Sebelumya Alleth mau ngucapkan terimakasih dulu kepada teman-teman yang sudah memberikan review untuk chapter dua foolish heroic : Yola-ShikaIno, Puput mochito, Hee-RinA, Zi Kriany, Satoshi 'Leo' Raiden, Saqee-chan, KENzeira, Namikaze Haruno, Flo Deveraux , F. IchInoyom, NaMIKAze Nara, niaNara.
Terimakasih untuk semua saran dan semangatnya yang membuat Alleth punya alasan tepat untuk melanjutkan Foolish Heroic ini.
Then, this kissing scene dedicaton for Flo Deveraux and All Fans ShikaIno.
And next, Hope you all like this Chapter..!
Disclaimer: bukahkah seluruh karakter dalam Naruto milik Masashi Kishimoto?
Genra:Com-Rom (Comedy-Romance), Hurt/Comfort
Main Chara: Ino Yamanaka and Shikamaru Nara
Warning: author amatiran, abal tak terkira, banyak kesalahan dalam penulisan, payah EYD, bergelimpungan typo(s), hanya berharap maklum dari para readers.
Summary : aksi heroik pertamamu, melindungiku dari terjangan bola yang meleset ke ring. Dan itu benar-benar sebuah kebodohan karena membuat kita berdua menjadi bahan gosip top news oleh warga sekolah selama duduk dibangku SMA. Lalu kini apa kau akan melakukan bentuk tindakan heroik bodoh untuk kedua kalinya?!
Hari itu, aku berjalan sendiri. Berniat mendatangi sahabatku yang mengatakan ia menungguku di lapangan bola basket. Aku yang saat itu tidak focus ke sekelilingku, malah disibuk-kan dengan benda kecil di tanganku. Aku tersenyum saat membaca pesan dari kakak tertuaku, mengingatkan sepulang sekolah untuk langsung pulang ke rumah, karena ia akan memperkenalkan kekasihnya pada keluarga besar kami.
Kyaaa..! Terdengar suara para gadis berteriak histeris saat seseorang berhasil melakukan three point untuk tembakan jitunya ke arah ring. Kulirik sesekali subjek yang dimaksud, lucu juga ia, rambutnya itu seperti buah nanas. Ini jam istirahat, bukannya menikmati waktu saat bebas dari pelajaran, orang-orang yang berkumpul disekeliling lapangan bola basket sambil berpanas-panasan ini malah berteriak kegirangan karena hanya satu buah aksi yang dikatakan keren.
Yaaa..termasuk aku juga sih, hanya saja niatku berbeda dengan gadis berambut merah muda yang sengaja menonton untuk melihat pertunjukan dari kekasihnya, Naruto. Aku kembali menaruh atensiku pada layar ponselku, bersiap mengirim balasan. Hingga kudengar...
"Inooo... awaaas..!" Naruto dari tengah lapangan berteriak. Tubuhku membatu, aku mampu melihat bola berwarna orange itu mengarah kepadaku, tapi tak mampu kugerak-kan sedikitpun tubuhku untuk menghindar.
Bruuukkk..! Bukan suara bola basket yang tepat mengenai kepalaku, tapi suara tubuhku yang terjatuh ke alas bumi karena terjangan tubuh seseorang. Kutahu seluruh mata yang melihat kejadian itu mengarah padaku. Hebohnya, saat ku sadari bibirku bersentuhan intens dengan bibir seseorang.
Aku diselamatkan oleh anak lelaki berambut model nanas, dan sebagai gantinya aku kehilangan ciuman pertamaku. Aksi heroik-nya itu seketika menjadi bahan perbincangan, lalu karena itu juga aku dan ia harus melakukan hal yang menurutku sangat bodoh!
Foolish Heroic
Aku tidak tahu, kenapa aku bisa sekaku ini, padahal ini acaraku sendiri. Aku seperti orang yang salah masuk ke dalam pesta orang yang tidak kukenali. Beberapa kali kuhela napas pendek, berupaya agar mampu membuat diriku sedikit tenang. Kulirik kearah Shikamaru, ia begitu jauh berbeda denganku. Ia nampak sangat santai. Bisanya ia seperti itu, dimana ia belajar akting?
Satu demi satu tamu mendatangiku dan Shikamaru, untuk sekedar berjabat tangan dan mengucapkan selamat. Harus, aku diwajibkan untuk memasang tampang super manis dan nampak sungguh-sungguh bahagia oleh pernikahan yang didaur ulang ini.
"Suprisee..!"ucap beberapa kawan lamaku bersamaan saat tepat di hadapanku dan Shikamaru, yang kami berdua tanggapi dengan tertawa pelan.
"Akhirnya pangeran benar-benar menikahi sang Sleeping Beauty..!" ucap Lee, dan perkataannya itu membuat expresi heran tak dapat kusembunyikan. Pangeran? Slepping Beauty? Aku mencoba mencari seberkas memori tentang keduanya. Shikamaru yang mungkin menyadari raut bodohku seketika menyenggol lenganku pelan, membuatku kembali memasang senyum.
"Tak kusangka, kalian benar-benar menikah. Ya tuhan, romantis sekali..!" tambah Tenten.
Aku bukan tidak tahu arah pembicaraan ini, tapi yang lebih tepatnya adalah aku belum menemukan titik relasi dari apa yang dikatakan teman-temanku dengan ingatan yang kumiliki. Kupamerkan saja senyuman manisku, membuat orang lain beranggapan bahwa aku adalah wanita paling bahagia detik ini. Dari Lee,Tenten, Tayuya,Karin, Shino, dan Shion berjejer mengantri hanya untuk menjabatku dan Shikamaru. Semuanya merupakan rekan sekolah menengah atasku yang tahu aksi heroik bodoh Shikamaru.
"Jangan tampak seperti orang yang tersesat ke pesta orang lain, nona." Shikamaru berujar pelan saat tidak ada orang lain didekat kami.
"Aku hanya bingung, Sleeping Beauty apanya?" balasku dengan berbisik, memberikan alasan.
"Kau lupa, kita pernah memerankan drama Sleeping Beauty?"
Aah, iya! Efek dari kejadian foolish heroic itu membuatku harus memerankan peran utama sebagai Princess Aurora dan Shikamaru sebagai Pangeran Philip dalam drama sekolah. Itu juga yang menjadikan alasan kuat Shikamaru untuk kembali menciumku di hadapan seluruh warga sekolah dan pengunjung lainnya. Pantas saja aktingnya bagus, rupanya pengalaman. Bisa-bisanya aku lupa!
"Kita sedang menjalankan peran masing-masing Ino, dan kau ingat apa kata Asuma-sensei?" jeda beberapa saat, Shikamaru menatapku dengan senyuman tipis. Ia membawa-bawa nama Asuma-sensei, guru seni drama disekolahku. Aku terdiam, menunggu Shikamaru melanjutkan kata-katanya.
"Jika kau sedang berakting, maka jangan berakting setengah-setengah!" ia kembali melanjutkan kata-katanya, masih dengan menatapku lalu berpaling ke arah lain. Tepat saat seseorang berjalan hendak mendekati kami. Kulihat ia sudah kembali memasang senyum ramah, mengulurkan tangannya terlebih dahulu untuk berjabatkan tangan. Kuarahkan netraku pada objek hidup yang mendekat tadi, lelaki dengan tato 'AI' di kening sebelah kirinya. Ia yang tadi mengintrupsi pernikahanku pertama kali.
"Aku tak menyangka ini pernikahanmu, Nara!" ujarnya sambil menyalami tangan kanan Shikamaru. Shikamaru sendiri membalas ucapan itu dengan tersenyum terlebih dahulu,"yaa... begitulah." Jawab orang yang saat ini berstatus sebagai suamiku. Pandangan pria berambut merah bata itu kini beralih padaku. Setelah menyalami Shikamaru, tangannya terulur untuk menjabat tanganku, yang langsung saja kusambut.
"Cantik, aku tak menyangka istrimu secantik ini!" pujinya membuatku tersipu.
"Heeii..! Apa itu cantik-cantik pada istri orang?" protes Shikamaru dengan tangan kirinya merengkuhku dari samping. Membuatku sedikit terkejut, dan spontan melepaskan tautan jemariku dengan lelaki berambut merah bata itu. Rei Gaara.
Gaara sendiri nampak sangat biasa menerima protesan itu, ia tersenyum yang sepertinya dibuat-buat,"kupikir, aku akan melihat nona ini bersanding dengan anak keluarga Himura," tambahnya lagi. Mendengar kata Himura, menjadikanku harus berusaha keras untuk tidak menampakkan emosi marah yang luar biasa terhadapnya.
Setelah berkata seperti itu, Gaara langsung berbalik dan pergi menjauh. Shikamaru sendiri kulihat menahan sebentuk emosi yang berbeda denganku, entah apa, mungkin kelak aku akan tahu. Lalu kenapa juga seorang Gaara yang terkenal dingin bisa seusil itu pada pernikahanku ini? Jujur saja, aku baru kali ini berjumpa dengannya. Sebelumnya aku hanya mendengar tentangnya dari celotehan ayah, kakak tertuaku dan Naruto. Apa ini ada hubungannya dengan urusan bisnis? Entahlah, aku belum tahu kejelasannya.
"Haai pengantin baru..!" tegur seseorang, siapa lagi kalau bukan tuan Uzumaki. Ia bersama nyonya-nya berjalan mendekati kami.
"Ino, selamat yaa?!" tidak tahu sudah keberapa kalinya Sakura berkata demikian, sambil memelukku ia seperti ingin terisak. Aah..! Mungkin ini efek dari kandungannya, sehingga ia jadi memiliki sikap baby blue seperti itu. Cengeng. Aku sendiri cuma bisa mengucapkan terimakasih, membalas pelukannya dan tersenyum.
"Shikamaru, mainkan piano dan bernyanyilah untuk istrimu!" Naruto memulai kebiasaan menyebalkannya, ia berkata seperti itu dengan tampang usil yang sudah sangat ku hapal.
"Yang benar saja, di pernikahanku kau membawakan sebuah lagu. Masa tidak untuk pernikahanmu sendiri?" tambahnya lagi. Shikamaru menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, "tidak..tidak..!" ucapnya cepat.
"Ayolah, Shikamaru..!" Sakura ikut-ikutan membantu suaminya membujuk Shikamaru. Seketika mataku mendelik ke arah Sakura, saat pernikahannya aku selalu di tempat acara hingga jam enam sore, dan aku tidak melihat kedatangan Shikamaru saat itu. Sakura sendiri yang menerima tatapan mataku hanya tersenyum, dan mengangguk pelan. Entah ia mengerti arti delik-kan mataku, atau hanya sembarang mengangguk.
Kedua pasang suami-istri itu terus saja menggoda Shikamaru untuk melakukan apa yang mereka pinta, yang dijawab selalu dengan gelengan kepala oleh Shikamaru dan sembari berkata 'tidak'.
"Heeeeiii teman-teman, Shikamaru akan membawakan lagu romantis untuk istrinya!" tak kehabisan akal, Naruto berteriak seperti itu untuk menarik perhatian orang lain, dan menjadikan alasan kuat bagi Shikamaru untuk terkejut. Sontak saja, suara Naruto dengan volume keras itu mampu menyedot seluruh perhatian tamu yang ada. Menatap kearah kami, dan sorot heran diterima Shikamaru, beberapa orang diantaranya malah sudah menepuk-kan tangan.
"Ayo Pangeran Philip..!" teriak Lee dari sudut lain dipestaku.
"Ayolah Shikamaru..!" ayahku kini ikut-ikutan bersuara, didukung teriakan yang sama dari besan-nya.
Kata-kata, 'Ayo Shikamaru..!' diterima oleh subjek yang dimaksud dengan riuhnya. Shikamaru sendiri kali ini kulihat terlihat gugup. Ia menghela napas pendek sesaat, lalu kembali tersenyum. Ia seperti terdiam sejenak, menggunakan IQ dengan tataran jeniusnya untuk memikirkan sesuatu.
Kulihat Shikamaru mengalihkan netranya pada sesosok Rei Gaara, tersenyum sangat tipis. Ia kembali menghela napas pendek, "oke, oke...! Baiklah."
Penerimaan dari Shikamaru itu disambut dengan tepuk tangan sedemikian nyaringnya dari berbagai sudut, "harap kau ingat kata-kata Asuma-sensei barusan," katanya pelan sebelum kembali memberikan senyuman kepada siapa saja yang melihat ke arahnya.
Ia sendiri melepas jasnya, menitipkannya pada Naruto dan berjalan ke arah piano di panggung dekat altar, yang tadi dimainkan saat aku melangkahkan kakiku memasuki acara sakral ini. Shikamaru mendudukan dirinya tempat di depan piano, para anggota Wedding Organizer-pun membantu menyiapkan mikrofon dan memberikan penyanggah tepat di hadapan Shikamaru.
Aku secara otomatis berjalan mendekati suamiku yang akan memulai kembali aksi heroiknya, menghibur para tamu undangan. Bukan hanya aku, tapi seluruh tamu undangan pun melakukan hal yang sama denganku.
"Shikamaru..! Aku padamu, apapun yang terjadi aku tetap padamu. I'm into you, babe!" teriak si biangkerok, bermaksud memberikan semangat pada Shikamaru, yang ditanggapi Shikamaru dengan tersenyum sambil menaikkan kedua lengan bajunya. Ia menarik napas sesaat, mulai memainkan intro lagu dengan dentingan piano-nya.
'I think you're pretty without any makeup on.
I think you're funny when you tell the punch line wrong.
I knew you got me so you let your walls come down.
Down...'
Kudengar alunan suara merdunya membawakan lagu Teenage Dream gubahan Boyce Avenue. Aku sendiri tak dapat menyembunyikan senyumku. Sekali lagi aku harus katakan, waaaaw! Karena ia lebih keren dari peng-cover lagu aslinya.
'You make me feel like I'm living a teenage dream.
The way you turn me on I can't sleep.
Let's run away and don't ever look back.
Don't ever look back...!
My heart stops when you look at me.
Just one touch, now baby, I believe this is real.
So take a chance and don't ever look back.
Don't ever look back..!
When you're around me life's like a movie scene.
I wasn't happy until you became my queen.
I finally found you, my missing puzzle piece.
I'm complete..!'
Ia melanjutkan lagunya, dan apa yang ia lakukan mampu membuat orang berdecak kagum. Kulihat tamu seperti menikmati hiburan dari mempelai pria dadakan itu. Lalu saat aku dan semua orang berpikir ia akan melanjutkan lirik lagu Katy Perri itu, ia membuat dugaan kami semua salah ketika ia melanjutkan dengan lagu yang berbeda.
' Baby you light up my world like nobody else.
The way that you flip your hair gets me overwhelmed.
But when you smile at the ground it aint hard to tell.
You don't know..!
You don't know you're beautiful.
That's what makes you beautiful...!'
Astaga..! Sekarang What Makes You Beautiful-nya One Direction. Sukses ia bawakan dengan ala gubahan grup musik asal Florida, yang disambut dengan tepuk tangan meriah saat kalimat dilirik terakhirnya ia menunjuk tepat ke arahku. Soal aku, sebaiknya tak perlu ditanyakan, aku jelas kege-eran tingkat tinggi. Kugigit bibir bawahku agar tidak menunjukan senyum bodohku. Bayangkan, rasanya tepat di hadapanmu ada seorang Alejandro Manzano sedang memainkan piano dan menyanyikan lagu yang begitu so sweet hanya untukmu!
Seseorang, tolong aku! Keluarkan aku dari drama konyol ini. Tolong siapa saja, adakah yang berniat menggantikan posisiku?!
Pandanganku teralih pada pria bernama Rei Gaara, ia yang menatap suamiku di depan sana dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. Bersamaan dengan itu, kembali terngiang ucapan Shikamaru mengingatkan kata-kata Asuma-sensei, 'jika kau sedang berakting, maka jangan berakting setengah-setengah!'. Ia benar-benar mengaplikasikan-nya.
'You don't know...
You don't know you're beautiful.
You don't know you're beautiful.
And that's what makes you beautiful..!'
Empat kalimat lirik terakhir lagu Shikamaru, ia langsung disambut dengan tepuk tangan yang begitu luar biasa sebagai apresiasi kepadanya. Ia berdiri, membungkak-kan badan tanda memberi hormat kepada seluruh tamu yang ada. Ini saatnya, aku berjalan mendekatinya dengan semua keyakinan yang kupunya.
"Inoo..!"Panggil Sakura pelan, namun tidak kupedulikan. Shikamaru yang melihatku berjalan mendekatinya pun ikut melangkah mendekat. Begitu jarak kami hanya tinggal beberapa senti, kuletak-kan telapak tanganku pada pipinya, mendekatkan tubuhku begitu rekat. Bersikap seolah memberikan kecupan dipipinya, "give me your best kiss, dan setelah itu siapkan pipimu untuk tamparanku nanti!" bisikku pelan.
"With pleasure!" mendengarnya, aku kembali menatap Shikamaru, tersenyum tipis. Ku pejamkan mataku, kedekatkan bibirku pada bibirnya, dan detik kemudian untuk ketiga kalinya tidak ada yang menghalangi ciuman kami. Selepas ciuman itu, Shikamaru memeluk-ku dan tertawa saat untuk kesekian kalinya ia menerima tepuk tangan yang meriah. Aku sendiri, untuk menutupi wajahku yang pastinya memerah padam karena menahan berbagai emosi di pundaknya.
Kurasakan tangan kanan Shikamaru terlepas dari dekapannya. Saat kulirik, kudapati Gaara kembali mendekat untuk menjabat tangannya.
"Maaf, tadi aku lupa mengatakan semoga kalian bahagia," ujarnya. Kali ini benar-benar terlihat tulus. Shikamaru hanya membalas ucapan selamat itu dengan senyuman, "dan tolong, jangan katakan cantik pada istri orang lain!" balas lelucon Shikamaru, masih dengan senyuman tersungging di bibirnya. Gaara hanya mampu membalas dengan cara yang sama, dan saat tautan tangan mereka terlepas, ia menjauh dari kami berdua.
Apa bisa aku katakan bahwa drama ini sukses? Tentu!
o
O
o
Plaaaak..! Suara telapak tanganku melayang ke sebuah objek, pipi Shikamaru. Seperti ucapanku sebelumnya, bahwa aku akan menamparnya setelah memberikan ciumanku. Shikamaru yang menerima tamparanku hanya dapat mengelus pipinya yang memerah karena ciuman dari telapak tangan kananku. Mau membalas, tidak mungkin! Ia itu bukan seorang banci yang akan membalas tamparan seorang gadis, jadi aman saja bila aku menamparnya sesekali. Apalagi ini timing yang tepat.
Ini sudah sekitar jam tujuh malam, acaraku pun telah selesai dari dua jam yang lalu. Tapi anehnya aku tetap saja mengenakan gaun pengantinku, entah mengapa. Sedangkan Shikamaru, ia tidak melepaskan tuxedonya karena ada alasan lain. Orang-orang dari Wedding Organizer pun lebih memilih pulang, dan besok kembali melanjutkan kegiatan membereskan perlengkapan yang tadinya tertata rapi di pestaku.
Tenang saja, aku melakukan tindakan kasar untuk suamiku tanpa ada satu pun yang melihatnya. Sekarang kami berdua berada didalam kamarku dengan pintu terkunci rapat.
"Sakitnya..!"keluh Shikamaru, yang kutanggapi dengan pandangan mata meremehkan.
"Itu sebanding dengan apa yang tadi kau dapatkan!" balasku, sama sekali tak mau kalah.
"Kau sendiri yang terlalu kreatif, aku tidak ada menyuruhmu untuk menciumku." Eeh, ia menyalahkaku sekarang. Enak saja, pintar-pintarnya ia berkelit, bukankah ucapannya mengingatkan pesan Asuma-sensei itu yang membuatku nekat melakukannya.
"Kau sendiri yang bilang..."
Tok..tok..tok..! Ketukan pintu dari luar kamarku jelas menginterupsi perkataanku. Secara bersamaan aku dan Shikamaru mengarahkan pandangan dari asal muasal suara. Aku berjalan, membukakan kunci yang menahan, dan memutar kenop pintuku. Kudapati kakak tertuaku berdiri didepan pintu dengan senyuman andalannya. Sesaat ia menggaruk tengkuknya, ragu untuk mengucapkan apa yang ingin ia katakan.
"Aku tidak menggangukan?"tanyanya yang jelas hanya sebuah intermezzo belaka, yang langsung kujawab dengan gelengan kepala.
"Aku hanya disuruh ibu mengantarkan baju ganti buat Shikamaru, karena ia pasti tidak membawa baju ganti." kakak tertuaku menuturkan alasan keberadaannya didepanku, sambil memberikan beberapa lembar pakaian baru. Benar juga, ini pernikahan dadakan. Mana mungkin Shikamaru mempersiapkan diri dengan membawa pakaiannya yang lain. Jangankan itu, berfirasat akan menjadi mempelai pria hari ini saja mungkin tidak. Maka, sedari tadi ia terus mengenakan perlengkapan tuxedonya.
Kuambil barang-barang yang diserahkan Kakashi-nii, setelah itu ia membalikan badan-nya untuk pergi. Selangkah, dua langkah, dilangkah yang ketiga ia kembali menghadap kearahku, "Setelah kalian selesai berganti pakaian, turunlah kebawah. Kami semua menunggu kalian!" Pesan terakhir kakak-ku sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya.
Kututup pintuku dan langsung saja kulemparkan baju yang diberikan Kakashi-nii pada Shikamaru. Ia dengan tanggap menangkapnya, "Mandi sana kau duluan!" perintahku sambil kembali menyilangkan kedua lenganku di depan dada. Shikamaru merespon suruhanku dengan berucap mantra andalannya 'mendokusai', setelah itu berjalan kearah kamar mandi dengan membawa pakaian yang ia terima.
Sekitar duapuluh menit berlalu, Shikamaru keluar dengan memakai baju yang baru ia terima tadi. Rembesan air masih terlihat baju kaosnya yang berwarna brown chocolate itu, sedangkan celana jeans selutut dibawahnya memberikan kesan ia sangat kasual. Apa yang terjadi denganku, tiba-tiba saja aku tersenyum dari atas kasurku sambil terus menatapnya menyisiri rambut, mengikat kembali rambutnya hingga bermotif buah nanas.
Dalam hati aku ingin berujar...
"I sexy, and i know it!" Shikamaru berkata tanpa sekalipun menoleh kearahku, ia malah menyeringai dihadapan cermin didepannya. Aku yakin, dari pantulan cermin itu pula ia mendapatiku yang terus saja mengamatinya. Sial! Jenius sekali dia. Aku yang merasa harga diriku diujung tanduk karena ketahuan mengaguminya, serta-merta memberikan tatapan sarkatis khasku.
"Iih, jadi orang gak perlu segitu juga kali..! Biasa aja." alasan yang kuberikan sambil membuang arah pandanganku keobjek lain. Shikamaru berbalik kearahku, ia memasuk-kan kedua tangannya dimasing-masing saku celananya, memberikan a little smirk padaku. Ia lantas menyandarkan tubuhnya pada meja riasku, sembari terus saja mempertahankan seringai menyebalkannya itu.
"Apa? " tanyaku dengan nada yang sengaja ku buat-buat kasar untuk didengar. Shikamaru menjawab dengan mengendik-kan kedua bahunya secara bersamaan. Gerak bibir bawahnya yang sengaja ia majukan ke depan, membantunya bersikap nampak cuek.
"Kau mau sampai kapan duduk disitu, kau lupa dengan yang dikatakan kakakmu tadi?"
Aku bukan lupa, hanya saja ragu untuk beranjak. Karena aku sangat yakin, ia akan berpikir bahwa aku malu didapatinya ketahuan terus saja menatapinya seperti tadi. Dan bila aku pontang-panting ke kamar mandi, berani aku jamin ia akan semakin besar kepala.
Aku beranjak dari duduk-ku untuk berdiri, sebelum melangkah dengan sengaja ku lepaskan gaunku sehingga hanya menyisakan tank-top berwarna hitam dan celana pendek duapuluh senti diatas lutut. Berjalan mendekatinya, saat tinggal satu langkah lagi tepat tubuhku akan bertubrukan dengannya, dengan gaya anggun aku mengubah arah kakiku, lalu rambut panjangku yang sengaja kukibaskan ke arahnya. Balas dendam!
Sure, i really looks so elegant! Right?
"You so hot..!" kata Shikamaru yang terdengar seperti dibuat-buat untuk mengejek-ku. Aku tak peduli, memasuki kamar mandi dan ku berikan ia sebuah debaman pintu. Dari dalam kamar mandi, kudengar langkah Shikamaru berjalan, sebuah suara pintu yang terbuka dan kembali tertutup membuatku yakin bahwa ia baru saja meninggalkan kamarku. Aku sendiri di kamar mandi tak henti-hentinya mengerutui orang yang baru beberapa jam tadi menjadi suamiku.
Nanas sialan..! Anak rusa brengsek! Mendokusai tidak bermutu..! Aku terus saja mengumpat di kamar mandi dengan tiga kalimat yang selalu kuucapkan itu. Seumur-umur aku menjalani hubungan dengan Sai, tidak pernah sekalipun aku bersikap seperti ini. Dia benar-benar berhasil membuatku naik pitam.
Hampir sejam aku di kamar mandi, begitu aku keluar memang tidak kutemukan sosok Shikamaru. Bergegas aku langsung memakai pakaian bersih, berdandan seadanya dan ancap keluar dari kamarku. Begitu aku menginjak-kan kakiku di anak tangga yang terakhir, kudapati semua orang yang ada di ruang tamu keluarga mengarahkan pandangan padaku.
Aku menempatkan posisi duduk disebelah Shikamaru yang saat itu duduk berhadapan dengan ayah, ibu dan kedua kakak-ku. Ia seperti sedang di introgasi oleh agen Federal Bureau of Investigation saja. Setelah tepat aku mendudukan diri, secara bersamaan kakak ipar, ibu, ibu mertuaku malah beranjak pergi. Menyisakan aku, suami, ayah yang memangku tubuh kecil Kirei, kedua kakak dan ayah mertuaku.
Aku tak mampu bersuara apa-apa, "aku tahu pernikahan kalian ini serba mendadak, tapi aku harap kalian bisa menjalani status sebagai sebuah keluarga baru seperti layaknya." ayahku membuka pembicaraan.
"Kami harap kalian bisa bersikap sewajarnya sebagai suami-istri," tambah saudara tertuaku. Membuatku terpaksa menyunggingkan senyum.
"Aku tidak mau saja, beberapa minggu atau bulan kemudian kalian menyerahkan surah perceraian. Itu akan jadi sangat memalukan."
Aku kembali terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan lagi oleh ayahku, menatapnya dengan sedikit keraguan, "tolong jangan ada kepura-puraan dalam pernikahan kalian."
Pandanganku spontan terarah kepada Shikamaru yang memasang wajah santai, mendengar permintaan dari mertuanya, membuat ia harus kembali menyunggingkan senyum manis yang aku tahu itu palsu. Kulihat ia menghela napas pendek, sedikit mengelengkan kepala.
"Haaiii semua..! Kami datang lagi." Bukan suara Shikamaru yang terdengar, melainkan keluarga Uzumaki itu kembali mengunjungi kediamanku. Untuk apa mereka malam-malam setelah seharian dirumahku kembali lagi, dan Sakura, apa ia tidak memperdulikan kandungannya? Kedua pasang suami-istri yang datang tanpa undangan itu pun memposisikan diri masing-masing disebelahku dan Shikamaru.
"Give me five,man!" pinta Naruto di sebelah Shikamaru dengan tangan terangkat menunggu tepukan telapak tangan Shikamaru. Shikamaru seperti sudah hapal dengan kebiasan pria hiperaktif itu, hanya memberikan tepukan tangan yang minta Naruto. Hening sesaat, "ingat Shikamaru statusmu sebagai..."
"Tenang saja ayah, tidak akan ada kepalsuan. Pada dasarnya pernikahan ini memang aku harapkan, karena..." Shikamaru menggantung ucapannya yang tadi menyela perkataan ayahnya sendiri, ia menatapku dan tersenyum manis.
"Karena aku memang mencintai, Ino."
Astaagaa..! Aku yang ikut mendengar kalimat yang disampaikan Shikamaru, tak dapat menutupi keherananku. Aku terkejut, dengan kontan aku menutup mulutku dengan tangan sebelah kananku. Lucunya, Sakura dan suaminya pun melakukan hal yang sama denganku.
Jadi, selama ini Shikamaru mencintaiku? Waah, berarti aku punya fans diam-diam! Aku memalingkan wajahku keobjek hidup dihadapanku, kulihati keempat orang dewasa itu tersenyum mendengar ucapan Shikamaru.
"Baguslah! Kalau begitu, cepat berikan aku cucu yaa Shikamaru! Jujur saja, aku iri pada Inoichi yang telah memiliki lebih dahulu." ayah Shikamaru berkata sambil menunjuk kearah Kirei yang tentunya tidak akan mengerti pembicaraan orang tua ini, ucapan-nya yang tadi langsung disambut tawa beberapa orang disekelilingku termasuk Shikamaru.
Selanjutnya, meraka kembali melanjutkan perbincangan yang sudah tidak masuk dalam perhatianku. Sedari tadi otak-ku terus memikirkan kata-kata Shikamaru, bahwa ia memang mencintaiku.
o
O
o
Aku terduduk sendiri di kamarku, dengan tanpa melakukan apa-apa. Otak-ku masih saja memikirkan kata-kata Shikamaru yang beberapa jam tadi kudengar. Ini sudah menunjukan hampir jam sebelas malam, dan aku sudah meninggalkan ruang tamu sekitar satu jam yang lalu dengan alasan lelah. Jujur, aku sedikit besar kepala mendengar ucapan Shikamaru tadi, ia mengatakannya tanpa ironi sama sekali. Untuk kesekian kalinya aku katakan, kalau itu masih juga berupa akting, maka ia benar-benar pantas dihadiahi piala Oscar.
Kreet..!Pintu yang memang sengaja tak kukunci itu terbuka, Shikamaru dari arah luar memasuki kamarku dan kembali menutup pintu itu, namun tidak menguncinya. Ia berjalan mendekatiku dan duduk di tepi ranjang.
Aku kembali tak mampu bersuara apa-apa, kau bingung harus mengatakan apa padanya. Ragu, benar-benar tidak yakin.
"Jangan percaya apa yang kukatakan tadi pada mereka" Shikamaru tiba-tiba berkata, aku yakin ia bisa membaca raut gugupku.
"Kau tidak berharap aku mengakui pernikahan kita yang kuanggap drama, dan membuat mereka semua menghajarku kan?" tanya Shikamaru lagi. Itu berhasil membuatku sedikit tertawa pelan. Padahal aku sudah besar kepala, tahunya ia malah berdusta semata. Sesaat ku tatap Shikamaru, ia pun membalasku dengan cara yang sama, tak lama ia tersenyum.
"Aku bohong!" tak perlu diperjelas, aku juga sudah tahu. Aku kini bisa bernapas dengan lega, hal itu benar-benar dapat membuatku bisa bersikap wajar. Aku tahu, tentunya tidak sopan bersikap seenaknya pada seseorang yang mencintaiku, dan fakta darinya bisa kembali membuatku bertingkah yang merepotkan lagi bagi Shikamaru.
"Baiklah, kalau begitu kita lakukan apa yang mereka minta." Shikamaru kembali bersuara, ia berdiri dan memundurkan satu langkah ke belakangnya. Dan yang membuatku kembali terkaget, saat ia melepaskan baju kaosnya dan membuang kesembarang arah.
"Kau mau apa?"tanyaku dengan sangat kalang-kabut.
"Membuat mereka mempercayai bahwa, pernikahan kita berjalan selayaknya."
Rasanya napasku terhenti sesaat, apalagi ketika Shikamaru bergegas menaiki ranjangku, dengan tangan yang ia silangkan ke depan dada, ia menatapku dengan seringaian yang begitu menakutkan untukku.
Jangan sembarangan Shikamaru, kau menciumku saja sudah kutampar. Apabila kau mau melakukan hal yang lebih dari pada sebuah ciuman, percayalah aku akan membunuhmu!
To Be Continued...!
A/N:
Aaaaaccchh...! apa yang saya tulis buat chapter tiga ini?! Gajelaaassss...! Maaf bila membosankan.#histeris tepat didepan notebook.
Okeee..! awalnya Alleth ga mau ngelanjutin drama pernikahan ino, mau langsung kebagian sesi ia menjalani kehidupannya sebagai seorang istri dari pahlawan bodoh. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ada beberapa bagian penting untuk chapter selanjutnya yang harus ditampilkan dalam chapter ini. Sekali lagi ,mohon maaf untuk beberapa adegan yang maksa banget.
Untuk chapter selanjutnya sudah Alleth jadwalkan mengenai ino yang harus pindah mengikuti suaminya. Setelah chapter ini, sementara ini Alleth mau focus dulu ke Crazy 22 Hours dan tentunya Sweet September. Cuma bila banyak review yang saya terima untuk fic ini, maka prioritas saya adalah chapter selanjutnya untuk Crazy 22 Hours dan fic ini.
Biar bagaimana pun, Alleth sadar bahwa fic ini masih jauh dari kata sempurna. Jadi, saya minta tolong pada semua yang telah membaca fic Alleth ini untuk memberikan tanggapan mengenai kekurangan, apa saja yang harus diperbaiki, dan juga motivasi-nya yaa? #ngarep akut!
So, review pleaseee...
