20 vs 50

Genre: Romace, Drama, Hurt/Comfort

Rating: T

Lenght: Chapter

Main Cast:

Lu Han

Se Hun

Pairing: Hunhan, Taoris, Chanbaek, Kaisoo, Sulay, slight Hunlay

Warning: Genderswitch,Ooc,Typos,geje,ect

Desclaimer:

Fanfic ini adalah karya asli saya, muncul dari otak saya berdasarkan pengalaman pribadi saya. Saya hanya meminjam nama member EXO dan beberapa karakter serta orang terdekat mereka. Sepenuhnya mereka adalah milik Tuhan YME.

NO BASH, NO FLAME, NO PLAGIAT

Summary:

Luhan yeoja cantik berusia 20 tahun jatuh cinta pada Oh Sehun yang usianya hanya 4 tahun lebih muda dari appanya. Mungkinkah cinta Luhan pada Sehun akan berbuah manis?

.

.

.

Annyeong...

Saya datang bawa chapter 2.

Sebelumnya terimakasih udah mau baca ff saya, baik di ffn maupun di wp. Terimakasih banyak buat para reader yang udah review. Bagi yang belum review tolong review juga ya biar saya tambah semangat.

Chapter 2 ini saya buat 2 part. Part 1 masih datar kalo menurut saya. Tapi di part 2 nanti ada Hunhan momentnya. Setting part 2 ada di Hongkong.

O ya, saya sadar bila ff ini jauh dari kata sempurna, karena itu saya mohon kritik dan saran dari para reader agar ff ini jadi lebih baik. Oke sekian dari saya...selamat membaca^_^

Jangan lupa review ya...

.

.

.

Previous Chapter

"Jadi nona Wu Luhan..." aku mendongak karena namaku disebut. Dan begitu mata kami bertemu

.

.

.

"MWO"

.

.

.

HanPutri Present©

20 vs 50

Chapter 2

Part 1

.

.

.

LUHAN POV

"Jadi nona Wu Luhan..." aku mendongak karena namaku disebut. Dan begitu mata kami bertemu

"MWO" kata itulah yang langsung meluncur dari mulutku. Aku begitu terkejut. Kelihatannya orang dihadapanku juga tak jauh berbeda denganku. Hanya saja ekspresi keterkejutannya sebentar dan langsung digantikan dengan wajah datar. Ah, ralat. Tak begitu datar. Irisnya menatap tajam kearahku. Membuatku salah tingkah dan kembali menunduk.

SEHUN POV

Tuan Ahn datang membawa sekretaris baruku. Kuminta dia untuk meninggalkan kami berdua. Oh, jadi namanya Wu Luhan.

"Jadi nona Wu Luhan..." kualihkan pandanganku dari dokumen-dokumen yang sedang kukerjakan. Begitu mata kami bertemu "MWO" suara itu yang keluar dari mulut yeoja dihadapanku. Sangat jelas kalau dia terkejut. Sebenarnya aku juga, tapi wajah datarku mampu menutupinya. Ck, aku jadi teringat kemeja baruku yang terkena tumpahan minumannya tadi. Rasa kesal karena insiden beberapa saat lalu membuatku menatap tajam padanya.

AUTHOR POV

"Ehem" deheman Sehun memecah keheningan diantara mereka dan membuat Luhan kembali mendongak tapi tak berani beradu tatapan dengan Sehun.

"Jadi, orang yang menabrakku hingga mengotori kemejaku adalah sekretaris yang akan bekerja untukku. Ini sungguh diluar dugaan. Kukira kesan pertama yang akan kudapatkan seperti yang lalu. Terlihat disiplin, datang selalu tepat waktu, bisa bekerja dengan baik, dan memilik rasa percaya diri tinggi untuk memenuhi tuntutan kerja. Meski akhirnya mereka mundur dalam seminggu. Tapi ini lebih parah. Datang terlambat, tidak disiplin dan ceroboh" ungkap Sehun datar tapi penuh penekanan. Percayalah itu kalimat terpanjang Sehun pada orang yang baru dikenalnya kurang dari satu jam dan semua yang ia ucapkan membuat panas telinga lawan bicaranya.

"Ehem..." kali ini Luhan yang berdehem. Sebenarnya Luhan ingin menyanggah pernyataan Sehun, tapi faktanya benar semua.

"Sebelumnya saya mohon maaf atas insiden beberapa waktu yang lalu. Saya sungguh menyesal sajangnim. Saya berjanji hal semacam itu tak akan terulang lagi. Anda tidak perlu khawatir mengenai pekerjaan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja dengan baik sajangnim. Karena itu, saya berharap anda dapat percaya pada saya" terang Luhan dan diakhiri dengan senyuman terbaiknya yang bisa membuat semua orang terpana. Tapi pengecualian untuk Sehun. Dia hanya mengangkat satu alisnya dan malah tersenyum meremehkan.

"Wah, percaya diri sekali. Tapi itu bagus. Arraseo, anggap saja insiden tadi tak pernah terjadi. Kau bisa langsung bekerja nona Wu Luhan. Banyak yang harus kau selesaikan" kali ini wajah Sehun kembali datar tanpa ekspresi.

"Ne sajangnim. Gamsahamnida" ucap Luhan sambil membungkuk dan hendak beranjak dari tempat duduk.

"Ah, iya sajangnim. Panggil saja saya Luhan. Saya lebih nyaman dengan panggilan itu" Luhan kembali memamerkan senyumnya.

"Arraseo" jawab Sehun singkat sebelum ia berkutat dengan dokumen-dokumen itu lagi.

.

LUHAN POV

Aigoo. Pantas saja sekretaris yang bekerja pada presdir Oh banyak yang mundur. Orangnya saja seperti gunung es. Ah, tapi kau harus semangat Lu.

"Hwaiting Lu!" aku mencoba menyemangati diriku sendiri.

Kulangkahkan kakiku ke meja kerja yang ada di dekat pintu ruang presdir. Yang secara resmi telah menjadi meja kerjaku.

"MWO" mataku terbelalak melihat tumpukan dokumen di meja kerjaku.

Kenapa banyak sekali? Apa presdir itu mau membunuhku perlahan dengan dokumen-dokumen ini?

.

.

.

AUTHOR POV

Jam sudah menunjukan pukul 20.00 tapi gadis cantik yang kita ketahui bernama Luhan masih berkutat dengan tumpukan dokumen dihadapannya. Sesekali ia meregangkan otot-ototnya. Pasti sangat melelahkan duduk berjam-jam ditemani dokumen-dokumen yang memusingkan kepala. Tak disangka, di hari pertamanya bekerja ia langsung mendapat tugas menyelesaikan tumpukan dokumen dari presdir Oh.

"Eommaaa~" rengek Luhan. Ia tak menyangka harus menyelesaikan tumpukan dokumen dari presdir Oh hari ini juga.

FLASHBACK ON

Pukul 19.00 presdir OH corp keluar ruangannya dan disambut dengan kegiatan sang sekretaris yang sedang menyelesaikan tumpukan dokumen di hadapannya.

"Luhan, kuharap dokumen-dokumen itu selesai hari ini juga" Sehun memecah keheningan diantara dirinya, Luhan dan tumpukan dokumen yang dikerjakan Luhan. Mendengar penuturan Sehun, Luhan langsung mendongak dengan tampang terkejut. Meski demikian ia tetap menuruti permintaan sang presdir.

"Ne sajangnim. Saya akan menyelesaikannya hari ini" jawab Luhan sedikit tak rela.

FLASHBACK OFF

Sekarang Punggungnya sakit dan perutnya lapar karena melewatkan makan siang tadi. Saat ini pun ia juga belum makan malam.

"Kriuuuuuk" Luhan mengelus perutnya yang keroncongan minta diisi.

"Tunggu sebentar, ne. Setelah ini selesai kau akan kuisi dengan masakan eonni yang lezat" monolog Luhan pada perut yang ia pegangi.

Pukul 21.00 Luhan keluar dari kantor yang sudah sepi setelah menyelesaikan semua dokumen tadi. Dia harus berjalan ke halte terdekat. Beruntung masih ada bus yang lewat. Tiga puluh menit kemudian ia sampai rumah.

.

.

.

AUTHOR POV

"Aku pulang" begitu masuk rumah Luhan langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.

"Selamat datang, Lu. Kenapa pulang semalam ini? Apa kamu lembur? Apa kamu sudah makan malam? Pasti lelah sekali,ne?" begitulah pertanyaan beruntun Baekhyun begitu melihat adik iparnya pulang dengan keadaan lusuh dan mengenaskan.

"Eonni, tanyanya satu-satu saja. Aku bingung mau jawab yang mana" protes Luhan.

"Ne, aku lembur eonni. Presdir es kutub itu memberiku setumpuk dokumen yang harus kuselesaikan hari ini. Sampai-sampai aku melewatkan makan siang. Sekarang perutku sangat lapar" curhat Luhan pada Baekhyun dengan raut memelas.

"Aigoo. Kamu belum makan dari siang tadi. Siapa itu presdir es kutub? Apa dia bosmu, Lu?" tanya Baekhyun lagi.

"Ne, eonni. Dia presdir yang membuatku pusing seharian" jawab Luhan sambil mempoutkan bibir mungilnya.

"Arraseo. Sekarang mandilah dulu. Eonni panaskan makan malamnya" Baekhyun melangkah ke dapur.

"Gumawo eonni" jawab Luhan sembari pergi ke kamarnya untuk.

.

LUHAN POV

Ah, nyamannya. Berendam air panas memang pilihan terbaik untuk saat seperti ini. Sejenak tumpukan dokumen yang memusingkan tadi lenyap tak terpikirkan. Tapi malah terganti dengan wajah presdir Oh.

"Kira-kira tugas apa lagi yang akan ku kerjakan besok ya?" gumamku sambil bermain-main dengan busa.

Setelah puas berendam saatnya mengisi perut.

AUTHOR POV

"Bagaimana hari pertamamu kerja? Kenapa pulang selarut ini, Lu?" tanya Chanyeol saat Luhan baru memasukkan makanan ke mulutnya.

"Diawali dengan insiden antara aku dan presdir itu. Aku tak menyangka kalau orang yang kutabrak hingga kemejanya kena tupahan minumanku adalah presdirnya. Aku pulang larut karena Presdir es kutub itu memintaku menyelesaikan setumpuk dokumen hari ini juga oppa" jawab Luhan begitu mulutnya kosong.

"Aigoo. Belum-belum sudah ada insiden semacam itu. Langsung kerja berat ternyata. Siapa itu presdir es kutub? Presdir oh maksudmu? Tanya Chanyeol lagi.

"Ne, oppa. Apa oppa mengenalnya?" Luhan menghentikan acara makannya.

"Aniyo. Hanya pernah bertemu sekali. Kalau tidak salah di acara perayaan 30 tahun kepemimpinan presdir Oh Sehun beberapa bulan yang lalu" Chanyeol mengingat-ingat kejadian itu.

"MWO! 30 tahun? Sejak kapan dia menjadi presdir OH Corp?" Luhan mulai penasaran.

"Dia menjadi presdir sebelum usianya genap 20 tahun" terang Chanyeol.

"OMO! Berarti usianya 50 tahun" celetuk Luhan.

"Ne. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Yang ku dengar presdir Oh itu terkenal dingin. Meski begitu banyak juga yang mengaguminya. Terutama para yeoja" terang Chanyeol lagi.

"Dia lebih tua dari eomma, tapi kenapa tampangnya masih tampan begitu. Ya kalau saja dia tak sedingin es kutub. Kerutan wajahnya juga sedikit, tubuhnya juga masih tegap" batin Luhan

"Segera selesaikan makanmu dan pergi tidur agar tidak terlambat masuk kerja" nasehat Chanyeol.

"Ne opaa. Aku tidak akan terlambat kalau saja kau dan eonni tidak melakukan this and that" sindir Luhan. Chanyeol malah terkikik.

"Tenang saja. Oppa sudah melakukannya dengan eonnimu sebelum kau datang tadi" ucap Chanyeol bangga.

"YAK! Kenapa oppa bisa semesum itu?" teriak Luhan frustasi dengan kepervertan sang kakak.

.

.

.

AUTHOR POV

Pagi ini Luhan tidak bangun terlambat sehingga masih sempat sarapan. Sebelum berangkat ia kembali mengecek penampilannya. Dress hijau tosca selutut dipadu blazer putih. Tas kerja dan heels yang senada dengan blazernya menjadi pilihan Luhan. Rambut panjangnya ia biarkan terurai dihiasi bandana putih. Perfect!

OH Corp Building

Sama seperti kemarin, begitu Luhan masuk banyak pasang mata yang menatap kagum padanya. Selain tatapan kagum banyak juga yang menatap lapar pada rusa kecil itu. Mereka sekarang tahu kalau Luhan bekerja di situ. Kali ini Luhan menyunggingkan senyum pada mereka. Luhan tak menyadari bila ada sepasang iris yang juga menatapnya.

Karena sibuk menebar senyum kesana kemari, Luhan tak menyadari kalau pintu lift yang hendak ia tuju hampir tertutup. Beruntung ia bisa menahannya hingga pintu itu kembali melebar.

Tapi begitu melihat siapa yang ada dalam lift itu matanya membulat tak percaya. Oh ayo lah, kenapa pagi-pagi begini langsung disuguhi tampang datar sang presdir.

"Selamat pagi sajangnim" sapa Luhan pada Sehun lengkap dengan senyumnya.

"Pagi" balas Sehun singkat.

Atmosfer diantara mereka jadi sedingin es kutub. Hanya keheningan yang tercipta selama perjalanan menuju lantai 30. Baik Luhan maupun Sehun tak ada yang bicara.

"Ting!" pintu lift pun terbuka. Luhan mempersilahkan Sehun keluar lebih dulu. Luhan mengekor di belakang Sehun sepanjang jalan menuju ruangan mereka. Luhan bernapas lega begitu Sehun menghilang di balik pintu ruang kerjanya.

LUHAN POV

"Fiuh~. Akhirnya. Kenapa aku jadi kikuk kalau berada di dekat presdir sih?" monologku merutuki kejadian barusan.

Tapi setidaknya dia tak menatapku tajam. Mungkin wajah normalnya memang datar begitu.

Tak lama berselang pintu ruangan presdir terbuka dan menampakkan sosok Sehun.

"Luhan, mintakan tanda tangan semua dokumen kemarin pada kepala bagian masing-masing divisi" mataku melebar begitu mendengar perintahnya.

"Ne?" aku tak percaya dengan pendengaranku. Oh, kenapa harus berurusan dengan tumpukan berkas itu lagi. Meminta tanda tangan pada kepala setiap divisi sama halnya dengan menjelajahi setiap sudut gedung ini. Ingin rasanya menjerit tapi mau bagaimana lagi, ini perintah dari presdir.

.

.

.

AUTHOR POV

Dan di sinilah rusa kecil kita. Keluar masuk lift dari lantai 30 sampai lantai dasar. Disetiap lantai ia harus meminta tanda tangan. Ruangan kepala divisi itu pun beragam. Ada yang didekat lift, ada pula yang sangat jauh.

"Kurang 3 orang lagi. Tuan Kim dari bagian advertising di lantai 5, tuan Jung di lantai 3, dan tuan Song di lantai 2" gumam Luhan sambil mengecek dokumen ditagannya.

Karena sibuk dengan dokumen, Luhan tak melihat orang di depannya begitu keluar lift.

"Ah, mianhamnida, saya tidak sengaja. Luhan membungkukkan badannya sedikit dan tangannya bergerak mengambil dokumen yang berserakan di lantai.

"Nan gwaechanha. Saya juga yang kurang berhati-hati" ucap yeoja yang ditabrak Luhan. Ia membantu Luhan memunguti dokumen tadi.

"Apa anda pegawai baru di sini? Saya belum pernah melihat anda sebelumnya" tanya yeoja itu setelah membantu Luhan.

"Ne. Jeo neun Luhan imnida. Saya sekretaris baru presdir Oh" Luhan membungkuk memperkenalkan diri.

"Ah, jadi anda orang yang banyak dibicarakan itu. Banyak rekan kerja namja yang membicarakan anda Luhan-ssi" tutur yeoja itu.

"Ne?" Luhan kaget karena baru dua hari bekerja dia sudah menjadi trending topik.

"Ha ha ha" Yeoja itu terkikik geli melihat tampang kaget Luhan yang lucu menurutnya.

"Nama ku Minseok, dari bagian marketing, salam kenal" ucap yeoja bernama Minseok seraya membungkuk sedikit.

"Ne. Mian saya harus segera menyelesaikan tugas ini Minseok-ssi. Annyeong" pamit Luhan

"Ah, ne. Annyeong"

.

.

.

AUTHOR POV

Setelah hampir empat jam akhirnya Luhan menyelesaikan tugasnya. Dokumen itu langsung ia berikan pada Sehun kembali.

Karena sudah masuk jam makan siang Luhan bergegas ke kafetaria untuk mengisi perutnya yang kelaparan.

LUHAN POV

Aigoo. Tugas hari ini lebih parah dari kemarin. Kakiku jadi pegal semua karena menjelajahi gedung ini dengan heels 10 senti. Presdir itu benar-benar keterlaluan. Pantas saja banyak yang tak tahan bekerja untuknya.

Tapi rasa kesal pada presdir Oh menguap entah kemana saat melihat sushi menu makan siangku.

"Chogiyo, bisakah saya duduk di sini?" suara tak asing itu membuatku mendongak

"Ah, Minseok-ssi. Silahkan duduk" ternyata benar Minseok.

"Tak usah seformal itu Luhan. Panggil saja aku eonni. Kelihatannya kamu lebih muda dariku beberapa tahun" aku hanya mengangguk mengiyakan permintaannya.

"Jadi bagaimana rasanya menjadi sekretaris presdir?" tanya Minseok setelah kami selesai makan.

"Melelahkan. Kemarin presdir membuatku duduk berjam-jam menyelesaikan tumpukan dokumennya. Hari ini dia membuatku berkeliling gedung untuk meminta tanda tangan. Entah apa yang akan kukerjakan nanti" Minseok hanya tersenyum maklum mendengar keluhanku.

"Presdir memang seperti itu. Tapi dia memiliki pesona yang tak terbendung, lho. Banyak pegawai yeoja yang diam-diam ingin menarik perhatiannya meski sudah tahu status presdir" tutur Minseok membuatku terbengong.

"Jincha?" tanyaku memastikan.

"Ne" Minseok menganggukkan kepalanya.

"Ah, kukira penggemarnya itu orang yang seumuran dengannya. Memang apa hebatnya pesona presdir es kutub itu?" aku mulai kepo.

"Entahlah" Minseok hanya mengendikkan bahunya.

"Sulit dijelaskan. Kalau sudah berinteraksi dengannya mungkin kau akan tahu, Lu" tambahnya.

"Arraseo. Tapi selama berada didekatnya hanya ada hawa dingin yang tercipta. Wajahnya tetap datar hingga membuatku salah tingkah sendiri.

"Mungkin wajah datarnya itu salah satu daya tariknya. Tapi kebanyakan tertarik pada wajah tampan presdir" aku hanya manggut-manggut saja. Kalau wajah tampan aku juga mengakuinya.

.

AUTHOR POV

Selesai makan siang Luhan kembali ke tempatnya.

"Kau ikut aku meeting dengan tuan Cho sekarang!" titah Sehun

"Saya?" tanya Luhan memastikan.

"Apa ada orang lain di sini?" Sehun berjalan mendahului. Luhan membawa beberapa berkas dan menyusul Sehun. Langkah panjang Sehun membuat Luhan kesusahan mengejarnya. Tapi akhirnya ia mampu mempersempit jarak keduanya.

"Ya Tuhan, dosa apa yang telah kuperbuat di kehidupan sebelumnya sampai Kau berikan aku bos macam ini?" keluh Luhan dalam hati.

"Jalanlah lebih cepat, jangan lelet begitu" kata Sehun setelah mereka masuk lift.

"Catat semua hal penting dalam meeting kali ini. Jangan sampai ada yang terlewat. Arra?" titah Sehun lagi.

"Ne sajangnim" jawab Luhan singkat.

LUHAN POV

Meeting usai pukul 15.00. Sesuai perintah semua hal penting telah kucatat. Aku setia mengekor di belakang presdir sejak keluar ruangan meeting tadi.

"Duk" langkahku terhenti ketika menabrak tubuh seseorang yang tak lain adalah presdir Oh.

"Hmmm, jadwalku setelah ini apa saja?" dia melirikku sekilas.

"Setelah meeting dengan tuan Cho anda dijadwalkan bertemu dengan tamu dari Belgia, pukul lima sore anda menghadiri undangan pembukaan cabang perusahaan tuan Kim Tan. Pukul 19.00 anda menghadiri undangan makan malam dari nyonya Park. Diperkirakan jadwal anda berakhir pukul 21.00" terangku panjang lebar.

"Arraseo. Kau harus menemaniku sampai selesai" mataku terbelalak mendengarnya.

"Ne? Haruskan saya ikut sajangnim?" tanyaku menawar.

"Kau tak punya pilihan lain" tukasnya

Dan beginilah. Mengekori presdir seharian. Kalau dilihat-lihat punggung tegap presdir sexy juga. Eh? Apa yang ku pikirkan sih? Pasti ini karena terlalu dekat dengan oppa.

.

.

.

AUTHOR POV

"Ah, presdir Oh. Gamsahamnida telah menghadiri undanganku ditenggah kesibukan anda" namja yang terlihat seumuran dengan Sehun, tuan Kim Tan menyalami Sehun dengan hangat.

"Ne, saya juga berterimakasih telah diundang" Sehun membalas jabatan tangan tuan Kim Tan.

"Wah, ternyata presdir Oh tidak datang sendirian" tuan Kim Tan menatap Luhan yang ada di sebelah Sehun.

"Annyeong. Jeo neun Luhan imnida. Saya sekretaris presdir Oh" Luhan membungkuk memperkenalkan diri.

"Baru kali ini presdir Oh mengajak orang selain tuan Kim Jong In ke acara seperti ini" ujar tuan Kim Tan sambil tersenyum.

"Jincha?" tanya Luhan tak percaya.

"Tanyakan saja pada presdir Oh" tuan Kim Tan melirik Sehun. Sebenarnya Luhan hendak bertanya. Tapi melihat wajah datar Sehun niat itupun ia urungkan.

.

.

.

LUHAN POV

Pukul 21.00 acara mengekori presdir Oh selesai.

"Rumah mu di mana? Aku akan mengantarkanmu pulang" tanya presdir Oh memecah keheningan diantara kami.

"Ah, anda tidak perlu mengantar saya pulang sajangnim. Turunkan saja saya di halte dekat perusahaan" aku menolak halus permintaan presdir Oh.

"Arraseo" lalu keadaan kembali hening. Kami berkutat dengan pikiran masing-masing.

Aku jadi teringat kejadian saat kami makan malam dengan nyonya Park tadi.

FLASHBACK ON

LUHAN POV

Mobil presdir berhenti di parkiran sebuah resto bergaya Eropa yang nampak mewah. Presdir melangkah masuk dan aku mengikutinya. Seorang pelayan membimbing kami menuju tempat yang sudah dipesan nyonya Park. Begitu pintu terbuka nampak seorang wanita yang sudah sangat berumur duduk di dalam.

"Wah, Sehunnie akhirnya kamu datang juga" nyonya Park itu menghampiri kami dan memeluk presdir. Presdir membalas pelukannya. Aku hampir tak percaya dengan adegan di depanku. Telingaku mungkin juga tak berfungsi dengan baik. Apa itu tadi, Sehunnie~

"Mian karena datang terlambat" presdir melepaskan pelukkannya dan tersenyum hangat pada nyonya Park. Baru kali ini aku melihat senyum presdir Oh. Dia terlihat begitu menawan. Eh? Menawan? Ya itu yang kupikirkan.

"Ah, ternyata kamu tidak datang sendiri,ne" nyonya Park beralih memandangku.

"Jeo neun Luhan imnida. Saya sekretaris presdir Oh"

"Annyeong Luhan. Mari silahkan duduk" nyonya Park mempersilahkan kami duduk.

"Sehunnie, apa kamu tidak salah pilih sekretaris?" nyonya Park kembali membuka suara.

"Wae? Dia adalah orang pilihan yang lolos dari seleksi ketat perusahaan. Pekerjaannya juga lumayan"

"Aniyo. Bukan itu maksudku. Seharusnya kamu mencari sekretaris yang umurnya tak terpaut jauh. Luhan-ssi sangat cantik dan masih sangat muda. Dia lebih pantas menjadi putrimu. Bisa-bisa orang mengira kamu mempekerjakan anak dibawah umur" terang nyonya Park.

Presdir Oh yang duduk di sebelahku melirik sekilas pada ku. Aku tak berani menatapnya jadi ya hanya menunduk.

"Ah, tapi kalau kalian sering bersama mungkin orang malah akan mengira Luhan-ssi sebagai istri mudamu" kali ini pernyataan nyonya Park cukup frontal.

"Uhuk. Ne?" aku tersedak saking kagetnya.

"Ha ha ha. Kamu manis sekali Luhan. Lihatlah pipimu yang merona itu" nyonya Park malah menggodaku. Duh, malu sekali. Kulirik presdir Oh dan ternyata dia malah tersenyum tipis. Kukira aku akan dapat tatapan tajam darinya.

"Ini benar-benar langka. Aku sudah mengenal Sehun sejak dia masih mengenakan popok. Sehunnie itu lebih senang pergi kemanapun sendiri. Bahkan dia juga tak membawa sopir. Saat menghadiri acara pun dia hampir tak pernah mengajak orang lain kecuali tuan Kim atau nyonya Oh, istrinya" tutur nyonya Park pada ku.

"Jongmal?" aku jadi teringat perkataan tuan Kim Tan tadi.

"Ne" tak tahu kenapa ada rasa senang ketika mendengar jawaban nyonya Park.

FLASHBACK OFF

LUHAN POV

Ah, memikirkan hal itu membuat pipiku kembali memanas. Tak tahu kenapa rasanya ada kupu-kupu yang mengelitiki perutku saat mengingat penuturan nyonya Park. Tapi ada rasa tak suka saat nyonya Park menyebut nyonya Oh,istri presdir Oh Sehun.

"Mestinya kau merasa tersinggung Lu, karena disebut cocok menjadi "istri muda" orang yang lebih pantas jadi appa-mu. Tapi ini malah senang. Ingat dia bahkan sudah punya istri"" rutukku dalam hati. Mungkin beberapa saraf di otakku bermasalah.

Hmmm, aku jadi teringat ekspresi tak terbaca presdir saat nyonya Park berceloteh tadi. Apa dia marah. Tapi ekspresinya bukan marah. Wae? Apa yang dia pikirkan?

Ah, Molla! Jadi pusing sendiri memikirkannya.

AUTHOR POV

"Sudah sampai" suara Sehun menghentikan kegiatan berpikir Luhan.

"Ah, N-ne" Luhan melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil Sehun.

"Gamsahamnida sajangnim" Luhan berterimkasih pada Sehun.

Setelah menurunkan Luhan, Sehun langsung melesat pulang.

Luhan masih setia menanti bus yang akan membawanya pulang ke rumah. Tak jauh beda dari kemarin, ia pulang larut lagi. Bedanya perutnya sudah terisi penuh.

.

.

.

1 Month later

AUTHOR POV

Sudah sebulan Luhan bekerja di OH Corp. Dia mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Mulai dari menyelesaikan dokumen-dokumen Sehun, mengatur jadwal, memintakan tanda tangan, mencatat hasil meeting, dan mengekori kemanapun Sehun pergi. Ia juga sudah terbiasa dengan sifat Sehun. Dan Sehun pun sudah mulai menerima kehadiran Luhan.

Hal mencolok yang terjadi sejak Luhan bekerja adalah para pegawai namja yang biasanya terlambat jadi masuk lebih awal. Mereka akan menanti kedatangan Luhan. Karena hanya saat itulah mereka mendapat senyum gratis dari Luhan. Kalau Luhan sudah mengekori Sehun tak ada yang berani menatapnya. Hal lain terjadi saat jam makan siang akan berakhir dimana Luhan dan Minseok biasa makan siang. Kafetaria yang biasanya sepi mendadak ramai. Luhan juga tak perlu repot-repot mencari tempat duduk karena banyak namja yang akan menawarkan tempat duduk mereka.

.

"Ah, akhirnya selesai juga" Luhan meregangkan otot-ototnya setelah menyelesaikan dokumen dari Sehun. Setelah ini dia pulang. Lumayan tak ada lembur.

"Chogiyo sajangnim. Dokumennya sudah saya selesaikan" Luhan menyerahkan dokumen tadi pada Suhun.

"Bagus" puji Sehun setelah mengecek pekerjaan Luhan.

"Jelaskan jadwalku besok!"

"Besok anda dijadwalkan bertolak ke Hongkong. Siang anda bertemu dengan tuan Chen untuk membicarakan kontrak kerja. Kemudian malamnya ada menghadiri undangan tuan Tanaka yang juga dilangsungkan di Hongkong" jelas Luhan.

"Hongkong, ne. Arraseo. Persiapkan dirimu untuk besok" titah Sehun.

"N-ne?" Luhan belum dapat mencerna perkataan Sehun.

"Besok kau akan ikut aku ke Hongkong" jelas Sehun.

.

.

.

"MWO! Hongkong?!" akhirnya Luhan dapat mencernanya juga.

TBC