Sasuke merasa tidurnya terganggu dengan kehadiran sebuah tangan di dadanya. Selimut juga terasa direbut paksa dari tubuhnya. Dengan kesal ia bangun mendapati dua perempuan tidur di samping kiri dan kanannya. Mendengus pelan, Sasuke mengusap wajahnya kemudian melirik kearah jendela melihat langit sudah tidak lagi begitu gelap. Sayup-sayup cahaya matahari pagi mulai terlihat.
Sasuke bangkit dari tempat tidurnya membiarkan dua perempuan itu menguasai kasurnya, lagipula rasa kantuknya sudah hilang. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh telanjang. Setelah menggunakan Bathrobe miliknya, Sasuke keluar menuju ruang perapiannya, duduk sambil meminum air putih. Hanya memandangi api yang perlahan membakar kayu-kayu disana. Pikirannya kosong.
'Ting' Pintu lift-nya terbuka. Rumah miliknya memang berada di lantai teratas gedung bar Chimera miliknya. Ino yang terlihat fresh keluar dari lift mendekati Sasuke. Ia ikut duduk di samping pria itu sambil mengamatinya dengan menantang, mencoba menarik atensi pria itu. Karena sepertinya Sasuke terlalu hanyut dalam dunianya sendiri.
Sasuke bukannya tidak menyadarinya. Ia akhirnya menyerah, "Ada apa Ino?"Sasuke tidak suka ditatap oleh Ino, tatapan mata Aquamarine milik perempuan itu jelas tidak bisa ia artikan. Terlalu tajam, terlalu dalam.
Ino menyenderkan tubuhnya, membiarkan rok pendek miliknya naik mengekspos paha miliknya, dengan cepat ia menyilangkan kakinya. Ia suka memamerkan lekuk tubuhnya indahnya pada siapapun. Tetapi Sasuke berbeda, pria itu terlihat sama sekali tidak tertarik dengan tubuh sintal milik Ino.
"Sasuke, kau bilang hanya liburan disini. Kita sudah 5 tahun disini. Apa kau bisa berhenti bermain-main dan melakukan sesuatu yang penting? Aku ikut denganmu bukan untuk menjadi bartender."Tanya Ino dengan suara sarkastik.
Sasuke meletakkan gelasnya, "Kenapa Ino? Apa kau menyesal mengikutiku?"Tanya Sasuke tak kalah Sarkastik. Ia menatap Ino dengan tajam.
Ino memutarkan matanya, "As you wish Sasuke. As you wish."
Ino tidak bisa menentang Sasuke. Karena itu takdirnya sedari dulu. Ia bukannya hanyut dalam pesona seperti para wanita yang selalu mengikuti kemauan Sasuke, bukan. Karena ini memang tugasnya. Menjaga Sasuke Uchiha, kapanpun dan dimanapun. Membersihkan semua masalah yang ditimbulkan oleh pria bermata onyx itu. Walaupun sebenarnya pria itu lebih kuat darinya, namun ia tidak bisa menampik Sasuke selalu bertindak gegabah, pria itu hanya akan membuat masalah yang akan merepotkan dirinya. Tapi Ino menyukai kenyataan itu, bahwa Sasuke membutuhkan dirinya.
Mereka berdua menatap perapian, api yang berkobar menghangati ruangan itu. tenggelam dalam kesunyian masing-masing.
'Ting'Pintu lift kembali terbuka. Ino menyadari hal itu, ia mengerutkan keningnya.
Kemudian kobaran api itu melambat, Sasuke memperhatikan jam besar di pojok ruangan, jarum detiknya pun ikut melambat.
Ino menatap Sasuke khawatir, "Kau kedatangan tamu."Mereka tahu siapa itu.
Sasuke berdiri dari Sofanya menatap di depan lift. Seoarang pria bersetelan lengkap berdiri menatapnya dengan tajam.
"Itachi, selamat datang di Konoha. Kau ingin minum?"Sambut Sasuke dengan tawaran dan senyuman hangat.
Pria yang disapa Itachi itu dengan perlahan mendekati Sasuke. Tidak berminat menjawab tawaran Sasuke.
"Kau harus pulang Sasuke. Ayah mengingankan kau kembali."Ucapnya tanpa basa-basi.
Sasuke tertawa mengejek, melirik Ino, "Kapan jadwalku kosong?"
Ino menaikkan bahunya, menegaskan bahwa ia tidak ingin ikut dalam pembicaraan Sasuke dan Itachi.
"Brother, ini sudah terlalu lama. Kehadiranmu disini bisa memancing publik. Kau terlalu banyak membuat masalah."Ujar pria bernama Itachi itu.
Sasuke menyenderkan pinggulnya di belakang sofa. "Bilang pada Ayah, aku muak dengan aturannya."Ucap Sasuke dengan berdesis.
Mata kelam Itachi berubah merah dan dengan gerakan cepat sekejab mata, Itachi sudah berdiri di depan sang adik dan mencekik lehernya.
Ino tersedak melihat itu.
Sasuke terlihat santai melihat sang kakak. Jelas menantang balik sang kakak walau ia sedang dicekik.
"You little bastard."Makinya di depan wajah Sasuke. Mata Sasuke juga ikut berubah merah perlahan tidak menyukai makian yang ia terima.
Ino segera berdiri dan memisahkan kedua adik kakak yang sedang bertengkar itu, "Kenapa tidak saling membunuh saja huh?"Tantang Ino.
Itachi berbalik menuju kembali ke lift.
"Ino, Aku tahu kau mengerti. Ulah Sasuke hanya akan membawakan ancaman pada kita."Ucapnya sebelum pintu lift tertutup.
Sesaat kemudian semua kembali seperti semula, api kembali berkobar dan jarum detik jam kembali berdetak seperti biasa. Pintu lift tertutup membawa Itachi pergi.
Ino menatap Sasuke yang tampak tidak suka dengan kedatangan Itachi. Mata pria berambut raven itu masih merah, gurat emosi terlihat di wajah pria itu. Namun memudar dengan pelan, dan ketika pria itu memejamkan matanya kemudian membukanya kembali tidak ada lagi mata merah milik pria itu.
Ino memijit pelipisnya pelan, "Dengar Sasuke, mulailah melakukan sesuatu yang penting. Jangan terlalu banyak bermain. Kita pasti sedang diawasi."Ucap Ino mengingatkan.
Sasuke berjalan menuju kamar mandi dengan kesal, "Tentu saja. Kita tidak bisa meremehkan kita pak tua itu."
Sasuke menatap cincin miliknya. Sesekali memainkan cincin itu sembari menyender di samping sebuah toko. Memperhatikan cincin dengan ukiran khusus itu dengan teliti. Satu-satunya barang yang ia bawah ketika pergi menuju Konoha hanyalah cincin ini.
'PIPPPP'
Sasuke menengok pada suara klakson mobil yang sepertinya ditujukan untuk dirinya. Sebuah mobil limusin mengilap dan kaca gelap setengah turun memperlihatkan siapa dibalik kaca itu.
"Hei... Hei... Hei..."Sasuke tersenyum miring.
Perempuan bersurai merah muda itu tersenyum kepada Sasuke. "Masih mengenalku?"Tanyanya.
"Shhhhh... Biar aku berpikir."Sasuke menyeritkan keningnya tapi memberikan senyum menggoda pada perempuan itu. "Kau terkenal bukan?"tanya Sasuke.
Perempuan itu tertawa pelan.
"Tayuya!"
"Hei, kalian lihat Tayuya!"
"Tayuya lihat kemari!"
"Tayuya aku penggemar beratmu."
Sekelompok wanita yang sedang lari pagi berhenti, mereka mengeluarkan ponsel untuk memotret idola mereka.
"See... Bisakah aku meminta tanda tanganmu?"Tanya Sasuke lagi dengan nada menggoda.
Tayuya tersenyum kini lebih lebar, "Asal kau mentraktirku sarapan."Tawarnya.
Sasuke tersenyum menyeringai masuk ke dalam mobil limusin itu.
Tayuya mengunyah sarapannya dengan lambat sesekali tersenyum pada Sasuke yang duduk dihadapannya dan juga sedang menatapnya. Tetapi kemudian ia kembali berpikir tentang semuanya, tentang kehidupannya, senyumnya lenyap.
"Apa aku benar menjual jiwaku pada kelompok satanis penguasa dunia ini?"Tanya Tayuya ragu.
Sasuke menaikan salah satu alisnya, tapi kemudian ia tertawa mendengar perkataan Tayuya. "Tayuya, siapa yang mengatakan tentang satanis? Aku yakin Lucifer sibuk menghukum jiwa-jiwa di neraka, dia tidak punya waktu untuk perjanjian bodoh seperti itu."Sasuke meneguk airnya.
Tayuya tersenyum miring, "Maksudku, kau bilang kau salah satu penguasa dunia, kau membantu kesuksesanku. Penguasa dunia ini kelompok pemuja satanis kan? Aku merasa bahwa sekarang mendapatkan akibatnya, karirku hancur."Tayuya mendesah kecil. Wajahnya sedih mengingat masalah yang dihadapinya.
Sasuke meraih tangan Tayuya mengelusnya perlahan, berusaha menyalurkan perasaan tenangnya pada Tayuya. "Aku hanya membantumu bertemu dengan orang yang memiliki utang juga padaku dan bisa membantumu. Begitulah caranya bekerja."
"Tapi aku dikhianati..."
Sasuke memotong, "Aku mengenalkanmu padanya untuk menjadi produsermu, bukan untuk ditiduri."
Tayuya menyerit jijik, "Yah... Dia besok akan menikah dengan model baru itu. Dia mencampakkanku. Aku cemburu."Suara Tayuya terdengar serak.
Sasuke memindahkan dirinya disamping perempuan bersurai merah muda itu. Memeluknya dengan hangat dan mencium keningnya. Tayuya jelas terlihat sangat berantakan sekarang. Harusnya Sasuke menyadarinya, ini bukanlah salah satu tampilan mode yang dikenakan oleh perempuan itu.
Tayuya depresi.
Sasuke mengelus kepala Tayuya.
"Dengar, bagaimana pun kau telah berutang padaku. Aku akan menagihnya sekarang."Ucap Sasuke.
Tayuya menatap wajah Sasuke. Ia pasrah jika harus mati sekalipun untuk dijadikan tumbal untuk raja neraka. Setidaknya ia segera menderita di neraka, bukan tersiksa dunia dalam jangka lama namun setelah itu akan menderita juga di neraka.
Sasuke menarik tangan Tayuya. "Kau harus berjanji pulang dari sini untuk melepaskan semua masalahmu dan memulai dari awal. Menjadi Tayuya yang baru. Hindari dunia hiburan, Menyanyi, narkoba, bermain film porno, Sudah cukup Tayuya. Ini saatnya berhenti. Kau tidak memiliki utang apapun dengan ku lagi."Ucapan Sasuke jelas membuat beban pada diri Tayuya lega. Entah kenapa lebih lega daripada ia memikirkan kematian.
Tayuya menangis memeluk Sasuke.
Sasuke mengeratkan pelukannya pada wanita itu.
Sambil berangkulan, dua orang berbeda gender itu tertawa melewati lorong-lorong samping bangunan. Sang wanita menyenderkan kepalanya ke dada sang pria dengan nyaman. Pun dengan sang pria merasa tidak terganggu dengan perlakuan wanita itu maupun tatapan sinis orang yang berpapasan dengan mereka.
Sasuke memegang kedua lengan Tayuya meyakinkan perempuan bersurai pink itu, "Dengar Tayuya, aku serius memintamu untuk berhenti dari dunia hiburan. Aku akan mempersiapkan semuanya, identitas baru, tempat tinggal baru, pekerjaan baru, dimana pun terserah dirimu, asal jangan kembali lagi kesini dalam waktu dekat."
Tayuya tersenyum, "Sasuke aku sangat senang kau selalu membantuku. Terima kasih."Tayuya memeluk Sasuke erat. Sasuke membalasnya.
"Mobilnya kenapa belum sampai?" Tayuya bergumam di pelukan Sasuke menyadari bahwa supir jemputannya belum juga datang.
"Mungkin sedikit macet di persimpangan ujung sana."
Sasuke memperhatikan sebuah mobil van putih melintas dengan cepat lalu berhenti mendadak hinggah menimbulkan decitan ban dengan aspal jalanan. Debu asap mengepul, mobil van itu berhenti tepat di depan mereka berdua. Semuanya begitu cepat, sebuah kaca mobil terbuka dan senjata api keluar dari sana.
'DOR DOR DOR DOR DOR DOR'
Tembakan beruntun menghujani kedua orang yang sedang berpelukan itu hingga keduanya terjatuh dengan keras disertai serpihan kaca yang berada di samping mereka, karena ikut juga tembakan.
Teriakan dan jeritan orang-orang yang melintas pun terdengar, mereka lari ketakutan. Tetapi ada diantara mereka mendekati Sasuke dan Tayuya yang tergeletak dipinggir jalan.
Seketika semua mendadak senyap. Kemudian bunyi benturan hebat terdengar disertai klakson mobil dan decitan ban. Jeritan kembali terdengar.
"Hubungi nomor darurat! Astaga!"
"Halo, ada penembakan... Kecelakaan."
Sasuke bangun melihat Tayuya yang tertembak di bagian dada. Darah sudah melumuri tubuhnya, bahkan menggenang diantara mereka. Dengan sedih dan emosi ia bangun menghampiri pelaku yang menembak mereka dengan brutal dipinggir jalan tadi dari dalam sebuah mobil Van warna hitam tanpa plat. Tidak, jangan Tayuya-nya. Pelakunya sendiri mengalami kecelakaan akibat ingin melarikan diri.
Sasuke menendang pintu mobil yang penyok itu hingga lepas. Dengan penuh amarah ia menarik seorang pria yang terlihat lemah di bangku supir, tubuhnya penuh luka, serpihan kaca dan terjepit, Sasuke sama sekali tidak peduli.
"Tunggu dulu! Tidak secepat itu, Kenapa kau menembaknya?"Tanya Sasuke dengan kasar, gurat amarah wajahnya terlihat, matanya berubah merah.
Pria itu terbatuk mengeluarkan darah berusaha bernapas dan berbicara disaat bersamaan, "Uang. Aku hanya disuruh menarik pelatuknya."jawabnya terbata.
Sasuke memandang pria itu kesal, "Lihat aku brengsek, disaat seperti ini, kutukan ini terasa seperti hadiah buatku!"
"AAAAAAAAAAAKHHHHHHHHHHH"Jeritan itu terdengar membahana diriuh suara sirine yang mendekat.
Girls, rated M for Language. There's no Lime :)
