Do You Believe In Love? © Bychancehappened

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: Narusasu

Genre: Angst/Romance

Published: Jul 12, 2015

Story id: 11373896


Do You Believe In Love?

Bychancehappened


"APA?"

Dua suara berteriak dengan serempak.

"Tidak..." gumam Sasuke. Meskipun ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah keputusan. Ia adalah carrier, dan Hokage bisa menyerahkannya sebagai hadiah kepada siapapun.

"AKU MENOLAKNYA, HOKAGE-SAMA!" kata Naruto dengan suara yang kuat.

"Aku hanya memberikanmu hadiah untuk pertunjukkanmu hari ini. Kau boleh melakukan apapun padanya. Mulai hari ini, dia adalah milikmu."

Naruto menggertakkan gigi untuk menekan amarahnya ketika Orochimaru berkata seolah-olah Sasuke adalah sebuah barang bukan manusia. Tetapi ia tahu, jika ia membuka mulutnya sekarang itu hanya akan membuat situasi semakin memburuk.

Jadi, ia mendengarkan dalam diam ketika Orochimaru melanjutkan, "Kau bisa membuangnya, kau bisa menggunakannya untuk kesenangan, kau juga bisa menjadikannya sebagai pelayan sebagaimana kau tahu keahliannya sebagai sebuah 'hadiah', kau bahkan bisa menggunakannya untuk mendapatkan ahli warismu."

...Dan Naruto tidak bisa menahannya lagi. Ia tahu bahwa ia baru saja membunuh orang yang sangat dekat dengan pria ini, tetapi jika ia tidak menerimanya sebagai 'hadiah' makan pria ini akan mendapatkan banyak masalah lebih dari ini.

Ia melihat pria raven di depannya, tangan pria itu mengepal kuat hingga buku jarinya memutih dan seluruh tubuhnya gemetar, bukan karena takut akan diserahkan pada demon tapi karena ia marah.

Sambil berjalan mendekati 'hadiahnya', Naruto melirik sang Hokage. "Arigatou, Hokage-sama," katanya sambil memegang tangan Sasuke erat-erat. Sasuke tersentak karena sentuhan itu dan mencoba untuk melepaskan diri, namun cengkeraman tangan Naruto lebih kuat darinya.

Tanpa memedulikan seruan kemarahan para penduduk, Naruto menghilang dalam kepulan asap bersama dengan Sasuke.


Sasuke mendapati dirinya berdiri di depan apartemen asing setelah Naruto melakukan teleportasi bersamanya dari stadion dan ia tahu tempat ini akan menjadi lubang neraka untuknya. 'Mungkin akan menjadi kuburannya juga,' pikirnya sarkastik.

Pintu yang ada di ujung sebuah lorong terbuka sedikit dan seorang pria tua mengintip dari sana. Matanya membulat ketika melihat Sasuke.

"Apa yang dilakukan pria carrier menjijikkan itu di sini? Bukankah ada seorang demon di sini saja sudah cukup?" tanyanya dengan nada sengit.

"Dia adalah pasanganku, Pak tua." Naruto menyeringai seperti orang bodoh dan menggaruk belakang kepalanya, tangannya yang lain masih memegang pergelangan tangan Sasuke.

"TIDAK. AKU TIDAK—" Sasuke mencoba membantah kepemilikan sepihak itu dan meminta bantuan, tetapi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, pria tua itu membanting pintu kuat di depan wajahnya.

Tanpa memedulikan reaksi pemilik gedung berlantai ini, Naruto segera membuka pintu apartemennya.

Sasuke menarik tangannya kuat sebagai usaha terakhir untuk bebas dari 'sarang demon', tetapi Naruto segera mendorongnya ke dalam dengan paksa dan mengunci pintu di belakang tubuhnya ketika ia sudah masuk.

Mata Sasuke membelalak ketika demon itu mulai mengunci pintunya. Ia tahu betul apa yang akan terjadi setelah ini. Ia mengambil langkah mundur ketika Naruto melangkah menuju sebuah kamar.

'Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak akan membiarkan iblis itu menyentuhku,' gumam Sasuke. Ia melihat pintu lain di sebelah kanannya; membukanya, berlari masuk ke dalam ruangan kecil itu dan menutup pintunya rapat.

Melihat sekitar, Sasuke menemukan sebuah rak kayu. Ia menyeret benda itu menempel sampai ke pintu untuk menjamin keselamatannya. 'Aku harap demon itu tidak bisa merusak pintu kamarnya sendiri,' pikirnya.

Dengan terengah-engah, tubuh Sasuke merosot di ujung kamar dan meringkuk.


Naruto menghadapi kejadian ini tanpa ekspresi. Naruto sudah menduga reaksi seperti ini dari pria yang 'dihadiahkan' kepadanya—yang merupakan seorang pembunuh orang yang paling berharga bagi pria itu dan juga seorang yang disebut sebagai 'demon' di desa ini.

Ketika ia mendengar Sasuke menyeret sesuatu yang berat, mungkin rak buku dan menuju ke pintu, ia mendesah kemudian duduk di sofa ruang tamu.

Otaknya memaksa untuk berpikir apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan. Tidak ada cara untuk membuat Sasuke menerimanya sebagai orang yang baik, setelah apa yang ia lakukan pada pria Hyuuga itu. Tidak, ia akan selalu menjadi monster bagi pria itu.

Tetapi ia juga tidak bisa membiarkan Sasuke pergi. Ketika Naruto bertemu dengannya tempo lalu, ia tidak tahu bahwa pria itu adalah 'carrier dari Uchiha', tapi sekarang ia sudah tahu. Ia yakin karena kejadian hari ini di stadion, tempat dimana Sasuke tinggal sudah tidak aman lagi untuknya. Para penduduk desa akan membunuhnya jika mereka tahu bahwa seorang demon telah membawanya lari dan Sasuke tidak punya keluarga lagi untuk memberinya tempat tinggal selama ia mengalami masa-masa yang sulit.

Menutup matanya, Naruto membaringkan diri ke badan sofa. Otaknya memutar kembali kejadian masa lalunya, ketika ia didepak keluar dari panti asuhan dan Hokage ketiga memberikannya apartemen ini.

Ia mengingat bagaimana Hokage ketiga tersenyum sedih ke arahnya. Pria itu seperti seorang kakek baginya, ia tidak tahu siapa keluarganya dan Hokage ketiga adalah satu-satunya orang yang dekat dengannya, satu-satunya orang yang peduli padanya. Dan karena pria tua itulah Naruto masih memiliki kepercayaan diri di dalam kepalanya.

Hokage ketiga banyak berhutang budi pada pemilik apartemennya dan pria itu—si pemilik apartemen, adalah orang yang cukup baik karena mengabulkan permohonan Hokage ketiga yang terhormat dan menginjinkan Naruto tinggal di sana meskipun ia merupakan demon Konoha.

Mata Naruto berubah merah ketika ia mengingat hari dimana Hokage ketiga tewas, atau lebih tepatnya dibunuh oleh muridnya sendiri yang juga merupakan Hokage yang sekarang, Orochimaru.

Mengingat masa-masa itu membuat darah Naruto mendidih. Dan Orochimaru...

Naruto membenci orang itu setengah mati, tapi janjinya pada Hokage ketiga untuk mengabdi pada desa dan melindungi para penduduk menghentikannya keinginannya untuk balas dendam.

Setelah berpikir cukup lama, Naruto mulai merasakan matanya memberat, ini adalah hari yang melelahkan untuknya. Ia kembali memikirkan penghuni lain yang ada di apartemennya, mereka berdua sama, sendirian, dibenci, tidak diinginkan, tidak berbeda.

Dalam kondisi seperti ini mereka akan menjadi teman baik, pikir Naruto sebelum ia tertidur dan dihantui oleh mimpi tentang masa lalu.


Duduk di sudut kamar yang gelap, Sasuke memeluk lututnya hingga menyentuh dada. Air mata kesedihannya sudah habis beberapa jam lalu dan hanya menyisakan dua jejak yang mengering di pipinya, dan sekarang ia mati rasa, kosong, seperti tidak ada lagi yang tersisa untuknya.

Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di kamar itu. Demon itu bahkan tidak mencoba untuk mengetuk atau mendobrak pintu, dan Sasuke tidak tahu berapa menit, jam, atau hari ia berada di sana.

Ia mendesah dan sekarang terhanyut dalam kebebasannya. Ia tidak punya pekerjaan lagi, dan ia tidak bisa kembali ke apartemennya juga.

Sebenarnya jika ia melarikan diri sekarang, Iruka adalah satu-satunya tempat baginya untuk berlindung, tapi ia tidak ingin menyeret pria itu dalam bahaya. Ini sudah cukup bagi Sasuke, dan ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada gurunya.

'Aku masih punya satu tujuan dalam hidupku,' pikirnya. 'Aku akan membalaskan dendam Neji.'

'Tapi bagaimana?' Ia berpikir keras. 'Aku tidak bisa bertarung. Tapi kurasa ada satu cara yang bisa kulakukan...' Sasuke menyeringi. 'Tapi aku harus keluar dari rumah ini dan mengumpulkan segala sesuatu yang aku butuhkan untuk menjalankan rencana ini.'

Mengangkat kakinya perlahan, Sasuke melangkah ke pintu dan menggeser rak buku itu lagi untuk memberinya jalan keluar. Ia membuka pintu dan mengintip keluar. Tidak ada siapapun di ruang tamu.

Sasuke berhati-hati melangkah menuju pintu depan dan memutar kenop.

Tidak bisa. Pintu terkunci dari luar.

Sasuke menggertakkan gigi. 'Tentu saja demon itu akan mengunci pintu. Apa yang aku pikirkan?'

Sasuke berjalan kembali ke kamar. Ia membuka jendela dan melihat keluar. Apartemen ini berada di lantai satu jadi ia tidak perlu kesulitan untuk memanjat turun untuk ke luar.

Kemudian, ia menutupi wajahnya dengan jubah yang ia pakai sejak kemarin dan merooh kantungnya. Ia masih memiliki beberapa uang di kantungnya, juga kunai yang Neji berikan padanya ketika ulang tahunnya yang ketigabelas.

Sasuke mengusap kunai itu penuh kasih dan menutup matanya, benda itu adalah kenangan terakhir dari sepupunya.

Membuka matanya, ia menaruh kunai itu kembali pada kantungnya dan mendesah. Ia tahu bahwa ia harus melakukannya tapi ia tidak yakin akan berhasil.

'Aku tidak akan gagal.' Dengan penuh tekad, akhirnya Sasuke meninggalkan apartemen itu.


"Tadaima," seru Naruto ketika memasuki apartemennya. Seperti biasa hanya keheningan yang bisa menjawab salamnya.

Mendesah, ia mulai berjalan ke dapur. Ia belum makan apapun sejak kemarin dan sekarang ia kelaparan. 'Sasuke pasti lapar juga, aku akan membuatkan sesuatu untuknya,' pikir Naruto.

'Apa kau pikir dia akan menerima makanan dari seorang pembunuh?' Suara di kepalanya berkata.

Naruto menggeleng, dan membuka salah satu bufet di sana. Hanya ada satu cup ramen instan yang tersisa.

Ia memandang cup ramen itu selama beberapa saat sampai akhirnya ia mendesah dan mengambil benda itu keluar. Dengan cekatan, ia membagi dua bagian mie itu ke dalam dua mangkuk dan menuangkan air panas.

Beberapa menit kemudian aroma lezat dari Miso ramen itu memenuhi dapur.

Naruto segera menuang air dingin dalam gelas dan menaruhnya di atas nampan bersama satu mangkuk ramen. Lalu ia menuju satu kamar yang terkunci, menaruh nampannya di lantai lalu mengetuk pintu.

"Uchiha-san..." panggilnya dengan suara pelan, tapi tidak ada respon dari dalam.

Naruto mendesah, lagipula ia sudah menduga bahwa pria itu tidak akan meresponnya.

"Uchiha-san, kau belum makan apapun sejak kemarin. Aku akan menaruh makan malammu di sini, dan makanlah jika kau suka."

Kembali ke dapur, Naruto menatap mangkuk ramen miliknya dan tiba-tiba ia merasa tidak lapar lagi.

Ia merasa sangat lelah... akhirnya ia memilih untuk menutup mangkuknya dengan piring dan menuang air untuk dirinya sendiri.

Ia meminum air itu dengan rakus kemudian kembali ke sofa dan merebahkan tubuh di sana. Kelopak matanya menutup dan ia kembali tenggelam dalam mimpinya.


Pintu kamar Naruto terbuka perlahan dan sosok berjubah keluar dari sana, ia berjalan perlahan tanpa menimbulkan sedikit suara. Ia melihat ke arah mangkuk ramen di lantai yang nampak sudah mendingin.

'Dia mungkin mencoba meracuniku,' pikirnya.

Melihat ke ruang tamu, Sasuke menemukan targetnya tengah tertidur di sana. Dadanya yang naik turun dengan teratur mengindikasikan bahwa pria itu tengah tertidur nyenyak.

Sasuke berjalan mendekati sofa. Pria ini adalah seorang ninja, ia bisa bangun kapanpun jika mendengar sedikit saja keributan, dan itu bisa merusak rencana. Jadi, Sasuke benar-benar harus ekstra hati-hati agar waktu tak terbuang sia-sia.

Ia kini berdiri tepat di depan pria yang tertidur itu, menatapnya, lalu mengerutkan dahi. 'Aku hanya punya satu kesempatan,' pikirnya. 'Dan aku tidak boleh melakukan kesalahan.'

Tangan pucatnya menggenggam kunai yang tersingkap dari jubah hitamnya. Memosisikan benda tajam itu ke dada sang demon. Ia merasakan bagaimana tangannya gemetar.

Seumur hidupnya, ia tidak pernah membunuh makhluk hidup apalagi manusia. Meskipun pria ini adalah demon, ia terlihat sangat manusiawi dan mudah untuk diserang, tekad Sasuke mulai sedikit goyah karenanya.

'Aku tidak bisa melakukan ini,' pikirnya. 'Tapi ia membunuh Neji, dan ia tidak pernah menunjukkan belas kasihan pada siapapun termasuk gadis di taman waktu itu 'kan?' Suara lain di dalam kepalanya berkata.

Bayangan tentang gadis kecil yang terluka terlintas di dalam kepalanya. Ia melihat mata Neji yang tak bernyawa menatapnya, menuntut pembalasan dendam.

Sasuke merasa seluruh tulangnya menggigil.

Ia mencengkeram kunai itu erat-erat dan mencoba mengumpulkan keberanian; sampai akhirnya ia berhasil menusuk dada sang demon dengan kunai itu dan—

—ia tersentak.

Sebuah tangan yang kuat menggenggam pergelangannya sebelum ia berhasil menusukkan kunai lebih dalam pada dada kekar itu. Ia melihat demon itu, dan matanya bersinggungan dengan sepasang safir yang menatapnya dengan sangat dalam.

Seluruh tubuh Sasuke membeku karena terkejut dan takut. Namun terlepas dari rasa takut ada sesuatu pada bola mata biru itu yang membuat napasnya berhenti.

'Kenapa mata demon itu tidak merah?' pikirnya. Ia mencoba untuk memalingkan wajah tapi ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari mata safir itu. Terpesona dengan bola mata yang sangat ekspresif, sangat manusiawi.

Mata itu menunjukkan ekspresi yang sama ketika ia bercermin. Hanya ada penderitaan dan kesendirian dalam mata sebiru lautan yang nampak tenang dan dalam itu, sangat dalam hingga Sasuke merasa tenggelam di dalamnya.

Snamun tiba-tiba suara tawa menyentak lamunan Sasuke. Ia menatap demon itu dengan pandangan bingung.

"Jadi, seperti ini..." gumam Naruto. Ia memaksa tangan Sasuke untuk menarik kunai dari dalam dadanya dan menatap pria itu—masih berbaring di sofa tanpa melepaskan pegangannya pada tangan Sasuke.

"Apa yang akan kau lakukan jika seseorang memberitahumu bahwa kau harus melawan kematian besok dan kau tidak punya pilihan lain, Sasuke?" tanyanya lembut. Tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan, "Apa yang akan kau lakukan ketika lawanmu menyerang dan bermaksud membunuhmu? Apa kau akan membiarkannya membunuhmu, Sasuke? Katakan padaku apa yang akan kau lakukan jika kita bertukar tempat?" lanjutnya.

Sasuke menatap pria itu, ia tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Ia tidak memikirkan kejadian semacam itu dalam sudut pandangnya. Jadi, ia hanya menatap sang demon yang terlihat seperti manusia pada umumnya, manusia yang memikul banyak beban.

Naruto merasa setitik keringat mengalir di dahinya. Napasnya mulai sesak dan tubuhnya sedikit gemetar. "Racun, eh?" gumamnya sambil melepaskan tangan Sasuke dan menggunakan tangannya untuk menekan luka menganga di dadanya.

Sasuke mengambil langkah mundur. Kunai masih ada di tangannya dan untuk sesaat demon itu terlihat lemah namun Sasuke tidak mau menyerangnya lagi.

"Kenapa mereka tidak mengerti bahwa ini bukan kemauanku? Aku hanya wadah dari demon, aku Naruto bukan demon. Kenapa mereka tidak sadar bahwa mereka bisa tidur dengan nyenyak setiap malam karena aku menahan demon di dalam tubuhku menjauh dari mereka?" Ia menggumam, kata-katanya membingungkan, napasnya mulai tidak teratur. Ia mendesah dan menutup matanya, setitik air mata jatuh dari sudut matanya. Ia lelah.


Sasuke berlari membabi buta melewati jalan sepi Konoha. Malam ini badai musim dingin tengah berlangsung, angin bergemuruh namun ia tidak memedulikannya. Yang ia inginkan saat ini hanya lari menjauh dan melupakan semua yang terjadi pada hidupnya yang singkat ini.

Ia tidak memakai sandal, tidak pula membawa payung, pakaiannya basah kuyup dan kakinya terluka tapi ia tidak merasakan sakit... yang ia rasakan hanya kekosongan; seolah-olah otaknya hanya dihantui oleh sepasang mata sebiru laut itu.

"Kenapa? Kenapa mereka tidak membiarkan aku sendiri?" bisik Sasuke, mencengkeram kepalanya dan menggeleng, berharap bayangan tentang mata biru itu menghilang. Berharap tidak pernah ada sepanjang hidupnya, tidak juga untuk sepasang mata merah demon itu, semua itu mempengaruhinya.

Ia tersandung ketika kakinya yang terluka menolak untuk berjalan lebih jauh, dan ia jatuh berlutut. Napasnya sesak dan tubuhnya menggigil kedinginan.

Sasuke melihat ke arah kunai yang masih ia pegang dan menggeleng ketika kejadian beberapa jam yang lalu berputar dalam ingatannya.

Sasuke tahu bahwa ia tidak akan mampu membunuh demon itu pada pertarungan yang nyata. Jadi itu adalah satu-satunya cara untuk membalaskan dendam, dengan meracuninya. Ia menusuknya dengan kunai beracun—kunai yang diberikan oleh Neji—ketika demon itu tidur.

Tidak ada yang perlu ia takutkan; ia sudah banyak merasakan kehilangan. Jika ia gagal dan harus membayar dengan nyawanya sekalipun, Sasuke tidak peduli, karena tidak ada lagi alasan untuknya tetap hidup.

Dulu ia sering mempelajari berbagai macam racun jadi ia cukup tahu jenis-jenisnya. Hari itu, setelah meninggalkan apartemen sang demon, ia pergi ke hutan untuk mengumpulkan ramuan obat.

Ia kembali ke apartemen setelah membuat racun yang berbahaya. Hal itu memakan banyak waktu karena ia ingin hasil yang terbaik, dan ketika ia merasa puas dengan hasilnya, ia segera melumuri kunainya dengan racun itu.

Ia merasa sangat puas ketika memikirkan tentang balas dendam, membayangkan demon itu sekarat dan menderita pada hembusan napas terakhirnya. Tetapi sekarang ketika ia menyelesaikan tugasnya... ia tidak merasakan apapun. Tidak senang, tidak puas, hanya merasakan kekosongan yang hampa...

Dan mata itu...

Sasuke menarik napas berat. Penderitaan di mata biru itu sangat nyata. Kata-kata yang meracau di tengah-tengah kesadaran pria itu juga nyata...

Tangan gemetarnya menggenggam kunai itu erat-erat. Menekan ujung kunai itu ke lehernya dan menutup matanya.

Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi, ia sudah membalaskan dendam sepupunya, menyelamatkan penduduk desa dan mungkin, Sasuke berani berpikir bahwa itu semua mungkin jika ia membunuh orang tidak bersalah yang terpilih sebagai wadah 'demon', bersamaan dengan demon itu sendiri.

Dan sekarang, ia tidak punya tempat yang disebut sebagai rumah, tidak ada balas dendam, tidak ada mencintai dan dicintai, tidak ada seorangpun yang ada untuknya... perjalanannya panjangnya cukup sampai di sini dan sekarang...

Ia menekan kunai itu lebih dekat pada lehernya, tapi sebelum benda itu menusuk dagingnya, tangannya berhenti mendadak. Ia mencoba untuk menggerakkan tangannya namun tangannya tidak mau menurutinya.

'Aku tidak bisa melakukan ini,' pikirnya. Pegangannya mengendur dan kunai itu jatuh ke tanah yang basah dengan suara yang cukup keras di keheningan malam.

'Aku bahkan tidak cukup kuat untuk mengakhiri hidupku yang menyedihkan ini.' Suara lelah dalam kepalanya berkata.

Tubuh bagian atasnya ikut terjatuh di atas tanah berlumpur, air menghujani tubuhnya yang telah basah, ia terisak.

Tubuh lelahnya menolak untuk bangun dan Sasuke merasakan kegelapan di sudut matanya, ia menyambut kegelapan itu dengan senang hati dan menutup matanya yang lelah.

Pikirannya melayang dalam kedamaian bumi yang kosong dimana tidak ada penderitaan yang dapat menyentuhnya.


TBC...


Wew. Naruto keracunan dan Sasuke pingsan di tengah badai. Besoknya mereka mati. Uh get well soon to me(?)

Yosh, part tiga up, yg berkenan boleh kok komen pake bahasa linggris supaya author aslinya bisa baca juga review kalian. Bukan pemaksaan lho ya.

Review?