Tittle: Better Than I Know Myself
Chapter: 3
Casts: Kim Jongin, Oh Sehun, Park Chanyeol, and Huang Zitao
Author: kimjongkai-ssi (Rin)
Warning: typos, error!plot, and too much drama
.
.::HAPPY READING::.
.
Malam dengan rintik-rintik hujan adalah hal yang sangat menenangkan. Suasananya yang terkesan damai dan sedikit sejuk, juga bunyi air hujan yang seolah menjadi lagu pengantar tidur, merupakan kesukaan Jongin. Ia akan tidur nyenyak dengan sendirinya, dan ditemani mimpi indah semalaman. Walaupun terkadang telapak kaki Jongin seringkali terasa beku saat pagi, namja itu tetap menyukai malam-malam seperti ini.
Jongin bergelung di dalam selimut tebalnya. Beberapa kali ia menguap, tapi sepertinya ia belum cukup mengantuk untuk tidur, buktinya ia masih saja terjaga. Namja itu sengaja membuka gorden jendelanya, jadi ia bisa dengan leluasa memandangi hujan. Berharap itu akan membuatnya cepat tertidur. Karena jujur saja, tubuhnya lelah sekali, seharian ini ia sibuk membereskan kamar-kamar tamu dan juga mengelap puluhan koleksi barang pecah belah milik Nyonya Oh.
Bibi Lee bilang jika keluarga majikan mereka dari Cina akan datang dan menginap besok lusa. Karena itulah Jongin harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Bibi Lee memang ingin membantunya, tetapi Jongin merasa tak enak membiarkan wanita berumur sepertinya melakukan pekerjaan yang melelahkan, jadi akhirnya Jongin menyelesaikan semuanya sendirian.
Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul sebelas. Jongin mengerang, awalnya ia berniat tidur setidaknya pada pukul sembilan. Karena besok ia harus bangun pagi untuk membantu Paman Kwon mengurusi taman. Namja itu merutuk kecil, dan akhirnya, memutuskan untuk membuat susu hangat di dapur.
Langkah Jongin benar-benar pelan. Matanya setengah tertutup, dan ia berkali-kali menguap. Ia bahkan hampir menumpahkan air panas dan memecahkan gelas, mengantuk dan kelelahan sepertinya membuat Jongin menjadi agak tak fokus.
Susu hangat membuat Jongin merasa lebih baik, walaupun rasanya sedikit terlalu manis, tapi itu tak begitu masalah. Namja itu mencuci gelas, dan berniat kembali ke kamarnya sesegera mungkin. Baru saja Jongin hendak membuka pintu dapur, ia sayup-sayup mendengar suara seseorang, seorang wanita.
Jongin membuka pintu dengan berhati-hati dan mengintip. Ia bernafas lega melihat sosok cantik Nyonya Oh berjalan bersisian dengan Sehun. Mungkin mereka pulang bersama menggunakan mobil Nyonya Oh, karena Jongin sama sekali tidak mendengar suara bising mobil Mustang milik Sehun barusan.
Sungguh, Jongin benar-benar ingin keluar dari balik pintu dan menyapa keduanya, tetapi namja itu malah kembali merapatkan pintu, menyembunyikan badannya dan hanya mengintip, karena Nyonya Oh membentak Sehun dengan nada marah. Jongin tidak ingin merusak 'momen' mereka sekarang. Akan sangat canggung untuknya jika tiba-tiba berada ditengah-tengah suasana menegangkan antara anak dan ibu tersebut.
Tangan Nyonya Oh berusaha menggapai Sehun, menghentikan puteranya itu untuk menjauhinya. Sehun berhenti. Ia menghela nafas sebentar sebelum berbalik, dan kemudian kembali berhadapan dengan ibunya.
Dari tempat Jongin berdiri, ia bisa melihat jika Nyonya Oh terlihat agak kesal dengan sikap Sehun. Namun ia tak bisa melihat wajah Sehun, hanya punggung namja itu yang bisa dilihatnya.
"Kita sudah membicarakan ini ribuan kali, eomma." pegangan Nyonya Oh di lengan atas Sehun mengerat. Wanita itu memandanginya dengan tatapan memohon. Jika yang berada diposisi Sehun sekarang adalah Jongin, bisa dipastikan Jongin akan luluh karenanya. "Bisakah kau sekali saja tidak keras kepala, dan memikirkan semuanya, Sehun?"
Sehun memijat pelipisnya dengan tangan kanannya. "Aku sudah memikirkan semuanya berulang kali." namja itu kemudian melepaskan tangan Nyonya Oh dari lengannya. Kemudian memegangi kedua bahu sempit wanita itu. "Jawabannya akan selalu sama. Berapa kali pun aku berpikir."
Nyonya Oh tidak memberi respon apapun selama beberapa saat. Semuanya hening. Terlalu hening hingga Jongin bisa mendengar suara hujan samar-samar.
Jongin sudah akan keluar dari persembunyiannya, bertingkah seolah ia baru saja membuat sesuatu untuk perutnya yang tiba-tiba lapar di malam hari, dan seolah tak terjadi apapun. Tetapi sekali lagi, ia mengurungkan niatnya ketika Nyonya Oh mencengkeram bagian depan kemeja yang Sehun kenakan. Matanya memerah dan dipenuhi dengan air mata. Sepertinya topik yang mereka bicarakan lebih sensitif dibanding yang Jongin kira.
"Eomma sudah berjanji untuk menjaganya, seperti anak sendiri. Eomma berjanji tepat sebelum ibunya meninggal. Tak bisakah kau mengerti? Sekali ini saja, eomma mohon." Sehun menangkup wajah ibunya. Lalu mengusap air matanya dengan ibu jarinya. "Aku sangat mengerti. Tapi, eomma, seharusnya eomma juga mengerti jika aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Mata Nyonya Oh yang masih mengeluarkan air mata dan terlihat memerah menatap tepat ke mata Sehun. "Berikan eomma satu alasan agar bisa mengerti kenapa kau tidak pernah setuju dengan ini?"
"Jongin masih memiliki ayah, kan?"
Tubuh Jongin menegang ketika namanya keluar dari bibir Sehun. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Jongin benar-benar tidak mengerti. Apa ia melakukan sesuatu yang salah sebelum ini?
"Kita bahkan tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau tidak!" pekik Nyonya Oh marah. Sehun mengalihkan pandangannya dari wajah ibunya. "Jika aku bisa menemukan ayahnya, bagaimana?"
"Berpikirlah dengan benar, Sehun. Apa begitu salah bagimu jika eomma mengadopsi Jongin? Bukankah sejak kecil kau ingin sekali punya saudara? Apa kau begitu tidak setuju hingga nekad ingin mencari ayahnya?"
Sehun menyentakkan tangan ibunya. Ia mundur beberapa langkah untuk membuat jarak diantara mereka. "Aku akan setuju jika eomma mengadopsi orang lain untuk menjadi saudaraku. Siapapun selain Jongin."
Setelah berkata demikian, Sehun beranjak dari sana dan pergi ke lantai dua. Sedangkan Nyonya Oh masih bertahan di tempatnya. Wanita itu memandangi ke arah Sehun, titik dimana ia terakhir kali terlihat sebelum menghilang dibalik lorong, dengan wajah kusut dan air mata yang masih mengalir.
Jongin juga masih berada di tempatnya. Ia masih terlalu syok untuk sekedar bereaksi. Barusan itu apa? Apa Sehun membencinya? Apa karena akhir-akhir ini hubungan mereka renggang hingga ia sampai bertengkar dengan Nyonya Oh yang ingin mengadopsinya?
Kepala Jongin rasanya pusing sekali. Terlalu banyak hal yang memenuhi kepalanya sekarang. Namja itu bahkan tidak sadar jika tubuhnya sudah limbung dan terjatuh menghantam meja kecil dibelakangnya. Beberapa gelas dan teko kecil yang terbuat dari keramik berjatuhan ke lantai. Dan ketika ia mendongak, ia bertatapan langsung dengan wajah panik Nyonya Oh.
.::.
"Kau tidak terlihat baik, Jongin-ah. Kau sakit?" telapak tangan Chanyeol yang besar menempel di dahi Jongin yang kecil. Lebih terlihat seperti ingin memerangkap keseluruhan wajahnya ke dalam tangannya, sebenarnya.
Jongin menggeleng dan tersenyum. Walaupun jelas sekali jika ia berbohong. Ia baru saja dari kamar mandi, dan wajahnya benar-benar pucat. Jongin begitu terpengaruhi oleh kejadian tadi malam. Bahkan ia memimpikan Sehun dan kenangan masa kecil mereka bersama, dan kalau boleh jujur, itu malah hanya memperburuk keadaan.
Chanyeol mengerutkan keningnya. "Kau yakin? Kau terlihat seperti namja yang baru saja berubah menjadi vampir; begitu pucat dan terlihat 'tidak hidup'."
Jongin tertawa kecil. Ucapan Chanyeol terkadang sungguh konyol dan tak masuk akal. Tetapi Jongin tak bisa memungkiri jika itu membuatnya sedikit terhibur juga. "Aku baik-baik saja, hyung. Percayalah."
Chanyeol sebenarnya ingin mendorong Jongin untuk berkata jujur. Tetapi namja itu cukup mengerti jika Jongin tidak ingin membicarakannya sekarang. Mungkin sebuah masalah pribadi?
"Baiklah. Aku percaya padamu." Chanyeol mengusak rambut Jongin dengan lembut. Ia tersenyum lebar mendengar Jongin tertawa karenanya. Namja itu agak bersyukur karena Jongin tetap bersikap biasa dengannya, walaupun sebagian dari dirinya berharap jika Jongin mau membahas kejadian tempo hari.
Sampai detik ini, Chanyeol bahkan tidak bisa melupakan bagaimana lembutnya bibir Jongin, bagaimana cantiknya wajah meronanya setelah ia mengecup bibirnya. Rasanya semua itu baru terjadi kemarin.
"Hyung? Sedang memikirkan apa? Kenapa melamun?" Chanyeol tersentak dari lamunannya. Ia merasa jantungnya berdebar ketika menyadari jika Jongin mendekatinya, dan wajah mereka hanya berjarak sejengkal satu sama lain. Apalagi puppy eyesnya yang menggemaskan itu, dan, oh, bibirnya yang penuh dan merah.
Chanyeol memalingkan wajahnya ke arah lain. Jika ia tetap menatap Jongin, ia takut tidak bisa menahan diri dan malah mencium namja itu, lagi.
"A-aku baik-baik saja, Jongin-ah." sial, Chanyeol bahkan berkata dengan terbata. Benar-benar memalukan.
Selanjutnya, mereka berdua sama-sama diam. Chanyeol menyibukkan dirinya dengan memeriksa mesin mobil, dan Jongin hanya berjalan mengelilingi garasi, memperhatikan barang-barang yang asing baginya itu. Sesekali Jongin akan bertanya pada Chanyeol jika ia menemukan barang yang menarik perhatiannya. Tetapi selebihnya mereka lebih banyak diam.
Setiap beberapa menit mata Chanyeol akan beralih ke sosok Jongin. Namja itu benar-benar bisa membuatnya tak bisa melepaskan pandangannya. Kelakuan Jongin selalu membuat Chanyeol tersenyum. Terkadang Chanyeol dibuat bingung, kenapa rasanya memperhatikan sikap namja seperti Jongin bisa sangat menyenangkan? Ia tak pernah bosan memperhatikannya.
Sekarang saja Jongin sedang memainkan beberapa obeng, mengetuk-ngetukkannya dengan ritme entah-apa, dan tertawa kecil sendiri. Benar-benar menggemaskan, bukan? Apalagi jika Chanyeol melihat wajahnya, pipinya yang agak chubby, matanya yang agak kecil, dan hidungnya yang lucu. Chanyeol akan selalu terkesan jika ia memandangi Jongin, karena namja itu sungguh seseorang yang memiliki aura memikat yang alami. Seolah ia memang dilahirkan untuk menjadi seseorang yang begitu sempurna.
Sayang sekali, Jongin tidak menyadari semua itu. Chanyeol sudah pernah mendengar Jongin mengeluhkan penampilannya, yang ia pikir terlalu biasa dan bahkan cukup jelek, beberapa kali. Andai saja Chanyeol bisa membuat Jongin berada diposisinya sekarang, Chanyeol yakin jika Jongin tidak akan pernah berpikir demikian lagi. Karena jika Chanyeol ditanya bagaimana penampilan Jongin, menurutnya namja itu adalah pengertian dari sempurna, tidak ada kekurangan sama sekali.
"Jongin-ah?" namja yang dipanggil itu menoleh ke arah Chanyeol dengan kedua alis terangkat, tetapi kedua tangannya masih memegangi obeng yang dimainkannya sejak tadi. "Ne, hyung?" sahutnya dengan sebuah senyum lebar.
Kau manis sekali. Maukah kau berkencan denganku dan melupakan Oh-bodoh-Sehun? Chanyeol hampir menyuarakan kata hatinya. Tetapi ia bisa menahan diri dan malah bertanya, "Lagu apa yang kau mainkan dengan obeng-obeng itu?". Sebuah pertanyaan yang benar-benar bodoh. Chanyeol rasanya ingin mengubur dirinya sendiri sekarang. Baru beberapa jam bersama Jongin dan ia sudah mempermalukan dirinya sendiri, dua kali!
Jongin tertawa terbahak mendengar pertanyaan Chanyeol. Tawa yang benar-benar lepas, tanpa beban dan dipaksakan. "Kau benar-benar konyol, hyung."
Chanyeol tersenyum melihat wajah tertawa Jongin. Ia mengangkat kedua bahunya. "Aku sungguh ingin tahu." ucapnya dengan ekspresi yang dibuat-buat.
Jongin tak langsung menjawab. Hanya saja tawanya semakin nyaring.
.::.
Keluarga Huang, salah satu kerabat dekat keluarga Oh dari Cina, datang tepat tengah hari. Nyonya dan Tuan Huang, serta Zitao, sepupu Sehun yang seumuran dengannya. Tuan Oh juga datang bersama mereka. Dari yang Jongin dengar, Tuan Oh sengaja pergi ke Cina hanya untuk menjemput mereka dan menemani selama perjalanan ke Korea.
"Jongin?" sapa Zitao tak yakin. Keduanya memang sering bertemu saat kecil dulu, ketika keluarga Huang masih menetap di Korea untuk mengurus perusahaan selama beberapa tahun. Sepupu Sehun itu menghampirinya, dan Jongin melambai kecil ke arahnya. "Hai, Zitao."
Zitao tersenyum lebar. Dan merangkul bahu Jongin kemudian. "Kau tak berubah sama sekali, Jongin." komentarnya sambil mencubit pipi Jongin dengan gemas. Dan Jongin hanya meresponnya dengan memasang ekspresi cemberut.
Menurut Jongin, Zitao juga tak banyak berubah. Hanya saja figurnya terlihat semakin tegas, dan ia tumbuh menjadi namja yang tinggi, benar-benar tinggi. Padahal seingat Jongin, diantara Zitao, dirinya, dan Sehun, Zitao memiliki badan terpendek saat kecil. Dan yang Jongin sadari juga adalah, jika Zitao memiliki wajah yang tampan dan menarik.
"Kau juga tak banyak berubah." sahut Jongin kalem. Ia kemudian menyapa Nyonya dan Tuan Huang dengan sopan, dan menawarkan untuk membawakan barang mereka ke kamar tamu.
Jongin menunggu hingga semuanya masuk, sebelum beranjak dari tempatnya. Tetapi kemudian, sebuah tangan mencengkeram lengannya dengan kasar, menariknya ke belakang hingga ia hampir terjungkal jatuh. Namja itu terbelalak ketika menyadari jika Tuan Oh adalah orang yang menarik lengannya. "A-ada apa, Tuan?" suara Jongin terdengar seperti mangsa yang mencicit kepada predatornya.
"Kau sungguh tidak sopan. Memalukan." desis pria paruh baya itu. Jongin menatapnya dengan wajah memelas, ia sungguh merasa kesakitan karena cengkeraman Tuan Oh yang semakin erat di lengannya. "Berhenti bersikap seolah kau adalah bagian dari keluarga ini. Mengerti?" Jongin tak punya pilihan lain selain mengangguk dan mengiyakan. Dan untungnya, setelah itu, Tuan Oh melepaskan tangannya dan berlalu begitu saja meninggalkan Jongin.
Jongin menunduk, tidak berani melihat ke arah Tuan Oh. Namja itu berusaha mati-matian agar ia tak menangis. Rasanya sakit sekali. Apalagi mengingat kejadian dua hari lalu, saat Sehun yang berkata tak ingin punya saudara seperti Jongin. Dan sekarang Tuan Oh juga, memperingatinya seperti itu, seolah Jongin adalah seseorang yang tak tahu diri.
Jongin mengerti sekali posisinya yang hanya sebagai pembantu. Walaupun Jongin tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika terkadang ia menganggap kediaman mewah itu sebagai 'rumah'nya, sebagai tempat ia pulang dan berteduh. Waktu bertahun-tahun yang terlewati olehnya tinggal di kediaman itu juga membuat Jongin sedikit-banyak merasa nyaman dan merasa.. seolah ia memang ditakdirkan untuk berada di sana.
"Jongin? Kenapa kau disini?" Jongin masih tak berani mengangkat wajahnya. Terlebih karena ia tahu siapa pemilik suara tersebut. Jarinya menyentuh dagu Jongin dengan hati-hati, kemudian menggerakkannya agar Jongin mendongak. Namja itu mengerjapkan matanya, bermaksud menghilangkan air mata yang sebelumnya memenuhi pelupuk matanya. Meskipun sia-sia karena seseorang yang berhadapan dengannya sekarang dengan jelas melihatnya. "Kau menangis? Ada apa, Jongin?"
Air mata Jongin malah mengalir deras ketika tubuhnya dipeluk oleh Zitao dengan erat. Namja itu juga berusaha menenangkannya dengan berbagai kalimat manis macam "Semua akan baik-baik saja." berulang kali.
Jongin tahu jika Zitao tak mengerti dengan keadaannya. Tetapi untuk sekarang, ia sungguh membutuhkan sandaran, dan Zitao datang dengan sendirinya.
Zitao mengelus punggung Jongin dengan gerakan lembut. Dan Jongin meresponnya dengan semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya. Semuanya terasa seperti dulu lagi, ketika Jongin kecil berkelahi dengan Sehun, Zitao akan datang dan memeluknya, lalu memaksanya untuk meminta maaf duluan, karena siapapun tahu jika Sehun memiliki ego yang terlalu tinggi untuk melakukannya.
"Aku selalu menyusahkanmu." gumam Jongin ketika pelukan mereka terlepas. Zitao mengusak rambutnya dan menggeleng. "Aku tidak pernah merasa demikian." sahutnya dengan sebuah senyum yang tampan.
Jogin tertawa kecil dan meninju lengan Zitao dengan pelan. "Benarkah?" tanyanya dengan senyum lebar. Zitao mengangguk yakin. Ia merangkul bahu Jongin yang lebih pendek darinya itu.
"Ayolah, kau harus bergabung makan malam dengan kami."
Namja tan itu menghentikan langkahnya ketika Zitao berkata demikian. Perasaan takut tiba-tiba menghantuinya.
"Berhenti bersikap seolah kau adalah bagian dari keluarga ini."
"Aku akan setuju jika eomma mengadopsi orang lain untuk menjadi saudaraku. Siapapun selain Jongin."
Kata-kata Tuan Oh dan Sehun kembali terngiang di dalam kepalanya. Jongin tidak mungkin ikut makan malam bersama keluarga Oh, terlebih ada keluarga Huang juga. Ia tidak ingin dianggap buruk, dianggap tidak tahu posisinya.
"A-aku mengantuk. Kalian makan malam saja tanpaku." Zitao menautkan alisnya ketika mendengar Jongin. Suara namja itu terdengar bergetar dan agak tidak yakin. "Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?"
Jongin tersenyum. "Tidak. Tidak ada sama sekali."
.::.
Jongin memandangi langit, yang malam itu dihiasi dengan bulan yang bersinar terang dan kerlap-kerlip bintang yang indah. Sudah beberapa hari ini, malam di Seoul dilewatinya dengan rintikan hujan, akhirnya, malam ini Jongin bisa melihat indahnya purnama dan bintang-bintang.
Namja itu mengeratkan jaket rajutnya ketika angin malam berhembus semakin kencang. Ia memang sedang berada di taman belakang kediaman Oh. Duduk di sebuah kursi kayu panjang yang ada di bawah pohon besar. Itu tempatnya menghabiskan waktu bersama Sehun, dulu.
Ah, Jongin jadi merindukan namja Oh itu. Walaupun suka memerintah dan terlihat cuek dan egois, Jongin tahu jika Sehun sebenarnya sosok yang baik dan perhatian. Ia hanya tidak bisa mengekspresikan maksudnya dengan baik. Tetapi Sehun yang akhir-akhir ini, sudah berbeda. Seolah dirinya berubah begitu saja, bahkan Jongin merasa seperti tidak mengenal Sehun lagi. Seolah Sehun yang ia kenal dulu menghilang begitu saja.
Sesuatu yang membuat Jongin bersyukur adalah ketika ia menyadari jika Tuan Oh sudah mulai memiliki hubungan yang lebih baik dengan Sehun. Minggu lalu, Jongin melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Sehun dan Tuan Oh pergi bekerja bersama. Mungkin semua itu karena Sehun yang sebentar lagi akan meneruskan perusahaan Nyonya Oh? Entahlah. Jongin tak tahu apa-apa belakangan ini.
"Kau bisa sakit." Jongin berjengit kaget mendengar sebuah suara berat menegurnya. Ia cepat-cepat menoleh, dan hampir saja rahangnya jatuh ke tanah ketika mendapati jika itu adalah.. "S-Sehun?"
Ekspresi kaget Jongin yang terlihat konyol itu masih terpampang di wajah manisnya. Matanya membulat dan mulutnya sedikit ternganga. Sehun mengangkat alisnya melihat reaksi Jongin, yang menurutnya berlebihan itu.
Jongin semakin dibuat tak percaya saat Sehun malah duduk di sebelahnya. Dia terlihat tenang dan nyaman, seolah beberapa minggu ini tidak terjadi apapun diantara keduanya.
Sehun tidak melihat ke arah Jongin. Ia hanya mendongak menatap langit, dengan sebuah senyum kecil di bibirnya.
"Sehun?" Jongin terdengar seperti menahan nafas, kaku, dan cemas. Suaranya agak gemetar dan terlampau pelan, sungguh bukan Jongin sekali sebenarnya.
"Hm?" Sehun bahkan tidak mau menatap Jongin. Ia masih sibuk memandangi langit.
Jongin mengalihkan pandangannya, dan lebih memilih menatapi bunga-bunga di taman itu yang bergerak tertiup-tiup angin. "Kenapa kau kesini?"
"Tidak boleh?"
"Bu-bukan begitu!" Sehun tersenyum lebar mendengar Jongin yang panik. Menggemaskan. "A-aku hanya i-ingin tahu?"
"Benarkah?"
Jongin menggigit bibir bawahnya ketika Sehun tiba-tiba melihat ke arahnya.
"Sungguh." jawabnya setelah beberapa saat terdiam.
"Aku hanya merindukan tempat ini." sahut Sehun, menatap ke arah langit sekilas, sebelum kembali memandangi Jongin. "O-oh."
Kedua pipi Jongin memerah karena dipandangi dengan instens oleh Sehun. Jantungnya berdegup tak karuan.
"Ada apa?" Jongin tidak bisa menahan pertanyaannya. Kalimat itu meluncur begitu saja. Sehun juga terlihat terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Jongin.
"Menurutmu?" Jongin sudah bisa menebak jika Sehun akan membalikkan pertanyaan padanya. Sehun selalu begitu jika sudah tidak bisa menjawab.
"Entahlah. Mungkin kau punya masalah, dan berpikir jika kembali ke masa lalu akan sangat menyenangkan. Kau ingin berada disini karena disini mengingatkanmu dengan masa kecilmu?"
Nyatanya Jongin mengenal Sehun. Terlalu mengenalnya. Hingga rasanya Sehun merasa jika ia tak bisa memiliki rahasia apapun. Karena Jongin membacanya dengan jelas seolah ia adalah sebuah buku yang terbuka.
Sehun menghela nafas dan kembali mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari Jongin.
Jongin tersenyum kecil. Ia tahu tebakannya benar.
"Semuanya terasa begitu mudah, dulu. Benar, kan? Aku juga merindukan saat-saat seperti itu, kadang-kadang." lanjut Jongin, masih dengan menatap Sehun. "Akhir-akhir ini kau berbeda. Kau dekat dengan Tuan Oh."
Sehun tak bisa menyembunyikan senyum simpulnya. Mendengar Jongin berkata demikian, membuat dadanya menghangat. Ternyata Jongin masih memperhatikannya.
"Dia mulai menganggapku. Jadi aku juga mulai menerimanya."
"Itu hal yang bagus, kurasa."
Sehun mengangguk kecil. Tentu saja. Dia kemungkinan besar tak akan dipukul dan disumpah-serapahi ayahnya lagi. Walaupun Sehun sendiri tahu jika hal itu semata-mata karena terpaksa, karena perusahaan ibunya memerlukan penerus, dan hanya ada dirinya.
"Akhir-akhir ini kau juga berbeda." komentar Sehun tiba-tiba. Tubuh Jongin menegang, menunggu kalimat selanjutnya dari Sehun.
"Aku melihatmu berciuman dengan Chanyeol, dan berpelukan dengan Zitao."
Dan hati kecil Jongin hancur saat itu juga.
.
.
.::To be continued::.
.
.
Note: Rin minta maaf karna lama buat ngupdate ff ini :c Rin lg ga begitu fokus nulis karna kemarin2 lg liburan dan sempet ada masalah keluarga juga :c mudah2an chap 3 ini bisa lebih satisfy dibanding yg sebelum2nya dan worth to read lah, at least :'c
Rin mau tanya juga nih, menurut chingu2, ff ini lanjut atau end disini aja, ya? Soalnya, jujur, Rin ga puas sama alurnya sih /slapped/ ada masukan ga? /hiks/
Keep review-ing ya, chingu-ya! ~\(^o^)/~
.::.
Balasan review Chap. 2:
Nzakiyya: hehe iya, Sehun kan tetap punyanya Jongin/?/ makasih reviewnya, yaaa c:
leesonia95: emng Sekai kok hehe makasih reviewnya yaaa ^^
thiefhanie . fhaa: iyanih wkwk thanks reviewnya ya chingu c;
Cherry: baca aja update-annya ya chingu hehe makasih reviewnya yaaa c:
cute: aduh chingu, kalo gitu jd cinta segi brp nantinya '-'/ kkk thanks reviewnya yaaa c;
asmayae: mau ngapain hayooo /slapped/ hehe thanks reviewnya ya chinguuu ^o^
jungdongah: flattered bgt baca reviewnya chingu /big grin/ menurut chingu gimana? naek ratenya atau engga? /slapped/ kkk makasih reviewnya ya chingu c;
afranabilah19: iya, hunkai kok :v hehe makasih reviewnya chingu^^
Mizukami Sakura-chan: kalo dikasih tau nanti ga seru hehe /slapped/ thanks reviewnya chingu c:
eexxxo: mudah2an sih engga, bisa ngamuk tu bocah :v kkk makasih reviewnya chingu^^
Ren Choi: seneng bgt baca reviewnya kamu, saeng (can i call u that?) hehe makasih ya reviewnyaaa :D
novisaputri09: jongin emng polos chingu :c kkk makasih ya reviewnyaa ^^
oracle88: jgn chingu, kesian yeol '-'/ hehe makasih ya reviewnya c;
askasufa: iya, Rin usahain manjang2in chapternya /?/ hehe makasih bnyk ya chingu, reviewnya panjaaanggg bgt, bikin seneng bacanya /?/ :D
jonginisa: iya sama2 chingu ^^/ jongin kan anak penurut /?/ o_o hehe makasih bnyk ya, komennya bikin terharu /?/ c':
BabyWolf Jonginnie'Kim: sama2 ga peka sih keknya '-'/ kkk nanti mungkin chap depan hehe, makasih saran dan reviewnya chinguuu ^^
Jongin48: hun niat bgt kan ya nyari bapaknya jongin jam segitu :v /slapped/ hehe makasih reviewnya chingu :D
nha . shawol: iyanih, hehe makasih ya reviewnya chingu-ya ^o^
laxyovrds: absolutely longer chap nih hehe makasih reviewnya chingu c;
evi . rahayu . 52: hun mah emg ga nyante kan '-'/ hehe already updated nih, tetep baca ya ff ini c': ntkyt evi!^o^/ aku udh kuliah nih tapiii, udh msk smt 2 hehe sukses ya UN nya nanti c; makasih reviewnya, evi! :D
Kamong Jjong: hehe iya /?/ makasih reviewnya yaa ^^
KaiNieris: ga kok, hun mah baek c': /?/ iyanih hehe makasih reviewnya yaa ^^
chotaein816: jgn gila dong chingu o_o /slapped/ hehe becanda, makasih reviewnya yaaa c:
hyura . kim . 5: mungkin hehe makasih bnyk ya reviewnyaaa :D
meifaharuka . haruka: iyanih rumit bgt /?/ hehe makasih reviewnya chingu-yaaaa ^^
sukmawindia: ff hunkai kok ini chingu c; hehe makasih ya reviewnya ^^
Guest: maaf gabisa cepet updatenya ;_; iya hunkai kok c; makasih reviewnya chingu-ya ^^
steffifebri: Rin udh prnh bikin ff ChanKai kok chingu, walopun rated M /slapped/ hehe makasih bnyk ya reviewnya ^^
azloef: Rin jg suka sehun /?/ kkk makasih reviewnya ya chinguu ^^
parkwu: sumpah Rin ketawa baca reviewnya chingu XD hehe makasih bnyk ya reviewnya chingu-ya c;
LM90: hehe iyanih, hun diem2 tetep suka /?/ hehe makasih bnyk ya reviewnya chingu, jgn bosen baca ff ini yaw ^o^/
blissfulxo: wah, flattered nih dibilang gitu hehe makasih reviewnya, chingu-ya c;
byun nanda: iya hunkai kokkk c; baca aja deh, kalo dikasitau nanti gaseru /?/ ini krg greget ya '-'/ hehe makasih ya reviewnya chingu^^
.
