"... Karena itu semua, hari ini saya mengumpulkan anda disini. Sekarang, bagaimana tanggapan anda semua?"
Hari ini, anggota OSIS berserta guru-guru di Auldrant academy ini mengadakan sebuah pertemuan. Pertemuan hari ini yang membahas tentang perizinan untuk mengadakan festival sekolah. Tentu, yang menjadi ketua di acara pertemuan ini adalah Asch. Aku? Aku hanya menonton dari sampingnya... Padahal, aku adalah wakil ketua OSIS, bukan?
Yah... Jabatan wakil ketua itu juga baru kudapatkan beberapa hari yang lalu...
Setelah kami pulang dari misi Karterburg seminggu yang lalu, tidak ada angin tidak ada hujan, Asch menunjukku sebagai wakil ketua OSIS. Aku tidak tahu kenapa alasannya... Tiba-tiba saja dia menunjukku untuk mengisi jabatan tersebut. Padahal saat pelantikannya, dia bilang tidak membutuhkan wakil selama bertugas. Tapi sekarang, dia menunjuk seseorang menjadi wakilnya dan itu adalah aku!? Aku penasaran apa alasannya melakukan itu dan bertanya padanya tapi, anda semua tahu jawabannya? Ya jawabannya adalah...
"Aku butuh orang yang bisa menggantikanku untuk mengerjakan tumpukan laporan yang menyebalkan ini!"
Aku hanya bisa menghela napas dan menerima takdirku menjadi wakilnya yang malang dan hanya diperbudak dia agar aku mengerjakan laporan-laporan miliknya.
"Luke! Tolong nyalakan proyektor dan oprasikan laptopnya!" seru Asch.
Seruannya yang tiba-tiba itu, sukses membangunkanku dari lamunan. "O... Ok..."
Terpampang di layar proyektor, proyek-proyek yang akan dilakukan oleh OSIS. Yang paling utama adalah pelaksanaan festival sekolah untuk menyambut siswa baru pada tahun ajaran baru 6 bulan lagi. Kenapa Asch mengadakan pertemuan antara anggota OSIS ditambah guru-guru dan kepala sekolah? Tentu selain meminta izin, target utamanya adalah meminta dana ke sekolah. Ada lagi selain itu semua? Kayanya tidak mungkin ada...
"Bagaimana dengan sistem keamanannya? Semua yang datang ke sekolah ini pastinya bukan hanya dari daerah sini. Tapi dari seluruh dunia. Bagaimana kau menyelesaikannya?" tanya Cecille, bawahan Ayahku yang berkerja sebagai tentara sekaligus guru Kimia di sekolah ini. Aku tidak tahu kenapa dia ditunjuk menjadi guru Kimia tetapi, saat dia mengajar Kimia, dia memang terlihat sangat menguasainya. Hanya saja... Galak! Bisa saja suatu saat nanti apabila dia kesal, larutan HCl akan melayang diatas kelas. Aku berdoa semoga itu tak akan pernah terjadi...
"Saya sudah meminta Raja Kimlasca dan Raja Malkuth untuk mengirimkan bantuan pengamanan disini. Dengan itu semua, kami yakin keamanan akan terjaga" yakin Asch.
Tangannya Asch mulai gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin. Padahal, baru 30 menit dia berdiri disini. Aku bingung, kenapa semenjak pulang dari Karterburg, Asch terlihat lesu. Dia mudah capek dan selalu tertidur saat jam pelajaran sekolah. Bahkan, dia sering pusing dan nyaris tumbang saat olahraga. Padahal, biasanya dia sangat kuat untuk hal yang mengandalkan fisik. Nampaknya, sekarang antibodinya sedang drop. Aku bingung apa yang terjadi padanya. Apakah dia salah makan beberapa hari kebelakang?
Kalau begini terus, aku harus membantunya!
Warning: AU, OC (hanya 1 orang) rada OOC, no shounen-ai/yaoi, only friendship and family, kata-kata cukup tidak baku…
Disclamer: Bandai Namco
Pain of Affection
Chapter 3
"OK... Rapat hari ini selesai! Terima kasih atas kehadiran anda semua..." ucap Asch sambil menutup rapat ini.
Semua orang keluar dari ruangan terkecuali anak OSIS. Yap, kerjaan anak OSIS setelah acara ini adalah membereskan ruangan. Aku mulai membereskan sampah-sampah yang ditinggalkan dibantu Tear. Anise dan Florian bagian menyapu lantai. Sedangkan Asch membereskan bahan persentasi.
Akhirnya, ruangan besar itu selesai dibereskan. Asch terduduk di kursinya dan mengangkat wajahnya. Terdengar alunan napas Asch mulai berubah menjadi lebih berat serta dia memegang dada kirinya. Aku yang khawatir, mendekatinya dan memegang pundaknya. "Asch... Kenapa?"
"Aku hanya... Kecapean..." jawabnya dengan wajah pucat dan penuh keringat.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tetapi, kalau dia capek seperti ini, aku harus mengajaknya ke tempat itu.
"Tear, kau mau ke Cathredal kampus bukan?" tanyaku pada Tear yang baru saja mau keluar ruangan.
Dia melihatku dan menjawab pertanyaanku dengan lembut sambil memiringkan kepalanya. "Ya... Ada apa Luke?"
"Kami mau ikut kesana. Kau menyanyikan Yulia Hymmn disana kan?"
Tear mengangguk dan tersenyum "Ya... Kalau begitu, ayo kita kesana!"
Sesampai di Cathredal kampus, kami duduk di tempat yang cukup jauh dari tempat dimana Tear akan bernyanyi. Awalnya, Asch tidak mau ikut tetapi setelah kupaksa, dia akhirnya kalah. Terlihat Cathredal cukup penuh dengan orang-orang yang terlihat sangat capek. Di Cathredal ini, biasanya orang-orang yang jiwanya sudah capek, disegarkan kembali oleh Yulia Hymmn yang dinyanyikan oleh Tear.
"Kenapa kau membawaku kemari, Dreck!?" tanyanya dengan tatapan dingin dan lurus kedepan. Bukan melihatku yang ditanya olehnya.
Dreck? Apakah tidak ada panggilan yang lebih bagus untukku, kah? Entah kenapa semenjak kau pulang dari Karterburg, kamu menjadi menyebalkan dan sensi begini! Seperti seorang yang sedang mengalami PMS dan Asch, kau harus ingat kalau aku bukanlah sampah!
"Panggil aku dengan namaku, Asch! Luke! L-U-K-E!" Ejaku dengan kesal.
Asch tidak menghiraukanku. Dia tetap melihat kedepan dengan tatapan dinginnya. Rasanya, aku ingin membogem wajahnya!
"Sumpah, kau nyebelin..."
Akhirnya, Tear datang. Untung saja dia datang dan jika tidak, aku pasti sudah membogem wajah Asch saat ini.
Tear berdiri di tengah-tengah mimbar. Tangan kanannya memegang dada kirinya dan mulai menyanyikan fuka.
Tue rei ze croa riou tue ze
Croa riou ze tue riou rei neu riou ze
Va rei ze tue neu tue riou tue croa
Riou rei croa riou ze rei va ze rei
Va neu va rei va neu va ze rei
Croa riou croa neu tue rei croa riou ze rei va
Rei va neu croa tue rei rei
Diiringin dengan strings, fuka ini terasa sangat menenangkan. Kami pun seolah-olah terbawa pada suatu padang bunga yang sangat tenang dimana angin berhembus dengan sepoi-sepoi. Di padang tersebut, kami mengingat-ingat apa yang kami lakukan sebelum-sebelum ini. Mengingat-ingat itu serasa kepuasaan diri tercapai dan pikiran pun kembali tenang.
Tidak terasa, Fuka telah berakhir. Semua yang hadir di Cathredal pun berdiri dari bangkunya dan bersiap memulai kegiatannya kembali. Aku menoleh pada Asch dan melihatnya yang sedang menundukan kepala dan menutup matanya.
Apakah dia tertidur?
Aku memegang bahunya dan memanggil namanya. Akhirnya setelah dipanggil beberapa kali, dia terbangun.
"Luke... Aku tertidur nampaknya..."
Aku menghela napas. "Dasar! Bagaimana? Sudah gak teralu penat?"
Asch mengangguk dan berdiri dari bangkunya perlahan. Yap... Dia memang terlihat sangat lesu. Aku yakin, pasti tadi malam dia begadang lagi. Entah main game atau menyiapkan proposal untuk rapat tadi.
"Asch! Kamu terlihat cukup lesu? Apakah perlu kunyanyikan sesuatu untuk penambah semangat? Ok deh kalau gitu, aku akan nyanyikan 'Ready Steady Go!'... Ready steady call hold me ba-"
Asch langsung mendorongku hingga aku tersungkur dan menabrak kursi yang berada di barisan sebrang. "Tidak! Terima kasih! Mendingan aku dengar lagu itu jika yang menyanyikannya adalah Hyde-nya asli 100%!"
100%?
Aku terbangun dan mengelus-elus kepalaku yang baru saja dengan mulusnya menabrak kursi berbahan kayu jati. "Kau jahat, Asch!"
Tiba-tiba, seseorang memanggil kami. Orang itu tidak asing. Ya, sang penyanyi fuka tadi, Tear.
"Luke? Kamu tidak apa?" khawatirnya.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. "Ah~ Ya... Tidak apa!"
Dia mendekatiku dan mengelus pelan bagian kepalaku yang terbentur kursi tadi. Terasa suatu hawa hangat dari tangan yang mengelus kepalaku itu. "Ku heal ya..."
Setelah selesai menyembuhkan kepalaku, dia bangkit dari tempatnya duduk dan membungkukan badannya untuk memberi ucapan terima kasih pada kami karena kami telah datang kemari. Aku dan Asch mengangguk dan berterima kasih kembali padanya.
Tiba-tiba, suara aneh muncul dari salah satu perut kami. Ya, band di perut kami terdengar. Tetapi, suara yang paling keras terdengar dari perut milik Asch. Keadaan hening dan wajah Asch pun memerah karena malu.
"I... Ini... Aku..."
Aku tersenyum paksa dan mulutku sudah membentuk seperti angka tiga. "Kau lapar, kan? Ayo... Jangan malu! Ngaku aja!"
"Tidak! Aku..." jawab Asch yang kambuh lagi sifat tsundere-nya.
Tear tertawa kecil melihat tingkah laku kita berdua. Dia tersenyum dan mengajak kami makan di cafetaria. Ide Tear sangat bagus untuk menyelesaikan masalah dengan perut Asch ini. Kami akhirnya memutuskan untuk langsung pergi ke cafetaria. Toh, waktu makan siang kita sudah terlewat satu jam.
Sesampai di cafetaria, Asch tiba-tiba mengeluh pusing dan tidak nafsu makan. Aneh, bukannya dia yang lapar tadi? Kok berubah dratis banget jadi gak mau makan? Strange...
"Bukannya kamu yang ingin makan? Kok, kamu tiba-tiba bilang gak nafsu? Kamu aneh!" kesalku.
Asch memegang tembok untuk menahan tubuhnya yang oleng. Dia melihatku dengan tatapan kesal bercampur pucat. Seolah-olah dia bilang, "Jika kamu melanjutkan lagi obrolanmu, aku gak segan-segan membunuhmu!"
Akhirnya aku berhenti bicara dan memalingkan wajahku. "Ok kalau gitu! TERSERAH! Mau gak mau, aku akan antarkan makanannya ke kamarmu!"
"Kamu..."
"Tidak ada protes!"
Asch berdecak kesal dan mulai berjalan menuju asrama. "Ok! Terserah!"
Dia pun pergi meninggalkanku dan Tear.
"Apakah dia tidak apa?" khawatir Tear.
Aku mengangguk. "Kurasa untuk saat ini, tak apa..."
Belakangan ini, aku selalu heran dengan sifat Asch yang plin plan itu. Apakah dia sedang labil? Atau... Ada masalah dengan tunangannya? Atau... Eh, bentar... Ngomong-ngomong tentang tunangan Asch, mana orang yang bersangkutan? Itu lho... Sang putri dari Kimlasca, Natallia Luzu Kimlasca Lanvade-
"Anda tidak harus mengucapkan nama saya dengan begitu lengkap, Luke!"
"HUWO!? Se... Sejak kapan kau berada disitu, Natallia?"
Ya... Sang putri panjang umur nampaknya. Baru dibicarain, sudah nongol duluan dari belakang kami. Tapi, darimana dia tahu kalau aku menyebut namanya? Bukannya aku mengucapkannya di dalam hati, ya? Apakah dia punya skill baru sehingga bisa membaca hati seseorang? Ability of Read the mind? Wow... Fantastic, baby!
Natallia berjalan mendekatiku sambil menjawab pertanyaanku kalau dia baru saja berada disana. Pandangan dia terhenti tepat di garis simetris tengah-tengahku. Tampaknya, dia mencari seseorang. Pasti bukan yang lain... Dia adalah...
"Asch mana?"
... Sudah kuduga...
"Dia kembali ke kamarnya di asrama. Katanya sih, dia pusing..." Jawabku.
Natallia memegang dagunya dan mengangguk pelan menandakan kalau dia paham. Dia berjalan mendahului kami dan mengajak kami makan bersama.
"Ayo kita makan! Sudah lama kita tidak berbicara layaknya girls time! Ayo, saya yang bayar!" ajak Natallia sambil tersenyum pada kami mengangguk dan mengikuti Natallia untuk mengambil nampan. Aku? Aku masih terdiam dengan ucapan Natallia tadi yang sedikit menyinggung bagian sensitif jiwaku...
Girls? Bentar... Kau selama ini menganggapku seorang perempuan?
Kau jahat sekali...
-NORMAL POV-
Keadaan disebuah ruangan begitu gelap. Hordeng menutupi satu-satunya sumber cahaya di kamar itu. Di dalam sebuah kamar tidur sederhana, sang pemilik kamar sedang merebahkan dirinya di kasur yang terlihat sangat empuk. Kedua matanya ditutupi oleh lengannya. Rambut scarlet panjangnnya dibiarkan terurai secara bebas di kasur. Pakaiannya tampak kusut. Dasinya dilonggarkan dari kerah bajunya. Bahkan, kemeja putihnya pun dikeluarkan dari celana.
Dari dia sampai ke kamarnya ini sepuluh menit yang lalu, tidak ada banyak perubahan dari posisinya yang berada di kasur. Entah apa yang ia pikirkan...
Yang pasti, dia sekarang sedang dalam keadaan sangat capek. Baik capek fisik maupun capek otak...
"A... Aku harus bertahan... Ini... Semua... Untuknya..." ucapnya dibalik kelemahan tubuhnya.
Tampaknya... Matanya semakin sayu. Lama-kelamaan, matanya tertutup mengantarkan sang pemiliknya untuk tertidur beberapa saat.
Di cafetaria, sang kembarannya mulai merasa gelisah. Dia khawatir akan keadaan kakaknya yang sedang berada di asrama sendirian. Bagaimana dengan pelayan yang setia dan selalu menemaninya kemana pun dia pergi? Ya, sang pelayan sedang menjalankan sebuah perkerjaan yang cukup penting di lab komputer sekolah. Komputer-komputer di lab kemarin-kemarin keserang virus. Sudah dari sekitar 48 jam penuh, sang pelayan diam di lab komputer.
Jadi, mau gak mau... Lukelah yang mengurus kakaknya sendiri...
"Natallia... Aku duluan ke asrama ya! Aku khawatir dengan keadaan Asch..." ucap Luke sambil mengangkat tubuhya dan berdiri dari kursi.
Natallia mengangguk. Sebelum Luke pergi, Tear mencegatnya sebentar.
"Luke... Apakah kerjaan OSIS sudah selesai? Bukannya aku mau mengganggu waktu istirahat ketua tetapi..."
Luke tersenyum sambil memalingkan wajahnya pada Tear. "Tenang! Kalian akan melihat itu semua beres di meja Asch besok pagi! Aku permisi!"
Setelah Luke pergi meninggalkan Natallia dan Tear berdua di cafetaria, mereka pun memulai percakapan Girl's time...
"Tear... Apakah kau merasa ada yang aneh dengan kelakuan mereka berdua?" tanya Natallia dengan sedikit khawatir dan merubah cara bicaranya menjadi lebih akrab.
Tear mengangguk. Rambutnya yang halus pun ia kibaskan dengan pelan ke belakang bajunya. "Ya... Semenjak pulang dari Karterburg... Mereka langsung berubah dratis... Kesehatan Asch drop tetapi kesehatannya Luke sedikit demi sedikit membaik. Bahkan, kemarin saja Luke berolahraga dengan baik. Sedangkan kakaknya... Dia harus dibawa ke UKS karena menderita panas dingin setelah bermain voli..."
Natallia sedikit kaget dengan cerita Tear. Matanya yang biru bersinar itu, terlihat membesar dan melotot. "Apa? Benarkah Tear?"
"Ya..." jawab Tear dengan singkat.
Natallia menyenderkan tubuhnya. Dia terlihat sangat kaget karena hal ini. Pasalnya, sudah hampir dua minggu dia meninggalkan sekolah untuk mengurus masalah kenegaraannya. Sebagai putri kerajaan Kimlasca sekaligus pengawas di sekolah yang ia dirikan ini, dia harus mau gak mau disibukan dengan hal mengurus laporan dan semacamnya sehingga, keadaan di OSIS terutama tunangannya dinomor duakan. Yap, memang sudah perintah dari Aschnya sendiri kalau Natallia harus mementingkan masalah negara dahulu sebelum masalah pertunangannya. Karena itu, Natallia kadang jarang berkomunikasi dengan tunangannya itu karena terhambat oleh masalah negaranya yang dari hari ke hari semakin bertambah.
Natallia menundukan kepalanya dan terlihat sangat menyesal. "Tear... Aku tidak berguna... Aku tidak tahu... Kalau... Asch sedang menderita... Aku... Apa yang harus aku lakukan?"
Tear terdiam. Dia menyimpan garpunya dan mengambil saputangan dari kantong jasnya. Dikasihnya pada Natallia. "Bagaimana kalau kau melakukan apa yang kau bisa saja?"
"Apa?" isak Natallia.
Tear tersenyum. "Mema- UPPPSS!"
"Mema?" bingung Natallia
Tear menggelengkan kepalanya. "Ma... Maksudku... Mengerjakan tugas OSISnya! Kau seketaris bukan? Selama ini dia selalu berkerja sendiri..."
"Tidak bisa... Luke sudah bilang mau mengerjakannya..." ragu Natallia. Dia menyimpan tangannya diatas roknya dan meremasnya.
"Kalau begitu... Bagaimana kau mengerjakan sebuah misi saja?" tanya Tear.
"Misi?"
Tear mengangguk dan memberikan sebuah amplop yang mau ditujukan pada Asch tetapi tidak sempat. "Ini misi dari kakekku di Yulia City. Aku belum memberikannya pada Asch karena tadi ada rapat festival kebudayaan sekolah dan sekarang dia sedang tidur di asrama. Aku takut menganggu dia kalau aku menyerahkan ini sekarang. Jadi, bagaimana kalau kita mengerjakan ini bersama? Mungkin saja, Asch akan senang kalau kau melaksanakan misi untuknya."
Natallia terdiam dan kemudian membuka amplop tersebut.
"Kepada ketua OSIS Auldrant academy... Saya Teodoro selaku tetuah di Yulia City ingin meminta bantuan pada kalian semua untuk menjalankan sebuah misi dimana kalian harus mengantarkan sebuah surat pada para pemimpin Kimlasca dan Malkuth dengan selamat. Tentu masalah biaya, akan kami bayarkan sesuai permintaan. Jadi, jika anda berminat... Anda bisa datang pada saya tepat dimana anda membaca surat ini..."
Tear melihat Natallia. "Bagaimana?"
Natallia mengangguk. "Hanya mengantarkan surat, bukan? Itu bisa kita lakukan! Ayo, kita ke Yulia City sekarang!"
Tear mengangguk dan mereka pun beranjak dari kursi kemudian berjalan menuju atap untuk menemui Noelle, salah satu pilot Albiore, dan segera berangkat menuju Yulia City.
Beberapa jeda waktu sebelum para gadis pergi menuju Yulia City, di asrama para kaum Adam, Luke yang sedang berjalan menuju kamarnya (dan juga kamar Asch) di lantai 4. Sesampai di lantai 4, dia melihat seseorang sedang mengetuk-ngetuk pelan pintu kamarnya. Tentu, Luke yang penasaran, memanggil orang tersebut. "Ginji? Ada apa kau kemari?" tanya Luke dengan heran sambil berjalan mendekati Ginji yang terlihat sangat kaget karena namanya dipanggil.
"Ah? Tuan Luke! Selamat siang! Saya mau menyerahkan laporan penelitian ini pada Tuan Asch. Tetapi, setelah saya ketuk beberapa kali, dia tidak membukanya. Kalau boleh tahu, apa yang terjadi pada Tuan Asch?" khawatir Ginji sambil menundukan kepalanya dan menggegam sebuah map coklat.
Luke terdiam melihat Ginji. Dia melihat Ginji dari ujung pangkal antena rambutnya hingga ujung lipatan sepatunya. Luke terdiam dan mulutnya sedikit ternganga. "Anoo... Ginji... Apakah kamu salah minum obat? Pakaianmu... Kok... Seragam... I... Kok..." mulai ngacolah Luke melihat Ginji yang mengenakan seragam sekolah yang sama persis dengan seragam sekolah yang Luke kenakan.
Dengan jas coklat khusus anggota OSIS (spesial memakai pin OSIS), kemeja putih, dasi merah, celana coklat tua, sepatu pentofel, bayangkanlah saja seperti apa Ginji jika memakai pakaian seperti itu. Tentu, kegantengannya akan mengalahkan Guy yang terkenal sangat rapih, cakep, maskulin, gagah, sopan, dan gentelman sejati.
"Oh? Ini? Saya dan Noelle resmi menjadi murid disini mulai hari ini. Selain untuk mempermudah anda memakai Albiore, kami juga disuruh oleh kakek untuk belajar disini dan menghabiskan waktu layaknya anak remaja pada umumnya..." Senyum Ginji yang menyilaukan.
Luke hanya bisa mengangguk-angguk paham setelah mendengar penjelasan Ginji.
Kunci duplikat kamar milik Luke pun dikeluarkan dari saku celananya dan membuka kuncinya. Dibukalah pintu kamarnya oleh Luke dan menyuruh Ginji untuk masuk.
"Silahkan masuk. Maaf ya kalau berantakan. Kamu duduk saja di sofa sebelah sana. Aku bangunkan Asch dulu!" senyum Luke sambil menyimpan kotak makannya yang dibawa dari kantin di meja.
Ginji duduk dan melihat sekeliling. Kamarnya cukup luas dan dihuni oleh 2 orang. Mungkin luasnya sekitar 2 kali kamar Luke yang berada di mansion. Walaupun luas, kamar itu terlihat gelap. Yap, itu gara-gara sebelum tidur, Asch menutup gorden kamarnya sehingga cahaya matahari tidak masuk. Oh ya, Asch tertidur di kasur sebelah kanan. Kedua kasur berada di tengah-tengah ruangan tersebut dan dibatasi oleh meja kecil. Meja belajar dan lemari baju pun berada di setiap ujung ruangan terlihat, sisi kanan dan sisi kiri terlihat seperti pencerminan. Ya... Pemilik kamarnya memang anak kembar.
"Asch! Asch! Bangun! Ada tamu!" suruh Luke sambil menggoncang-goncang pelan tubuh Asch untuk membangunkannya. Asch pun membuka matanya dengan pelan dan melihat Luke. Terlihat dari wajahnya kalau dia sangat capek.
"Lu... Ke... Siapa yang... Datang?" tanya Asch.
"Ginji! Dia sudah datang dari tadi dan menunggumu di depan pintu tanpa kejelasan darimu. Untung ada aku... Jadinya dia bisa masuk kemari." jawab Luke dan membuat Asch terbangun dengan cepat.
"Gi- ukh..." bangun Asch. Tetapi, karena dia membangunkan badannya dengan cepat dan tiba-tiba, kepalanya menjadi pusing.
"Tuan Asch! Pelan-pelan..." suruh Ginji sambil mendekati kasur milik Asch dan membawa sebuah map coklat.
Asch melihat Ginji yang sudah berada disebelahnya sambil memegang kepalanya."Maaf, kau harus melihat keadaanku yang lagi lemah gini!"
Ginji tersenyum. "Sudah biasa melihat kebiasaan orang yang baru bangun tidur kok! Oh ya... Ini laporannya!"
Ginji pun memberikan sebuah map coklat pada Asch dan Asch langsung membaca isi dari map coklat tersebut. Luke tidak tahu menahu tentang apa laporan tersebut, memilih untuk keluar kamar dan membeli minuman di mesin otomatis yang berada –kebetulan- di depan kamarnya. Yaaahh... Setiap 10 kamar, ada 1 mesin minuman otomatis. Satu lantai ada 20 kamar, berarti ada dua mesin otomatis di setiap lantai. Kebetulan sekali, kamar Luke yang paling pojok mendapatkan mesin minuman otomatis di depan kamarnya. Jadi dia tidak perlu capek-capek berjalan sejauh 10 kamar.
Saat Luke berada di hadapan sang mesin, dia terdiam...
"Ini... Bagaimana cara ngambil minumnya?" tanya dia dalam hati.
Bagaimana lagi, mesin otomatis ini baru dioprasikan kemarin. Tentu ini semua kerjaannya Guy karena anak-anak asrama sudah mengirim surat protes yang berisi kalau mereka kejauhan untuk membeli sebuah minuman ringan. Karena surat-surat tersebut bertumpuk di meja Asch dan membuat sang ketua ngamuk-ngamuk, akhirnya kami, anggota OSIS, menyuruh Guy untuk membuat sebuah inovasi dan jadilah mesin minuman otomatis ini.
Luke membaca instruksi yang ada di mesin itu. "Masukan koin receh 150 gald...". Dia memasukan satu koin receh 150 Gald ke dalam mesin. "Lalu, pencet tombol minuman yang diinginkan..." Luke melakukannya. Keadaan hening sejenak dan...
GRADAAAAKKK!
"GYAAA!" kaget Luke dan melihat bagian bawah mesin. Terlihat minuman yang ia inginkan berada disana. Diambilah sekaleng kopi dan melihatnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Ke... Kereeenn! Lagi lagi!" senang Luke yang sudah seperti anak kecil baru dikasih mainan baru.
Aura di luar kamar dan di dalam kamar berbeda 180 derajat. Di dalam kamar, Asch yang sedang membaca laporan, terdiam dan terkejut. "Gerald? Bawahannya Mohs? Buat apa dia melakukan hal ini?"
Ginji menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Asch... Saya hanya tahu dari kakek dan nenek kalau yang memesan lempengan besi itu adalah orang tersebut. Semua perakitan mesin peledak itu bukan berada di Sheridan. Dari Sheridan hanyalah mentahan besi yang dipesan" jelasnya.
"Hh... Kehidupan sekolahku jadi terusik begini! Menyebalkan! Sudah banyak masalah di OSIS, festival budaya sekolah, sekarang masalah ini lagi! Benar-benar menyebalkan!" kesal Asch sambil membanting laporan ke sebelah kanannya.
"Maaf saya hanya bisa membantu anda sedikit..."
Asch menggelengkan kepalanya. "Tidak! Kamu sudah membantuku banyak kok! Oh ya, Luke kok belum balik? Bukannya dia hanya beli minum di mesin otoma-"
GRADAAAAAAKKKKKKK!
"GYAAA! Tolooongg! Aaaaasscchh! Aku tenggelaaaaammm!" teriak Luke dari luar yang tentu membuat Asch dan Ginji lari keluar kamar.
"Dreck! Ada a-"
Ucapannya Asch terpotong karena dia kaget melihat apa yang terjadi pada adik kembarnya itu. Keadaanya... Sungguh menghawatirkan. Kaleng-kaleng minuman keluar dengan banyak dari mesin minuman otomatis hingga menimbun Luke. Bayangkan saja, jika pasokan setiap jenis minuman ada 10 kaleng dikali 10 jenis minuman, berarti kurang lebih 100 kaleng menimbun Luke.
"Dreck! Apa yang kau lakukan? Ada apa dengan kaleng sebanyak ini!?" heran Asch sambil menyingkirkan satu persatu kaleng minuman yang menimbun adiknya itu dibantu oleh Ginji.
"Haaaa... Huuuu... Haaa... Huuu..." jawab Luke dengan nada aneh. Tampaknya, diatas kepalanya sudah banyak kaleng dan bintang-bintang yang bertebangan.
"Aku akan menghubungi Guy untuk memeriksa mesin i-"
Ucapan Asch terpotong saat dia mendengar suara yang berfrekuensi tinggi melintas diatas kepalanya. Dia, Ginji, Luke dan yang berada disana melihat keatas langit dan terlihat kalau Albiore 2 melintas.
"Itu... Albiore milik... Noelle..."
Asch membalikan wajahnya pada Ginji. "Apa? Bukannya sekarang tidak ada misi? Kenapa dia menerbangkan Albiore?"
Ginji menggelengkan kepalanya. Dia pun segera berlari menuju tangga asrama. "Saya akan menghubungi Noelle dari Albiore milik saya! Saya permisi dulu, Asch!"
"O... Oi! Aku punya firasat aneh begini... Teman-teman yang melihat disini, bisa tolong rapihkan kaleng-kaleng ini hingga yang memperbaiki mesinnya datang? Aku dan Luke punya urusan!"
Untung saja saat itu banyak tetangga kamar Asch yang berdatangan untuk melihat apa yang terjadi dengan mesin kaleng otomatisnya. Dengan begitu, ada yang membantu dia disaat genting begini.
"Luke bangun! Kita ada misi!" seru Asch sambil menggeret Luke yang sedang berada di alam penuh dengan bintang dan kaleng. Tetapi, setelah mendengar suruhannya Asch, Luke langsung kembali ke alam nyatanya dan terbangun. "Misi?!" tanya balik Luke.
Luke pun langsung berdiri dan berlari menuju kamarnya. "Lu... Luke?! Ada apa?!"
Dengan cepat, Luke keluar dari kamar sambil membawa tas ranselnya yang besar dan sebuah sweater berwana yellow lighter 60%. Luke memberikan sweater itu pada Asch. "Ini jangan sampai ketinggalan! Kau bisa sakit!"
Asch terdiam dan kemudian mengambil sweater yang dibawakan Luke tersebut. "Te... Terima kasih..."
Mereka pun berlari menyusul Ginji di Albiore 3 miliknya.
Di Albiore 3...
"Noelle! Ini Ginji! Jawab aku! Noelle!" seru Ginji di hadapan mic penghubungnya. Karena tidak ada respon, Ginji pun memasukan kunci Albiore dan menyalakan mesin Albiorenya. Dengan menyalakan mesin Albiorenya, Ginji dapat melacak kemana perginya Albiore yang lain. Terlihat di radar kalau Albiore milik Noelle sudah tidak berada di dekat sekolah. Saat memperbesar skala radarnya, terlihat kalau Albiorenya Noelle sedang berjalan menuju Yulia City.
"Yulia City? Ngapain dia kesa-"
"Ginji!" seru Asch saat memasuki Albiore.
Ginji melihat Asch dengan kaget. "Asch? Kenapa kau kemari? Dan tuan Luke, anda tak apa?"
Luke menggembungkan pipinya dan berdecak kesal. "Kenapa kau memanggil Asch dengan namanya sedangkan kau memanggilku dengan embel-embel 'tuan'? sudah, 'Luke' saja!"
Ginji mengangguk paham. Asch mengambil micnya dan menghubungkannya sinyalnya pada Albiore milik Noelle. "Disini Asch! Noelle, kenapa anda menerbangkan Albiorenya tanpa izin dariku?"
Akhirnya, Noelle pun menjawab. Tetapi, bukan suara Noelle-lah yang terdengar tetapi suara...
"Asch! Saya sedang ada misi!" jawab seseorang dengan suara yang sudah tidak asing.
Mendengar suara tersebut, Asch langsung terdiam dan mati kutu. Wajahnya terlihat berubah dratis dari yang marah menjadi pucat. Saat ini, dia sudah seperti zombie. "Na... Natallia?! Ke... Kenapa kau ada disana!?"
Luke mendengar nama Natallia disebut, langsung tidak bergeming. Sudah sama seperti Asch, dia mati kutu. Ginji hanya bisa heran melihat kelakuan anak kembar tersebut. Dia pun memencet tombol Loudspeaker sehingga semua orang yang berada di Albiore milik Ginji dapat mendengarnya.
"Saya menjalankan misi dari Teodoro-san, kakeknya Tear. Dia menginginkan ada yang mengirim sebuah surat pada ayah dan Emperor Peony IX. Karena anda tadi tidak berada di ruang OSIS, saya yang menjalankan misinya dengan Tear" jelas Natallia.
Asch berdecak kesal. "Cih... Kamu... Apa maksudmu untuk melakukan hal itu tanpa persetujuan dariku, hah?"
"A... Asch... Tenang..." khawatir Luke.
Balasan dari sana pun terdengar. "Saya hanya mau membantu anda saja! Sudahlah, anda istirahat saja di asrama! Biarkan kami yang melakukan misi ini!"
"Tapi..."
*TERPUTUS*
Keadaan di Albiore 3 milik Ginji pun hening. Natallia tiba-tiba memutuskan sambungan komunikasinya yang membuat Asch terdiam. Aura hitam sudah keluar dari tubuhnya. Auranya mencengkam dan sangat ganas. Terasa kalau Asch ingin membunuh sesuatu dengan tangannya ini. Terdenar dari alat komunikasi yang ia pegang sudah terdengar bunyi 'krek'.
"Dia..."
"A... Asch... Tenang... Na... Nanti..."
"Dia..."
"A...Asch... HIIIIYYY!"
Luke langsung berteriak ketakutan saat melihat aura hitam Asch sudah menyembur keluar dengan hawa pembunuhnya yang tinggi. Ini menandakan kalau dia sangat kesal dan siap membunuh siapa pun yang mengganggunya. "Dia... Berani-beraninya... Ok... Aku terima..."
"A... Asch..."
"DRECK!"
"YA!?" panik Luke.
"Hubungi Jade sekarang juga dan bilang, gue dan loe sekarang mau ke Yullia city dilanjutkan ke Baticul dan Grand Chokomah untuk jalani misi." Senyum iblis Asch. Sinar mata pembunuhnya sudah keluar dengan cepat dan sangat terang. Aura yang mencengkram itu pun berterbangan diantara Ginji dan Luke yang berada di dekatnya. Luke hanya bisa mengangguk paham dan mengambil ponsel miliknya dari kantung celana dan menghubungi Jade. Dia tidak mau ambil resiko jika Asch sudah merubah nada bicaranya dari yang sedikit kasar menjadi sangat kasar. Setelah mendapat persetujuan dari Jade, aura gelap Asch terbang menuju belakang leher Ginji . Ginji juga ikut takut dan akhirnya menarik setir Albiorenya lalu mulai terbang ke Yulia City.
Selama perjalanan, tentu di Albiore milik Ginji terasa sudah berada di rumah hantu dengan hantunya itu siap membunuh semua orang yang ada di Albiore itu. Berbeda dengan keadaan di Albiore milik Noelle yang berisi para gadis yang riang. Aura mereka sudah terasa bagai di taman bunga yang indah.
Di Daath...
"Tuan besar Mohs!" ucap seorang pria berbadan besar penuh dengan otot, berjalan menuju sebuah meja milik Mohs, pendeta tinggi di Daath.
"Ada apa? Gerald?" ucap Mohs.
"Menurut para peneliti score, pada tahun ini seharusnya sudah terjadi sebuah insiden di kota Katerburg bukan? Masyarakat Katerburg yang banyak menjadi korban akibat keganasan monster-monster yang menyerang kota, kenapa ini meleset?" tanyanya dengan tatapan yang tajam. Pakaiannya pun sama dengan pakaian yang Mohs kenakan dan merupakan pendanda kalau dia itu petinggi di Daath.
Mohs membantingkan buku-bukunya dengan keras ke mejanya. "Apa? Score itu meleset? Bagaimana bisa? Bukannya itu sudah tertera dengan pasti di score dan harus menjadi kenyataan?"
"Itu benar, tuan. Padahal saya sudah menyimpan sebuah bom dan jika bom itu meledak, salju-salju akan longsor dan membuat para monster berlari menuju arah kota untuk balas dendam. Tetapi, sampai sekarang belum ada berita mengenai hal tersebut..."
"Apa? Kamu melakukan hal senekat itu? Kau bodoh apa? Bagaimana kalau Fon Master Ion tahu tentang hal ini? Celakalah kita!" kesal Mohs. Tampaknya, dia sedang dalam keadaan mood tingkat -100. Buktinya, dia daritadi bentak-bentak terus.
"Tenang... Saya jamin tidak akan terbongkar, Tuan Mohs!" ucap pria berbadan besar tersebut.
"Aku harap seperti itu!"
Mereka tidak tahu kalau dibalik pintu tersebut, seseorang sudah mendengar semua percakapan mereka.
"Jadi... Ini semua..." ucapnya dengan suara innocent.
TO BE CONTINUED
Author's note:
OK, ini sebenarnya sudah beres diketik dari beberapa bulan yang lalu, tapi karena gak sempet diperiksa dan baru nyadar pas beresin file komputer kemarin, baru uploadnya sekarang. haduh... maafkan atas keleletannya habis, tugas kampus menumpuk -_-a Ok, ditunggu komentarnya dan maaf reviewnya belum bisa dibalas.. Modemnya menyebalkan =_=
