Stalking You (c) darkjune

Kim Namjoon

Romance-Comedy

T+ (15++)

Seluruh pemeran di cerita ini adalah milik Tuhan dan dirinya sendiri. Tapi jalan ceritanya (+OC) punya gue.

Cerita ini hanyalah fiksi dan hasil imajinasi belaka. Gausa baper, apalagi ngebaperin couple yang gue pake haha. Watch out of the thypo(s)!

Minae mengaduk sup buatannya dengan lesu. Masih teringat jelas bayangan saat suaminya dan sang sekertaris bercengkrama dengan teramat akrab. Hembusan nafas panjang, entah yang keberapa kalinya, meluncur dari bibir mungil Minae. Wanita itu benar-benar tidak fokus. Dia bahkan tak mendengar suara langkah kaki dibelakang tubuhnya.

"Apa yang kau lamunkan, Sayang?."

Minae berjengit. Hampir saja sendok supnya mendarat ke kepala sosok yang mendadak memeluknya dari belakang, jika saja dia tidak mengenali suara berat sosok itu. Sosok yang membuatnya tak fokus seharian, suaminya sendiri, Kim Namjoon.

Wanita beriris madu itu menggeleng pelan sambil melanjutkan kegiatannya mengaduk sup. Tak berniat menjawab dengan kata-kata. Namjoon mengernyit. Tak biasanya istrinya sebisu ini. Wanita itu biasanya akan segera mengomeli Namjoon yang mengganggunya memasak.

"Ada apa, Sayang?." Namjoon mendadak membalikkan tubuh Minae, namun wanita di hadapannya kembali menggeleng. Ada jeda yang cukup lama sampai Minae mendongak dan tersenyum.

"Akan ku siapkan air hangatnya. Mandilah dulu selagi menunggu makan malam siap." Namjoon menurut. Sekalipun ada yang berbeda dari senyum dan tatap mata istrinya, setidaknya wanita yang dicintainya sejak dua tahun yang lalu itu mau kembali tersenyum padanya.

.

Seulgi menggoyangkan tangannya dihadapan Minae membuat wanita berambut hitam sebahu itu terperanjat. Bukannya mengomeli Seulgi seperti biasanya, Minae justru menghela nafas berat. Seulgi berhasil dibuat melongo atas reaksi Minae -yang biasanya lebih cerewet dibanding ibu-ibu yang mendapati anaknya bolos sekolah- yang kini justru terdiam sambil kembali menghela nafas. Pada akhirnya Seulgi memilih untuk mendudukkan dirinya di samping Minae dan mengajaknya bicara.

"Kau ada masalah?." Minae menoleh pada Seulgi sebelum -sekali lagi- menghela nafas dan memandang ke depan membuat Seulgi kesal.

"Kau ini sebenarnya kenapa sih!?." Nada suara Seulgi naik dan mau tak mau Minae menjawabnya.

"Kira-kira apakah ada kemungkinan Namjoon untuk berselingkuh dariku?."

"Hah!?." Seulgi kembali melongo. Bahkan lebih parah dibanding sebelumnya. Punggung tangannya segera ditempelkan pada dahi Minae, seolah mengecek apakah wanita itu masih waras atau tidak. Dan yang didapatnya adalah pelototan dari Minae.

"Aku hanya memastikan kau sedang tidak sakit." Sahut Seulgi santai.

"Dan untuk jawaban dari pertanyaanmu." Seulgi menggantung ucapannya hingga Minae memusatkan perhatian padanya. "Kau gila ya!?." Lalu menaikkan kembali nada suaranya, kembali membuat Minae terkejut.

"Kim Namjoon itu tidak akan mungkin berselingkuh. Beda lagi dengan pria macam Park Jimin." Minae mengangguk-angguk. Logikanya setuju dengan perbandingan dari Seulgi.

"Tapi bagaimana kalau iya?." Sayangnya perasaannya masih gamang.

"Memang ada masalah apa antara kau dan suamimu?."

Minae membisu. Kini giliram seulgi yang menghela nafas. Lelah menghadapi rekan kerjanya ini. Ditanya bukannya menjawab, justru balik bertanya.

"Kenapa tidak kau cari tahu sendiri?." Minae memberikan ekspresi tak paham.

"Ikuti saja kegiatannya selama beberapa hari. Kalau tak ada yang berbeda, berarti kepalamu memang perlu kujejali lebih banyak partitur."

Dan kalimat seulgi berhasil membentuk seringai dibibir Minae.

.

Jadi begitulah awal dari seorang Shin Minae yang tiba-tiba berubah menjadi seorang stalker. Penguntit dari suaminya sendiri.

Hari pertama Minae hanya menemukan sang suami pergi ke kantor, meeting, dan rapat yang bahkan tak bisa dia tahu apa saja yang dibicarakan. Hari kedua dan ke tiga tak ada bedanya. Minae sampai bosan sendiri selama melakukan pengintaiannya.

Bagaimana dia bisa bertahan dengan kebosanan macam ini?

Bahkan dihari keempat Minae justru ketahuan oleh sang suami. Entah bagaimana Namjoon bisa mempercayai alasan Minae tentang kerinduannya pada sang suami. Pria itu bahkan mencium pipi di lobby kantor saking gemasnya. Membuat pipi merona Minae semakin memerah, sementara Namjoon hanya terkekeh tak peduli.

Tapi sesuatu yang berbeda Minae temukan dihari kelima kegiatan detektifnya. Dimulai dari Namjoon yang menolak bekal buatannya dengan alasan akan makan siang di luar. Lalu Namjoon yang biasanya akan makan siang bekal buatannya di kafetaria kini berjalan menuju basement. Bersama Wendy. Keduanya tampak bicara serius saat hendak memasuki mobil Namjoon dan Minae dengan sigap menghentikan salah satu taksi kosong untuk membuntuti mereka.

Mobil Namjoon berhenti di sebuah kafe. Pria itu sungguh makan siang di luar kantor. Tak lama kemudian taksi yang ditumpangi Minae juga sampai. Namun bukannya keluar, wanita itu justru termenung sebelum meminta supir untuk berputar balik. Membawanya kembali ke apartemennya dan Namjoon.

.

Minae menghela nafas panjang saat merapikan barang-barangnya. Hampir seminggu sudah dia membuntuti sang suami, dan dua hari terakhir dia menemukan pria bernama lengkap Kim Namjoon itu pergi bersama sang sekertaris ke sebuah kafe di dekat kantor. Wanita itu semakin gamang, khususnya ketika dia melihat betapa akrab Namjoon dengan Wendy. Selain itu, Wendy juga sosok wanita yang anggun dan dewasa. Berbeda dengannya yang terkesan polos, kekanakan, dan manja.

Helaan nafas lainnya keluar tepat saat Seulgi menepuk pundaknya. Seulgi memandang khawatir pada Minae yang terus-menerus menghela nafas. Rasa-rasanya wanita itu semakin terlihat murung setelah Seulgi memberi ide untuk menguntit Namjoon.

Baru saja Seulgi hendak membuka mulutnya, memberikan ucapan penenang yang mungkin terasa aneh bila keluar dari mulut pedas Seulgi. Namun dering ponsel membuatnya mengurungkan niatnya. Minae menatap ponselnya, sang suami menelpon. Setelah kembali menghela nafas, akhirnya Minae menerima panggilan dari Namjoon.

"Halo."

"Sayang, aku ada di depan tempat kerjamu."

"Ah, baiklah. Aku keluar sebentar lagi."

Seulgi mencekal pergelangan tangan Minae dan mengajaknya berbicara sebelum wanita itu pergi.

"Ada apa?." Singkat dan jelas. Minae sedang dalam mood buruk.

Kini gilran Seulgi yang menghela nafas sebelum berbalik bertanya. "Kau yang kenapa?." Dan Minae tak bisa menahan diri untuk tak menceritakan segalanya.

"Kalau begitu kenapa kau tidak mencoba menjadi lebih anggun dan dewasa." Seulgi kembali memberi celetukan asal.

Saat melihat senyum terkembang di wajah Minae, Seulgi segera merutuki mulutnya yang begitu mudah terpeleset. Belum sempat Seulgi berbicara kembali, Minae sudah melesat dengan wajah cerah.

"Terima kasih idenya, Seulgi-ya."

Pada akhirnya Seulgi hanya bisa membalas lambaian tangan Minae sambil bergumam. "Semoga tidak ada hal konyol yang terjadi."

A/n: chap selanjutnya udah end kok. Gue udah bilang kan, kalo gue gabisa bikin yg terlalu panjang hehe. Ntar jatohnya malah mbulet kek benang kusut hahaha.

Maaf ya, ini pendek. Feelnya juga makin ilang. Sedih gue:((( Maaf ya kalo ceritanya ngebosenin huhuhu T^T