SHOOT

Chapter 2 :

Siapa Dia?

.

.

.

.

.

.

.

- Kediaman Keluarga Kim, Ilsan-gu -

"Ugh..."

Erangan terdengar dari arah kamar Namjoon. Erangan tersebut berasal dari pemuda yang ditemukan oleh Namjoon beberapa hari yang lalu.

Namjoon tertidur duduk di kursi di samping tempat tidur tempat pemuda itu berbaring. Wajahnya terpapar oleh sinar mentari pagi, membuatnya mengerutkan keningnya. Perlahan, ia bergerak bangun. Ia membenarkan posisi duduknya dan mengusap matanya yang berair. Namjoon sedang menguap lebar saat dirinya mendengar sebuah erangan lagi.

"Nggh..."

Namjoon buru-buru membuka matanya lebar-lebar dan mengecek kondisi sang pemuda yang terbaring. Pemuda itu mencoba menggerakkan tangannya perlahan. Raut wajah pemuda itu berkerut, seperti menahan rasa sakit saat ia menggerakkan tangannya.

Kelopak mata pemuda itu akhirnya terbuka. Pemuda itu mengerjapkan matanya, mencoba mengatur cahaya yang berangsur-angsur memasuki pupil matanya. Setelah sekian lama, akhirnya Namjoon dapat melihat netra pemuda dihadapannya itu. Iris pemuda itu berwarna hitam pekat seperti pakaian yang dipakai pria itu tempo hari ketika Namjoon menemukannya.

Bibir pria itu perlahan bergerak membuka, seakan mencoba mengatakan sesuatu.

"Aa-air..."

Namjoon mencoba menangkap apa yang dikatakan oleh pria tersebut. Sesaat, ia akhirnya tersadar akan apa yang pemuda bersurai hitam itu coba katakan. Namjoon buru-buru mengambil gelas berisi air putih yang tersedia di atas nakas di samping tempat tidur.

Setelah memegang gelas ditangannya, Namjoon bergerak membantu pria itu untuk duduk. Pria itu terus-menerus merintih saat mencoba untuk duduk.

Setelah memastikan pria tersebut duduk dan bersandar ke kepala tempat tidur, Namjoon kemudian menyodorkan gelas berisi air putih tadi kehadapan pria itu. Ia membantu pria itu menegak minumannya.

"Pelan-pelan saja..." ucap Namjoon saat pria itu mencoba meneguk air putih dengan rakus.

Setelah pemuda itu menghabiskan air putih di dalam gelas, Namjoon langsung menaruh kembali gelas tersebut ke atas nakas.

Namjoon kemudian memperhatikan pria tersebut. Pria berambut hitam itu memejamkan matanya dan terlihat sedang mencoba mengatur napasnya. Terkadang, raut pria itu mengernyit saat ia merasakan sakit di tubuhnya. Namjoon dengan sabar menunggu hingga pria itu membuka matanya kembali. Menunggu kesempatan untuk melemparkan pertanyaannya yang telah menumpuk sejak lama.

Setelah sekitar lima menit berlalu, akhirnya pria itu kembali membuka matanya. Namjoon melihat pria itu memandang ke arahnya. Namjoon tersenyum kikuk.

"Syukurlah kau akhirnya sadar..." ujar Namjoon pelan.

Pria itu masih terdiam, masih memandangi Namjoon dengan mata sipitnya.

Namjoon akhirnya kembali berbicara lagi, "Umm.. apa kau, merasa baik?"

Pria itu kembali tidak menjawab pertanyaan Namjoon. Namjoon mengutuk dirinya, merasa bodoh karena telah melontarkan pertanyaan tidak berguna seperti itu. Pemuda desa itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Ah maaf, sudah pasti kau merasa tak baik karen-"

"I-ini.. dimana..?"

Suara serak pemuda berambut hitam itu memotong ucapan Namjoon. Namjoon seketika mengatupkan mulutnya.

"Ah, maaf... Aku berbicara terlalu bany-"

"Dimana?"

Pemuda yang terluka itu kembali memotong perkataan Namjoon, membuat Namjoon menjadi bungkam. Pria desa itu menuduk, kemudian kembali menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Maaf.. ini di Ilsan-gu..." jawab Namjoon akhirnya.

Sesudah Namjoon melontarkan jawabannya, pemuda yang terluka itu kemudian mengalihkan pandangannya ke ruangan di sekelilingnya. Sorot matanya berhenti pada jendela berukuran sedang yang berada di samping lemari. Dibalik kaca jendela itu, terlihat sebuah pohon apel besar dan rindang yang berdiri kokoh di atas hamparan rumput berwarna hijau.

Namjoon ikut memperhatikan sorot mata pemuda itu. Ia memperhatikan pemuda berkulit pucat itu terdiam, memandangi pemandangan di luar jendela. Sorot matanya seakan kosong ketika memperhatikan pemandangan di luar sana.

"Um, apa kau.. baik-baik saja?"

Namjoon mencoba mengembalikan fokus pemuda itu kepadanya. Akan tetapi, pemuda itu tidak menggubris perkataannya. Pria itu masih tetap dengan pandangan kosongnya. Bahkan, pria itu terlihat seperti tidak mendengar pertanyaan Namjoon.

"Um, agassi.. maaf.. apa kau baik-baik saja?" Namjoon kembali mengulang pertanyaannya kembali. Akan tetapi keheningan kembali membalas Namjoon. Pria itu masih sibuk memandangi pemandangan di luar jendela.

"Agassi?" panggil Namjoon sekali lagi.

Hening.

Namjoon menghela napasnya. Merasa lelah karena diabaikan terus-menerus. Ia baru akan bergerak untuk menepuk pundak pemuda itu saat tiba-tiba terdengar suara gonggongan anjing. Namjoon reflek mencari Rapmon, anjingnya. Berasal darimana lagi gonggongan anjing jika bukan berasal dari Rapmon?

Akhirnya ia menemukan anjing berbulu putih itu berdiri di bawah nakas meja. Ekor Rapmon bergerak ke kiri dan ke kanan sembari anjing itu menggonggong lagi.

Namjoon terkekeh melihat tingkah anjing satu-satunya itu. "Hei, kemarilah," panggil Namjoon akhirnya kepada Rapmon. Anjing putih itu menurut, kemudian datang menghampiri Namjoon. Namjoon kemudian menggendong anjing yang berukuran kecil itu. Namjoon mengelus bulu-bulu halus milik Rapmon sambil tersenyum. "Anjing pintar," gumam Namjoon.

Namjoon kemudian memutar tubuhnya lagi kearah pemuda tadi. Masih dengan menggendong Rapmon, mata Namjoon dapat menangkap bahwa atensi pemuda dihadapannya kini berpindah dari jendela kepada Rapmon. Pemuda pucat itu menatap Rapmon intens.

"Guk guk!"

Seakan mengerti bahwa dirinya sedang diperhatikan, Rapmon kembali menggonggong. Kini Rapmon malah balas memandang ke arah pemuda tadi.

Namjoon tersenyum, ia kemudian berjalan mendekati pemuda itu.

"Hei... Apa kau suka anjing?"

Namjoon akhirnya bertanya kepada pemuda tersebut. Pemuda itu kemudian mengangguk singkat dengan wajah datarnya. Namjoon tersenyum tipis, "Ini anjingku, Rapmon namanya," ujarnya.

Pria tadi masih memandangi Rapmon. Namjoon mencoba menggunakan kesempatan ini untuk mengenalkan dirinya. Mumpung atensi pria itu sedang fokus padanya, pikir Namjoon.

"Ah, ngomong-ngomong, namaku Namjoon," ucap Namjoon memperkenalkan diri, "Kim Namjoon lebih tepatnya," lanjutnya lagi.

Pria tadi kini memandang ke arah Namjoon. Namjoon berpikir bahwa pria itu mungkin saja akan membalasnya dengan memberitahu namanya. Setidaknya, jika Namjoon mengetahui nama lengkap pria itu, maka hal ini akan mempermudah Namjoon untuk menemukan sanak saudara pria tersebut.

Akan tetapi, jawaban yang di terima Namjoon masih sama. Keheningan masih setia menjawabnya.

Namjoon menghela napasnya. Rasanya hal ini tidak akan mudah. Pria itu terus saja enggan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Namjoon.

"Joon-ah?"

Suara ibu Namjoon membuat Namjoon memindahkan atensinya. Namjoon melihat ibunya yang berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka sedikit.

"Eomma? Ada apa?" Namjoon berjalan menghampiri ibunya. Sebelumnya, ia membiarkan Rapmon turun dari gendongannya. Anjing putih itu langsung melesat menuju ke bawah tempat tidur Namjoon.

Mrs. Kim tersenyum tipis, "Eomma baru ingin membangunkanmu," ujarnya lembut.

Mrs. Kim baru saja mendorong pintu kamar Namjoon saat irisnya menangkap sesosok pemuda yang duduk bersandar di kepala tempat tidur Namjoon.

"Ah! Dia sudah sadar?" Mrs. Kim memandang anaknya dengan tatapan bertanya.

Namjoon mengangguk, "Ne, eomma. Aku baru ingin memberitahu eomma tadi," balas Namjoon.

Mrs. Kim akhirnya melangkah masuk kedalam kamar Namjoon. Ia kemudian mendekat ke arah pemuda itu. Mrs. Kim tersenyum lembut kepada pemuda itu. "Syukurlah kau sudah sadar," ujar Mrs. Kim lembut.

"Apakah ka-"

"Eomma."

Namjoon memotong cepat perkataan ibunya. Mrs. Kim memandang Namjoon dengan pandangan bertanya. "Ne?"

Namjoon berdehem singkat, "Aniyo, eomma. Hanya saja, dia masih lemas. Dia masih belum bisa membalas terlalu banyak perkataan kita eomma. Jadi lebih baik kita tidak terlalu banyak bertanya kepadanya," ucap Namjoon, mencoba menjelaskan.

Mrs. Kim kemudian menganggukkan kepalanya cepat, "Ah, begitu rupanya."

"Ne eomma," balas Namjoon.

Mrs. Kim memandang iba kearah pemuda itu, kemudian kembali memandang putra satu-satunya itu.

"Kalau begitu, eomma akan membuatkan kalian makanan untuk sarapan terlebih dahulu Namjoon-ah. Eomma tinggal ne?"

Namjoon mengangguk cepat, "Ne eomma."

.

.

.

.

.

Namjoon akhirnya melangkah keluar dari kamarnya setelah 15 menit berdiam-diaman dengan pemuda yang ditolongnya itu. Ia merasa bosan. Bagaimanapun, Namjoon telah mencoba membangun percakapan dengan pemuda itu. Tetapi ia selalu saja diabaikan.

Namjoon paham bahwa pria itu mungkin masih sulit untuk berbicara karena tenggorokannya yang kering. Atau mungkin karena terlalu lemas dan masih pusing karena baru saja sadarkan diri. Tapi, tidak bisakah pria itu menjawab pertanyaannya? Atau barangkali menyebut namanya saat Namjoon bertanya mengenai nama pria itu?

Merasa jengah, ia akhirnya bergegas menuju dapur. Disana, ia disambut oleh ibunya yang masih sibuk memasak sarapan untuk pagi ini.

"Ada apa Namjoon-ah?" tanya Mrs. Kim saat ia melihat putranya berjalan masuk ke dalam dapur.

"Ani, eomma. Aku hanya ingin minum saja," balas Namjoon yang sudah memegang segelas air putih hangat.

"Ingin eomma buatkan teh, hmm?"

Namjoon tersenyum tipis mendengar tawaran ibunya tersebut, "Ne eomma, terima kasih."

*BRUK*

Namjoon baru saja meneguk habis air putihnya saat ia mendengar suara gedebuk yang lumayan kencang. Asal suaranya berasal dari arah kamarnya.

"Itu-"

"Biar aku saja," potong Namjoon lagi saat Mrs. Kim baru akan berbicara. Ibunya memandang Namjoon dengan tatapan khawatir.

Namjoon buru-buru meletakkan gelasnya, ia kemudian berlari cepat menuju kamarnya sendiri. Disana, ia akhirnya menemukan sumber suara gedebuk tersebut. Di lantai, ia melihat pemuda itu kepayahan mencoba untuk bangkit berdiri.

Buru-buru Namjoon menghampiri pemuda itu dan membantunya berdiri.

"Akh..."

Pemuda itu meringis saat Namjoon tak sengaja menyentuh luka yang ada di punggungnya.

"Ah, maaf!" Namjoon buru-buru meminta maaf.

Kebingungan karena ia tahu pemuda itu terluka di sekujur badannya, akhirnya Namjoon membantu pemuda itu dengan menyelipkan tangannya di pinggang pria tersebut. Namjoon merasakan tubuh pria itu menegang saat tangan Namjoon dengan erat melingkar di pinggang pria tersebut.

"Maaf, aku takut akan menyentuh lukamu jika aku merangkul pundakmu," jelas Namjoon kepada pemuda itu.

Pemuda itu terdiam, membiarkan Namjoon membantunya menyeimbangkan badannya.

"Kau ingin kemana?"

Namjoon akhirnya bertanya.

Pria itu menunduk, masih diam. Namjoon baru saja akan mengulang pertanyaannya, namun ia urungkan setelah pendengarannya menangkap suara serak pemuda itu.

"Ka-kamar man-mandi..." jawab pemuda itu dengan suara tercekat.

Namjoon mengangguk paham. Ia kemudian membantu pria itu berjalan hingga ke kamar mandi. Namjoon baru saja berniat untuk membantu pria itu di dalam kamar mandi saat pemuda itu berujar, "Aku.. bi-bisa sendiri..."

Namjoon akhirnya mengangguk paham. Ia kemudian meninggalkan pria itu sendirian di kamar mandi. Namjoon menunggu di luar pintu kamar mandi yang sudah terkunci dari dalam. Dirinya menunggu dengan sabar hingga bunyi 'Cklek' terdengar. Setelah pintu kamar mandi terbuka, Namjoon kembali membantu pemuda itu berjalan hingga sampai ke tempat tidur lagi.

Setelah memastikan pemuda itu sudah duduk bersandar lagi di atas tempat tidur, Namjoon akhirnya berujar, "Sebentar, aku akan membawakanmu makanan." Setelah mengucapkan itu, Namjoon pergi meninggalkan pemuda itu. Ia bergegas ke dapur.

Untunglah, Mrs. Kim telah selesai memasak semua makanan untuk pagi ini. "Joon-ah, tadi kenapa?" Mrs. Kim bertanya dengan nada cemas kepada Namjoon.

Namjoon menggeleng singkat, "Gwaenchana eomma. Tadi pria itu mencoba ke kamar mandi, tapi sepertinya ia masih lemas hingga akhirnya dia terjatuh," jawab Namjoon menjelaskan.

Mrs. Kim menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. "Astaga... apa dia baik-baik saja?"

Namjoon mengangguk, "Ne eomma, dia tidak apa-apa. Eomma tenang saja," ucap Namjoon sambil tersenyum tipis. Meyakinkan ibunya itu.

"Ah, eomma sudah selesai memasak kan? Aku ingin membantu pria itu agar makan terlebih dahulu. Supaya dia bisa beristirahat lagi setelah selesai makan," ujar Namjoon lagi.

Mrs. Kim mengangguk, "Ini sudah eomma buatkan dakjuk untuk pemuda itu. Bantu ia makan ne," ujar Mrs. Kim sambil menunjuk semangkuk bubur ayam ala Korea yang terletak di atas meja makan.

Namjoon mengangguk singkat, "Tentu saja eomma," ujar Namjoon. Ia kemudian membawa mangkuk berisi bubur ayam tersebut dan segera pergi ke dalam kamarnya lagi. Tak lupa, ia juga mengambil segelas air hangat untuk minum pemuda itu.

Sesampainya di kamar, ia meletakkan mangkuk dan gelas itu di atas nakas di samping tempat tidur. Namjoon kemudian menarik sebuah kursi. Ia meletakkan kursi itu di samping tempat tidur. Ia dapat merasakan atensi pemuda itu berada padanya.

Namjoon kemudian mengambil kembali mangkuk yang berisi bubur ayam tadi, kemudian ia tersenyum tipis ke arah pemuda dihadapannya.

"Umm, kau pasti lapar kan? Aku suapi ya?" tawar Namjoon kepada pemuda itu.

Namjoon baru saja hendak mengarahkan sendok ke mulut si pemuda saat pemuda itu menggeleng. Ia akhirnya menaruh kembali sendok tersebut kedalam mangkuk.

"Eh. Apa kau tidak suka bubur? Tapi ini sehat unt-"

"A-aku bisa m-makan sendiri..." ujar pemuda itu terbata.

Namjoon menatap tak yakin ke arah pemuda itu. Ia tidak yakin pria itu cukup kuat untuk makan sendiri.

"Kau yakin?"

Pria itu mengangguk singkat.

Namjoon akhirnya memberikan mangkuk berisi bubur itu kepada pria itu. Baru Namjoon akan menarik tangannya untuk membiarkan pemuda itu memegang mangkuk sendirian, mangkuk tersebut hampir jatuh dari tangan pemuda itu. Untunglah Namjoon buru-buru menahan agar mangkuk itu tidak tumpah.

Namjoon menghela napasnya, "Kau yakin mau makan sendiri, eh?" tanya Namjoon sambil menatap pria di hadapannya itu. Pria itu menggigit bibir bawahnya tertahan.

"Biar aku suapi saja ya? Kau pasti masih lemas karena baru sadarkan diri..." desah Namjoon.

Melihat tidak ada pergerakan dari pria tersebut, akhirnya Namjoon menarik kembali mangkuk berisi bubur tersebut. Namjoon mengarahkan sendok yang berisikan bubur tersebut ke mulut pria itu. Untunglah pria itu mau membuka mulutnya dan menerima suapan dari Namjoon.

Selama kurang lebih 10 menit Namjoon menyuapi pemuda itu. Selama itu pula tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka. Namjoon membiarkan pemuda dihadapannya makan dengan tenang.

Namjoon baru akan menyuapi pemuda itu saat pemuda itu menggelengkan kepalanya. Mengerti bahwa itu merupakan kode bahwa ia sudah kenyang, Namjoon akhirnya menaruh mangkuk ke atas nakas.

Ia kemudian mengambil segelas air hangat yang tadi ia bawa. Namjoon kembali membantu pria itu minum. Setelah pemuda itu selesai minum, Namjoon akhirnya bangkit berdiri dan membawa gelas dan mangkuk yang sudah hampir kosong.

"Baiklah, kau bisa beristirahat lagi. Aku akan membangunkanmu lagi nanti sore," ujar Namjoon.

Pemuda itu hanya diam, tidak menanggapi perkataan Namjoon. "Kau bisa memanggilku jika perlu sesuatu," tambah Namjoon pada akhirnya. Setelah berkata demikian, Namjoon akhirnya keluar dari kamarnya.

.

.

.

.

.

Hari sudah sore, waktu menunjukkan pukul 4.15 PM saat ini. Namjoon baru saja kembali dari kebun dan peternakan keluarga Kim. Ia menyapa ibunya yang duduk di sofa ruang tamu. Sedang merajut entah apa itu.

"Joon-ah, mandilah terlebih dahulu. Eomma ingin meminta bantuanmu untuk menemani eomma mengganti perban pemuda itu," ujar Mrs. Kim yang masih sibuk merajut sesuatu di pangkuannya itu.

Namjoon menghentikan langkahnya, ia kemudian melihat ke arah ibunya itu. Setelah beberapa saat, Namjoon akhirnya membalas perkataan ibunya itu.

"Tidak usah eomma, biar aku saja yang mengganti perban pemuda itu. Eomma nanti langsung memasak saja," balas Namjoon.

Mrs. Kim akhirnya mengangkat kepalanya dan memandang ke arah putranya.

"Eh, benar tidak apa-apa? Kau bisa sendiri Joon-ah?" tanya Mrs. Kim lagi.

Namjoon mengangguk, "Ne. Aku akan mengganti perbannya setelah aku selesai mandi eomma," ucap Namjoon. Mrs. Kim akhirnya balas mengangguk, "Ya sudah, perbannya ada di kotak P3K ya."

Setelah mengiyakan perkataan ibunya, Namjoon pun bergegas mandi. Ia mengambil pakaiannya di dalam kamarnya. Namjoon membuka pintu kamarnya perlahan. Disana, ia melihat bahwa pemuda itu masih terlelap.

Usai mengambil pakaiannya, Namjoon akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.

Sekitar 15 menit Namjoon mandi dan berganti baju. Ia kemudian melangkah keluar dari kamar mandi. Tak disangka, ia disambut oleh tatapan pemuda itu.

"Ah, kau sudah bangun... Apa aku membangunkanmu?"

Lagi. Pertanyaan Namjoon tidak di balas oleh si pemuda. Pemuda itu hanya menatapnya datar. Namjoon akhirnya menghela napasnya. Pasrah.

"Ngomong-ngomong, karena kau sudah bangun. Aku akan mengganti perbanmu ya," akhirnya Namjoon berucap demikian.

Namjoon pergi keluar dan kembali dengan membawa kotak P3K. Ia kemudian langsung membantu pemuda itu untuk mengganti perbannya. Ia membuka kaos miliknya yang dipakai oleh pemuda itu dan mulai melepas perban lama yang melekat di tubuh sang pemuda.

Tak banyak kata yang terucap. Namjoon bekerja dalam diam. Sesekali terdengar rintihan dari sang pemuda saat ia merasakan sakit akibat lukanya.

Usai mengganti perban untuk tubuh bagian atas sang pemuda, Namjoon beralih ke luka di kaki pemuda tersebut. Ia membuka perban yang melilit di kaki sang pemuda kemudian menggantinya dengan yang baru.

Setelah selesai mengganti semua perban pemuda tersebut, Namjoon akhirnya duduk di kursi yang memang terletak di samping tempat tidur.

Namjoon menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ya, ini adalah kebiasaannya setiap kali ia merasa gugup. Namjoon ingin mengajak pemuda itu berbicara, ingin menanyainya dengan banyak pertanyaan. Tapi ia selalu dijawab oleh keheningan sang pemuda.

"Umm.. maaf, kurasa tadi pagi aku sudah mengenalkan diriku. Apa kau tak mau memberi tahuku namamu?" tanya Namjoon pada akhirnya.

Pemuda itu memandang Namjoon, kemudian dia mengalihkan pandangannya. Menatap selimut yang menutupi luka di kakinya.

Namjoon menghela napas. 'Mengapa begitu sulit untuk mengetahui nama pemuda ini, oh Tuhan...' Namjoon membatin.

.

.

.

.

.

Yoongi menghela napasnya. Ia heran dengan pemuda yang menolongnya itu. Siapa pemuda itu? Mengapa pemuda itu bersikeras untuk menolongnya?

Pemuda berkulit pucat itu melirik kearah pria yang mengenalkan dirinya sebagai Namjoon itu. Kim Namjoon. Yoongi mengulang nama pria tersebut di dalam hatinya.

Dari sudut matanya, Yoongi dapat menangkap bahwa pemuda desa itu kini tengah frustrasi. Ya, frustrasi karena Yoongi terus-menerus mengabaikan semua pertanyaan dan perkataan Namjoon.

Yoongi bukannya tidak mau menjawab pertanyaan Namjoon. Hanya saja, ia tidak mau pemuda itu untuk membantunya. Ia tidak mau pemuda itu terlibat bahaya karena menolongnya. Ya, ia tidak mau melibatkan keluarga Namjoon ke dalam kehidupannya yang berbahaya.

Ia dapat merasakan bahwa keluarga Namjoon merupakan keluarga baik-baik. Keluarga kecil baik-baik yang hidup di desa kecil di Ilsan-gu. Dia tidak ingin menghancurkan keluarga kecil itu.

Yoongi menangkap Namjoon yang menghela napas. "Hei, apa kau sungguh-sungguh tidak ingin menjawab pertanyaanku? Aku hanya bertanya tentang namamu, oke? Aku berjanji aku bukanlah orang jahat," Namjoon berujar demikian. "Aku hanya ingin membantumu untuk menemukan keluargamu. Mereka pasti mengkhawatirkanmu," lanjut Namjoon lagi.

Yoongi mendesah, ia tahu Namjoon bukan orang jahat. Yoongi-lah orang jahatnya disini. Dia seorang pembunuh bayaran. Dan lagi keluarga? Min Yoongi sudah lama kehilangan keluarganya. Ia tidak pernah memiliki keluarga. Ia terbiasa hidup sendirian. Tidak pernah ada kosakata keluarga yang khawatir padanya dalam kamus hidupnya.

Yoongi melirik Namjoon. Ia dapat melihat pemuda desa itu sudah pasrah jika Yoongi mengabaikan pertanyaannya lagi. Mata Yoongi menangkap Namjoon yang akhirnya bergerak bangkit dari tempat duduknya. Sekilas, ia dapat melihat raut kecewa dari pemuda itu.

Menghela napasnya berat, akhirnya Yoongi membuka suaranya.

"Min Yoongi..."

Yoongi berujar dengan suara seraknya. Suaranya terdengar pelan, entah Namjoon dapat mendengarnya atau tidak. Tetapi setelah melihat Namjoon yang berhenti bergerak, ia yakin pemuda itu dapat mendengarnya.

"Min.. Yoongi?"

Yoongi dapat mendengar Namjoon mengulang namanya lagi. Sudah lama sekali ada yang memanggil Yoongi dengan menyebut nama lengkapnya. Ya, semasa hidup Yoongi, ia lebih banyak dipanggil sebagai 'August', bukan sebagai Min Yoongi.

"Ah baiklah, aku akan mencoba mencari keluargamu besok Yoongi-ssi..."

Yoongi dapat mendengar nada suara bahagia dari ucapan Namjoon. Akan tetapi, Yoongi buru-buru menggeleng.

"Tidak.. perlu..." ucap Yoongi dengan suara tertahan.

Namjoon menatap Yoongi dengan pandangan bingung.

"Ne?"

Yoongi menggeleng sekali lagi, "Tidak perlu... Aku tidak memiliki keluarga..." ucap Yoongi terpotong-potong.

Namjoon menatap Yoongi kebingungan.

"Eh? Maksudmu?"

Yoongi mendesah berat, "Keluargaku... Semua keluargaku sudah mati..." ujar Yoongi pelan.

.

.

.

.

.

.

.

to be continued

Author's note :

HAPPY NAMGIVERSARY!!