The Legend of Golden Banana
bananaprincess
Makasih banget yang udah ngereview chapter2 sebelumnya,
maaf banget belum bisa bales review fict kalian.
baru beres UTS nih,
heehehe...
Warning : OOC dan AU
Disclaimer : Naruto and all characters belongs to Masashi Kishimoto
enjoy...
The Legend of Golden Banana
Chapter 2
Shikamaru's Tale
Perjalanan ke Rawa Danau, Mei 2009
"Ceritakan pada kami," pinta Ino sambil memasukkan satu batang Pocky Choco Banana ke dalam mulutnya.
"Apa?" sahut Shikamaru tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
"Gimana bisa?" tanya Ino dan sekali lagi sebatang Pocky Choco Banana lenyap di mulutnya.
"Iya bagaimana bisa?" timpal Tenten ikut-ikutan dari kursi belakang. "Gimana bisa? Nemuin pisang aneh juga ya?"
Shikamaru tertawa kecil. "Mau tahu aja kalian ini!"
"Kalo enggak cerita aku abisin nih Pocky Choco Banananya!" ancam Ino seraya mempercepat lajunya menghabiskan batang demi batang pocky.
"Ah, gue punya banyak," dalihnya mengejek.
"Ih, Shikamaru nyebelin!" seru Tenten mendekap tangan.
"Yaudah, ayo kita abisin Tenten. Sikaaatttt!!!!" ujar Ino membagi Pocky Choco Banananya dengan Tenten.
"Oi, oi, jangan donk. Nyarinya susah tuh!" kata Shikamaru panik.
"Udah nyupir aja sana!" bilang Tenten memasang tampang makan-pocky-aduh-enaknya.
Ino melirik Shikamaru, "Yah, mupeng dia. Mupeng! Nih gue kasih!" Dilemparnya satu kotak Pocky Choco Banana yang masih utuh kepada Shikamaru.
Ciiiitttt... Disertai bunyi duk dan kelontangan barang-barang di bagasi. Mobil itu berdecit karena dihentikan mendadak. Bertiga mereka belum selesai terkejut ketika tiba-tiba hujan deras turun.
"Aduuuhhh," rintih Tenten. "Kejedut nih! Apa-apaan sih!"
"Kenapa?" tanya Ino yang juga nampak kaget.
Pertanyaan itu disambut hening oleh Shikamaru, matanya belum lepas dari jalanan di depannya.
"Apa? Apa? Ada apa Shikamaru?" Ino menepuk-nepuk bahu Shikamaru dan ikut melihat ke jalanan di depannya.
Tepat di depan mobil Toyota Harrier yang mereka tumpangi tergeletak sesuatu. Bentuknya menyerupai satwa berkaki empat, seluruh tubuhnya berwarna hitam pekat. Namun, tidak tampak begitu jelas karena hujan yang turun begitu lebat.
"Kucing?" celetuk Tenten yang juga ikut memperhatikan onggokan hitam di tengah jalan itu.
"Itu anjing," kata Shikamaru, raut terkejutnya belum berubah sejak tadi.
"Mbek tahu," sambung Ino datar.
"Mbek darimana?" sanggah Tenten. "Kucing tahu."
"Ada gitu kucing segede itu?" dalih Ino.
"Itu anjing. Percaya deh! Tenten ambilin payung dong," kata Shikamaru pada Tenten.
"Itu mbek tahu!" Ino mempertahankan pendapatnya dan bersamaan itu dia membuka pintu mobil. Menerobos hujan tanpa payung hanya raincoat yang memang sejak tadi sudah dipakainya.
"Ino, jangan ujan-ujanan donk," kata Shikamaru keluar dari mobil sambil membawa payung.
Langkah Shikamaru terhenti seketika, melihat apa yang ada di depannya. Begitu pula Ino, tertegun masih diguyur derai hujan yang jatuh. Tidak ada apa-apa didepan mobil mereka, onggokan gelap yang tadi mereka kita kucing, kambing dan anjing mendadak lenyap.
"Hilang," ucap Ino bergetar.
"Gue bener-bener nabrak dan liat jelas tadi. Kenapa?" ujar Shikamaru melangkah mendekati Ino dan memayunginya.
"Gue ngerasa aneh," bilang Ino sambil melihat kesekeliling mereka.
Jalanan lengang bahkan sejak tadi mereka tidak bertemu dengan pengendara lain yang melewati jalan tersebut. Di kedua tepi jalan juga tidak ditemui perumahan, desa terakhir sudah mereka lewati 15 menit yang lalu. Sekarang yang terdapat di kanan dan kiri hanyalah kebun kosong dan sesemakan tinggi. Angin kencang menderu, menimbulkan bunyi gemerisik pepohonan. Kilat yang menyambar disertai gemuruh petir menyadarkan mereka berdua jika mereka masih ditengah hujan deras.
Shikamaru menarik nafas panjang, "Masuk yuk. Basah semua nih. Dingin. Masih banyak yang mesti kita lakukan nanti."
Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali. Sepanjang jalan menuju Resort Cagar Alam Rawa Danau, tersaji pemandangan hijau, pepohonan dan perumahan desa. Jalanan yang ada beraspal dan tidak lebar, tak banyak kendaraan yang melewatinya. Suasana yang tercipta setelah hujan menambah segar udara. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling bicara lagi, mulut mereka seperti dikunci oleh gembok yang tak terlihat.
Sore hari berkabut akhirnya mereka tiba di Resort Cagar Alam Rawa Danau. Tempat ini menjadi tempat pemberhentian pertama mereka, karena untuk memasuki daerah Jamungkal maka harus melapor dulu ke resort. Daerah Jamungkal termasuk dalam Cagar Alam Rawa Danau oleh karena itu diperlukan perizinin masuk ke dalam sana.
Setelah menurunkan barang-barang bawaan karena akan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki keesokan hari mereka menuju menara samping resort. Di menara pengamat di samping kantor resort mereka bertiga berdiri, menatap jauh ke hamparan rawa di bawah mereka. Sesekali terdengar sahut-sahutan suara lutung yang berlarian antara dahan pepohonan di bawah resort.
"Wahh, bagusnya," komentar Tenten takjub.
"Besok kita kesana! Disana," seru Ino heboh.
"Iya," sahut Shikamaru pelan.
"Cerita sekarang," pinta Ino sibuk menyiapkan kamera DSLRnya untuk mengabadikan keindahan yang ada di depannya itu. "Kenapa? Kenapa? Kenapa?"
"Ah ya, kamu belum cerita ke kita," tambah Tenten.
"Cerita apa?" balas Shikamaru memandang lurus ke arah burung-burung yang berseliweran di udara.
"Kenapa kamu bisa tahu? Rawa Danau?" selidik Ino membidikkan kamera ke arah kabut dan rawa. "Kamu juga ngalamin peristiwa kaya aku dan Tenten?"
"Hmm," Shikamaru berdehem pelan. "Harus mulai cerita dari mana ya?"
"Dari awallahhh.... Cape deh!" Tenten mencibir.
"Gue dapet cerita dari kakek buyut gue tentang ini. Awalnya gue gak percaya. Tetapi."
"Tapi apa?" potong Tenten bersemangat.
"Hush! Diem dulu ah, biar Shikamaru ngelanjutin ceritanya," hardik Ino.
"Dengan semua kenyataan yang ada ini. Gue menjadi benar-benar percaya," kisahnya.
"Memangnya kakek kamu kenapa?" Ino menjadi penasaran juga.
"Kakek dari kakek buyutku itulah yang mendapatkan pisang ajaib tersebut, sebelum kemunculannya lagi sekarang ini," lanjut Shikamaru.
"Wah keren!" komentar Ino takjub sambil mengambil foto Shikamaru.
"Kakeknya kamu minta apa?" ujar Tenten.
"Beliau minta..." Shikamaru terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Minta apa? Minta apa?" Tenten tidak sabar mendengar jawaban Shikamaru.
"Kekayaan?! Kesaktian?! Kejayaan?!" tebak Ino.
Shikamaru menggeleng seraya tersenyum. Dari bawah terdengar suara lutung, sepertinya ingin ikut memberi pendapat. Tidak jarang beberapa ekor dari kawanan itu mendekati resort, dengan sigap Ino langsung membidiknya.
"Istri muda?" celetuk Tenten. "Atau Indonesia merdeka? Waktu itu jaman penjajahan kan?"
Ino terpingkal-pingkal mendengar celetukkan Tenten baru saja. "Ada-ada aja."
"Bukan, bukan itu," sangkal Shikamaru.
"Jadi apa ya?" Tenten bertanya-tanya ingin tahu.
"Ah, beliau cuma meminta agar memiliki keturunan yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng kayak gue."
"Haaahhhhh??!!!!" teriak Ino dan Tenten bersamaan, membuat kawanan lutung dan burung-burung berhamburan terkaget-kaget.
TBC
Bogor, 5-6 Mei 2009
