The Secret Of Love Chapter 3
By : Naravhychan
Naruto © Masashi Kishimoto
Holla Minna-san. Maaf membuat kalian lama menunggu. saya hadir membawa chapter ke-3 :')
semoga terhibur semua yaa ~ :D
HAPPY READING
.
.
.
.
.
Badai salju kecil menerpa salah satu jendela kamar Kerajaan Uchiha. Iris silver sang putri perlahan-lahan terbuka. Menyadari dinginnya suhu di sekitarnya, Ia segera menutup jendela yang berdecit daritadi. Tak lama kemudian, pemuda berambut seperti durian membuka kamar sang putri.
"Selamat Pagi, Hinata-hime. Bagaimana kabar anda?" ujar sang pemuda dengan riang.
"Ah, ohayou Naruto. Seperti yang kau lihat, kabarku baik."
"Hmm.. Baguslah Hinata-hime. sebenarnya kalau Hinata-hime tidak sibuk. Aku ingin mengajak anda berkeliling di taman istana." Kata pemuda itu tulus.
"Dengan senang hati, Naruto. Ahh.. Akhirnya ada yang mengajakku jalan-jalan." Girang sang putri.
"Baiklah Hinata-hime, 30 menit lagi. Aku akan menjemput anda."
Sebelum menutup pintu kamar, Pemuda bermata biru laut itu menggantung daun mistletoe di kamar sang putri. Tak lupa beberapa hiasan kecil khas natal di pasangnya juga.
"Ah, terima kasih Naruto." Ujar sang putri sambil tersenyum.
Naruto menundukkan kepalanya dan meminta izin untuk keluar.
Setelah Naruto menutup pintu dengan rapat, Hinata kembali menatap nanar salju yang turun diluar istana. Hatinya terasa dingin. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan kedua orang tuanya. Hatinya begitu rindu dan kesepian. Ia bingung bagaimana harus menghabiskan waktunya di Istana yang megah ini seorang diri.
Namun ia teringat, penasehat Sasuke yang setia menemaninya meski tidak setiap saat. Ya, siapa lagi kalau bukan Naruto. Ia harusnya berterima kasih kepada pemuda pirang itu. Berkat dia, dirinya tidak merasakan kesepian yang berarti.
Pikiran Hinata yang sempat kacau akhirnya fokus mengingat ia harus segera bersiap-siap. Ia tidak mau membuat Naruto menunggu dirinya terlalu lama.
.
.
.
.
Dengan berbalut gaun berwarna abu-abu, Hinata melangkah keluar dari kamarnya. Tak lupa mantel dan syal bulu berwarna hitam ia kenakan juga.
Baru saja ia menutup pintu, Naruto sudah terlihat dipandangannya.
"Maaf, Hinata-sama, membuat anda menunggu."
"Ah, Naruto aku baru saja keluar. "
"Ayo, Hinata-sama. Kita berjalan-jalan." Ucap sang pemuda dengan semangat.
Mereka berdua akhirnya berjalan santai ke taman kerajaan. Suasana canggung terlihat menghiasi kedua wajah mereka. Namun setibanya di taman istana, mereka hanya menjumpai salju yang menumpuk menutupi semua bunga-bunga di taman. Naruto spontan menepuk jidatnya.
"Err.. Maaf Hinata-sama, aku lupa kalau musim salju taman ini tidak difungsikan." Ujar Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Hinata hanya tersenyum. Sebenarnya Hinata sudah tahu itu.
"Tidak apa-apa Naruto, bukannya musim salju juga indah?. Memang sih, tidak seindah taman yang memiliki bunga-bunga yang bermekaran."
"Ba..Bagaimana kalau kita minum teh saja Hinata-hime? Atau apa yang anda ingin lakukan sekarang?" Tawar Naruto.
"Sepertinya minum teh boleh juga." Ujar sang putri. Naruto akhirnya lega, setidaknya ia tidak berlama-lama di tempat yang sangat dingin itu. Bisa-bisa sang putri terkena Hipotermia. Naruto akhirnya membuang jauh-jauh pikiran buruknya itu.
.
.
.
.
"Apa maumu? Perempuan aneh?" sang putri Yamanaka terlihat begitu emosi dengan kelakuan perempuan di hadapannya
Sakura memegang tangan Ino dengan kuat dan langsung menghempaskannya.
"Apa urusan anda dengan Sasuke? Koreksi etika anda nona!" Tegas Sakura. "Sasuke, kau sedang tidak ada urusan dengannya kan? Ayo kita pergi." Sambung Sakura dan langsung menarik tangan Sasuke.
"Hey.. Tunggu.. Kau mau kemanakan pangeran Uchiha Sasuke? Siapa dirimu? Sampai-sampai mengabaikanku? Aku jauh lebih terhormat darimu! ." Bentak sang putri. Perkataan sang putri Yamanaka sontak membuat Sakura kaget.
"Ka..kau bilang apa tadi? Pa..Pangeran?." Sakura menatap balik Sasuke dengan tatapan tak percaya.
"Sa..Sakura, biar aku jelaskan baik-baik." Bela Sasuke. Tentunya Sasuke tidak berniat membohongi Sakura kan? Ia hanya butuh waktu untuk menjelaskan semua identitas dirinya.
"Kenapa? Kau tidak tahu? Sadarlah! Kau hanya rakyat biasa! Aku Ino Yamanaka putri tunggal dari kerajaan Yamanaka. Dan pria yang kau pegang itu adalah putra kedua dari kerajaan Uchiha!"
"Sekarang, biar aku dan pengawalku yang membawa pangeran untuk kembali ke istana!" sambungnya dengan senyum licik.
"Jaga mulutmu putri Ino!" bentak Sasuke.
"Sakura memang bukanlah seorang putri. Tapi sikapnya jauh lebih baik darimu. Kau tidak punya hak untuk membawaku kembali ke Istana."
"Ayo Sakura, kita pulang. " ujar Sasuke sambil memegang tanganya.
Plakk
Sakura melepaskan tangannya.
"Sasuke, mohon jelaskan padaku nanti." Ujar Sakura sambil tersenyum getir. Ia melangkah duluan lalu disusul Sasuke dibelakangnya.
Maafkan aku, Sakura. Batin Sasuke.
Sepanjang perjalanan, Sasuke dan Sakura hanya diam. Sakura tidak memeluk Sasuke lagi dengan erat. Tatapan matanya sangat kosong. Bagaimana mungkin ia tinggal serumah dengan sang pangeran. Kalau pihak kerajaan sampai tahu, ia akan dihukum seberat-beratnya karena telah menyembunyikan sang pangeran dan tidak memberitahukannya ke Istana. Apapun alasannya.
Sasuke, kenapa aku harus menerima fakta bahwa kau adalah seorang pangeran? Seandainya aku adalah seorang putri, tentu aku tidak akan sekhawatir ini. Bagaimana jika kita tidak diperbolehkan bersama?Dan lebih parahnya lagi, aku akan dihukum karena berusaha menyembunyikanmu.
Sakura selalu saja bertanya dalam hatinya dengan cemas.
Tak terasa sampailah mereka di gubuk tua milik Sakura. Sakura bergegas turun dan berlari kecil disusul Sasuke di belakangnya. Sakura mengambil kunci kecil yang terselip di bawah batu berlumut dan segera membuka pintunya.
"Sa..kura, biar aku jelaskan." Ujar Sasuke.
"Tak apa. kau bisa menjelaskannya nanti. Sekarang, kau bisa mengganti bajumu. Aku akan menyiapkan makan malam. " balas Sakura sambil berjalan lunglai menuju perapian. Ia menggantung jubah Sasuke dan miliknya. Namun sebelumnya, Sasuke mengambil beberapa potong kayu pinus, memasukkannya ke dalam perapian dan membakarnya. Setelah pembicaraan itu, mereka tampak diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
.
.
.
.
.
Aroma cream soup sedari tadi menguar di dalam dapur. Sasuke yang rupanya kelaparan hanya bisa menunggu dengan sabar sampai masakan Sakura benar-benar matang. Ia segera duduk di meja makan dan memperhatikan Sakura yang tengah sibuk mencicipi masakannya.
"Ah, sudah matang. Tinggal diberi potongan macaroni rebus. Supaya lebih nikmat." Ujar Sakura sambil menuangkan cream soup itu ke dalam mangkuk kayu.
Tak lama Sakura datang sambil membawa hasil masakannya. Sakura sudah tidak sabar lagi mendengar penjelasan Sasuke.
"Sasuke, makanlah. Terima kasih sudah mau mengantarku hari ini."
"Hn."
"Sakura… "
"Ya?"
"Aku memang adalah seorang pangeran."
"…."
"Aku kabur karena aku ingin dijodohkan. Dan dari awal aku sudah menentang itu semua. Aku hanya ingin bahagia dengan pilihanku sendiri. Hanya itu penjelasan yang aku punya. " jujur Sasuke. Sakura menangkap pembicaraan Sasuke dengan seksama. Sakura menatap Sasuke dengan intens. Tak satupun kebohongan dipancarkan dari obsidian milik Sasuke.
"Sasuke, segeralah pergi dari tempat ini. Aku bukanlah siapa-siapa. Hukum istana jauh lebih menakutkan dibanding aku tinggal sendiri di rumah ini. Biar aku saja yang membereskan semua barang-barangmu. " Sakura menatap Sasuke dengan penuh kekhawatiran. Disatu sisi ia ingin sekali Sasuke tinggal bersamanya, namun di sisi lain kehadiran Sasuke menjadi cambuk untuk masa depannya. Namun Sakura tidak ingin egois. Ia menatap nanar tempat tinggalnya saat ini. Sungguh tak layak apabila keluarga kerajaan tinggal berlama-lama di sini. Mata sakura seakan berkaca-kaca.
Sasuke mengerti keadaan Sakura. Kalau ia berlama-lama tinggal di tempat ini tentu saja akan mengancam hidup Sakura kalau dia sampai ditemukan.
"Baiklah Sakura. Aku akan pergi dari sini esok pagi. " Sasukepun akhirnya menyudahi makannya. "Terima kasih atas makan malamnya." Sambungnya lalu pergi. Sakura masih di tempat duduknya sambil menunduk. Air matanya meleleh begitu saja. Rasanya Tuhan tidak adil. Ia baru saja merasakan kebahagiaan karena mendapatkan teman yang sangat peduli padanya, namun kini mereka harus berpisah. Masalah terberatnya adalah status mereka berdua bagaikan langit dan bumi.
Terima Kasih Sakura. Selamat tinggal. Aku berharap kita akan bertemu lagi.
Cerita cinta yang membekas ialah ketika kau melepaskan dirinya sejauh mungkin dari kehidupanmu.
Dan jika kalian memang ditakdirkan bersama, kedua belah hati yang pernah terpisahkan akan kembali menyatu.
Minna-san? Bagaimana chapter ini? Terasa pendek bukan? :')
Maaf baru sempet buat chapter 3 soalnya author lagi sibuk-sibuknya ujian :')
Oh ya, author pengen nih kenalan ama kalian hehe :D
BBM author : 58770465
Line author : elvitaelvi
Author cuman pengen nambah temen kok wkwk
kalo ada kritik maupun saran segera review yaa ^^
To Be Continued
Terima Kasih telah membawa sampai akhir
Mind To Review? ^^
