"HEI!" pekik Sakura dengan nada kesal. Yeah, siapa yang tidak kesal jika tangannya dicengkeram dan diseret tiba-tiba tanpa alasan yang jelas? Ah, dan jangan lupakan tenaga Sasuke yang sama kuatnya dengan tenaga Sakura—yang konon, mewarisi tenaga siluman monster. "Lepaskan tanganku, ayam!" pekiknya lagi namun tetap tak digubris oleh Sasuke.

"Aya—"

"Berisik. Kau ini cerewet sekali, sih?!" potong Sasuke, menghentikan langkahnya dan menghempaskan tangan Sakura dengan kasar. Ia menatap tajam Sakura yang juga tak mau kalah—menatap tajam kearahnya dengan wajah superkesal dan kedua tangan yang ia lipat didepan dadanya.

Sasuke merotasikan matanya bosan dan mendengus pelan. "Apa?" tanyanya santai seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

Sakura berkacak pinggang dengan sebelah tangannya, sedangkan tangannya yang satu lagi menuding hidung Sasuke. Yeah, pose khasnya. "Kau yang apa! Senaknya saja menyeret tanganku! Kau tahu? Cengkraman tanganmu itu mirip dengan cengkraman monster! Dasar monster alien ayam yang sangat sangat menyebalkan!" cerocos Sakura panjang lebar dengan emosi yang meluap-luap sampai hidungnya mengeluarkan asap—abaikan—kemudian menggembungkan kedua pipinya.

"Asal kau tahu, monster jidat. Tenagamu itu juga mirip dengan tenaga monster! Kepalaku menjadi nyeri seharian gara-gara kau melemparku dengan kaleng soda itu! Merepotkan saja kau ini!" balas Sasuke

"Oh, yeah? Kukira kepalamu tidak akan sakit gara-gara lemparan kecilku itu. Kepalamu kan terbuat dari batu!" ujar Sakura sarkastis

"Apa, katamu?!" seru Sasuke sambil mengepalkan tangan kanannya, diiringi dengan perempatan sudut siku yang entah sejak kapan bertengger dijidatnya. Sasuke membalikkan badannya, memblakangi Sakura. "Terserahmu, lah. Jika kau tidak segera menuju BK, aku tidak bertanggung jawab jika jabatanmu diambil. Atau minimal kau diberi hukuman yang lebih berat." Ujar Sasuke, kemudian melenggang santai meninggalkan Sakura dengan alis berkerut dan mulut setengah melongo, berusaha mencerna ucapan Sasuke dengan otaknya yang entah kenapa mendadak lemot.

Tunggu, tunggu... alien itu bilang apa tadi? BK...? BK? BK?!—

—"GAWAT!"

.

Freunde Für Immer

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning! : alur pasaran, typo bertebaran, gaje, yang nulis jomblo (?), dkk.

.

Chapter 3 : Forever Rival

Suasana hening merasuk dalam ruang BK kala itu. Yeah, memang hening. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan bagi mereka berempat untuk saling melempar tatapan sinis, 'kan? Terutama bagi Sakura dan Sasuke. Aa, lebih tepatnya, hanya bagi Sakura. Pasalnya, Sasuke yang daritadi ditatap sinis, tampak santai-santai saja, tak menghiraukan deathglare mematikan dari Sakura, dan malah memasang tampang datar tanpa rasa berdosa. Sedangkan Naruto yang biasanya hyperaktif, kini diam seribu bahasa. Ingatlah posisinya sebagai siswa yang masuk melalui jalur prestasi dengan kemampuan akademiknya yang tak seberapa. Disekolah se-elite ini bukan hal yang mustahil jika ia langsung dikeluarkan dari sekolah karena melakukan pelanggaran. Apalagi guru BK-nya ini juga termasuk guru terkiller disekolah ini—sebelas duabelas dengan Orochimaru. Yeah, sebut saja Senju Tsunade. Hei, masih banyak anak yang lebih berprestasi dari Naruto yang mengantri untuk bersekolah di KHS. Dan bagaimana dengan Hinata? Aa, kali ini wajahnya benar-benar pucat pasi. Yeah, kalian tahu sendiri, 'kan betapa disiplinnya keluarga Hyuuga? 'Disiplin adalah segalanya. Segalanya itu harus kau lakukan dengan sempurna. Jika kau melanggar aturan itu, meskipun hanya sedikit, ikat, buang ke laut.' Err... kira-kira seperti itulah prinsip yang mereka anut. Dan perlu digaris bawahi, walaupun Neji adalah ssok yang kalem, ia juga mengerikan ketika sedang mengamuk.

Kecamkan hal itu.

Mengamati keempat ekspresi muridnya, Tsunade hanya bisa menahan senyum gelinya, menyebabkan bibirnya berkedut tipis. Dasar anak muda! Batinnya.

Tsunade menegakkan posisi duduknya, setelah berdehem pelan, ia pun menopang dagunya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mulai mengetuk-ngetukkan remote CCTV yang tadinya tergeletak dimeja kerjanya, membuat Sakura menghentikan acara pelotot-melototnya.

"Jadi, menurut kalian berempat, apa alasan aku memanggil kalian kesini?" tanya Tsunade dengan nada tegasnya. Khas guru BK. Hinata yang sudah pucat pasi sejak awal, semakin bertambah pucat lagi, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Sementara Sakura yang entah kenapa otaknya melemot, masih berusaha mencerna pertanyaan Tsuande. Rupanya ia terlalu serius dan terlalu menekuni acara pelotot-memelototnya pada Sasuke yang bahkan tidak mnanggapi tatapannya sama sekali. Sedangkan Naruto, ia sibuk sndiri membayangkan kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan di KHS—salah satunya, mencuri ramen instant dari kantin Ichiraku, dan yang kedua, mencuri celana olahraga di toilet pria yang ternyata adalah milik Konohamaru. Bersyukurlah itu bukan celana milik Neji. Lupakan hal itu. Dan Sasuke? Tampaknya ia tetap konsisten dengan sikap tenang dan tampang stoicnya. Ia bahkan sudah tau alasan mengapa Tsunade memanggilnya ke ruang BK ini. Ia sudah berpengalaman bersekolah di sekolah elite sebelumnya. Bahkan yang tingkatannya jauh lebih tinggi dari KHS. Dan inilah hal yang ia benci dari sekolah elite. Selain gedugnya yang terlalu luas, sekolah elite pastinya mempunyai 1001 aturan merepotkan yang dibuat oleh orang kurang kerjaan seperti kepala sekolah. Dan sekolah elite pastinya juga mempunyai CCTV yang dipasang di seluruh sudut ruangan untuk memantau gerak-gerik siswa-siswinya. Yeah, menyebalkan. Sasuke yakin kalau guru BK-nya yang satu ini adalah guru yang rajin menonton CCTV setiap harinya. Minimal, 5 jam sehari.

Oke, abaikan satu kalimat terakhir.

"Maafkan aku, Guru Tsunade... aku berjanji tidak akan mencuri ramen dan celana milik Konohamaru lagi. Aku janji..." ujar Naruto dengan muka melas plus puppy eyes andalannya—yang malah membuatnya terlihat amit-amit—sambil berlutut didepan Tsunade dan mengatupkan kedua tangannya, sedangkan seluruh orang yang ada di ruang itu langsung sweatdropped berjamaah. Terutama Tsunade. Naruto yang menyadari adanya kejanggalan yang membuat suasana jadi hening seketika itu langsung menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian dengan cepat. "Eh? apa aku salah bicara?" tanyanya canggung, namun hanya direspon dengan tatapan horror dari keempat temannya dan guru BK-nya yang killer itu.

"Bukan itu alasannya, Naruto. Untuk apa aku memanggil Sakura, Hinata, dan Sasuke jika yang kupermasalahkan adalah masalah pribadimu?" ujar Tsunade, "Dan... untuk pengakuanmu itu, poinmu kukurangi 75." Sambungnya.

"Cih, dasar bodoh." Desis Sasuke dengan nada meremehkan.

Naruto memicingkan matanya, "Apa katamu?!" pekiknya cempreng.

Sakura yang geram dengan tingkah kedua temannya yang dari tadi bertengkar, langsung menyikut perut Naruto dan sikut Sasuke. Ah, ya... dengan tenaga monsternya. "Diamlah, Naruto! Suaramu itu cempreng tahu!" protes Sakura. Tsunade sweatdropped seketika.

"Hah... baiklah. Kuberi tahu apa alasan aku memanggil kalian kesini." Ucap Tsunade, kamudian menekan salah satu tombol berwarna merah di remote CCTV yang tadi dipegangnya. Seketika, layar monitor menampilkan adegan berlatar belakangkan kelas Sakura dan Sasuke saat istrahat tadi. Ya, Sasuke sudah menduganya.

'Berbicara kasar.'

Setelah adegan adu mulut yang terekam CCTV tadi selesai, Tsunade kembali menekan tombol merah itu tadi, sehingga tayangan yang muncul di monitor tadi berhenti. "Kalian sudah paham?" tanya Tsunade. Keempat muridnya—kecuali Sasuke—mengangguk pasrah.

"Tapi, guru Tsunade, aku dan Hinata tidak terlibat! Kami malah berusaha melerai 'dua orang ini', dan kenapa kami kena imbasnya juga?!" protes Sakura berapi api seraya menyilangkan kedua tagannya didepan dada. Tentu saja ia ta terima jika harus dihukum gara-gara kesalahan orang lain. Apalagi kesalahan orang yang sangat-sangat dibencinya, Sasuke Uchiha.

"Anggap itu hukumanmu untuk insiden lemparan kaleng soda dengan tenaga monstermu satu minggu yang lalu." Timpal Sasuke.

"Diam, kau!" gertak Sakura dengan pose khasnya—menuding hidung Sasuke.

"Ah, ya. Dan untuk insiden itu, poinmu kukurangi 15." Ujar Tsunade.

"T-tapi..." ucap Sakura lemah, disusul oleh kekehan merendahkan Sasuke disertai seringaian 'iblis'nya. Sakura langsung asang deathglare mematikannya pada Sasuke.

"Semuanya sudah kuputuskan. Dan aku tidak menerima penolakan." Ucap Tsunade. "Hukuman kalian adalah..." sambung Tsunade, memberi jeda diantara kalimat yang hendak diucapkanya, membuat keempat muridnya penasaran sampai mereka mencondongkan badannya—pengecualian lagi bagi Sasuke.

"Menjadi konselor selama satu bulan. Setiap pulang sekolah kalian harus berkumpul dikelas khusus konselor yang sudah ku siapkan di gedung baru lantai dua. Jika salah satu dintara kalian ada yang berhalangan karena acara sekolah—seperti ekskul, maka kalian yang tidak ada keperluan harus menemani teman kalian hingga acaranya selesai. Dan kalian baru boleh pulang jika sudah jam lima. Tugas kalian akan kuberitahu nanti." Ujar Tsunade panang lebar.

Sakura langsung jawdropped, Naruto justru tampak riang, Hinata menghela nafas lega karena hukumannya tidak melibatkan panggilan orang tua atau semacamnya—you know, lah...—sedangkan Sasuke memasang ekspresi tak terima.

"APA?! DENGAN ORANG SEPERTI DIA?!" protes Sakura dan Sasuke sambil menuding satu sama lain.

"Hei, Sakura, bukankah ini menyenangkan? Kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama! Ya, 'kan Hinata?" ujar Naruto dengan nada riang khasnya tanpa ada perasaan menyesal, kecewa, dan sejenisnya. Sakura sweatdropped seketika. Aku baru tahu jika ada orang yang senang ketika mendapat hukuman... batin Sakura.

"T-tentu Naruto-kun..." jawab Hinata sediki tergugup.

"Baguslah kalau begitu. Selamat menjalani hukuman kalian, ya, anak-anak... ha ha ha..." ucap Tsunade terkikik pelan ketika ia meninggalkan keempat muridnya yang masih sibuk berdebat dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku jubahnya.

"SIAL!"

.

.

.

Kriing... Kriing... Kriing...

"Ah, sepertinya materi hari ini cukup sampai disini. Kalian boleh berkemas-kemas sekarang. Sampai jumpa minggu depan, anak-anak..." ucap Guru Kurenai, guru Fiska mereka. Sontak, semua murid dikelas itu langsung berteriak 'Hore' secara serempak.

Sakura memasukkan buku-bukunya dengan kasar kedalam tas ransel hitamnya dengan wajah cemberut sambil bersungut-sungut kesal. Sesekali ia melirik kearah Sasuke yang memasukkan bukunya dengan ogah-ogahan, kemudian berdecih kesal sendiri. Setelah selesai mengemasi barangnya dan menutup resleting tasnya, Sakura langsung beranjak dari kursinya, menghadap kearah Sasuke. Mata mereka sempat bersitatap, namun dengan bibir maju semeter, Sakura langsung membuang muka dan menghentakan kakinya kuat-kuat, meninggalkan Sasuke dikelas itu.

Cih, dasar gadis aneh.

Sakura benar-benar kesal hari ini. Pertama, jawaban tugas biologinya salah, dan guru Hatake menyuruh Sasuk mengajarkannya jawaban yang benar, dengan sikap sombongnya.

Kedua, gara-gara adu mulut antara Naruto dan Sasuke, ia tidak jadi makan siang. Padahal sedang ada diskon besar-besaran di kantin sekolahnya, dalam rangka menyambut menu baru di kantin milik Ayame.

Ketiga, juga disebabkan oleh adu mulut saat istirahat tadi, ia harus dipanggil BK dan terlibat hukuman sinting yang entah kenapa diberikan Tsunade pada dirinya yang 'sama sekali tidak terlibat' dari adu mulut antara Naruto dan Sasuke. Ah, ya, kecuali untuk insiden ia melempar kaleng soda ke kepala Sasuke. Memikirkannya hanya membuat kepalanya bertambah pusing. Apalagi perutnya belum diisi sejak tadi pagi. Tapi, apa boleh buat. Ia sudah ditunjuk menjadi tangan kanan BK disekolah ini. Ia tidak boleh mengecewakan guru Tsunade.

"Oi, Sakura!" pekik sebuah suara cempreng, membuat Sakura menghentikan langkahnya. Ia sudah tau pasti siapa yang memanggilnya. Yeah, suara cempreng seperti itu hanya dimiliki oleh Naruto. Sakura menolehkan kepalanya kearah belakang, dan benar, Naruto dan Hinata kini tengah berlari kecil kearahnya. Ia memasang ekspresi datar bercampur kesalnya yang menyebabkan bibirnya maju satu meter, kemudian mengangkat sebelah tangannya keatas udara.

Menyadari ekspersi masam Sakura, Hinata pun unjuk bicara. "Eh? Sakura masih kesal dengan hukuman tadi?" tanya Hinata.

Sakura menghentakkan kakinya kesal. "Tentu. Mana mungkin aku tidak kesal? Aku 'kan tidak terlibat! Uchiha itu benar-benar menyebalkan!" cerocos Sakura berapi-api, "Dan kau, Naruto. Seharusnya kau tidak usah terbawa emosi dan meladeni ucapan tajam Uchiha ayam itu! Menyebalkan!" imbuh Sakura, menggembungkan pipinya kesal.

"Tapi lihatlah sisi positifnya, Sakura-chan. Kita bertiga bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama! Biasanya 'kan Hinata tidak bisa berkumpul lama lama dengan kita. Dan hari ini, kita bisa berkumpul bersama dengan waktu tambahan selama dua jam! Pasti menyenangkan!" papar Naruto sok bijak, disertai anggukan dari Hinata.

Sakura merotasikan bola matanya bosan. "Aku tahu itu, Naruto. Tapi aku tak sudi jika harus bertemu lebih lama dengan alien ayam menyebalkan itu!" ujar Sakura

"Hoi, kalian kurang kerjaan sekali membicarakanku di koridor sekolah seperti ini." Sahut suara baritone Sasuke. Entah sejak kapan ia berdiri disitu. Mungkin, saking asyiknya berdebat, Sakura, Naruto dan Hinata sampai tidak menyadarinya.

Sakura dan Naruto memasang ekspresi kesal pada Sasuke, sedangkan Hinata hanya tersenyum canggung.

"Ck, Uchiha sialan!" ujar sakura dengan penekanan di kata 'Uchiha sialan', kemudian meninggalkan kedua temannya dan satu orang rivalnya di koridor itu.

.

Tsunade mengedarkan pandangannya pada keempat muridnya yang telah berkumpul di kelas khusus konselor yang dimaksud oleh Tsunade—yeah, siapa lagi kalau bukan Sakura, Hinata, Naruto dan Sasuke? Ah, dan mereka masih tetap bermusuhan dan menjaga jarak satu sama lain. Hal itu sudah tercerminkan dari ekspresi mereka, dan juga posisi duduk mereka. Sakura duduk di bangku paling kiri, seraya melipat tangannya didepan dada plus membuang muka kearah jendela dengan ekspresi kesal. Disebelah kananya ada Hinata yang menatap Tsunade takut-takut ditambah senyum tipisnya yang terlihat canggung. Disebelah kanannya lagi, ada Naruto yang sedang sibuk mengagumi bangku dan kursinya yang kebih mulus daripada bangku dan kursinya dikelas—yang sudah kotor karena Naruto sering menggambar di meja itu dengan spidol, kemudian menghapusnya. Sementara Sasuke, ia duduk di bangku paling kanan, posisi duduknya kurang lebih sama seperti Sakura, hnya saja ekspresinya terlihat datar.

"Ehm, jadi, seperti yang tadi aku jelaskan, kalian akan kuberi tugas sebagai konselor disekolah ini." Ujar Tsunade, "Tugas kalian yang pertama adalah, membantu setiap siswa-siswi yang bermasalah, atau lebih tepatnya—sedang ada masalah yang tidak bisa ia tangani sendiri, seperti; masalah pribadi, hubungan sosial, kurang faham dengan materi pelajaran, dan sebagainya. Kalian harus membantunya sampai masalah mereka selesai. Kemudian yang kedua, tugas kalian adalah membantu pemipin klub-klub sekolah untuk mengelola klub mereka masing-masing." Jelas Tsunade, bisa dilihat, dari keempat muridnya sepertinya hanya Sakura dan Sasuke yang masih merasa keberatan. "Ada yang keberatan?" tanya Tsunade, Naruto dan Hinata menggelengkan kepalanya dengan mantap secara serempak, sedangkan Sakura dan Sasuke hanya bisa mengangguk lemah dengan hati pasrah.

"Dan yang terakhir, kalian harus berteman dan membantu antar-sesama."


Author's Note :

Yo. Minna! ^^ maafkan daku yang apdet lama... Yah, kallian tau lah, betapa kejamnya guru-guru jaman sekarang. ngasih paper setumpuk, deadlinenya cuma sebentar. rasanya itu kayak jadi romusa dijaman penjajahan *curhat

Dan maafkan ceritanya yang semakin gaje, dan sangat mengecewakan T.T maklumi daku yang masih newbie+amatir...

Untuk yang nanya nama daku siapa, nama daku Zalva ^^

Makasih yang udah mau ngereview, nge favs, nge follow, nge read, de el el. makasih banyak. Terutama adek daku yang komen pake akun ini, saya akui komennya benar-benar gaje. Sama sepperti muka saya dan alur fanfic ini ^_^; *ngaku

Pairing belum ditentukan karena konflik belum muncul. Insya allah chapter depan udah mulai menjurus ke konfliknya. Gak janji loh ya!

Ada sedikit edit juga di chapter 2. Prestasinya Hinata itu main alat musik apapun, kalau Naruto sepak bola. maklum, daku copas karangan lama, gak di edit dulu ^^

Okelah, jangan lupa RnR ya! ^^