Title: Ije Mak Shijaktwen Iyagi (The Story Has Just Begun) – Remember

Genre: Family. Romance.

Rate: untuk chapter ini aja M

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim (Jung) Changmin, Kim Junsu, Park Yoochun, and other.

YunJaeMin family.

Disclaimer: Saya cuma pinjam nama. Yunho milik Jaejoong dan Jaejoong milik Yunho. Plot is mine.

Pairing: Of course Yunjae.

Warning: AU. OOC. BL. MPREG

a/n: Chapter ini seluruhnya flashback dan lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya. Jadi saya harap readers tidak bosan.

.

.

[The Story Has Just Begun – Remember]

.

.

Jaejoong POV

Aku terus menatap ponselku menunggu sms, telepon, atau apapun itu menunggu kabar darinya, namjachinguku. Yeah, namjachingu… aku seorang gay. Malam ini kami akan merayakan anniversary kami yang keempat dengan memberikan diriku seutuhnya padanya. Kalian pasti sudah tau apa yang kumaksud dengan 'memberikan diriku seutuhnya padanya'.

Empat tahun.. waktu yang tidak singkat bukan? Dan Appaku sama sekali belum mengetahui hubungan ini. Alasannya tentu saja karena pasangan gay masih merupakan hal tabu di negara ini, dan appaku sangat menentang hal itu.

Hhhh.. andai saja eomma masih ada. Beliau pasti akan mengizinkan hubunganku. Eomma.. apa kau bahagia di atas sana? Kuharap begitu… Bogoshipda.. Jeongmal..

Ah kenapa jadi mellow begini? Aku seharusnya bahagia malam ini.. tapi kenapa dia belum datang jugaaaaa?

Aku mengacak rambut sedikit frustasi, tapi setelah itu kurapikan kembali karena aku harus berpenampilan baik di depannya.

Sambil menunggunya, aku minum saja.

Jaejoong POV end

.

~yunjae~

.

CKLEK

'Ada yang datang.. itu pasti Wonnie..' batin Jaejoong yang kini masih dalam keadaan berbaring dan memejamkan mata.

"Kali ini namja ya.." Gumam namja tampan bermata bak musang yang baru saja memasuki kamar yang ditempati Jaejoong.

Sudah menjadi kebiasaan Yunho-si namja tampan itu menyewa para gadis untuk memberinya kenikmatan selama semalam. Agak terkejut juga ketika yang ia lihat justru namja. Seharusnya temannya sang penyedia layanan memberitahunya, 'Mungkin dia lupa' pikirnya. 'Yah tak masalah, asal ia bisa memuaskanku malam ini.'

Jaejoong yang ingin menghampiri seseorang yang disangka namjachingunya itu mencoba bangkit, 'Akh, kenapa kepalaku sakit sekali? Rasanya aku hanya minum 5 botol tadi.'

"Sudahlah, kau berbaring saja. Biar aku yang 'bekerja keras' malam ini." Kata namja tampan itu disertai senyum –lebih tepatnya seringai.

Yunho tak menyangka ada namja secantik itu, ditambah dengan peluh yang memenuhi wajahnya membuat orang yang sedang mencoba berbaring kembali itu terlihat.. err menggairahkan, hingga dapat Yunho rasakan tenggorokannya sedikit tercekat.

"Salam kenal. Aku Jung Yunho. Namamu?" sapa Yunho sambil membuka satu per satu helai pakaian yang membalut Jaejoong. Sudah sangat tidak tahan lagi sepertinya papi kita.

"Siwonnie, kau mabuk, eoh? Aku ini namjachingumu, Jaejoong. Masa masih bertanya? Dan aku sudah menunggumu lama di sini untuk merayakan 4th anniversary kita." Ujar Jaejoong yang agak sedikit mendesah karena sentuhan-sentuhan yang Yunho layangkan padanya.

"Aku hanya minum sedikit tadi. Justru kau yang sedang mabuk berat", ujar Yunho sambil menyentil hidung Jaejoong gemas, "lihat saja tadi kau sampai sulit untuk bangun. Dan.. panggil aku 'Yunnie' saat kita bercinta, ne?"

Jaejoong masih tidak mengerti tapi ia tetap melakukan apapun yang Yunho katakan.

.

~yunjae~

.

Jaejoong mengerjap-erjapkan matanya. Masih ia rasakan sedikit pusing pada kepalanya. Namja cantik itupun menolehkan kepalanya pada gundukan di sebelah kirinya. Ia tersenyum, namun senyumnya hilang kala Jaejoong menyibak selimut yang menutupi gundukan itu.

"KYAAAAAAAAAAAA…."

Orang yang merupakan gundukan itu seketika membelalakkan matanya dan mengusap-usap kedua telinganya, "Pagi-pagi sudah berisik…" ujarnya.

"Siapa kau?"

"Aku? Aku kan sudah memperkenalkan diri semalam. Aku Jung Yunho dan kau Jaejoong kan?"

'Semalam?' Jaejoong mencoba membuka kembali ingatannya apa yang terjadi semalam, namun mungkin karena terlalu memaksakan diri, tiba-tiba sakit kepala yang hebat menderanya.

"Untuk apa.. kau datang kemari?" Tanya Jaejoong yang terdengar seperti lirihan.

"Tentu saja karena aku yang menyewa dirimu untuk memuaskanku semalam."

Seketika Jaejoong melupakan rasa sakit di kepalanya dan berteriak sejadinya, "MWOOO?!"

"Ish.. kau berisik sekali. Tak bisakah untuk tak berteriak?" erang Yunho.

Jaejoong menarik napas dalam mencoba meredam keterkejutan dan kebingungannya, "Oke. Sepertinya hal ini harus diluruskan…"

Jaejoong diam sejenak yang mengundang tatapan dari Yunho meminta si cantik melanjutkan kalimatnya.

"Aku.. Jaejoong ingin merayakan 4th anniversary ku bersama namjachinguku, Siwon. Ia yang memesan tempat ini dan menyuruhku datang. Tapi semalam kau menghancurkan acara kami dengan tanpa izin masuk kesini."

"Hee?", Yunho makin bingung dengan penjelasan yang didengarnya, lalu ia bertanya, "Ini kamar nomor 106 kan?"

"Aniya. Ini kamar nomor 109." Jawab Jaejoong namun tanpa ekspresi. Harusnya namja cantik itu marah atau semacamnya, tapi otaknya yang stadium 1 sepertinya membuatnya terlambat menyadari situasi.

Yunho melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan melihat nomor yang tertera di sana.

'Gawat, aku salah kamar.'

Akhirnya namja tampan itu pun berlari meninggalkan hotel itu. Rasa malu menghinggapinya.

Sementara si cantik yang baru menyadari keadaan bergumam, "Jadi dia salah masuk kamar dan mengira aku adalah orang yang disewanya untuk memuaskannya semalam? Dan dia.. dia merenggut keperjakaanku-eh atau keperawanan ya?" secara ia adalah orang yang dimasuki.

Jaejoong langsung bangkit dan mengejar kemanapun Yunho kabur. Saat namja tampan nan manly itu tertangkap retina matanya, ia segera aja berteriak, "Jung Yunhoooooo, berhenti kau!"

Yunho berbalik dan hendak kabur lagi namun Jaejoong dengan cepat mencengkeram kerah baju namja tampan itu.

"Mau kemana kau, hah? Sudah berbuat tak bertanggung jawab!"

Merasa mereka ada di tempat yang tidak aman untuk membicarakan hal 'pribadi', Yunho menarik tubuh mungil Jaejoong ke tempat sepi.

"Ya! Aku mau dibawa kemana? Ya! Lepaskan aku, mesum!"

Setelah sampai di tempat yang dirasa agak sepi, Yunho melepaskan tangannya pada tangan Jaejoong.

"Kau tidak malu, eoh dilihat orang?"

"Biar saja semua orang tau kau mesum."

"Yeah.. tapi kau menikmatinya kan?"

"Apa kau bilang? Brengsek.."

BUGH

Yunho mengusap-usap pipi kirinya yang menjadi sasaran bogem mentah Jaejoong, "Kau namja tapi pukulanmu seperti yeoja. Ya! Salahmu sendiri karena tak mengunci pintu."

"Jangan banyak mulut kau! Kenapa kau kabur begitu saja, eoh? Sudah salah tapi tak mau bertanggung jawab!"

Lagi, Jaejoong mencengkeram kerah baju Yunho.

"Aku harus bertanggung jawab bagaimana?"

"Bersujud padaku di tengah kerumunan dan mengakui kesalahanmu."

"Cih, jangan bercanda. Pewaris tunggal Jungs Corp tak mungkin melakukan hal konyol seperti itu. Jangan bermimpi, rakyat jelata! Aku tau kau ingin memerasku dengan membawa-bawa masalah ini kan? Berapa yang kau butuhkan? Sebut saja!" jelas Yunho panjang lebar.

"Kau.. benar-benar brengsek."

BUGH

Jaejoong memukul Yunho lagi, kali ini pipi kanan namja tampan itu yang jadi sasaran.

"Wah ternyata kau benar namja, pukulanmu cukup menyakitkan juga."

"Jja.. ambillah. Kalau kau butuh uang lagi, datang saja ke kantor utamaku di Gangnam, tapi mungkin aku tak akan sering ada di sana karena aku sangat sibuk. Annyeong.." lanjut Yunho sambil melemparkan beberapa lembar won dan berlalu pergi dari hadapan Jaejoong.

"Akh, sial.." geram Jaejoong sambil meninju batang pohon di depannya.

Air bening pun turun dari mata menuju pipinya. Ia menangis, "Pabboya… kenapa malah lemah di saat seperti ini? Hiks.. eomma.."

.

~yunjae~

.

'Mual-mual yang Anda alami akhir-akhir ini saya pastikan karena Anda positif hamil, tuan Kim. Sudah tiga bulan. Ditambah dengan hasil USG yang menunjukkan ada kehidupan di rahimmu. Karena hal ini sangat langka dan membahayakan, tolong Anda benar-benar jaga diri Anda.'

Perkataan uisangnim tadi terus terngiang-ngiang di benak Jaejoong. Bagaimana mungkin ini semua? Telah ia coba segala cara meyakinkan ini adalah mimpi dan uisangnim hanya bercanda, tapi hasilnya nihil.

"Eh? Itu dia namja brengsek itu." Gumam Jaejoong bermonolog sendiri kala menangkap sosok Jung Yunho di jarak 10 meter.

Segera Jaejoong menghampiri Yunho, membalikkan tubuh manly itu lalu memberikan bogem pada perutnya. Beruntung Yunho sedang tak bersama pengawalnya sehingga tak ada yang mengganggu 'aktivitas' namja cantik itu.

Terkejut melihat Jaejoong, namja tampan itu segera membawa Jaejoong ke tempat yang dirasa sepi, 'orang gila ini pasti akan berkata macam-macam lagi.' Pikirnya.

" Ya! Aku tau kau tidak akan percaya ini, aku dinyatakan hamil oleh dokter." Ujar Jaejoong to the point saat mereka sudah sampai di tempat yang hanya ada mereka berdua disana.

"Pppfftt.. hahahahahaha.. kau sakit, eoh? Leluconmu sangat menggelikan tau."

"Aku serius, Yunho-sshi. Apa yang akan kau lakukan dengan anak ini? Mau mengurusnya?"

"Aku saja tidak percaya, bagaimana mungkin aku mengiyakan perkataanmu."

"Terserah kau saja.."

Jaejoong berjalan menjauhi Yunho, bisa gila kalau terus-terusan memberi penjelasan absurd ini, ditambah kepada orang yang sangat keras kepala.

"Tunggu dulu.. apa kau serius?"

Jaejoong menghentikan langkahnya namun tak berbalik menatap Yunho, "Nde."

Yunho menghampiri namja cantik yang sudah hampir menjauh itu kemudian berbungkuk mengelus-elus perut Jaejoong.

"Kenapa kau sangat yakin kalau itu adalah anakku?"

"Karena aku baru melakukan'nya' denganmu."

"Tapi anak ini akan merusak reputasiku, jadi gugurkan saja." ujar Yunho sambil menegakkan badannya kemudian berlalu, "ini semua, memang kesalahanku. Nah sudah kuakui kesalahanku bukan? Jadi tolong jangan temui aku lagi." Ucapnya sebelum benar-benar menghilang.

Jaejoong menatap perutnya lalu mengusapnya, "Mian ne, aku tidak bisa membuatmu terus hidup."

.

~yunjae~

.

"Appa.. mianhae."

Jaejoong sedang berlutut di hadapan appanya.

"Kau bukan anakku lagi, Jaejoong ah. Cepat angkat kaki dari rumah ini!"

"Appa, jebal.. appa boleh mengusirku, tapi jangan membenciku, appa." , yang dipanggil 'appa' oleh Jaejoong hanya diam, "appaaa…".

"Ya! Kubilang cepat angkat kaki dari sini. Kau tuli, eoh?!"

"Nde, aku pergi. Mian."

Jaejoong membawa seluruh barang-barang yang bisa ia bawa dan meninggalkan rumah yang sudah ditempatinya selama 23 tahun itu.

Ia terus melangkahkan kakinya tak tau tujuannya kemana.

"Mungkin aku ke rumah sakit dulu untuk menggugurkan bayi ini." Ujarnya pada diri sendiri.

GREP

Tiba-tiba dua orang berbadan kekar mengekang pergerakan Jaejoong dan menarik namja cantik itu ke sebuah wagon. Salah satu di antara mereka membekap Jaejoong hingga ia pingsan.

.

~yunjae~

.

Jaejoong mngerjap-erjapkan matanya, 'aku sedang dimana?' batinnya saat membuka mata ia tak mengenali ruangan yang ia tempati.

"Kau.. benar mengandung anak Yunho?" Tanya seorang yeoja separuh baya yang tiba-tiba menghampirinya.

"Kau.. siapa?" Tanya Jaejoong balik.

"Aku eommanya Yunho. Yunho mengalami kecelakaan 2 bulan lalu sehingga ia dinyatakan mandul. Jadi bekerjasamalah denganku untuk menjaga bayi itu agar tetap hidup. Karena hanya dialah penerus keluarga Jung."

"Siapa kau memerintahku seenaknya?" Tanya Jaejoong ketus.

"Kalau kau tak mau, appamu akan mati." Ujar yeoja separuh baya itu aka eomma Yunho sambil menunjukkan foto appa Jaejoong.

"Kau.. dasar keluarga Jung brengsek."

"Simpan makianmu itu, rakyat jelata! Atau kau mau aku membuat appamu tersiksa."

Yeoja separuh baya itu melenggang pergi dari hadapan Jaejoong dengan angkuhnya.

Jaejoong meninju lemah ranjang yang ditempatinya, "apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.

Manik matanya mengeksplor seluruh ruangan tempatnya berada dan senyum tersungging di cherry lipsnya saat melihat jendela yang cukup besar untuk tubuhnya. Jaejoong menghampiri jendela itu berniat kabur namun aksinya tertahan.

"Mau apa kau? Ini lantai 25. Kau mau mati, hah?" Tanya seseorang berbadan kekar yang langsung saja memaksa Jaejoong berbaring di ranjang, "Jangan membuat masalah atau appamu akan mati." Ancamnya.

Setelah 2 bulan berada di tempat itu, Jaejoong sudah tidak tahan lagi. Ia harus kabur sekarang juga.

Di tengah malam menjelang pagi yang sunyi itu Jaejoong mengendap-endap menuju jendela. "Aku bisa pakai bed cover yang diikat memanjang ini untuk menuruni 25 lantai."

SREKK

Jaejoong membuka gorden yang menutupi jendela dan betapa terkejutnya ia saat melihat ternyata ruangan yang sudah ditempatinya (baca: mengurungnya) selama 2 bulan ini berada di lantai 2.

"Sial! Kenapa aku tak menyadarinya? Mereka benar-benar penipu."

Jaejoong membuka jendela itu kemudian berlari secepat mungkin menuju rumahnya.

"Appa pasti sudah memaafkanku dan mau menerimaku kembali. Ia pasti mau melindungiku dari orang-orang jahat itu."

Jaejoong telah sampai di depan rumahnya namun sebuah suara menginterupsinya saat ia memutar kenop pintu.

"Kau kemana saja, eoh? Appamu terus memikirkanmu dan mencarimu kemana-mana tapi tak ketemu. Sampai sakit dan 3 hari yang lalu meninggal." Ucap tetangga Jaejoong.

"Kau! Jaga bicaramu!"

BUGH

"Ish.. tak usah memukul bisa kan? Aku serius, kalau kau tak percaya, aku antar ke makam appamu."

Jaejoong masih tidak percaya namun tetap mengikuti kemana tetangganya melangkahkan kaki.

Tak lama mereka sampai di area pemakaman dan Jaejoong langsung mendudukkan dirinya di depan makam yang appanya. Namja cantik itu memegangi nisan makam appanya sambil menangis sejadinya.

"Mianhae. Aku sudah coba menghubungimu, tapi tidak bisa. Kau kemana saja, eoh?" ujar tetangga Jaejoong sambil mengusap-usap bahu Jaejoong mencoba menenangkan namja cantik itu.

"Tolong tinggalkan aku sendiri." Pinta Jaejoong dan tetangganya pun mengiyakan lalu pergi menjauh.

"Appa… appa kenapa meninggalkanku? Hiks.. appaaa…huwaaaaaaa.." Jaejoong menangis semakin histeris.

"Ya! Kau ternyata disini, eoh? Menyusahkan saja." ujar seseorang berbadan kekar yang Jaejoong yakini dia adalah orang suruhan keluarga Jung. Orang itu kemudian membekap Jaejoong dan membawa namja cantik itu entah kemana.

.

~yunjae~

.

"Kalian.. kalian membuat appa meninggalkanku. Tak cukupkah kalian menyiksaku dengan menyekapku?" Tanya Jaejoong berulang-ulang saat sudah sedikit tenang setelah namja cantik itu mencoba melakukan bunuh diri entah untuk yang keberapa kalinya.

"Cukup, Kim Jaejoong! Kutegaskan, appamu mati secara alami, bukan kami yang membunuhnya!" tegas eomma Yunho.

"Ya! Brengsek.. lihat saja nanti saat aku mati.. hidupmu tidak akan tenaaaang.."

Eomma Yunho meninggalkan ruangan Jaejoong dan berkata pada dokter di hadapannya, "Tolong tenangkan dia. Hari ini jadwal kelahirannya. Aku ingin bayi itu lahir dengan benar-benar selamat dan tanpa cacat."

"Lepaskan aku, brengsek. Aku ingin mati.. mati.. biarkan aku mati!" Jaejoong terus meronta mencoba melepaskan cengkraman kuat dari beberapa suster.

.

~yunjae~

.

"Keadaan Anda sudah cukup pulih, tuan Kim. Anda sudah bisa melihat anak Anda di ruangan bayi." Ujar seorang suster yang sedang mengecek tensi Jaejoong, hal yang biasa dilakukan oleh seorang suster pada pasiennya.

"Aku ingin melihatnya sekarang.."

"Tapi saya sedang mengecek tekanan darah Anda."

"Ne, ne. cepatlah."

Setelah suster selesai dengan aktivitasnya, Jaejoong segera melangkahkan kakinya menuju ruang bayi.

Di kaca bagian luar yang dapat melihat keadaan di dalam ruang bayi, Jaejoong menempelkan wajahnya dan menatap bayi yang belum ia beri nama itu.

"Aku sudah salah bermaksud melenyapkanmu. Mian ne.. aku janji akan menjagamu dengan baik." Ujar Jaejoong pada diri sendiri.

"Kau hanya rakyat jelata, tak mungkin dapat menjaga bayi itu dengan baik. Biar keluarga Jung yang mengurusnya, jadi tolong menghilang dari hadapan kami!" ucap eomma Yunho yang secara tak sengaja mendengar perkataan Jaejoong lalu melenggang pergi.

Beberapa minggu kemudian, Jaejoong dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Di tengah jalan menuju rumahnya, Jaejoong dipaksa melepaskan gendongan pada bayinya oleh antek-antek keluarga Jung dan akhirnya ia tak pernah lagi melihat anaknya.

TBC

Balasan review

YeChun: sebenernya reviewmu udah saya bales di PM, tp bales lg deh disini, hehe.. Changmin masih TK. Alasan kenapa Jaejoong benci sm Yunho ada di chapter ini. Gomawo reviewnya ^^

OceanBlue030415: alasan kenapa Jae dingin sama Imin nanti dijelasin di chapter berikutnya. Iya sudah saya bikin summarynya jadi "YUNJAE". Gomawo sudah review ^^

gothiclolita89: makanya ikutin terus fic ini, haha. Plak. Yg terjadi antara Yunjae ada di chapter ini. Gomawo reviewnya ^^

graxia: yeah juga. graxia:"ikut-ikut aja lu thor".. gomawo reviewnya ^^

alint2709: kenapa bisa pisah, sebenarnya mereka ketemu juga 'kecelakaan'. Lengkapnya baca aja chapter ini. Gomawo reviewnya ^^

Guest: aduuh jadi malu di bilang keren. Andai fic ini beneran keren, haha. Gomawo reviewnya ^^

JJorien: annyeong.. boleh banget ngasih kritik. Alur berantakan? Saya gak ngerti alur berantakan itu kayak gimana.. hehe. Maklum masih newbie.. tapi saya usahakan meningkatkan kualitas tulisan saya. Jiaaah… gomawo udah review dan memberi kritik yang membangun. Kalo baca chapter ini dan ada yang kurang sreg, tolong kasih kritik lagi ya, biar saya bisa berubah. (Berubah dikata power ranger). Yeah fighting ^^