Nonton ghost rider sambil buat fanfic ini.

Ga bisa kubayangin si ghost rider berenang ria bersama Motonari-sama dkk! xD #plak!

Aku menjebak seorang temanku (cowok pula). Saking bosen tuh ya sms sama dia (soalnya smsnya singkat, jelas, padat), aku langsung sms—

"Romance or Friendship?"

Entah pikirannya mengira aku bertanya serius, dia sempat abaikan (katanya bingung).

Lalu saya paksa, dia pun sms, "cause Friendship make Romance, I choose Friendship".

Sumpah, aku ngakak bacanya. Alibi macam mana itu?

Setelah dia mengetahui bulu dibalik batu(?) ia pun sms, "aku dijadiin kelinci percobaan?"

"Iya," balasku pendek.

Ngakak bro!

Eh, oh ya, cerita akan kita mulai! Jangan sampai ceritaku lebih asik dari cerita fanficku! xD

Rnr ya?

Ngiung! Ngiung! Ngiung!

Suara mobil ambulan memenuhi laluan jalan yang akan ia lewati menuju rumah sakit paling dekat dengan lokasi apartemenku.

Separah itukah kecelakaan yang dialaminya?

Bila aku menjawab, tentu tidak. Apa yang bahaya dari jatuh ke tempat ketinggian dua meter dengan pantat yang mendarat lebih dahulu?

Meskipun dia langsung tidak sadarkan diri.

Mantan kepala sekolah Basara Academy serta asistennya sangat berlebihan menanggapi kecelakaan kali ini.

Ngapain juga bawa anak kecil ke rumah sakit kalau itu hanya kejadian kecil saja?

"Motonari-san!" Itsuki menatapku dengan wajah pilu. Aku mengerti perasaannya, tapi—

Sudah kukatakan ini berlebihan bukan?

"Itsuki-chan. Mungkin kamu akan senang kepada Motochika-san," kataku sedikit ramah kepada Itsuki.

"Dimana Motochika-san?" tanyanya.

"Dia berada disebelahmu, Itsuki-chan!"

Ya tuhan—kapan drama anak kecil dan dua laki-laki berusia 16 tahun ini berakhir?

"Itsuki-chan! Kita jauhi saja Motonari-san—dingin itu!" sahut Chousokabe setelah mendengar gerutuanku pada Itsuki.

"Iya paman! Dia jahat!"

"Siippp!"

Jotosan Itsuki mengenai pipi Chousokabe, saking semangatnya Itsuki.

Gila, anak kecil begitu saja bisa membuat jotosan yang membuat Chousokabe meringis kesakitan.

Seorang wanita dengan rambut sanggul ke atas serta berpakaian seksi ala asisten dan berkacamata, datang menghampiri kami bertiga di kursi depan kamar Ranmaru dirawat.

"Apa yang dilakukan oleh Ranmaru-kun tadi?" tanyanya lembut.

"Dia mengikuti ajaranku..." jawab Chousokabe, kemudian ia menunduk. Sedih kini ia rasakan.

Terlalu.. Terlalu... Terlalu berlebihan!

"Ranmaru-kun hanya mendapati pantatnya merah. Tidak apa-apa kok Motochika-kun."

Tuh kan? Apa yang aku bilang?

"Jadi Nou Hime-san? Ranmaru-kun bisa dibawa pulang ke rumah?" tanya Itsuki berseri-seri.

"Tentu Itsuki-chan!"

Nouhime mengusap-usap rambut putih Itsuki dengan manjanya.

Aku menatap mereka dengan mata yang sayu. Yah—kasih sayang...

Aku iri terhadap sesuatu yang aku sendiri tak pernah mendapatkannya.

Ayahku, Mouri Hiromoto, yang membesarkanku sendirian tanpa belaian kasih ibu saat aku masih kecil. Dan ayahku meninggalkanku saat umurku masih 9 tahun.

Karena alkohol.

"Hei! Jangan melamun!"

Chousokabe, menepuk bahuku dengan lembut.

Aku hanya berdiam dengan bola mataku memaling dari wajahnya.

"Maaf," kataku, singkat.

"Ada apa Mouri?" tanya Motochika lembut.

Aku menggeleng.

"Yah—Ranmaru-kun mungkin tidak akan masuk sekolah besok," ujar Nouhime. "Itsuki-chan masih di Basara Academy sebagai tukang masak?"

"Iya!" seru Itsuki. "Kasihan kan para orang yang menanamkan padi mendapat hasil murah dibanding kerja kerasnya? Daripada mereka menjual dalam bentuk beras, mending menjadi makanan berupa nasi kepada murid Basara Academy. Hitung-hitung beras kami terlalu melegenda untuk menjadi beras!" Itsuki tertawa ngakak, Nouhime juga ikut tertawa.

"Iya, Itsuki-chan. Kapan-kapan, jenguklah Ranmaru-kun! Kamu tahu tempat kami kan?"

Itsuki tersenyum.

"Yap, sepertinya Nobunaga-sama ingin pulang. Sayonara Itsuki-chan!"

Mereka berdua saling melambaikan tangan dengan ria. Membuat kami berdua memasang wajah tidak mengerti.

"Yah—Mouri, bagaimana kalau kita makan-makan?" ajak Chousokabe. "Aku yang traktir!"

Aku menatap wajah Chousokabe dengan wajah yang sangat datar.

"Jika tidak keberatan."

Dia mencengkeram tanganku, kemudian mengeretku dengan semangat yang tidak bisa kuduga.

Kau terlalu baik, Chousokabe.

~Toko dango~

"Ada yang bisa kubantu?" tanya seorang penjaga toko disana dengan ramah.

"Pesan dango dua piring, ya?" pinta Chousokabe. Aku tidak tahu apa alasan dia mengajakku ke toko kecil ini. Tapi kulihat, kawan-kawan kami—dari Basara Academy ada disini.

"Hei! Sanada Yukimura! Bila dangomu tidak habis, lapangan akan kuambil alih!"

"Tapi—uang Masamune-dono..."

"Challenge my quest or not!?"

"Masamune-dono, aku tidak tahu apa tujuan anda kali ini. Tapi,"

"Just eat! Apa sih susahnya?"

Date Masamune dan Sanada Yukimura seperti biasa berkelahi seperti kakak adik. Mereka tidak menyadari kehadiran kami, sampai penjaga toko itu bertanya ramah pada kami.

"Motochika! We're meet again, huh?" Naga mata satu itu dengan sok akrab menyapa Chousokabe.

"Naga mata satu! Kau apakan Yukimura huh?" tanya Chousokabe dengan agak menyindir.

"Seperti biasa! Hahaha—"

Naga mata satu menuju meja kami, diikuti oleh Sanada membawa dango di meja mereka ke meja kami.

"Motonari-dono kenapa sejahat itu tadi? Melempar kecoa ke kolam..." keluh Sanada padaku.

"Tanyakan kepada Chousokabe," jawabku.

"Ye—Mouri yang langsung buat masalah duluan!" sahut Chousokabe.

"Gara-gara kamu aku melakukannya, bodoh!"

"Aku melakukan apa?"

"Kau membuat pakaianku basah. Kurang jelas?"

"Sialan! Siapa suruh di dekat kolam waktu itu?"

"Siapa yang membawaku masuk klub bere—"

"Sudah!" sahut naga satu marah. "You two, you all same!"

Kami membuang wajah kami masing-masing.

Cukup lama kami memalingkan wajah kami kepada naga mata satu itu sampai—

"Ini pesanan anda, tuan."

Kami melengok kepada asal suara itu. Pemilik suara meletakkan piring berisi beberapa tusuk dango yang berwarna-warni itu ke meja yang kami berempat duduki.

"Terima kasih mbak! Mbak manis sekali," jurus ucapan laki-laki maho ternyata dapat membuat seorang penjaga toko dango TERSIPU MALU!

Kuletakkan telapak tanganku, dan mendaratkannya pada jidatku.

PLOK!

"Nee, Mouri? Ada apa?" tanya Chousokabe penasaran.

Aku menggeleng.

"Mau main Truth or Dare?" ucap naga mata satu pada kami. "Bagi yang bisa memakan habis satu tusuk lebih cepat, maka ia berhak pertama bertanya kepada orang yang bebas!"

"Aku terima!" ujar Chousokabe semangat.

"Aku Sanada Genjirou Yukimura, menerima tantangan Masamune-dono!"

Lalu mereka semua melengok padaku.

"Motonari-dono?"

"Mouri?"

"Mouri?"

Aku mendesah panjang.

"Ya, aku setuju!"

Mereka bersorak penuh... Kemenangan...

"Ayo! Ambil satu tusuk dango, lalu dalam hitungan 3 kita mulai!" kata naga mata satu dengan semangat.

"Satu!" ucap Sanada.

"Dua!" kini naga mata satu yang berbicara.

Lalu dilanjutkan dengan Chousokabe, "tiga!"

Semua makan dengan lahap. Sanada terlalu menikmati manisnya dango, sampai lupa untuk mengunyah dengan cepat.

Chousokabe dan naga mata satu saling menatap deathglare.

Kini, mungkin hanya aku yang bisa memenangkannya.

"Nyum... Nyum..." gumamku.

Dan sesuai kenyataan, akulah yang memenangkan ronde ini.

"Ah! Motonari-dono!" gerutu Sanada.

"Aku yang menang, kan?" tanyaku dengan dingin. "Aku mau bertanya pada Chousokabe!"

Sang pemilik nama menelan ludah.

"Truth or Dare?" mulaiku.

"Emmm..." Chousokabe menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yah... Truth aja deh..."

Senyum licik tersungging di bibir tipisku, membuat Chousokabe semakin getir padaku.

"Kalau begitu..."

Chousokabe bergidik.

"Apa yang membuatmu menjadi maho seperti ini sekarang?"

Hening sesaat.

Chousokabe dan naga mata satu tertawa meledak, membuatku hampir naik pitam.

"Jawab, Chousokabe!" bentakku.

"Uhmm... Yah..."

"Karena dia menyukaiku, Mouri!" sahut naga mata satu. "Are you jealous?"

"Hoo... Begitu..." jawabku, datar.

Hening. Saking lamanyanya, Sanada sudah menghabiskan enam tusuk dango.

"Yah—Mouri, kita makan bersama, oke?" ajak Chousokabe, lalu mencoba merangkulku. Namun aku menepisnya kasar.

"Aku ingin keluar."

"Tapi—Mouri..."

Aku langsung beranjak dari tempat dudukku, lalu keluar dengan langkah yang lumayan cepat. Naga mata satu dan Sanada hanya terdiam, menatap kami berdua dengan bingung.

"Chousokabe, kejar!" Sanada langsung memerintahnya.

"Tapi..."

"Kejar saja Mouri!" sahut naga mata satu. "Are you guy, right?"

"Sial!"

Chousokabe langsung mengejarku, menyusulku dibelakang.

Sementara itu...

"Emm... Masamune-dono yang akan membayar semuanya kan?"

"... MOTOCHIKA!"

"Mouri!"

Aku masih terus melangkahkan kakiku. Matahari memantulkan wajahku, sehingga menimbulkan bayanganku, yang selalu mengikutiku dijalan itu.

"Mouri!"

Dia menggaet tanganku, mencengkeramnya dengan kuat.

"Apa maumu?" tanyaku ketus.

"Jangan dengar ucapan naga mata picak itu, kau tahu?"

"Tapi kamu tidak mengelak ucapannya tadi."

"Jadi itu alasanmu? Alasanmu untuk kabur dari kedai dango?"

"Iya! Masalah?"

Dia berdiam. Tidak tahu lagi apa yang akan dia ucapkan. Aku mengadahkan wajahku, dan menutup mataku perlahan.

"Maafkan aku, Chousokabe..." sesalku. "Aku selalu merepotkanmu. Lain kali, aku takkan pernah muncul dihadapanmu."

Aku berpaling, dan menundukkan wajahku. Sesal. Aku tiba-tiba merasa menyesal. Apa yang terjadi padaku?

"Mouri! Aku... Aku..." Chousokabe kini memelukku dari belakang. Aku membiarkannya menangkapku.

Hangat.

"Aku juga pernah sendirian, pernah tidak bersosialisasi seperti dirimu sekarang. Dan aku tahu apa rasamu," jelasnya. "Dan mungkin memang aku berbeda dari dulu, dan aku baik hati."

"Apa kau mencoba menyombongkan diri?" nada suaraku seperti sebal.

"Tidak!" jawab Chousokabe. "Aku ingin berbagi rasa menyenangkan dengan..."

Ia memutar badanku, lalu menghadap wajahku. Sangat dekat.

Sebuah ciuman hangat ia tempelkan pada bibir tipisku, membuatku sedikit grogi. Namun aku kini menikmatinya. Cukup lama.

Beberapa menit kemudian, ia melepaskannya sendiri.

Wajahnya kini menjadi sangat merah. Senyuman ia paparkan padaku, seakan-akan menyatakan ia berterima kasih padaku.

"Aku ingin kita selalu bersama..."

Mataku terbelalak, namun dengan cepat aku membaca situasi. Aku tersenyum.

"Aku juga, Chousokabe..."

Kami berpelukan bersama. Kami sama-sama menitikkan air mata, dan sama-sama saling membasahi pakaian kami satu sama lain.

Aku kini bahagia.

*********************************************************************************************************

Gila! Saat buat prolog tentang membuka aibnya, dia sms aku! #facepalm

"Besok dijemput?"

Masa' dia tau aku buka aib dia eh? ;_;

Entah tuh anak kebawa suasana apa (atau mungkin karena takut aku ikut sama sahabatku ke sekolah ya?) tapi TUMBEN-TUMBENAN banget sms aku!

"Iya," balasku padat singkat jelas(?).

Dan dia sms, "sip!"

Oke, itu saja epilog saya! Memang ga ada hubungannya antara aku dan temanku sama cerita ini. Tapi bingung aja mau nulis epilog sama prolog kayak apa, ya sudah gini saja.

Arigatou buat pembaca setia ChikaNari!