.

.

.

Semuanya terasa begitu cepat. Sudah sembilan bulan sekarang. Keduanya sama-sama sudah melewati ujian kelulusan, kemudian menikah satu bulan setelahnya. Pernikahannya hanya dihadiri keluarga dan teman-teman dekat mereka saja.

Dan hal itu agak mengejutkan untuk teman-teman dekatnya. Mereka sama sekali tak tau kalau selama ini Hyungseob sudah hamil sekaligus tak pernah menyangka kalau Woojin yang akan jadi suaminya. Karena dibanding sahabat, kedua orang itu lebih pantas disebut dua orang yang tak pernah bisa akur. Status saja sahabat, tapi kemungkinan mereka akur saat bertemu hanya 0,0001%.

Hyungseob juga sudah terbiasa dengan calon anak mereka. Woojin juga sudah sama terbiasanya dengan segala kebawelan dan keinginan aneh-aneh dari istrinya. Mereka tinggal di rumah orang tua Hyungseob, tapi kadang juga menginap di rumah orang tua Woojin. Rumah orang tua Hyungseob berada tepat diseberang rumah orang tua Woojin, omong-omong. Jalan yang membatasinya hanya berlebar 7 meter, sepertinya.

Sore itu, Hyungseob sendirian di rumah. Ia menonton TV di ruang tengah. Ayahnya pergi bekerja, ibunya sedang berbelanja. Suaminya entah sedang apa di rumah seberang, lelaki itu tiba-tiba meninggalkannya tadi. Tanpa bilang ada apa. Padahal dirumah itu juga sepi, mertuanya kan kerja semua. Mungkin Woojin sedang main PS, atau berpesta dengan teman-temannya. Hyungseob mendengus kesal membayangkan sang suami bersenang-senang dengan gengnya, padahal ia sendiri disini merasakan badannya nyeri dan sakit semua.

Hah... minggu depan, hari perkiraan bayi mereka akan lahir. Banyak yang bilang melahirkan itu sakit, jujur saja, ia takut dan belum siap.

Ditengah-tengah asiknya menonton drama dengan aktor idolanya sebagai tokoh utama, Hyungseob merasakan ada sesuatu yang mengalir melewati kakinya, juga menembus celananya. Jantungnya langsung berdegup kencang. Jangan bilang—

"Oh tidak..."

Pecah sudah.

Nafasnya mendadak tak teratur, ia panik bukan main, yang mana otomatis membuatnya bingung juga. Yang ada dipikirannya sekarang adalah menghancurkan acara senang-senang Woojin dan menyeret lelaki itu masuk ke dalam mobil untuk selanjutnya membawanya ke rumah sakit. Jadi tanpa pikir panjang, Hyungseob keluar rumah dan berdiri di teras sambil menarik nafas dalam-dalam dan—

"PARK WOOJIN!!! KEMARI!! BAYIMU MAU KELUAR!!!" —berteriak dari sana.

Beberapa tetangga yang lewat atau tengah beraktifitas diluar rumah memandangnya bingung, bahkan dua orang yang tinggal disebelah rumahnya sampai keluar untuk memastikan. Ini gila. Tapi Hyungseob panik. Ia sedang tak bisa berpikir jernih.

"PARK WOOJIN!!! BAYIMU MAU KELUAR, BODOH!!! PULANGLAH!!" teriaknya sekali lagi.

Ia langsung terengah-engah disana. Kemudian Haknyeon, Jihoon, dan Yehyun keluar dari rumah seberang—benar kan, Woojin and the geng sedang bersenang-senang—, disusul Woojin yang langsung berlari menghampirinya dengan tak kalah panik.

"Ya ampun aku harus bagaimana??"

Hyungseob memukul wajah suaminya itu kemudian menjambaknya, "bawa aku ke rumah sakit, bodoh!"

"Tapi aku tak ada kendara— ah. YEHYUN ANTARKAN HYUNGSEOB KE RUMAH SAKIT!" Tanpa peduli kondisi istrinya sekarang, Woojin langsung menariknya mendekati mobil Yehyun yang terparkir di depan rumah.

"Huh... huh... huh... hah... Park Woojin!!" Ini Hyungseob sedang menahan diri agar tidak mengomeli suaminya saat itu juga.

Tiga orang manusia yang sama bingungnya dengan para tetangga disana cuma bisa diam tanpa tau mau bagaimana.

"KIM YEHYUNNN!!! CEPAT!" Teriak Woojin sambil mengepalkan tangan dan menghentak-hentakan kakinya, kesal. Ia sama sekali tak bisa sabar sekarang. Kenapa tiga temannya itu sama bodohnya seperti dia sih!? Woojin heran sendiri.

"O-oh! Iya!"

Yehyun langsung membuka mobilnya, Hyungseob tanpa diberi aba-aba langsung duduk disebelah pengemudi. Yehyun sudah siap menyetir, tapi sebelumnya dia sempat kebingungan lagi karena ada Hyungseob disebelahnya. Sedangkan Woojin, Haknyeon, Jihoon duduk dibelakang.

"Cepat bodoh! Kau mau aku mengeluarlam dedek bayinya disini?!" Hyungseob hampir saja menampar Yehyun saat itu juga.

"Hah... hah... hah..." Hyungseob terus menarik nafas dan membuangnya dengan tidak santai.

"Tahan Hyungseob..." —Woojin.

"Tarik nafas... keluarkan... tarik nafas... keluarkan... yak, begitu! Bagus! Ulangi terus!" —Jihoon.

"Haaa! Aku akan punya keponakan! Ya ampun, selamat ya kalian! Hehe! Yeee~!" —Haknyeon.

Sedangkan Yehyun ditempatnya cuma bisa mencoba fokus menyetir sementara wanita disebelahnya daritadi tak berhenti mengomel dan juga memukuli, menjewer, bahkan menjambaknya. Dalam hati ia cuma bisa bertanya dengan penuh amarah, INI YANG SUAMINYA SIAPA!?

Haduh... kenapa Woojin and the geng tak ada yang bisa diandalkan semua sih? Hyungseob heran sendiri. Amit-amit. Semoga bayinya nanti tak seperti keempat manusia itu.

•••

"Huh... huh..." Hyungseob merapatkan mulutnya, sama sekali tak berniat berteriak walaupun sakitnya minta ampun. Ia belum ada persiapan untuk ini. Kenapa juga bayinya lahir tiba-tiba?

Untung Hyungseob sadar diri, kalau ia berteriak bisa kacau sudah kondisi di rumah sakit tersebut. Belum lagi kalau teriakannya ditambah dengan berbagai umpatan yang sering keluar dari mulutnya. Bisa rusak moral bayinya nanti, baru lahir sudah mendengar ibunya mengatakan kata-kata kasar.

"Huh... tahan Hyungseob..." Woojin juga ikut-ikutan menarik dan membuang nafas melihat istrinya.

"Hhhhh..."

"Iya iya, aduh!" Woojin cuma bisa mencoba sabar ketika sesekali lengannya dicubit, muka dan badannya dipukuli, dan rambutnya ditarik oleh sang istri.

"Kapan bayinya keluar?! Huh... huh... huh..."

"Sebentar lagi, bu. Ayo tarik nafas... keluarkan..." Cuma itu yang keluar dari mulut dokter dari tadi. Hyungseob sampai bosan sendiri mendengarnya.

"Woojin ini semua gara-gara kau! Hhh..." Hyungseob meremat tangan suaminya, menahan rasa sakit.

Sedangkan di luar ruangan, para calon kakek-nenek tengah menunggu sambil berdoa. Sementara Yehyun, Jihoon dan Haknyeon sibuk membuat pengumuman di grup angkatan, grup kelas, grup alumni SMA serta sosial media masing-masing.

"Menurut kalian, kira-kira anak mereka cowok atau cewek?" celetuk Haknyeon. Jihoon, Yehyun langsung berhenti dari aktifitas main ponselnya kemudian menatap Haknyeon dan berpikir.

"Menurutku cewek, karena Woojin dari kemarin terus berkata kalau anaknya perempuan," kata Yehyun.

"Tapi bukankah Hyungseob maunya cowok? Wah... menarik juga jadinya."

Ketiga manusia itu terkekeh sambil berhigh-five membayangkan Hyungseob yang akan mengomel kalau ternyata anaknya perempuan.

Memang sama sekali tak ada gunanya mereka ikutan menunggu disana.

•••

Mari lupakan masalah lahiran yang sangat kacau tempo hari. Sekarang Woojin dan Hyungseob sudah sibuk mengurusi bayinya dirumah. Omong-omong, terberkatilah Yehyun dengan segala kemampuannya untuk menebak sesuatu. Bayi mereka benar perempuan—namanya Heuin—, dan Hyungseob sempat kesal diawal-awal karena hal itu.

Woojin dan Hyungseob sedang enak-enak tidur dini hari itu, mereka baru bisa tidur nyenyak dua jam yang lalu saking rewelnya Heuin. Tapi tiba-tiba Hyungseob terbangun mendengar putrinya menangis cukup keras. Ia mendesah frustasi kemudian menggoyangkan tubuh suaminya agar terbangun.

"Woojin... anakmu nangis lagi!" katanya setengah kesal.

"Hhh..." Woojin menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya dan berbalik memunggungi sang istri.

"Woojin!" Bentak Hyungseob.

"Aku mau tidur."

Hyungseob memutar bola matanya malas. Ia yakin seratus persen jika suaminya ini adalah seorang kriminal gila di kehidupan sebelumnya. Kenapa juga ia bisa setega itu membiarkan anaknya menangis dini hari seperti ini dan malah melanjutkan tidur?! Hyungseob menendang punggung lelaki itu sebelum akhirnya berlalu dari sana untuk menghampiri keranjang tidurnya Heuin.

"Haduh, cup cup cup... Kenapa bangun, hm? Ada yang menganggumu?" Ia menggendong Heuin dengan penuh kehati-hatian kemudian menimang-nimangnya supaya terdiam.

"Ayo tidur lagi, ibu juga mau melanjutkan tidur, sayang..."

Hyungseob menguap masih sambil menimang-nimang Heuin yang berangsur-angsur mulai berhenti menangis. Ia tersenyum memandangi putrinya itu. "Wah, kau harus tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan juga kuat nanti. Hehe."

Entah karena mengerti atau tidak, tapi anak itu tersenyum kemudian. Membuat Hyungseob juga ikutan tersenyum makin lebar.

Heuin punya mata yang indah seperti Hyungseob, dan pipi gembul seperti Woojin ketika masih kecil dulu. Rambutnya bisa dibilang tebal untuk ukuran bayi yang belum lama lahir. Dia sangat lucu dan menggemaskan.

Wah... cuma karena seorang bayi Hyungseob yang bawel dan tukang marah-marah itu jadi melembek seperti perempuan yang sebenarnya.

•••

Hyungseob masih repot menyiapkan sarapan saat itu, Woojin menemani Heuin di ruang tengah sambil main PS. Tapi kemudian terdengar suara ribut-ribut memasuki rumah.

"Wahaa~ ada Heuin!"

"Ya ampun lucunya!"

"Sepertinya kau sedang diabaikan oleh ayahmu ya? Sini sama oppa!"

Hyungseob yang mendengar itu dari dapur langsung berdecak kesal. Ini masih pagi kenapa juga Woojin sudah mengundang teman-temannya?

"JANGAN MACAM-MACAM DENGAN ANAKKU YA KALIAN!?" ancamnya dari sana.

Dan di tempatnya, Haknyeon, Jihoon dan Yehyun kompak menjawab sambil tersenyum lebar, "siap mami!"

Woojin langsung tertawa sendiri mendengarnya.

Selesai dengan urusannya di dapur, Hyungseob langsung menuju ke ruang tengah dan menjauhkan Heuin dari tiga om-om yang daritadi mengerubunginya itu.

"Aku menyuruhmu menjaga Heuin kenapa malah main game sih!?" omel Hyungseob pada Woojin yang masih asik sendiri. Haknyeon, Jihoon, Yehyun mengangguk, setuju dengan si mami.

"Sana sarapan!"

"Siap mami!" —kalian harusnya tau siapa.

"Bukan kalian!"

"Iya bawel. Ayo geng!" Woojin dan tiga sohibnya itu berlalu dari sana sedangkan Hyungseob cuma bisa geleng-geleng.

Anaknya cuma satu, tapi kalau tiga manusia itu datang ke rumah kenapa rasanya seperti ia sedang mengurus lima anak? Hyungseob penasaran dosa apa yang telah dirinya perbuat di kehidupan sebelumnya sampai harus menghadapi ini.

•••

"Mami, Heuin menangis apa yang harus aku lakukan?" tanya Haknyeon tiba-tiba. Ia dan Jihoon kebingungan ketika Heuin yang tengah diajaknya bercanda malah menangis.

Woojin yang saat itu sedang main game dengan Yehyun langsung berhenti dan menggendong anaknya. "Hah, kalian ini bagaimana sih kenapa malah membuatnya menangis!?"

"Tadi Haknyeon menciumnya dan tiba-tiba dia menangis." Lapor Jihoon pada papinya Heuin.

Woojin mendengus kesal dan mencoba mendiamkan anaknya. "Jangan menangis sayang, papi tau om Haknyeon memang mengerikan. Cup cup cup..."

"Apa-apaan!?"

"Diam!" tegur Woojin pada Haknyeon. Jihoon terkekeh.

"Hah... kemana mamimu ya? Katanya cuma mau pergi beli cemilan..." gumam Woojin sambil mencari ponselnya kemudian menelepon sang istri.

"Kau dimana? Heuin menangis tau!" katanya begitu teleponnya diangkat.

"Aku sedang beli camilan. Tapi kemudian aku bertemu Daehwi, hehe, kita ngerumpi sebentar."

"Sebentar apanya! Sudah sejam lebih kau keluar. Cepat pulang aku sama sekali tak berpengalaman menghenikan tangisannya."

"Ya sebentar! Ini aku sedang jalan. Dikiranya aku terbang apa!? Rasakan! Begitulah yang selalu aku lakukan saat kau tak mau mendiamkan Heuin!"

"Haish..." Woojin menutup teleponnya dan menimang-nimang Heuin yang masih menangis.

"Ayolah Heuin, diam ya? Kau harus menurut pada papimu ini, ayo diam..."

Melihat temannya tampak memprihatinkan seperti itu, Haknyeon, Jihoon dan Yehyun mendekat dan mencoba mendiamkan Heuin juga.

"Ayo berhentilah menangis Heuin, cup cup... ciluk ba!" —Yehyun.

"Ciku ciku ciku~ Heuin yang lucu berhentilah menangis~ ada oppa disini~" —Jihoon.

"Liat oppa, Heuin. Oppa sangat tampan, 'kan? Dan akan lebih tampan lagi kalau kau berhenti menangis." —Haknyeon.

Dan bukannya diam, tangisan Heuin malah bertambah keras. Sampai rasanya Woojin juga mau ikutan menangis.

TBC

•••

hadu senyam-senyum sendiri bayangi mami-papi ngurusin Heuin :33 ditambah gengnya Woojin yang dodolnya keterlalun XD maaf ya kalian para pasukan 99 line, aku nistakan. hghghg XD

dan setelah mendapat nasehat dari temenku kemaren, aku akhirnya bikin karakter sendiri buat anaknya. hehe, mianhaeyong buat yang pengen anaknya member lain :33

keju-kejuannya besok lagi yhaa, hghghg XD

dan terakhir, review juseyongg~