GENOCIDE

by Shigure Haruki & Keikoku Yuki (a collaboration fic)

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

| Alternate Universe | Rated M for hard plot and gore | Multi-chapters |

Maybe OC, OOC, typos, and other faults

Don't Like? Don't Read, Don't Flame


.

Chapter III : The Informant

"Informasi..., hanya itu kepingan kecil yang dapat kita kumpulkan untuk dapat bertahan hidup."

.

10.15 a.m. – The Forest of Tross

.

"Kenalkan aku Hanji Zoe; pengelana," ujar wanita itu sambil tersenyum lagi, "Kalian?"

Wanita berkacamata itu melangkah mendekat dengan tangan terulur sebagai salam perkenalan. Sepintas terlihat logam berkilat pada saku kulit yang terikat sabuk di tungkai bawahnya. Maka, alih-alih jabatan tangan, pedang sejajar batang tenggoroklah yang Hanji dapat. Meski tangannya terangkat tanpa perlawanan, ia tertawa kecil ketika ancaman itu jelas terletak di atas nadinya.

"Siapa kau?" tanya Rivaille lagi dengan maksud berbeda dari yang pertama. Ia tahu persis seperti apa senjata api asli dan wanita ini membawanya. Bukan hanya satu, tapi dua—pada sisi kiri dan kanan tubuhnya. Tidakkah itu lebih dari cukup sebagai bukti bahwa Hanji Zoe bukan seorang pengelana biasa?

Namun satu tarikan pada ujung seragam Deus Mortem menyentak Rivaille dari berbagai kalkulasi dalam pikirannya. Ia menoleh ke arah bocah Ignis yang menatap Hanji tanpa ekspresi.

"Dia bukan orang jahat," ucap Eren singkat. Tidak ada pemaksaan opini pada nada bicaranya, namun keyakinan jelas tertuang pada kedua tatap yang memantulkan wanita berambut hitam itu. Rivaille berdecih sebelum menatap kembali mangsa pedangnya. Dari jarak sedekat ini, mudah baginya membelah kedua saku pistol pada sisi tubuh wanita ini.

Angin yang berhembus sepoi pun agaknya hanya mampu menggugurkan sedikit dedaunan sebagai pemanas suasana. Ia tak kuasa melerai pertentangan antara dua pihak yang bersinggungan itu.

"Wah, anak manis. Kau benar. Sayangnya aku sama seperti kalian," Hanji menanggapi komentar Eren sambil tersenyum.

"Apa maksudmu?" tanya Rivaille sangsi. Meski ia menangkap jelas arti kata-kata lawan bicaranya, kepercayaan memang bukan hal yang murah untuknya. Sedangkan Eren adalah satu-satunya pengecualian. Mungkin yang pertama dan yang terakhir.

"Aku seorang pelarian, sama seperti kalian, bukan? Seorang pemuda dan seorang anak laki-laki di dalam hutan dengan pelana kuda penuh perbekalan—terlebih salah satunya disertai insting pembunuh yang luar biasa—bukanlah hal yang dapat kau temui ketika berjalan berkeliling kota. Singkatnya kalian bukan kombinasi yang biasa," jelas Hanji dengan diakhiri wajah puas—menyisakan argumen tak berbantah yang telak.

"Kawan atau lawan. Nyatakan!" perintah Rivaille dengan pedang yang mulai menembus kulit ari. Jelas tak ada keraguan baginya untuk menghabisi satu nyawa sementara ia telah membantai ribuan nyawa sebelumnya. Nafas wanita di depannya ini tak ada bedanya dengan nafas lain yang telah ia renggut dari rongga kehidupan mereka.

"Aku tak berpihak pada siapapun," jawab Hanji tenang, ia bahkan sempat membetulkan letak kacamatanya ketika pedang Rivaille mulai membiarkan sedikit darah menetes keluar dari lehernya, "Hanya saja, jika aku lawan—,"

CLANG!

Sebuah pisau kecil menyingkirkan katana Rivaille. Dengan cepat Hanji berkelit ke bawah dan menarik double handgun yang tersarung pada sakunya. Ia melompat ke depan dengan tubuh setengah tertunduk hanya untuk menangkap Eren dan membuat keadaan berbalik.

"EREN!"

Rivaille maju dengan cepat untuk merebut Eren, namun satu moncong pistol pada kepala anak itu membuatnya kehilangan diri sesaat. Dengan cekatan, satu katananya menjatuhkan pistol di sisi kepala Eren lalu ia memanfaatkan putaran tubuhnya untuk menebas leher wanita itu. Namun bunyi logam yang bergesekan lagi-lagi mengudara. Rivaille hanya mampu menampilkan air muka penuh kejut ketika ia lihat pedangnya mengarah pada orang yang seharusnya ia lindungi, sementara Hanji tengah mencegah tebasan itu dengan badan pistol.

"Kau tak cocok melindungi. Dari kemampuan tempurmu, selama ini kau adalah pembunuh kelas satu yang dapat menghabisi penduduk sipil dengan laju tiga sampai empat jiwa per detik jika mereka berada dalam radius satu meter. Kau komandan Deus Mortem yang rumornya terdengar di dalam istana—Rivaille. Apakah tebakanku salah?" Hanji mengakhiri analisanya dengan seulas senyum tipis. Ia baru saja memenangkan pertaruhan antara hidup dan mati ketika mengetahui siapa lawannya. Entah untuk yang keberapa kalinya keberuntungan menaungi wanita itu hingga membebaskannya dari maut.

"Cih! Apa maumu?" tanya Rivaille sambil menarik pedang yang baru saja salah sasaran. Ia menatap Hanji dengan kekesalan yang tertera pada raut wajah dinginnya. Setelah itu, segera ia tarik kembali Eren ke dalam peluknya.

"Bukan apa-apa. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak berpihak pada siapapun? Tetapi karena negara ini bukan lagi milikku, kurasa kita adalah kawan?" ujarnya disertai tawa. Ia berjalan mendekat lalu menepuk puncak kepala Eren.

"Kau anak yang menarik, Eren. Mengapa bisa tidak ada ketakutan sama sekali pada dirimu ketika aku hendak membunuhmu?" tanya Hanji dengan tatapan penuh selidik yang ia tujukan pada Eren. Daripada kecurigaan, mungkin lebih tepat jika dikatakan sikapnya itu seakan tengah berhadapan dengan sebuah objek penelitian hidup yang dapat berbicara—menyebabkan rasa ketertarikan dan keingintahuan yang membucah.

Segaris senyum kecil mengembang di wajah Eren tatkala ia mengeratkan sebuah lengan yang masih melingkar protektif pada lehernya, "Karena Rivaille adalah ksatriaku."

Tawa histeris Hanji pecah ketika ia mendengar jawaban anak itu. Baginya, jawaban Eren sama seperti memutarbalikan fakta dasar tentang predator. Bagaimana bisa pembunuh ulung di negeri ini ia setarakan dengan ksatria? Ada yang salah dengan otaknyakah? Jelas citra itu begitu bertolak belakang dengan reputasi yang diemban Rivaille selama ini.

"Eren, berhenti mengatakan hal seperti itu," Rivaille mendesah lelah sambil menarik Eren menuju tempat peristirahatan kecil mereka sebelumnya. Ia biarkan anak itu duduk di atas potongan kayu besar untuk melanjutkan sarapan yang sempat tertunda karena interupsi Hanji barusan, lalu duduk di sisinya.

"Ah, maaf," ucap Hanji sambil mempersilahkan diri sendiri bergabung tanpa diminta, ia duduk di seberang kedua tatap heran yang tertuju padanya.

"Aku tak bermaksud mengolok, hanya saja pernyataan kalian barusan seakan kalian adalah sepasang kekasih dalam sastra klasik," lanjutnya ceria. Rivaille mendelik kesal ke arah Hanji sementara Eren tampak tidak mengerti analogi barusan.

"Maksudnya?" tanya Eren lugu. Terang saja ia tak memperoleh jawaban selain tawa dari Hanji, sementara Rivaille hanya mendengus jengkel. Eren pun memilih untuk diam karena ada tidak solusi yang dapat memecahkan rasa ingin tahunya.

"Berapa umurmu, Eren?" tanya Hanji mengalihkan topik. Ia menghapus setitik air mata yang menggantung pada ujung pelupuknya—bukan air mata sendu tentunya.

"Dua belas tahun."

Rivaille menanggapi jawaban itu dengan ekspresi yang biasa sementara Hanji terbelalak kaget.

"Benarkah? Hei, Rivaille! Bukankah penculikan anak di bawah umur itu termasuk pedofilia?" celetuknya sebelum memperoleh satu hantaman panci—peralatan survival—pada wajahnya.

"Kau beruntung panci itu sudah tidak panas," aura gelap tak kasat mata menyelubungi Rivaille yang jelas kesal karena pernyataan konyol Hanji. Wanita itu kembali tertawa riang sementara Eren masih tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

Domba dalam kandang memang terlalu buta akan dunia luar, bukan?

.

11.49 a.m. – The Royal Palace

.

"Aku tak percaya komandan mengkhianati kita dengan berpihak pada bocah klan Ignis itu," gerutu Jean ketika ia dan keempat anggota Deus Mortem lainnya tengah mengadakan rapat darurat di ruangan Sang Perdana Menteri. Matanya menatap berkeliling, mencari pendapat senada dengan miliknya yang baru saja diutarakan.

Mereka semua tahu bahwa Rivaille adalah seorang pimpinan perfeksionis yang tidak mungkin mengabaikan tugas. Hanya sejumlah pengecualian langkaseperti ikatan darah—yang mungkin mencegahnya membunuh. Akan tetapi garis darahnya sudah tak tersambung kemanapun, semua anggota Deus Mortem dan seluruh petinggi kerajaan Sina tahu itu. Karena hal itu pulalah yang menghapuskan setitik keraguan sekalipun pada pemuda dengan usia belia itu tatkala ia menginjakkan kaki di dunia hitam yang ternoda merahnya darah.

Marco tersenyum dari ujung lain ruangan ketika tatapan Jean jatuh ke arahnya, "Aku juga berpendapat sama. Bukankah selama ini ia tak pernah memaafkan satu kesalahan kecil sekalipun? Tak ada alasan baginya untuk melakukan kesalahan terbesar itu sendiri."

Berthold dan Jean mengangguk setuju sementara Reiner terlihat tak peduli.

"Oh, ya? Bukankah ketidaksetiaan yang ia tunjukkan begitu jelas? Mengapa kalian masih membelanya?" sanggah Mike—anggota tertua Deus Motem—yang akhirnya angkat suara setelah membolak-balik berkas berisi kumpulan fakta mengenai klan Ignis di tangannya.

Jean berjengit mendengar jawaban Mike. Ia tahu bahwa sosok Rivaille yang selama ini menjadi panutannya itu tidak terlalu disukai oleh Mike Zakarius hanya karena usianya yang jauh lebih muda. Memang pria yang usianya hampir menyentuh akhir tiga puluh akan merasa harga dirinya terluka bila harus mematuhi perintah bocah bau kencur, sekalipun yang memang kompeten dalam bidangnya. Akan tetapi memandang orang muda sebelah mata bukanlah sikap bijak yang layak dihormati.

"Sudahlah, Rivaille memang belum tentu berkhianat," ucap Irvin menengahi perselisihan kecil yang mulai mencuat di tengah rapat itu. Ia menatap satu per satu para prajurit khusus milik kerajaan sebelum menatap kembali yang paling sulung di antaranya.

"Mike, aku harap kau dapat menjadi ketua sementara Deus Mortem sampai pengkhianatan Rivaille dapat dipastikan," ucapnya tenang.

Mike menyeringai puas sebelum berjalan keluar ruangan sebagai tanda rapat telah berakhir untuknya. Ia memang memiliki kebiasaan meninggalkan diskusi sejak awal bergabung dengan divisi elit itu. Terlebih setelah Rivaille menjadi pimpinannya.

"Percayakan padaku. Aku pasti akan menyelesaikan tugas yang tak dapat diselesaikan bocah itu dengan baik."

BLAM!

Pintu besar penghubung ruangan Irvin dan koridor setengah terbanting acuh sementara beberapa di antara mereka menggelengkan kepala atas kelakuan pria yang satu itu.

"Masih ada kemungkinan Rivaille berada di bawah pengaruh kekuatan anak itu. Kita tak tahu sejauh mana kemampuan klan Ignis dalam mengendalikan alam. Bisa saja mereka dapat memanipulasi pikiran manusia," Irvin melanjutkan penjelasan kepada empat pembunuh handal yang masih duduk bersama dengannya di atas sofa merah mengelilingi meja kaca bundar. Mungkin ini hanya salah satu pembelaannya terhadap pemuda yang kerjanya paling ia percaya diantara Deus Mortem—harapan bahwa bidak terkuatnya tidak berganti warna begitu saja sementara raja pihak lawan belum jatuh.

Jean mengangguk antusias dengan alasan serupa—berharap bahwa sosok yang dikaguminya masih berada di pihak yang sama. Di sampingnya Berthold mengangkat satu tangannya sebelum mengutarakan hal yang mengganggu pikirannya setelah membaca berkas informasi mengenai klan Ignis tersebut.

"Bagaimana cara kita mengetahui komandan sedang dikendalikan atau tidak?" tanya Berthold dengan setengah putus asa. Bukan karena ia terlalu dungu, melainkan otaknya yang brilian pun tak mampu mencari penyelesaian dari masalah yang bertentangan dengan logika.

Semua anggota Deus Mortem dan pemilik kekuasaan kedua tertinggi di kerajaan Sina bungkam ketika masalah ini dikemukakan. Ya, bagaimana mereka tahu Rivaille berpihak pada pemilik terakhir darah klan Ignis tersebut atas keinginannya sendiri ataukah karena pengaruh kekuatan lain yang berkuasa atasnya? Tidak ada yang tahu jawabannya—tidak untuk manusia biasa seperti mereka, sekalipun mereka menyandang gelar sebagai dewa kematian maupun perdana menteri.

"Mungkin satu-satunya jalan menghilangkan pengaruhnya adalah dengan membunuh anak itu sendiri. Bagaimana?" tanya Reiner sambil menyeringai. Menyelesaikan perkara dengan pertumpahan darah memang satu-satunya hal yang menjadi keahlian pria berambut pirang itu. Yang lain berpikir sejenak sementara mereka ragu apakah jalan ini akan bekerja jika Rivaille melindungi anak itu mati-matian. Apakah mereka sanggup menghadapi komandan yang jelas dipilih di usia yang begitu muda karena kualitasnya yang jauh di atas rata-rata?

"Lagipula, kurasa kemampuan komandan akan menurun drastis di pertemuan kita selanjutnya. Bukankah anak itu kini menjadi beban yang harus ia lindungi? Akan sulit bagi anggota Deus Mortem yang hanya tahu membunuh seperti kita untuk melindungi satu nyawa sekalipun. Kurasa membunuh anak itu bukan perkara sulit," Reiner menutup argumennya dengan bangkit berdiri—hendak melangkah meninggalkan ruangan pula. Ia berhenti sejenak di depan pintu hanya untuk meninggalkan satu pesan terakhir di hari itu pada kawannya.

"Dan Jean, aku tak peduli siapapun yang jadi kepala selama kita dapat menjalankan fungsi divisi sebagaimana harusnya. Jika kau masih memandang kagum pada sosok yang mungkin berkhianat, jangan salahkan kami jika kau kehilangan pijakan akan keyakinanmu sendiri."

BLAM!

Sekali lagi, bunyi pintu yang menutup mengurangi jumlah orang di dalam ruangan dan menyisakan kesunyian sesaat. Jean masih sibuk berpikir ketika Marco dan Berthold bangkit lalu mengajaknya serta untuk keluar ruangan. Irvin telah memutuskan untuk memakai solusi Reiner. Agaknya memang tidak ada jalan lain untuk megembalikan pembunuh terkuat mereka. Karena itu rapat ini ditutup dengan berat sebelah ketika separuh anggota Deus Mortem yang tersisa di ruangan itu masih menaruh kepercayaan mereka pada pemuda yang telah dicopot dari jabatannya oleh Sang Raja.

Melihat sifat Dot Pixis, tak menutup kemungkinan ia akan tetap memberi perintah untuk mengeksekusi Rivaille meski pemuda itu berkhianat karena tengah dikendalikan oleh si bocah Ignis. Ia adalah pria kaku yang menegakkan monarki dengan cara kotor. Untuk apa kiranya ia menyimpan pion usang yang tak dapat dipakai?

.

01.00 p.m. – Han-gardian, The Trading Town

.

Setelah keluar dari hutan dengan pepohonan lebat nan menjulang, ketiga pengelana itu tiba pada sebuah kota di selatan ibu kota Shigasina. Han-gardian, sebuah kota perdagangan otonom dengan perekonomian yang baru saja merangkak naik sejak sekitar dua tahun yang lalu. Kini kota yang awalnya sepi itu tengah ramai dipenuhi orang yang berlalu lalang, entah untuk urusan bisnis maupun hal remeh lain yang berada di bawahnya.

Dengan menuntun kuda masing-masing, Rivaille, Eren, dan Hanji memasuki jalan utama kota tanpa ragu. Mereka sama-sama buronan kerajaan. Banyak orang yang mungkin rela berbuat apa saja untuk mendapatkan kepala mereka dan menyerahkannya pada raja. Namun, ini adalah kota otonom. Hampir tidak ada prajurit kerajaan yang berkeliaran di Han-gardian—menjadikannya salah satu tempat yang cukup aman untuk para pelarian seperti mereka. Senjata tidak dilarang dan Hanji bahkan memiliki beberapa partner di kota ini meski ia memperkenalkan diri dengan nama Zoe.

"Kita mau kemana?" tanya Eren sambil menggenggam erat lengan bebas Rivaille yang berjalan di sebelahnya. Pemandangan ramai jelas baru pertama kali dilihat anak itu—menimbulkan rasa khawatir secara naluriah. Ia hanya merapatkan tubuhnya ke si pemuda tatkala pertanyaannya dijawab dengan tepukan lembut di kepala.

"Tidak perlu takut, Eren," ucap Rivaille mengerti. Ia masih mengikuti langkah Hanji yang mengenal baik kota itu, sementara si wanita berkacamata diam-diam tersenyum mendengar percakapan di belakang yang dinilainya penuh kasih.

Rasanya mustahil bukan jika melihat petarung paling andal di negaramu bersikap demikian pada seorang anak laki-laki dan bahkan berjuang melindunginya? Entah kenapa pemandangan itu terlihat manis, seakan darah yang telah ditumpahkan Rivaille di masa lalunya hanyalah dusta belaka.

Tak lama kemudian mereka singgah di salah satu toko pakaian untuk menukar seragam Deus Mortem milik Rivaille yang jelas akan membuatnya mudah dikenali para pengejar. Rivaille mengganti pakaiannya dengan setelan—kemeja dan celana—hitam, rompi abu-abu dan boots sewarna rompi. Sementara kelebihan nilai jual seragamnya—yang menurut si pedagang memiliki desain unik—bahkan mampu membelikan beberapa keperluan tambahan dan juga baju ganti untuk Eren.

"Kau menyukainya, Eren?" tanya Hanji ketika Eren selesai mengganti kaus sewarna tanah yang semula dikenakannya dengan kaus putih, celana hitam, jaket biru langit bertudung, dan sepasang sepatu kets putih.

Eren mengangguk antusias dengan wajah berseri—emosi pertama yang mungkin dilihat Hanji dan Rivaille setelah mereka keluar dari hutan—jelas bahwa ia sangat menyukai busana barunya, "Terima kasih, Zoe!"

Hanji tersenyum. Tak ia sangka Eren bahkan mengingat nama panggilannya di kota ini meski hati anak itu tengah meluap-luap gembira.

"Umm, boleh tambah ini juga?" Eren mengambil sebuah topi cokelat tua berparuh yang cukup besar dan nampak menggembung pada bagian kepala.

"Tentu. Tak kusangka Zoe memiliki dua adik laki-laki seperti ini," kata si pedagang sambil tertawa riang. Pria tua itu mungkin satu-satunya pedagang pakaian yang masih memperbolehkan sistem barter di tokonya, salah satu mitra yang Hanji percaya dapat mengelabui kerajaan.

"Oh, mereka ini kerabat jauh yang lama terpisah," kata Hanji menimpali—mengacuhkan Rivaille yang berdecih. Ia masih terus mengobrol tanpa sadar Eren tengah berlari kecil ke tempat mantan komandan Deus Mortem itu.

"Rivaille, ini untukmu," kata Eren sambil menyodorkan topi yang semula dimintanya dari si pedagang. Rivaille menaikkan alisnya heran. ia tak mengerti maksud anak itu memberinya topi. Hanya ekspresi polos yang dapat ia tangkap pada wajah anak itu.

"Agar kita tidak ketahuan," lanjut Eren sambil tersenyum kecil. Ah, anak ini jadi sedikit lebih hidup sekarang dan Rivaille menyukainya. Meski pekerjaannya seringkali bersisian dengan kematian, entah kenapa rona kehidupan yang mulai muncul perlahan pada diri Eren membuatnya tergerak.

"Aku tidak mau, kau saja yang pakai," ucap Rivaille sambil memakaikan topi itu ke kepala Eren. Namun Eren tampak kecewa ketika pemberiannya ditolak. Meski emosinya tak terlalu tampak, bukan hal sulit membaca emosi minim yang serupa bagi Rivaille.

"Baiklah, hanya di dalam kota saja," putus Rivaille akhirnya—membuat senyuman kecil kembali terkembang di bibir Eren.

.

01.33 p.m. – The East Side of Han-gardian

.

Setelah berhasil menyeret Hanji dari kebiasaan mengobrolnya yang ternyata panjang, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke tujuan semula. Seorang informan, itulah kenalan yang akan ditemui Hanji, Rivaille, dan Eren di kota ini—tempat dimana segala jenis perdagangan ada bahkan informasi.

Mereka tiba di depan sebuah rumah klasik setelah berjalan memasuki gang-gang yang agak jauh dari keramaian kota dan menaiki beberapa undakan tangga. Hanji menggerakkan besi bulat pengetuk pintu kayu itu sebagai penanda kedatangan mereka.

"Penjahit Springer?" tanya Rivaille heran ketika melihat tulisan pada papan yang tertera di pintu. Eren yang selama ini hanya tahu penjahit khusus dalam kastilnya di Ignillum hanya ber-oh kecil. Ia baru tahu ada penjahit yang membuka usaha di luar seperti yang satu ini.

"Cara yang cerdas untuk menyembunyikan jejak dengan rapi, bukan?" kata Hanji dengan satu cengiran lebar yang menyertai sesudahnya. Rivaille tidak menanggapi lagi ocehan wanita itu sampai pintu terbuka dan menunjukkan sesosok pemuda lain dengan kepala nyaris tanpa rambut.

"Yo! Connie," sapa Hanji ceria sambil melenggang masuk ke ruangan yang entah sudah berapa kali dikunjunginya.

"Ternyata kau, Hanji," kata pemuda bernama lengkap Connie Springer itu dengan satu hembusan nafas lelah—seakan tamu yang tak terlalu diinginkan telah tiba, "Tumben bersama orang lain?"

Connie mempersilahkan kedua tamu lainnya untuk turut masuk. Namun, mata Rivaille menyipit tajam. Bukankah seluruh kenalan Hanji di Han-gardian memanggilnya 'Zoe'? Lantas kenapa yang satu ini mengetahui nama aslinya?

"Hanji?" tanya Eren seraya menyuarakan keheranan yang sama dengan Rivaille.

"Ya, kalian tak usah khawatir. Jika ia bahkan tahu nama asliku, berarti Connie merupakan mitra yang dapat dipercaya dan mengetahui statusku sebagai buronan," ujar Hanji santai dari dalam ruangan. Rivaille pun menyusul masuk setelah mendengar penegasan Hanji—masih dengan Eren yang tak mau melepas tautan tangannya.

Sebuah ruangan beraksen pualam dengan furnitur kayu menyapa mereka ketika melangkah melewati pintu. Tirai-tirai kuning keemasan melambai lembut diterpa angin dari jendela kayu yang terbuka lebar. Sebuah perapian kecil tertata apik di ujung ruangan dan sebuah mesin jahit bertengger rapi di sisi yang lainnya. Ruangan yang sederhana namun cukup untuk menjadi kamuflase sempurna untuk profesi asli yang berbahaya.

"Jadi, kalian juga berstatus sama seperti Hanji?" Connie membuka pembicaraan ketika ia dan semua tamunya telah duduk di sofa oranye yang terletak di tengah ruang tamu. Empat cangkir teh telah ia hidangkan di atas meja kayu. Satu kakinya terangkat dan tangannya bersandar pada punggung sofa. Gaya bicara yang agak sok memang. Jika saja ia bukan pemilik tempat ini, mungkin Rivaille sudah mendepaknya keluar karena kelakuannya yang agak menyebalkan.

Eren menoleh ke arah Rivaille. Ia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Yang ia tahu, buronan itu penjahat yang dikejar prajurit. Akan tetapi baik Rivaille maupun Hanji sama sekali bukan orang jahat di mata Eren.

"Ya, kami dikejar oleh Deus Mortem," ujar Rivaille seraya menguji sejauh apa pengetahuan Connie tentang sisi gelap kerajaan. Ia yang akan menentukan sendiri mana pihak yang berguna sebagai mitranya dan mana yang sebaiknya disisihkan saja dari urusan krusial seperti ini.

"BENARKAH?" teriak Connie. Ia terlonjak dari tempat duduknya dengan mata terbelalak kaget.

"Kalian dikejar oleh divisi khusus kerajaan yang membantai semua 'musuh-dalam-selimut' Sang Raja? Ada apa gerangan dengan orang-orang itu? Kau tampak seusiaku sekitar umur 20," Connie menunjuk Rivaille, lalu Eren yang duduk di sebelah pemuda sebayanya itu, "Sedangkan kau masih sangat muda!"

Hanji tertawa. Memang sedikit sekali informasi mengenai Deus Mortem yang tersebar keluar. Informasinya terkunci rapat. Hanji juga tak menyangka jika Connie memiliki informasi yang cukup akurat tentang divisi rahasia itu. Ia juga takkan menyalahkan jika pemuda botak itu tak menyangka bahwa pemuda seusia yang tengah berhadapan dengannya ini justru adalah prajurit kelas satu dari divisi yang juga kelas satu itu.

"Sebagus itukah reputasi 'kami'? Caramu mengumandangkannya seakan 'kami' ini pembela keadilan," decak Rivaille sambil turut menumpukan satu kaki pada kakinya yang lain.

"Mereka memang bukan pembela keadilan," balas Connie—masih melewatkan satu poin penting pada kata-kata Rivaille. Saat itu ia masih tak sadar siapa lawan bicaranya, "Mereka adalah pembunuh elit milik kerajaan di bawah perintah langsung perdana menteri. Aku terkejut kalian masih bisa hidup setelah dikejar oleh kelompok itu. Sedikit sekali orang beruntung sepertiku yang dapat mengetahui informasi tentang Deus Mortem."

"Baiklah. Beri aku informasi pergerakan Deus Mortem dan pergerakan kerajaan. Aku yakin kau juga menyadari adanya gerak-gerik kudeta yang hendak menggulingkan pemerintahan Dot Pixis," ucap Rivaille tenang, ia tahu di sebelahnya Eren bergerak gelisah karena tak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang Eren tahu tentang Deus Mortem hanya 'kelompok lama Rivaille' dan 'pengejar mereka saat ini'. Hanya itu yang bisa ia tangkap dari pembicaraan kedua orang yang lebih tua sepanjang perjalanan menuju Han-gardian.

"Ya, memang ada kemungkinan kudeta seperti katamu. Tapi itu tugas yang tak mudah," ucap Connie sambil mengerucutkan bibir dengan wajah malas, "Imbalan apa yang akan kau berikan padaku sebagai ganti informasi itu? Dan lagi kenapa kalian bisa dikejar kelompok mengerikan seperti Deus Mortem?"

"Kedua pertanyaanmu itu berkaitan. Jika kau memenuhi permintaanku, kau akan mengetahui informasi paling rahasia mengenai kerajaan dan juga divisi khusus itu langsung dari tangan pertama. Kau tak tertarik?" tawar Rivaille sambil menyesap tehnya—diikuti Eren yang juga mengambil cangkir lalu meniupi tehnya sendiri yang masih agak panas.

"Tawaranmu memang menarik tapi—," kata-kata Connie terhenti di tengah jalan, sepertinya ia baru saja menyambung semua informasi yang terlewat dari kata-kata Rivaille selama mereka duduk di ruangan ini.

"Sudah sadar, Connie?" tanya Hanji ketika pemuda botak itu sukses terdiam di tempatnya.

"Tunggu… kau mengacu pada Deus Mortem sebagai 'kami' dan menawarkan informasi kerajaan dan divisi khusus itu langsung dari tangan pertama…," Connie menelan ludah, ia berusaha mati-matian menahan suaranya yang ingin ia lepas dengan volume maksimal ketika mengatakan lanjutan kalimatnya.

"Kau anggota Deus Mortem?" tanya Connie dengan suara berbisik. Ia tidak tahu lagi harus bereaksi bagaimana, antara bingung-senang-takut, semua bercampur menjadi satu ketika Rivaille memberikan satu anggukan sebagai jawaban.

DEMI TUHAN! PEMUDA SEBAYA YANG ADA DI HADAPANNYA ADALAH ANGGOTA DEUS MORTEM!

Connie menjerit dalam hati tatkala ia mengetahui kenyataan yang mungkin akan memutar 180° kehidupannya.

"WOW! Aku tak menyangka diijinkan hidup untuk hari ini!" seru Connie dengan volume suara yang sudah dikecilkan sedapat mungkin ketika bersorak senang. Perlu ia akui informasi tentang Deus Mortem adalah informasi paling rahasia yang menggugah keingintahuan pribadinya meski membuatnya harus terpisah pada jarak minim dengan kematian. Ia tak dapat meminta lebih ketika anggota divisi elit favoritnya itu datang sendiri dan duduk di dalam rumahnya, bukan?

"Pukul aku! Katakan padaku bahwa aku tidak bermimpi," kata Connie bahagia. Tetapi sepertinya ia salah pilih kata.

BUAG!

Tak lama setelah menyelesaikan kalimat, satu bogem mentah dari Hanji mendarat di pipi Connie untuk mengabulkan pintanya. Tubuh pemuda itu sampai limbung ke sisi lain sofa tunggal yang ditempatinya di antara Hanji dan Rivaille ketika pukulan keras itu menghantam wajahnya.

"AW!" Connie mengaduh sakit. Untung saja Hanji mengenakan sarung tangan kulit warna hitam yang menyisakan jari-jarinya saja. Jika tidak pasti pukulannya lebih sakit karena tonjolan tulang pada genggamannya. Wanita yang satu ini memang tidak boleh diremehkan.

"Kenapa kau sungguh-sungguh memukulku?" protes Connie sambil mengusap lebam kebiruan di pipi kanannya. Hanji hanya menunjukkan cengiran tanpa dosa sebagai balasan.

"Habis kau yang minta. Sekarang kau tahu kan ini bukan mimpi?" ujar Hanji, kali ini ia mengangkat cangkir teh miliknya seperti dua tamu yang lainnya, "Jangan berteriak lagi setelah tahu pemuda pendek di depanmu ini adalah komandan Deus Mortem!"

Connie benar-benar hampir berteriak jika Hanji tidak melancarkan pukulan kedua yang terhenti di tengah jalan—menyebabkan si botak sadar kesalahannya dan segera menutup rongga mulutnya rapat-rapat. Sementara Rivaille terlihat kesal disebut 'pendek'. Hei, ia hanya beda kurang lebih 10 cm dengan Hanji!

"Di usia semuda ini? Kau telah menjadi komandan divisi elit di bawah perintah langsung perdana menteri? Kau tahu? Itu sangat mengagumkan!" Connie menatap Rivaille dengan seluruh respek yang ia punya. Pimpinan pembunuh kelas satu yang sebaya dengannya merupakan informasi baru yang menggetarkan—membuat Connie sadar betapa luasnya dunia ini dan betapa hausnya ia akan informasi.

Sudah sering kali pujian itu dilontarkan para pejabat kerajaan namun terasa begitu berat. Entah kenapa ketika Connie menunjukkan kekagumannya yang jujur, Rivaille merasa bebannya mungkin tak seberat yang ia kira. Masih ada pula orang yang tak menganggapnya bengis. Padahal Connie tahu persis sepak terjang Deus Mortem, bukan?

Connie masih mengekspresikan kegembiraannya dan membicarakan beberapa topik terkait bersama Hanji. Sementara Eren lagi-lagi menarik lengan baju Rivaille untuk membuat pemuda itu menoleh ke arahnya.

"Aku tidak tahu Rivaille begitu hebat," katanya sambil mengamati wajah Rivaille dengan kagum. Eren tersenyum kecil lagi, baginya Rivaille adalah ksatria yang hebat—dan kini lebih hebat setelah ia mendengar tentang Deus Mortematau apalah ituyang dikatakan Connie dengan antusias.

Sesaat ada sedikit mendung di wajah Rivaille ketika fragmen ingatan mengenai kejadian di jantung puri pusat Ignillum berputar ulang di benaknya. Dengan satu tepukan di kepala bersurai amber, ia mengucapkan satu pengakuan yang ia rasa harus Eren ketahui tentang dosanya.

"Eren, aku adalah orang yang telah menghabisi banyak nyawa di tempat kelahiranmu dan menyapu bersih puri kediamanmu. Pria yang memintaku mengingat namanya sebelum kubunuh ialah Grisha Ignis Jeager. Benar seperti katanya, aku menemukan sesuatu yang harus kulindungi pada akhirnya," Rivaille berbisik pelan di telinga Eren—ia ingin agar pengakuan ini hanya menjadi rahasia antara dirinya dan anak lelaki yang tengah ia lindungi. Tak dapat kulukiskan betapa terkejutnya Rivaille ketika ia mendengar kata-kata Eren selanjutnya.

"Ayah mengatakan demikian? Syukurlah," katanya lagi sambil tersenyum. Baru kali itu, untuk pertama kalinya perasaan bersalah karena telah membunuh menyeruak masuk dalam diri Rivaille. Meski Eren tidak menyalahkannya, ia merasa begitu hina.

"Tidakkah kau membenciku, Eren?" tanyanya lagi. Kali ini tanpa sadar tangannya bergerak turun dari rambut anak itu—mengusap pipi seputih boneka keramik milik Eren.

"Sama sekali tidak," Eren menggeleng pelan—sekejap, matanya terpejam sebelum kembali menunjukkan warna seindah batu zamrud itu, "Karena kelahiranku digariskan demikian."

Rivaille kehilangan kata-kata untuk sesaat. Di usia begitu hijau, Eren ternyata menanggung beban yang hampir sama berat dengan dirinya. Jika sejak kecil ia dipersiapkan untuk kejadian di malam itu—diperhadapkan pada kenyataan bahwa kelahirannya membawa pertumpahan darah—wajar jika kelakuannya seperti boneka tanpa jiwa. Sungguh, masa kecil seperti apa yang dilalui anak ini?

Rivaille tersenyum tipis. Ia baru sadar kemudian bahwa Connie dan Hanji sudah berhenti berbicara dan tengah menyimak percakapan mereka.

"Kelahiran yang diramalkan? Jangan-jangan kau.. anak dari klan Ignis?" tebakan Connie yang tepat sasaran entah kenapa membuat Rivaille sedikit jengkel. Berurusan dengan informan ternyata memang harus ditambahkan ke dalam salah satu daftar yang harus dicoret dari hidupmu jika kau memiliki kehidupan normal. Ya, tentu karena ia tak masuk hitungan pemilik kehidupan normal, jadi apa boleh buat?

"Klan Ignis? Apa itu?" tanya Hanji heran, alisnya tertaut naik. Memang ia merasa ada yang berbeda dengan Eren—anak itu berbeda dengan anak pada umumnya. Namun, ia tak bisa menerka sedikitpun sebab dari keganjilan yang ia rasakan pada Eren. Hanji bahkan sempat berspekulasi bahwa penyebabnya adalah miskinnya ekspresi di wajah Eren. Terlebih lagi fakta bahwa yang membawanya dalam pelarian adalah orang terkuat di Deus Mortem. Pasti sedang ada yang salah dengan negara ini.

"Mereka adalah klan yang memperoleh anugerah dewa secara turun temurun. Keturunan klan Ignis mempunyai kepercayaan kuat pada ramalan yang dipercaya sebagai kata-kata dewa dan biasa dilihat oleh peramal mimpi yang hanya ada satu pada setiap generasi. Konon ada sebuah ramalan kuno yang bersifat mutlak dalam klan mereka," jelas Connie seraya mengamat-amati Eren dengan seksama. Ekspresi anak itu sama sekali tak berubah, ia hanya mengangguk—membenarkan informasi yang dijabarkan Connie.

"Aku tak pernah menyangka bahwa dua objek utama yang menjadi ketertarikanku dapat kutemui sekaligus dalam satu hari. Aku pasti sedang bermimpi!" serunya girang.

"Mau kubuktikan lagi ini bukan mimpi?" tanya Hanji dengan tangan mengepal di udara. Connie langsung meringis ngeri sebelum tawa lepas di ruangan.

"Baiklah, karena kau sudah tahu garis besarnya, biar kubayar informasi ini di muka. Sebagai gantinya kau harus memberitahu kami—bagaimanapun caranya—informasi terbaru yang kau dapat mengenai Deus Mortem dan kondisi kerajaan," ujar Rivaille akhirnya.

"Baiklah, aku akan mengabarkan dengan perantaraan burung hantu seperti yang biasa kulakukan dengan Hanji. Di kota ini banyak burung hantu, jadi tak perlu kuatir dicurigai," tukas Connie tenang. Ia sebetulnya tak sabar memperoleh informasi baru yang ada pada dua orang di hadapannya ini. Karena itu tatapannya tak lepas silih berganti di antara mereka.

"Dengarkan baik-baik. Aku takkan bercerita dua kali," Rivaille memberi peringatan sebelum menceritakan garis besar keadaannya.

"Deus Mortem dibentuk sekitar tahun kesepuluh pemerintahan Dot Pixis dan sempat berganti anggota maupun kepemimpinan beberapa kali. Aku adalah komandan terakhir divisi khusus itu. Hal yang membuat aku dan Eren menjadi pelarian adalah karena aku menyelamatkan 'Anak dalam Ramalan' klan Ignis yang seharusnya menjadi target utama genosida di Ignillum. Akan sangat membantu jika kau dapat memberitahu isi ramalan itu, karena Eren pun hanya samar mengingatnya. Ramalan itu adalah alasan utama kekhawatiran Dot Pixis akan potensi kudeta besar klan Ignis," wajah sang mantan komandan begitu serius—kuat, tegas, tanpa keraguan. Membuat si informan tercengangtakjub.

"Kudengar komandan terakhir itu komandan terkuat dalam sejarah Deus Mortem. Kau benar-benar mengagumkan! Selain itu… kudeta dan genosida? Tetnyata negara ini lebih kacau dari yang kukira," kata Connie seraya menggelengkan kepala, ia menatap Eren sebelum tersenyum pahit, "Maaf karena membuatmu mengingat hal mengerikan, dan lagi... aku belum tahu apa-apa tentang ramalan itu."

Eren hanya menggeleng, sedangkan Rivaille menghela nafas berat. Hanji pun sama gerahnya dengan suasana kelam yang tiba-tiba menyelimuti ruangan usai penjelasan Rivaille. Ternyata satu informasi tentang kerajaan saja sudah membeberkan fakta yang cukup rumit.

"Akan tetapi…," Connie berusaha menghibur ketiga tamunya yang penat akibat suasana berat yang menyelimuti ruangan, "Informasi…, hanya itu kepingan kecil yang dapat kita kumpulkan untuk dapat bertahan hidup. Tanpanya kita akan kehilangan arah dan mungkin akan lebih dekat dengan kematian. Karena itu hanya ini satu-satunya cara yang dapat kulakukan untuk melindungi kalian."

Hanji menepuk pelan punggung pemuda bermarga Springer itu. Ia tahu Connie hanya tinggal dengan neneknya di kota ini. Mungkin agak tepat jika dikatakan bahwa mereka semua yang duduk di ruangan itu berbagi beban yang hampir senada meski berbeda bobot.

"Ya, terima kasih," ucap Eren sambil tersenyum kecil, "Semoga dewa membalas kebaikanmu."

Connie balas tersenyum. Ia tahu rasa iba atau simpati dapat membuat orang lain merasa tersinggung, oleh karena itu empatilah yang ia pilih sebagai respon. Lagi pula mereka berbagi penderitaan yang mirip.

"Rasanya seperti bertemu rekan senasib," kata Connie sambil tertawa canggung, sebelum beranjak untuk mengacak rambut Eren, "Yang pasti kau harus kuat, Eren! Kau boleh menangis jika perlu, tetapi teruslah bangkit dan melangkah maju."

"Wow! Bisa berkata-kata bagus juga rupanya! Dua kali untuk hari ini," Hanji menyikut pinggang Connie yang kini mengaduh. Mereka masih bercengkrama sebelum memutuskan untuk mendiskusikan rencana perjalanan selanjutnya.

.

02.44 p.m. – The Gate of Han-gardian

.

"Kenapa diantara semua kota kita harus memeriksa kota yang penuh sesak seperti ini?" gerutu Jean pada Marco yang menjadi partner misinya kali itu. Irvin masih berusaha mencari cara menyelamatkan sang komandan terkuat, karenanya mereka mengadakan penyelidikan diam-diam seraya menahan informasi tentang Rivaille.

"Entahlah, yang pasti hanya kita yang ditugaskan bersama karena tempat ini ramai, Jean," ucap Marco menenangkan. Baik dirinya maupun Jean sama-sama enggan berdesakkan dengan banyak orang kalau bukan untuk mengembalikan posisi komandan pada orang yang paling mereka hargai itu.

"Kuharap kita segera dapat menemukan komandan Rivaille," gumam Marco sambil menyelinap lihai di antara kerumunan manusia, diikuti Jean di belakangnya, "Kemungkinan besar mereka melarikan diri ke wilayah-wilayah otonom seperti ini memang tinggi."

Sekelebat, Jean melihat sosok yang familiar baginya berjalan dengan tangan tertaut pada seorang anak laki-laki berambut kecokelatan. Tak salah lagi, itu Rivaille dan target utama mereka. Keduanya ada di kota ini.

"Kau tak usah bilang begitu, kurasa aku telah menemukan mereka," ucap Jean dengan senyum kemenangan terukir di wajahnya, "Ayo Marco!"

Jean menarik lengan partner-nya untuk menyisir arus manusia ke arah barat daya. Ia kejar dua sosok itu dengan langkah cepat setengah berlari. Darahnya terasa menggebu ketika hanya tersisa sekian detik sampai ia dapat mengetahui dengan persis alasan komandan mereka berkhianat.

"Ketemu!" seru Jean tatkala ia menepuk bahu milik sosok yang lebih pendek darinya itu.

.

.

To be Continued

.

Thanks to :

fugacior, Hero Yui, zuura-zu, widi orihara, Verucca lucifer, Ms MichiMichiyo, KazuFuyuki, dame dame no ko dame ku chan, luffy niar, Azure'czar, Kunougi Haruka

and all silent readers :)

.


Author's Note:

Haru : Yo! Haru is here! Kembali dengan update chapter 3 bersama Yuki. Maaf untuk cliff hanger-nya karena cerita ini sudah cukup panjang untuk satu chapter dan mari bersyukur karena saya dan Yuki tetap bisa update meski sudah sibuk dengan jadwal perkuliahan, hoho~ Kalo Anda nunggu lama di chapter ganjil, maaf. Artinya saya lagi gak diijinin nyentuh ff sama kampus tercinta. *ditimpuk* Bagi yang berharap ini ada adegan nganu silahkan tunggu chapter-chapter selanjutnya, bagi yang mau asem… silahkan berdoa supaya saya dan Yuki cukup nista untuk bikin lemon underage *orz* Saa, kalau berkenan silahkan review sebagai penyemangat, hehe.

Yuki : yang perlu didoakan supaya cukup nista untuk lemon underage sih sebenernya cuma saya. Papi saya itu butuhnya dirayu kok~ *dipelototin papi* Soalnya yang bisa diandalkan untuk lemon itu dia… saya sih bagian skinship ajah~ chapter 3 ini bisa update lebih cepat, ini masalahnya di saya yang disiksa kerjaan dan jadwal dosen yang masih labil jadi editannya delay dah… maafkan aku...

Balasan Review untuk Azure'czar :

Ah! Ini dia reviewer kami yang bikin para author gemes mau bales reviewnya tapi gak berdaya karena tulisannya one-shot. Terima kasih, Zura, sudah membaca karya-karya kami. Masalah nyerempet ga usah khawatir mengingat saya (Haru) berperan serta dalam pembuatan fanfic ini… *nista*, lagian Yuki juga sepertinya sudah tertular *lirik Yuki*. Masalah pertanyaan yang belum terjawab, kita simpan dulu untuk chapter selanjutnya. Sekali lagi terima kasih atas dukungannya. ^^

Sign,

-Haru and Yuki-