudah menjawab pertanyaanku padanya.

Skip time

Tiga hari sudah berlalu, semenjak pemberitahuan tentang keberadaannya pada tetua klan dan pengumuman yang dibuat ayahnya pada koferensi pers, yang bertujuan mengenalkannya pada hadapan publik. Pada awalnya, para tetua klan terkejut dengan berita itu, namun setelah dijelaskan semuanya, mereka menerima naruto dengan tangan terbuka, bahkan mereka meyetujui usulan naruto untuk membalas semua perbuatan senju.

"huh" suara helaan nafas kembali terdengar, yang mengundang tatapan heran dari dua orang yang berada didekat penghela nafas itu. "sudahlah, jangan terus menghela nafas seperti itu bocah, kau menganggu tidurku" protes seorang laki-laki yang berada tepat di sebelahnya itu.

"paman, kau tidak akan mengerti dengan apa yang tengah aku rasakn," protes naruto, "kau hanya akan menemui kakek dan nenekmu, bukan menghadiri perang, jadi berhentilah mencemaskan hal yang tidak berguna seperti itu" ujar toneri padanya.

"aku hanya cemas, mereka tidak menerimaku seperti para tetua dan publik" jelas naruto. "itu bukanlah suatu hal yang patut kau cemaskan, mereka akan menerimamu apa adanya" jelas toneri. Mendengar perkataan toneri membuat naruto sedikit merasa tenang.

Dan disinilah mereka, di depan sebuah rumah, atau lebih tepatnya sebuah mansion. Pintu mansion itu terbuka menampilkan dua sosok yang baru ia lihat dan di salah satu sisi mereka terdapat ssosok yang dikenalnya sebagai ayah.

"ta..dai—" sebelum naruto menyelesaikan perkataannya, salah satu dari mereka tiba-tiba memeluknya. "okairi, naruto-kun(mohon maaf jika penulisannya tidak benar)" lirihnya.

Tidak ada kata yang paling indah bagi naruto saat ini selain, bahagia, ia bahagia bisa berkumpul dengan keluarga kandungnya.

Sementara itu disebuah ruangan

"kenapa ia dapat berada di keluarga itu, bisakah kau jelaskan masalah itu hatake" amuk seorang pria baru baya dan wanita yang sudah memasuki angka 50 tahun kepada seorang pria muda didepan mereka,

"saya juga tidak tahu, kenapa minato sensei, Tsunade-sama, tapi saya akan mencari tahu tentang itu, saya akan memastikan kalau ia tidak akan mengusik kediaman Namikaze lagi," jelas kakashi.

"itu memang harus, baiiklah sekarang kau boleh pergi kakashi" balas Tsanade. Kakashi menganggukkan kepala dan berlalu dari ruangan tersebut.

"nah, sekarang apa yang harus kita lakukan kaa-san" tanya pria berambut pirang yang duduk dihadapannya itu. "untuk sekarang kita biarkan saja dulu, jika sudah waktunya nanti akan kita pikirkan caranya yang terbaik" jawab Tsunade.

"tapi, bagaimana kalau mereka mengetahui sebenarnya, jika shion-nee..." "jangan sebut nama itu lagi dihadapanku, ia bukan lagi anakku, dan kau jangan sampai membuka mulutmu apapun yang terjadi, mengerti?" ancam tsunade, minato menganggukkan kepala tanda mengerti.

'jangan coba-coba bermain denganku, Ootsutki, kalian akan tahu bagaimana rasanya bermain dengan seekor rubah' batin tsunade sambil melihat kearah media cetak yang menampilkan berita tentang naruto.

Sementara itu,,

"bagaimana laporanmu, inu" tanya seorang pria yang terbaring dibalik sebuah ruangan,

"ootsutki itu telah menemukan anaknya. Namikaze, belum menunjukan taringnya," jawab seorang yang berkode inu itu. "hm, baiklah, kalau wanita itu bagaimana keadaanya," tanyanya kembali.

"dia dalam keadaan stabil, namun ia tidak akan menunjukan tanda kesadarannya, hingga waktu yang telah ditetapkan" jawab inu. "bagus, kau boleh pergi inu" perintah pria itu.

Pria yang berkode inu itu menganggukan kepalanya, dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu.

'lihatlah Ootsutki, Namikaze, aku akan membalaskan dendamku pada kalian, tunggu saja' batin pria itu sembari menerawang berpikiran jauh.

.

.

.

.

TBC

Balasan Review

Guest, .980, Ace155, ini lanjutannya reader-san, jangan bosan-bosan mereview dan membacanya, Author ucapkan terima kasih.

Cheng cheng, inilah chapter ketiga dari fic cold, author sungguh minta maaf jikalau updatenya lama, jangan bosan-bosan membacanya, setelah membaca sempatkan untuk meninggalkan jejak di kotak Review. Reader-san bebas untuk mengatakan apapun dan juga bertanya apapun. Okay.,..

Mind RnR reader-san, Arigatou...

WF out