Sebuah Misi
Hari terus berganti dan lambat laun Luhan mulai kembali tersenyum, tapi tetap saja masih memikirkan Sehun, lelaki yang sudah mengambil hatinya tanpa bertanggung jawab. Lucu memang, dia bisa sesuka itu pada orang yang bahkan dia belum tau sebenarnya, tapi masa bodoh dengan hal tersebut, Luhan benar-benar menyukainya. Dari melihat fotonya, mendengarnya bernyanyi, dan cara mereka ngobrol yang kalau dipikir terlalu biasa juga membosankan, ia tak peduli, ia benar-benar sudah jatuh pada pesona si orang dunia maya.
"Hey bukan kah kampus kita memiliki jurusan sastra Korea?" Tanya Luhan disela makan siangnya.
"Um mungkin." Jawab Yixing sambil memasukkan banyak mie ke dalam mulutnya.
"Baiklah aku akan mengambil jurusan itu!" Luhan meletakkan sumpitnya dan bertepuk tangan untuk dirinya sendiri, membuat temannya tersedak, ia segera mengambilkan minum untukYixing sembari memukul-mukul punggung orang itu pelan. "Makan yang benar saja tidak bisa." Sindirnya.
"Euuh." Yixing mengelap air yang berceceran di sekitar mulutnya, ia menelan sisa air dalam mulu terlebih dahulu sebelum menatap sahabatnya serius. "Kamu mau mengambil jurusan sastra?" Tanyanya tak percaya dan setengah gila.
"Sastra Korea. Kenapa?" Luhan balik bertanya dengan polos dan memperlihatkan wajah seperti bayi rusa. Mungkin gadis-gadis akan histeris ketika melihat ekspresi menggemaskan tersebut, tapi tidak dengan Yixing ingin muntah tiap melihatnya.
"Bagaimana dengan kuliahmu sekarang?"
"Ya tidak jadi. Sehun adalah tujuan hidupku sekarang."
"Hah..." Yixing menjambak rambutnya frustasi dengan sahabatnya yang sudah gila, ah tidak, sebenarnya siapa sekarang yang gila? Luhan atau Yixing? "Cinta memang buta, tapi apakah yang seperti ini namanya cinta atau hanya sekedar obsesi berlebih?"
"Tapi aku benar-benar menyukainya, mencintainya. Aku telah jatuh pada pesonanya." Luhan mulai kesal.
"Kalian bahkan belum pernah bertemu, hei, ini sama saja seperti kamu mengidolakan artis bukan? Dan satu lagi, kamu harus bisa membedakan arti cinta dan jatuh cinta."
Luhan menatap Yixing kecewa, ia lantas meletakkan sumpitnya di kanan dan kiri mangkuknya yang masih berisi setengah mie. Dengan kursi yang di dorong kasar, ia meletakkan uang untuk membayar makanannya di meja kemudian meninggalkan temannya itu. Yixing hanya menggeleng, cukup mengerti Luhan yang mudah tersinggung.
.
.
.
Luhan telah memikirkan semuanya dan ini lah satu-satu tujuannya, ia menyusun segalanya begitu matang hingga seluruhnya akan berjalan sesuai rencana pikirnya.
Ia mengambil jurusan sastra Korea, mempelajarinya dengan tekun dan membeli banyak buku yang berhubungan dengan negara tersebut, sesekali hingga larut malam dirinya mendownload lagu Korea, menulis liriknya kemudian menerjemahkan.
Malam ini, ia tengah menerjemahkan lagu dari Howl – Love U saat tiba-tiba teringat pada Sehun, tangannya langsung meletakkan pulpen dan menopangkan dagu. Luhan mendengus sambil menoleh pada jendela yang tirainya dibuka, menatap kosongnya langit malam. Ia beranjak dari kursi dan merenggangkan tubuh sembari membuka jendela, membiarkan angin malam memasuki kamar dan memenuhi paru-paru dengan karbon dioksida yang terasa sesak-begitulah rasanya seseorang yang dilanda rindu menurutnya.
Tubuhnya mungkin berada di kamar, pandangannya mungkin terarah pada jalanan dengan lampu-lampu yang terlihat kecil dari apartemennya, tapi pikiran dan jiwanya melayang jauh ke Korea sana, mencoba berlari di terowongan panjang nan gelap, pepohonan tinggi di hutan, berjalan buru-buru melewati orang-orang tak dikenal sesekali tidak sengaja ditabraknya, juga gang sempit berkelok yang pengap hingga detil-detil terkecil hanya untuk mencarinya.
Luhan tersadar dari lamunannya ketika merasa matanya mulai berair, kepalanya menoleh melihat jam yang menunjukkan pukul 11 malam, dirasa sudah terlalu malam, ia memutuskan untuk tidur dan berharap tak akan bangun lagi hingga nyawanya bisa terbang bebas menemui lelaki tersebut.
.
.
.
Cahaya matahari memasuki kamarnya melalui jendela yang tadi malam lupa ditutupnya, Luhan terusik ketika salah satu sinarnya tepat terarah pada matanya, ia berusaha menghindarinya dengan menarik selimut menutup wajahnya dan beberapa menit kemudian disibakkan sambil mengipas-kipaskan lehernya, Luhan seperti seseorang habis melakukan sex karena nafasnya terengah-engah, rambut berantakan pun wajahnya.
Di sisi lain, ia mendapati Yixing tidur bertelanjang dada, selimut yang tebal tak lagi menjadi pembungkus tubuh melainkan sebuah guling berbelit-belit, ¾ badannya berada di atas ranjang tapi tidak dengan kepala dan satu tangannya yang menggantung, tak lupa mulut menganga.
Luhan mengernyit jijik pada temannya itu, ia segera menjauh darinya, pergi ke kamar mandi. Ada jadwal kuliah pagi hari ini dan dirinya tak mau membolos, ini adalah sastra Korea dan karena sosok maya tersebut, ia akan belajar giat lalu pergi menemuinya.
Luhan keluar dari kamar mandi setelah wajahnya terlihat lebih baik, kulitnya tak lagi kering, serta nafasnya aroma mint. Berjalan ke lemari berwarna putih, ia mencari-cari kaos v-neck yang kira-kira terlihat cocok dengan jeans birunya.
Sudut matanya menangkap Yixing sedang menguap dan berusaha bangun dari tidurnya. Sambil menggaruk-garuk tangannya dan mata setengah terbuka, Yixing berusara serak. "Kamu mau kemana?"
"Cih. Sikat gigi dulu sebelum bertanya. Mulutmu bau," Luhan menyemprotkan parfum pada leher dan badannya setelah itu kembali diletakkan pada meja lantas mengambil tasnya, "Alkohol." ujarnya berlalu.
.
.
.
"Aku akan ke Changsa dua hari lagi." Ucap Yixing ketika ia berbaring di tempat tidur menatap langit-langit.
"Tumben sekali, siapa yang sakit?"
Yixing menoleh pada Luhan tanpa ekspresi. "Apa aku pulang kalau ada keluarga yang sakit saja?"
"Bukan begitu, tapi, kamu biasanya pulang kalau ada yang sakit bukan? Seperti tiga bulan lalu nenek mu jatuh sakit karena terlalu rindu padamu." Luhan balas menatap dengan mata rusanya.
"Sekarang aku yang terkena penyakit rindu itu." Jawabnya memejamkan mata sembari menyilangkan tangannya di dada.
"Nenek, aku merindukan mu." Cibir Luhan memajukan bibir bawahnya.
"Merindukan nenek lebih baik daripada orang yang bahkan tak pernah kau temui." Balas Yixing dan seketika membuat Luhan membeku. "Kamu kalah." ia tersenyum sinis lalu beranjak mematikan lampu.
.
.
.
an: curhat boleh?
sebenernya aku antara pengen cepet-cepet share chap 3 sama tunda aja, soalnya pas buka email, liat ada yang favorite / follow ff ini tuh seneeeng banget rasanya :D tapi langsung menbung begitu tau ga direview :( ya aku ganyalahin yang udah fav / follow tanpa review kok^^ aku juga tau meskipun gak fav / follow / review tep ada yang baca kan? yeah... silent reader? ._.
aku ga maksa kalian buat review kok^^ cuma, tulisan di internet tetep harus dihargai kan? bukan dengan uang tapi review itu sangat berarti buat si author ^^ ah, setelah baca an aku ini, tolong jangan benci sama aku ya._. aku cuma curhat plis'-')/
oiya, makasih buat yang udah review^^
bow
yeppeunnuna
